Terbaru

Free Download Proposal Template

Free Download Proposal Template
If you are looking for a proposal template for free in this post opportunity I would kike to share with you a financial proposal template that you can download using the download link located at the end of this post.

A financial proposal template is an official document drafted when an individual or an organization puts forward a proposal to procure finance. The finance can use as an investment, or a business tie up or a loan.

The template contains more specific information such us the amount finance required and the reasons for requiring the finance.

Here is the sample of financial proposal template that you can use. I hope this financial proposal template is useful for you.

To,
___________________ [name of the recipient]

________________ [designation]

_______________________ [name of the organization]

_________________ [street address of office]

_______________ [city name] ________________ [state name] ___________ [postal code]

Dated: __________ [date of writing the proposal]

Respected ___________________ [name of the recipient],

This to inform that we are looking for finance as capital in our business. It would be really great if 

you could provide us with the finance.

We would be requiring the finance for __________________________ [reason for requiring the 

finance. The total amount that we require is ______________________ [amount in dollars]. We 

would share the profits of the business with you in the ratio of ______ [mention the profit ratio] if 

you are interested to provide finances.

Regards,
____________ [name of the sender]

Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tempo Dulu: BERMAIN KELERENG 2: POT

 Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tempo Dulu:
BERMAIN KELERENG 2 : POT
Oleh Sutardi MS Dihardjo


Pada jam istirahat yang kedua Rio, Hardi, Heru dan Sidu kembali bermain kelereng di halaman sekolah. Anak-anak kelas empat SD Negeri 1 Sumberejo itu berjalan menuju ke tengah halaman. Meskipun mereka tidak berasal dari satu kelas, ada yang dari kelas 4 A ada yang dari kelas 4B, tetapi mereka selalu kompak bermain bersama. Rio menepuk-nepuk saku bajunya, sehingga bunyi gemerincing biji kelereng beradu terdengar nyaring. Tak mau kalah, Hardi juga menepuk-nepuk saku celananya. Bunyi gemerincing pun terdengar dari sana. Ganti Heru yang tak mau ketinggalan. Ia mengguncang-guncang saku celananya juga, memperdengarkan bunyi gemerincing biji-biji kelereng beradu paling nyaring. Hanya Sidu yang tidak dapat memamerkan kekayaan kelereng miliknya. Ia hanya mempermainkan ketiga biji kelerengnya yang ada dalam saku celananya. Meskipun terdengar gemerincing tetapi lemah.
”Nampaknya kita semua bawa kelereng masing-masing cukup banyak. Hanya Sidu kelihatannya yang  bawa sedikit. Bagaimana kalau kita main Pot saja? Jangan main Gendiran lagi,” ujar Hardi menawarkan permainan yang lain. Rupanya ia masih takut kena gendir seperti jam istirahat pertama tadi.
 ”Ya aku setuju kita main Pot. Tapi kalau Pot berapa udhu (taruhan untuk dipasang) kita masing-masing?” tanya Sidu yang kelereng bawaannya paling sedikit.
”Aku mau tanya dulu, kamu bawa kelereng berapa?” tanya Hardi kepada Sidu.
”Aku cuma bawa tiga. Itu saja yang satu gaco,” jawab Sidu.
”Kalau begitu udhu kita dua-dua saja. Kita berempat, jadi ada delapan kelereng yang dipasang. Bagaimana kawan-kawan, setuju tidak?” tanya Hardi kepada kawan-kawannya.
”Ya, aku setuju. Ayo segera kita mulai saja nanti keburu bendhe tanda masuk berbunyi!” desak Heru.
Karena mereka semua sudah setuju bermain Pot kelereng dan udhunya dua buah dua buah, maka mereka segera bersiap-siap. Rio mengambil kereweng pecahan genting untuk menggambar arena pasangan bermain Pot kelereng. Mula-mula ia berjongkok sambil meletakkan kereweng ke tanah sebagai ujung arena. Lalu ia berputar ke kanan menggoreskan kereweng ke tanah, membentuk garis menyerupai sisi kubah dari ujung ke alas kubah. Kemudian ia kembali ke ujung, berputar ke kiri menggoreskan kereweng  membentuk garis sisi kubah di sebelah kiri. Kemudian antara sisi kubah sebelah kiri dengan sisi kubah sebelah kanan di bagian alas ia potong dengan goresan kereweng sepertiga lingkaran.
”Sudah jadi arenanya. Ayo sekarang dipasang udhu kita masing-masing,” ajak Rio.
Heru lalu merogoh saku celananya mengeluarkan dua buah kelereng yang lalu dipasangnya di sudut alas kanan dan kiri. Rio merogoh saku bajunya mengeluarkan dua buah kelereng yang masih kempling (baru, utuh dan berkilat). Ia lalu meletakkan kedua kelereng itu di garis kubah sisi kanan. Hardi juga merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dua buah kelereng yang kemudian diletakkan di garis kubah sisi  kiri. Sidu pun mengeluarkan dua buah kelerengnya lalu diletakkan di ujung dan di tengah-tengah kubah.
”Sudah dipasang semua udhunya. Semuanya masih kempling kan? Tidak ada kelereng yang krepo (krepo atau gempil adalah kelereng yang cacat) kan? Sekarang mari kita ke garis tuju untuk menujukan gaco kita masing-masing!”  Rio lalu mengukur untuk menentukan garis tuju dengan langkah kakinya sebanyak 4 langkah. Sidu, Heru dan Hardi mengikuti dibelakangnya. Setelah empat langkah Rio menggaris dengan pecahan kereweng  mendatar menghadap ke arena permainan Pot yang berbentuk seperti kubah.
Di belakang garis yang dibuat Rio, anak-anak menghadap ke arena permainan Pot dengan gaco di tangan masing-masing. Kemudian satu persatu mereka melemparkan gaconya ke arah arena permainan. Mereka mengarahkan gaconya sedekat mungkin dengan garis yang membetuk gambar seperti kubah dengan alas yang sudah dipotong. Namun mereka juga berusaha agar gaconya tidak masuk di dalam ataupun berada di garis arena yang menyerupai kubah itu. Karena kalau sampai terjadi demikian ia akan dinyatakan ndhekuk atau mati, dan tidak boleh bermain dalam babak itu. Oleh karena itu mereka harus melemparkannya dengan hati-hati.
Lemparan gaco Sidu berhenti di sebelah bawah dua setengah jengkal dari garis alas kubah. Lemparan gaco Hardi berhenti di sebelah kanan satu jengkal dari garis kubah tepi kanan. Lemparan gaco Heru berada  di atas, dua jengkal dari posisi ujung kubah. Sedangkan lemparan gaco Rio berhenti di sebelah kiri, tiga jengkal dari garis kubah sebelah kiri.
”Karena yang terdekat dengan garis adalah gaco Hardi, maka yang laku (membidikkan gaconya) pertama kali adalah Hardi,” kata Sidu.
”Setelah itu aku,” sahut Heru.
”Ya, baru kemudian aku, dan terakhir Rio,” lanjut Sidu.
”Sekarang aku akan laku,” kata Hardi sambil berjalan menuju gaconya berhenti. Kemudian ia mencoba mengincar kelereng yang dipasang di sisi kubah sebelah kanan. Maunya ia akan dua-duanya secara beruntun. Tetapi tidak jadi. Ia takut, jangan-jangan nanti kalau gaconya dibidikkan dengan pelan agar bisa menyentuh dua-duanya, gaconya justru ndhekuk masuk ke dalam kubah. Dengan pertimbangan itu akhirnya ia memutuskan membidikkan gaconya dengan keras menuju ke salah satu kelereng yang dipasang di dekatnya.
”Theeekkk!” kelereng pasangan kena bidik keras gaco Hardi mencelat maju melewati garis kubah sebelah kiri. Sedangkan gaco Hardi laju menyamping ke atas kira-kira satu langkah dari garis tepi kiri agak ke atas. Hardi mengambil in (kelereng yang dipasang yang sudah kena, menjadi milik anak yang mengenai), lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya.
Sekarang Hardi masih berhak laku lagi. Ia mengarahkan bidikannya ke kelereng yang dipasang di puncak kubah. Ia lepaskan bidikannya pelan-pelan saja karena bagian puncak ini kalau dibidik dari samping mengarah ke kelereng sisi yang tidak langsung menghadap ke kubah, tidak begitu berbahaya. Puncak kubah yang runcing sedikit kemungkinannya akan membuat gaconya yang mengenai sasaran akan terpental masuk ke dalam kubah, apabila gaconya mengenai sisi kelereng bagian atas atau bagian luar. Kalau ia bidikkan pelan ada kemungkinan gaconya akan berhenti di dekat kelereng yang dipasang di puncak kubah, sehingga pada kesempatan laku berikutnya, ia akan dapat membidiknya tepat dari sudut yang diinginkan. Benarlah, bidikan Hardi meleset. Tapi kelerengnya berhenti hanya satu jengkal di dekat kelereng yang dipasang di puncak kubah.
Karena Hardi sudah meleset bidikannya, kini giliran Heru sebagai nomor urut kedua.  Gaco Heru yang  berada di atas puncak kubah dua jengkal jauhnya cukup riskan untuk membidik kelereng yang dipasang di puncak kubah. Kalau salah perhitungan bisa jadi gaconya akan masuk ke dalam kubah, sehingga gaconya jadi ndhekuk, mati, tidak boleh main. Tetapi kalau mengarahkan ke pasangan kelereng lainnya, terlalu jauh, kemungkinan meleset lebih besar. Pikir punya pikir akhirnya ia memilih membidik yang dekat, yang ada di puncak kubah. Tapi dasar ragu-ragu, bidikan Heru jadi meleset. Gaconya berhenti satu langkah dari kelereng yang dipasang di sudut alas sebelah kiri.
Sekarang ganti Sidu yang laku. Dengan kalemnya ia membidikkan pelan gaconya ke kelereng yang dipasang di sudut alas sebelah kanan. Kelereng pasangan bergeser ke luar garis. Kelereng yang sekarang berstatus sebagai in itu ia masukkan ke dalam saku bajunya. Lalu Sidu membidikkan gaconya yang tadi berhenti hanya satu jengkal dari tengah garis kubah sebelah kanan, ke arah kelereng yang dipasang di tengah garis kubah sebelah kanan. Lagi-lagi gaco Sidu berhasil mengenai sasaran. Kelereng pasangan mencelat sampai ke seberang garis kubah sebelah kiri, sedangkan gaconya yang mengenai tepi kanan berhenti di dekat puncak kubah. Setelah mengambil in lagi yang baru diperoleh, Sidu lalu membidikkan gaconya ke arah kelereng yang dipasang di puncak kubah. Kali ini pun bidikan Sidu tidak meleset. Kelereng yang dipasang di puncak kubah itu pun menjadi in bagi Sidu. Sampai di sini Sidu sudah mengantongi in sebanyak tiga butir kelereng.
Masih ada kesempatan bagi Sidu untuk membidikkan gaconya agar memperoleh in lagi. Masih ada empat kelereng pasangan yang belum dijadikan in. Dengan agak sombong Sidu membidikkan gaconya ke arah kelereng yang dipasang di garis kubah sebelah kiri.
Barangkali karena lagi apes, atau karena bidikannya diwarnai rasa sombong dan meremehkan, kali ini bidikan Sidu memang mengenai sasaran, tapi karena tidak begitu keras, meskipun bisa membuat kelereng pasangan mencelat menyeberangi garis kubah di sebelah kanan, tetapi gaco Sidu sendiri tidak bisa melewati kubah. Gaco itu ndhekuk, masuk ke dalam kubah. Maka kali ini Sidu mati langkah. Ia tidak dapat melanjutkan permainan lagi.
Hardi, Heru dan Rio langsung bersorak gembira. Sedangkan Sidu, mukanya berubah pucat. Habislah dia, kelereng bawaan hanya tiga: satu gaco, dua udhu, sekarang tinggal gaco. Berarti ia benar-benar tidak dapat melanjutkan permainan lagi siang ini di sekolah.
”Hayo Sidu, in-nya dikembalikan!” begitulah peraturannya, kalau pemain gaconya ndhekuk, in yang sudah diperoleh harus dikembalikan ke tempat pasangan semula.
  Lemas tak berdaya Sidu. Ia sangat menyesal, kenapa tadi ia membidik dengan sembrono, tanpa perhitungan yang cermat, sehingga mengakibatkan bidikannya justru membuat gaconya ndhekuk. Sekarang sudah telanjur, mau tidak mau in yang sudah diperoleh dan udhunya lepas. Dengan berat hati Sidu mengembalikan kelereng in yang sudah diperolehnya ke tempat semula.
Sekarang pemainnya tinggal tiga orang anak. Sedangkan kelereng yang dipasang masih ada tujuh butir. Setelah Sidu mati mainnya, kini giliran Rio untuk laku. Rio yang berada di sebelah kiri garis membidikkan gaconya ke kelereng yang dipasang di garis kubah samping kiri. Ia menjepit kelereng gaconya dengan ibu jari dan jari penunjuk tangan kiri, lalu menyentilnya dengan jari penunjuk tangan kanan. Entah bagaimana, hasilnya kelereng yang dipasang di garis kubah sebelah kiri itu dapat terpental sampai melewati garis sebelah kanan kubah, sedangkan gaconya sendiri justru atret mundur serong ke atas mendekati kelereng  satunya yang juga dipasang di garis kubah sebelah kiri.
Setelah mengambil kelereng in yang dimenangkannya, Rio dengan hati-hati lalu membidik kelereng yang  satunya lagi dengan bidikan yang cukup keras. ”Theeekkk!” kena juga. Kali ini gaco Rio melaju melewati bidang kubah, lalu berhenti dekat kelereng yang dipasang di garis kubah sebelah kanan, yang hanya tinggal satu. Sebelum membidikkan gaconya lagi, Rio mengambil dulu in yang dimenangkan lagi yang mencelat sampai cukup jauh di sebelah kanan halaman sekolah.
Rio memperhitungkan dengan cermat perkiraan arah terpentalnya gaco setelah mengenai sasaran, dan kemungkinan arah terpentalnya kelereng pasangan setelah kena bidik gaconya. Setelah yakin, Rio lalu membidikkan kelerengnya sesuai perhitungannya.
”Theeekkk! Thek!” terdengar bunyi benturan kelereng beruntun. Dua in diperoleh Rio sekaligus. Kelereng  di garis kubah sebelah kanan yang dibidik Rio melaju serong ke kiri mengenai kelereng yang dipasang di sudut alas kiri, sehingga dua-duanya menjadi in bagi Rio. Gaco Rio sendiri setelah membentur kelereng pasangan di depannya, karena dibidikkan dengan keras, lalu berlari serong ke kanan sejauh tiga langkah.
Setelah mengantongi empat in, Rio bermaksud menambah in-nya lagi dengan membidik kelereng yang dipasang di puncak kubah. Tapi karena letaknya cukup jauh bidikan Rio meleset. Rio harus istirahat dulu untuk memberi kesempatan kepada yang lain mengadu untung dan ketrampilan.
Pemain masih tiga orang anak, yaitu Hardi, Heru dan Rio. Sedangkan kelereng pasangan masih ada tiga juga, yaitu yang dipasang di puncak kubah, di tengah kubah, dan di sudut alas kubah bagian kanan. Kini giliran Hardi lagi untuk laku. Gaco Hardi yang berada hanya satu jengkal dari puncak kubah, dengan mudahnya mengenai sasaran, dibidikkan ke arah kelereng yang ada di puncak kubah. Setelah mengambil in dari puncak kubah, karena dalam perkiraannya ia tidak akan mampu mementaskan kelereng pasangan yang ada di dalam bidang kubah, maka ia setut, yaitu menaruh gaconya di tempat yang diinginkannya, dalam hal ini ia menaruh gaconya tentu saja di luar bidang kubah (agar tidak ndhekuk), tetapi di dekat garis yang terdekat dengan letak kelereng yang dipasang di dalam bidang kubah. Tujuannya agar pada giliran berikutnya ia dapat membidik dan memenangkan kelereng pasangan tersebut.
Karena Hardi tidak membidikkan gaconya, tetapi kesempatannya digunakan untuk setut, maka kini tiba giliran Heru untuk laku. Heru menaruh gaconya yang ada di dekat alas kubah kedalam telapak tangannya. Lalu ia membidikkan gaco itu ke arah kelereng pasangan yang ada di sudut alas kubah bagian kanan. Dengan mudahnya ia memperoleh in dari kelereng yang dipasang terdekat dengan gaconya ini. Setelah in ia kantongi, kini  Heru mengincar kelereng yang dipasang di tengah-tengah bidang kubah. Sayang sekali bidikannya meleset. Terpaksa ia harus istirahat lagi.
Kembali giliran Rio untuk laku. Tinggal ada satu kelereng yang belum dimenangkan. Posisinya pun sulit, ada di tengah bidang kubah. Karena letak gaco Rio jauh dari kelereng pasangan yang masih ada. Selain itu ada kemungkinan kalau nekat membidikkan gaconya ke arah kelereng tersebut, justru beresiko gaconya sendiri akan ndhekuk, sehingga seluruh in yang diperolehnya  harus dikembalikan, maka Rio lebih memilih setut dengan menaruh gaconya di dekat garis kubah.
Setelah Rio memilih setut, kini giliran Hardi untuk laku. Dari jarak ia setut tadi Hardi membidikkan gaconya ke arah kelereng pasangan yang tinggal satu-satunya. ”Thek,” gaco Hardi mengenai sasaran. Namun sayang ia tidak berhasil mengeluarkan kelereng pasangan itu ke luar dari bidang kubah. Bahkan gaco Hardi sendiri hampir ndhekuk. Untung gaco itu masih selamat, berhenti beberapa senti dari garis kubah, setelah melewati bidang kubah.
Karena gaconya jauh dari kelereng yang ada di tengah bidang kubah, Heru pun menggunakan kesempatan laku ini untuk setut di dekat garis alas kubah.
Rio mendapat giliran lagi. Dengan perhitungan cermat, ia lalu membidikkan gaconya ke arah kelereng satu-satunya yang menjadi incaran semua peserta dalam permainan ini. ”Theeekk!” gaco Rio mengenai sasaran. Kelereng pasangan terpental keluar bidang kubah, tetapi gaco Rio berhenti nyaris di garis kubah. Muka Rio langsung pucat. Sedangkan anak-anak yang lain bersorak senang, karena ini berarti gaco Rio ndhekuk, semua in yang sudah diperoleh Rio harus dikembalikan, dan permainan menjadi panjang.
Tetapi setelah diamat-amati dengan cermat, tiba-tiba Rio berteriak senang, ”Belum! Belum tentu gacoku ndhekuk! Lihat! Gacoku ada di luar garis!”
Anak-anak lalu mendekati gaco Rio. Mereka lalu mengamati dengan cermat.
”Ini jelas ada di atas garis, Rio. Jadi gacomu itu ndhekuk. Kamu sudah mati! Tidak boleh main lagi untuk babak ini,” kata Heru.
”Tidak! Gacoku belum mati, ada di luar garis beberapa mili,” bantah Rio.
Setelah mereka berbantah-bantahan beberapa saat, akhirnya Sidu berusaha menengahi.
“Aku netral, karena gacoku jelas sudah mati. Jadi aku bisa memutuskan dengan adil. Begini saja aku akan menarik gacoku menurutkan garis kubah yang dekat dengan gaco Rio. Kalau gaco Rio tersentuh kelerengku maka itu artinya gaco Rio ndhekuk. Tetapi kalau gaco Rio tidak tersentuh gacoku, maka itu artinya gaco Rio sudah berada di luar garis. Artinya lagi Rio sudah memenangkan in yang ada di tengah kubah. Bagaimana? Setuju?” tanya Rio kepada kawan-kawannya.
”Setuju!” jawab mereka serentak.
Sidu lalu mengeluarkan gaconya. Gaco itu ia tarik menurutkan garis kubah di dekat gaco Rio berhenti. Ternyata berulang kali gaco Sidu dilewatkan, tak sekali pun gaco itu menyentuh gaco Rio.
”Sudah jelas sekarang, gaco Rio ada di luar garis kubah. Ini berarti Rio telah memenangkan in terakhir dalam permainan Pot siang ini,” ujar Sidu memutuskan.
Heru dan Hardi, dan tentu saja Rio dan Sidu dapat menerima keputusan bahwasanya Riolah yang telah memenangkan kelereng pasangan yang terakhir.
”Bagaimana sekarang? Dilanjutkan tidak?” tanya Heru kepada teman-temannya.
”Sampai sekian saja dulu. Kelihatannya waktu istirahat sudah hampir habis. Mari kita cuci tangan dulu sebelum bendhe tanda masuk kelas berbunyi,” ajak Sidu.
Mereka lalu ke kamar mandi untuk mencuci tangan yang kotor karena bermain di tanah. Benar juga, setelah mereka selesai mencuci tangan bendhe tanda masuk kelas pun berbunyi. Mereka lalu masuk kelas masing-masing untuk menerima pelajaran berikutnya.
***

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: SOYANG

         PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Tempat Wisata di Tuban Jawa Timur

Objek wisata di Tuban - Jatim sebenarnya cukup banyak. Bagi Anda yang tinggal disekitar kota ini tentunya Anda sudah cukup familiar dengan sejumlah objek wisata pilihan yang selalu dikunjungi banyak orang setiap harinya.

Tuban merupakan sebuah kota yang letak geografinya berada paling barat dari wilayah Jawa Timur. Pusat kota Tuban terletak di jalur pantura dengan arus trafik jalan raya yang sangat sibuk disetiap harinya. Kota Tuban juga memiliki sejumlah tempat bersejarah yang menarik untuk dikunjungi.

Bagi Anda yang berencana untuk traveling atau berlibur ke Tuban, berikut ini beberapa tempat wisata terbaik di Tuban yang sayang untuk Anda lewatkan sesampainya Anda di kota ini.

GOA AKBAR TUBAN

GOA AKBAR TUBAN
Pintu Masuk Goa Akbar

Goa Akbar merupakan objek wisata terpopuler bagi warga Tuban dan kota-kota sekitar. Goa ini terletak di Gedongombo, Pusat Kota Tuban. Goa ini cukup luas dan senantiasa ramai pengunjung.

PANTAI SOWAN TUBAN

pantai Sowan Tuban
Pesona Pantai Sowan Tuban

Pantai yang dikelola oleh Perhutani daerah Tuban ini memiliki pesona yang cukup memukau. Pantai Sowan adalah salah satu objek wisata pilihan yang ada di kota Tuban.

TEMPAT PEMANDIAN BEKTI HARJO

TEMPAT PEMANDIAN BEKTI HARJO
Pemandian Beti Tuban

Tempat Pemandian Bekti Harjo atau yang lebih dikenal dengan sebutan 'Beti' ini merupakan tempat pemandian yang paling ramai pengunjung. Para pengunjung Beti melipiti kalangan anak-anak, remaja hingga ibu-ibu.

MAKAM SUNAN BONANG TUBAN

Makam Sunan Bonang Tuban
Makam Sunan Bonang Tuban

Saat berada di Tuban, Anda juga berkesempatan untuk berziarah ke makam Sunan Bonang. Makam salah satu dari Wali Songo ini terletak disebelah barat alun-alun kota Tuban.

Cerita Anak tema Dolanan Bocah Jadul: ANACAK-ANACAK ALIS

Cerita Anak tema Dolanan Bocah Jadul:

ANACAK-ANACAK ALIS
Oleh Sutardi MS Dihardjo

Siang hari sepulang sekolah kembali anak-anak berkumpul di halaman samping rumah Bu Komis di Dukuh Soka Desa Sumberejo. Ada delapan anak laki-laki dan perempuan sedang merencanakan akan melakukan permainan dolanan bocah. Andi sebagai anak terbesar berinisiatif mengusulkan permainan apa yang akan mereka mainkan.
”Teman-teman, bagaimana kalau kita bermain Ancak-ancak Alis saja?” ujar Andi kepada teman-temannya mengusulkan suatu jenis permainan anak-anak tradisional.
”Ancak-ancak Alis, bagaimana caranya?” tanya Sri minta penjelasan. Ia merasa baru pertama kali mendengar nama permainan yang satu ini.
“Begini. Dipilih dua orang yang berbadan sama tinggi, sama besar dan sama kuat sebagai  petani yang nanti akan berperan sebagai gapura atau pintu gerbang. Dua orang ini nanti akan memisahkan diri dari anak-anak yang lain untuk memilih nama. Nama yang digunakan biasanya adalah nama-nama alat pertanian, misalnya luku (Perlengkapan membajak sawah yang terbuat dari kayu panjang dan mempunyai mata bajak dari besi yang tajam di bawah, gunanya untuk membalikkan tanah dari kedalaman mata bajak ke atas permukaan) atau garu (Perlengkapan membajak sawah yang terbuat dari batang bambu besar dan batang kayu yang dipasang melintang dengan gigi-gigi dari besi tertancap di bawahnya, gunanya untuk mencacah dan menghaluskan tanah yang dibajak), atau cangkul, atau sabit. Nama ini harus dirahasiakan dari semua peserta, makanya dipilih secara berbisik, jauh dari teman-teman lainnya,” jelas Andi.
”Kalau sudah mendapat nama bagi dua orang itu, lalu bagaimana?” tanya Agus ingin tahu penjelasan selengkapnya.
”Kalau dua orang itu sudah mendapat nama, mereka akan kembali kepada anak-anak lainnya. Mereka akan berdiri saling berhadap-hadapan, mengangkat kedua tangannya, saling bertemu kedua telapak tangan dua orang itu, membentuk gapura atau pintu gerbang. Mereka tidak diam saja, tetapi mereka selalu menggerakkan tangannya bertepuk satu sama lain sambil menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis,” jelas Andi lebih lanjut.
”Lalu kalau yang main hanya dua orang, yang lainnya disuruh apa?” ganti Bunga yang bertanya.
”Yang lainnya juga ikut bermain, tetapi sebagai petani yang berbaris berjalan membentuk ular-ularan dan melewatu gapura yang dibuat dua temannya itu,” jawab Andi. Kemudian Ia menjelaskan cara memainkan dan aturan-aturan dalam permainan Ancak-ancak Alis secara lengkap.Teman-temannya mendengarkan penjelasan Andi dengan sungguh-sungguh. Mereka merasa mendapat jenis permainan yang baru, meskipun sebetulnya beberapa anak di antara mereka merasa pernah melihat permainan semacam itu, aturannya hampir sama, tetapi nama dan syair lagu yang dinyanyikan berbeda.
”Lalu bagaimana syair lagu Ancak-ancak Alis dan syair lagu selingannya yang harus kita nyanyikan?” tanya Asih.
”Jangan khawatir, lagunya tidak sulit kok. Saya sudah membuat catatan untuk syair lagu Ancak-ancak Alis maupun beberapa syair lagu selingannya. Nanti sebelum main kita dapat mempelajarinya bersama,” kata Andi. Setelah itu Andi membagikan catatan syair lagu Ancak-anacak Alis dan selingannya kepada teman-temannya. Kemudian mereka dengan dipimpin Andi mencoba menyanyikannnya bersama. Ternyata mereka cepat hafal, karena memang syairnya tidak panjang dan mudah diingat, meskipun sebetulnya bagi mereka ada kata-kata yang tidak diketahui maknanya, tetapi mereka tetap menghafalkannya. Setelah berlatih beberapa saat Asih merasa ingat sesuatu.
”Aku kok merasa pernah memainkan dolanan seperti ini. Tetapi apa ya namanya? Aku kok lupa,” kata Asih sambil mengingat-ingat dolanan yang pernah dikenalnya yang pernah diajarkan kakaknya.
”Aku mendapat dolanan Ancak-ancak Alis ini ketika aku semesteran lalu berlibur ke rumah pamanku di Sleman Yogyakarta. Aku melihat anak-anak bermain seperti itu. Kelihatannya ramai sekali. Aku lalu minta diajari kepada saudara sepupuku. Tetapi entah, apakah yang aku serap ini sudah benar atau belum, sudah lengkap atau belum, aku kurang tahu. Maklum aku di sana hanya beberapa hari. Barangkali kalau saudara sepupuku ada di sini ia bisa membetulkan atau melengkapi yang kurang sempurna,” ujar Andi berterus terang.
”Tidak apa-apa kalau kurang sempurna. Yang penting kita dapat memainkannya, meskipun hanya sesuai yang kita bisa. Katakan itu adalah versi kita,” kata Eny.
Tiba-tiba Asih berteriak kesenangan, ”Aku ingat sekarang, kalau tidak salah permainan Ancak-ancak Alis ini seperti permainan ’Sledur’ yang pernah diajarkan kakakku. Sayangnya aku lupa syair lagunya.”
Asih berjalan mondar-mandir mencoba mengingat-ingat syair lagu pengiring permainan Sledur.
”Yang aku ingat hanya ini,” setelah diam beberapa saat kemudian Asih lalu menyanyikan lagu dolanan Sledur tetapi tidak lengkap, ”Sledur...Sledur, Pak Mantri dahar bubur.....Waduh bagaimana ya aku lupa kelanjutannya?”
”Kalau tak ingat tak usah dipaksakan. Nanti minta diajari kakaknya lagi. Aku sendiri juga merasa kalau permainan Ancak-ancak Alis ini hampir sama dengan permainan yang pernah aku lihat di Jakarta, ketika aku berkunjung ke rumah famili di Jakarta. Ya aku ingat dolanan Ancak-ancak Alis ini kalau tidak salah hampir sama dengan permainan Ular Naga. Perbedaannya pada syair lagunya. Sedangkan kedua pemain berhadap-hadapan dengan kedua tangan pemain di atas membentuk gapura, lalu pemain yang lain berbaris dan bergerak-gerak membentuk seperti ular naga, mencari teman sebanyak-banyaknya, hampir sama,” kata Dony yang pernah berlibur di Jakarta ke rumah familinya.
”Benar! Aku juga pernah melihat anak-anak memainkan dolanan ular naga. Memang seperti Ancak-ancak Alis ini. Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo segera kita bermain Ancak-ancak Alis. Kalau nanti kita kesulitan lanjutannya kita diskusikan, kita cari bagaimana baiknya agar permainan dapat berlanjut,” ajak Dewi.
”Ya, mari kita segera mulai! Yang berperan sebagai petani yang nanti akan menjadi gapura, aku sama Dony. Bagaimana? Setuju?” Andi menawarkan diri sekaligus menunjuk Dony sebagai pasangannya.
”Setuju!!!” jawab anak-anak serempak.
”Nanti dulu! Jangan keburu! Harus kita tentukan dulu. Kalau misalnya nanti permainan sudah hampir selesai, sudah diketahui siapa-siapa ikut siapa, lalu yang kalah jumlah tidak mau mengakui kekalahannya, atau ternyata jumlahnya sama, bagaimana kita akan menentukan kemenangan? Apakah kita akan melakukan adu panco? Adu lari? Atau adu kekuatan tarik tambang? Kita harus tentukan dulu cara menentukan kemenangan akhir,” ujar Andi
”Adu tarik tambang saja, sekali tarik regedek... sudah ketahuan siapa yang menang. Kebetulan di rumah Bu Komis masih tersimpa tali tambang yang untuk lomba tarik tambang bulan Agustus yang lalu. Nanti biar Dony mengambilnya,” jawab Agus.
”Ya, aku setuju! Ya, aku juga setuju!” teriak anak-anak serentak.
”Kalau semua sudah setuju permainan dapat segera kita mulai,” kata Andi.
Setelah Dony mengambil tali tambang di rumah Bu Komis, Andi dan Dony lalu berjalan menjauh dari kawan-kawannya. Mereka berunding untuk memilih nama masing-masing dengan berbisik-bisik. Keputusannya Andi memilih nama ”Luku” dan Dony memilih nama ”Garu”. Setelah mendapat nama masing-masing, mereka berdua lalu kembali kepada teman-temannya.
Tidak menunggu  lama-lama, Andi dan Dony lalu mengangkat tangannya ke atas membentuk gapura. Mereka menepuk-nepukkan kedua tangan mereka ke pasangannya sambil menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis. Kaki dan pantatnya pun ikut bergerak menari bergoyang-goyang. Syair lagu yang mereka nyanyikan adalah sebagai berikut:

Ancak-anacak Alis,
Si Alis kebo janggitan,
Anak-anak kebo dhungkul,
Si dhungkul bang-bang teyo,
Tiga rendheng,
Enceng-enceng gogo beluk,
Unine pating cerepluk,
Ula sawa ula dumung,
Gedhene slumbang bandhung,
Sawahira lagi apa?

Ketika And dan Dony menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis tersebut anak-anak yang lain: Agus, Asih, Dewi, Eny, Sri dan Bunga berbaris ke belakang. Pemain terbesar di barisan paling depan, lalu urut ke belakang, semakin ke belakang semakin kecil. Yang di belakang memegang pinggang atau pundak atau ujung baju yang di depannya. Urut dari yang nomor dua ke nomor satu, lalu nomor tiga ke nomor dua dan setrusnya sampai yang terakhir ke yang di depannya.
Mereka berjalan berputar-putar mengitari Andi dan Dony yang berperan sebagai gapura. Ketika lagu Ancak-ancak Alis selesai, mereka sudah sampai di depan gapura.
”Lagi mluku,” kata Agus yang berada di barisan paling depan, yang berperan sebagai petani juga, menjawab pertanyaan yang dilontarkan dalam akhir lagu Ancak-ancak Alis di atas.
Setelah menjawab seperti itu barisan tadi lalu berjalan lewat di bawah gapura.
Andi dan Dony kembali menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis. Dan kembali lagi barisan para petani itu bergerak berjalan, berkelak-kelok seperti ular, lalu sampai di depan pintu gapura. Dan kembali pula Agus harus menjawab pertanyaan di akhir syair lagu Ancak-ancak Alis dengan jawaban yang menunjukkan perkembangan petani mengerjakan sawah: ”Lagi mluku, lagi nandur, lagi nglilir, lagi ijo, lagi meteng, lagi ambrol, lagi nyangguki, lagi mrekatak, lagi mecuti, lagi tumungkul, lagi bangcuk, lagi kuning, lagi tuwa, lagi wiwit, lagi panen.”
Ketika jawabannya adalah ”Lagi wiwit” maka Bunga yang ada diurutan paling belakang mencari dedaunan yang berwarna hijau. Setelah mendapat dedaunan hijau, barisan petani, termasuk kedua petani, And dan Dony yang menjadi gapura, berjalan lagi berputar-putar, berkelok-kelok  membentuk angka delapan sambil menyanyikan lagu selingan sebagai berikut:

Menyang pasar Kadipaten
Leh-olehe jadah manten
Menyang pasar Ki Jodhog
Leh-olehe Cina bidhog

Setelah menyanyikan lagu selingan, barisan kembali ke bentuk semula. Andi dan Dony kembali membentuk pintu gapura sambil menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis. Barisan kembali berjalan  berkelak-kelok. Sampai di depan pintu gapura bersamaan dengan habisnya lagu Ancak-ancak Alis, Agus kembali harus menjawab pertanyaan di akhir syair lagu.
”Lagi panen,” jawab Agus. Maka barisan dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan melewati di bawah gapura. Tetapi kali ini Bunga yang ada di barisan paling belakang dihentikan. Tangan-tangan Andi dan Dony yang tadi membentuk gapura sekarang bergandengan dan diturunkan untuk mengurung Bunga sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah setelah melewati pintu gapura pun barisan yang dikomandani Agus berhenti.
Kemudian Andi dan Dony bertanya kepada Bunga, tetapi dengan cara berbisik agar yang mendengar hanya Bunga saja.
”Setelah panen, kamu ingin memiliki apa untuk membajak sawahmu? Luku atau Garu?” tanya Andi dan Dony dengan berbisik.
”Aku ingin Luku,” jawab Bunga dengan berbisik pula.
Setelah memberikan pilihan, Bunga dipersilakan berdiri di belakang Andi. Sekarang Bunga dianggap sebagai anak semang Andi.
Barisan yang dipimpin Agus bergerak lagi, berjalan berputar berkelak-kelok sampai lagu Ancak-ancak Alis yang dinyanyikan Andi dan Dony habis. Ketika lagu yang dinyanyikan kedua anak yang berperan sebagai gapura habis, Agus yang berada di barisan paling depan,  kembali harus menjawab pertanyaan di akhir syair lagu tersebut.
”Lagi panen,” jawab Agus. Maka barisan dipersilakan memasuki pintu gapura. Namun setelah beberapa langkah mereka semua melewati, kecuali anak yang berada di barisan paling belakang, barisan itu berhenti untuk melihat apa yang terjadi pada ekor mereka. Di ekor barisan, Sri, dikurung oleh Andi dan Dony dengan cara menurunkan kedua tangan mereka yang bergandengan.
Seperti saat mengurung Bunga, kini pun Andi dan Dony menanyakan dengan cara berbisik kepada Sri,”Setelah panen, kamu ingin memiliki apa untuk membajak sawahmu? Luku atau Garu?”
Di belakang Andi, Bunga mencoba mempengaruhi pilihan Sri dengan cara membuka dan menggerak-gerakkan mulutnya tetapi tanpa suara. Eny yang ada di barisan gerbong atau ular-ularan tahu hal itu.
”Hayo Bunga, kamu tidak boleh memberi tahu atau mempengaruhi pilihan Sri, meskipun hanya dengan isyarat kedipan mata! Kita harus sportif!” Eny memberi peringatan kepada Bunga. Semua mata memandang kepada Bunga. Bahkan ada yang memelototinya. Bunga langsung diam tak berkutik.
”Aku ingin Garu,” jawab Sri dengan berbisik pula.
Setelah memberikan pilihan, Sri dipersilakan berdiri di belakang Dony. Sekarang Sri dianggap sebagai anak semang Dony.
Adegan berjalan melingkar berkelak-kelok, kemudian Agus ditanya untuk menjawab pertanyaan di akhir syair lagu Ancak-ancak Alis, lalu barisan berjalan melewati pintu gapura, gapura turun menangkap anak yang berada di barisan paling belakang, lalu ditanya milih luku atau garu, kemudian ia bergabung sesuai pilihannya ini diulang-ulang sampa anggota barisan habis, tinggal Agus seorang diri.
Kemudian Andi dan Dony yang berperan sebagai petani yang membentuk pintu gapura menyanyikan lagu:

Dikekuru dilelemu
Dicecenggring digegering

Lalu mereka mengurung Agus yang akan melewati pintu gapura dengan cara menurunkan tangannya membentuk guruf O. Kemudian Andi dan Dony bertanya:

Kidang lanang apa kidang wadon?
Yen lanang mlumpata,
Yen wadon mbrobosa.

Agus yang dianggap sebagai kijang lalu berusaha menerobor keluar. Ketika ia akan melompati kurungan itu, tangan Andi dan Dony diangkat naik. Ketika Agus berusaha akan menerobos lewat bawah, kedua tangan Andi dan Dony diturunkan. Mereka berusaha menahan Agus yang ngotot akan keluar dari kurungan. Agus berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi karena kedua orang yang mengurungnya tenaganya lebih kuat, akhirnya Agus menyerah. Karena Agus sudah menyerah maka ia lalu ditanya seperti yang lain-lain.
”Setelah panen, kamu ingin memiliki apa untuk membajak sawahmu? Luku atau Garu?” tanya Andi dan Dony. Kali ini tidak perlu dengan cara berbisik, karena sudah tidak ada anak barisan yang dikhawatirkan akan terpengaruh. Tetapi mereka semua yang ada dalam permainan itu menunggu jawaban Agus dengan berdebar-debar, karena jawabannya akan menjadi penentu kemenangan. Bunga dan Eny sudah menjadi anak semang Andi. Sedangakan Sri, Asih dan Dewi menjadi anak semang Dony. Kalau Agus memilih Garu, jumlah maupun kekuatan jelas ada di pihak Dony. Tiga laki-lakinya satu lawan lima laki-lakinya dua. Seandainya adu kekuatan, panco atau tarik tambang, tentu menang kelompok Dony. Tetapi kalau Agus memilih Luku, jumlah mereka akan berimbang, tetapi kekuatan mereka tidak sama, karena kelompok Andi jadi mempunyai dua orang laki-laki, sedangkan kelompok Dony hanya seorang laki-laki.
Sayangnya Agus tidak tahu siapa yang Luku, siapa yang Garu. Apakah Andi itu Luku atau Garu. Apakah Dony itu Luku atau Garu. Masih teka-teki yang diliputi rahasia bagi Agus. Namun ia harus menjatuhkan pilihan antara Luku atau Garu.
Setelah menunggu sekian lama akhirnya Agus memutuskan, ”Aku pilih Luku!”
Andi, Bunga dan Eny langsung bersorak kegirangan. Mereka merasa mendapat bala yang kuat. Agus dipersilakan berdiri di belakang Andi.
”Sekarang bagaimana? Jumlah kita sama, tetapi kekuatan kita perlu dibuktikan, mana yang lebih kuat,” ujar Andi menawarkan adu kekuatan.
Sebetulnya Sri, Asih dan Dewi sudah merasa tidak akan menang adu kekuatan melawan kelompok Andi, tetapi karena jumlah mereka sama, mau tidak mau, terutama Dony harus membuktikan kekuatan lawannya. Siapa tahu kalau nanti dilakukan tarik tambang, anggota Andi ada yang terpeleset sehingga mereka akan terseret kalah.
”Baiklah, meskipun anggota aku lebih banyak perempuannya, perlu diadu dulu apakah kelompok kamu betul-betul lebih kuat. Ayo kita lakukan tarik tambang,” tantang Dony.
”Baik, aku ladeni,” sahut Andi.
Andi lalu membuat garis tengah di tanah dengan menggunakan pecahan genting. Dony dan Agus lalu menggelar tambang yang sudah disiapkan dari tadi sama panjang ke kanan dan ke kiri dengan porosnya garis yang dibuat Andi. Anak-anak lalu menempatkan diri masing-masing memegang tali tambang di kelompoknya masing-masing. Di kelompok Andi, paling depan Andi, lalu Agus, lalu Eny, terakhir Bunga. Di kelompok Dony, paling depan Dony, lalu Asih, lalu Dewi, terakhir Sri.
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, pelaksanaan tarik tambang tidak sebanding dengan persiapannya yang cukup lama. Begitu aba-aba tiga, dua, satu, ya’.... ternyata begitu mudahnya tali tambang tertarik ke kelompok Andi. Maklumlah melihat kelompok Andi ada laki-lakinya dua, kelompok Dony sudah ciut dulu nyalinya, maka dari pada susah-susah tangannya pedih menahan tali, begitu kekuatan kelompok Andi terasa lebih besar, mereka serentak langsung melepaskan pegangan tangannya pada tali tambang.
Kelompok Andi yang dengan sekuat tenaga menarik tambang, berharap lawan-lawannya akan berjatuhan terjerembab ke depan, tiba-tiba justru ambruk ke belakang saling tindih-menindih tak terkendali, karena lawan-lawannya dengan tiba-tiba melepaskan perlawanan, melepaskan tali tambang yang semula mereka tarik kuat-kuat.
Kelompok Dony tertawa terbahak-bahak dapat mengerjai kawan-kawannya. Meskipun mereka kalah tetapi mereka merasa menang karena dapat mempermainkan lawan mainnya. Andi dan kawan-kawannya hanya bisa cengar-cengir karena merasakan tubuh dan kepalanya sedikit sakit saling berbenturan tindih-menindih dengan kawan sendiri. Mereka ingin mengumpati kelompok Dony, tapi tak jadi karena memang inilah suatu permainan. Yang kalah mencoba membalas kekalahannya dalam bentuk lain. Akhirnya mereka semua ikut tertawa, tetapi tawa kecut. ***

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: SOYANG

         PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342