Di Balik Keajaiban Sebuah Dongeng

Di Balik Keajaiban Sebuah Dongeng
Oleh: Sutardi MS Dihardjo
---------------------
Lihat biografi: Sutardi MS Dihardjo

Awal mulanya dongeng adalah cerita tutur yang disampaikan dari mulut ke mulut sejak jaman nenek moyang kepada anak cucu secara turun temurun. Sehingga tidak mengherankan kalau isi dongeng makin lama makin berkurang atau bertambah, sesuai dengan daya serap, daya ingat, dan kreatifitas si-pendengar dongeng yang kemudian mewariskannya kembali kepada anak cucunya. Tetapi sekarang dengan telah dikenalnya alat cetak maka cerita-cerita dongeng dapat dibukukan dan dibaca tidak kurang dan tidak lebih di mana pun dan kapan pun. Namun para penulis dongeng yang kemudian, karena tuntutan kreatifitas, sering mengubah alur cerita, bahkan tokoh dan karakternya, sampai akhir ceritanya. Hal ini terutama sering kita jumpai dalam sinetron-sinetron di televisi.
Dongeng merupakan salah satu metode pendidikan dari orang tua kepada anak-anaknya yang masih kecil. Melalui dongeng, anak-anak yang belum mendapat pendidikan formal di sekolah sudah mendapat pendidikan dari orang tuanya. Pendidikan budi pekerti, pengenalan nilai-nilai baik dan buruk, contoh-contoh perbuatan dan akibatnya, serta keteladanan-keteladanan, dapat ditanamkan ke dalam pribadi anak-anak sejak dini melalui dongeng. Bahkan setelah anak-anak mengenal pendidikan formal di TK dan SD pun, mereka masih menyukai dongeng yang diceritakan orang tuanya, maupun bapak/ibu guru di sela-sela pelajaran.

Dongeng Sebelum Tidur
Pada waktu belum banyak orang mempunyai televisi, dan setasiun televisi belum banyak seperti sekarang, dongeng sering diceritakan pada saat anak-anak menjelang tidur. Karena waktu itu, belum ada hiburan yang menarik minat anak-anak untuk bertahan berjaga sampai malam, maka setelah makan malam dan cuci kaki, anak-anak yang belum sekolah akan segera minta kelon kepada  orang tuanya. Saat itulah anak-anak diantar tidur malamnya oleh ibu-bapaknya dengan dongeng sebelum tidur. Sambil mendongeng ibu-bapak tersebut akan mengusap-usap (ngisik-isik) bagian badan yang disukai anaknya sesuai kebiasaan (biasanya bagian pantat, punggung, kepala, telapak kaki, atau yang lainnya), dan menyalurkan kasih sayang, menyatakan kedekatan dan rasa kebersamaan antara ibu, bapak dan anak.

Manfaat Dongeng
Dongeng yang indah dapat mendatangkan rasa nyaman kepada si anak. Keberhasilan tokoh dongeng dalam menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi, dengan pertolongan dari Tuhan, atau Dewa atau Hyang Widhi, sesuai konteks cerita, menimbulkan perasaan lega dan menyenangkan. Sehingga anak yang mendengarkan dongeng seperti terbuai untuk segera tidur dengan tenang.
Berbagai peristiwa dan perasaan yang dialami tokoh dalam cerita menjadi pengalaman batin anak yang mendengarkan dongeng, tanpa harus mengalaminya sendiri. Sehingga kalau kemudian mengalami hal yang hampir sama, si anak sudah siap mental untuk menghadapinya. Dan ia akan merasa bahwa ia tidak sendirian mengalami hal itu, karena ternyata ada juga orang lain yang mengalami hal yang sama. Tetapi dalam hal ini orang tua harus pandai-pandai memberi pengertian kepada anak, bahwa penyelesaian yang penuh kejadian ajaib dalam dongeng hanya mungkin terjadi dalam dongeng. Kita harus bekerja keras untuk dapat menyelesaikan persoalan yang kita hadapi.
Dongeng yang diceritakan, yang melukiskan sikap dan perbuatan kepahlawanan atau tindakan-tindakan yang mencerminkan budi pekerti luhur yang patut diteladani, dapat masuk ke dalam mimpi sang anak, masuk ke alam bawah sadar dan menjadi contoh dalam kehidupan anak tersebut kelak.
Membacakan cerita dongeng dari buku atau majalah dapat menumbuhkan  minat baca dan kecintaan anak pada buku dan bacaan-bacaan. Dengan rajin membaca, diharapkan anak akan terbantu dalam mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitasnya.

Menggunakan Dongeng Untuk Menanamkan Nilai-nilai
Pesan atau tendens sebuah dongeng biasanya sama seperti nasehat yang selalu diberikan oleh orang tua atau bapak/ibu guru: jangan nakal atau berbuat kejahatan lain yang lebih serius,  supaya tidak mendapat celaka; patuhilah nasehat orang tua, supaya hidupmu selamat; tolong-menolonglah kepada sesama, agar pada saat kamu membutuhkan pertolongan, Tuhan melalui orang lain ganti menolongmu; rajin-rajinlah belajar dan bekerja agar kamu beruntung, tecapai apa yang kamu cita-citakan; dan lain-lain.

Tetapi nasehat-nasehat yang bagus tersebut kalau disampaikan begitu saja kepada anak-anak, belum tentu mereka akan terkesan, mau memperhatikan, apalagi mau melaksanakannya.  Namun kalau nasehat-nasehat tersebut dikemas dalam sebuah dongeng, anak-anak akan suka menyimak dan memperhatikan. Karena mereka tidak  merasa digurui. Mereka tidak hanya mendapat nasehat atau perintah, tetapi mereka mendapat contoh dan keteladanan, biarpun hanya di dunia khayalan.

Peristiwa Ajaib Dalam Dongeng
Salah satu ciri khas yang segera tampak dalam sebuah cerita dongeng adalah jalinan cerita yang menyajikan peristiwa-peristiwa ajaib yang dialami para pelakunya. Peristiwa-peristiwa itu seakan tidak masuk akal, dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata, hanya mungkin terjadi di dunia khayal, dalam rekaan fantasi pendongeng dan pendengar atau pembaca dongeng. Maka tidak aneh kalau orang mengatakan, dongeng itu dipaido keneng (tidak harus dipercaya).

Tetapi justru karena adanya peristiwa-peristiwa ajaib dalam dongeng itulah maka cerita dongeng mudah diingat oleh anak-anak, bahkan sampai tua. Mungkin alur cerita dan detail-detailnya, juga nama-nama tokoh, sudah kita lupa. Tetapi satu peristiwa ajaib yang menjadi ciri khas cerita tersebut tetap diingat. Misalnya cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, sebagai ciri khasnya adalah ketidak adilan perlakuan seorang ibu kepada anak tirinya. Lalu peristiwanya adalah dibelahnya semangka hadiah dari Nini Buto. Milik anak yang baik berisi perhiasan emas permata, sedangkan milik anak yang jahat berisi binatang-binatang berbisa yang menjijikkan, yang kemudian mencelakai anak dan ibu tiri yang jahat tersebut.

Dongeng Timun Emas, ciri khasnya adalah seorang anak dikejar-kejar raksasa, lalu di sepanjang jalan anak tersebut melemparkan timun, lalu garam,  lalu jarum, lalu terasi, yang kemudian berubah menjadi kebun timun, lautan, hutan berduri, dan lautan lumpur yang kemudian menenggelamkan raksasa tersebut.

Peristiwa ajaib dalam cerita dapat dikatakan menjadi pangkal dari dongeng tersebut, yang membuat dongeng tersebut mudah diingat dan dikenali. Sedangkan awal dan akhir cerita, serta detail-detailnya adalah kelengkapan yang menjadi wilayah kreatif si pendongeng berikutnya, termasuk dalam memberi makna atau pesan dalam dongeng tersebut. Dengan mengingat peristiwa ajaib dalam dongeng, pendongeng berikutnya dapat menyusun atau menuturkan dongeng tersebut dengan bahasa sendiri berdasarkan pengalaman batin dan fantasinya sendiri. ***

Related posts:

No response yet for "Di Balik Keajaiban Sebuah Dongeng"

Post a Comment