Kumpulan Puisi Sutardi Ardi Manikam / Sutardi MS Dihardjo

Kumpulan Puisi Sutardi Ardi Manikam / Sutardi MS Dihardjo (Ditulis di masa-masa SMA)


Jeram
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Keliaran gerak mencebur
Ke dalam bentuk warna-warni
Di mana gamping membedak memalsu diri
Menggelut mesra ketamakan
Hitam yang merah keputihan
Bergulat dalam gilasan jeram menggerojok

Membising suara jeram mengucur keruh
Peluh-peluh kehidupan
Tertampung dalam seribu harap
          Mengalas
                  Menjulang tinggi
                            Meniang – berlidah api
                                         Menjulur – menggapai mewah

Di belakang
Kemewahan menjadi darah

Keunikan dalam jeram
Adalah tubuh-tubuh saling terjang 

SMA Negeri 1 Klaten, 1976


Tak Ada Titik Dalam Hidup
Oleh: Sutardi Ardi Manikam


Tak ada titik dalam hidup
Paling hanya koma
Penthung yang tajam
Dalam lingkaran berlekuk
Yang mesti diputari
Dengan meninggalkan catatan-catatan
Membekas dalam hati
Titian kita di alam baka

SMA Negeri 1 Klaten, 1977


Kemarau
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Kecerahan langit kemarau ini
Menyodorkan kegersangan pada rumput dan daun-daun
Yang meranggas
Kebiruan yang mendinding di angkasa
Adalah kekosongan
Menjelma mendung di dalam hati
Menitik satu-satu air mata
Terpancar dari batin
Yang kehilangan harapan

SMA Negeri 1 Klaten, 1977


Sajak Tentang Seekor Semut
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Seekor semut yang lemah
Terjatuh di permukaan kolam
Merambat dalam gerak yang lamban
Tiba-tiba sebuah batu terjatuh
-- plung –
Air bergolak
Menghempas semut ke tepi
Karunia yang tak terduga 

SMA Negeri 1 Klaten, 1977

Kelahiran
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Sekeping kaca tiba-tiba terhambur pecah
Atas segores nasib tak terelak
Sepasang kaki mulai memijakinya
Dengan nafas pertama
Yang berkalung alternatip:
Menghias
Atau mencekik

SMA Negeri 1 Klaten, Agustus 1977
Termuat dalam Cerpen ”Ajal Itu pun Tibalah” Majalah Sastra Horison bulan Maret 1978


Sepi
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Dalam kesendirian 
Aku dikungkung sepi
Bergelantungan kilatan-kilatan cermin
Menembus ke lubuk hati
Menelanjangi seluruhku

SMA Negeri 1 Klaten, Agustus 1977

Pemerasan
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Esok dan kelak
Terperam dalam hari ini
Dalam nikmat yang merusuh diri
Pada kesementaraan yang tak terhindari

SMA Negeri 1 Klaten, Agustus 1977


Pergolakan
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Gelap liat menggilap
Memantul-mantulkan selubung sinarnya
Ke kelam yang kian terbelam
Begitu keras pantulan menembus
Tak terelak jiwa pun koyak
Di ujung kesepian

Satu-satu sinar putih pucat
Terkulai dari lubuk hati
Gelagapan di kegilapan gelap
Terjaring keganasan selubung peletupan

Berdeburan deru mendera diri
Lihatlah!
Urat pun berbaris menegang lancip
Dalam denyut mendegup pergolakan
Jika urat putus
Kelancipan itu pun saling tancap
Menyemburkan bisa pelemas daya
Yang gelap dan juga yang putih
Berbelitan selubung
Hingga satu lumpuh
Terperangkap

SMA Negeri 1 Klaten, 1977

Engkau dan Aku Dalam Doaku
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Tuhanku,
Mungkin sebelum terlahir pernah kumenatap-Mu
Keterpukauanku menampung cahya-Mu melebur di kalbuku
Barangkali itulah yang menyematkan kepercayaan di hatiku
Akan ada-Mu yang mengatur roda kehidupan
Barangkali itulah yang mengalirkan kesadaran
Yang tersalur dari taman hati mewangi ke seluruhku
Akan ada-Mu yang meneduhi rohku

Karena aku tak pernah menyimak ujud-Mu
Dan lagi ingatanku tak pernah kuasa
Menembus kepekatan rahasia terciptaku oleh kuasa-Mu
Maka Engkau pun tiada dalam mataku
Setidaknya tak kuingat lagi wajah-Mu
Tapi itulah keagungan-Mu Yang Maha Tinggi
Tak nampak di mata tapi terasa di hati

Sedang di kepolosan hati kami, setiap insan
Memantul-mantul letupan permusuhan
Yang menggejolak antara tentara-Mu melawan musuh-Mu
Untuk melahirkan manusia dengan sifat dan perbuatan
Kejujuran atau kecurangan

Lagi pula terasa,
Bahwa orang yang runduk pada-Mu
Akan lebih banyak tahu ada-Mu yang melindung
Bahwa orang yang runduk pada setan
Tak akan tahu setan yang mendidnding kaca
Melingkup seputar hati
Membiaskan kesucian ke dalam dosa-dosa

Jika ada orang yang tak mengakui kekuasaan-Mu
Jika ada orang yang tak mempercayai kehadiran-Mu
Adalah karena cahya-Mu yang menyatunya dahulu
Telah memucat tertindih kelancungan pikir
Karena mereka tak pernah mengunjungi-Mu
Lewat doa dan zikir

Ya Tuhanku Yang Maha Besar,
Sadarkan mereka
Ke jalan-Mu

SMA Negeri 1 Klaten, Februari 1978

Bermain Gangsingan
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Wung wung wung wung wung
Dalam hatiku yang selalu bergolak
Malaikat putih yang selalu mengepakkan sayapnya
Dan setan hitam yang selalu menjeratkan rambutnya yang panjang
Bermain gangsingan dalam lingkar jiwaku
Berpathu-pathuan
Saling menghantam ke luar lingkar kodratku

Wung wung wung wung wung
Suatu kali malaikat putih berhasil memathu setan-setan
Sambil berteriak:
Setan-setan enyahlah!
Hussyiah! Enyahlah wahai peracun hati manusia
Pada hakikatnya manusia adalah fitri
Engkaulah yang telah menjelma ular
Yang mematukkan bisa ke hati manusia
Hingga jadi hitam! Jadi hitam!
Dan merah api neraka tambah menyala
Hussyiah! Enyahlah wahai setan-setan laknat!

Suatu ketika setan hitam berhasil memathu malaikat-malaikat
Sambil tertawa mengerikan: hihihi......
Dan tersenyum sinis yang mencolok mata Tuhan
Namun Tuhan tetap tersenyum

Ya Tuhanku Yang Membolak-balikkan Iman
Adakah aku punya andil pada semua ini
Di antara pergulatan takdir baik dan takdir buruk
Betapa pekat rahasia menyelimuti

Ya Tuhanku Yang Maha Suci
Tuntunlah aku ke hakekat kebenaran
Cucilah hatiku dari noda dan dosa
Agar tak silau oleh bisikan setan
Dan tahu jalan shirrathal mustaqiim
Jalan terang-Mu yang tidak menyilaukan
Dan beri aku kekuatan 
Meniti sampai ke seberang
Tak goyah bayangan menggamang
Selamat khusnul khotimah
Amiin 

SMA Negeri 1 Klaten, 1978

Meditasi Di Tengah Hamparan Sawah
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Duh Dewi Sri duh Sri Betari
Yang berkerudung kain keemasan
Berkibar bagaikan alunan gelombang
Mendesaukan angin perdamaian
Mendentingkan nyanyi ketentraman
Dalam kemakmuran gemah ripah loh jinawi
Tanpa nafsu dan keserakahan
Tanpa dendam dan kebencian
Dalam kesederhanaan yang tak dipaksakan

Duh Dewi Sri duh Sri Betari
Yang tersenyum di cangkul petani
Wajahmu begitu cantik dan sejuk
Pada rambutmu menitik embun pagi
Kemilau ditimpa sinar mentari
Pada urat-uratmu air mengalir
Gemericik suaranya diseling kicauan burung
Engkau terus melahirkan anak-anakmu
Yang dapat menghidupiku
Yang dapat membangunkan kasihku padamu
Aku memelihara kau, menyiangi dan menyayangi
Engkau memelihara aku, memberikan bulir-birmu
Daun-daun dan batangmu
Untuk memenuhi kebutuhanku

Duh Dewi Sri duh Sri Betari
Betapa indah wajahmu
Betapa ramah kicaumu
Betapa damai senyummu
Betapa tulus kasihmu
Tetapi dengarlah kegelisahanku
Akan nasibmu, akan nasibku
Jika jaman telah berubah
Dimana engkau telah dijejali candu
Asap-asap berkibaran dari mulutmu
Angin kotor bertiup pengap
Merasuk ke dalam jantung ke dalam paru
Dan jika hati pun terkotori
Noda-noda hitam akan menjamur dalam jiwa
Tubuhmu akan dibelah-belah
Kepalamu akan dicincang
Dan hatimu....
Oh, hatimu akan dilindas kaki terlecut debu
Diinjak-injak-diinjak-injak... 

Duh Dewi Sri duh Sri Betari
Jika pada tubuhmu telah mengeras tanah
Serupa dongeng raja apa yang diraba menjadi emas
Bertumbuhan gedung berdri megah
Dihuni bayi-bayi yang lahir tanpa kendali
Maka karangan bunga dengan pita hitam pun
Akan kukirim kepadamu
Nyanyian duka dan lagu-lagu kenangan
Akan kunyanyikan untukmu
Sebagai tanda berkabung
Atas kemalangan yang terpaksa kau sandang
Sebab telah terobek keibuanmu
Sebab telah diperlacurkan keayuanmu
Sebab telah terlindas ketentramanmu
Tubuhmu tinggal mengeras dan layu

Duh Dewi Sri duh Sri Betari
Aku gelisah aku resah
Sebab para petani berpenghasilan sedikit
Digerogoti hama tanaman yang makin beragam
Nilai tukarnya pun semakin kecil
Sementara tawaran para cukong untuk dapat
Memperkosamu semakin tinggi

Duh Dewi Sri duh Sri Betari
Mereka perkosa tubuhmu 
Yang makin sempit dan mandul
Kalau telah bosan mereka cetak
Dewi Sri – Dewi Sri baru di tempat lain
Dan menikmati dengan rakusnya
Tapi jika anak-anak terus lahir
Memetak-metak memecah-mecah 
Mengganyang ramai-ramai tubuh 
Dewi Sri ciptaannya
Aku tak kuasa membayangkan

Kemudian jika kau mati....
Tak ada di mana-mana
Aku makan apa?
Barangkali aku akan berlari-lari
Melingkar-lingkar bagai ular
Yang membelit perutku
Dan aku akan berteriak
      Berteriak
              Dan berteriak:
                                       Lapar...
                                                  Lapar....
                                                            Lapar.....
                                                                      Lapar.......

SMA Negeri 1 Klaten, 1977


Catatan 1965
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Suatu hari dalam kabut berbusa bisa
Di bawah mendung memayungi berjuta hati
Langit bergetar mengelam jiwa
Jerit meruap dalam degup tak beraturan
O, perjuangan yang dinistakan
Setan-setan melicinkan jalan
Setan-setan yang menggelincirkan cita-cita

Suatu hari dalam kabut berbusa bisa
Di bawah mendung memayungi berjuta hati
Adalah bulan perak
               Yang tak goreskan senyum ke dalam hati
Adalah mentari
               Yang tak pancarkan sinar kebenaran
                Kepada bumi yang berkabung dalam kepecahannya

Suatu hari dalam kabut berbusa bisa
Di bawah mendung memayungi berjuta hati
Ranting-ranting pepohonan liu
Berayun tanpa arti hakiki
Pucuk-pucuk daun terombang-ambing tak menentu
Dalam gelisah rimbun pepohonan
Dipermainkan angin

Suatu hari dalam kabut berbusa bisa
Di bawah mendung memayungi berjuta hati
Lidah-lidah api menyulut dada
Membakar nafsu kebencian
Menghangusi hati yang rapuh
Dengan meruntuhi
Dinding-dinding kemanusiaan

SMA Negeri 1 Klaten, Agustus 1977

Malam
Oleh: Sutardi Ardi Manikam


Malam menghantam dari segala sudut
Menghimpit, menukik, menghunjam dalam
Aku yang tak mau terjerat
Membalik: M A L A M
Menjungkir: 
M

Hahhh... derita
Kapan aku lepas dari kungkunganmu
Kukeping dinding batumu!

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Klaten, Oktober 1978



DARI LUKA KE LUKA
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

kau lepas anak panah
menghunjam dalam ke dalam jiwa
tali busur bergetar mencibir
mengiris hatiku pedih 

aku bertahan menadah luka-luka
darah meleleh kuatkan hati
tekad yang tak mau mati
membara membakar jiwa

dari luka ke luka aku bangun
tangis diri menjadi bara api
nyalakan tekad berdiri
berpijak mengakar
pada penderitaan meninggi

kuremuk seluruh diri
untuk bangun mengutuh padu
menyelam ke lekuk liku
lalu menguasai seluruh diri

SMA Negeri 1 Klaten, 1978

Bimbang
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Habis mandi
Kusisir rambut rapi-rapi
Kupatut diri sebelum menghadap

Bergaya di depan kaca
Kebanggan melonjak
Ajaib! Tiba-tiba aku terhenyak
Memandang bayanganku dalam cermin
Air laut bergolak dalam deburan ombak
Hai! Cermin berombak. Setan-setan bersorak
Cermin retak lepas menancap di gelisahku
Kebimbangan bergelombang memecah di hatiku

Sejak itu
Aku gelisah berhadapan dengan cermin
Terbayang wajah belum bersih
Diri belum patut
Sementara usia mulai lanjut

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Solopos, Minggu 16 Desember  2007 

Kugapai Cakrawala
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Langit berombak
Laut bergolak
Kugapai bayang-nayang di cakrawala
Menyatunya laut-langitku

Ada cita menderu. Menguak langit
Jiwaku kelabu
Tersandar di kebiruan-Mu

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Solopos, Minggu 16 Desember  2007 

Harapan
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Antara gelap padat menghimpit
Dalam balutan mendung menebal
Masih adakah
Segores kilat sinar kasih
Menerango kehidupan luas terbentang

Oi, sebutir bintang
Berkilau di pucuk langit
Menyinari seberkas harapan 

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Solopos, Minggu 16 Desember  2007 


ASING
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Ketika aku membalik kepalaku
Memandang dari sela kedua kakiku mengangkang
Aku terpana
Betapa asing
Pemandangan yang biasa
Pemandangan sehari-hari
Jadi lain kini

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Solopos, Minggu 7 Oktober 2007 

Rindu 1
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Laut biru
Cakrawala yang kelabu
Hati gundah yang mendudu
Rindu dan tuju
Selalu ingin menyatu

SMA Negeri 1 Klaten, 1978



Rindu 2
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Dari waktu ke waktu
Rindu menunggu
Langit biru hatiku kelabu
Laut biru bergulung
Tiada berperahu

Dari hari ke hari
Damba menanti
Jalanan sepi
Debu-debu mengendap
Menghapus jejak kaki

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Majalah MEDIA P-4 Semarang Tahun 1995


SANGSAI
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

langit berombak
laut bergolak
tali dan kelasi bersitegang
menahan badai

muncul pantai
bibir daratan melambai
akankah sampai
???!

SMA Negeri 1 Klaten, 1978

Kepastian
Oleh: Sutardi MS Dihardjo


Rintik-rintik gerimis
Merintik dalam panas terikku
Membuat aku selalu ragu
Untuk mulai atau mundur

Kalau hujan, hujanlah!
Kalau terang, teranglah!
Jangan kau rebus aku
Dalam kuyup air dan panas api

SMA Negeri 1 Klaten, 1978


Sakit
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Sakitku terlalu berat menghimpit dada
Dokter bilang padaku:
Menjauhi kemanisan
Menjauhi kemasinan
Menjauhi kemasaman
Tetapi kepahitan
Adalah obat mujarab
Untuk lepas dari ketawaran

SMA Negeri 1 Klaten, 1978

Layang-layang
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Pernahkah kau rasakan
Bermain layang-layang di tanah lapang
Angin mati
Layang-layang tak naik-naik juga
Kau berdoa mengharap belas kasih
Tiba-tiba angin bangkit
Membawa layang-layangmu merambat naik
Seakan nasib lagi mujur apa diharap tentu didapat
Betapa gembira
Kau permainkan layang-layang sesuka hati
Seakan nasibmu kau kuasai di tanganmu sendiri

Ketika tiba-tiba angin mengamuk
Menghantam semua
Memutus begitu saja tali benang di tanganmu
Menerbangkan layang-layang nyangkut di pohon
Apa kau rasa
Dongkol, kecewa, pasrah, putus asa, mengutuk nasib
Atau mencoba bersabar
Berusaha memanjat pohon itu
Untuk meraih layang-layangmu kembali
Dan bermain penuh hati-hati

Adakah kau ingat
Siapa membangkitkan angin
Menerbangkan layang-layang
Memainkan atau mempermainkan kita

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Solopos, Minggu 7 Oktober 2007 

Pengemis Yang Dungu Adalah Aku
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

pengemis yang dungu adalah aku
yang salah menterjemahkan ibu kota
sebagai tempat yang penuh harapan
cita-cita dan lampu-lampu gemerlapan
yang bakal mudah muraih dalam genggaman

pengemis yang dungu adalah akau
yang mencoba menterjemahkan kata-kata:
- awas anjing galak! –
- sanese mawon, sing kagungan dalem nembe tindak –
dan umpat caci maki
katakan aku pemalas tak doyan kerja

pengemis yang dungu adalah aku
yang mencoba menterjemahkan arti hidupku
sisa hidupku di hari-hari mendatang
masihkah akan kujalani
perjalanan panjang menyusur lorong-lorong
terlunta-lunta dari pagar ke pagar
ragu-ragu mengetuk pintu
sebelum salak anjing kian galak mengusirku

pengemis yang dungu adalah aku
yang mencoba menterjemahkan rindu
pada sepiring nasi
sekerat daging
dan secangkir kopi
di pagi hari

pengemis yang dungu adalah aku
yang mencoba menterjemahkan arti langkah
tapak-tapak kaki kian menjauh
masuk ke kamar dalam
setelah sebentar menyingkap tirai jendela
mengintip aku yang asing, kalah dan terbuang

pengemis yang dungu adalah aku
yang mencoba menterjemahkan bunyi ketukanku
pada pintu hati yang rapat terkunci
kebal akan sentuhan-sentuhan
belas kasih dan kemanusiaan

SMA Muhammadiyah Wedi, 1982
Dimuat di koran Suara Merdeka Semarang, tahun 1982

Nyanyian Pagi
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Alam hening, tentram dan tintrim
Dusun-dusun mulai terbangun
Menyingkap selimut kabut
Menyibak kegelapan

Langit luas terhampar
Hijau, biru, putih, nila, dan ungu
Terkuak cahya merah jambu

Alangkah mesranya!
Bulan berpacaran dengan bintang timur
Indahnya hari yang segra kujelang
Indahnya hidup yang segra kujalani

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Majalah UNIQUE Bandung tahun 1978

Waktu Aku Menekur Berbaring
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Jika bola matahari menggelinding ke perut bumi
Ditendang kaki-kaki mungil
Kanak-kanak yang lincah bermain senja tadi
Malam pun larut dalam genangan bintang-bintang

Waktu aku menekur berbaring
Sepi menyusupi ruang
Hanya detak jantung
Denyut nadi
Dan getar hati
Yang kudengar semaikn seru bertalu-talu

Aku diam menatap langit-langit
Melalui genting kaca sempat kutangkap
Bulan sabit menembus menyinarkan harap
Bening
Nyaring berdering
Memanggil-manggil aku demikian dekat

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Majalah Puteri Indonesia Jakarta Tahun 1978


Sajak Subuh
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Kuguyur ubun-ubunku
              Kuguyur
                           Dengan embun dini hari

Jantungku memompa darahku
Jantungku memompa gairahku
Jantungku memompa nafas-nafas kehidupan

Embun menitik ke sanubari
Tersalur ke dalam otak
Cemerlang otakku, cemerlang, berpikir penuh terang
Tenang batinku, tenang, melangkah penuh pasti
Semoga dapat 
              Menggapai bintang timur
                                 Yang masih tetap setia 
                                                                          Menunggu

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta tahun 1982


Aku Kembali Kepadamu Klaten
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Melintasi ladang-ladang jagung
Tanah-tanah kering
Bukit-bukit dan jurang-jurang dalam
Melintasi kampung-kampung
Hutan jati di Purwodadi
Dan keramaian kota di Solo dan Kartasura
Aku kembali
Pulang dari kembara
Pulang dari Blora

Ya, aku telah kembali kepadamu, Klaten
Tanah yang subur, dimana setiap benih ditabur
Akan tumbuh menjadi buah
Aku kembali kepadamu, Klaten
Setelah sembilan bulan kutinggalkan
Wajahmu yang kurindu

Sembilan bulan memang tidaklah lama
Tapi cukup sudah membuat kotaku yang kecil
Tumbuh berkembang bagai gadis remaja menjelang dewasa
Pembangunan jalan-jalan, pertokoan gemerlapan, pasar induk,
masjid raya, gereja, dan sekolah-sekolah
bermunculan di sana-sini bagai embun di pagi hari
begitu banyak kemajuan kau peroleh
tiap hari tak henti mematut diri
perluasan kota adalah pertanda kau gadis remaja yang sedang mekar
berhati-hatilah! Jaga keseimbangan rohani dan jasmanimu
dalam usia demikian banyak gadis remaja sakit jiwa
karena salah perhitungan
tak kuasa mengatasi gelisah sangsai
gejolak nafsu yang timbul dari dalam
teruskan bersolek, Klatenku, kotaku, kekasihku
hanya satu pesanku, jangan lupa selalu bercermin
selalu bermawas diri
meneliti setiap detak langkah

SMA Muhammadiyah Wedi, 1982
Dimuat di Koran Suara Merdeka Semarang tahun 1982


Pel*cur
Oleh: Sutardi Ardi Manikam

Seorang pel*cur mengerdip-ngerdipkan matanya
Maka robeklah keperawanannya
Terlumpur di kencingan sepi lelaki ketika
Butir-butir rupiah menggilas masuk
Ke dalam tubuhnya yang ayu montok

Seorang pel*cur mengerdip-ngerdipkan matanya
Maka menjeratlah terali duka lilitan cemooh kemaluan
Yang mengepungnya dengan bertambat ketergantungan

Seorang pel*cur mengerdip-ngerdipkan matanya
Maka gosonglah surganya di dalam api-api dapur
Yang menggelinding ke api neraka

SMA Negeri 1 Klaten, 1978
Dimuat di Majalah Puteri Indonesia Jakarta tahun 1978

Related posts:

No response yet for "Kumpulan Puisi Sutardi Ardi Manikam / Sutardi MS Dihardjo "

Post a Comment