Cerpen: Kuantar Sampai di Pintu Surga

Oleh: Sutardi MS Dihardjo

“Ada telepon dari In. Mbak-Ni minta tetirah di Klaten. Rencananya akan bergantian tinggal di rumah saudara-saudaranya yang ada di Klaten,” kata adikku sambil menyerahkan HP kepadaku. Sambil membayangkan keadaan Mbak-Ni yang terakhir aku lihat ketika membezuk di rumah Iin, HP aku terima. Tak lama kemudian HP itu bergetar dan memperdengarkan nada dering yang kali ini terasa pedih mengiris hati.

“Assalamu’alaikum. Bagaimana keadaan ibumu, In?” tanyaku kepada keponakanku yang sudah dua bulan merawat ibunya yang sakit di RSU Dr. Sarjito ditambah tiga minggu merawat di rumah.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarahkatuh. Ya begitulah, Lik. Setiap hari ibu menjerit-jerit kesakitan terus. Kami sampai malu kepada tetangga. Mas Amat sudah menanyakan ke Abah di Pekalongan, disarankan agar ibu tetirah di Klaten, tempat orang tuanya dan rumah saudara-saudaranya. Katanya ini merupakan salah satu upaya penyembuhan. Bagaimana Lik, apa Lik-Di dapat memintakan ijin kepada nenek?“ tanya Iin keponakanku lewat HP dari Yogya.

“Akan aku usahakan.Tapi bagaimana nanti membawanya ke Klaten, dan bagaimana membawanya pindah dari rumah satu ke rumah satunya lagi, In?” tanyaku tak mengerti. Karena aku tahu kakakku badannya terangkat sedikit saja sudah kesakitan bukan main. Aku melihat ketika ia dibawa pulang dari RSU Dr. Sarjito ke rumah Iin di kawasan Gedong Kuning Yogyakarta memakai ambulance. Sesampai di rumah untuk memindahkan dari brankar yang sudah dapat masuk rumah sampai samping tempat tidur ke tempat tidur yang jaraknya hanya beberapa senti saja tidak mudah, harus diangkat dengan seprei tanpa menyentuh tubuhnya.

“Dari Yogya ke Klaten naik ambulance. Sedangkan dari rumah satu ke rumah yang lainnya, itu kita pikirkan nanti. Yang penting sampai dan diterima di Klaten dulu. Tolong Lik-Di tanyakan kepada nenek, apa nenek mau menerima ibu tetirah di rumahnya?”

Akhirnya aku bersama adik-adikku mendatangi ibu yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Di hadapan ibu, aku, Lik-Ru dan Lik-Ti harus hati-hati mengatakan permintaan Mbak-Ni untuk tetirah. 

“Bu, Mbak-Ni disarankan Abahnya Amat untuk tetirah di Klaten. Rencananya nanti tiga hari di rumah ibu, tiga hari di rumah Lik-Ru, tiga hari di rumah Lik-Ti, tiga hari di rumahku, lalu tiga hari di rumah Pakdhe-Man. Baru setelah itu kembali ke Yogya ke rumah Iin atau pulang ke Blora di rumahnya sendiri. Selama itu setiap malam dilaksanakan jamaah dzikiran membaca Surat Yasin dan tahlil. Memohonkan ampunan dan kesembuhan bagi Mbak-Ni. Apakah ibu mengijinkan?” tanyaku dengan hati-hati.

Ibu tidak segera menjawab. Lama beliau berdiam diri. Kami memang sudah menduga, ibu pasti akan merasa keberatan menerima Mbak-Ni di rumahnya.

“Aku sudah tua. Aku sendiri sakit-sakitan. Apa nanti kalau Ni di rumah ini tidak mengganggu? Kalau nanti aku jatuh sakit siapa yang disalahkan?” Tanya ibu kepada kami. Aku tidak berani mendesak lebih jauh. Apalagi kemudian aku lihat ibu menangis tersedu-sedu. Aku merasa ibuku sangat egois, hanya memikirkan diri sendiri. Tidak kasihan kepada Mbak-Ni anak kandungnya, darah dagingnya! Kami pun berpamitan dengan perasaan galau.

Aku segera menghubungi Iin lewat HP setelah berunding dengan istriku, “In, aku sudah minta ijin kepada nenek. Nenekmu tidak bersedia menerima ibumu tetirah di rumah beliau. Begini saja, biar ibumu tetirah di rumahku. Aku sudah berunding dengan Lik-Yun, dia juga tidak keberatan menerima dan merawat ibumu di sini. Nanti biar Lik-Likmu yang lain yang tinggal berdekatan di sini ikut membantu merawat ibumu. Tapi aku mau tanya, apa Eni Vita-perawatnya juga ikut tinggal di sini? Soalnya kamu tahu sendiri, Lik-Yun itu paling tidak tahan kalau harus mengganti tempat urine atau menceboki orang sakit yang habis be-a-be.” 

“Terima kasih Lik-Di dan Lik-Yun mau menerima dan bersedia merawat ibu tetirah di rumah Lik-Di. Jangan khawatir, Eni Vita juga akan ikut di Klaten merawat ibu. Tugas pokok merawat ibu ada pada Eni Vita. Termasuk merawat luka-luka di punggungnya akibat kelamaan berbaring. Lik-Di dan yang lainnya hanya membantu saja.”

“Lalu kapan ibumu mulai tetirah di Klaten?”

“Kalau sudah diijinkan aku akan segera mencari ambulance ke RSU Sarjito. Secepatnya, mungkin besok Senin ibu sudah tetirah di Klaten. Jam sembilan berangkat dari Yogya. Disiapkan saja tempatnya, Lik.”

Hari ini hari Minggu. Hari Senin tinggal besok. Aku segera berbenah menyiapkan tempat untuk tidur Mbak-Ni. Kamar anak-anakku pada hari Senin – Jumat siang kosong. Karena anak-anakku kuliah di Solo. Tetapi bisaanya hari Jumat malam mereka pulang sampai hari Minggu. Biarlah kamar Arief, anak laki-lakiku saja yang aku siapkan untuk kamar Mbak-Ni. Masalah tidur Arief kalau pulang, biarlah nanti tidur bersama aku di kamarku.

Hari Senin jam sepuluh pagi dari kejauhan terdengar sirine ambulance meraung-raung menyayat hati, lalu berhenti di depan rumahku. Sopir keluar lalu membuka pintu belakang ambulance. Dari dalam keluar Iin keponakanku bersama Amat suaminya. Masih tertinggal di dalam, Mbak-Ni kakak kandungku terbaring di brankar. Jangankan bangun keluar sendiri, bergerak saja  tidak dapat. Hanya matanya yang bergerak-gerak dengan sorot mata yang redup. Mbak-Ni diangkat bersama brankarnya keluar dari mobil menuju tempat tidur yang sudah aku siapkan. Aku terharu melihat wajahnya yang pucat dan pasrah. Lebih-lebih setelah sampai di pembaringan,  selimut yang membalut tubuhnya disingkap, terlihat tubuhnya bagian atas kurus kering, tapi kaki-kakinya mulai pinggul ke bawah bengkak membesar.

“Bagaimana, Mbak? Senang tetirah di sini?” aku tanya kakakku untuk memberikan perhatian.
“Mbak sakit, Le. Maafkan Mbak ya, Le? Sebetulnya Mbak tidak ingin merepotkan siapa-siapa, tapi bagaimana lagi, dari Blora kalau mau kontrol ke Sarjito jauh. Selain In, anak-anakku yang lain tinggalnya jauh dari Sarjito. Di rumah In, aku diminta tetirah ke Klaten. Tapi ibu tidak mau menerima. Hanya kamu yang mau menerimaku. Aku minta maaf telah merepotkanmu,” kata Mbak-Ni kepadaku.

“Mbak-Ni tidak usah berpikir seperti itu. Mbak-Ni tidak merepotkan aku. Kami ikhlas mendampingi Mbak-Ni. Sebetulnya sudah lama aku merindukan saat-saat Mbak-Ni dapat menginap di rumahku berhari-hari. Kita bisa berbagi suka dan duka sebagai seorang saudara. Tetapi dulu, kalau Mbak-Ni pulang liburan ke Klaten tentu menginap di rumah ibu. Mampir ke rumahku hanya untuk beberapa jam saja. Sekarang Mbak-Ni kelakon menginap di rumahku berhari-hari. Meskipun dalam keadaan yang sebetulnya tidak kita inginkan,” kataku.

“Tapi seharusnya kita berkumpul seperti ini dalam keadaan sehat. Bukan kesakitan seperti ini,” kata Mbak-Ni iba.

“Inilah rahasia Allah, Mbak. Dan Mbak-Ni tidak usah merasa telah merepotkan aku. Ingat dulu aku juga pernah merepotkan Mbak-Ni. Waktu aku sakit sampai keluar dari sekolah, aku merasa malu tinggal di Klaten. Tidak sekolah dan masih dalam keadaan sakit, aku merasa masa depanku gelap waktu itu. Lalu aku ingin bersembunyi di Blora. Aku minta Mas-Jan menjemputku. Lalu di Blora Mbak-Ni dengan telaten mengobatkan aku dan memompa semangatku, sehingga aku dapat sembuh dan bangkit kembali untuk menempuh jalan hidupku, meraih cita-citaku. Mbak ingat semua itu?” Aku ingatkan hutang budiku kepada keluarga Mbak-Ni ketika aku melalui masa-masa sulit di usia remajaku. Kulihat Mbak-Ni mengangguk. 

“Aku tidak akan melupakan semua itu seumur hidupku. Semua memang atas kehendak Allah, tapi tanpa lantaran pertolongan Mbak waktu itu, aku tidak tahu apakah aku dapat berhasil jadi orang seperti sekarang ini. Itu budi baikmu yang insya-Allah mendapat pahala dari Allah.” Kemudian aku diam memperhatikan tubuh Mbak-Ni yang sungguh amat menyedihkan. Sebentar-sebentar terlihat menggerak-gerakkan bahunya ke atas dan ke bawah sambil matanya melotot menahan sakit. Dari mulutnya terdengar erangan kesakitan.

 ”Ada cerita tentang tiga orang yang terjebak dalam goa yang tiba-tiba tertutup oleh batu besar. Mereka satu persatu berdoa memohon pertolongan Allah dengan bertawasul atas amal kebajikan masing-masing. Ternyata dengan cara memperlihatkan amal kebajikan yang telah diperbuatnya itu, mereka berhasil menggeser batu yang menutupi gua sedikit demi sedikit, dan akhirnya dapat keluar. Sekarang Mbak-Ni terkurung di sini, berdoalah dengan betawasul atas kebajikan Mbak telah menolongku waktu itu. Insya-Allah Tuhan mengabulkan, melepaskan Mbak-Ni dari penderitaan ini. Semoga Mbak-Ni diberi kelapangan, bebas dari penderitaan ini,” kataku selanjutnya.

“Kenapa aku harus sakit seperti ini, Le? Apa salahku? Apa dosaku? Dhuh Gusti, saya mohon ampunanmu!” Mbak-Ni mengeluh sambil menitikkan air mata.

“Jangan meratap, Mbak! Jangan mengeluh! Mendapat cobaan seperti ini berarti Mbak-ni dipilih oleh Allah Yang Maha Pengasih. Semua orang pasti punya dosa, entah besar atau kecil. Demikian juga Mbak-Ni. Allah berkehendak untuk membersihkan dosa-dosa Mbak-Ni dan melipat-gandakan pahalanya. Dibanding mereka yang sakit stroke tidak bisa berkata-kata dan tidak dapat berbuat apa-apa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, atau mereka yang semula sehat tahu-tahu mati kecelakaan, tanpa sempat membersihkan dosa-dosanya, Mbak-Ni masih lebih beruntung. Kalau cobaan ini nantinya ujung-ujungnya Mbak-Ni harus dipanggil menghadap-Nya, Mbak-Ni masih sempat berdoa, memohon ampun dan memperbanyak amal dengan berzikir,” kataku menghibur. Kulihat Mbak-Ni diam memperhatikan. Meskipun kata-kata ini kalau dirasakan benar sungguh pedih karena menghadapkan langsung Mbak-Ni dengan kemungkinan kematian, kulihat Mbak-Ni menerimanya dengan ikhlas.

“Sebetulnya aku sudah ikhlas seandainya harus mati sekarang. Tetapi anakku Dion sekarang baru akan lulus SMA, masih harus kuliah lagi. Jadi aku masih semangat untuk hidup lebih lama untuk dapat mengantar Dion memperoleh kesuksesan,” kata Mbak-Ni meski pelan tapi penuh semangat.
“Mbak-Ni sekarang sakit. Pikirkan diri Mbak-Ni saja. Jangan memikirkan yang lainnya. Biarlah masalah Dion dan yang lainnya dipikirkan keluarga yang masih sehat. Mbak-Ni diberi sakit agar ingat pada kuasa Allah Yang Maha Besar, dan sadar pada keterbatasan Mbak-Ni sebagai hamba-Nya. Kalau sehat Mbak-Ni tentu sibuk mencari rejeki. Mungkin hanya sedikit waktu untuk beribadah dan mengingat Allah. Sekarang dengan hanya dapat berbaring begini, Mbak-Ni punya banyak waktu untuk mengingat Allah, berdoa, memohon ampunan, dan mengucapkan kalimat-kalimat toyibah yang banyak mendatangkan pahala. Jadi Mbak-Ni tak usah putus asa, bersyukurlah karena Allah mencintai Mbak-Ni,” kataku menghiburnya.

“Le, Mbak ingin diperiksakan ke Rumah Sakit sekali lagi. Mbak ingin dirongten. Tulang pinggulku ini masih baik atau tidak? Perlu operasi atau tidak? Mbak ingin diperiksakan ke RS Ortopedi Solo. Kalau memang masih baik dan tidak perlu operasi, berarti sakitku berbeda dengan sakitnya Bu Maya yang sudah berhasil sembuh setelah dioperasi. Kalau memang begitu ya sudah aku pasrah.” Mbak-Ni berhenti sebentar karena rupanya rasa sakit itu tiba-tiba menyerangnya secara mendadak. Mbak-Ni hanya bisa menggerak-gerakkan bahunya ke atas dan ke bawah sedikit sambil mengerang-ngerang untuk menahan rasa sakitnya. 

“Tolong periksakan aku sekali lagi ya, Le! Bukankah kamu itu benar-benar adikku ta Le? Aku ini benar-benar Mbakyumu ta Le, Thole?” pinta Mbak-Ni kepadaku setelah serangan rasa sakitnya mereda. Aku agak terkejut mendengar Mbak-Ni memanggilku thole, panggilan keakraban seorang kakak kepada adiknya. Aku jadi ingat masa kecil kami yang saling asah, asih dan asuh. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaannya. 

Tapi di luar kamar, keponakanku membisiki, “Tak ada gunanya ibu diperiksakan lagi, Lik. Takutnya kalau diperiksa di rumah sakit yang baru, nanti pengobatan mulai dari awal lagi. Menghabis-habiskan uang saja. Padahal sudah jelas menurut dokter ahli yang merawatnya di RSU Dr. Sarjito penyakit yang diderita ibu adalah kanker Myeloma sudah sampai pada stadium akhir. Umurnya tak sampai satu bulan lagi ” Iin mengatakan keadaan ibunya yang sesungguhnya dengan perasaan sedih. Aku sendiri terkejut mendengar perkiraan dokter seperti itu.
“Lha terus… kesakitan begitu masak tidak diobatkan? Apa tidak kasihan?” tanyaku minta penjelasan.

“Dokter ahli dari rumah sakit besar saja sudah menyerah. Pasien disuruh rawat jalan di rumah sambil dibimbing untuk dapat pasrah, sabar dan tawakal. Bapak di Blora sana juga sudah habis uang tabungannya untuk mengobatkan ibu. Yang penting, Lik, ibu itu diminta untuk dapat  selalu istighfar, zikir, tasbih, tahmid dan bersyukur, agar dapat mendekatkan diri kepada Allah. Makanya selama tetirah setiap malam agar diadakan jamaah yasinan terus menerus tidak boleh putus, agar terkabul harapan kita. Harapan kita hanya dua. Kalau memang Allah menghendaki, ada mujizat dari Allah, ibu dapat sembuh, sehat kembali seperti sedia kala. Tetapi kalau Allah menghendaki lain, biarlah sebelumnya ibu diberi hidayah untuk dapat selalu beristighfar memohon ampun dan mengucapkan kalimat-kalimat toyibah untuk menambah amal pahalanya sebelum dipanggil menghadap ke pangkuan-Nya,” kata Iin keponakanku sambil menangis meneteskan air mata. Kata-kata indah penuh doa itu meluncur tersendat-sendat seakan terpaksa ia keluarkan dari simpanan kekayaannya yang terakhir.  

Mendengar kata-katanya aku merasa tak berdaya. Kalau yang lebih punya hak dan kewajiban saja sudah menyerah, lalu aku yang cuma saudara dapat apa? Meskipun dalam hati kecilku protes juga, “Ya, kamu bisa berkata begitu karena nanti kamu tidak akan mendengar jeritan dan rintihan ibumu saat kesakitan, karena kamu tidak lagi serumah. Tetapi aku dan Lik-Likmu yang ada di sini yang setiap saat selalu mendengarkan dan melihat, apa tega hanya berdiam diri?” Tapi kata-kata itu hanya terucap dalam hati. Takutnya kalau disampaikan dapat menyinggung perasaannya. Dikira aku keberatan dimintai tolong ibunya tetirah di rumahku.

Hari pertama Mbak-Ni tetirah di rumahku betul-betul hari yang melelahkan. Siang hari kami dengan penuh kesabaran merawatnya. Tidak hanya aku dan Yuni-istriku, tetapi juga adik-adikku yang tinggal tidak jauh dari rumahku, Lik-Ti dan Lik-Ru, juga Pakdhe-Man yang tinggalnya agak jauh. Tentu saja Eni Vita perawatnya juga tidak boleh tinggal diam. Tapi malam hari, setelah jamaah yasinan pada pulang, tinggal aku, istriku dan Eni Vita yang menjaga dan melayani Mbak-Ni. Kasihan Mbak-Ni, semalaman tidak bisa tidur. Selalu menjerit dan mengerang kesakitan. Setiap kali  ia menjerit kesakitan, kami selalu minta agar Mbak-Ni dapat sabar dan mengganti jeritan dengan istighfar atau zikir atau mengucapkan kalimat-kalimat toyibah lainnya. Maksud kami agar ia lupa pada sakitnya, dan hanya ingat pada kebesaran Allah Sang Maha Penyembuh. Tapi itu adalah teori bagi kami yang sehat dan hanya melihat, tentu berbeda bagi yang merasakan betapa sakitnya tulang digerogoti penyakit.

“Mbak, dari pada bermenjerit-jerit seperti itu, lebih baik istighfar atau zikir. Mohon ampun atau menyebut Nama Allah,” saranku.

“Sakit, Le! Aku kalau kesakitan dapat bermenjerit-jerit begitu, lega rasanya,” protes Mbak-Ni.
“Tapi kan tidak mengurangi rasa sakit ta, Mbak? Hanya lega sebentar, lalu kesakitan lagi. Dan Mbak tidak dapat apa-apa. Coba kalau Mbak mau menggantinya dengan istighfar, rasanya juga lega dan dapat ampunan dosa. Atau menggantinya dengan tasbih, tahlil, tahmid, atau kalimat-kalimat toyibah lainnya. Selain rasa lega Mbak juga akan mendapat pahala sebagai bekal menghadap ke sisi Allah Yang Maha Pengampun. Selain itu, jika didengar orang-orang yang lewat, orang akan tahu beginilah sakitnya orang beriman. Yang terdengar adalah kalimat-kalimat toyibah, bukan jeritan-jeritan yang tidak berguna,” kataku menerangkan dengan sabar dan pelan. Takut kalau menyinggung perasaannya.

“Tapi sakitnya, Le, datang tiba-tiba. Aku tidak kuat!”

“Jangan bilang tidak kuat, Mbak! Allah mencobai umat-Nya itu sebatas kemampuannya. Allah tidak akan mencobai umatnya melebihi batas kemampuan umat-Nya. Bacalah LAA HAULAWALAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM yang artinya ‘Tiada ada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.’  Semoga Allah memberi daya dan kekuatan kepadamu agar kuat menerima semua cobaan ini.” Mbak-Ni mendengar kata-kataku sambil menggerak-gerakkan bahunya menahan sakit. Aku kasihan melihatnya.

“Kalau Mbak-Ni tahu bagaimana bapak menderita sakit sebelum meninggal dulu, kasihan sekali Mbak, tubuh bapak selalu kejang merasakan sakit tetanus. Tetapi mulut bapak tak pernah berhenti mengucapkan kalimat-kalimat toyibah. Bapak yang ada di ruang isolasi di ujung sal, suaranya yang mengucapkan zikir dan tasbih sudah terdengar dari ujung sal yang lain. Tidak pernah henti. Aku yakin bapak khusnul khotimah. Apa Mbak-Ni tidak ingin seperti bapak?” tanyaku mengingatkan hari-hari terakhir bapak kami.

“Aku juga ingin seperti bapak. Tapi sakitnya ini, Le, tiba-tiba nyeri tulang-tulang sekujur tubuhku. Kalau tahu seperti ini, lebih baik aku mati saja dulu ketika aku koma di Sarjito. Aku tidak akan merasakan sakit seperti ini,” keluh Mbak-Ni.

“Istighfar, Mbak! Istighfar! Mbak-Ni tidak boleh berkata seperti itu. Mbak-Ni masih diberi umur panjang, berarti Mbak-Ni masih diberi kesempatan untuk membersihkan dosa-dosa dan memperbanyak amal pahala. Istighfar dan mengucapkan tasbih, tahlil dan tahmid, akan memasukkan Mbak-Ni kedalam golongan orang-orang yang dikasihi Allah sebagai ahli surga,” kataku mengingatkan. Aku memang bisa berkata-kata seperti itu tetapi aku sendiri merasa belum tentu dapat menjalaninya seandainya semua itu menimpaku. Semua tergantung dari rahmat dan hidayah dari Allah Yang Maha Pemurah. Aku jadi ingat ketika sedang terserang sariawan dulu untuk mengucapkan kalimat-kalimat toyibah, bahkan untuk membaca bacaan-bacaan sholat pun kadang aku kesulitan, terpaksa aku seret bacaannya. Sedangkan sekarang, Mbak-Ni pun sedang menderita sariawan sebagai efek dari sakit myeloma yang dideritanya. Tentu sangat sulit untuk mengucapkan kalimat-kalimat toyibah. Hanya rahmat dan hidayah Allah yang akan memudahkannya.

“Mbak-Ni masih ingat bacaan surat IAl Ikhlas?” tanyaku kemudian.

“Masih. Itu ‘kan: QUL HUWALLAAHU AHAD…”

“Iya betul. Bacalah tiga kali Mbak, kata Nabi Muhammad SAW, siapa yang membaca surat  Al Ikhas tiga kali maka Allah akan membangunkan gedung yang indah di Surga. Mbak-Ni senang ta kalau dibangunkan gedung yang indah di Surga?”

“Iya,” jawab Mbak-Ni.

“Coba sekarang bacalah surat Al Ikhlas tiga kali, aku akan mendengarkan apa bacaan Mbak-Ni masih fasih dan betul!” pintaku. Mbak-Ni lalu membaca surat Al Ikhlas tiga kali dengan benar meskipun agak sulit berhubung mulutnya sakit sariawan.

“Insya Allah sekarang Mbak-Ni sudah dibangunkan gedung di Surga. Senang tidak Mbak-Ni dibangunkan gedung yang indah di Surga?’ kataku setelah Mbak-Ni selesai membaca surat Al Ikhlas tiga kali.

“Senang.”

“Mbak-Ni ingin tinggal di Surga?”

“Iya.”

“Kuncinya Mbak-Ni harus selalu menjalankan sholat lima waktu dan Mbak-Ni harus selalu membaca zikir LAA ILAAHA ILLALLAAHU. Kalau tidak dapat bersuara ya di batin dalam hati.”
Hari berjalan melambat. Tapi akhirnya malam hari datang juga. Jamaah yasinan diadakan dengan mengundang jamaah dari Masjid Al Hidayah, di samping dari keluarga sendiri. Rencananya yasinan akan dilakukan setiap malam selama Mbak-Ni tetirah di Klaten. Setelah yasinan aku kembali menunggui Mbak-Ni. Aku lihat wajahnya menunjukkan keletihan lahir dan batin.

“Dhuh Gusti, saya mohon ampun. Saya ingin istirahat meskipun hanya sebentar saja. Saya ingin tidur, ya Tuhan! Saya lelah sekali!” teriak Mbak-Ni memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah. Kasihan sekali kakakku ini. Ingin tidur memejamkan mata saja tidak bisa. Rasa sakit selalu datang tiba-tiba menyerangnya. Matanya yang dilingkari warna hitam di sekitar pelupuk matanya itu kelihatan cekung dan lelah. Sungguh suatu cobaan yang amat berat.

“Le, usap-usap kakiku, Le, agar aku dapat tidur meskipun hanya sebentar,” pinta Mbak-Ni.

Aku duduk di samping Mbak-Ni sambil mengusap-usap kaki Mbak-Ni yang bengkak dan mengkilap karena selalu diusap-usap dengan minyak kayu putih atau air yang sudah dibacakan doa. Kaki yang pegal karena terlalu lama berbaring mestinya dipijat pelan-pelan agar hilang capeknya, tetapi kaki-kaki Mbak-Ni ini bengkak besar dan kelihatannya di dalamnya berisi air, dan tulang-tulangnya sudah keropos, jadi berbahaya kalau dipijat. Makanya bisanya hanya diusap-usap saja.

Setelah sekian lama mengusap-usap kaki Mbak-Ni, mataku terasa mengantuk, kepalaku  terasa nyut-nyut karena kurang tidur. Malam-malam seperti ini bisaanya aku sudah tidur pulas. Aku baru tahu dan memaklumi sekarang, kenapa ibu tidak mau menerima Mbak-Ni tetirah di rumahnya. Ibuku yang sudah tua dan sakit-sakitan apa kuat setiap malam menghadapi keadaan seperti ini? Maafkan aku ibu, aku sudah menduga yang tidak baik kepada ibu. 

Setelah kulihat Mbak-Ni tertidur, aku pergi ke belakang mengambil air wudhu. Lalu sholat tahajjud delapan rekaat, dua-dua salam. Setiap selesai salam aku berdoa memohonkan ampun dan hidayah untuk kakakku yang sedang sakit. Juga mohon kesembuhan, semoga diberi mu’jizat untuk kakakku yang sudah dinyatakan terkena kanker Myeloma stadium akhir.

“Le…! Yun…!,” teriak Mbak-Ni mencariku. Rupanya ia hanya dapat tidur sebentar lalu terbangun lagi karena kesakitan. Meskipun Eni Vita-perawatnya tidur di bawah di samping pembaringannya, yang dicari ya tetap aku adiknya atau istriku. Sebab Eni Vita merawat atas dasar hubungan kerja, sedangkan aku dan saudara-saudaranya merawat atas dasar kehangatan kasih sayang dan keikhlasan seorang saudara.

“Masdi baru sholat Tahajjud. Ada apa, Mbak?” terdengar suara istriku menggantikanku menunggui Mbak-Ni.

“Kakiku pegal, diangkat-angkat dikit-dikit, ya! Aku ingin tidur. Jangan tinggalkan aku ya, Yun!”
“Iya… Tapi Mbak-Ni harus segera tidur, ya?. Jangan menjerit-jerit, hari sudah larut malam,” pinta istriku. Tak lama kemudian Mbak-Ni sudah tertidur lagi.

Begitulah hari-hariku semenjak Mbak-Ni tetirah di rumahku. Tak pernah sepi dari erangan dan jerit kesakitan. Aku memaklumi betapa sakit, rasa nyeri yang hebat diderita Mbak-Ni. Aku membayangkan bagaimana kankernya menggerogoti sumsum tulang lalu mengeroposkan tulang-tulangnya. Betapa sakitnya, tulang yang keras itu tanpa ampun digerogoti kanker seperti kayu yang jadi lapuk dimakan rayap. Sungguh suatu proses menuju kematian yang demikian nyata. Kalau dokter ahli kanker yang sudah pengalaman sudah angkat tangan, kepada siapa lagi harus minta tolong, kecuali hanya mengharapkan mujizat dari Allah Yang Maha Kuasa.

Pagi harimya aku berangkat ke kantor dengan kepala yang berat karena kurang tidur. 

“Saudara-saudaraku, karena suami atau istrinya tidak mau menerima, ya lantas tidak mau menerima Mbak-Ni tetirah di rumahnya. Mungkin takut terganggu. Selain itu aku juga tidak tahu bagaimana caranya mengangkut Mbak-Ni dari rumahku ke rumah mereka tanpa menyakiti Mbak-Ni. Jadi ya biarlah  Mbak-Ni tetirah di rumahku saja, tidak usah pindah-pindah,” kataku ketika curhat kepada teman-temanku.

“Tidak apa-apa, Pak. Merawat orang sakit adalah ujian. Kalau sabar dan ikhlas besar pahalanya, tapi kalau berkeluh kesah dan tidak ikhlas bisa jadi fitnah. Kalau Bapak bisa membimbing yang sakit mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang, besar sekali pahalanya, Pak,” kata Bu Tri dan Bu Eny teman sekerjaku memberi dorongan moral kepadaku.

“Bukan pahala yang aku harapkan. Tetapi karena aku memang sayang dan kasihan kepada kakakku, aku ikhlas merawatnya. Bahkan aku merasa, ini adalah pengalaman yang indah bagiku.”
Alhamdulillah setelah dirawat dan mendapat doa serta dibacakan Surat Yasin beberapa malam keadaan Mbak-Ni sudah lebih tenang. Jeritan kesakitan sudah lebih jarang. Dan jeritan itu meskipun belum sepenuhnya, sebagian besar sudah berganti dengan lafal zikir dan istighfar. Pada suatu malam, ketika aku sedang sholat tahajjud aku mendengar Eni Vita menasihati Mbak-Ni yang sedang mengeluh putus asa.

“Ibu tidak boleh putus asa begitu. Percaya kepada Allah. Hidup mati itu yang menentukan Allah, bukan dokter atau yang lainnya,” kata Eni Vita mengingatkan.

“Tapi sakitku ini adalah kanker myeloma! Kanker itu adalah penyakit yang mematikan. Tidak bisa disembuhkan!” kata Mbak-Ni. Aku bisa memaklumi kalau Mbak-Ni jadi bingung. Karena ia tahu kalau sakitnya adalah sakit yang sampai saat ini belum ada obatnya, belum dapat disembuhkan. Sedangkan ia merasa masih punya kewajiban untuk keluarganya, terutama menyekolahkan Dion sampai selesai kuliah. Hal ini yang sering memberati perasaan Mbak-Ni, sehingga sering terkesan kurang pasrah dan ikhlas menerima cobaan ini.

“Aku pernah punya pasien yang juga sakit kanker, kanker rahim sudah sampai stadium akhir, sudah kritis, akhirnya bisa sembuh juga karena mujizat Allah!” kata Eni Vita. Aku tidak mendengar Mbak-Ni membantah. Cerita Eni Vita menumbuhkan harapanku akan kesembuhan Mbak-Ni.

“Ibu harus pasrah, percaya kepada kuasa Allah dan tawakal! Pasienku itu selalu pasrah, berdoa dan berzikir. Dalam keadaan hampir kritis didatangkan Kiyai. Dijanji kalau sembuh punya nadhar apa? Ia punya nadhar kalau sembuh akan membangunkan rumah tinggal untuk anak-anak jalanan. Kami yang hadir menjadi saksi. Lalu setiap malam dibacakan surat Yasin. Pada hari ketiga, tiba-tiba ibu itu dapat bangun dan kemudian sembuh. Sekarang orangnya masih hidup di Yogya. Itu semua berkat doa dan percaya Tuhan Yang Maha Mendengar itu Maha Penyembuh. Padahal sebelumnya sudah berobat di Jakarta, bahkan sampai ke Singapura, tapi tidak dapat menyembuhkan.  Inilah mujizat kuasa Allah! Sekarang ibu punya nadhar apa kalau bisa sembuh seperti sedia kala?” Tanya Eni Vita kemudian.

“Menyelenggarakan pengajian, mengundang dan menyantuni anak-anak yatim piatu di Blora,” kata Mbak-Ni.

“Aku menjadi saksi. Ibu harus menepati janji kalau sudah berhasil sembuh. Sudah, sekarang ibu tidur saja.” pinta Eni Vita.

“Tidak bisa tidur,” keluh Mbak-Ni.

“Bacalah zikir pelan-pelan, lama-lama ibu akan mengantuk dan tertidur,” saran Eni Vita.

Mendengar itu semua aku jadi punya harapan. Ternyata orang sakit kanker stadium akhir pun masih punya harapan untuk sembuh dengan ijin Allah Yang Maha Kuasa. Aku jadi lebih bersemangat dan khusyuk melakukan sholat tahajjud dan berdoa memohon mujizat untuk kesembuhan kakakku. Setiap selesai sholat tahajjud aku membaca doa sembahyang tahajjud arab dan terjemahannya. Terjemahannya aku baca dua kali. Pada yang kedua aku berniat mendoakan Mbak-Ni. Ada bagian terjemahan yang aku tambah sehingga berbunyi: “BagiMu segala puji, Engkau maha benar, janjiMu benar, pertemuan denganMu benar, perkataanMu benar, syorga dan neraka benar, para nabi-nabi benar, nabi Muhammad s.a.w benar dan hari kiamat benar. Dan nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda bahwasannya semua penyakit ada obatnya, kecuali sakit tua. Sedangkan Mbak-Ni kakakku belumlah tua, maka aku berharap datangkanlah mujizat ya Allah untuk kesembuhan Mbak-Ni kakakku yang sekarang sedang terbaring sakit.”

Suatu hari Mbak-Ni memandangiku tidak berkedip lama sekali. Melihat biji matanya, pandangan itu mendekati melotot, seolah-olah akan menelanku. Ingat kalau umur Mbak-Ni mungkin hanya tinggal beberapa hari lagi, dipandangi seperti itu bulu kudukku jadi merinding. Istriku juga pernah dipandangi seperti itu. Bulu kuduknya juga merinding. Karena takut, istriku lalu lari ke luar kamar. Tapi aku adik kandungnya, dan laki-laki, masa aku juga harus takut dan lari keluar seperti istriku yang perempuan dan statusnya ipar?

“Kenapa Mbak-Ni memandangiku seperti itu?” tanyaku kemudian sambil mendekat meski agak takut.

“Aku takut kalau-kalau kamu jadi hilang dari pandanganku,” katanya pelan. “Jangan tinggalkan aku, Le. Aku takut ditinggal sendirian,” kata Mbak-Ni kemudian.

“Selalu ucapkan zikir. Basahilah selalu bibir Mbak-Ni dengan kalimat-kalimat toyibah, puji, zikir, istighfar dan lain-lain. Maka Mbak-Ni tidak sendirian. Allah dan malaikat-malaikat-Nya selalu menemani Mbak-Ni,” kataku meyakinkan.

Sekarang Mbak-Ni menjadi lebih dekat kepada Allah. Setiap pagi setelah sholat Subuh dan sore setelah sholat Maghrib yang ia lakukan dengan berbaring setelah sebelumnya melakukan tayamum Mbak-Ni aku bimbing membaca Sayyidul Istighfar atau istighfar utama. Sebelumnya aku jelaskan dulu bahwa Rasulullah s.a.w menerangkan: “Siapa membaca istighfar utama di waktu pagi dengan penuh keyakinan sesuai arti dan tujuan kalimat tersebut, kemudian ia meninggal pada hari itu, ialah ahli surga. Dan siapa yang membaca pada waktu sore dengan cara itu, kemudian ia meninggal pada malam hari, iapun ahli surga.”

Pada hari yang ke tujuh belas tetirah di Klaten, atau pada hari ke empat setelah pulang dari Rumah Sakit untuk transfusi darah sebanyak empat kantung, bengkak tubuhnya kian bertambah. Tidak hanya pada kedua kakinya, tapi sekarang sudah mulai naik ke atas pinggul. Terlihat kedua tangan yang bisaanya kelihatan kurus sekarang sudah mulai bengkak besar. Eni Vita perawatnya mengkhawatirkan kalau bengkak ini sudah naik sampai ke jantung, hati dan paru-parunya, maka apa yang dikhawatirkan mungkin akan segera menjadi kenyataan. Obat-obat dari dokter sudah tak mau meminumnya. Makanan dan minum susu sudah tak mau. Hanya air putih ia terima. Ketika di rumah sakit ditanyakan kepada dokter. Jawabnya hanya “Ini adalah proses.” Proses… Proses apa? Proses menuju kematian? Aku pasrah. Doa-doaku di sela-sela sholat tahajjud dan sholat-sholat lainnya hanyalah agar kakakku diberi rahmat, hidayah dan ampunan, diberi kelapangan dan khusnul khotimah. Lalu aku berdoa, “ALLAAHUMMA TSAB BITNAA ALAA DIINIL ISLAAMI WAH FADHNAA ‘ALAL IIMAAN” lalu kubaca artinya yang sudah kusesuaikan, “ Ya Allah, tetapkanlah Mbak-Ni dalam agama Islam dan peliharakanlah iman Mbak-Ni.”

Pada hari yang ke delapan belas ketika aku sedang berada di kantor, Mbak-Ni mengalami koma.  Sebelumnya tubuhnya menggigil kedinginan. Ia selalu bermenjerit-jerit memanggil-manggil istriku dan Eni Vita perawatnya yang sedang mencuci dan memasak di belakang. Karena panggilan yang tak henti-henti keduanya segera mendekati Mbak-Ni. Mereka terkejut mendapati kondisi Mbak-Ni yang ngedrop. Bahkan kemudian kondisi Mbak-Ni tambah memburuk sehingga mengalami koma. Sudah tidak dapat diajak komunikasi lagi. Mbak-Ni sudah mendengkur dalam kondisi lelaku. Istriku berencana menelponku dan menghubungi imam masjid untuk membacakan surat Yasin ketika tiba-tiba Iin keponakanku datang dengan tergesa-gesa dari Yogya.

“Lik, perasaanku kok tidak enak. Ada apa, Lik?” kata Iin sambil bergegas masuk.

“Ibumu koma, In. Aku menelepon kamu tidak kamu angkat,” kata istriku.

“Aku tadi dari Yogya ke sini ngebut. Aku tidak mendengar kalau Lik-Yun nelepon aku. Baiknya kita panggil ambulance saja. Aku sudah konsultasi ke RSU Dr. Sarjito, kebetulan aku memang disuruh membawa ibu ke sana untuk mendapat suntikan,” kata Iin gugup.

“Ibumu ini sedang koma, ya, In! Untuk apa dibawa ke sana? Di sini saja kita panggil imam kita ajak memimpin doa dan bacaan surat Yasin mencarikan jalan ibumu menghadap Allah!” kata istriku.
“Tidak, Lik! Ibu harus dibawa ke Sarjito! Dulu ibu juga pernah koma, di Sarjito ia dapat kembali sadar sampai sekarang,” kata Iin membantah.

“Oo jadi kamu belum ikhlas ibumu menghadap kepada-Nya? Ya sudah kalau itu kehendakmu, aku akan panggilkan ambulance,” kata istriku mengalah.

Tak lama kemudian ambulance dari RSU Dr. Suraji pun datang. Mbak-Ni segera diangkut ke RSU Dr. Sarjito. Sepanjang jalan Iin dan istriku selalu membisikkan kalimat “LAA ILAAHA ILLAALLAAHU” Tiada Tuhan selain Allah. Terus menerus tiada henti. Hanya diseling meminumkan air putih. Sesampai di RSU Dr. Sarjito Mbak-Ni dibawa masuk ke ruang ICU. Di sini Mbak-Ni dipasangi infuse dan berbagai peralatan untuk mendeteksi tekanan darah dan kondisi jantungnya. Juga suntikan untuk menaikkan kadar gula darah yang ngedrop. Dengan cekatan dokter dan perawat menggerojokan infuse agar cepat memulihkan kondisi tubuh Mbak-Ni agar dapat melewati masa-masa kritisnya. 

Tiba-tiba Mbak-Ni sadar dan terbangun. Tangan-tangannya yang dipasangi selang infus terangkat cepat sehingga jarum infus terlepas. Mbak-ni muntah-muntah banyak sekali ke lantai ruang ICU. 
“In… Aku mati, In! Aku mati, In…!” teriak Mbak-Ni tiba-tiba kepada anak yang menungguinya.
“Jangan begitu, Bu! Istighfar, Bu! Istighfar! Ucapkan zikir LAA ILAAHA  ILLA LLAAH,” pinta Iin mengingatkan ibunya.

“ASTAGFIRULLAAH. LAA ILAAHA ILLAL LAAH…” ucap Mbak-Ni yang terakhir kali sebelum kemudian kembali koma. Ketika tubuh Mbak-Ni diangkat oleh perawat untuk dipindah ke ruang ICU lainnya yang lebih bersih, ternyata Mbak-Ni telah be-a-be lebih banyak dari biasanya. “SUBHAA NALLAH ternyata Mbak-Ni telah membersihkan dirinya sendiri sebelum menghadap ke hadirat-Nya,” kata istriku.

Di ruang ICU yang baru di layar monitor untuk mendeteksi denyut jantung Mbak-Ni terlihat grafiknya semakin menurun. Dokter ICU melihatnya dengan penuh kearifan.

“Garfik itu semakin lama akan semakin menurun. Kondisi ibu ini sudah sangat kritis. Kalau grafik itu nanti diam, kami tidak berani memacunya dengan memijat tubuhnya karena takut tulang-tulangnya yang sudah rapuh menjadi rusak. Maka doakan saja agar ibu ini menghadap kepada-Nya dengan ikhlas dan tenang,” kata dokter ICU menasihati.

Aku yang masih ada di Klaten setelah mendapat kabar ini lewat telepon segera telepon kepada Iin keponakanku, “In, sudah pasrah saja. Ibumu dibawa pulang saja ke rumahmu di Gedong Kuning. Bukankah Amat punya banyak santri? Di rumah bacakan surat Yasin saja bersama santri-santrinya… Insya-Allah ibumu khusnul khotimah kalau meninggal hari ini sebelum maghrib karena tadi sebelum subuh sudah aku bimbing membaca sayidul istighfar. Tapi kalau sampai maghrib ibumu belum meninggal, setelah sholat maghrib bacakan sayidul istighfar pelan-pelan. Insya-Allah ibumu menyimak dan menirukannya dalam hati,” kataku menasihati keponakanku.

“Kasihan ibu, Lik diotang-otong kesana kemari. Biarlah ibu meninggal di RSU Sarjito sini saja. Aku dan yang ada di sini akan membimbing membacakan zikir dan sayidul istighfar di sampingnya,” kata Iin di sela isak tangisnya.

“Ya sudah kalau begitu. Tahan tangismu, agar lapang jalan ibumu menghadap ke hari baan-Nya!” kataku kemudian.

Jam delapan malam telepon dari Iin memanggilku, “INNAA LILLAAHI WA INNAAILAIHI RAA JI’UUN. Lik-Di, ibu baru saja meninggalkan kita jam  setengah delapan malam tadi. Ibu telah memilih yang terbaik baginya. Bapak di Blora yang aku telepon juga sudah menyatakan ridlo. Kata Amat seorang istri yang meninggal, suaminya ridlo ia khusnul khotimah. Apalagi ibu meninggal di malam jumat, insya-Allah ibu akan dibebaskan dari siksa kubur. Sekarang tolong siapkan tempat untuk upacara pemakaman besok. Sesuai pesan ibu ia ingin di kubur di Klaten. Rumah dukanya di rumah nenek tolong disiapkan, Lik. Kira-kira jam sepuluh nanti jenazah ibu akan sampai di Klaten.”

Kami semua akhirnya bisa menerima kepergian Mbak-Ni menghadap-Nya dengan ikhlas. Kami telah mengantarnya dengan segala daya upaya sampai ke pintu gerbang Surga. Semoga Mbak-Ni dapat masuk ke dalam Surga, berkumpul bersama orang-orang soleh dan solehah yang sudah mendahului. Amin. ***

NB: Kenangan terakhir buat kakak kandungku tercinta Almarhumah Sutarni yang telah mendahului menghadap Ilahi.

Related posts:

No response yet for "Cerpen: Kuantar Sampai di Pintu Surga"

Post a Comment