Artikel: Dolanan Bocah, Riwayatmu Dulu

Dolanan Bocah, Riwayatmu Dulu
Oleh: Sutardi MS Dihardjo
------------------
Lihat biografi: Penulis

Pada jaman dahulu dolanan bocah tradisional banyak sekali jenisnya. Antara daerah yang satu dengan daerah yang lain bisa sama tapi mungkin juga beda sedikit-sedikit. Nama-nama dari tiap jenis permainan dolanan bocah bisa berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya, meskipun jenis permainan, alat yang digunakan dan cara memainkannya sama atau hampir sama. Mungkin disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing, atau atas kemauan anak-anak sebagai pelaku yang memainkan dolanan tersebut. 

Kadang suatu permainan belum ada di suatu daerah, dengan kedatangan seorang anak dari daerah lain, kemudian di tempat yang baru ia mengajari dan mengajak bermain dolanan yang belum ada di tempat itu, maka tersebarlah dolanan itu. Tetapi tidak menutup kemungkinan masyarakat di tempat yang baru menginginkan ada sedikit perubahan sebagai penyesuaian dengan keadaan setempat, maka jadilah dolanan tersebut mempunyai variasi yang berbeda.

Bisa juga terjadi seorang anak pergi cukup lama ke rumah familinya di daerah lain, lalu ia menemukan dolanan yang belum pernah ada di kampung halamannya. Karena merasa tertarik ia lalu mempelajari permainan tersebut. Setelah pulang kembali ke rumahnya ia ajarkan permainan tersebut kepada teman-teman sepermainannya. Lalu mereka bermain bersama. Karena hanya sebagai seorang pendatang yang belajar, maka ada bagian-bagian permainan yang ia lupa atau belum mengetahui guna dan cara memainkannya. Agar permainan tetap dapat berlanjut, dengan kesepakatan teman-temannya ia membuat kelanjutannya sampai selesai yang mungkin berbeda dengan yang ada di daerah asal permainan. Inipun menjadikan dolanan ini bervariasi.

Ragam Dolanan Bocah

Selain itu dolanan bocah juga beragam kalau dilihat dari peralatan yang digunakan dan kebutuhan tempat untuk memainkannya. Ada dolanan yang membutuhkan peralatan, bahkan modal, seperti dolanan kelereng, dolanan gambar, dolanan karet, dolanan benthik, dolanan bedhil-bedhilan plethokan bambu, dolanan sepak sekong, dolanan kasti, dolanan bekelan, dolanan yoyo, dolanan dakon. Ada juga permainan yang menggunakan peralatan yang sangat sederhana yang sudah tersedia di lingkungan, seperti dolanan jethungan, dolanan cublak-cublak suweng, dolanan gotri legendri; dolanan pandhe dengan berbagai macam variasinya seperti pandhe gendhong, pandhe sundha mandha: dolanan dham-dhaman, dolanan krempyang memakai uang logam, dolanan wayang orang dengan menggunakan kuluk (tutup kepala/mahkota) daun nangka, atau dolanan wayang kulit menggunakan wayang daun kluwih atau daun sukun, dolanan jago-jagonan menggunakan bagian ranting daun petai cina, dolanan jaranan pakai serbitan pelepah daun kelapa, dolanan sepur-sepuran atau montor-montoran pakai bodong (bagian dalam batang pohon pisang), atau bedhil-bedhilan pakai pelepah daun pisang. 

Tetapi ada pula dolanan yang tidak membutuhkan peralatan. Cukup asal badan sehat dan ada kemauan, seperti dolanan ndhas sikil, dolanan ji-ro-lu, dolanan betengan, dolanan gobak sodor, dolanan jamuran, dolanan soyang, dolanan ular-ularan, dolanan endhog-endhogan, dolanan ancak-ancak alis, dan lain-lain.

Dolanan anak-anak jaman dahulu selain yang dimainkan begitu saja, ada juga yang cara memainkannya harus disertai tembang/nyanyian, seperti dolanan soyang, dolanan endhog-endhogan, dolanan gotri legendri, dolanan jamuran, dolanan ancak-ancak alis, dolanan cublak-cublak suweng, dolanan sluku-sluku bathok dan lain-lain. Dolanan soyang bahkan ada dialog seperti bermain drama.

Selain itu dolanan bocah juga bervariasi tempat yang dibutuhkan untuk memainkannya. Ada yang cukup dimainkan di ruangan atau di teras rumah, ada yang harus dimainkan di bagian dinding luar rumah seperti dolanan karet (tempel). Tetapi ada juga yang harus dimainkan di halaman rumah/sekolah yang cukup lapang.

Dolanan Bocah Di Sekolah 

Pada waktu saya masih belajar di Sekolah Dasar di tahun 1970-an, kalau pagi hari sebelum bendhe tanda masuk berbunyi, yang nantinya dilanjutkan pada waktu istirahat pelajaran, di halaman sekolah anak-anak bermain dalam kelompok-kelompok sesuai kebutuhan. Yang laki-laki ada yang main kelereng dalam berbagai jenis permainan. Ada yang namanya gendiran, pot, atau jirak. Dolanan kelereng memerlukan tempat yang luas dan rata agar jalannya kelereng yang dipantheng/ditembakkan dapat lurus mengenai sasaran. Karena itu permainan kelereng ini lebih pas kalau dimainkan di halaman sekolah yang luas dan masih berupa tanah, rata, tidak berumput dan tidak dipaving.

Di waktu yang lain, ketika kelereng sudah tidak musim, anak-anak ganti bermain umbul gambar. Dalam permainan ini ada yang mengumpulkan gacok para peserta, lalu melemparkannya ke atas. Kemudian masing-masing peserta mencari dan mengikuti gacoknya yang sedang melayang turun. Apabila ia menemukan gacoknya jatuh mlumah menghadap ke atas, ia akan berteriak dengan bangganya, “Ji!!” artinya “Satu.” Kalau kebetulan yang gacoknya mlumah banyak, maka para peserta saling berteriak berebut keras dengan bangga dan gembira, “Ji!!!”. Tetapi kalau kemudian ternyata hanya gacok salah seorang peserta yang menghadap ke atas, ia akan menambahkan teriak kegirangan dengan bangganya: “Dhewe!!!” berarti hanya gacoknya sendiri yang hidup. Yang lainnya mati. Ini berati ia memenangkan permainan dan berhak meraup semua udhu atau taruhan para peserta.

Dolanan gambar dapat juga dilakukan di teras sekolah. Dolanan sambil duduk melingkar seperti orang bermain kartu ini namanya tek-puk. Permainan ini sangat sederhana. Tumpukan gambar yang sudah dikasut (dikocok), ditaruh di tengah. Peserta membuka bagian dari tumpukan gambar tersebut. Yang angka belakangnya (ekan) pada gambar tertinggi, dialah pemenangnya. Ada pula permainan gambar yang namanya kar-karan. Yang ini dapat dikatakan melatih anak belajar berhitung, karena harus menjumlahkan beberapa angka yang ada dalam gambar. Angka tertinggi adalah sembilan, ekan pada hasil akhir penjumlahan. 

Yang tidak punya modal kelereng atau gambar umbul, dapat bermain dolanan yang tidak memakai alat, seperti misalnya ndhas sikil secara berkelompok. Permainan ini banyak gerak dan memerlukan kelincahan. Seperti anggar menyerang ke kepala atau ke kaki, tetapi tidak memakai senjata. Cukup menyentuhkan telapak tangan atau ujung jari tangan ke bagian yang dianggap mematikan, yaitu kepala dan kaki lawan. Satu tangan menyerang lawan, tangan yang lainnya melindungi kepala sendiri. Susahnya kalau anaknya kecil dan pendek melawan anak yang tinggi dan tangannya panjang. Tetapi meskipun kecil kalau dia lincah, dapat menang juga melawan anak yang tinggi tetapi kurang lincah dan kurang waspada atau kurang konsentrasi. 

Untuk anak-anak perempuan, biasanya bermain gelang karet: dhing atau yeye, lompat tali menggunakan karet gelang dironce panjang. Dalam dolanan yang juga banyak gerak dan memerlukan kelincahan ini, dua orang anak memegangi ujung tali, yang lainnya bergantian melompatinya dengan berbagai cara yang sudah ditentukan. Karet gelang dapat juga dipergunakan untuk  bermain tempel di dinding luar sekolah. Para peserta bergantian melemparkan karet gacoknya ke tonjolan dinding rumah bagian bawah. Yang gacoknya paling mepet dinding berhak lebih dahulu melemparkan karet-karet gelang udhunya para peserta ke dinding. Karet-karet yang sudah dilemparkan yang tertinggal di tonjolan dinding menjadi miliknya. Sisanya diperebutkan peserta yang lain sesuai urutan kemepetan gacok dengan dinding. Urutan ini bisa kembali ke peserta pertama kalau masih ada karet gelang yang jatuh ke bawah, tidak mau nyangkut di tonjolan dinding. 

Pada waktu lain, mungkin sudah berganti musim dolanan benthik. Dolanan Benthik menggunakan dua buah kayu: ukuran + 40 Cm dan ‘anaknya’ ukuran + 15 Cm, dengan membuat lobang sedalam + 10 Cm. di halaman sekolah yang masih tanah. Ada peserta yang jadi, ada peserta yang main. Yang main mencungkil kayu ‘anak’ yang ditaruh melintang di atas lubang, atau memukul bagian kayu ‘anak’ yang ditaruh menjungkit di lubang, dengan kayu yang panjang di tangannya. Dalam keadaan kayu ‘anak’ melayang di udara, pemain lalu memukulnya dengan kayu di tangannya sekuat tenaga. Yang jaga berusaha untuk dapat menangkap kayu ‘anak’ yang sedang melayang di udara.

Sementara itu, di teras sekolah ada juga anak-anak yang bermain dolanan bocah. Kalau yang laki-laki dolanan gambar, yang perempuan dolanan krempyang atau dolanan bekel. Bergemerincing suara segenggam uang logam dilempar ke atas lalu ditangkap dengan punggung tangan, dipindah berganti-ganti dari punggung tangan kanan ke punggung tangan kiri dan sebaliknya. Lalu dilempar pelan agar dapat ditangkap telapak tangan. Kemudian ditata di lantai sedemikian rupa agar dapat dibenturkan satu dengan lainnya melalui sentilan ujung jari. Itulah permainan krempyang. Di kelompok lain terdengar dhag-dhug suara bola bekel jatuh ke lantai. Tangan melemparkan bola bekel ke atas sambil tangan menata, menggeser dan mebolak-balik mata bekel. Kecekatan gerak tangan dan kecermatan pandangan mata terhadap gerak bola bekel, kesadaran ruang arena permainan yang sempit dan ketepatan perhitungan, diperlukan dalam dolanan bekel.

Manfaat Dolanan Bocah 

Dolanan bocah di sekolah merupakan hiburan dan refressing bagi anak-anak disela bertumpuknya kegiatan sekolah yang melelahkan pikiran. Mungkin anak merasa jenuh selama beberapa jam pelajaran disuruh menghafal  rumus-rumus, menerapkannya dalam hitungan-hitungan, atau mengahafal nama-nama, kata-kata dan pengertian-pengertian. Maka bermain dolanan bocah pada waktu istirahat dapat menjadi penyeimbang agar pikiran dapat segar kembali.

Kalau pelajaran di sekolah cenderung mengaktifkan dan mengembangkan otak kiri, yang berfungsi mengembangkan IQ (Intelligence Quotient), yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Maka dolanan bocah di waktu jam istirahat sekolah dapat mengaktifkan dan mengembangkan otak kanan, yang berfungsi mengembangkan EQ (Emotional Quotient), sebagai pembelajaran bersosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Dengan berkembangnya otak kanan, maka berkembang pula kreatifitasnya, yang ditandai dengan berkembangnya kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, kemampuan memadukan, dan kemampuan berekspresi. Sehingga tercapai keseimbangan antara otak kiri dan otak kanannya. Sehingga kemudian menjadi anak yang cerdas sekaligus pandai bergaul dan bersosialisasi, serta cepat tanggap menghadapi perubahan situasi dan keadaan yang bagaimanapun gentingnya.

Selain itu, dolanan bocah tradisional juga mengajarkan sportifitas dan konsisten dengan aturan yang sudah disepakati. Lebih-lebih pada permainan gelut, sehingga dolanan tidak berubah menjadi perkelahian sungguhan. Dalam permainan ini pemain boleh saling banting, tetapi tidak boleh menghantam, memukul, atau membentur-benturkan tubuh lawan main. Kalau lawan main sudah terkunci tak berdaya lalu bilang: “Mbek!” maka dia harus dilepaskan dan dinyatakan kalah. Tidak boleh ada dendam di antara anak-anak yang bermain.

Dolanan Anak Jaman Sekarang

Sayangnya dolanan anak tradisional di era globalisasi sekarang ini sudah banyak ditinggalkan dan dilupakan, terlindas mainan import yang sudah dikemas dalam dunia maya. Dolanan anak moderen sekarang semakin individualistis. Mulai dari Playstasion yang masih memungkinkan bertemu dengan anak-anak lain sampai game-game di komputer dan HP yang bisa dimainkan sendiri di kamar. Ini sungguh memprihatinkan karena sejak kecil anak sudah dibiasakan tidak berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Anak juga tidak dibiasakan untuk banyak bergerak, berolah raga dan melatih sensor motoriknya. Pada masa pertumbuhan ini anak justru dibiarkan kurang gerak karena aktifitas bermain dilakukan sambil duduk atau bahkan sambil bernaring. Mungkin juga sambil makan camilan yang akan menggembrotkan tubuhnya yang kurang gerak.

Upaya Untuk Melestarikan Dolanan Bocah

Saat ini sudah sering diakukan festival dolanan bocah, juga seminar-seminar dolanan bocah. Infentarisasi dan pendokumentasian dolanan bocah perlu dilaksanakan. Car free day yang banyak digelar di kota-kota, dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai dolanan bocah. PAUD, TK, dan SD, bahkan SMP, adalah tempat yang tepat untuk memperkenalkan dan mengajarkan dolanan bocah tradisional.  Orang-orang tua dapat juga memperkenalkan dan kemudian mengajak bermain dolanan bocah kepada anak-anak Karang Taruna pada rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan.  *** 

Related posts:

No response yet for "Artikel: Dolanan Bocah, Riwayatmu Dulu"

Post a Comment