Naskah Drama Kopral Sayom Ke Internet Babak I

Sebuah drama anak-anak dalam 2 babak 
karya: Sutardi MS Dihardjo


KATA PENGANTAR
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia sebagai tonggak berdirinya Negara Republik Indonesia telah dibacakan oleh dwi tunggal Soekarno – Hata di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi hal itu tidak berarti Negara Indonesia otomatis langsung berdiri menjadi negara yang merdeka dan berdaulat dari Sabang sampai Meraoke. Dan juga tidak berarti, penjajah bangsa Jepang yang berkuasa pada waktu itu langsung mengakui kemerdekaan negara kita, lalu menyerahkan segala kekuasaan yang digenggamnya kepada bangsa kita dengan suka rela.  Juga tidak berarti, bangsa Belanda yang sudah berabad-abad menguasai dan menghisap kekayaan negara kita, tidak ingin kembali menjajah bangsa kita yang sudah menyatakan kemerdekaannya itu. Kemerdekaan yang sudah diproklamasikan itu, harus direbut, diperjuangkan, dan dipertahankan oleh bangsa kita, oleh pahlawan-pahlawan kita, dari pahlawan yang berkaliber besar seperti Soekarno, Hata, Syahrir, dan lain-lain, sampai pahlawan-pahlawan yang hanya dikenal lokal seperti Kopral Sayom, Prajurit II Kirmadi, Sersan Sadikin, Mayor Kusmanto, TP Sunadi, dan lain-lain pahlawan lokal yang berjuang di Klaten, bahkan sampai para pahlawan tak dikenal yang sampai sekarang tidak diketahui namanya, yang berjuang tanpa pamrih.

Banyak kisah-kisah kepahlawanan yang akan dapat menumbuhkan rasa cinta Tanah Air, kebanggan sebagai bangsa Indonesia, dan dapat menggelorakan semangat untuk berjuang melanjutkan cita-cita para pahlawan, pendiri bangsa, untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang dapat kita petik dari kisah-kisah heroik para pahlawan kita itu, bahkan hanya dari kisah perjuangan seorang prajurit rendahan seperti Kopral Sayom!

Klaten mempunyai buku sejarah lokal yang ditulis para pelaku sejarah dan para saksi sejarah. Mereka itu tidak hanya pelaku yang berkaliber lokal dikenal di Kabupaten Klaten saja, tetapi juga tokoh pejuang yang dikenal di tingkat nasional, seperti Jenderah AH. Nasution yang pernah memimpin perang di daerah Klaten, tepatnya di Kepurun Manisrenggo. Buku yang saya maksud adalah: ”PERJOANGAN RAKYAT KLATEN” yang disusun dan diterbitkan oleh ”Panitiya Pembangunan Monumen Perjoangan ’45 Klaten” tahun 1976; dan buku ”DI BAWAH SANG MERAH PUTIH TENTARA PELAJAR KLATEN MENGABDI” yang ditulis oleh eks Tentara Pelajar  Klaten tahun 1993. Dua buah buku sejarah lokal Klaten itu menjadi acuan penulisan lakon drama anak-anak yang saya tulis untuk ikut memperingati Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 69 Tahun 2014 ini.

Semoga karangan saya yang tidak seberapa nilai sastranya ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Khususnya bagi adik-adik pelajar untuk latihan bermain drama. Apabila sekolah berkenan mementaskan lakon ini, penulis akan merasa senang dan berbahagia. Latihan ataupun pementasan boleh dilakukan, dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada penulis, atau tanpa pemberitahuan juga tidak apa-apa. Yang penting lakon ini membawa manfaat bagi proses belajar – mengajar di sekolah, khususnya dalam pelajaran sastra Indonesia dan untuk menggelorakan semangat kebangsaan, yang kini nampak mulai luntur, terkikis globalisasi.

           Sekian. Terima kasih.
           Salam Penulis

Para Pelaku:
Eny : seorang pelajar murid kelas 5 atau 6 SD
Ibu Eny : ibunya Eny, masih muda dan terpelajar 
Ika : teman satu kelas dengan Eny
Tri : teman satu kelas dengan Eny
Asmini : teman satu kelas dengan Eny
Hartani : teman satu kelas dengan Eny
Agus : teman satu kelas dengan Eny
Agung : teman satu kelas dengan Eny
Maryadi : teman satu kelas dengan Eny
Kopral Sayom : Pejuang kemerdekaan pahlawan Klaten 
Sersan Sadikin : Pejuang kemerdekaan pahlawan Klaten
Letnan Sunarto : Pejuang kemerdekaan pahlawan Klaten
Prajurit Kirmadi : Pejuang kemerdekaan pahlawan Klaten

Dua orang berpakaian seragam militer Belanda sebagai: Kapal terbang Cocor Merah 1 /pilotnya dan tentaranya.

Dua orang berpakaian seragam militer Belanda sebagai: Kapal terbang Cocor Merah 2 /pilotnya dan tentaranya.

contoh naskah drama - exnim


DI HALAMAN SEKOLAH. SIANG HARI.

KETIKA BABAK PERTAMA DIMULAI, NAMPAK PANGGUNG MENGGAMBARKAN SUASANA HALAMAN SEKOLAH YANG MASIH LENGANG. SAMAR-SAMAR TERDENGAR BERKUMANDANGNYA SUARA ANAK-ANAK SEKOLAH DAN GURUNYA YANG SEDANG MELAKUKAN KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR DI DALAM KELAS. HALAMAN SEKOLAH CUKUP LUAS. BEBERAPA POHON PERINDANG BERDIRI DI DEPAN SEKOLAH.

BEBERAPA DETIK KEMUDIAN TERDENGAR BUNYI LONCENG / BENDE / ALARM SEBAGAI TANDA JAM ISTIRAHAT SEKOLAH. KEMUDIAN ANAK-ANAK SEKOLAH: IKA, TRI, ASMINI, HARTANI, DAN ENY MASUK KE ATAS PANGGUNG DARI SAMPING KANAN. IKA MEMBAWA RENTENGAN KARET GELANG YANG CUKUP PANJANG DALAM GENGGAMAN.

IKA : Yuk kita bermain Lompat Tali pakai karet gelang, kawan-kawan! 
TRI : Bermain apa?
ASMINI : Bermain ye-ye.
HARTANI : Bermain dhing saja?
ENY : Apa bedanya? 
HARTANI : Ya hampir sama. Sama-sama lompat-lompat pakai tali. Bikin badan kita sehat dan hati kita senang.

ENY : Ya sudah kalau begitu mari kita bermain dhing saja.

MEREKA BERLIMA MULAI PERSIAPAN BERMAIN. MEREKA MELAKUKAN HOM-PIM-PAH UNTUK MENENTUKAN YANG MAIN DAN YANG JAGA. HASILNYA: IKA, TRI, ASMINI JADI YANG MAIN (YANG MELOMPAT-LOMPAT), SEDANGKAN ENY DAN HARTANI JADI YANG JAGA (YANG MEMEGANGI UJUNG TALI KARET GELANG)

IKA : Ayo sekarang Bu Kopral dan Hartani yang jaga. Bu Kopral pegang tali di ujung kanan, Hartani pegang tali di ujung kiri. Ini karetnya! (MENYERAHKAN RENTENGAN KARET GELANG KEPADA ENY)

ENY : (MENERIMA TALI KARET GELANG DENGAN ENGGAN) Mbok jangan gitu, kalau panggil aku ! Aku kan bukan Kopral. 

TRI : Kalau begitu, kita panggil Sayom saja.
ENY : Itu juga jangan! 
HARTANI : Kenapa jangan? Ooo... karena Sayom itu nama laki-laki, ya? Kalau begitu kita panggil saja Mbak Sayem.

ENY : Itu juga jangan. Namaku Eny Mulyati. Panggil saja aku: Eny. Titik. Jangan panggil aku nama-nama lain, kalau tak ingin manggil nama aku lengkap! (AGAK MARAH)

IKA : Kami semua tahu, kalau nama kamu itu Eny Mulyati. Tapi rumah kamu kan di Jalan Kopral Sayom, ya kami panggil saja kamu Kopral, atau Sayom, atau Sayem. Agar kita semua tahu dan tidak lupa kalau nanti ke rumahmu. Alamatmu: Jalan Kopral Sayom.

ENY : Tapi kan tidak harus memanggil aku begitu. Masak manggil namaku disamakan dengan nama jalan.

TRI : Kenapa? Malu? Makanya kalau ngasih nama jalan itu ya jangan sembarangan, biar penghuninya bangga. Masak nama jalan kok Kopral Sayom. Apa sih hebatnya pangkat kopral? Itu kan pangkat prajurit rendahan.

ENY : Kata ayahku, itu nama pahlawan.

ASMINI : Di buku pelajaran sejarah kita tidak ada nama pahlawan Kopral Sayom. Yang sudah kita pelajari, dan harus dihafal nama pahlawan itu ya Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Presiden Sukarno, Tuanku Imam Bonjol, dan lain-lain. Bukan Kopral Sayom.

HARTANI : Iya... nama pahlawan untuk dikenang dan dijadikan nama jalan itu mestinya ya yang keren dong. Jadi kita bangga menjadi penghuninya. Misalnya Jalan Dewi Sartika. Jalan RA Kartini. Jalan Pangeran Diponegoro. Jalan Panembahan Senopati. Gagahkan? Kita bangga bertempat tinggal di jalan yang memakai nama-nama orang besar seperti itu. Tapi nama jalan Kopral Sayom, apa yang dapat dibanggakan?

ENY : (KESAL) Sudah! Sudah! Jangan ngeledek terus! Ini kita mau main lompat tali dhing  atau mau diskusi masalah pahlawan? 

IKA : Ya sudah mari kita mulai bermain! Kopral Sayom.... eh, maksudku Eny pegang tali di ujung kanan, Hartani pegang taili di ujung kiri. Kami bertiga, aku, Tri, dan Asmini bergantian melompat. 

BERSAMA : Ayo.....
ENY DAN HARTANI SEGERA MENGAMBIL POSISI JAGA. YANG LAINNYA MENGAMBIL ANCANG-ANCANG DI TEMPAT YANG DISEPAKATISEBAGAI GARIS START. MEREKA BERLIMA LALU BERMAIN LOMPAT TALI DHING.

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN, TIBA-TIBA KELERENG ANAK LAKI-LAKI YANG BERMAIN DI BAGIAN LAIN MASUK KE  ARENA TEMPAT BERMAIN LOMPAT TALI ENY DAN KAWAN-KAWAN. AGUS MASUK KE PANGGUNG MENGEJAR KELERENGNYA YANG MASUK KE TEMPAT PERMAINAN ENY DAN KAWAN-KAWAN, TUBUHNYA MENABRAK ENY.

ENY : (MARAH) Kuarang ajar! Agus, kalau jalan pakai mata dong! Jangan main tabrak saja! 

AGUS : Maaf, aku tidak sengaja, Bu Kopral Sayom! Aku mengejar kelerengku yang lari ke sini.

ENY : (KESAL) Ini lagi...panggil aku Kopral Sayom! Memangnya kamu sudah mbancaki ngeganti namaku jadi Kopral Sayom?! 

MARYADI : (DARI LUAR PANGGUNG BERTERIAK) Agus..... Cepat! Bawa kelerengmu ke sini! Jangan kelamaan berada di tempat bermain perempuan.  

AGUS : (BERTERIAK) Sebentar...! Aku lagi dimarahi Bu Kopral Sayom! Kalau dia sudah aku jinakkan, aku akan segera ke situ!

AGUNG : (BERTERIAK JUGA DARI LUAR PANGGUNG) Orang galak jangan diladeni! Mendingan kamu segera ke sini bermain kelereng sama-sama. Sudah, tinggalkan saja dia. Nanti kalau dia tambah marah, lalu keluarkan pistulnya atau bedilnya, bisa mati kamu kena tembak. 

MARYADI : Iya, sebaiknya kamu segera lari ke mari, sebelum kamu jatuh kena tembak Bu Kopral!

AGUS : Ya, baiklah aku akan segera ke situ.

AGUS BERLARI KELUAR PANGGUNG MELALUI JALAN DIA MASUK TADI.
SEMENTARA ITU ENY YANG DITINGGALKAN MASIH TERLIHAT MARAH DILEDEKI TEMANNYA  SEBAGAI KOPRAL SAYOM.

 ENY : (KESAL, SANGAT KESAL DAN MARAH) Ini lagi! Ini lagi! Semua orang, tidak yang perempuan tidak yang laki-laki, semuanya meledek aku dengan memanggil namaku Kopral sayom! Memangnya namaku tidak lebih indah dipanggilnya? Eny Mulyati, atau Eny saja, lebih bagus kan? Kenapa semua lebih suka meledekku dengan mengganti namaku jadi Kopral Sayom?

SUASANA JADI TEGANG KARENA ENY MARAH-MARAH. PERMAINAN BERHENTI. TAPI KEMUDIAN SUASANA ITU DICAIRKAN DENGAN TERDENGARNYA BUNYI LONCENG / BENDHE / ATAU ALARM TANDA WAKTU ISTIRAHAT SUDAH SELESAI, ANAK-ANAK HARUS SEGERA MASUK KE KELAS.

HARTANI : Sudah theng/dhung/thet (tergantung tanda yang digunakan di sekolah), ayo kita masuk kelas! Permainan lompat tali dhing kita cukupkan sampai di sini saja.

BERSAMA : Ya mari kita masuk kelas!

ANAK-ANAK BERSAMA-SAMA KELUAR PANGGUNG SETELAH HARTANI MENYERAHKAN RENTENGAN KARET GELANGNYA KEPADA IKA.

LAYAR TURUN.


Related posts:

No response yet for "Naskah Drama Kopral Sayom Ke Internet Babak I"

Post a Comment