Artikel: Jangan Dihabiskan Semua

Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Nasehat orang-orang  tua jaman dahulu sering tidak disampaikan sampai detail. Kalau kita tanyakan kenapa harus begitu, mereka hanya menjawab, ”Ora ilok”. Apa maksudnya dengan istilah ”Ora ilok” mereka tidak mau menjelaskan lebih lanjut. Kalau kita terus mendesak, kita akan dikatakan sebagai anak yang ngeyel, yang tak tahu sopan santun. Mungkin sebetulnya mereka itu juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskan, karena mereka juga hanya menerima seperti yang dikatakannya dari orang tuanya, tanpa penjelasan yang lebih detail. Tetapi jaman sekarang berbeda. Anak-anak sekarang tidak akan puas kalau hanya dijawab ”Ora ilok”. Mereka membutuhkan penjelasan lebih lanjut yang sifatnya argumentatif dan meyakinkan. Karena anak-anak sekarang lebih kritis dan demokratis. Maunya semua yang diterima dari orang tua harus dapat diterima oleh akal.

Salah satu nasehat yang pernah saya terima ketika saya masih remaja adalah kalau kita mengambil beras dari genuk (tempayan kecil tempat menyimpan beras) agar jangan dihabiskan semua sampai tak bersisa. Saya diminta agar masih menyisakan dua genggam atau tiga genggam beras di dalam genuk.

Waktu itu tidak ada penjelasan apa-apa di balik nasehat itu. Mereka hanya menjawab ”Ora ilok” kalau saya tanyakan sebabnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dan bertambahnya daya nalar saya, akhirnya saya menemukan jawabannya, meskipun barangkali ini hanya menurut pendapat saya pribadi.

Dengan masih menyisakan sebagian beras yang kita punyai di tempat penyimpanan beras, maka secara psikologis, hati kita akan menjadi tenang untuk bekerja mencari beras-beras lain yang dapat kita tanak nantinya. Setidaknya kalau nanti pada hari itu kita belum dapat mendapatkan beras, masih ada persediaan beras yang akan dapat kita tanak untuk sekedar mengganjal perut kita. Lebih baik sekarang berhemat, makan sedikit sekedar untuk tidak kelaparan, tetapi nanti masih dapat makan lagi karena masih mempunyai persediaan, dari pada sekarang makan kekenyangan tapi nanti kelaparan karena sudah tidak ada persediaan bahan makanan.

Perasaan tenang atau ayem karena ada jaminan hari itu masih ada yang dapat kita makan, kita butuhkan dalam bekerja agar kita dapat berpikir jernih, dapat melihat pilihan-pilihan, antara yang baik dan yang buruk, antara yang halal dan yang haram, sehingga tidak asal ambil. Lain halnya kalau kita sudah tidak mempunyai persediaan apa-apa di rumah. Dalam bekerja kita akan selalu dibayang-bayangi kelaparan dan tuntutan untuk membuat kenyang. Apalagi kita sudah terbiasa menghabiskan semua persediaan yang ada, tanpa ada usaha untuk dapat berhemat dan mengendalikan diri, maka kita tidak lagi dapat membedakan mana yang hak dan mana yang bathil, semua yang ada disikat habis.

Tamsil
Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia karangan Budiono, MA, arti kata tamsil : n persamaan sebagai umpama, misal; ibarat, juga dalam arti ajaran yang diambil dari sesuatu cerita dan sebagainya, lukisan, sesuatu sebagai contoh.  Tamsil dari nasehat agar kita tidak menghabiskan seluruh persediaan beras kita ketika kita akan menanak nasi ada banyak sekali, dan saya kira relevan dengan jaman sekarang. Misalnya bagi para pegawai atau istri pegawai (negeri maupun swasta) yang seharusnya menerima gaji pada setiap awal bulan atau akhir bulan, untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya, jangan sampai gaji itu sudah habis untuk membayar angsuran kredit.

Pegawai yang menerima gaji tetap setiap bulan adalah sasaran empuk badan-badan kredit atau bank-bank untuk menjaring nasabah. Lebih-lebih bagi Pegawai Negeri Sipil, begitu kita melihat Presiden mengumumkan adanya kenaikan gaji PNS di televisi, tidak menunggu lama mereka akan berlomba-lomba menawarkan bermacam-macam kredit kepada PNS. Ada kredit uang dengan suku bunga yang sudah diturunkan, ada kredit kendaraan bermotor, ada kredit bermacam-macam peralatan rumah tangga model terbaru, ada kredit rumah, ada arisan motor, ada arisan mobil, ada arisan emas batangan, dan lain-lain. Untuk lebih menarik nasabah, pemberian kredit dengan berbagai kemudahan bagi PNS tersebut masih ditambah bermacam-macam hadiah, baik hadiah langsung maupun undian berhadiah yang sangat menggiurkan. 

Semua tawaran itu sungguh menggoda. Bagi pegawai yang tidak kuat imannya, atau atas bujukan si istri yang mudah tergiur ketika mengikuti promosi dalam berbagai arisan atau pertemuan,  maka tambahan gaji akan berubah menjadi tambahan hutang. Tidak mustahil adanya tambahan gaji yang sebetulnya diharapkan untuk menambah kesejahteraan pegawai dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, justru memperkecil jumlah uang gaji yang dibawa pulang. Karena tambahan besarnya angsuran dari angsuran hutangnya semula, lebih besar dari pada kenaikan gaji yang diterima, atau bahkan tidak menyisakan gaji sama sekali. Akibatnya kenaikan gaji yang diharapkan dapat menaikkan kesejahteraan pegawai, yang kemudian juga diharapkan dapat meningkatkan produktifitas kerja pegawai, tidak dapat diwujudkan. Mereka tetap pontang-panting mencari tambahan penghasilan di luar, dengan sering bolos, meninggalkan jam kerja, untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Meskipun demikian bagi orang lain, mereka akan kelihatan lebih sejahtera, karena adanya tambahan barang-barang konsumtif yang mungkin sebetulnya belum tentu mereka butuhkan.

Seharusnya, seorang pegawai boleh mengambil kredit sampai batas masih ada sisa gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minimal keluarga. Sehingga ia masih dapat bekerja dengan tenang, dan tidak perlu bolos kerja untuk mencari tambahan penghasilan di luar kantor. Tetapi rambu-rambu yang sudah ditetapkan sering mereka langgar. Mereka mengambil kredit tidak hanya dari satu bank, tetapi pada beberapa bank. Sudah begitu masih ditambah mengikuti bermacam-macam arisan. Akibatnya setiap bulan bukannya membawa pulang uang gaji, tetapi justru harus setor uang ke bendahara gaji, karena gajinya minus. Kalau sudah demikian apakah ia dapat bekerja dengan tenang? Tentu tidak. Apakah ia dapat membedakan antara uang halal dan uang haram untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan untuk dapat menutup setoran tiap bulan? Kemungkinan besar: tidak!

Bagi PNS yang mempunyai hoby hutang, tambahan masa kerja PNS dari 56 tahun menjadi 58 tahun, berarti kesempatan untuk memperpanjang hutang. Akibatnya tambahan masa kerja yang seharusnya dapat memompa semangat kerja baru, meningkatkan kinerja, dan menambah produktifitas kerja, tidak berpegaruh apa-apa bagi mereka. Mereka tetap bekerja dengan semangat latihan pensiun alias malas-malasan. Karena tambahan gaji yang mengiringi tambahan masa kerja itu sudah mereka habiskan untuk mengangsur tambahan kredit baru di bank.
Oleh karena itulah perlu kita renungkan nasehat orang-orang tua dahulu: Jangan dihabiskan semua, sisakan meskipun hanya dua genggam atau tiga genggam beras. Karena masih ada hari esok yang perlu dihidupi. ***

        Penulis: Sutardi MS Dihardjo
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan - KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Related posts:

No response yet for "Artikel: Jangan Dihabiskan Semua"

Post a Comment