Terbaru

Security Guard Salary In US and UK

Security Guard Salary In US and UK
When you wish to become a security guard, you may feel interested in to know how much salary of security guard? Yeah, I guess you are. By this post I am going to share with you all about the security guard salary in United States and United of Kingdom.

Note:
Depending on your location, security guard salary might be very different. Location and several other things can make an exception.

SECURITY GUARD SALARY IN UK (according to reed.co.uk)

  • London: £ 21,147
  • Bournemouth: £ 14,755  
  • Manchester: £ 16,346 
  • Slough: £ 20,809 


SECURITY GUARD SALARY IN USA (according to indeed.com)

  • Retail Security Professional in US: $ 20,000
  • Upscale Security Officer Guard in US: $ 21,000
  • Traditional Security Officer Guard in US: $ 20,000
  • Security Officer Security Guard in US: $ 20,000
  • Explosive Ordnance Disposal in US: $ 123,000
  • Night Security Guard in US: $ 21,000
  • Security Director in US: $ 21,000
  • Prison Guard in US: $ 22,000
  • Surface Maintenance Repairer in US: $ 46,000
  • Signal Support Systems Specialist in US: $ 11,000


The salary of becoming a security guard might be very satisfy when you got enough experience and you are working in the right place. It seems hard to get expensive salary of being body guard or security guard when you are still less of experience.

DISCLAIMER:
I can't guaranty the accuracy of this information (salary of security guard). You may looking for other reference to compere this information with the other.

BTW, congratulation on your final choice to begin your career as a security guard!

Cara Agar Blog Ramai Pengunjung

Trik Blog Banyak Pengunjung
Salah satu tujuan utama ngeblog sudah pasti untuk mendatangkan banyak pengunjung, namun faktanya tidak semua blog bisa meraihnya. Mengapa? Tentu saja banyak sekali alasannya. Nah, pada post ini saya ingin share cara agar blog Anda ramai pengunjung dengan menggunakan teknik-teknik optimasi yang tidak bertentangan dengan kebijakan konten Webmsater atau Google Guideline.

Anda dapat mencari referensi ilmu blogging atau teknik optimasi blog untuk mengembangkan serta meningkatkan kuantitas SEO blog Anda. Kunjungi blog-blog yang bertemakan tutorial atau tips blog untuk menambah wawasan Anda tentang teori ngeblog yang benar.

Membangun blog itu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Nah, ini adalah salah satu faktor utama dibalik kegagalan para blogger pemula untuk mengembangkan blog mereka. Sebagian besar blogger pemula tidak menyadari bahwa mendatangkan visitor dalam jumlah yang banyak itu membutuhkan serangkaian proses, alhasil mereka menyerah ditengah jalan karena merasa kebingungan.

Saya tidak akan berpanjang lebar mengisi muqodimah, saya akan langsung pada inti pembahasan kiat-kiat untuk meningkatkan pengunjung blog hingga menembus ribuan pengunjung setiap harinya. Ini sangat penting jika orientasi Anda membuat blog adalah untuk membangun bisnis online, baik itu melalui advertising berbasis pay per click (PPC), cost per mile (CPM), direct advertising ataupun monetisasi dengan cara-cara lainnya.

Berikut rangkuaman cara agar blog mendapatkan ribuan visitor secara stabil setiap harinya yang sudah saya praktekkan sendiri.

Set-up blog Anda
Setelah Anda selesai membuat blog, tugas selanjutnya adalah menata dan mengoptimasi blog tersebut. Menata dalam artian Anda harus memilih template yang SEO Friendly, menghilangkan script template yang tidak perlu, submit peta situs ke Webmaster (Google Webmaster Tools), dsb.

Post artikel secara rutin
Percuma saja Anda memposting banyak artikel jika hal tersebut Anda lakukan secara bersamaan dan tidak ada aktivitas susulan dalam rentang waktu yang cukup lama. Yang dibutuhkan adalah keberlanjutannya. Artinya, lebih baik satu artikel/hari daripada 60 artikel/bulan.

Membangun backlink secara natural
Banyak cara untuk mendapatkan backlink, namun hanya backlink yang dibangun secara natural lah yang terbukti bisa memberikan efek pemeringkatan lebih baik pada blog Anda. Cara membangun backlink secara natural diantaranya adalah dengan mengirim artikel ke situs social bookmark, situs social media, ataupun meninggalkan link pada forum yang relevan.

Faktor waktu sangat penting
Ini yang seringkali menjadi faktor utama kegagalan para blogger pemula dalam mengembangkan blog mereka. Sebagaimana yang saya singgung diatas bahwasannya blog baru membutuhkwan waktu yang cukup (beberapa bulan) untuk bisa bersaing di SERP.

Konsisten dengan tema awal blog
Jika pada awalnya blog Anda mengusung tema seputar tips blog, maka pertahankan tema tersebut karena merubah tema ditengah-tengah jalan dapat merusak posisi blog Anda di SERPs. Tetap fokus menulis artikel yang relevan dengan tema blog Anda, maka semakin bertambah usia blog Anda semakin besar pula potensi blog Anda untuk dikunjungi ribuan pengunjung.

Demikian, semoga bermanfaat. Bagi senior bloggers yang merasa punya tips lainnya, tidak ada salahnya untuk di share via kolom komentar. HAPPY BLOGGING ‘N GOOD LUCK!!

Cerita Anak Dolanan Tradisional Tempo Dulu: BERMAIN ANAK-ANAKAN

Cerita Anak Dolanan Tradisional Tempo Dulu: BERMAIN ANAK-ANAKAN
Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tradisional Tempo Dulu:

BERMAIN ANAK-ANAKAN

Bulan puasa sudah datang. Satu bulan lagi hari lebaran tiba. Itu artinya anak-anak akan mendapat baju baru, sebagai ungkapan rasa syukur telah menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh. Tetapi itu masih satu bulan lagi. Sekarang belum saatnya untuk bersenang-senang. Sekarang masih harus melalui ujian yang berat. Perang besar melawan hawa nafsu baru saja dimulai. Untuk mencapai kemenangan yang nantinya akan ditandai, antara lain dengan dikenakannya baju baru saat Sholat Iedul Fitri dan bersilaturahim ke kerabat dan sanak saudara, masih harus dilalui dengan kerja keras.
Namun demikian Anisa dan Zulfa sudah boleh merasa senang, karena hadiah kemenangan itu sudah menanti di hadapannya. Kemarin Ibu dan Ayah sudah pergi ke toko untuk membeli kain yang akan dijahitkan jadi baju lebaran satu keluarga. Hari ini rencananya akan dijahitkan ke Penjahit Selera langganan keluarganya.
Sore hari, setelah mandi dan Sholat Asar, Ayah dan Ibu, disertai Anisa dan Zulfa, berboncengan sepeda motor menuju ke Penjahit Selera. Anisa membonceng Ayah, Zulfa membonceng Ibu. Mereka sengaja menjahitkan pakaian pada awal bulan, karena kalau menjahitkan pada hari-hari sudah mendekati lebaran sering tidak bisa jadi pada hari lebaran. Maklum semua orang ingin memakai baju baru saat lebaran. Jadi ya kalau semua orang baru menjahitkan pakaian pada akhir bulan puasa, tentu penjahit tidak mampu. Oleh karena itu Ayah dan Ibu sengaja menjahitkan jauh-jauh hari sebelum lebaran tiba.
Setelah Ayah dan Ibu diukur badannya, kini tiba gilirannya Anisa dan Zulfa. Satu persatu tukang jahit menuliskan hasil pengukurannya ke dalam buku yang sudah digambari bentuk baju yang mereka pesan. Tukang jahit lalu memberi tanda pada kain yang mereka jahitkan, serta memotong sedikit kain untuk ditempelkan pada buku yang berisi gambar dan ukuran pesanan mereka. Baru kemudian penjahit memberikan nota pesanan mereka yang akan dipergunakan mengambil jahitan kalau sudah jadi kelak.
”Sudah selesai. Ayo kita pulang!” ajak Ayah kepada Anisa dan Zulfa. Ayah dan Ibu lalu bergegas keluar. Tapi yang diajak tidak segera mengikuti keluar. Dua-duanya masih duduk di dalam. Kelihatannya ada sesuatu yang masih mereka harapkan.
”Ayo pulang! Sudah selesai ngukurnya. Baju itu belum akan jadi sekarang, tapi masih beberapa hari lagi,” kata Ayah.
Zulfa dan Anisa tidak menjawab dan tidak mengikut. Mereka masih diam di tempat. Ayah dan Ibu jadi bingung. Mereka baru tahu setelah Anisa dan Zulfa berjalan mendekati tumpukan kain perca. Cuilan-cuilan kain sisa potongan pakaian itu teronggok begitu saja di sudut ruang.  
”Aku tahu sekarang kenapa kalian belum mau pulang. Kalian menginginkan kain-kain perca itu kan?” tanya Ibu kemudian.
”Iya, Bu. Tolong aku dimintakan kain-kain perca itu untuk bikin anak-anakan,” pinta Anisa.
”Aku juga, Bu. Aku juga ingin bermain anak-anakan,” Zulfa, adiknya tak mau kalah.
”Ya sudah, kalian tenang saja. Aku akan mintakan pada penjahitnya,” Ibu menyanggupi.
Ibu lalu mendekati Bu Maryati pemilik Penjahit Selera. Bu Maryati sudah mendengar sendiri apa yang diminta Anisa dan Zulfa. Oleh karena itu sebelum Ibu meminta, pemilik Penjahit Selera itu sudah berkata, ”Ambil saja, Bu, berapa anak ibu suka. Itu hanya cuilan-cuilan kain kecil-kecil sudah tidak terpakai. Silakan anak-anak ambil, pilih yang masih bisa digunakan.”
”Terimakasih, Bu. Anak-anak memang suka bermain anak-anakan. Setiap kali ke mari mesti minta kain perca kepada Bu Maryati,” balas Ibu.
”Tidak apa-apa. Bagi kami kain-kain itu sudah tidak terpakai. Tetapi bagi anak-anak yang kreatif seperti anak Ibu, kain itu masih bisa dipakai untuk bermain. Bagus itu, Bu,” kata Bu Maryati. Lalu kepada Anisa dan Zulfa Bu Maryati berkata, ”Anak-anak, silakan ambil kain-kain itu seberapa banyak kalian butuhkan.”
”Terima kasih, Bu,” kata Anisa dan Zulfa. Anak-anak itu lalu memilih-milih kain perca yang bagus-bagus untuk bermain anak-anakan. Ada kain bermotif kembang-kembang warna pink, ada kain bermotif bulatan-bulatan warna warni, ada pula kain batik dan kain seperti selimut yang tebal dan empuk.
”Sudah, Bu, ini saja sudah cukup,” ujar Anisa.
”Anisa sudah cukup. Lalu kamu Zulfa, apakah juga sudah cukup?” tanya Ibu kepada putri bungsunya.
”Cukup, Bu. Ini sudah banyak,” jawab Zulfa.
”Kalau begitu ucapkan terima kasih kepada Bu Maryati!” ujar Ibu kepada putri-putrinya.
”Terima kasih Bu Maryati, atas pemberian kain-kain percanya,” kata Anisa.
”Saya juga mengucapkan terima kasih, Bu Maryati,” sambung Zulfa.
”Baik. Kalau kalian masih memerlukan silakan datang ke mari untuk mengambil lagi. Rumah jahit ini terbuka bagi kalian anak-anak manis dan kreatif,” balas Bu Maryati.
Anisa dan Zulfa setelah berpamitan kepada Bu Maryati lalu mengikuti Ayah dan Ibunya pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, sudah tidak sabar lagi anak-anak itu ingin segera membuat boneka dari kain perca yang tadi diperolehnya dari Penjahit Selera. Anisa dan Zulfa mencari kardus untuk dijadikan rumah-rumahannya. Mereka mendapatkan kardus bekas pembungkus roti yang bagian atasnya sebagian ditutup dengan plastik kaca transparan.
Anisa dan Zulfa lalu bekerja sama membuat  kamar-kamar dalam kardus bekas tempat roti itu. Mula-mula disekatnya bagian depan dengan lidi. Yang ini dianggapnya sebagai teras. Lalu dibuat kamar-kamar dengan pembatas sekat dari batang lidi. Ada kamar tamu, kamar belajar, kamar makan, kamar tidur, dapur dan kamar mandi serta WC. Kamar tamu dibiarkan kosong tidak ada apa-apa, kamar belajar ditandai dengan adanya karet penghapus yang dianggap sebagai meja belajar. Kamar makan ditandai dengan sebuah kotak kayu. Kotak ini dianggap sebagai meja makannya. Kemudian mereka meletakkan kotak korek api pada kamar tidur. Dan seterusnya. Pokoknya setiap kamar ditandai dengan meletakkan satu benda berbentuk kotak yang dibungkus dengan kain perca yang berbeda-beda. Terlebih pada kamar tidur, selain dibungkus kain perca masih ditambah satu kain yang cukup tebal dan hangat sebagai spreinya.
Setelah membuat rumah-rumahan dan perabotnya, ternyata waktu Shalat Maghrib sudah tiba. Adzan Maghrib berkumandang. Anak-anak menyimpan dulu mainannya. Mereka berbuka puasa, lalu pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah, dilanjutkan mengaji sampai datang waktu Isya.  Kemudian mereka berjamaah Shalat Isya dan taraweh. Baru kemudian mereka pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, tidak sabar lagi mereka ingin segera melanjutkan membuat anak-anakan. Mereka mengambil lagi kardus bekas tempat roti yang mereka jadikan rumah-rumahan sekaligus akan dijadikan tempat menyimpan boneka anak-anakan buatan mereka. Anisa dan Zulfa memotong kain perca miliknya menyerupai pakaian dalam bentuknya yang paling sederhana. Yang penting ada dua lengan, di tengahnya dilubangi untuk menyembulkan bagian kepala anak-anakan, dan di bagian bawah dibuat panjang untuk badan dan kaki. Mereka lalu membuat badan orang-orangan dari lidi. Dua potong lidi yang satu panjang, yang satunya lagi agak pendek, mereka satukan dengan benang jahit sebagai tali. Lidi yang pendek diletakkan melintang pada lidi yang panjang, tidak pas di tengah tetapi agak ke atas. Ujung lidi yang panjang dibungkus kain perca, dibuat bulatan tidak usah terlalu besar, tetapi cukup dapat diangankan sebagai bagian kepala anak-anakan.
Mereka membuat beberapa boneka anak-anakan yang mereka anggap sebagai ayah, ibu dan dua orang anaknya. Anak-anak mengenakan pakaian dari kain perca yang berbentuk ndhol-ndhol (lingkaran) berwarna-warni, Ibu mengenakan pakaian dari kain bermotif bunga-bunga warna pink, sedangkan Ayah mengenakan kain dari perca batik dengan warna coklat-hitam. Selesai membuat boneka anak-anakan dan rumah-rumahannya ternyata hari sudah malam.
”Anisa! Zulfa! Hari sudah malam, sudah waktunya kalian pergi tidur. Besok kalian puasa kan? Tidurlah lebih awal, biar nanti malam bisa bangun untuk makan sahur! Sekarang mainannya disimpan dulu. Besok kan hari libur, mainnya bisa dilanjutkan besok. Sekarang cuci tangan dan kaki dulu lalu segera tidur,” perintah Ibu.
Anak-anak yang penurut itu segera mematuhi perintah ibunya. Mereka cuci tangan dan kaki, lalu pergi tidur, setelah sebelumnya menyimpan dulu mainannya di atas meja belajarnya yang tidak begitu tinggi.
Esoknya setelah mandi dan ganti pakaian, tidak sabar lagi mereka ingin segera bermain anak-anakan. Mereka ambil kardus yang dijadikan rumah-rumahan, yang juga mereka pergunakan untuk menyimpan boneka anak-anakan.
Anisa dan Zulfa memainkan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, satu kakak bernama Rina dan satu adik bernama Sonia. Sesuai kesepakatan antara kakak dan adik itu, Anisa memerankan Ibu merangkap Rina, sedangkan Zulfa memerankan Ayah merangkap Sonia. Ceritanya Ibu sedang pergi ke pasar bersama Ayah. Kakak diminta menjagai Adik tinggal di rumah.
”Ibu mau ke Pasar bersama Ayah. Rina tinggal di rumah menjagai Dik Sonia, ya? Baik-baik momong Adik, jangan dinakali!” pesan Ibu kepada Rina. Begitu kata Anisa mewakili boneka Ibu, sambil mengangkat dan menggerak-gerakkan boneka Ibu. Kemudian Anisa ganti menggerak-gerakkan boneka Rina seolah-olah Rina sedang berkata menjawab pesan Ibu.
”Ibu tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga Adik baik-baik,” kata Anisa pula mewakili boneka Rina dengan mengecilkan suaranya.
Sekarang ganti Zulfa memainkan boneka Ayah yang tadi ia letakkan di kamar makan. Ceritanya Ayah makan dulu sebelum pergi ke pasar agar di pasar nanti Ayah dan Ibu tidak perlu jajan, cukup beli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ayah mendekati Ibu.
”Ayo, Bu, kita berangkat, mumpung masih pagi. Adik biar ditunggui Rina,” kata boneka Ayah lewat suara Zulfa yang volumenya dibesarkan.
”Ayah dan Ibu pergi dulu, Rina. Assalamu’alaikum,” pamit Ayah dan Ibu lewat suara nisa dan Zulfa bersama-sama, sambil menggerak-gerakkan boneka Ayan dan Ibu.
”Baik, Ayah, Ibu. Wa’alaikum salam Waroh matullohi wa barokatuh,” balas Anisa mewakili suara boneka Rina.
Ayah dan Ibu lalu berboncengan pergi ke pasar. Boneka Ayah dan Ibu dijalankan tangan Zulfa dan tangan Anisa keluar rumah-rumahan, terus berjalan menjauh dari rumah-rumahan, lalu diletakkan di luar rumah-rumahan. Ceritanya mereka sudah sampai di pasar.
Kemudian Zulfa mengambil boneka Sonia yang tadi diletakkan di kamar tidur. Ceritanya Sonia baru bangun tidur. Ia mencari ibu. Sonia ini anak yang manja yang ingin selalu dekat dengan Ibu.
”Mana Ibu? Aku mau ikut Ibu.....,” kata Zulfa mewakili suara Sonia.
”Ibu ke pasar. Adik di rumah saja sama Kakak. Kita bermain bersama,” kata  Anisa mewakili suara Kak Rina.
”Ibu ke pasar, Sonia kok tidak diajak? Ibu nakal ninggalin Sonia!” Sonia mulai merajuk lewat suara Zulfa.
”Tadi Ibu dan Ayah mau berangkat ke pasar, Adik masih tidur. Ibu takut mbangunin Adik. Jadi Adik ditinggal saja di rumah dijagai Kakak,” ujar Anisa mewakili suara boneka Rina.
”Ayo Kak kita nyusul Ibu ke pasar. Aku ingin dibelikan makanan dan mainan yang banyak. Aku tak mau tinggal di rumah,” kata Zulfa memerankan tokoh Adik Sonia sambil menggerak-gerakkan boneka yang dianggapnya Adik.
”Jangan, Dik! Pasar itu jauh. Banyak kendaraan di jalan. Berbahaya kalau kita yang masih kecil ini menyusul Ibu dan Ayah ke pasar. Kita di sini saja bermain sambil menunggu Ayah Ibu kita pulang,” jawab Anisa juga sambil menggerak-gerakkan boneka yang dianggpnya sebagai Kakak.
Adik lalu menangis. Ia terus minta diantarkan ke pasar menyusul Ayah dan Ibunya. Dengan sabar Kakak lalu menghibur adiknya, ”Jangan menangis, Dik! Kita tunggu saja di sini. Sebentar lagi Ayah dan Ibu pulang dengan membawa oleh-oleh. Sekarang baiknya kita bernyanyi saja ya? Ini Kakak mau menyanyikan lagu khusus untuk Adik. Lagunya Tak Lela, Lela-lela Ledung,” kata Anisa memerankan tokoh Kakak.
Kemudian Anisa yang memerankan tokoh Kakak mulai menyanyikan lagu  ”Tak Lela, Lela-lela Ledung” yang syairnya sebagai berikut:

Tak lela, lela-lela ledung
Cup menenga aja pijer nangis
Adikku sing ayu rupane
Nek nangis ndak ilang ayune

Tak gadang bisa urip mulya
Dadiya wanita utama
Ngluhurke asmane wong tuwa
Dadiya pendekaring bangsa

Cup menenga adikku
Kae bulane ndadari
Kaya ndhas buto nggilani
Lagi nggoleki cah nangis

Tak lela, lela-lela ledung
Cup menenga adikku cah ayu
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis mundak gawe bingung

Tapi ternyata sudah ditembangkan begitu Adik tetap saja menangis mencari ibunya. Kakak jadi bingung.
”Tidak mau! Tidak mau Adik ditinggal di rumah! Adik mau ikut Ibu ke pasar! Adik mau beli jajan dan mainan yang banyak. Ayo Kak, kita nyusul Ibu ke pasar!” rengek Zulfa mewakili suara Adik sambil menggerak-gerakkan boneka Sonia.
Anisa menggerak-gerakkan boneka Rina berjalan mindar-mandir di teras. Sang Kakak ini sedang bingung menanggapi rewelnya Sonia, adiknya.
”Bagaimana ini Adik kok terus nangis saja? Sudah dibilangi nanti Ibu pulang dari pasar bawa oleh-oleh Adik kok masih juga nangis,” kata Anisa mewakili suara boneka Rina kebingungan. Boneka Sonia pun digoyang-goyang Zulfa seolah-olah Adik sedang ngambek.
”Ya sudah, kalau begitu Kakak akan nyanyi satu tembang lagi, biar Adik terhibur,” kata Anisa mewakili boneka Kakak. Kemudian ia nyanyi lagu ”Oh Adikku” yang syair lagunya seperti di bawah ini:

OH ADIKKU

Oh adikku, kekasihku
Aja pijer nangis wae
Ayo dolan karo aku
Ana ngisor uwit manggis
Dhelo maneh Ibu rawuh
Ngasto oleh-oleh
Gedang goreng karo roti
Mengko diparingi

Beberapa saat kemudian tangan Anisa yang satu memainkan boneka Ibu, sedangkan boneka Ayah dimainkan tangan Zulfa yang satunya lagi. Ceritanya Ayah dan Ibu pulang dari pasar. Dua boneka Ayah dan Ibu dipegangi Anisa dan Zulfa beriringan depan belakang, dari jauh berjalan mendekat, lalu berhenti di depan rumah-rumahan.
”Adik, lihat itu siapa yang datang!” teriak Anisa mewakili suara boneka Rina kepada boneka Sonia.
”Ayah dan Ibu datang! Ayah dan Ibu pulang dari pasar! Mereka tentu bawa oleh-oleh!” teriak Zulfa gembira mewakili suara boneka Sonia.
Anisa dan Zulfa membawa boneka Ayah dan Ibu masuk ke teras rumah.
”Ini oleh-olehnya. Tidak usah berebut, semua kebagian,” kata Anisa seolah-olah Ibu sedang memberikan bungkusan oleh-oleh kepada anak-anaknya. Anisa dan Zulfa pun membawa boneka Rina dan boneka Sonia mendekat, seolah-olah mereka sedang menerima oleh-oleh pemberian Ibu.
”Apa kataku, Dik, kita tidak perlu ikut Ibu. Kita di rumah saja, Ayah-Ibu tentu sudah memikirkan kita. Buktinya sekarang kita dibawakan oleh-oleh dan mainan yang banyak,” kata Anisa mewakili boneka Rina kepada adiknya.
”Iya ya, Kak. Kita tidak perlu capek-capek ikut pergi ke pasar, cukup tinggal di rumah. Bahkan di rumah kita dapat bermain bersama. Ee... pulangnya Ibu sudah belikan oleh-oleh dan mainan buat kita,” balas Zulfa mewakili boneka Sonia.
”Coba kalau Adik ikut. Pasar itu luas. Motor tidak boleh masuk. Tentu Adik akan capek mengikuti Ibu berjalan ke sana ke mari beli belanjaan. Akhirnya Adik akan merepotkan Ayah yang mengantarkan Ibu berbelanja,” tambah Anisa mewakili suara boneka Rina.
”Kalau sampai begitu, terpaksa Ayah harus menyanyikan lagu ’Dhondhong Apa Salak’ untuk menghibur Sonia yang menangis karena capek berjalan,” sahut Ayah lewat suara Zulfa yang dibesarkan volumenya.
”Dhondhong Apa Salak, bagaimana lagunya, Yah? Mbok coba Ayah menyanyikan buat Sonia!” pinta Sonia lewat suara Zulfa yang sekarang volumenya dikecilkan sambil menggerak-gerakkan boneka Sonia.
”Dengarkan baik-baik, ya! Ayah mau menyanyikan lagu Dhondhong Apa Salak,” ujar Ayah lewat suara Zulfa yang volumenya kembali dibesarkan, sambil menggerak-gerakkan boneka Ayah. Adapun syair lagu Dhondhong Apa Salak itu adalah sebagai berikut:

DHONDHONG APA SALAK

Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik
Gendhong apa mundhak, mlaku thimik-thimik
Adik ndherek ibu tindak menyang pasar
Ora pareng rewel ora pareng nakal
Mengko ibu mesthi mundhut oleh-oleh
Kacang karo roti adik diparingi

”Bagus sekali lagunya, Yah. Tapi Adik malu kalau ikut ke pasar pada akhirnya harus merepotkan Ayah dan Ibu, harus minta gendong atau dinaikkan di atas bahu. Kasihan, Sonia kan gendut, jadi Ayah akan merasa berat,” ujar Zulfa mewakili suara boneka Sonia.
”Makanya, kalau Ayah dan Ibu ke pasar, Adik tidak usah ikut. Adik cukup bermain di rumah bersama Kakak. Nanti kalau Ayah-Ibu pulang sudah tentu akan membawakan oleh-oleh buat Adik,” kata boneka Rina lewat suara Anisa.
”Tadi Ibu ke pasar, Adik nangis tidak?” tanya boneka Ibu lewat suara Anisa, sambil menggoyang-goyangkan boneka Ibu.
”Nangis, Bu! Sampai Rina jadi bingung. Untung setelah saya nyanyikan beberapa lagu yang diajarkan Ibu, Adik mau diam, tidak menangis lagi. Kami lalu bermain bersama,” sahut Rina lewat suara Anisa pula.
”Jangan ceritakan, Kak! Adik jadi malu,” ujar boneka Sonia lewat suara Zulfa.
”Nah, kalau Adik malu, lain kali kalau ditinggal di rumah, sudah ada Kakak yang menjagai, Sonia tidak boleh nangis lagi, ya?” tanya boneka Ibu lewat suara Anisa.
”Iya, Bu. Sekarang Sonia akan tinggal di rumah bermain bersama Kak Rina. Sonia sudah besar, tidak akan ikut Ibu ke pasar lagi,” janji boneka Sonia lewat suara Zulfa.
”Ya sudah. Sekarang dilanjutkan makan oleh-olehnya. Setelah itu Sholat Dhuhur lalu tidur siang,” kata Ibu lewat suara Anisa.
Anisa lalu membawa boneka Ibu masuk ke dapur. Zulfa membawa boneka Ayah juga masuk ke rumah-rumahan tetapi ke kamar makan. Ceritanya karena di pasar tadi Ayah tidak jajan maka sekarang makan oleh-oleh di rumah. Sedangkan boneka Rina dan boneka Sonia dibawa Anisa dan Zulfa masuk ke kamar mandi, lalu dibaringkan di kamar tidur.
”Sudah selesai ceritanya. Ayo kita simpan dulu boneka-bonekanya. Besok kita mainkan lagi,” ajak Anisa kepada Zulfa.
”Ya, mari, Kak Anisa, Zulfa juga sudah capek main anak-anakan,” balas Zulfa.
Anisa dan Zulfa lalu mengemasi mainannya. Kardus rumah-rumahan itu lalu ditutup, kemudian disimpan di dalam almari. ***  

Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional: DHELIKAN 1

Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional: DHELIKAN 1
Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional:

 DHELIKAN 1
Oleh: Sutardi MS Dihardjo


Aku ingin membuat tulisan tentang permainan “dhelikan” sebagai salah satu dolanan bocah tradisional yang paling banyak dikenal dan dimainkan anak-anak tempo dulu, tetapi aku lupa apa saja namanya, meskipun aku ingat bagaimana cara dan aturan permainannya. Jadi, dari mana aku harus memulainya? Padahal aku tahu dolanan ini banyak dimainkan anak-anak sepanjang jaman. Anak-anak sejak dari balita yang belum dapat bicara dan berjalan, sampai anak-anak remaja menjelang dewasa tentu sudah mengenal permainan ini.
Kita masih ingat ketika kita menggoda anak-anak yang masih dalam gendongan ibunya. Sambil mencubit atau menyentuh dari belakang anggota tubuh anak yang kita goda kita mengucap, “Cilub......” Lalu kita bersembunyi. Kemudian ketika kita tahu  kalau balita dalam gendongan ibunya mencari-cari kita, dengan tiba-tiba kita meperlihatkan diri sambil membentak mengagetkan, “Ba!”  Begitu berulang-ulang, hingga balita yang semula terkejut mendengar bentakan “Ba!” berubah menjadi tertawa-tawa gembira. Bahkan ada kalanya terbawa mimpi dalam tidurnya. Tapi anehnya dalam tidur canda tawa ria itu berubah jadi tangisan.
Ada banyak cara, aturan dan nama permainan “dhelikan” yang kita kenal, yang bisa jadi antara daerah yang satu dengan daerah yang lain meskipun masih dalam satu kabupaten sudah agak berbeda atau bervariasi, meskipun pada prinsipnya tetap sama. Prinsip pokok dalam permainan “dhelikan” adalah adanya dua pihak yang berseberangan. Yang satu ngumpet bersembunyi, yang satunya mencari untuk menangkapnya. Variasinya ada pada cara menangkap tawanan, aturan membebaskan tawanan, dan alat yang digunakan sebagai tanda mulai ngumpet atau menyatakan sah menangkap, sah membebaskan tawanan atau ndhadhalkan (membobol pertahanan).
Aku dulu mengenal nama-nama Jethungan, Apolo, Ganefo, Pak-E-Pong, Petak Umpet, dan lain-lain yang semuanya itu termasuk dalam dolanan “dhelikan” dengan segala variasinya. Tetapi sekarang aku lupa yang mana Apolo, yang mana Ganefo, yang mana Pak-E-Pong, dan yang mana Petak Umpet.
Kebetulan saat ini di kantor tempatku bekerja, Kecamatan Klaten Tengah, ada anak-anak sekolah yang melakukan kegiatan Prakerin atau Praktek Kerja Industri. Mereka berasal dari 2 sekolah yang berbeda lingkungannya. Yang satu dari SMK Muhammadiyah 1 Jatinom, sekolah yang jauh dari kota. Yang satunya dari SMK Muhammadiyah 2 Klaten, sekolah yang berada di dalam kota. Masing-masing 4 orang anak. Dibanding dengan aku yang sudah berusia 54 tahun, anak-anak kelas 2 SMK ini tentu masih lebih ingat macam-macam permainan dolanan tradisional yang pernah mereka mainkan berikut namanya, meskipun aku yakin jenis mainan yang pernah mereka mainkan tentu sudah tidak sebanyak jamanku dulu. Tentu mereka juga mengenal permainan “dhelikan” dengan segala variasinya.
Berpikir begitu maka aku bermaksud mengajak mereka berdiskusi mengenai permainan dhelikan. Saling sharing kata orang sekarang. Dengan demikian mereka akan mengenal permainan dhelikan yang pernah aku lakukan dulu, dan aku dapat mengenal  dolanan dhelikan yang pernah mereka mainkan.
“Kalian tentu pernah bermain dhelikan. Aku ingin tahu bagaimana anak-anak jaman sekarang, setidaknya ketika kalian masih kecil, usia SD atau SMP bermain dhelikan. Pernah atau tidak kalian bermain dhelikan?” tanyaku.
“Ya tentu pernah ta, Pak, kami bermain dhelikan. Masak tidak pernah dhelikan,” kata anak-anak Prakerin.
”Kalau pernah, tolong nanti ceritakan kepadaku bagaimana kalian melakukan permainan dhelikan! Sebagai perbandingan aku katakan bahwasanya pada masa anak-anak aku dulu, ada permainan dhelikan yang namanya Apolo dan Ganefo. Tapi aku lupa yang mana yang Apolo dan yang mana yang Ganefo. Apakah kalian kenal dolanan Apolo dan Ganefo?” tanyaku kemudian.
”Tidak. Saya tidak kenal dolanan Apolo maupun Ganefo,” jawab anak-anak siswa Prakerin dari SMK Muhammadiyah 1 Jatinom.
”Saya juga tidak kenal dolanan Apolo maupun Ganefo,” jawab anak-anak siswa Prakerin dari SMK Muhammadiyah 2 Klaten.
”Kalau begitu kita tidak usah membahas Apolo maupun Ganefo. Kita bahas permainan dhelikan yang lainnya saja,” kataku kemudian.
Aku lalu menceritakan macam-macam dolanan dhelikan jaman aku kecil dulu, ketika kira-kira aku masih Sekolah Dasar atau SMP.
”Jaman aku kecil dulu dolanan dhelikan itu ada bermacam-macam. Ada yang pakai alat dan ada yang tidak. Yang pakai alat, alatnya pun sederhana, misalnya batu, wingka atau pecahan  genting, atau bola. Sayang aku lupa nama-nama permainannya. Tetapi aku ingat cara memainkannya. Contoh yang tidak pakai alat. Anak-anak melakukan undian dengan cara hompimpah. Kata-katanya, ”Hompilah hompimpah!” sambil menjatuhkan telapak tangan menghadap ke atas atau ke bawah. Ketika  tinggal dua orang dilakukan suit: jah-ndho-jleng, sehingga tinggal ada satu orang yang dianggap kalah atau dadi, lalu dijadikan yang jaga. Karena tidak pakai alat maka yang jaga cukup menutup mata, bersandar di sebatang pohon yang dijadikan pangkalan. Sementara yang lain-lainnya lari sembunyi. Ketika yang jaga sudah mencapai hitungan yang ditentukan maka ia boleh mencari untuk menangkap kawan-kawannya yang sembunyi untuk menangkap mereka. Kalau sudah tertangkap mereka dibawa ke pangkalan sebagai tawanan. Begitu terus sampai semua yang ikut bermain tertangkap,” kataku mulai bercerita.
”Kalau kawannya ingin memebebaskan yang tertawan bagaimana, Pak?” tanya salah seorang siswa Prakerin.
”Kalau ingin membebaskan yang tertawan, caranya ya dengan menyentuh anggota tubuh tawanan tersebut. Denganhanya satu sentuhan di pundak atau di tangannya saja, tawanan itu sudah bebas melarikan diri,” jawabku.
”Satu-satunya alat yang digunakan hanya sebatang pohon atau dinding rumah sebagai pangkalan. Itulah salah satu cara dolanan dhelikan yang paling sederhana. Yang lebih seru adalah yang pakai alat. Misalnya dhelikan pakai alat wingka atau pecahan genting. Ini pun ada bermacam-macam caranya. Misalnya yang ini, ada sepuluh anak yang ikut dalam permainan. Kami membuat lingkaran berdiameter setengah meter. Kami semua masing-masing punya gaco berupa pecahan genting. Lalu pada jarak yang sudah ditentukan misalnya 3 meter kita buat garis tuju. Dari garis tersebut masing-masing melemparkan gaco ke tengah lingkaran. Yang dapat masuk lingkaran dinyatakan pemain mentas. Yang ada di luar lingkaran kalau lebih dari satu orang harus mengulangi lagi melempar gaco sampai hanya tinggal satu orang yang ada di luar lingkaran. Tetapi kalau pada lemparan awal ternyata hanya tinggal satu orang yang berada di luar lingkaran, langsung ia dinyatakan sebagai pemain yang dadi. Ia yang harus jaga.  Maka ia harus menyusun kesepuluh wingka gaco bertumpuk ke atas. Sementara yang lainnya lari bersembunyi.
Setelah semua gaco tersusun, tidak bakalan roboh tanpa suatu sentuhan, pemain dadi harus segera mencari teman-temannya di tempat persembunyiannya. Ketika ia melihat buruannya, ia harus mengucapkan kata ’Cik...’ lalu menyebutkan nama pemain yang dilihatnya dan tempat persembunyiannya. Kemudian yang nge-cik dan yang di-cik (dithor/disekit) beradu cepat menuju ke pangkalan yang berupa lingkaran dengan tumpukan wingka di tengahnya. Kalau pemain yang dadi sampai terlebih dahulu di  pangkalan dan menginjakkan kaki di tengah lingkaran, maka pemain mentas yang di-cik berubah status menjadi tawanan. Ia harus berdiam diri di pangkalan menunggu dibebaskan kawan-kawannya atau menunggu semua kawan-kawannya tertangkap, sehingga kemudian ia menggantikan menjadi pemain yang dadi yang harus jaga.
Tetapi kalau dalam adu cepat tadi pemain mentas yang di-cik ternyata sampai lebih dahulu, ia harus merobohkan tumpukan wingka di tengah lingkaran dengan menendangnya. Kalau wingka-wingka tadi sudah roboh ia boleh lari bersembunyi lagi.
Bisa jadi yang jaga sedang nge-cik pemain mentas di persembunyian yang cukup jauh, sebelum ia memenangkan adu cepat lari dengan pemain mentas yang di-cik, tumpukan wingka sudah dirobohkan pemain mentas lainnya yang bersembunyi lebih dekat ke pangkalan,” ceritaku.
”Kalau misalnya dua-duanya bersamaan sampai di lingkaran yang dijadikan pangkalan, tetapi pemain mentas yang di-cik tetap nendang tumpukan wingka. Padahal sebelum wingka ditendang pemain yang dadi sudah ada di dalam lingkaran. Bagaimana kalau ada kejadian seperti itu, Pak?” tanya seorang siswa Prakerin yang bernama Mifta.
”Dibutuhkan sportifitas dalam permainan ini. Kalau ada kejadian seperti itu berarti pemain mentas tersebut curang. Seharusnya ia menerima menjadi tawanan, karena pada kenyataannya ketika pemain dadi lebih dahulu berada di lingkaran, ia belum dapat merobohkan tumpukan wingka. Boleh dikatakan ini adalah pelajaran praktek mengenai kesadaran hukum. Benar tidak anak-anak?” tanyaku kemudian.
”Benar...!” sahut anak-anak bersamaan.
”Terus ada lagi cara lain dalam permainan dhelikan. Agar lebih jelas akan aku ceritakan dalam bentuk cerita lengkap dengan para pelakunya. Mau tidak mendengarkan?”
”Mau, Pak,” jawab anak-anak serentak.
”Dengarkan baik-baik ceritaku. Barangkali besok-besok kamu dapat mempraktekan bersama adik-adikmu,” kataku kemudian sambil menata angan-angan kembali ke masa silam, masa anak-anak yang indah. ***