Cerpen: Nyekrup

Cerpen: Nyekrup
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Biasanya setiap hari Minggu, setelah sholat Subuh Anisa kembali tidur, baru bangun setelah hari terang, dan baru mandi setelah jam sembilan. Katanya sebagai ganti hari-hari lain yang harus bangun dan mandi pagi-pagi di kost-kostan. Pagi ini terlihat lain. Baru jam tujuh Anisa sudah mandi. Lalu berdandan mematut-matut diri di depan cermin. Nampaknya seperti akan bepergian. 
“Tumben pagi-pagi sudah mandi, mau pergi kemana hei, Nis?” Tanyaku sambil menungguinya berdandan.

“Aku putus sama Mas Bagas. Hari ini akan pertemuan terakhir di W.A.”  Meskipun Anisa mengucapkannya dengan ringan, tak urung membuatku terkejut.

“Putus, bagaimana? Tadi malam kan baru saja apel ke sini, to? Sekarang kok katanya putus itu sebabnya apa? Aku kok tidak paham model pacaran anak sekarang,” kataku bingung.

“Tadi malam Mas Bagas memang apel ke sini. Sebelum pulang Mas Bagas minta dicium dan dipeluk. Tapi aku tidak mau. Aku takut, jangan-jangan setelah aku mau, selanjutnya ia akan minta macam-macam yang lainnya lagi. Lalu ia marah. Makanya aku lebih baik putus. Apalagi sudah berkali-kali kalau ada masalah, Mas Bagas pasti nantang putus. Sekarang ini aku sudah tidak sabar lagi. Kalau aku tolak seperti ini biasanya nanti di ‘HP’ ia akan mengatakan aku telah menyakiti hatinya, lalu ngajak putus. Sebelum ia ngajak putus, lebih baik aku mendahului ngajak putus. Masak aku yang harus selalu mengalah!” kata Anisa sambil membetulkan letak kerudungnya. Ditambah asesoris biar kelihatan lebih cantik.

“Sebetulnya kamu itu masih sayang tidak sama Bagas, Nis?” Tanyaku.

“Sebetulnya ya masih sayang. Mas Bagas juga masih sayang kepada Anisa. Tapi salahnya ia minta macam-macam. Kalau tidak diijinkan lalu marah-marah, lalu minta putus. Daripada didahului, lebih baik aku dahului. Biar kapok sekalian!,” kata Anisa seolah-olah putus itu merupakan keputusan terbaik yang harus diperebutkan untuk diucapkan terlebih dahulu.

Tak berapa lama setelah Anisa selesai berdandan, terdengar suara sepeda motor. Anisa lalu minta ijin akan pergi bersama Bagas ke Warung Apung Rowo Jombor untuk menyelesaikan hubungan pacarannya dengan kata-kata perpisahan. Aku hanya geleng-geleng memikirkan putriku satu-satunya. Ada rasa khawatir dalam hati. Mereka sekarang berboncengan dengan sepeda motor. Padahal mereka sedang dalam kondisi saling bermusuhan, emosinya tidak stabil. Apakah hal ini tidak berbahaya? Bagaimana kalau yang pegang setir terbawa emosi jadi kurang waspada? Aku  hanya dapat berdoa, semoga keduanya selamat tak terjadi apa-apa.

Sudah setengah tahun Anisa, putriku satu-satunya berpacaran dengan Bagas, teman SMP-nya dahulu. Ketika SMA Anisa belum pernah pacaran, karena aku melarangnya. Setelah lulus SMA baru boleh pacaran. Sekarang dua-duanya sudah kuliah semester satu. Bagas kuliah di STTN Yogyakarta. Anisa kuliah di POLTEKES Surakarta. Mereka kuliah tidak satu kota, makanya bertemu hanya ketika keduanya pulang ke Klaten, hari Jumat atau Sabtu. Bahkan Bagas lebih banyak datang apel pada hari Jumat malam. Terkadang waktu itu Anisa baru saja pulang dari Solo. Jadi kondisi keduanya sebetulnya sama-sama masih lelah. Tapi katanya buru-buru ingin segera bertemu, tak kuat menahan rindu lebih lama lagi. Akibatnya pertemuan sering berakhir bentrok. Bisa dimengerti karena bertemu sama-sama dalam kondisi badan lelah. Sudah kusarankan untuk mengganti jadwal apel, tapi mereka tidak mau karena menunggu datangnya Jumat malam saja mereka sudah setengah mati menahan rindu, apalagi kalau harus ditunda sampai malam Minggu atau Minggu siang.

Kalau mengingat jasa Bagas ketika Anisa akan diterima di POLTEKES, sebetulnya aku tidak sampai hati kalau sampai Anisa harus putus dengan Bagas. Waktu tes kesehatan calon mahasiswa baru POLTEKES, Anisa yang mengira tidak diterima tes tertulis, tidak berangkat ke Solo. Tapi malah menangis sedih di rumah. Untung ada teman SMA-nya yang sama-sama mendaftar, mendengar nama Anisa dipanggil supaya persiapan tes kesehatan, lalu telepon Anisa memberi tahu.

Mendapat panggilan mendadak, harus sampai Solo hari itu juga sebelum jam dua belas, Anisa jadi kebingungan. Padahal waktu itu sudah jam sepuluh. Ayahnya sudah berangkat ke kantor, katanya hari itu ada rapat penting. Sepeda motor satunya dibawa kakaknya yang kuliah di UNS Solo. Di rumah tidak ada motor. Mau naik apa? Naik bus? Waktunya apa nyampai? Harus berganti kendaraan tiga kali, padahal belum tentu langsung mendapat ganti kendaraan. Aku dan Anisa jadi bingung! Akhirnya Anisa telepon Bagas untuk mengantarkannya. Tidak tahunya waktu itu Bagas baru mengantar temannya mendaftar ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Temannya terpaksa ditinggal, Bagas langsung ngebut Yogya – Klaten untuk mengantarkan Anisa ikut tes kesehatan di POLTEKES di Solo. Jarak Yogya – Klaten – Solo cukup ditempuh dalam waktu satu jam. Ngebut ngejar waktu supaya tidak terlambat, sampai akan dicium bus sampai tiga kali.

 “Ada apa, Bu? Tadi malam Bagas baru saja apel ke sini, sekarang pagi-pagi kok sudah datang lagi mengajak Anisa pergi.” Suamiku yang ada di kamar keluar bertanya padaku.

“Itu lho, Pak, Anisa katanya akan putus dengan Bagas. Sekarang mereka ke Warung Apung Rowo Jombor untuk mengucapkan kata-kata perpisahan dengan cara baik-baik.”

“Lha kok akan putus itu apa memang ada masalah yang prinsip yang sudah tidak bisa dibicarakan lagi?” 

“Kelihatannya ya tidak ada. Bosan juga belum. Katanya kedua-duanya ya masih cinta. Tapi kelihatannya keduanya saling tidak mau mengalah.” 

“Sebetulnya aku tidak ingin mencampuri urusan anak-anak. Aku hanya ingin mengawasi hubungan keduanya. Dilepas ya tidak. Dikekang ya tidak. Kalau kelihatannya akan mengarah ke wilayah yang berbahaya, baru aku akan mengendalikan kembali ke jalan yang benar. Kalau anak-anak itu pacaran cuma akan saling mempermainkan perasaan, putus-nyambung, putus-nyambung, yang dapat mengganggu konsentrasi belajarnya, aku harus ikut campur tangan, menjaga hubungannya agar lebih kuat dan benar. Kalau terpaksanya harus putus ya tidak apa-apa. Tetapi harus ada masalah yang prinsip, atau memang benar-benar sudah tidak ada kecocokan, sehingga tidak mungkin dapat dipertahankan lagi. Jadi tidak putus hanya karena emosi sesaat, yang sepele dan tidak prinsip.”

Sebagai seorang ibu aku khawatir anakku pergi bersama pacar untuk menyepakati kata putus. Aku khawatir kalau pacarnya yang memboncengkannya itu setelah diputus lalu lalu merasa dendam, sakit hati, dan marah, sehingga kurang waspada dalam mengendarai sepeda motor di jalan. Lebih khawatir lagi kalau ia sampai nekat, ngebut dan kurang perhitungan. Tapi kemudian hatiku menjadi lega ketika jam satu siang Anisa pulang diantar Bagas. Anisa tidak kelihatan sedih, tapi bahkan kelihatan gembira. Wajahnya berseri-seri memancarkan rasa bahagia. Bagas menunggu, duduk di teras rumah. Anisa masuk kamar. Aku dan ayahnya mengikuti.

“Bagaimana, Nis, jadi putus? Bagas nunggu di depan itu mau pamit tidak akan ke sini lagi?” tanya suamiku dan aku bersamaan, buru-buru ingin tahu kelanjutan hubungan anaknya.

“Tidak kok, Bu, aku dengan Mas Bagas tidak jadi putus. Sementara sudah bisa saling pengertian. Mas Bagas itu menunggu akan pamit Ayah dan Ibu untuk pulang ke rumahnya. Besok Malam Minggu akan apel ke sini lagi,” jawab Anisa. Suamiku dan aku jadi lega.

“Kalau begitu panggillah masuk ke ruang tamu, aku akan memberikan beberapa nasehat!” perintah suamiku.
Sebentar kemudian Bagas dan Anisa sudah ada di ruang tamu menghadap suamiku dan aku. Di atas meja ada sekrup dua pasang. Anisa mengira ayahnya habis memperbaiki sesuatu, lupa menyimpannya kembali. Anisa buru-buru akan menyimpan sekrup itu tapi dilarang ayahnya. Anisa diminta duduk kembali.

“Nak Bagas, aku akan bicara kepadamu tapi jangan tersinggung, ya? Sebetulnya aku tidak ingin mencampuri hubunganmu dengan anakku. Tapi sekali ini aku terpaksa harus ikut campur,” suamiku mengawali kata-katanya.  Bagas dan Anisa hanya diam menundukkan kepala, seperti terdakwa dalam persidangan.

“Sebenarnya Nak Bagas cinta tidak kepada Anisa?” 

“Iya, Pak, saya cinta kepada Dik Anisa,” jawab Bagas.

“Anisa apa juga cinta kepada Nak Bagas?” tanya suamiku ganti kepada Anisa.

 “Iya, Pak, saya juga sudah cinta kepada Mas Bagas,” jawab Anisa mantap.

“Menurut pendapat Nak Bagas, pacaran antara Nak Bagas dengan Anisa itu menambah spirit belajar atau mengganggu konsentrasi belajarmu?”

“Kebanyakan ya jadi spirit belajar, Pak. Tapi kalau pas ada masalah, marahan, ya mengganggu konsentrasi dan semangat belajar saya,” jawab Bagas jujur.

“Lha kalau kamu Anisa, jadi spirit apa mengganggu belajarmu?” tanya suamiku ganti kepada Anisa.
“Ya sama saja dengan yang dirasakan Mas Bagas,” jawab Anisa singkat.

“Lagi. Nak Bagas, pacaran ini hanya untuk mengisi waktu remaja, sebagai romantika masa remaja, atau menjadi proses yang harus dilalui menuju kedewasaan untuk memasuki jenjang kehidupan berumah tangga, yang saling pengertian dan saling menghargai?” tanya suamiku semakin jauh.
“Maksud saya ya untuk selama-lamanya sampai berumah tangga, membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera,” jawab Bagas mantap.

“Kalau memang demikian, Nak Bagas harus sabar menghadapi berbagai masalah dan cobaan. Dan harus hati-hati menjaga hubungan yang sudah terjalin. Jangan mudah mengucap kata putus ketika masih berpacaran, dan jangan mudah mengucap kata cerai kalau sudah berkeluarga. Mengucap saja jangan sampai, apalagi punya niatan untuk melaksanakannya. Takutnya kalau itu menjadi kebiasaan, bisa meretakkan hubungan, dan menimbulkan saling ketidakpercayaan. Lebih-lebih kalau saat itu bersamaan dengan saat ijabah! Bisa numusi” kata suamiku mulai memberi nasehat.

“Aku dengar selama ini hubungan kalian sering ada masalah, sering putus-nyambung, putus-nyambung. Kalian sama-sama ingin menang sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Apa betul begitu?” tanya suamiku. Yang ditanya tidak menjawab. Mereka tertunduk semakin dalam. Merasa bersalah dan malu.

“Ketahuilah, masa pacaran merupakan masa latihan sebelum memasuki kehidupan berkeluarga yang sesungguhnya. Masa ini juga dapat dikatakan masa untuk mengetahui dan memahami kepribadian calon pasangannya. Kalian bisa saling melihat sifat-sifat, kebiasaan-kebiasaan, watak atau aten-atene masing-masing. Lantas kalian bisa mengukur, kira-kira bisa merubah yang jelek jadi baik apa tidak. Kalau tidak bisa merubah, apakah kira-kira bisa menerima apa adanya atau tidak. Masa pacaran juga dapat dikatakan sebagai masa tawar-menawar seperti pedagang-pembeli di pasar,” kata suamiku.

Sampai di situ aku lihat duduk Bagas seperti tak nyaman. Mungkin ia mengira suamiku akan memberikan suatu tawaran seperti orang jual-beli. Mungkin ia mengira kami adalah keluarga matre, yang segala sesuatu dihitung secara materi, bahkan anak gadis pun diperjual-belikan.

”Tapi ini jangan diartikan jelek dulu. Ini bukan masalah jual mahal, atau besarnya mahar, mas kawin, atau pitukon pada saat melamar nanti. Tapi ini masalah penghargaan terhadap pasangannya. Seperti orang jual beli, dalam tawar menawar, supaya dua-duanya dapat sepakat tidak saling dirugikan, dan mendapat harga yang sesuai, yang menjual dan yang membeli, dua-duanya harus jujur dan saling menghargai. Yang membeli harus menghargai dagangan si-penjual dengan menaikkan harga tawaran. Yang menjual juga harus menghargai tawaran pembeli dengan menurunkan harga penawaran.” Suamiku diam sebentar agar kata-kata yang diucapkan bisa dicamkan dan dicerna dua remaja yang sedang dinasehati.

“Berarti kita harus dapat saling menghargai pendapat orang lain. Dan mau mengakui yang benar, meskipun bukan dari pihaknya. Dan mau mengakui kesalahan, meskipun datang dari pihaknya sendiri. Dan tak usah malu-malu untuk minta maaf dan mau memperbaiki diri. Inilah yang aku maksudkan sebagai tawar-menawar seperti orang jual beli. Kalau kalian ingin melanjutkan pacaran ini terus sampai ke jenjang perkawinan dan kehidupan rumah tangga, kalian harus salaing menghargai pendapat calon pasangannya. Dan kalian harus belajar untuk saling mengalah. Jangan mau menangnya sendiri,” lanjut suamiku.

Suamiku lalu mengambil sekrup yang sudah disiapkan. Ada dua pasang.

“Lihatlah sekrup ini!,” kata suamiku sambil menunjukkan sekrup sepasang yang tidak seukuran. Yang kecil panjang dimasukkan ke lubang yang besar. Keluar masuk kelihatan sangat mudah.

“Sekrup ini mudah saya masukkan ke lubangnya. Tapi kalau saya taruh, sekrup ini mudah lepas. Kalau dipakai nyekrupi barang-barang, sekrup seperti ini pasti tidak kuat, sebentar saja akan berantakan. Tapi lihatlah pasangan sekrup yang satunya ini. Lubangnya pas dengan besarnya sekrup yang harus dimasukkan. Aku tidak bisa memasukkan dan mengeluarkan dengan mudah. Harus sabar dan hati-hati. Diputar sedikit-sedikit menurut drat-dratnya. Ada gesekan-gesekan kecil. Tapi kalau sudah masuk, jadi kencang. Tidak mudah lepas. Kalau dipakai nyekrupi bagian rumah umpamanya, akan kuat, tidak mudah roboh. Begitu juga orang berjodohan, kalau tidak diperhatikan sungguh-sungguh dulu, asal mau dan mendapat, kalau sebelumnya tidak ada proses untuk saling memahami, memberi dan menerima, mungkin kalau jadi berkeluarga, jadinya tidak akan tahan lama. Mudah salah paham lalu pisahan.” Suamiku diam lagi supaya yang mendengarkan bisa meresapi.

“Untuk mengetahui sekrup bisa pas jodohnya atau tidak, bisa dilihat dengan perkiraan dan perhitungan atau dicoba disandingkan dulu. Kalau yang satu besar satunya kecil, jelas itu bukan jodohnya. Jangan dipaksakan. Karena kalau lubangnya lebih kecil, kalau dipaksakan akan merusak dua-duanya. Kalau lubangnya lebih besar, jelas akan mudah lepas. Perumpamaan ini jangan dirtikan macam-macam. Ini soal bibit, bobot, bebet, yang dua-duanya harus setimbang. Kekurangan sedikit dapat ditutup dengan  pengencang berupa saling pengertian, saling memahami, memaklumi dan saling sayang menyayangi.” Suamiku diam lagi. Kelihatannya sudah habis yang ingin dikatakannya.

“Sudah, sekarang kuijinkan Nak Bagas pulang. Renungkan baik-baik kata-kataku. Nak Bagas boleh lanjut, boleh berhenti sampai di sini. Hanya pesanku, kalau Nak Bagas ingin lanjut, berhati-hatilah menjaga hubunganmu dengan Anisa. Kalian sudah mahasiswa, mulailah menggunakan nalar, jangan menurutkan emosi dan perasaan hati belaka. Yang paling penting bagi kalian sekarang adalah belajar. Selesaikan studi kalian sesuai harapan orang tua. Masalah jodoh, seperti air mengalir saja, boleh dicari, tapi takdir Ilahi harus diterima dengan ikhlas.” Suamiku mengakhiri pesannya. Bagas pamit pulang.

Setelah Bagas kembali, aku tanya kepada Anisa, kenapa kok tidak jadi putus. Jawab Anisa, katanya karena mereka berdua sudah banyak mengukir kenangan yang tidak dapat dilupakan. Suka duka bersama waktu pacaran. Lebih-lebih perjuangan ketika Anisa akan menghadapi tes kesehatan masuk POLTEKES Surakarta. Meskipun itu semua juga karena kurang telitinya mereka berdua ketika meneliti pengumuman penerimaan mahasiswa baru yang dipasang di depan Kampus POLTEKES dulu. ***

Pengarang :  Sutardi MS Dihardjo
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, KLATEN 57422
No. HP: 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Related posts:

No response yet for "Cerpen: Nyekrup"

Post a Comment