Terbaru

Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk II


Di sepanjang jalan Ki Dadap dan Ki Waru tidak berkata-kata satu sama lain. Hatinya rusuh! Bagaimana nanti mereka akan menghadap dan menyampaikan titah Gusti Prabu kepada Kyai Sidik Paningal yang sangat dihormati itu? Pasti, menghadapnya saja mereka sudah tidak berani memandang wajah Sang Kyai yang penuh wibawa. Apalagi menyampaikan titah yang penuh hawa amarah, tentu mereka tidak berani. Bagaimana ini? Tapi kalau tidak disampaikan, lalu Kyai Sidik Paningal tidak datang, tentu mereka dan keluarganya yang akan mendapat hukuman berat. Tidak mustahil hukuman mati yang akan diterimanya beserta seluruh keluarganya. Apa daya… Merekapun terus memacu kudanya dengan perasaan seperti benda jatuh ke sungai, hanyut terbawa arus. Tak tahu ke mana akan terbuang bersama air yang terus mengalir.

Sebelum tiba di Padepokan Sendang Asih, ternyata Kyai Sidik Paningal sudah dalam perjalanan menuju ke Kotaraja bersama puterinya. Mereka berpapasan di tengah hutan di mana Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru pernah bertemu dan bertempur dengan para perampok.  Ki Dadap dan Ki Waru tergagap, akan menyampaikan titah Gusti Prabu, tetapi tak satu kata pun terucap. Mereka merasa takut juga merasa kasihan. 

“Ki Dadap dan Ki Waru, ada apa kalian memacu kuda kencang sekali seperti terburu-buru dikejar hantu saja? Sebetulnya kalian ini mau kemana?” Tanya Kyai Sidik Paningal.

“Kami mau ke Padepokan, menghadap Kyai,” jawab mereka dengan gugup.   

“Ada perlu apa kalian mencariku?”

Tidak ada jawaban. Kedua pengawal Pangeran Lindu Aji itu diam membisu. Kesulitan mencari kata-kata yang tidak menyakiti dan tidak mengejutkan Kyai Sidik Paningal yang sangat mereka hormati dan puterinya yang sangat mereka sayangi. Bagaimana caranya mengabarkan kata-kata yang penuh amarah dan ancaman dengan bahasa yang lembut penuh dengan kasih sayang? Tidak bisa! Mereka menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya, sudah. Kalau begitu aku dan puteriku akan ikut kalian ke Kotaraja. Kebetulan aku memang akan mengantarkan puteriku yang tiap hari menangis, rindu kepada Pangeran Lindu Aji,” kata Kyai Sidik Paningal kemudian memecah kebuntuan. Kemudian mereka bersama-sama memacu kudanya menuju ke Kotaraja. Di sepanjang perjalanan mereka tetap diam, tidak berkata-kata. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. ***

Di halaman Masjid Agung tempat Bedug Kiyai Jaya Handoko Murti digantungkan, suasana masih kaku. Orang-orang yang diundang untuk menyaksikan peresmian bedug raksasa Masjid Agung itu masih utuh. Belum ada yang meninggalkan tempat. Mereka tidak berani, walau sangat ingin. Mereka merasa seperti dalam sel tahanan. Hidangan yang sebelumnya disajikan para abdi dalem, tak ada yang berselera menyentuhnya. Meskipun sebetulnya perut mereka sangat lapar, bahkan mereka yang mempunyai bakat sakit mag, rasanya sudah mulai kambuh pedih melilit-lilit, tetapi mereka tetap tidak berselera makan makanan yang sebetulnya sangat lezat-lezat itu. Tenggorokannya serasa tersumbat, dan perutnya terasa mual mau muntah. Mereka takut, jangan-jangan Gusti Prabu jadi gelap mata lalu membunuh semua yang hadir untuk mengubur rahasia yang sudah terlanjur mereka ketahui.

Suara tapal kuda  terdengar mendekat. Semula terdengar pelan-pelan, makin lama makin jelas, menimbulkan harapan mereka. Harapan segera terbebas dari hukuman setelah diketemukan orang-orang yang seharusnya pantas dihukum. Suara tapal kuda menghantam bumi yang mereka pijak itu terdengar begitu ramai setelah dekat regol Masjid Agung, menandakan jumlahnya cukup banyak. Benar juga, ternyata ada empat ekor kuda yang masing-masing ditunggangi Ki Dadap, Ki Waru, seorang tua berambut putih, dan seorang wanita cantik. Di depan regol masjid, mereka turun. Kuda mereka tambatkan di pohon-pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Lalu mereka melangkah masuk halaman Masjid Agung. Ki Dadap dan Ki Waru nampak melangkah dengan gemetar ketakutan. Sedangkan orang tua berambut putih dan puterinya melangkah dengan tenang, tidak takut sedikitpun.

 “Bapa Kyai Sidik Paningal! Dinda Dewi Pratiwi! Pergilah jauh-jauh! Jangan mendekat! Saya tidak ingin Bapa dan Dinda dihukum mati. Pergilah jauh-jauh!” teriak Pangeran Lindu Aji setelah dilihatnya Kyai Sidik Paningal dan Dewi Pratiwi datang. Kemudian lanjutnya sambil menghadap kepada Prabu Reksa Buwana,”Ayahanda Prabu, tolong ampuni Bapa Kyai Sidik Paningal dan Dinda Dewi Pratiwi! Jangan hukum mati mereka! Bapa Kyai Sidik Paningal adalah guru ananda.  Sedangkan Dinda Dewi Pratiwi adalah kekasih tambatan hati ananda. Tolong ampunilah mereka, Ayahanda Prabu!” pinta Pangeran Lindu Aji dengan penuh iba.

“Tidak, Ananda! Mereka berdua inilah yang telah mempermalukan kita. Puteri Kyai Sidik Paningal telah mengetahui rahasiamu yang merupakan aib keluarga. Mungkin ia telah membuka rahasia yang diketahuinya kepada banteng piaraannya. Lalu dengan ilmu sihirnya ia simpan rahasia itu kedalam kulit banteng itu. Lalu Kyai yang tak tahu diri ini, sengaja memberikan petunjuk yang kalau diikuti justru membeberkan rahasia yang tersimpan dalam kulit banteng itu. Dan kita percaya dan mengikutinya. Akhirnya kita bahkan diblejeti! Rahasia kita dibeberkan di depan umum! Kita dipermalukan habis-habisan!” kata Prabu Reksa Buwana sambil menunju-nunjuk ke arah Kyai Sidik Paningal dan Dewi Pratiwi.

Mendengar kata-kata Prabu Reksa Buwana yang menyalahkan dirinya dan puterinya, Kyai Sidik Paningal tidak menjadi takut, gentar, ataupun marah. Kyai yang sangat berwibawa itu bagaikan air samodera yang luas dan dalam, segala sungai yang bermuara kedalam dirinya, betapapun sedang banjir meluap-luap ia tampung dengan sabar. Dengan tenang kemudian Kyai  Sidik Paningal berkata, “Wahai Gusti Prabu Reksa Buwana yang bijaksana, sebetulnya anak hamba tidak membocorkan rahasia Pangeran kepada orang lain. Ia hanya membocorkan kepada binatang kesayangannya untuk melepaskan beban berat yang diterima tanpa sengaja. Anak hamba mengira banteng itu tidak akan mungkin membocorkan rahasia itu kepada siapapun.” 

“Tapi kenyataannya rahasia ini bocor ke mana-mana, puterimu yang jadi penyebabnya. Dan kenapa Kyai memberi petunjuk yang ternyata setelah diikuti justru membuka aib Pangeran Lindu aji, yang berarti juga aib raja, permaisuri, dan bahkan juga aib kerajaan ini, terbuka di depan umum?” tanya Prabu Reksa Buwana kesal.

Dengan tetap tenang Kyai Sidik Paningal menjawab, “Barangkali sudah menjadi takdir Pangeran Lindu Aji, rahasianya harus terbuka dengan cara seperti ini. Tetapi menurut perhitungan hamba, ini berarti Pangeran sudah tidak punya rahasia yang harus disembunyikan lagi, karena semua orang sudah tahu. Apabila Pangeran Lindu Aji dan Gusti Raja sudah dapat menerima takdir ini dengan ikhlas, hamba kira kutukan terhadap Pangeran Lindu Aji akan hilang dengan sendirinya,” kata Kyai Sidik Paningal.

Prabu Reksa Buwana termangu-mangu. Masuk akal juga kata-kata Kyai ini. Perasaannya yang tadi dipenuhi hawa kemarahan, kini mereda. Kesabaran dan kebijaksanaan kembali menyetir hati dan jiwanya.

“Apa betul begitu, Kyai?” tanya Prabu Reksa Buwana kemudian  penuh pengharapan.

“Itu menurut perhitungan hamba, Gusti Gusti Prabu. Kalau ingin buktinya coba saja Gusti Prabu buka tutup kepala Pangeran Lindu Aji,” kata Kyai Sidik Paningal.

Ragu-ragu Prabu Reksa Buwana akan melaksanakan petunjuk Kyai Sidik Paningal. Jangan-jangan tanduk itu masih ada, sehinga kalau ikat kepala Pangeran Lindu Aji dibuka, para pembesar dan sentono dalem, serta rakyat semuanya, tidak hanya mendengar kabar lewat suara bedhug tapi juga akan tahu buktinya. Prabu Reksa Buwana bimbang. “Tapi kalau tidak aku buka sekarang, kalau ternyata tanduk itu sudah benar-benar hilang, orang-orang akan mengira kalau Pangeran Lindu Aji masih bertanduk. Orang-orang akan menghina dan memberi cap Pangeran Lindu Aji sebagai pangeran bertanduk. Betul-betul cap atau sebutan yang menghinakan!” kata Prabu Reksa Buwana dalam hati. Ia betul-betul bingung. Hatinya penuh kebimbangan. Namun akhirnya Prabu Reksa Buwana pasrah. 

Prabu Reksa Buwana berjalan mendekati Pangeran Lindu Aji yang masih berdiri di depan Bedug Kiyai Jaya Handoko Murti. Pelan-pelan disertai doa Prabu Reksa Buwana membuka ikat kepala Pangeran Lindu Aji. Selapis demi selapis ikat kepala itu terbuka. Permaisuri Dewi Widiyaningrum dan hadirin semua menahan napas. Memandang tak berkedip ke arah kepala Pangeran Lindu Aji yang sedikit demi sedikit terlepas ikat kepalanya. Akhirnya ikat kepala itu pun lepas seluruhnya. Bersamaan dengan terbukanya seluruh kepala Pangeran Lindu Aji, terdengar suara “kelinting” demikan nyaringnya. Sebuah benda logam berwarna kuning terjatuh di lantai marmer serambi Masjid Agung. Namun orang-orang tidak memperhatikan suara itu kecuali Kyai Sidik Paningal dan Pangeran Lindu Aji sendiri. Orang-orang hanya terpaku melihat ke arah kepala Pangeran Lindu Aji yang sekarang terbuka penuh di hadapannya. Begitu kepala Pangeran Lindu Aji terbuka, terlihat jelas kepala itu bersih, tidak ada tanduk terlihat mencuat menghiasi kepala berambut gondrong itu.

Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri Dewi Pratiwi merasa bersyukur mengetahui tanduk Pangeran Lindu Aji ternyata sekarang sudah hilang. Hadirin yang ada di sekitar serambi dan halaman masjid itu pun merasa lega. Seolah-olah mereka baru saja terlepas dari beban berat. Seolah-olah mereka baru saja dibebaskan dari vonis hukuman mati.

Kyai Sidik Paningal membungkuk memungut benda logam kuning yang tadi jatuh dari kepala Pangeran Lindu Aji. Kemudian dengan sikap penuh hormat diserahkannya benda itu kepada Prabu Reksa Buwana.

“Apa ini, Kyai?” Tanya Prabu Reksa Buwana tak mengerti.

“Cincin emas bermata berlian itu tadi jatuh dari kepala Pangeran Lindu Aji bersamaan dengan lepasnya ikat kepala Pangeran Lindu Aji. Barangkali cincin ini adalah penjelmaan dari tanduk Gusti Pangeran. Hamba serahkan cincin itu kepada Gusti Gusti Prabu untuk dipakaikan ke jari Pangeran Lindu Aji, karena sesungguhnyalah hanya Pangeran Lindu Aji yang berhak memakai cincin itu. Pangeran Lindu Aji telah berjodoh dengan cincin itu. Terbukti sudah sejak dalam kandungan cincin itu ada pada Pangeran Lindu Aji dalam bentuk sepasang tanduk.”

Prabu Reksa Buwana mengamat-amati cincin pemberian Kyai Sidik Paningal. Sebuah cincin emas berbentuk kepala banteng. Tanduknya runcing membelok ke depan. Kedua biji matanya terbuat dari berlian bersinar indah menyilaukan. Sinar itu berubah-ubah, seakan berputar-putar memperlihatkan sisi-sisinya yang berbeda warna. Kadang biru, kadang merah, kadang kuning, kadang putih, kadang hijau, kadang ungu. Indah sekali seperti pelangi.

“Lalu apa kasiat atau kegunaan cincin ini selain untuk hiasan di jari pemakainya, Kyai? Apakah cincin ini punya tuah?” Tanya Prabu Reksa Buwana setelah terkagum-kagum melihat cincin yang sangat indah itu.

“Menurut petunjuk gaib yang hamba terima, cincin itu mempunyai tuah sebagai penolak balak dan penghalau musuh. Cincin itu dapat melindungi pemakainya dari segala jenis racun, bisa dan bius. Cincin itu dapat melumpuhkan musuh meskipun musuh dalam jumlah yang lebih besar. Cincin itu dapat memperkuat perasaan pemakainya, sesuai dengan pancaran sinarnya. Apabila pemakainya sedang bersikap tenang, sabar, bijaksana dan berwibawa, maka mata cincin itu akan memancarkan sinar biru yang teduh. Kalau pemakainya sedang merasa bersemangat, penuh harapan dan cita-cita, maka mata cincin itu akan memancarkan sinar kuning keemasan. Kalau pemakainya sedang marah, maka yang terpancar dari mata cincin itu adalah warna merah darah. Tetapi kalau kemudian pemakainya ingat kepada Yang Maha Kuasa, lalu berdoa memohon pertolongan dan perlindungan, maka warna merah itu nanti dengan cepat segera berganti. Begitulah Gusti Prabu tuah dari cincin pusaka itu,” penjelasan Kyai Sidik Paningal.

“Terima kasih, Kyai atas penjelasannya. Cincin ini akan segera aku pakaikan ke jari Pangeran Lindu Aji putraku,” kata Prabu Reksa Buwana yang terus meraih tangan Pangeran Lindu Aji untuk memakaikan cincin pusaka berkepala banteng. Setelah mengenakan cincin Pangeran Lindu Aji terlihat lebih gagah dan berwibawa.

“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepada Kyai Sidik Paningal yang telah membantu melepaskan kutukan yang sudah bertahun-tahun menimpa Ananda Pangeran Lindu Aji. Dengan tulus aku juga mohon maaf kepada Kyai Sidik Paningal, karena aku telah memurkai dan bahkan akan menghukum mati Kyai dan Dewi Pratiwi. Aku tidak tahu kalau laku yang harus dijalani puteraku Pangeran Lindu Aji harus seperti itu untuk melepaskannya dari kutukan,” kata Prabu Reksa Buwana dengan penuh hormat.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Gusti Gusti Prabu. Kami semua rakyat Arga Pura adalah milik Paduka Prabu. Gusti Prabu berwenang atas diri kami,” kata Kyai Sidik Paningal merendah.

“Kyai, aku lihat puteraku Pangeran Lindu Aji sudah jatuh cinta kepada puterimu Dewi Pratiwi. Dan kelihatannya puterimu pun demikian juga. Bagaimana kalau aku melamarkan puteraku kepadamu? Puterimu Dewi Pratiwi akan aku nikahkan dengan puteraku Pangeran Lindu Aji. Apakah Kyai setuju menerimanya?”

“Kami semua rakyat Arga Pura adalah milik Paduka Prabu. Kalau itu sudah menjadi kehendak Gusti Prabu Reksa Buwana, maka sebagai hamba kami hanya dapat menerimanya. Apalagi hamba lihat sejak di padepokan, keduanya memang sudah cocok dan saling mencintai. Maka kenapa hamba harus menghalangi? Tentu dengan senang hati hamba akan merestui. Hamba menerima kemurahan Gusti Gusti Prabu.”

“Kalau begitu besok kita nikahkan puteraku Pangeran Lindu Aji dengan puterimu Dewi Pratiwi. Mulai sekarang kita persiapkan dulu segala sesuatunya.” Lalu kepada hadirin semua, ”Para pembesar, sentono dalem, dan para prajurit! Aku kira mendung yang menutupi langit Negara Arga Pura sudah sirna. Langit sudah kembali jernih dan terang. Maka hadirin semua aku perkenankan bubar, kembali ke tempat masing-masing!” kata Prabu Reksa Buwana tegas dan berwibawa.

Hadirin pun bubar kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan lega. Bahkan merasa gembira melihat masa depan negaranya yang cerah gilang gemilang. Mereka merasa dalam sehari ini mengalami suatu peristiwa yang luar biasa. Pengalaman tak terlupakan yang hampir mencelakai dirinya. ***

NB: 
Cerita ini adalah bagian ke 9 dari naskah buku novel berjudul “Lindu Aji Pangeran Bertanduk” yang belum pernah diterbitkan. Penulis menunggu penerbit yang bersedia menerbitkanna.

Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri) - Exnim
Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri)

        Penulis: Sutardi MS Dihardjo
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk I

Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk I
9
BEDUG PEMBUKA RAHASIA

Pagi harinya Prabu Reksa Buwana memanggil abdi dalem pembuat gamelan kendang dan bedug. Abdi dalem empu pradangga, Ki Laras-swara yang sudah terkenal ahli membuat alat-alat musik tradisionil, baik dari bahan kulit, kayu maupun bambu. Sejak dari membuat kenthongan, angklung, kendang, sampai bedug yang besar, dialah ahlinya di Negara Arga Pura. Ia mempunyai beberapa orang pembantu yang mempunyai keahlian masing-masing. Ada yang ahli meraut bahan-bahan bambu, ada yang ahli membentuk bahan dari kayu, ada yang ahli menyamak dan memotong kulit sehingga siap dijadikan kendang, bedug atau yang lainnya, ada pula yang ahli mengukir dan mewarnai atau menghias alat musik yang sudah jadi. Sedangkan untuk melaras gamelan supaya mengeluarkan bunyi sesuai yang diinginkan, dia sendiri yang akan melakukan.

“Terimalah kulit banteng ini untuk kamu buatkan bedug besar yang akan ditempatkan di serambi Masjid Agung Keraton Arga Pura. Kamu harus hati-hati membuatnya, jangan sampai banyak kulit yang terbuang. Aku menginginkan bedug yang akan kamu buat nanti adalah bedug raksasa. Bedug terbesar dari bedug-bedug yang sudah ada. Suaranya dapat terdengar sampai jarak yang sangat jauh. Mempunyai daya jangkau yang sangat luas. Terdengar sampai ke pelosok-pelosok kota dan desa-desa. Sebagai penanda waktu dan sarana  mengajak  orang  berkumpul melakukan sholat berjamaah di Masjid Agung, aku berharap bunyi bedug itu nanti dapat menarik dan menyadarkan orang akan kewajibannya menyembah kepada Allah Yang Maha Suci.” perintah Prabu Reksa Buwana setelah Ki Laras-swara datang menghadap. 

“Sendika, Gusti Gusti Prabu. Hamba siap menerima tugas ini. Mohon doa restu semoga hamba dapat berhasil mengemban tugas ini!” jawab Ki Laras-swara dengan penuh hormat. Kemudian setelah menghaturkan sembah penghormatan, ia pun menerima kulit banteng Handoko Murti dan kulit banteng Jaya Handoko dari tangan Prabu Reksa Buwana. 

“Tetapi ingat-ingatlah pesanku yang harus kamu patuhi! Jangan sekali-kali kamu melanggar pesan ini! Ki Laras-swara, bersediakah kamu mematuhi pesanku ini, dan berjanji tidak sekali-kali akan melanggarnya?” tanya Prabu Reksa Buwana dengan penuh wibawa tetapi terselubung di dalamnya rasa kekhawatiran.

“Dengan penuh hormat hamba mematuhi perintah Gusti Prabu. Apabila hamba melanggar larangan Gusti Gusti Prabu, hamba bersedia dihukum gantung di alun-alun,” kata Ki Laras-swara dengan penuh rasa kepatuhan seorang abdi yang merasa tidak berharga di hadapan tuannya.

“Baiklah kalau begitu. Kedua kulit banteng ini adalah kulit banteng keramat, yang satu adalah kulit banteng kelangenanku yang mempunyai arti sejarah tersendiri bagiku, sedangkan yang satunya lagi adalah pemberian seorang Kyai yang ahli bertapa brata sepanjang hidupnya. Beliau berpesan, yang juga menjadi pesanku kepadamu yang tidak boleh dilanggar: Hanya puteraku Pangeran Lindu Aji yang boleh mencoba memukul bedug ini untuk pertama kalinya. Tidak boleh ada orang lain yang boleh memukul bedug ini untuk pertama kali, kalau sudah jadi nanti. Jadi kamu tidak boleh mencoba memukul-mukulnya, terutama pada bagian kulit banteng pemberian Kyai Sidik Paningal, setelah terpasang. Jangan sekali-kali mencoba membunyikan bedug ini kalau kulit banteng sudah terpasang di lingkaran kayu bedug! Kamu sudah sangat berpengalaman membuat kendang maupun bedug, aku yakin kamu dapat mengira-irakan seberapa tepat kamu memasang dan mengencangkan pemasangan kulit banteng ini pada lingkaran kayu bedug, tanpa harus mencoba memukulnya. Gunakan perasaan dan ilmu titen yang telah kamu punyai! Aku yakin kamu bisa. Nah, bersediakah Ki Laras-swara mematuhi pantanganku ini?”

“Sekali lagi, dengan penuh hormat, hamba akan mematuhi titah Gusti Gusti Prabu yang amat berat ini.”

“Kalau begitu, sekarang aku ijinkan kamu kembali ke rumahmu dengan membawa kulit banteng ini. Pesanku ini juga sampaikan kepada orang-orangmu yang membantu pembuatan bedug besar ini nanti.”

“Hamba menurut perintah Gusti Gusti Prabu,” kata Ki Laras-swara sambil memberi sembah penghormatan. Kemudian ia undur diri pulang ke rumahnya dengan membawa kulit banteng dan perintah yang terasa berat untuk melaksanakannya. 

Setelah sampai di rumah Ki Laras-swara segera membuka kedua kulit banteng pemberian Gusti Prabu Reksa Buwana. Ki Laras-swara terkagum-kagum melihat kulit banteng yang tergelar di lantai. Ia takjub melihat kedua kulit banteng yang sedemikian luasnya itu. Ia membayangkan, betapa besar dan gemuknya banteng yang telah dibunuh Sang Pangeran. Dan anehnya kenapa kedua kulit banteng itu sama besarnya. Padahal mereka hidup di tempat yang terpisah, pada kurun waktu yang berbeda. Lebih takjub lagi Ki Laras-swara ketika melihat sinar tipis keemasan yang terpancar dari bentangan kedua kulit banteng itu. Benar-benar benda keramat yang harus dikerjakan dengan penuh kehati-hatian. Sebetulnya setiap abdi dalem dalam mengerjakan setiap titah Gusti Prabu, tentu tidak boleh sembarangan, kalau dirinya tidak ingin celaka. Tetapi titah  ini lebih-lebih, karena titah ini mengandung ancaman yang berat kalau ia sampai melanggar pantangannya. Tapi menjadi jauh lebih berhati-hati lagi ia dalam mengerjakannya nanti, karena sinar kuning yang terpancar dari setiap senti kulit banteng itu seolah-olah adalah barang berharga yang tidak boleh terbuang percuma. Semua harus dapat dimanfaatkan, dan akan dimintai pertanggung-jawabannya di hadapan Gusti Gusti Prabu nantinya. Ki Laras-swara segera mengukur panjang lebar kulit banteng di hadapannya. Lalu ia mulai membuat rancangan bedug yang akan dibuat dengan memanfaatkan kulit banteng ini semaksimal mungkin. Setelah itu barulah ia memanggil para pembantunya untuk diberi penjelasan, termasuk pesan wanti-wanti yang mengandung ancaman dari Gusti Gusti Prabu. 

“Kali ini tugas kita amat berat. Kita tidak boleh main-main. Lihatlah, bahan baku pembuatan bedug besar yang akan kita buat nanti. Betul-betul kulit banteng yang luar biasa. Sudah aku hitung, garis tengah lingkaran bedug nanti ada dua meter. Agar kelihatan gagah, sesuai dengan besarnya, panjang bedug nanti harus tiga meter. Bagaimana, apakah adi Jati-swara sanggup mencari bongkotan kayu jati sepanjang tiga meter dengan garis tengah dua meter?”

“Kalau di hutan biasa keilhatannya sulit, Kakang. Tapi kalau diijinkan mencari kayu jati di Hutan Larangan milik Gusti Gusti Prabu, saya kira ada,” jawab Ki Jati-swara, abdi dalem ahli pembuat alat-alat musik dari bahan kayu jati.

“Kalau begitu biarlah nanti aku yang akan meminta ijin kepada Gusti Gusti Prabu. Sekalian aku akan minta bantuan Ki Blandong untuk memotongnya,” kata Ki Laras-swara.

“Tetapi masalahnya, Kakang, bagaimana caranya membawa bongkotan kayu jati sebesar itu dari Hutan Larangan sampai kemari?” Ki Laras-swara tercenung. Jarak Hutan Larangan dengan tempat pembuatan bedug nanti kira-kira lima kilometer. Kalau sudah berujud bedug mungkin gerobag sapi kuat mengangkatnya. Tapi kalau masih berupa bongkotan kayu jati utuh, apakah kuat? Ia berpikir keras, mencari jalan keluarnya.

“Begini saja, sekalian kita mohon ijin kepada Gusti Gusti Prabu untuk pinjam kelangenannya gajah. Kalau tidak kuat satu gajah ya dua gajah. Ya, gajah Kiyai Broto dan Kiyai Seno saya kira kuat menarik bongkotan kayu jati sebesar itu,” kata Ki Laras-swara setelah menemukan cara.

Kemudian Ki Laras-swara dan Ki Jati-swara, dibantu Ki Blandong dan beberapa orang temannya mulai memilih-milih kayu jati di Hutan Larangan setelah mendapat ijin Prabu Reksa Buwana. Akhirnya mereka menemukan kayu jati besar yang umurnya sudah ratusan tahun yang berjenis Jati Pendowo. Setelah selesai penebangannya, dua ekor gajah kelangenan Prabu Reksa Buwana pun didatangkan untuk menarik kayu jati yang sedemikian besarnya itu. Berat juga mengangkut kayu jati sebesar itu. Dua ekor gajah yang kuat-kuat pun juga merasakan betapa berat, sehingga harus berhenti beristirahat berulang-ulang. Bahkan gajah-gajah itu harus berulang-ulang diberi makan, minum dan jamu, agar badannya tetap segar dan kuat. 

Setelah kayu jati sebagai bahan utama pembuatan bedug rakasasa, selain kulit banteng, sudah sampai di bengkel pembuatan bedug, maka para pembantu Ki Laras-swara yang lain pun segara bekerja. Dalam mengerjakan tugas ini, para pembantu Ki Laras-swara sengaja mencari bahan-bahan pendamping dari bahan-bahan pilihan yang terbaik, agar tidak mengurangi nilai bedug yang akan dibuat. Semua mengerjakannya dengan penuh rasa hormat, patuh, tapi gembira dan bangga. Mereka merasa, seolah-olah sedang membuatkan mahkota untuk Gusti Gusti Prabu, sehingga membuatnya bangga dan terhormat. Tapi merekapun juga menjadi sangat berhati-hati karena ajinya barang yang sedang mereka buat. Seolah-olah mereka itu sedang memijiti seluruh anggota tubuh Gusti Gusti Prabu. Tidak boleh kasar dan sembarangan memperlakukannya. Pada setiap yang dikerjakannya, mereka senantiasa melakukan doa permohonan dan doa keselamatan untuk Gusti Gusti Prabu, negaranya dan dirinya sendiri.

Ki Jati-swara dengan hati-hati melubangi batang jati yang besar dan keras itu dengan pahat yang tajam. Ia memahat dengan hati-hati. Mula-mula lingkaran luar dipahat dulu pelan-pelan agar membentuk silinder. Lalu memahat bagian dalam dari tengah, semakin lama semakin ke pinggir, agar terbentuk dinding bedug. Setelah itu baru dihaluskan luar dan dalam.

Ki Walulang-swara yang bertugas mengolah kulit, mengolah kedua kulit banteng itu dengan hati-hati. Ia menyamak kulit itu lalu memotongnya menurut pola yang sudah dibuatkan Ki Laras-swara dengan hati-hati, sehingga kemudian siap dipasang pada kayu bedug yang sudah disiapkan Ki Jati-swara. Meskipun ia tahu betapa secuil dari kulit banteng itu dapat ia simpan dijadikan jimat yang sangat berharga, ia tidak mau mengambilnya. Ia takut menghianati amanat dan kepercayaan Gusti Gusti Prabu lewat Ki Laras-swara.

Setelah silinder kayu bedug dan kulit banteng untuk bedug sudah siap, maka kemudian tugas Ki Laras-swaralah yang harus memasang kulit banteng ke dalam silinder kayu jati dengan paku-paku kayu penahan kulit yang sudah disiapkan Ki Jati-swara. Mula-mula yang dipasang adalah kulit banteng Handoko Murti pemberian Kyai Sidik Paningal dari Padepokan Sendang Asih. Namun sebelum silinder kayu jati bedug itu tertutup kedua sisinya, terlebih dahulu Ki Laras-swara menggantungkan sebuah gong besar untuk membantu menggemakan suara bedug. Baru setelah gong terpasang, sisi yang lainnya ditutup dengan kulit banteng Jaya Handoko kelangenan Prabu Reksa Buwana. Lalu Ki Laras-swara membuat pemukul bedug dari kayu jati yang sudah disediakan Ki Jati-swara. Kayu yang sudah dibentuk dan diamplas halus, dibalut dengan benang dengan teliti agar menghasilkan suara yang empuk. 

Sementara Ki Laras-swara memasang kulit banteng dan melarasnya, Ki Jati-swara membuat empat tiang yang kokoh. Tiang-tiang itu disatukan dengan  dua susunan balok blandar, yang masing-masing susunan terdiri dari empat balok berkeliling. Balok-balok blandar ini digunakan untuk menggantungkan bedug raksasa yang baru dibuat. Setelah semua dihaluskan, kini tugas Ki Sungging-swara memperindah tiang penyangga dan balok-balok blandar dengan ukir-ukiran dan cat pewarna yang indah. 

Maka selesailah pembuatan bedug raksasa sesuai perintah Prabu Reksa Buwana. Tibalah saatnya mengusungnya ke serambi Masjid Agung Keraton Arga Pura. Bedug dinaikkan gerobag besar yang ditarik dua ekor sapi yang besar-besar dan kuat. Penempatan bedug raksasa dan percobaan membunyikannya disaksikan Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri, Ki Patih, Parampara penasihat kerajaan, dan para pembesar punggawa, para senopati serta prajurit kerajaan Arga Pura. Sesuai kedudukannya, mereka ada yang duduk di kursi yang sudah disediakan di serambi masjid, ada yang berdiri berderet di depan serambi masjid. Hadirin merasa takjub melihat bedug raksasa yang amat besar dan memancarkan aura sinar kuning keemasan, dengan hiasan dan perlengkapannya yang megah dan indah.

Setelah protokol mengumumkan acara percobaan membunyikan Bedug Kiyai Jaya Handoko Murti untuk pertama kali, Pangeran Lindu Aji memberi hormat kepada Gusti Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri Dewi Widiyaningrum, serta kepada hadirin semuanya. Lalu ia melangkah ke serambi masjid ke arah bedug raksasa diletakkan. Tangannya meraih pemukul bedug yang sudah disiapkan. Dengan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dengan memohon kekuatan, serta menggantungkan seribu harapan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, ia mulai mengangkat tangannya yang menggenggam kayu pemukul bedug itu. Dua kali ia mengayunkan kayu pemukul menghantam kulit bedug. Hadirin bertepuk tangan menyambut. Tapi lihatlah apa yang terjadi! Dengarlah suara aneh yang terdengar dari gema suara bedug itu! Terdengar bunyi menggelegar terbang jauh menelusup masuk ke pelosok kota dan desa-desa, suara yang aneh, “Dhunggggg….Lindu Aji, Pangeran…. bertandukkkk… Dhunggg… Lindu Aji, Pangeran….  bertandukkkk…” 

Gema suara bedug yang aneh itu terus bergema, bergaung, bergelombang-gelombang seakan tidak mau hilang di telinga para pendengarnya. Sekalian orang yang mendengar suara itu, baik yang ada di sekitar serambi masjid maupun yang ada di luarnya menjadi terheran-heran dibuatnya. Yang ada di luar, rakyat kerajaan Arga Pura yang sehari sebelumnya sudah mendapat perintah untuk memasang telinga pada jam yang sudah ditentukan, untuk mengetahui sampai seberapa jauh bunyi bedug raksasa yang diberi nama Bedug Kiyai Jaya Handoko Murti dapat didengar suaranya, menjadi terheran-heran mendengar suara bedug yang aneh itu. Suara bedug yang tidak hanya memperdengarkan suara yang tidak lazim, tetapi juga memberi tahukan suatu rahasia besar yang belum pernah mereka ketahui. Bahkan menduganyapun tidak pernah.

Sedangkan para pembesar dan sentono dalem kerajaan Arga Pura yang ada di sekitar serambi masjid, yang sengaja diundang untuk menyaksikan percobaan membunyikan Beduk Kiyai Jaya Handoko Murti, menjadi terbengong-bengong mendengar bunyi bedug yang keras mengalun, tetapi membuka rahasia aib Pangeran Lindu Aji yang selama ini rapat-rapat disembunyikan oleh Prabu Reksa Buwana, Permaisuri Dewi Widiyaningrum, dan Pangeran Lindu Aji sendiri. Mereka jadi tahu kenapa sejak kecil Pangeran Lindu Aji mendapat perlakuan yang sangat istimewa melebihi perlakuan terhadap pangeran-pangeran calon putra mahkota pada umumnya. Para pembesar dan sentono dalem itu lantas saling berbisik-bisik dengan orang-orang di sampingnya. Mereka saling menceritakan kejanggalan-kejanggalan yang mereka lihat dan rasakan terhadap sikap dan perlakuan Gusti Prabu dan Permaisuri kepada Sang Pangeran sejak kecil. Demikian juga terhadap diri Pangeran Lindu Aji sejak kecil hingga masa-masa remajanya. Mereka jadi mengerti kenapa pangeran calon raja junjungannya itu kelihatannya takut bergaul dengan orang, lebih-lebih dengan puteri-puteri. 

Mereka juga menghubung-hubungkan keadaan yang menimpa Pangeran Lindu Aji dengan festival adu banteng yang menewaskan banteng Jaya Handoko kelangenan Gusti Prabu hingga pecah kepalanya dan patah tanduknya. Bisik-bisik menjadi semakin seru bergema ketika hadirin juga menyambung dengan cerita-cerita tentang orang-orang yang menerima kutuk melahirkan anak cacat karena waktu hamil, suaminya memperlakukan semena-mena kepada binatang. Bunyi bisik-bisik yang semula pelan itu makin lama makin keras terdengar bagai gaung suara pasar yang baru dibuka, karena mereka semakin bergairah menceritakan aib yang mereka ketahui itu. 

Mereka merasa sangat bangga kalau merasa melihat atau merasakan kejanggalan-kejanggalan yang lebih banyak dan lebih unik pada diri Pangeran Lindu Aji maupun pada sikap Prabu Reksa Buwana dan Permaisurinya yang sampai memberikan ancaman-ancaman yang keras bagi mereka yang berbuat yang mengarah pada terbukanya rahasia Sang Pangeran. Bagi mereka yang merasa tahu lebih banyak, tidak mau suaranya tenggelam di antara gelombang bisik-bisik itu, maka merekapun meninggikan suaranya. Sehingga yang terdengar di sekitar serambi masjid itu bukan lagi gelombang suara bisik-bisik, tetapi suara perbincangan biasa yang bahkan semakin lama semakin keras, seolah mereka tidak takut dihukum karena telah memperbincangkan aib pangeran, orang yang seharusnya mereka hormati dan jaga kewibawaannya.

Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri merasa ditelanjangi di hadapan rakyatnya. Bisik-bisik yang terdengar dari mulut para pembesar dan sentono yang ada di hadapannya bagaikan beribu-ribu jarum berbisa menancap di dadanya. Ketika bisik-bisik itu berubah menjadi gelombang suara yang keras berterus terang, maka jarum-jarum itu berubah pula menjadi ular-ular berbisa yang menggerogoti hati, jantung, paru-paru, tulang dan menyedot semua sunsum yang ada di dalamnya. 

Ingin rasanya Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri membungkam mulut-mulut mereka, atau menghapus ingatan mereka terhadap suara bedug yang baru dibuat tadi. Ya, Raja dapat membunuh mereka semua yang ada di sekitar serambi masjid yang sudah mengetahui aib yang selama ini disembunyikannya, tetapi kepada mereka yang ada di luar sana, mereka yang ada di pelosok kota dan desa-desa yang juga mendengar suara itu? Apakah mereka juga akan dibunuhnya? Apakah dengan demikian sejarah tidak akan mencatat dirinya sebagai raja yang paling kejam? Ah… Gusti Prabu merasa pusing. Kepalnya memberat. Mahkota kerajaan yang selama ini terasa ringan dikenakan di kepalanya, kini terasa berat seakan tak terangkat di atas kepala.

Bagi Pangeran Lindu Aji sendiri, sebetulnya dirinya sudah siap menghadapi peristiwa ini. Wejangan-wejangan Kyai Sidik Paningal yang seakan memang membekali dirinya untuk menghadapi peristiwa seperti ini, telah membuat dirinya tegar dan tabah menerima setiap kenyataan yang tergelar di hadapannya. Dirinya hanya pasrah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Berencana. Tetapi melihat dan mendengar reaksi para pembesar dan para sentono yang hingar bingar, tak urung hatinya juga menjadi sedih dan malu. Tetapi ia tak segusar ayah-bundanya.

Tiba-tiba Gusti Prabu Reksa Buwana berdiri. Wajahnya merah menahan marah. Semua hadirin yang menyaksikan, menjadi takut, mulut mereka terkunci. Suara bising bisik-bisik yang baru saja menguasai halaman dan serambi Masjid Agung dan sekitarnya, tiba-tiba menjadi senyap. Tak terdengar suara betapapun pelannya. Bahkan tarikan nafas pun tak terdengar. Mereka takut mengabarkan keberadaan dirinya. Jangan-jangan Gusti Prabu yang merasa malu menjadi gelap mata, memerintahkan menghukum semua yang hadir, semua yang telah mendengar aib Sang Pangeran yang harus dihormati dan dijaga kewibawaannya.

“Kurang ajar! Kyai Sidik Paningal dan puterinya telah membeset mukaku! Dengan sengaja Kyai yang tak tahu diri itu telah mempermalukan keluargaku di depan umum. Aku tidak terima! Mereka harus dihukum berat, digantung di alun-alun! Mereka telah memberi petunjuk yang ternyata menjerumuskan keluarga raja ke kubangan lumpur malu yang tak terhapuskan!” teriak Prabu Reksa Buwana melontarkan hawa amarah yang menggumpal di dada. Hadirin yang mendengarkan tak berani berkutik. Hanya diam dan menunduk.

“Ki Dadap dan Ki Waru! Panggil Kyai yang tak tahu diri itu bersama puterinya kemari sekarang juga! Suruh menghadap kepadaku secepatnya! Akan aku tanya apa maksudnya memberi petunjuk yang menjerumuskan, yang ternyata justru membuka aib anakku di hadapan rakyatku. Aib yang bertahun-tahun telah kututup rapat-rapat, kusembunyikan serahasia mungkin, sekarang terbuka lebar, justru setelah aku menuruti petunjuknya. Panggil mereka secepatnya!”

“Daulat, Gusti Gusti Prabu. Hamba segera melaksanakan titah Paduka,” kata Ki Dadap dan Ki Waru serempak dengan gemetar. Keduanya menghaturkan sembah penghormatan kemudian keluar halaman masjid menuju kudanya yang diikat di pohon di depan masjid. Kuda lalu dipacu cepat menuju Padepokan Sendang Asih.  ***

Cerpen Misteri 'Jagading Lelembut'

Cerita Jagading Lelembut:
Dibantu Mancing Penunggu Rowo Jombor
Oleh Sutardi MS Dihardjo

Cerpen Misteri 'Jagading Lelembut'

Panggilannya Sidu atau si-Du. Tetapi bukan singkatan Sinar Dunia seperti nama buku tulis. Nama sebenarnya Duwaji. Entah mengapa orang tuanya memberi nama seperti itu. Barangkali maksudnya untuk mengingat-ingat tanggal kelahirannya, yang mungkin tanggal dua puluh satu atau dua siji. Nama itu memang unik, tapi biarlah itu urusan orang tuanya. Hanya merekalah yang tahu sejarah dan alasan sebenarnya kenapa mereka memberi nama seperti itu.

Tetapi di sini yang akan aku ceritakan bukan masalah sejarah nama itu, tetapi masalah hoby atau kesukaan orang itu yang aku pandang juga unik, karena seakan-akan tidak  boleh dikalahkan oleh kegiatan lainnya, kalau sedang bersamaan dengan jadwalnya. Hoby yang paling menonjol adalah badminton dan mancing. Kalau hari Rabu, Sidu pasti badminton bersama teman-temannya. Kalau tiba hari Kamis atau Malam Jumat, ia pasti mancing sendirian di sungai-sungai besar, kedung dalam, atau yang paling sering mancing di Waduk Rowo Jombor. Waktunya, malam setelah Isya sampai tengah malam.

Orang satu ini memang amat pemberani. Tidak takut diganggu setan, dhemit, pocongan, ilu-ilu, bangaspati, jrangkong dan sebangsanya. Asal sudah memakai jaket kulit, kepala memakai kethu penutup muka  rapat sampai hanya kelihatan matanya saja, untuk melawan hawa dingin. Lalu menyandang kepis untuk menyimpan ikan tangkapan, membawa pancing beserta umpannya. Lalu mengayuh sepedanya, sudah tidak ada sesuatu apa pun yang dapat mengurungkan niatnya. Rapat kampung atau tuguran kematian tetangga, atau kegiatan kampung lainnya, sudah pasti dikalahkan.
Malam itu Sidu berencana mancing ke waduk Rowo Jombor. Semua peralatan dan perlengkapan yang diperlukan sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang ketinggalan. Termasuk bekal makanan sekedar pengganjal perut kalau rasa lapar menyerang, dan lampu senter batu empat untuk penerangan. 

Setelah pamit istrinya, bakda sholat Isya Sidu segera mengayuh sepedanya menuju ke waduk Rowo Jombor yang jauhnya sekitar lima kilo meter. Sampai di waduk, Sidu menyusur tepi Rowo sampai di sebelah tenggara waduk, dekat pintu keluar air yang menuju ke sungai irigasi. Biasanya Sidu kalau mancing kalau tidak di tepi makam yang ada di pinggir Rowo, ya di dekat pintu air ini. Memang orang-orang banyak mengatakan kalau tempat ini angker. Sudah banyak orang melihat penampakan makhluk halus dalam aneka rupa dan bentuk di tempat ini. Mulai dari perempuan berwajah cantik yang baunya harum memabukkan sampai lelembut yang berwajah menyeramkan dan menjijikkan dengan bau banger bacin seperti bau bangkai atau amis darah, pernah menampakkan diri di sini. Sudah banyak saksi mata yang melihatnya. Mereka yang penakut, ya lantas lari dhengkelen atau pingsan di tempat.

Tetapi kata orang pula, dan sudah banyak yang membuktikan,  justru di sinilah terdapat banyak ikan besar yang bebas dipancing. Tentu saja kalau masalah banyaknya ya masih kalah dengan ikan-ikan yang dipelihara di karamba atau di warung apung yang ada di sebelah barat, dekat bukit Sidagora  atau di sebelah utara waduk. Ikan nila, ikan lele, ikan guramai, atau ikan kutuk, banyak dapat dipancing di tempat ini. Makanya Sidu meskipun sendirian lebih suka mancing di dekat pintu air ini. Dasar orang pemberani, tidak ada yang ditakuti.

Sampai tempat yang diinginkan, Sidu langsung memasang umpan ke mata kail. Lalu dengan penuh harapan melemparkan mata kailnya ke tengah. Sidu lalu diam konsentrasi sambil memegangi pangkal kail. Sebentar kemudian terasa ada yang menyentuh mata kailnya. Ditandai dengan bergoyang-goyangnya tangannya yang memegangi pangkal batang kail. Mula-mula pelan. Tapi kemudian lebih keras dan cepat. Wuuuuttt...! Sidu segera menarik pancingnya. Tapi betapa kecewanya ia, meihat mata kailnya kosong. Ikan tidak didapat, umpan pun lenyap. Dengan sabar Sidu memasang umpan lagi ke mata kailnya. Lalu melemparkannya kembali ke tengah. Namun lagi-lagi kejadian mata kailnya disentuh, digoyang-goyang dan ditarik-tarik yang disangkanya ikan memakan umpannya, terulang lagi seperti meledeknya. Tapi kemudian setelah pancing ditarik, ternyata kosong tidak terdapat apa-apa. Kejadian itu berulang dan berulang sampai berkali-kali. 

Sidu sampai hampir putus asa! Malam ini ia merasa betul-betul sial. Sudah berjam-jam memancing, sampai umpan yang dibawanya tinggal kurang dari separo, tak satu ekor ikan pun diperolehnya. Akan kembali pulang, tanpa membawa ikan seekor pun ia merasa sayang. Sidu membayangkan, betapa kecewanya istri dan anak-anaknya nanti kalau dirinya pulang tanpa membawa seekor ikan pun. Padahal biasanya setiap memancing, sampai jam sekian paling tidak tiga atau empat ekor ikan besar sudah ia renteng, atau ikan-ikan itu telah memberati kepisnya. Apakah mungkin sekarang akan kembali begitu saja tanpa membawa ikan seekor pun, meskipun Cuma kecil?

“Coba sekali lagi! Kalau masih blong.... ini berarti hari ini aku memang lagi sial. Tidak perlu dilanjutkan. Lebih baik aku pulang, menerima kekecewaan anak istri ketika membukakan pintu, nanti di rumah,” kata Sidu dalam hati. 

Sidu melemparkan mata kailnya lagi ke tengah. Tidak lama kemudian, pangkal  pancing yang dipegangnya bergerak-gerak, makin lama makin cepat dan kuat. Kelihatannya ikan yang mencaplok kailnya benar-benar besar! Sidu menggulung senar pancingnya pelan-pelan. Tapi kadang-kadang ia juga harus mengulurnya kembali, menurutkan gerak ikan yang telah memakan umpannya. Hal itu dilakukan Sidu sebab kalau sampai ditarik paksa, ikan besar seperti ini akan memutuskan tali senarnya, atau mungkin bahkan mematahkan batang pancingnya. Situasi menunggu saat-saat lelahnya ikan besar tangkapannya untuk kemudian dapat ditarik dan ditangkap dengan jaring yang sudah disiapkan, merupakan saat-saat menegangkan yang paling nikmat bagi seorang pengail. Sidu sangat menikmati situasi seperti ini.  Dan adanya kenikmatan pada saat-saat seperti inilah yang membuat Sidu tidak rela kalau jadwal acaranya mancing akan digusur acara lain, meskipun bagi orang lain acara itu bisa dianggap lebih penting. Bahkan meskipun ia ditukar diberi uang yang dapat dibelikan ikan yang lebih besar dan lebih banyak.   Baginya merasakan mata kailnya disambar ikan besar, yang lalu bergerak ke sana ke mari, sampai ikan itu lelah sendiri. Lalu menggulung tali senar lebih cepat. Lalu mengambil ikan yang masih hidup, tetapi sudah menyerah itu dengan jaring, jauh lebih nikmat dari pada hanya sekedar membeli ikan yang lebih besar dalam jumlah banyak di pasar.

“Inilah buah dari kesabaranku! Usahaku sampai tengah malam, sendirian, kedinginan, akhirnya akan membuahkan hasil juga. Seekor ikan yang besar. Cukup untuk mengetuk pintu. Jelas nanti aku akan disambut dengan senyum istriku dan tawa anakku ketika mereka membukakan pintu nanti,” kata Sidu dalam hati.

Kira-kira gerak ikan sudah mulai tenang. Mungkin sudah kelelahan. Sidu lalu menggulung senarnya lebih cepat. Tapi alangkah terkejutnya Sidu ketika pancing  sudah sampai ke tepi lalu ditangkap dengan jaring, dibawa naik..... Ternyata bukan ikan besar yang tertangkap. Tetapi tulang besar, kelihatannya seperti tulang paha manusia dewasa! Sidu bergidik, bulu kuduknya meremang. Ada rasa takut, tetapi juga ada rasa jengkel ia rasakan. Keterlaluan sekali lelembut penunggu rawa ini telah menggodanya sejak ia datang sampai sekarang sudah tengah malam! Sidu mrinding ketika ia teringat cerita GM. Sudarta dalam Cerita Pendeknya yang berjudul “Orang-orang Mati yang Tidak Mau Masuk Kubur”. Dalam cerpen itu diceritakan ketika terjadi pemberontakan G. 30 S/PKI banyak tahanan Pemuda Rakyat yang tertangkap ketika akan merebut persenjataan di gudang senjata yang ada di Pusat latihan Tempur Prajurit, mati dibenamkan di tengah rawa dengan diganduli batu supaya dapat menyelam. Apakah ini ulah para arwah  gentayangan itu? Sidu bergidik, bulu kuduknya meremang. Tapi ia lalu membesarkan nyalinya, menghibur diri, bukankah kejadian itu sudah lama berlalu? Kejadiannya sudah empat puluh tahunan yang lalu? Dan selama itu belum pernah ada ceritanya orang mancing di rawa dimakan arwah gentayangan korban penumpasan G. 30 S/PKI? Lama-lama rasa takut di hati Sidu hilang sendiri. Keberaniannya semakin tebal.

Namun kalau teringat harapannya mendapatkan hasil pancingan hilang  justru diganti mendapatkan tulang manusia, seakan para lelembut itu memang sengaja meledeknya, Sidu jadi kecewa. Kok tega-teganya ada orang memancing baik-baik, tidak bedhigasan sengaja berbuat onar,  para lelembut tersebut justru mangganggunya. Sidu lalu berdoa mohon perlindungan dan belas kasih Tuhan Yang Maha Besar. Kemudian ia menyapa kepada para lelembut yang ia yakini saat ini ada di sekitarnya, “Mbok ya jangan mengganggu aku. Aku di sini mancing mencarikan makan anak istri. Tidak akan mengganggu kalian. Aku minta kalian juga jangan mengganggu aku!”

Selesai menyapa begitu, tiba-tiba di samping Sidu sudah berdiri seorang tua yang jenggotnya sudah memutih. Orang tua itu batuk-batuk lalu menyapa Sidu, “Sedang mancing ta, Le? Aku lihat dari tadi sampai tengah malam ini kepismu masih kosong, belum isi. Barangkali salah arah kamu melemparkan pancingmu, Le.”

Menggeragap Sidu terkejut sampai berjingkat mendengar suara orang tua yang muncul tiba-tiba tanpa terdengar suara langkah kakinya terlebih dahulu. Tetapi karena tegur sapa orang tua itu terasa sabar kekeluargaan, Sidu jadi tenang, tidak jadi takut.

“Iya, Mbah, sejak tadi pancing saya sering dimakan ikan. Tetapi apabila saya angkat, pasti kosong tidak mendapat ikan. Bahkan baru saja, saya kira pancing saya dimakan ikan besar. Geraknya kuat sekali. Tetapi ketika saya tarik, ternyata bukan ikan besar yang tergantung di pancing saya, tetapi justru tulang besar yang menyangkut. Kalau dilihat lebih seksama tulang itu adalah tulang manusia dewasa. Apakah ini tidak dapat dikatakan keterlaluan lelembut rawa ini yang menggoda saya? Padahal biasanya tidak sampai seperti itu,” ujar Sidu mengadukan perlakuan lelembut pada dirinya kepada orang tua yang baru saja ditemuinya.

“Coba sekarang arahkan pancingmu ke sebelah timur sana, tentu akan mendapat yang kamu inginkan!” kata orang tua itu memberi petunjuk.

Sidu menurut mengarahkan pancingnya ke arah yang ditunjukkan orang tua itu. Ternyata benar. Belum lama pancing dilemparkan, pangkal pancing dalam pegangannya terasa bergerak-gerak, makin lama makin kuat, menandakan pancingnya sudah dicaplok ikan besar.   Setelah berhasil diangkat, ternyata mendapat seekor ikan nila besar kira-kira beratnya mencapai satu setengah kilo gram. Selanjutnya orang tua itu selalu memberi aba-aba ke mana Sidu harus mengarahkan pancingnya. Karena selalu benar mendapatkan ikan-ikan besar, Sidu hanya menurut petunjuk orang tua itu. Tak pernah ia mengarahkan pancingnya ke tempat lain selain arah yang ditunjukkan orang tua itu. Hasilnya, dalam waktu kurang lebih satu jam Sidu sudah mendapatkan lima ekor ikan besar jenis nila, lele, kutuk, dan badher yang bobot seekornya antara satu setengah kilo gram sampai dua kilo gram. Kepisnya sudah tidak muat. Sisanya direnteng pakai kawat yang sudah disiapkan.

“Sekarang ke mana lagi, Mbah?” tanya Sidu minta petunjuk kepada orang tua yang sebelumnya terus-terusan menunjukkan arah pancing harus dilempar, agar mendapat ikan besar. Sidu menunggu jawaban sambil memasang umpan ke mata kailnya. Tidak ada jawaban! Hanya terdengar suara kodok ngorek, suara jangkrik ngengkrik dan suara belalang bernyanyi sebagai simponi malam yang mendendangkan sepi, diiringi bertiupnya angin malam yang dingin menggigit kulit. Sidu menengok ke kiri, menengok ke kanan, clingukan mencari orang tua yang tadi menemani mancing, dan telah memberi petunjuk untuk mengarahkan pancingnya, ternyata sudah tidak ada. Aneh! Seperti kedatangannya, perginya pun tidak terdengar langkah kakinya. Ranting-ranting dan batang perdu yang ia tahu banyak di sekitar tempatnya mancing, juga tidak terdengar terinjak kaki orang tua misterius itu. Kembali bulu tengkuk Sidu meremang. Tapi cepat ia tepis perasaan itu. Orang tua itu sungguh baik, justru telah membantunya mendapatkan banyak ikan besar yang semula susah diperoleh. Tak mungkin ia ingin mencelakai dirinya. Juga tidak mungkin kedatangannya untuk mengganggu dirinya.

Tiba-tiba Sidu mendengar gemericik air kena dayung dan tersibak sampan.  Di sela-sela suara gemericik air itu terdengar suara batuk-batuk orang tua yang makin lama makin ke tengah rawa, menjauhi dirinya. Sidu sadar, saat ini sudah waktunya dirinya harus mengakhiri mancing di waduk Rowo Jombor malam ini. Sidu lalu berkemas-kemas akan kembali. Barang-barangnya dikumpulkan agar mudah dibawa. 

Ketika akan mulai mengayuh sepedanya, Sidu masih penasaran, ingin tahu tempat yang banyak memberinya ikan besar-besar sebanyak lima ekor itu. Maksudnya kalau besok akan kembali mancing di rawa, ia sudah tahu tempat mana yang harus dituju, dan ke mana ia harus mengarahkan pancingnya. Sidu lalu menyoroti tempat itu memakai lampu senter yang amat terang karena memakai empat batu batery. Tatkala sorot lampu senter mengarah ke tempat yang menjadi tambang ikan perolehannya malam ini, Sidu terkejut setengah mati! Ternyata  di situ tidak ada genangan air yang memungkinkan hidupnya ikan-ikan. Tetapi tempat itu justru berisi tanah endapan rawa yang ditumbuhi banyak tanaman krangkong. Yang membuatnya tak habis pikir, berulang kali dirinya tadi melemparkan pancingnya ke situ, kenapa tali senar pancingnya tidak menyangkut ke kayu-kayu krangkong yang rimbun bagaikan hutan krangkong? Kenapa justru di situlah ia berulang kali memperoleh ikan-ikan besar, dan tidak kesulitan ketika menariknya? 

Sidu lalu curiga kepada ikan-ikan tangkapannya. Ia menyoroti dan memperhatikan dengan seksama ikan-ikan perolehannya malam itu. Jangan-jangan...... Alhamdulillah! Ternyata ikan-ikan itu benar-benar ikan betulan. Bukn ikan jadi-jadian. Aneh! Betul-betul kejadian yang tidak terlupakan seumur hidup. 

Sidu lalu mengayuh pulang sepedanya dengan penuh rasa syukur. Juga terima kasih kepada orang tua yang telah membantunya. Entah ia orang tua sungguhan atau orang tua jadi-jadian penunggu Rowo Jombor. Karena dengan petunjuknya dan ridlo Allah, Tuhan yang menguasai alam raya seisinya dirinya malam ini memperoleh banyak ikan yang akan membuat bahagia keluarganya. ***

NB: 
  • Cerita ini dalam versi bahasa Jawa pernah dimuat di Majalah Djaka Lodang No. 12 * 8/8/2012
  • Dalam versi bahasa Indonesia bersama 14 cerita misteri lainnya telah diterbitkan menjadi buku Kumpulan Cerita Misteri dengan judul “KAMIGILAN Angkernya Kedung Blangah”. Diterbitkan Penerbit MEDIAKITA Jakarta tahun 2013. 


Foto Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri) - Exnim
Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri)
        Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Cerpen Misteri 'Sate Gagak'

Cerita Alaming Lelembut:
SATE GAGAK
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Cerpen Misteri 'Sate Gagak'

Penghidupan setelah terjadinya tragedi pemberontakan G 30 S/PKI sangatlah sulit. Sampai awal tahun tujuh puluhan harga barang-barang masih mahal karena langka. Banyak pengangguran yang kemudian disebut panji klantung, alias lontang-lantung ke sana ke mari tanpa pekerjaan.  Orang-orang yang susah  hidupnya itu lalu diberi hiburan, mimpi dan harapan yang berupa undian sumbangan berhadiah bernama Nalo atau Nasional Lotre. Untuk orang kecil yang miskin yang tidak kuat membeli Nalo, disediakan hiburan yang lebih murah yang diberi nama buntutan, yaitu bagian belakang dari deretan angka Nalo. Itu yang diselenggarakan dan diundi di tingkat nasional setiap hari Sabtu, satu minggu sekali. Di daerah, penguasa daerah tak mau kalah. Mereka mengeluarkan Loda, Lotre Daerah, lotre yang diselenggarakan oleh daerah dan keuntungannya untuk pembangunan daerah. 

Dengan adanya lotre-lotre yang menjanjikan orang-orang dapat menjadi kaya mendadak secara instan, membuat banyak orang hidup di alam mimpi, hidup dalam angan-angan dan berandai-andai. “Nanti kalau aku nembus, putus lotre, aku akan membeli..... aku akan membuat ...... aku akan ...... dan seterusnya......dan seterusnya.....” 

Untuk mewujudkan impian dan angan-angannya itu  orang-orang yang sedang gila nomor lalu suka mereka-reka nomor yang kebetulan ditemukan, menjadi nomor yang seolah-olah akan keluar dalam undian minggu itu. Mereka suka menghubungkan kejadian-kejadian aneh yang dialami, dilihat, didengar atau dibaca di mass-media sebagai isyarat nomor yang akan keluar. Bahkan kecelakaan yang merupakan musibah bagi yang mengalami, mereka anggap sebagai anugerah, sebagai suatu isyarat yang akan membuatnya kaya raya! Setelah kejadian di alam nyata atau kejadian di alam mimpi ditafsirkan, disonji atau diramal, dan dihitung-hitung dengan cermat dan teliti, lalu munculah sederet nomor yang wajib dibeli agar menang undian. 

Untuk mendapatkan isyarat-isyarat nomor yang akan keluar, orang-orang tidak takut-takut memburunya di tempat-tempat yang sepi dan berbahaya di malam gelap. Tempat-tempat yang dianggap angker, punden-punden yang dikeramatkan didatangi, sampai menginap berhari-hari agar mendapat bisikan gaib atau impian, petunjuk ketika tertidur tak sengaja.

Ridwan adalah seorang pemuda berijasah SMP yang sudah lama menjadi pengangguran, karena selalu ditolak ketika melamar pekerjaan. Akan berdagang, tak punya modal. Padahal umur semakin bertambah. Sebagai umumnya orang, ia harus mulai berpikir untuk berkeluarga. Tapi bagaimana? Pekerjaan tetap atau penghasilan yang dapat diharapkan setiap hari, dia belum punya. Sebagai buruh harian lepas, kelihatannya penghasilannya belum dapat dijadikan sandaran hidup sekeluarga. Maka tidak mengherankan kalau Ridwan ikut-ikutan hanyut dalam aliran mimpi jaman yang sudah telanjur bobrok. Ia suka membeli nomor buntutan.  Memanjakan angan-angan, impian dan harapan selama satu minggu, semakin meninggi mimpi-mimpinya di hari Sabtu, lebih-lebih menjelang jam sepuluh malam. Lalu terjatuh dalam jurang kekecewaan dan penyesalan setelah melihat angka yang keluar yang ditulis di tengah jalan ternyata berbeda dengan nomor yang dibelinya. Mimpinya mendapatkan kendaraan bermotor baru yang saat itu masih merupakan barang langka dan mewah, ternyata blong hanya selisih beberapa nomor saja. Tapi kekecewaan ini hanya sebentar, karena nomornya hanya meleset sedikit maka ia menjadi lebih bersemangat untuk membeli nomor undian dengan mengejar isyarat yang lebih jitu.

Untuk mendapatkan isyarat nomor yang lebih jitu agar dapat nembus, Ridwan suka bertirakat di tempat-tempat yang dianggap gawat, angker dan keramat. Berendam di kali tempuran, tempat bertemunya dua sungai, mengambang di kedung sungai yang sepi, atau menyepi di kuburan-kuburan keramat, tanpa merasa takut sedikit pun, sering dilakukannya.

Pada suatu hari, ketika Ridwan sedang  berendam di tempuran kali di dekat punden keramat, ia bertemu dengan orang tua yang juga sedang berendam di situ. Orang tua itu bertanya kepada Ridwan, “Nak Ridwan! Malam-malam dingin begini, sebetulnya lebih enak tidur di rumah bersama keluarga. Pakai selimut hangat dan rapat. Tetapi kenapa kamu justru berada di sini. Berendam di air yang dingin dalam udara malam yang juga dingin. Sebetulnya apakah yang kamu cari, Nak Ridwan?”

“Terus terang, saya ini sedang tirakat untuk mendapatkan nomor undian yang jitu. Saya ingin dapat nembus nomor undian yang dapat membuat saya menjadi kaya, agar saya dapat dihormati orang-orang di sekeliling saya,” jawab Ridwan mantap. “Sedangkan kakek, apa yang kakek cari dengan berendam di kali tempur ini? Apakah kakek juga ingin mencari nomor undian yang jitu?” tanya Ridwan balik.

“Tidak, Nak Ridwan. Aku tidak sedang mencari nomor undian.  Aku hanya ingin mengendapkan batin, mencari ketenangan hidup dan keselamatan,” jawab orang tua itu. 

“Kalau kamu ingin mencari uang yang banyak, apa kamu mau aku tunjukkan suatu tempat untuk mencari uang yang banyak, tetapi tidak dengan cara membeli undian?” tanya orang tua itu kemudian.

“Mau, Kek! Terima kasih kalau Kakek  mau menunjukkan jalan untuk menuju tempat yang dapat membuat saya kaya,” sahut Ridwan.

“Tapi tempatnya angker, dijaga gendruwo tinggi besar, yang matanya bulat besar menyeramkan, badannya dipenuhi bulu-bulu  menakutkan. Padahal jumlahnya tidak hanya satu dua, tetapi banyak sekali. Apa kamu berani?” tanya orang tua itu menjajaki keberanian Ridwan. 

“Berani, Kek. Saya sudah biasa bertirakat di tempat-tempat keramat yang sepi dan angker,” jawab Ridwan mantap.

“Tetapi apakah kamu pernah melihat penampakan gendruwo di tempat-tempat  kamu menyepi itu?”

“Belum, Kek. Tetapi saya berani menyepi di tempat-tempat seperti itu berarti saya sudah siap bertemu dengan gendruwo, kuntil anak , pocongan, dan sebangsanya.”

“Kalau memang kamu berani, aku beri tahu. Kamu beli saja burung gagak, dua ekor atau tiga ekor. Beli juga bumbu sate dan segala perlengkapan untuk masak sate. Burung-burung itu kamu sembelih, lalu dagingnya iris-irislah agak besar untuk disunduki jadi sate. Bakarlah sate itu di Kedung Preh. Ketika membakar sate itu kamu harus sambil merokok, tapi tidak sembarang rokok. Rokoknya harus rokok  cerutu Landa. Bau asap sate yang bercampur dengan asap cerutu Landa akan mengundang datangnya gendruwo-gendruwo yang tinggal di pohon preh. Gendruwo-gendruwo itu akan membeli satemu,” ujar orang tua itu. “Kalau nanti ditanya berapa harganya, tawarkan harga yang mahal. Yang kira-kira kalau semua satemu dibeli, uangnya cukup untuk modal kamu berdagang barang-barang lain yang lebih berharga yang cukup dijadikan sandaran hidupmu sekeluarga,” lanjutnya. Orang tua itu berhenti sebentar untuk menyalakan rokonya, rokok tingwe yang sudah disiapkan di slepennya. Nyala korek yang hanya sekilas memperlihatkan muka kakek itu yang sudah tua dan keriput.

“Hanya pesanku, sejak sekarang berhentilah berjudi membeli undian berhadiah! Carilah rejeki yang lebih halal dan jelas, bisa diharapkan hasilnya setiap hari. Jangan percaya pada ramalan-ramalan yang hanya membiuskan angan-angan kosong! Kamu tidak akan menjadi kaya karena membeli buntutan, Loda, Nalo dan sebangsanya. Tapi kamu justru akan menjadi semakin miskin dan tak berdaya. Bisa jadi kamu bahkan akan menjadi gila, hilang akal, hanyut dalam aliran angan-angan yang semakin menggila yang tidak akan menjadi kenyataan.”

Ridwan mendengarkan semua nasehat  orang tua itu dengan seksama. Dalam hati ia membenarkan semua nasehat itu. Dulu sebelum dirinya gila nomor buntutan, ia bisa menabung sedikit-sedikit dari hasil memburuh. Tapi semenjak dirinya gila nomor buntutan, kantongnya selalu kosong. Yang ada di dompetnya hanya lembar-lembar nomor undian yang dipenuhi angan-angan, harapan-harapan, dan mimpi-mimipi indah yang tak kunjung menjadi kenyataan. 

“Sudah, begitu saja pesanku. Sekarang segeralah naik dan tinggalkan tempat ini! Oh ya, ini aku beri uang sedikit untuk modal kamu berjualan sate gagak. Belilah segala sesuatu yang diperlukan di pasar, mumpung   besok hari pasaran!” kata orang tua itu sambil mengulurkan tangan memberikan sejumlah uang kepada Ridwan.

“Terima kasih, Kek. Tapi nanti dulu, Kek. Letak Kedung Preh itu ada di mana, Kek?” tanya Ridwan karena belum tahu letak Kedung Preh yang dimaksudkan orang tua itu.

“Kedung Preh itu merupakan sungai yang ada bagiannya yang luas dan dalam. Di pinggirnya ada pohonnya preh yang bentuknya besar dan rindang seperti pohon beringin. Sering kali pohon preh itu menjadi rumah gendruwo. Kalau yang jelas ada gendruwonya, datanglah ke Kedung Preh yang ada di wilayah Ngrambe. Sudah jelas ta? Sekarang sudah larut malam, aku akan segera kembali. Kita berpisah, kamu segeralah pulang. Besok pagi jangan lupa ke pasar. Kebetulan besok hari Selasa Kliwon. Carilah burung gagak di Pasar Kliwon! “ kata orang tua itu sambil melangkah keluar dari dalam sungai.

“O iya, senyampang aku ingat. Kalau nanti kamu berani melihat gendruwo yang sosoknya sangat menyeramkan, kamu boleh membakar sate menghadap ke pohon preh. Tetapi kalau kamu ragu-ragu atau takut, kamu boleh membelakangi pohon preh. Dan kalau kamu betul-betul takut melihat ujud gendruwo itu, kamu jangan sekali-kali menoleh untuk memandang gendruwo itu,” pesan orang tua itu sambil melepas pakainnya yang basah.

Tidak berapa lama kemudian, setelah  berganti pakaian yang kering, orang tua itu sudah berjalan meninggalkan Ridwan sendirian. Dalam sekejap mata orang tua itu sudah hilang ditelan gelapnya malam. Ridwan tak habis pikir, begitu cepatnya orang tua  yang menurut perkiraannya jalannya tentu gruyah-gruyuh karena sudah jompo, ternyata begitu cepat dari lenyap dari pandangan matanya. Suara tapak kakinya pun tidak terdengar, padahal banyak daun-daun kering di jalan setapak yang dilaluinya. Bulu kuduk Ridwan meremang, tetapi segera ia tepiskan prasangka buruk kepada orang tua yang baru sekali ini ditemuinya.  Ridwan justru berprasangka baik, bahwa orang tua itu merupakan utusan Penguasa Alam Raya untuk memberi petunjuk kepada dirinya, lepas dari kesengsaraan hidupnya. Berpikir demikian, Ridwan segera keluar dari dalam air. Naik ke darat dan segera pulang.

Paginya Ridwan ke Pasar Kliwon, berbelanja keperluan berjualan sate gagak. Tentu saja yang pertama dibeli adalah burung gagak, tiga ekor. Lalu ia berencana membeli bumbu sate yang sudah jadi, karena ia tidak tahu bahan apa saja yang harus dibeli kalau meramu sendiri.  Juga ia perlu tahu caranya memasak sate bakar. Maka sambil mengisi perut ia akan belajar kepada Pak Karjan penjual sate kambing di Pasar Kliwon. Di warung itu Ridwan makan sambil memperhatikan Pak Karjan dan pelayannya meracik bumbu, menyunduk daging, membakar sate, mengoles-olesi kecap dan mrica. Kemudian ia bertanya hal-hal yang menurutnya perlu diketahui tetapi belum dimengertinya. Setelah cukup pengetahuan dan cukup kenyang, serta telah membayar harga sate yang dimakannya, Ridwan keluar dari warung.

Kini Ridwan tinggal membeli tungku pembakaran, arang dan rokok cerutu landa. Kebetulan kios Babah Liong menyediakan semua yang diperlukannya. Tak banyak menawar Ridwan segera membeli barang-barang yang dibutuhkannya. Lalu ia pulang sambil berdoa semoga usahanya kali ini membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

Malamnya Ridwan secara sembunyi-sembunyi membawa segala keperluan yang sudah disiapkan dengan bersepeda ke Kedung Preh. Setelah sepeda disembunyikan di tempat yang aman, Ridwan segera menuruni jurang lewat jalan setapak menuju ke Kedung Preh. Jalannya harus hati-hati melewati jalan yang biasa digunakan kerbau kalau akan dimandikan di kedung. Ridwan harus waspada kalau-kalau dari lereng jurang yang lebat ditumbuhi rumput ilalang, tiba-tiba ada ular menyambar tubuhnya yang sedang meraba-raba mencari jalan di kegelapan malam. Sampai di tepi sungai Ridwan masih harus hati-hati berjalan mlipir-mlipir menurutkan tepi sungai yang kadang sempit dan licin berbatu-batu. Lampu senternya dinyalakan menyinari jalan-jalan yang akan dilaui, menjaga jangan sapai tersandung batu yang berakibat jatuh terjungkal. Kalau sampai jatuh ke sungai, sial... itu berarti dirinya gagal berjualan sate gagak yang diharapkan bisa melepaskan dirinya dari kesengsaraan dan kemiskinan yang kini membelit hidupnya. Makanya ia harus berjalan sangat hati-hati sambil menunggu malam semakin larut, agar para gendruwo itu semakin lapar sehingga semaikn berani membeli satenya dengan harga  lebih mahal.  

Sampai di tepi kedung, Ridwan segera memilih tempat yang luas untuk berjualan. Sengaja ia memilih tempat agak mepet lereng jurang di bagian depan dan menyisakan tanah luas di bagian belakang. Dengan demikian para pembeli nanti hanya akan membeli dari arah belakang. Sehingga ia tidak berkesempatan melihat para gendruwo yang wajahnya menyeramkan itu, kecuali kalau ia berani menoleh ke belakang. Sebelum Ridwan mulai menyalakan tungku pembakaran, ia menyempatkan melihat pohon preh di seberang kedung, tempat bersemayamnya gendruwo-gendruwo calon pembelinya. Pohon preh itu kelihatan rimbun  dengan cabang-cabang dan ranting-ranting yang dipenuhi daun-daun yang lebat. Membayangkan pohon itu sebagai rumah para gendruwo menjadi lebih menakutkan, menyeramkan dan penuh misteri. Dalam angan-angannya Ridwan melihat gendruwo-gendruwo itu bergenteyongan  sambil berkejar-kejaran bercanda ria, saling gigit memamerkan taring masing-masing seperti anjing-anjing tetangga yang sering dilihatnya.

Berpikirseperti itu Ridwan jadi bergidik. Ingin rasanya ia lari pulang terbirit-birit tak jadi jualan sate. Tapi kalau menginat hidupnya yang sengsara, padahal usianya yang semakin bertambah mengharuskannya segera melamar Sariyem yang sudah lama dipacarinya, Ridwan jadi menguatkan lagi tekadnya. Lebih-lebih kalau ia ingat betapa ia telah mendapatkan kepercayaan dan amanat dari orang tua yang ditemuinya kemarin yang dengan suka rela telah memberinya modal untuk berjualan sate gagak malam ini. Apakah dirinya akan menyia-nyiakan kepercayaan orang tua yang kemarin sempat disombonginya? Malu dan bodoh kalau harus mundur, menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Apalagi kalau harus ngacir melarikan diri sebagai seorang pengecut. Ridwan menguatkan nyalinya!

Ridwan segera menyalakan rokok cerutu Landa yang sudah ada di mulutnya. Pelan-pelan ia sedotnya cerutu itu dalam-dalam, lalu dihembuskannya asapnya menyebarkan bau yang khas.  Sambil merokok Ridwan segera menyalakan arang di tungku, memasang besi alas di atas arang yang menyala, lalu mulai membolak-balik sate dengan tangan kiri, dan mengipas-ngipas api dengan tangan kanan. Bergulung-gulungnya asap yang mengepul dari tungku pembakarannya membawa bau sedap daging gagak dan bau bumbu sate yang terbakar.harum, gurih dan lezat, menggugah selera. Kebetulan waktu itu angin bertiup dari sebelah barat tempat Ridwan membakar sate, menuju ke timur, arah pohon preh tempat bermukimnya gendruwo-gendruwo penunggu Kedung Preh.

Belum ada reaksi dari arah pohon preh. Hanya berkesiurnya angin menggoyang-goyang pohon yang berdaun rimbun itu. Di sela-sela batu dan tanah cadas, jangkrik dan serangga-serangga malam bernyanyi menyanyikan sepinya malam. Kemericik bunyi air pancuran dari sela tanah cadas masuk ke kedung juga menambah sunyi malam yang semakin dalam. Tiba-tiba terdengar suara, “Jleg! Jleg! Jleg! Jleg! Jleg!” 

Kalau mendengar suaranya ada lima gendruwo yang datang mendekati Ridwan yang sedang membakar sate gagak. Perasaan hati Ridwan jadi tidak menentu. Ingin rasanya ia menoleh ke belakang untuk melihat wajah-wajah gendruwo yang telah mendatanginya. Tapi rasa takut melarangnya. Tetapi kalau tidak menoleh rasanya kok penasaran. Tetapi kalau nekat menoleh ia khawatir jangan-jangan dirinya justru ketakutan, lalu tak jadi jualan sate gagak. Mungkin dirinya justru akan lari terbirit-birit atau pingsan di tempat karena ketakutan. Dengan demikian ushanya akan jualan sate gagak yang dapat mendatangkan banyak keuntungan jadi gagal. Tapi kalau tidak menoleh, bagaimana kalau nanti tahu-tahu gendruwo-gendruwo itu menggigit tengkuknya dan seluruh anggota tubuhnya, dan ada yang mencaplok kepalanya, bagaimana? “Bagaimana ini? Aku takuuuuttt.....!” jerit Ridwan dalam hati.tapi dikuat-kuatkannya hatinya sambil terus mengipasi sate yang sedang dibakarnya.

“Kamu sedang masak apa, Le?” tanya salah satu gendruwo. Suaranya besar agak serak tapi berwibawa. Meskipun terdengar cukup keras tapi suara itu kedengarannya tidak bermusuhan, bahkan boleh dikatakan seperti pertanyaan orang tua yang sabar kepada anaknya. Ridwan jadi timbul keberaniannya meskipun masih belum berani menoleh memandang  yang bertanya. Khawatir kalau gendruwo lainnya tidak mempunyai sikap yang sama. Bisa celaka dirinya nantinya. 

“Sedang membakar sate gagak, Kek,” jawab Ridwan.

“Aku boleh minta, Le?”

“Ya jangan minta, Kek. Beli, Kek. Karena gagak, bumbu dan segala yang diperlukan untuk membuat sate gagak ini juga saya dapat dari membeli,” Ridwan memberanikan menjawab sesuai petunjuk kakek yang ditemui ketika menyepi di tempuran kali kemarin.

“Kalau beli, terus berapa harganya satu sunduk sate, Le?”

“Hanya lima ribu rupiah saja, Kek.”

“Biyuh...Biyuh...Lha kok mahal sekali, Le! Tapi ya biarlah, aku sudah telanjur pengin kok. Air liurku sudah menetes-netes dan perutku sudah berkerucuk setelah hidungku membaui rasa asap satemu yang lezat menggugah seleraku. Bakarkan aku empat sunduk saja, Le! Tambah satu sunduk lagi saren, ya?  Ada kan sarennya? Darahnya hitam juga kan?” tanya gendruwo itu selanjutnya.

“Iya, Kek. Ada sarennya, darahnya juga hitam, memang ini saren burung gagak,” jawab Ridwan sambil melanjutkan membakar sate. Di antaranya ada sate saren.
“Ini, Kek, satenya sudah matang,” kata Ridwan sesaat kemudian. Sate diulurkan ke belakang lewat samping tengkuknya tanpa menoleh.

“Yah... sini aku makannya. Seperti apa rasanya sate gagak masakanmu. Kalau enak aku bayar, tapi kalau tidak enak kamu saja yang aku makan,” kata gendruwo sambil menerima sate gagak yang diulurkan Ridwan. Bulu-bulu rambut tangannya yang dhiwut-dhiwut mengenai tengkuk Ridwan, membuat  bergidik bulu kuduknya. Rasanya ia seperti ingin segera lari meninggalkan tempat yang menyeramkan itu. Tapi kalau ingat satenya masih banyak, dan uang belum ada di tangan, rugi kalau ia harus lari meninggalkan tempat ini. 

“Weleh...Weleh... Weleh enak sekali, Le, sate masakanmu.  Ayo, anak-anak, segeralah beli! Satenya enak sekali,” ujar gendruwo itu yang agaknya orang tuanya, menyuruh anak-anaknya segera membeli sate. 

“Ini, Le, uangnya terimalah!” Ridwan menerima uang yang diulurkan gendruwo lewat samping tengkuknya. Lagi-lagi bulu-bulu tangan yang kasar itu mengenai tengkuk dan telinganya. Rasanya bagian yang terkena itu jadi menebal dan berdiri bulu-bulunya. Uang yang sudah diterima lalu dimasukkannya ke dalam saku.

“Beli! Beli! Aku beli!” “Beli! Beli! Aku beli!” “Beli! Beli! Aku beli!” teriak anak-anak gendruwo dan ibunya berebutan.

“Sabar.... Sabar! Jangan berebut! Jangan takut tidak kebagian! Kalau masing-masing menginginkan empat sunduk sate daging ditambah satu sunduk sate saren, untuk empat orang lagi masih cukup. Jadi tidak usah berebut, kalian semua tentu akan kebagian. Sekarang tenang dulu, aku akan membakar satenya,” kata Ridwan menyabarkan para gendruwo yang berdesak-desakan di belakang Ridwan berebut minta didahulukan. Sebetulnya Ridwan amat takut mengetahui tingkah laku para gendruwo yang agak liar itu, tapi demi mendapatkan modal usaha, ia terpaksa harus berani bertahan.

Setelah para gendruwo tenang, Ridwan mulai membakar sate lagi. Dengan cekatan tangan kiri membolak-balik sate lagi dan tangan kanannya mengipasi api arang dalam tungku. Setelah matang sate daging empat sunduk dan satu sunduk sate saren, Ridwan mengulurkan sate tersebut ke belakang lewat samping tengkuknya. Gendruwo-gendruwo yang ada di belakangnya berebutan menerimanya sambil menyodor-nyodorkan uang pembayarannya. Suara para gendruwo yang berebut itu betul-betul mengerikan. Pating kraek pating bengok, sepertinya tidak ada yang mau mengalah. Ulah para gendruwo itu sungguh menakutkan, ada yang sampai mengenai Ridwan hingga terdesak dan hampir jatuh terjerembab di atas tungku pembakaran. Bahkan salah satu gendruwo jari-jari tangannya yang ditumbuhi kuku-kuku yang panjang dan tajam sempat mengenai tengkuk Ridwan, hingga meneteskan darah segar meskipun tidak deras. Oleh gendruwo itu darah yang keluar itu dijilati sambil berkata, “Nyam...Nyam....Nyam.... segar dan manis sekali darahmu. Enak sekali!” “Iya, telinganya juga kelihatan empuk dan segar darahnya! Bagaimana kalau kita iris-iris lalu kita sate sendiri? Tentu ueeeenakkkkk.... sekali!” sahut gendruwo yang lainnya. 

Ridwan ketakutan! Kalau salah satu gendruwo itu sudah telanjur merasakan lezatnya darah segarnya, bisa jadi mereka akan beralih membantainya, menghisap darahnya dan memakan dagingnya. Hiii... sungguh mengerikan kalau usahanya berakhir seperti itu! Sekali lagi Ridwan sangat... sangat ingin lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Tapi bagaimana kalau gendruwo-gendruwo liar itu mengejarnya, lalu berhasil menangkapnya. Karena dirinya tak mungkin dapat lari cepat melewati tepi sungai yang sempit, licin dan berbatu-batu. Sedangkan para gendruwo itu dengan mudahnya terbang lalu menghadang langkahnya di depan. Akhirnya Ridwan memilih tetap bertahan di tempat sambil memperbesar nyali menambah keberanian. Untung gendruwo yang merupakan orang tua para gendruwo itu segera mencegah dan menengahi.

“Stop! Stop! Stop! Hentikan ulah kalian yang liar itu! Kita di sini tidak hendak memakan penjual sate. Tetapi kita di sini akan membeli sate gagak. Kalian jangan liar tak terkendali begitu! Ayo sekarang yangtertib. Satu persatu tanpa berebut menerima sate yang sudah matang, membayar, dan kemudian memakan sate yang sudah matang itu dengan nikmat iris demi iris, sunduk demi sunduk. Jangan coba-coba akan memakan penjualnya!” teriak gendruwo tua menenangkan keluarganya.

Karena takut pada orang tuanya yang mempunyai wibawa yang besar, para gendruwo itu pun patuh. Mereka sekarang menunggu giliran memperoleh bagiannya dengan sabar. Sehingga Ridwan dapat menyelesakan membakar sate dengan sedikit tenang, meskipun tetap merasa agak gugup.karena tahu kesabaran para gendruwo yang belum mendapat giliran itu adalah kesabaran yang terpaksa.  Tapi akhirnya selesai juga. Ridwan sudah membakar semua sate gagak dan sarennya sampai tuntas. Dan semuanya sudah disajikan dan dimakan dengan lahap oleh para gendruwo yang antri di belakangnya. Saku celana Ridwan yang dalam, kanan kiri sudah penuh dengan uang  hasil penjualan sate gagak malam itu.

“Wah habis, ya, satemu? Padahal aku masih kurang. Bagaimana kalau sekarang dagingmu saja yang disate, telingamu ini tentu empuk kemripik dan lezat. Aku berani membayar berapa yang kamu minta,” kata gendruwo yang sudah sejak tadi menginginkan telinga Ridwan sambil menjilati telinga yang terasa semakin mekar dan menebal itu. Gigi-gigi dan taring yang kadang menyentuh bagian dalam telinga terasa geli campur ngeri.

“Wah ya jangan begitu! Kalau kelakuan kalian seperti ini, besok saya tidak akan berjualan ke sini lagi, lo!” Ridwan memberanikan diri menolak permintaan para gendruwo yang sudah mulai liar lagi.

“Ya sudah, kalau begitu malam ini cukup sekian saja dulu. Besok berjualan ke sini lagi, ya?”  akhirnya gendruwo tua yang  menengahi.

“Iya, Kek. Sekarang ijinkan saya kembali pulang. Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Malu kalau sampai saya kesiangan di sini. Besok malam saja saya carikan burung gagak yang lebih banyak, agar kalian semua puas.”

“Ya sudah sekarang pulanglah! Kami semua juga akan kembali ke tempat tinggalku di atas pohon preh. Mumpung belum kedahuluan azan Subuh.” 

Gendruwo-gendruwo itu lalu berloncatan terbang kembali ke atas pohon preh. 

Ridwan segera membenahi segala perlengkapannya. Setelah selesai ia pun segera pulang meninggalkan tempat mengerikan tetapi juga menguntungkan itu. Di kedua saku celananya sudah penuh dengan uang yang melebihi jumlah uang yang diperoleh seandainya ia nembus lotre beberapa angka. Yang jelas jumlah uang itu cukup untuk memulai hidup baru sebagai seorang pedagang beneran, yang bukan sekedar pedagang sate gagak dengan pembeli para gendruwo yang kadang tingkah lakunya liar tak terkendali. Rabaan-rabaan tangan gendruwo, sentuhan-sentuhan bulu-bulu tangan gendruwo yang kasar di tengkuknya dan jilatan-jilatan lidah gendruwo yang disertai hawa napasnya yang hangat di tengkuk dan telinganya masih terasa ngeri dirasakannya dalam hati. Juga teriakan-teriakan liar yang menakutkan para gendruwo itu ketika berebut, masih terngiang di telinganya. 

Semuanya itu membuat Ridwan kapok, tidak akan mengulanginya lagi, meskipun imbalannya satu malam saja cukup untuk membeli sepeda motor baru. *** 


NB: 
  • Cerita ini dalam versi bahasa Jawa telah dimuat di Majalah Panjebar Semangat Surabaya No. 21 * 26 Mei 2012.
  • Dalam versi bahasa Indonesia cerita ini bersama 14 cerita misteri lainnya telah diterbitkan menjadi Buku Kumpulan Cerita Misteri dengan judul “KAMIGILAN Angkernya Kedung Blangah” terbitan MEDIAKITA Jakarta  tahun 2013.

                                                          
Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Foto Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri) - Exnim
Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri)