Berwisata Ke Waduk Rowo Jombor Klaten

BERWISATA KE WADUK 
ROWO JOMBOR KLATEN
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Waduk Rowo Jombor Klaten
Waduk Rowo Jombor Klaten

Kabupaten Klaten memiliki banyak obyek wisata, baik wisata alam, wisata budaya, wisata spiritual, maupun wisata kuliner. Salah satunya yang tergolong besar dan lengkap adalah obyek wisata Waduk Rowo Jombor. Di sekitar obyek wisata ini terdapat pemandangan alam yang indah, situs peninggalan jaman dahulu yang diyakini mempunyai nilai sejarah, museum pertanian, pusat-pusat kerajinan, warung apung, arena olah raga, arena bermain, dan lain-lain.

Waduk Rowo Jombor terletak di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat,   + 8 Km. (delapan kilo meter) ke arah tenggara dari pusat Kota Klaten. Dari Kota Klaten ada dua rute perjalanan yang dapat ditempuh menuju ke obyek wisata ini. Lewat jalur barat: Kota Klaten – pertigaan Bendogantungan Desa Sumberejo, belok kiri / ke arah selatan – Desa Danguran – Desa Glodogan – Desa Jimbung – Rowo Jombor. Lewat jalur timur: Kota Klaten – Stasiun Klaten – By Pass – belok kanan / ke arah selatan – Terminal Klaten yang bari dibangun -- Kelurahan Buntalan – Desa Jimbung – Rowo Jombor.    

Jika ingin menikmati suasana pedesaan yang tenang sambil melihat pemandangan alam yang indah, datanglah pada hari-hari biasa atau hari Minggu. Tetapi kalau ingin menikmati suasana meriah bersama-sama orang-orang yang sedang sama-sama berwisata, sambil menikmati suguhan berbagai atraksi wisata dan memilih berbagai souvenir sebagai kenang-kenangan yang banyak dijajakan di sepanjang jalan, datanglah pada perayaan Syawalan, yang diselenggarakan beberapa hari setelah usai bulan Ramadhan, yang puncaknya pada tanggal 8 bulan Syawal tahun hijriah.

Apabila kita datang pada hari-hari biasa atau hari Minggu, bukan pada perayaan Syawalan, setelah membeli karcis retribusi tanda masuk, jangan segera memarkir kendaraan dahulu. Tetapi marilah kita berjalan-jalan dahulu mengitari waduk Rowo Jombor. Jalan aspal yang merupakan lingkar tanggul tepi waduk yang lebarnya 12 m (dua belas meter) ini, terutama di sisi barat dan utara pada perayaan Syawalan selalu macet karena banyaknya pengunjung yang berjalan-jalan atau ingin masuk memadati warung apung yang banyak tersebar di sisi barat dan utara waduk. Kalau kita masuk dari sisi selatan, marilah kita belok kanan untuk mengelilingi waduk Rowo Jombor yang panjangnya ada 7,5 Km. (tujuh setengah kilo meter). Sambil berjalan pelan-pelan kita lihat pemandangan alam dan menikmati suasana di sekeliling kita. Betapa luasnya waduk yang sedang kita kelilingi, yaitu ada 198 hektar. Bentuknya memang tidak persegi empat, tetapi segi banyak tidak beraturan. Waduk ini mempunyai kedalaman 4.5 m (empat setengah meter) dan mampu menampung air 4.000.000 m3  (empat juta meter kubik). Tujuan utama pembuatan waduk Rowo Jombor adalah untuk menampung air dari sungai-sungai di sekitarnya untuk mengendalikan banjir, dan sebagai persediaan air irigasi untuk mengoncori sawah-sawah di sekelilingnya pada musim kemarau. Namun kemudian juga dimanfaatkan untuk keperluan lain, seperti pariwisata dan perikanan.  

Di musim penghujan air waduk berlimpahan, sehingga sejauh mata memandang dari tepi waduk tempat kita berdiri ke tepi waduk di seberang sana, kita akan melihat genangan air yang luas. Di tepinya di sisi barat dan utara, terlihat warung apung berjajar-jajar dalam berbagai bentuk, ukuran dan warna-warni, berebut memperdengarkan musik lagu-lagu dangdut, campur sari maupun tembang kenangan yang didendangkan di masing-masing warung apung untuk menarik perhatian pengunjung. Di sisi selatan dan timur, orang-orang melatih kesabaran, memancing ikan dengan penuh harapan keberuntungan menghampirinya. 

Di luar tanggul, petak-petak sawah menghampar hijau subur, karena tidak kekurangan air dan hidup di tanah yang subur. Nun jauh di sana, deretan bukit dan pegunungan nan hijau mengelilingi dari sisi selatan dan  timur  berlapis-lapis deretan pegunungan seribu, di sisi utara berderet bukit Gunung Butak. Sedangkan di sisi barat berderet pegunungan kapur Bukit Sidagora. Deretan pegunungan yang mengelilingi waduk tersebut seakan menjadi benteng, melindungi kawasan waduk Rowo Jombor dari serangan musuh.  Teristimewa di sisi utara, sebagai latar belakang, kita dapat melihat Gunung Merapi berdiri dengan gagahnya dengan asap mengepul di puncaknya. Di sampingnya Gunung Bibi dan Gunung Merbabu setia mendampinginya. Di kaki-kaki bukit tampak rumah-rumah penduduk di sela-sela pepohonan di pekarangan penduduk yang masih luas. Sesekali burung-burung kuntul, sriti dan burung-burung rawa lainnya seperti burung bambangan kuning dan burung bambangan merah, terbang dari tempat yang satu ke tempat yang lain mencari makan di lingkungan waduk atau rawa. Pada saat terbit matahari, kita dapat melihat sun set yang menakjubkan di air waduk yang melimpah dari tepi rawa. Demikian pula pada saat matahari menjelang tenggelam, kita dapat melihat sun rise yang indah terpantul dari air danau.

TAMAN BUKIT SIDAGORA
Setelah puas mengelilingi waduk, sampai di sisi barat kita parkir kendaraan pada tempat penitipan yang banyak tersebar di tepi waduk. Lalu kita naik ke bukit Sidagora melalui pintu gerbang di sisi selatan. Jalan aspal halus menanjak dan sebuah gapura bertuliskan “Taman Bukit Sidagora” menyambut kedatangan kita. Terus naik sambil terbungkuk-bungkuk karena kemiringan jalan yang cukup terjal, sambil berolahraga, kita akan sampai di arena panggung hiburan. Pada perayaan Syawalan dan di hari-hari besar yang diperkirakan akan banyak didatangi pengunjung, misalnya tahun baru, di panggung hiburan sering diadakan pertunjukan sebagai atraksi wisata untuk menarik pengunjung dan untuk memberi hiburan segar bagi masyarakat. Pentas dangdut, band, campur sari, dan reog atau kuda lumping sering digelar di tempat ini. 

Upacara kirab gunungan ketupat puncak ritualnya juga di tempat ini. Upacara tersebut dilaksanakan setiap tahun pada bakdo kupat atau hari raya ketupat, sekitar tanggal 5 – 8  bulan Syawal tahun Hijriah. Pada perayaan ini  tidak kurang dari 40 gunungan ketupat diperebutkan para pengunjung di pelataran panggung hiburan di bukit Sidagora ini. Gunungan yang berasal dari sumbangan instansi pemerintah, perusahaan daerah, perbankan, perusahaan swasta, kecamatan-kecamatan dan warga setempat, setelah dikirab keliling dari halaman Masjid Raya Klaten, melalui pertigaan Bendogantungan - Desa Danguran - Desa Glodogan - Desa Jimbung, sampai di depan Gapura Bukit Sidagora berhenti. Lalu dipikul petugas yang berpakaian tradisional kejawen dibawa ke atas Bukit Sidagora di pelataran panggung hiburan. Setelah didoakan seorang ulama, oleh Bapak Bupati Klaten gunungan ketupat tersebut diserahkan kepada panitia untuk dibagikan kepada masyarakat sebagai sedekah. Adegan selanjutnya adalah ramainya  pengunjung memperebutkan ketupat yang menempel menghiasi gunungan sampai tak tersisa. Menurut kepercayaan penduduk, ketupat dari gunungan yang sudah didoakan seorang ulama ini membawa berkah untuk kelancaran mencari rejeki maupun untuk kesehatan dan keselamatan, serta ketentraman hidup mereka.  Istilah mereka ngalap berkah.

Naik lagi dari pelataran panggung hiburan ke atas bukit, kita disambut tempat mainan anak-anak seperti ayunan, mobil-mobilan, plorotan, dan lain-lain. Naik lagi kita akan melihat dan dapat berfoto bersama patung-patung binatang dalam ukuran cukup besar. Ada dinosaurus, katak, monyet, kura-kura, dan lain-lain. Patung-patung tersebut tersebar di antara gundukan tanah kapur yang semakin meninggi, pepohonan dan semak-semak. Kalau kita naik lagi kita akan menemukan shelter-shelter untuk duduk bersantai dan gardu-gardu pemandangan. Kita dapat naik ke gardu pemandangan tersebut untuk melihat pemandangan di sekeliling kita. Dari atas gundukan tanah atau di bawah shelter-shelter di atas bukit Sidagora ini saja dapat kita lihat pemandangan sekeliling yang luas dan menakjubkan, apalagi kalau kita dapat naik ke gardu pemandangan, tidak kedahuluan para pengunjung lain yang  biasanya memenuhi gardu-gardu pemandangan, tentu lebih banyak yang dapat kita lihat, tanpa penghalang. 

Di bawah kita di sisi timur, kita dapat melihat hamparan waduk Rowo Jombor yang luas dengan deretan warung apung di tepinya. Suara musik dan lagu-lagu yang berasal dari warung apung terdengar sampai di telinga kita yang ada di atas. Melihat sisi utara, kita akan melihat pemandangan yang menakjubkan. Gerumbul-gerumbul pedesaan  bersembulan di sela-sela petak-petak sawah yang rapi bergaris-garis sejajar menghijau.  Di kejauhan tampak desa-desa dan kota Klaten dengan ciri-ciri yang dapat dikenali. Di sebelah barat tampak pipa pabrik gula Gondang Winangun tak henti mengepulkan asap di musim giling. Di sisi tengah dapat kita lihat Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Suraji Tirtonegoro, kompleks gedung Kantor DPRD dan Pemda Klaten, Masjid Raya Klaten dengan menaranya yang menjulang tinggi, lalu menara air PDAM di Jonggrangan. Semuanya terlihat dengan jelas di antara rumah-rumah, jalan-jalan dan pepohonan yang nampak indah dipandang. 

Lebih jauh lagi memandang ke arah utara, kita akan melihat betapa agungnya kuasa Tuhan Pemelihara Alam Semesta. Desa-desa dan pepohonan yang semakin naik merangkaki lereng-lereng Merapi dan Merbabu berliku-liku, terlihat dengan jelas indah sekali dari atas bukit Sidagora ini. Di sisi selatan dan timur kita dapat melihat deretan Pegunungan Seribu yang berlapis-lapis melingkungi kita. Lereng-lereng bukit dengan puncak-puncaknya yang nampak seperti saling berebut ketinggian, bersembulan di sana-sini terlihat jelas nyata. Bayang-bayang awan  yang menutup sinar matahari, menampilkan permainan gelap-terang, seakan menyuguhkan permainan warna biru-hijau yang saling berkejar-kejaran, dan menunjukkan kepada kita, yang mana puncak-puncak dan lereng dan yang mana jurang. Gunung Lawu meskipun hanya terlihat kecil di kejuhan di sebelah timur juga terlihat dari sini.

Puas melihat-lihat pemandangan alam sambil merenung-renungkan keagungan Tuhan Sang Pencipta dan Sang Pemelihara alam semesta, kita turun lagi. Dapat ke arah semula ke selatan, atau melanjutkan perjalanan ke utara melalui lereng jalan setapak di antara pohon-pohon perdu, lalu turun ke perkampungan penduduk persis di bawah bukit Sidagora yang juga dinamai penduduk sebagai bukit toris. Dinamakan toris mungkin karena sebelum adanya warung apung, bukit inilah yang menjadi tujuan utama para wisatawan atau tourist.

WARUNG APUNG
Sekarang kita menuju ke warung apung yang sudah menanti kita dengan masakan berbagai ikan air tawar. Dinamakan warung apung karena warung yang cukup luas mengitari kolam ini memang mengapung di atas air waduk Rowo Jombor. Warung yang jumlahnya banyak sekali berderet-deret di tepi rawa ini terbuat dari bilah-bilah bambu dijalin dan ditata sedemikian rupa, didirikan di atas drum-drum bekas tempat minyak, sehingga kalau kita berjalan-jalan di atas lantai warung  terasa bergoyang-goyang. Warung apung ini terletak agak ke tengah, sehingga untuk sampai ke sana kita harus naik rakit yang ada di atas drum-drum, ditarik dengan tali tambang dari tepi waduk sampai ke bibir warung apung.

Sesampai di pintu warung, setelah pesan masakan yang kita sukai kita dapat menunggu di bangku-bangku yang tersedia. Sambil menanti masakan siap, kita dapat mancing ikan di kolam yang tersedia di tengah warung. Pancing dan makanan ikan berupa lumut sudah disediakan. Atau duduk-duduk saja bersantai menyaksikan hiburan yang disediakan berupa organ tunggal. Yang bakat nyanyi dapat menyumbang lagu. Yang menginginkan lagu kesukaannya dinyanyikan dapat request pesan lagu sambil memberi saweran kepada penyanyinya. Yang ingin bermain sendiri menikmati fasilitas yang disediakan, dapat bermain perahu bebek air atau berdayung sampan berputar-putar di kolam, atau bermain bebek darat berputar-putar di atas lantai bambu bergoyang-goyang. Mandi bola atau mainan ayunan bagi anak-anak pun tersedia. 

Atau diam saja, duduk bersanding dengan sang pacar sambil menikmati semilir angin membelai rambut sang kekasih. Mengamati dengan penuh minat kupu-kupu atau capung yang terbang bolak-balik di sepanjang tepian warung apung, yang sesekali terbang cepat menyambar sesuatu entah apa di permukaan air. Pemandangan yang biasa bagi orang desa di sekitar rawa ini, bisa jadi tamasya yang mengasyikkan yang tak mungkin dapat kita temui di kota, yang sibuk dengan urusan mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidup.      

Saat makanan sudah siap, kita berkumpul mengitari meja makan yang dibuat berkaki pendek. Kita duduk lesehan di lantai warung beralaskan karpet, menikmati makanan hangat nan lezat yang tersaji. Nasi putih wangi dalam bakul, ikannya ada lele, gurame, nila, bawal atau udang. Masakannya bisa  digoreng, dibacem, asam pedas, asam asin atau agak manis. Tergantung permintaan kita. Sambal trasi dan lalapan kobis, mentimun, irisan tomat, daun kemangi, menjadi pelengkapnya. Tambahan tumis kangkung dan trancam dapat juga dipesan bagi yang menyukai. Minumnya bisa teh panas, teh botol dingin, es teh,  es sirup, fanta atau sprite dan es batu, atau soda gembira. Tinggal mana yang kita suka. Pokoknya sajian di warung apung ini komplit, sehat dan terjangkau, karena harganya pun tidak mahal untuk ukuran hidangan di tempat wisata kuliner. 

Yang lebih istimewa, yang tidak akan dapat kita jumpai di restoran tempat wisata kuliner di kota, adalah kita dapat menikmati lezatnya masakan sambil menikmati suasana wisata yang betul-betul indah dan mengesankan. Karena tanpa harus repot-repot mencari AC atau kipas angin kita sudah dikipasi oleh angin rawa yang sejuk segar dan bersih yang baru saja melalui persawahan, pedesaan dan pegunungan yang bebas dari polusi. Mata kita pun dimanjakan oleh pemandangan indah di sekeliling kita: para nelayan berdayung sampan sambil memancing, menebar jala atau membongkar bubu mencari ikan sampai ke tengah waduk, para petani rawa yang sedang memanen kangkung dan membawanya di atas rakit; atau burung-burung pemakan daging, kuntul, bambangan kuning dan bambangan merah yang terbang di atas rawa lalu merendah menyambar ikan di permukaan rawa, lalu hinggap berpindah-pindah dari satu gerumbul tumbuhan air ke gerumbul tumbuhan air lainnya. Begitu juga bukit-bukit dan pegunungan, serta Gunung Merapi, Gunung Bibi, Gunung Merbabu, dan Gunung Lawu yang tadi kita lihat di atas bukit Sidagora, juga dapat kita lihat dan nikmati dari atas warung apung ini.  

BULUS JIMBUNG DAN LEGENDANYA
Setelah kenyang makan minum dan puas menyaksikan hiburan dan pemandangan indah di warung apung, kita kembali naik rakit yang ditarik tali tambang, kembali ke daratan. Kita sekarang bisa menuju ke situs Sendang Dana Tirta, tempat bermukimnya Bulus/kura-kura Jimbung yang legendaris. Lokasi situs ini sebenarnya sudah lain desa dan lain kecamatan, yaitu di Desa jimbung Kecamatan Kalikotes. Tetapi keberadaan sendang tempat hidup bulus keramat ini dengan Rowo Jombor dan Bukit Sidagora  tidak saja berdekatan, tetapi juga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bagi orang Klaten keduanya bagaikan selembar daun sirih. Meskipun bagian atas dan bagian bawah berbeda tetapi kalau digigit sama rasanya. Keduanya menyimpan legenda yang diyakini pernah benar-benar terjadi oleh masyarakat di sekitarnya.

Menurut legenda, bulus Jimbung yang asli itu ada empat. Yang dua berwarna hitam, laki-laki – perempuan diberi nama Ki Remeng dan Nyi Remeng. Yang dua lagi berwarna belang hitam dan putih, laki-laki – perempuan diberi nama  Ki Poleng dan Nyi Poleng. Ceritanya begini: di daerah Purwodadi Grobogan kini, pada jaman dahulu ada negara bernama Kalingga atau Keling. Raja Keling mempunyai seorang puteri yang sudah saatnya membangun rumah tangga, bernama Dewi Wahdi. Sebagai seorang puteri raja ia diperkenankan memilih jodohnya sendiri. Pilihannya jatuh kepada Pangeran Jaka Patahwan atau orang desa menyebutnya Jaka Patohan dari Negara Wiratha yang sekarang terletak di daerah Jepara. 

Untuk mengetahui kejujuran rakyat Wiratha yang mencerminkan kejujuran pemimpinnya, termasuk kejujuran Jaka Patohan sebagai putera raja Wiratha, dan juga untuk melihat ketegasan rajanya dalam menegakkan keadilan, raja Keling memerintahkan Patih Tambak Baya untuk menguji rakyat Negara Wiratha. Ia diperintah meletakkan bokor kencana berisi bermacam-macam barang perhiasan di jalan di wilayah Negara Wiratha. Setelah beberapa hari bokor kencana tidak ada orang yang mengambil ataupun menyentuhnya, karena takut hukuman yang akan diterima kalau sampai berani mengambil milik orang lain, Patih Tambak Baya bermaksud mengambil kembali barang basangan tersebut untuk dikembalikan kepada raja junjungannya. Patih Tambak Baya berkesimpulan bahwa Pangeran Jaka Patohan memang pantas menjadi suami Dewi Wahdi, karena ia putera ratu yang adil dan tegas mematuhi hukum. Terbukti rakyatnya tidak suka mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Tiba-tiba ada seorang jejaka mengendarai kuda  mencegah perbuatan Patih Tambak Baya yang akan mengambil bokor kencana tersebut. Pemuda itu tidak tahu kalau yang akan mengambil adalah Patih Tambak Baya yang menaruh sendiri barang basangan tersebut, karena patih itu menyamar. Tetapi karena tergesa-gesa pemuda tersebut terjatuh menginjak bokor kencono sehingga rusak. Patih Tambak Baya tidak terima lalu mengajak pemuda tersebut menghadap Ratu Wara Simha untuk minta pengadilan. Sang Ratu menganggap salah perbuatan pemuda tersebut dan memutuskan untuk menghukumnya. Pemuda yang tak lain adalah Pangeran Jaka Patohan, puteranya sendiri itu dihukum potong satu kakinya sebatas mata kaki.

Kemudian karena malu, dengan diikuti Ki Sidagora abdi setianya, Jaka Patohan mengembara menjalani tapa ngrame sambil tak henti-hentinya berdoa memohon ampunan dan kesembuhan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. 

Perjalanan Jaka Patohan bersama abdinya sampailah di bukit Gunung Buthak yang sekarang terletak di sebelah utara Rowo Jombor. Di bukit ini  ia mendapat wangsit (bisikan gaib) untuk merendam kakinya di Sendang Ngembel (sendang lumpur) yang ada di sebelah timur bukit Gunung Buthak. Ajaib! Begitu kakinya direndam disertai doa permohonan di sendang ini, tiba-tiba kakinya sembuh, sehingga ia dapat berjalan seperti sedia kala. Meskipun begitu ia tidak ingin kembali ke Negara Wiratha. Ia melanjutkan perjalanan hingga sampai di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Jimbung. Di sini ia bermukim dan membangun perkampungan yang semakin lama semakin ramai, hingga kemudian tumbuh menjadi kerajaan kecil yang diberi nama Kerajaan Jimbung.

Lama-lama Kerajaan Jimbung semakin makmur dan bertambah besar serta termasyur sampai ke manca negara. Munculnya Negara Jimbung yang dipimpin Raja Jaka Patohan terdengar juga oleh Dewi Wahdi yang sudah lama merindukannya. Ia yang memang sebetulnya sejak semula sudah jatuh cinta kepada Pangeran Jaka Patohan, ditambah perasaan berdosa karena secara tidak langsung telah menyebabkan pemuda yang dicintai menjadi celaka, bermaksud ingin menemui Pangeran Jaka Patohan untuk meminta maaf sekaligus melamar pemuda pujaan hatinya menjadi suaminya. Kepergiannya diiringkan empat orang abdinya. Dua orang abdinya laki-laki dan perempuan yang berkulit hitam adalah suami istri Ki dan Nyi Remeng. Dua orang abdinya laki-laki dan perempuan yang berkulit belang hitam – putih adalah suami istri Ki dan Nyi Poleng. Mereka datang dengan membawa barang-barang hantaran berupa perhiasan dari emas dan permata yang sangat banyak dan tak ternilai harganya.

Permintaan maaf Dewi Wahdi diterima oleh Prabu Jaka Patohan. Tetapi lamaran Dewi Wahdi ditolak dengan halus, karena Prabu Jaka Patohan bermaksud hidup wadat, sendirian tidak beristri. Meskipun Dewi Wahdi terus memaksa, Prabu Jaka Patohan tetap menolak. Karena tak kuat menahan malu lamarannya ditolak, akhirnya Dewi Wahdi bunuh diri dengan menusukkan keris patrem di dadanya. Dewi Wahdi mati, para abdi tidak terima. Mereka marah dan selalu menyalahkan Prabu Jaka Patohan, yang dianggapnya tidak tahu diri, sebagai raja kecil berani menolak lamaran puteri raja gung binatara.  Karena tak berani melawan Prabu Jaka Patohan, mereka hanya dapat mengumpat dan menghujat. Tetapi meskipun demikian, karena umpatan dan hujatan itu dilakukan terus-menerus, sambil klesat-klesot duduk menghentak-hentakkan kaki berselunjur di tanah, membuat Prabu Jaka Patohan menjadi kesal dan tak tahan lagi. Akhirnya raja yang sakti itu menyumpahi abdi-abdi Dewi Wahdi yang mengumpat-umpat sambil duduk klesat-klesot menghentak-hentakkan kaki berselunjur di tanah seperti tingkah laku kura-kura itu, menjadi bulus atau kura-kura.                  

Setelah menyadari perubahan wujud pada dirinya, para abdi itu menyadari kesalahannya dan menyesal. Mereka memohon maaf dan minta untuk dikembalikan ke wujud semula sebagai manusia. Tetapi Prabu Jaka Patohan tidak sanggup, karena itu semua sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Akhirnya mereka minta tempat hidup yang sesuai dengan wujudnya. Prabu Jaka mengajak para abdi yang sudah berubah ujud berjalan beberapa ratus meter ke sebelah barat kraton. Sampai di tempat yang dituju, Prabu Jaka menancapkan tongkatnya. Ketika tongkat dicabut keluarlah air jernih dari mata air yang kemudian membentuk sendang. Agar tempat itu terasa teduh, Prabu Jaka menancapkan tongkatnya sekali lagi, maka berubahlah menjadi pohon randu alas yang dengan cepat tumbuh menjadi besar menaungi tempat itu. 

Ki Remeng dan Nyi Remeng yang sudah berubah ujud menjadi kura-kura berwarna hitam, dan Ki Poleng dan Nyi Poleng yang sudah berujud menjadi kura-kura berwarna belang hitam-putih, diijinkan untuk tinggal di sendang yang baru saja tercipta. Mereka dengan suka cita berlari menceburkan diri ke sendang. Merasa cocok dengan tempatnya yang baru mereka berenang ke sana ke mari lalu masuk ke lubang (rong) yang ada di bawah pohon randu alas. Seiring dengan itu barang-barang perhiasan yang semula dimaksudkan sebagai barang hantaran lamaran Dewi Wahdi kepada Prabu Jaka Patohan, ikut menggelinding masuk ke dalam sendang  dan dikuasai para Bulus Jimbung Ki/Nyi Remeng dan Ki/Nyi Poleng. Sedangkan jenasah Dewi Wahdi lalu dikuburkan di pinggir jalan tak jauh dari Sendang Dana Tirta tempat tinggal abdi-abdinya. Sendang bulus Jimbung diberi nama Sendang Dana Tirta oleh Prabu Jaka Patohan, dengan maksud agar air sendang itu memberi dana atau memberikan kebutuhan bagi yang membutuhkan. Maka sampai sekarang sering ada  orang yang tirakat ngalap berkah di sendang keramat ini.       
     
Perayaan Syawalan berupa berbagai tontonan dan atraksi wisata, seperti tong setan, bola maut, ombak banyu, jinantra, jaranan, atraksi sulap atau sihir, dan penjualan berbagai barang souvenir, pakaian dan makanan di selenggarakan di pelataran dan jalan-jalan di sekitar Sendang Dana Tirta ini.  

Kematian Dewi Wahdi akhirnya diketahui oleh raja Keling. Mereka tidak terima lalu mengutus Patih Tambak Baya dan bala tentara prajurit yang cukup besar untuk menggempur Kerajaan Jimbung. Karena merasa tidak akan sanggup melawan serangan musuh, dan kasihan kepada rakyatnya, maka Prabu Jaka Patohan menyembunyikan keraton dan rakyatnya di alam gaib. Abdi setianya Ki Sidagora bersembunyi di benteng keraton sebelah barat yang kemudian tampak sebagai bukit dinamai bukit Sidagora. Sedang ia sendiri tetap tinggal di keraton yang sekarang nampak sebagai rawa atau danau kecil, dinamai Rowo Jombor.

Patih Tambak Baya beserta bala tentara dari Kerajaan Keling sesampai di Jimbung kecele. Mereka tidak menjumpai kerajaan yang megah, tetapi hanya melihat adanya rawa dengan airnya yang berlimpah-limpah. Itulah Rowo Jombor yang mereka lihat. Akhirnya mereka kembali pulang, tidak jadi berperang.   

Legenda ini menurut kepercayaan penduduk setempat terjadinya sudah ratusan tahun yang lalu. Secara logika orang yang hidup di jaman itu sekarang pasti sudah mati. Demikian pula binatang seperti kura-kura yang hidup di jaman itu, sekarang pasti juga sudah lama mati. Tetapi sekarang masih sering kita temui adanya kura-kura berenang-renang di air Sendang Dana Tirta. Betulkah kura-kura itu Ki/Nyi Remeng atau Ki/Nyi Poleng yang ada dalam legenda keramat ini? Ataukah binatang-binatang itu keturunannya? Atau mungkin binatang lain, kura-kura anak buahnya atau kura-kura biasa saja yang ikut tinggal di situ, sedangkan Ki/Nyi Remeng dan Ki/Nyi Poleng sudah menjadi siluman yang hidup di alam gaib, dan hanya menemui orang yang terkabul permohonannya? Kita semua tidak tahu. Tetapi ada suatu kejadian, pada bulan Maret tahun 2009 yang lalu ditemukan bulus Jimbung dengan ukuran besar mati. Cangkangnya menyerupai punggung manusia. Karena dianggap keramat, kura-kura tersebut dilarung atau dihanyutkan di Pantai Parangkusumo Laut Selatan.  

RUMAH DEMIT atau RUMAH DINAMIT?
Di sebelah utara makam Dewi Wahdi ada suatu bangunan yang sangat menarik perhatian orang. Bangunan sebuah rumah kecil di atas bukit kapur yang oleh penduduk disebut sebagai gunung gajah itu nampak misterius. Rumah kecil yang seperti terletak di ujung belalai gajah itu sungguh indah dipandang maupun difoto, tetapi juga tampak sangat mengkhawatirkan, kalau-kalau tiba-tiba runtuh, karena tanah kapur penyangganya tidak luas, padahal berada di tempat yang tinggi. Tetapi ternyata ia tetap kokoh berdiri tak bergeming sedikit pun, meskipun hujan dan panas silih berganti menghantamnya. Penduduk pun tak henti-henti menambang batu kapur di sekelilingnya. Bahkan ketika terjadi gempa bumi besar di Yogyakarta dan Klaten pada tahun 2006, di mana banyak rumah-rumah beton roboh rata tanah, rumah kecil dan tanah bukit batu kapur yang menyangganya tetap kokoh berdiri. Utuh, tidak runtuh!

Orang-orang menamakannya Rumah Demit (rumah jin atau setan) karena letaknya yang terpencil sendirian di ketinggian yang tak terjamah manusia. Tetapi penulis pernah bertanya kepada penduduk setempat mengenai bangunan misterius tersebut. Menurut mereka bangunan itu sudah ada sejak jaman Belanda, sebagai tempat menyimpan senjata. Ketika itu orang membangun rumah masih sangat memerlukan batu kapur sebagai campuran semen batu merah dan pasir, serta semen blawu. Untuk menambang batu kapur, kalau penduduk menggunakan pecok, cangkul, atau pethel, tetapi kalau orang Belanda yang sudah lebih maju teknologinya menggunakan dinamit untuk meledakkan bukit kapur. Runtuhan bukit kapur yang sudah diledakkan itulah yang diambil untuk dibakar di tobong gamping. Nah.. rumah di atas bukit itulah tempat menyimpan dinamit pada jaman Belanda. Dari rumah untuk menyimpan dinamit itulah kemudian orang memelesetkannya menjadi rumah demit. Tetapi mungkin juga mereka tidak keliru, karena rumah itu sudah berada jauh di atas seperti di menara gading, sehingga tidak pernah dijamah manusia, maka kemudian bisa jadi dijadikan tempat tinggal demit atau jin atau setan, maka jadilah rumah dinamit menjadi rumah demit.  

ATRAKSI WISATA
Untuk menarik wisatawan lebih banyak, terutama pada even-even tertentu di sekitar Waduk Rowo Jombor sering diadakan atraksi wisata. Selain puncak upacara Syawalan yang ditandai dengan sedekah gunungan ketupat yang jumlahnya puluhan, pada rangkaian acara Syawalan setelah bulan puasa sering diadakan atraksi wisata Lomba Rakit atau Balapan Gethek, Lomba Lari mengelilingi Waduk Rowo Jombor, Lomba Tangkap Itik, dan berbagai pentas seni seperti Pentas Dangdut, Pentas Campur Sari, Pentas Reog, Kuda Lumping dan Jathilan.

Di sirkuit motocross sering juga diadakan balap motor, kalau tidak di arena sirkuit di sisi utara waduk ya di Bukit Gunung Buthak. 

Untuk menghubungkan dua kutub keramaian di lokasi wisata Sendang Dana Tirta Bulus Jimbung dengan lokasi wisata Waduk Rowo Jombor, disediakan kendaraan Kereta Kelinci atau sepur mini yang dapat dinaiki wisatawan dengan membeli karcis yang cukup murah.  

OBYEK WISATA LAIN
Apabila kita mempunyai waktu luang yang panjang untuk berwisata di Desa Wisata Jimbung dan Krakitan di kompleks Waduk Rowo Jombor Permai, masih banyak obyek wisata yang dapat kita kunjungi. 

Tempat-tempat wisata di sekitar waduk tersebut tersebar di beberapa dukuh. Dapat disebutkan di sini: 

  1. Di Dukuh Selorejo: Wisata Museum Pertanian, Wisata Peternakan Sapi, Wisata Sawah Organik, Wisata Kerajinan Payet.
  2. Di  Desa Jimbung: Wisata Religi Makam Sayid Habib, Wisata Religi Makam Putri Keling / Dewi Wahdi, Wisata Peternakan Burung Jalak, Kolam Renang Pemandian Tirta Pelangi.
  3. Di Dukuh Drajat: Wisata Batik Tulis, Wisata Kerajinan Grabah Batik Tulis, Wisata Religi Makam Jati Kusuma; Wisata Pembibitan Tanaman Keras seperti pohon jati, pohon mahoni, pohon mangga, pohon rambutan, pohon kelengkeng dan lain-lain.
  4. Di Dukuh Krakitan: Wisata Batik Tulis, Wisata Religi Makam Pantja Slameta. 

Warung Apung Rawa Jombor (c) Masdi MSD

Makam Putri Keling yang mati bunuh diri akibat kasih tak sampai(c) Masdi MSD

Rumah "Demit" atau "Rumah Dinamit" (c) Masdi MSD

Sendang Dana Tirta. Anak-anak siap berebut koin yang dilemparkan pengunjung. Tak takut Bulus Jimbung bisa tiba-tiba muncul berenang-renang  di sendang. (c) Masdi MSD

Peta Lokasi Waduk Rowo Jombor - Klaten


View Rawa Jombor in a larger map>

PENUTUP
Itulah sekilas Obyek Wisata Waduk Rowo Jombor dan sekitarnya yang terletak di Desa Krakitan Kecamatan Bayat dan di Desa Jimbung Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten. Suatu daerah tujuan wisata yang pantas untuk dikembangkan dan dipromosikan lebih gencar agar semakin berkembang, sehingga dapat menjadi tujuan wisata yang dapat dinikmati sebagai wisata yang bernuansakan alam pedesaan dan pegunungan yang eksotis. Dan dapat menambah kesejahteraan warga di sekitar Rowo Jombor, serta dapat menambah pendapatan asli daerah bagi Kabupaten Klaten.
***
         Penulis: Sutardi MS Dihardjo
         PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
         Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
         Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
         KLATEN 57422
         Nomor HP. 085642365342
         Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Related posts:

No response yet for "Berwisata Ke Waduk Rowo Jombor Klaten"

Post a Comment