Asfiksia, Kematian Nomor 3 Pada Bayi di Indoenesia

Asfiksia, Kematian Nomor 3 Pada Bayi di Indoenesia
Dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, menyatakan bayi yang meninggal diusia 0 hingga 1 tahun sebanyak 146.000 bayi sedangkan 86.000 kematian bayi terjadi pada bayi baru lahir. Penyebab kematian pada bayi baru lahir antara lain Bayi Berat Lahir Rendah  (BBLR) sebanyak 226 bayi, cacat bawaan sebanyak 320 bayi dan kekurangan oksigen (asfiksia) sebanyak 199 bayi. Dari data SDKI terungkap bahwa asfiksia menduduki peringkat ketiga penyebab kematian bayi di Indonesia. Diagnosa asfiksia baru dapat diketahui ketika bayi baru lahir yang disertai ciri-ciri dari asfiksia yaitu mengalami sesak nafas pada bayi baru lahir.

Asfiksia adalah adanya penimbunan CO2, hipoksia progesi (kekurangan oksigen) dan asidosis (banyaknya asam yang masuk dalam cairan tubuh pada darah dan tubuh lainnya) atau terjadi gangguan pernafasan pada bayi baru lahir. Penyebabnya pun bermacam-macam antara lain :

1. Faktor ibu 
Biasanya ibu mengalami hipoksia yang diakibatkan pemberian obat analgetika atau anestesia dalam dan adanya gangguan aliran darah uterus.

2. Faktor plasenta
Adanya pertukaran gas pada ibu dan janin pada luas dan kondisi plasenta. Semisal perdarahan plasenta.

3. Faktor fetus
Terjadi gangguan pada aliran darah pada tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat pada janin dan jalan lahir.

4. Faktor neonatus
Terjadi karena pemakaian obat anestesi yang berlebih pada ibu, trauma ketika persalinan, kelainan kongenital pada bayi

Penanganan di rumah sakit diberikan berdasarkan jenis asfiksia pada bayi apakah ringan, sedang dan berat. Penanganan yang tepat pada bayi asfiksia akan membantu menekan angka kematian bayi di Indonesia.

Related posts:

No response yet for "Asfiksia, Kematian Nomor 3 Pada Bayi di Indoenesia"

Post a Comment