Naskah Drama Kopral Sayom Ke Internet Babak II

Naskah Drama Kopral Sayom Ke Internet Babak II
Note: ini adalah lanjutan artikel naskah drama kopral Sayom ke internet babak I

NASKAH DRAMA KOPRAL SAYOM KE INTERNET BABAK KEDUA.

DI RUANG TAMU RUMAH KELUARGA ENY. WAKTU SIANG HARI, SAATNYA ANAK-ANAK PULANG SEKOLAH.

KETIKA BABAK KEDUA DIMULAI PANGGUNG MENGGAMBARKAN SEBUAH RUANG TAMU YANG CUKUP LUAS DI RUMAH ENY. NAMPAK MEJA DAN KURSI TAMU DARI SOFA. KURSI TAMU YANG PANJANG MENGHADAP KE PENONTON. HANYA ADA MEJA TAMU DI DEPANNYA. SEDANGKAN KURSI TAMU YANG LAIN ADA DI SAMPING-SAMPING MEJA. DI SUDUT BELAKANG NAMPAK ALMARI PERPUSTAKAAN KELUARGA PENUH DENGAN BUKU-BUKU. DI DEPAN MEJA TAMU MASIH TERSEDIA RUANGAN YANG CUKUP LUAS.

TIBA-TIBA ENY MASUK PANGGUNG, PULANG SEKOLAH DALAM KEDAAN KESAL DAN MARAH. TAS YANG SEMULA DICANGKLONG DI PUNDAKNYA LANGSUNG DILEMPAR KE KURSI TAMU YANG ADA DI SAMPING MEJA. IA SENDIRI LANGSUNG MENJATUHKAN DIRI, TIDUR TELUNGKUP DI KURSI PANJANG, SAMBIL NANGIS TERISAK-ISAK.

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN IBU ENY MASUK PANGGUNG DARI ARAH YANG BERBEDA DENGAN MASUKNYA ENY TADI. MELIHAT KELAKUAN ENY, IBU GELENG-GELENG KEPALA, LALU IA MENDEKATI ANAKNYA.

IBU : Ada apa ta, En? Pulang-pulang, tidak mengucap salam, tidak copot sepatu dan ganti pakaian. Tapi langsung menangis dan tiduran di kursi tamu. Tas juga tidak ditaruh di kamar belajar, tapi dilempar begitu saja ke kursi tamu. Memangnya ada masalah di sekolahmu, hingga datang-datang kamu langsung menangis?

ENY : (TIDAK MENJAWAB, TAPI TANGISNYA JUSTRU SEMAKIN KERAS TERDENGAR)

IBU : Apa kamu dimarahi gurumu karena tidak dapat mengerjakan tugas? (TAK ADA JAWABAN) Apa kamu bertengkar dengan kawan-kawanmu? Iya? Kamu bertengkar dengan kawan-kawanmu? Mbok ya yang rukun dengan kawan-kawanmu. Lebih baik mengalah dari pada dimusuhi kawan-kawanmu. Ingat! Kawan sepuluh itu masih kurang, tapi kalau musuh satu...itu sudah terlalu banyak. Bisa jadi beban pikiran dan membuat kita terbatas dalam beraktifitas.

ENY : Habisnya kawan-kawanku semua pada keterlaluan!

IBU : Keterlaluan bagaimana?

ENY BANGUN LALU DUDUK DI KURSI PANJANG. IBU MENDEKATI LALU DUDUK DI SAMPINGNYA. TANGAN IBU MELURUSKAN RAMBUT ENY YANG KUSUT DAN MENGHAPUS AIR MATA YANG MEMBASAHI PIPI ENY. ADEGAN MESRA MENUNJUKKAN KASIH SAYANG SEORANG IBU YANG SIAP MENERIMA KELUHAN ANAKNYA.

ENY : Habisnya bagaimana, Bu? Namaku yang sudah indah ini oleh teman-temanku diganti menjadi Kopral Sayom. Ika memanggil Eny Bu Kopral. Tri memanggil Eny Sayom. Lalu Hartani memanggil Eny Mbak Sayem. Bahkan anak laki-laki juga memanggil Eny Bu Kopral Sayom. Mereka malah meledek Eny punya pistul dan bedil untuk menembak mereka kalau mereka terus meledekku. Ini namanya kan sudah keterlaluan! Eny mau pindah sekolah saja kalau begini keadaannya.

IBU : Ya jangan terus begitu! Tidak mudah lho mencari teman dan menyesuaikan diri di tempat yang baru. Menyesuaikan pelajaran di kelas tidak mudah, menyesuaikan pergaulan dengan teman-teman yang baru juga tidak mudah.

ENY : Lagian kalau kita masih tetap tinggal di sini, masalah di sekolah yang lama akan terulang lagi.

IBU : Lho kok bisa begitu?

ENY : Karena masalahnya adalah tempat tinggal kita.

IBU : Kenapa bisa begitu? Apa yang salah dengan tempat tinggal kita?

ENY : Kita ini kan tinggal di Jalan Kopral Sayom. Itulah masalahnya! Makanya kawan-kawanku memanggil Eny Bu Kopral Sayom. Kalau begitu, baiknya kita pindah rumah saja, Bu. Sana di Jalan Diponegoro, atau di Jalan Jenderal Sudirman, atau di Jalan RA Kartini, atau di Jalan Kyai Haji Wahid Hasyim, atau di Jalan Dewi Sartika.

IBU : Kenapa begitu?

ENY : Kalau kita tinggal di jalan-jalan yang memakai nama pahlawan-pahlawan besar, kita juga akan terlihat sebagai orang besar. Kita bangga tinggal di situ. Mungkin dengan kebanggaan itu kita akan dapat meneladani perjuangan mereka.

IBU : Lalu kalau tinggal di jalan yang menggunakan nama pahlawan kecil, apa ada masalah?

ENY : Ya jelas ada ta, Bu. Pahlawan kecil tidak dikenal masyarakat luas. Jasanya juga hanya di lingkup yang kecil, tidak begitu ’ngaruh bagi negara kita. Jadi tak dapat dibanggakan. Apalagi nama pahlawan yang dijadikan nama jalan kita itu kan hanya nama seorang kopral. Apa hebatnya pangkat kopral? Itu kan pangkat yang jauh berada di bawah pangkat jenderal? Oh ya karena sama-sama kopral, kawan-kawanku bahkan ada yang meledek Eny ini Kopral Sayom saudaranya Kopral Jono, seperti yang dalam lagu Ismail Marzuki itu.

IBU : (TERTAWA)

ENY : (CEMBERUT) Kok Ibu malah tertawa? Apa ada yang lucu, Bu? Eny ini serius lho, Bu. Eny sudah tidak tahan lagi setiap hari diledek kawan-kawanku sebagai Bu Kopral Sayom. Belajarku di sekolah juga terganggu. Kalau Eny sedang memperhatikan pelajaran yang diberikan bapak-ibu guru di kelas, kawan-kawanku sering mengirimi kertas bertuliskan: “Hallo Bu Kopral Sayom, apa kabar. Pistolmu jangan ketinggalan ya!” Eny jadi sebel di kelas.

IBU : Sampai sejauh itu akibatnya? Kalau begitu aku perlu menjelaskan yang lebih meyakinkan kepadamu. Agar kamu juga dapat memberi penjelasan yang meyakinkan kepada teman-temanmu. Kalau perlu, kamu bisa ajak kawan-kawanmu ke sini, nanti akan aku ceritakan kisah kepahlawanan Kopral Sayom, sambil kawan-kawanmu kita ajak makan-makan sekedarnya di sini.

ENY : Jadi ada ceritanya, Bu? Ibu bisa menceritakannya kepada Eny? Ya, sebelum ibu cerita kepada teman-teman Eny, akan lebih baik kalau ibu cerita kepada Eny dulu. Ya kalau ceritanya itu nanti dapat menunjukkan kebesaran nama Kopral Sayom sebagai seorang pahlawan, itu bagus. Tapi kalau ternyata perjuangannya tidak berarti, bukankah itu bahkan menambah cemoohan kawan-kawan kepada Eny?

IBU : Menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawan itu tidak hanya memandang kebesaran namanya. Pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan negara kita, yang berjuang untuk mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi Nusantara, yang kemudian dikenal sebagai Negara Indonesia itu tidak hanya Pahlawan Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Sukarno, Hatta, Jenderal Sudirman dan nama-nama pahlawan yang sudah kamu baca di buku pelajaran sejarahmu. Tetapi di samping itu masih sangat – sangat banyak pahlawan lain yang tidak dikenal, atau yang hanya dikenal oleh masyarakat setempat. Contohnya Kopral Sayom itu. Negara kita tidak akan dapat merdeka tanpa perjuangan dan pengorbanan pahlawan-pahlawan yang tidak dikenal itu. Justru mereka para pahlawan yang berjuang tanpa pamrih, yang tidak sempat menikmati hasil perjuangannya di dunia ini.

SUASANA HENING. ENY DENGAN KHIDMAT MENDENGARKAN  PENJELASAN IBUNYA. SETELAH BERHENTI SEJENAK KEMUDIAN IBU MELANJUTKAN PENJELASANNYA.

IBU : Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol dan lain-lain pahlawan besar sebelum jaman pergerakan, tidak akan dapat berjuang sendirian. Mereka membutuhkan penasehat, prajurit dan para penderek yang siap berjuang dan berkorban bersama pemimpinnya. Dan mereka itu, kecuali beberapa orang, tidak tercatat di buku sejarah. Tetapi mereka yang tidak tercatat itu ada, juga pahlawan yang harus dihargai, karena berhasil tidaknya para pemimpin juga tergantung dari perjuangan mereka.

ENY : Kalau Kopral Sayom, bagaimana Bu?

IBU : Kopral Sayom adalah  adalah pahlawan yang berjuang di daerah kita, di Kabupaten Klaten. Ia itu sebetulnya dulu rumahnya di sekitar belakang Kantor Kecamatan Klaten Selatan sekarang. Tapi dia waktu itu sedang bertempur di kubu pertahanan udara yang ada di Desa Gunungan, dekat Kantor Kecamatan Klaten Utara sekarang. Ia bersama kawannya yang bernama Sersan Sadikin gugur di situ. Di dekat lampu bang-jo atau tarfic-light di pertigaan Ngingas itu kan ada monumen kecil berbentuk tugu peluru, itu adalah monumen untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan pahlawan Kopral Sayom dan Sersan Sadikin.

ENY : Ooo.. ya Eny tahu, monumen itu di dalam taman yang kecil tapi indah, dan di belakangnya ada relief yang menggambarkan pertempuran pejuang kita melawan dua buah pesawat terbang yang terbang di atasnya.

IBU : Betul apa yang kamu katakan. Pesawat terbang itulah yang dinamakan Cocor Merah. Salah satunya dapat ditembak oleh pahlawan kita, tetapi tidak terbakar di situ, tetapi kemudian ia jatuh terbakar di tempat lain. Saat itu ia justru berbalik menembaki pejuang kita, hingga gugurlah pahlawan Kopral Sayom dan Sersan Sadikin.

ENY : Wah, kalau begitu ceritanya seru ya, Bu? Mbok Eny diceritakan sekarang juga, Eny sudah tidak sabaran nih, Bu!

IBU : Kamu itu! Kalau sudah mendengar ibu mau bercerita atau mendongeng, mesti tidak sabaran. Maunya minta diceritakan sekarang juga!

ENY : Lha terus kapan?

IBU : Kamu kan baru saja pulang sekolah. Mestinya ya copot sepatu dulu, ganti baju, lalu makan siang. Baru setelah itu kamu duduk manis mendengarkan ibu bercerita.

ENY : Kelamaan! Bagini saja juga tidak apa-apa kan, Bu? Kalau makan siang, Eny tadi sudah jajan di kantin sekolah.

IBU : Kalau begitu begini saja. Sementara kamu copot sepatu dan menaruhnya di tempatnya, serta ganti pakaian, ibu akan mencari buku ”PERJOANGAN RAKYAT KLATEN” di perpustakaan keluarga kita. Cerita itu ada di sana.

ENY : Kok masih harus mencari di buku perpustakaan segala, Bu? Apa ibu tidak hapal ceritanya, sehingga tidak bisa cerita tanpa membaca buku?

IBU : Bukan begitu, anak manis. Ibu sudah hapal ceritanya sampai di luar kepala. Tetapi maksud ibu, agar kamu nanti  tertarik untuk membaca cerita-cerita lain yang ada di buku itu. Cerita mengenai Kopral Sayom hanyalah sebagian dari cerita perjoangan rakyat Klaten dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya di wilayah Kabupaten Klaten.

ENY : Oooo...begitu. Kalau begitu ya sana cepat ibu cari buku di perpustakaan, Eny akan segera copot sepatu dan ganti pakaian. Eny sudah tidak sabar ini.

IBU : Dasar kamu! (GELENG-GELENG KEPALA) Kalau ada kemauan sak idak sak inyet! Tidak bisa diminta nunggu lama-lama! Ya sudah, kamu sekarang sana ganti pakaian! Ibu akan segera mencari di almari perpustakaan.

SETELAH MENGAMBIL TAS SEKOLAHNYA, ENY MELANGKAH  KELUAR PANGGUNG KE ARAH MASUKNYA IBU TADI. SEDANGKAN IBU SEGERA MENUJU KE ALMARI PERPUSTAKAAN YANG ADA DI SUDUT RUANG. MEMBUKA ALMARI LALU MENCARI BUKU. SETELAH KETEMU LALU BERJALAN MENUJU KE KURSI TAMU YANG PANJANG. MEMBUKA BUKU, MENCARI-CARI HALAMAN YANG DIBUTUHKAN. SETELAH KETEMU LALU MEMBACA DALAM HATI.

SEMENTARA ITU ENY YANG BERGANTI PAKAIAN SUDAH SELESAI. KINI IA MEMAKAI BAJU SANTAI DAN TIDAK BERSEPATU. IA SEGERA DUDUK DI SAMPING IBUNYA DI KURSI  TAMU YANG PANJANG.

ENY : Sudah, Bu, sekarang Eny sudah memakai pakaian santai, siap mendengarkan ibu membacakan cerita kisah perjuangan Kopral sayom dalam pertempuran di kubu pertahanan udara Gunungan Klaten.

IBU : Nah, begitu. Ibu kan lebih rileks melihat kamu memakai pakaian santai. Sepertinya sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab ibu sepenuhnya, tidak lagi berbagi dengan pihak sekolah. Untuk bercerita pun ibu jadi lebih santai.

ENY : Sudah, Bu, ceramahnya nanti saja. Nanti disambung lagi setelah ibu membacakan kisah perjuangan Kopral sayom.

IBU : (MENCUBIT PIPI ANAKNYA) Lagi-lagi kamu itu membuat ibu jadi gemes. Anak kalau sudah ada maunya kok selalu tidak sabaran.

ENY : Habisnya ibu ceramah melulu, kapan mulai ceritanya?

IBU : Ya sudah. Kamu duduk manis, dengarkan baik-baik, ibu akan segera mulai membacakan kisah perjuangan Kopral Sayom dan kawan-kawan dalam pertempuran melawan penjajah Belanda di kubu pertahanan udara Gunungan Klaten, bulan Juli tahun 1947. Cerita ini saya bacakan dari buku ”Perjoangan Rakyat Klaten” yang disusun dan diterbitkan oleh Panitiya Pembangunan Monumen Perjoangan ’45 Klaten tahun 1976. aku cuplik dari halaman 125. Dengarkan baik-baik, ceritanya begini....

ADEGAN SELANJUTNYA TERDIRI DARI DUA ADEGAN YANG BERLANGSUNG DALAM WAKTU BERSAMAAN, YAITU ADEGAN 1 MENGGAMBARKAN  IBU SEDANG DUDUK DI KURSI PANJANG BERSAMA ENY DI PANGGUNG BAGIAN BELAKANG. IBU MEMBACA BUKU. ENY MENDENGARKAN CERITA YANG DIBACAKAN IBU SAMBIL MELIHAT KE DEPAN YANG SEDANG BERLANGSUNG ADEGAN 2, MEMBAYANGKAN ISI BACAAN.

SEDANGKAN ADEGAN 2 MENGGAMBARKAN IMAJINASI ENY KETIKA MENDENGARKAN CERITA YANG DIBACAKAN IBU, DI PANGGUNG BAGIAN DEPAN YANG CUKUP LUAS: SUASANA PAGI HARI. BEBERAPA ORAG PRAJURIT SEDANG DUDUK BERJAGA-JAGA DI SEKITAR PERTAHANAN UDARA GUNUNGAN. KEMUDIAN TERDENGAR BUNYI PESAWAT TERBANG, MULA-MULA SAYUP-SAYUP, LAMA-LAMA MENJADI JELAS DAN SEMAKIN DEKAT. MENDENGAR SUARA ITU PARA PRAJURIT BERGEGAS BERSIAGA. ADA YANG MEMBERI ABA-ABA DENGAN ISYARAT UNTUK MENYIAPKAN SERANGAN. KEMUDIAN MUNCUL DUA PASANG ORANG BERPAKAIAN SERAGAM TENTARA BELANDA BERLARI BERPUTAR-PUTAR. SETIAP PASANG TERDIRI DARI DUA ORANG, YANG DI DEPAN MERENTANGKAN KEDUA TANGANNYA, KITA BAYANGKAN SEBAGAI BADAN PESAWAT TEMPUR BELANDA YANG KITA KENAL SEBAGAI ”COCOR MERAH”, SEKALIGUS PILOTNYA, SEDANGKAN YANG DI BELAKANGNYA ADALAH PENUMPANGNYA, SEORANG TENTARA YANG BERTUGAS MENEMBAKI PARA PEJUANG INDONESIA YANG BERADA DI BAWAH. JADI ADA EMPAT ORANG BELANDA YANG BERLARI BERPUTAR-PUTAR. MEREKA BERKALI – KALI MENGITARI PARA PRAJURIT PEJUANG KITA SAMBIL MEMUNTAHKAN PELURUNYA.

DI BAWAH, PARA PEJUANG KITA TAK KALAH GAGAHNYA. SAMBIL BERSEMBUNYI DI BALIK KARUNG-KARUNG PERLINDUNGAN, MEREKA DENGAN GENCAR MENEMBAKKAN MITRALIURNYA KE ARAH PESAWAT TEMPUR COCOR MERAH YANG SEDANG BERPUTAR-PUTAR ITU. TEMBAK-MENEMBAK BERLANGSUNG SERU BEBERAPA SAAT.

SERANGAN PESAWAT TEMPUR BELANDA INI BERLANGSUNG DALAM EMPAT GELOMBANG. JADI MEREKA BERPUTAR MENGITARI PARA PEJUANG KITA SAMBIL MELANCARKAN SERANGAN, KEMUDIAN KELUAR PANGGUNG LALU KEMBALI MENYERANG LAGI SAMBIL BERPUTAR-PUTAR SEBANYAK EMPAT KALI.

PADA PUTARAN KEDUA, SALAH SATU BADAN PESAWAT ITU TERKENA TEMBAKAN MITRALIUR PASUKAN PEJUANG KITA. ADA KEBAKARAN, TETAPI TIDAK SAMPAI JATUH DAN HANCUR. YANG KENA TEMBAK INI LALU KELUAR PANGGUNG. TAPI KEMUDIAN KEMBALI MASUK LAGI BERSAMA KAWANNYA UNTUK MELANCARKAN SERANGAN LEBIH GENCAR LAGI.

PADA SERANGAN GELOMBANG YANG KE-EMPAT, TEMBAKAN TENTARA BELANDA MENGENAI DUA ORANG PEJUANG KITA, YAITU PRAJURIT II SAYEM DAN SERSAN SADIKIN. LALU PESAWAT-PESAWAT TERBANG ITU KELUAR PANGGUNG.

KEDUA ORANG PRAJURIT YANG TERTEMBAK DIRAWAT KAWAN-KAWANNYA, TAPI LUKA-LUKANYA SANGAT PARAH. AKHIRNYA MEREKA BERDUA GUGUR.
IBU : (MENBACA BUKU BERSAMAAN DENGAN BERLANGSUNG-NYA ADEGAN  PERTEMPURAN TERSEBUT DI ATAS) Sekalipun Klaten merupakan daerah di garis belakang, namun tidak luput pula dari incaran pesawat-pesawat tempur Belanda. Pada suatu pagi hari di masa agresi Belanda I, sekonyong-konyong di atas kota Klaten telah berputar-putar dua buah pesawat tempur Belanda yang saat itu kita kenal dengan nama ”Cocor Merah”. Melihat kekurang-ajaran pesawat musuh, segera pasukan kecil yang bertahan di Pertahanan Udara  Gunungan menyiapkan serangan. Pasukan yang dipimpin oleh Letnan Sunarto dengan anggautanya Sersan Sadikin, Prajurit II Sayom dan Prajurit II Kirmadi, segera menembakkan mitraleurnya ke arah Cocor Merah Belanda dengan gencarnya. Tembakan dari bawah ini mengenai badan pesawat, tetapi tidak menimbulkan kerusakan berat.

Mendapat serangan mitraleur ini, Cocor Merah segera berbalik dan membalas memuntahkan pelurunya.  Tembak-menembak pun berjalan dengan serunya. Demikianlah di pagi hari itu kota Klaten telah ramai dengan suara tembak-tembakan gencar. Cocor Merah Belanda menyerang pertahanan pasukan Sunarto dengan hebatnya, di mana serangan dilancarkan dalam 4 gelombang. Sekalipun pasukan kita telah melawan dengan gigih, akhirnya perlawanan pasukan Sunarto dipatahkan, dan jatuhlah korban Sersan Sadikin dan Prajurit Sayem. Kemudian pesawat Belanda kabur meninggalkan kota Klaten, setelah berputar-putar di atas kubu pertahanan kita.

Akan tetapi beberapa waktu kemudian terdengar berita bahwa setelah kejadian tembak-menembak yang kedua kalinya dengan pasukan kita, akhirnya pesawat itu dapat dilumpuhkan dan jatuh di tempat lain. Rakyat Klaten berkabung dengan gugurnya 2 orang pahlawan mereka. Untuk memperingati kepahlawanan kedua kusuma bangsa itu, maka di tempat di mana keduanya gugur didirikan sebuah monumen kecil yang dikenal sebagai Tugu Peluru (yang saat ini berada di depan Kantor Pertanahan Klaten).

Sudah. Pembacaan kisah perjuangan pahlawan Kopral sayom dan kawan-kawan sudah selesai.

PEMBACAAN SUDAH SELESAI, TETAPI ENY MASIH TETAP BENGONG SEPERTI MASIH BELUM DAPAT LEPAS DARI IMAJINASI DAN SUASANA PERTEMPURAN DI KUBU PERTAHANAN UDARA GUNUNGAN ITU.

IBU : En....!

ENY : (MASIH BENGONG. TIDAK ADA REAKSI MAUPUN JAWABAN)

IBU : En....!

ENY : (MASIH BENGONG. TIDAK ADA REAKSI MAUPUN JAWABAN)

IBU : En....!

ENY : (GERAGAPAN SEPERTI BARU TERSADAR DARI ALAM KHAYAL) Iyaya..Bu. ada apa?

IBU : Sudah melamunnya. Cerita ibu sudah selesai. Sebagai penerus, kamu harus kembali ke alam nyata. Masih panjang perjuangan yang harus kita hadapi.

ENY : Itu lho, Bu. Eny heran, di pihak kita hanya ada empat orang prajurit, dengan senjata lebih sederhana, dan berada di posisi di bawah, kok berani-beraninya melawan dua buah pesawat tempur yang berada di posisi di atas, bisa bergerak cepat, dan senjata lebih moderen dengan persediaan pelurunya juga lebih banyak. Mereka betul-betul pahlawan pejuang yang gagah berani, tidak takut mati.

IBU : Iya..tentu! Kalau pejuang kita itu orang-orang penakut, mungkin lebih baik bagi mereka bertiarap diam saja di lubang perlindungan. Tidak peduli tempat-tempat vital di kota Klaten dibom dilumpuhkan musuh-musuh kita. Yang penting mereka selamat. Tetapi Kopral Sayom dan kawan-kawannya tidak begitu. Mereka telah memperlihatkan jiwa kepahlawanannya. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. Tidak peduli nyawa taruhannya. Agar harga diri kita sebagai bangsa yang sudah memproklamasikan kemerdekaannya tidak dihinakan musuh. Agar kedaulatan negara kita tidak diinjak-injak musuh, dengan seenaknya terbang di udara di atas wilayah kita.

ENY : Hebat! Sungguh hebat! Eny jadi kagum dan bangga pada pahlawan kita Kopral Sayom, Sersan Sadikin, Prajurit Kirmadi dan Letnan Sunarto.

IBU : (MEMPERLIHATKAN BUKU YANG TADI DIBACANYA) Tidak hanya itu, En, kalau kamu mau membaca buku ini, kamu akan tahu kalau ternyata masih banyak pahlawan-pahlawan lain yang menjadi pejuang di Kabupaten Klaten, yang dapat kamu jadikan suri tauladan, dan harus kamu hargai perjuangan dan pengorbanannya.

ENY : Contohnya siapa saja, Bu, kisah perjuangan dan pengorbanan pahlawan Klaten yang dapat Eny baca di buku itu?

IBU : Banyak sekali. Di antaranya ada pahlawan Tentara Pelajar Sunadi yang gugur dalam pertempuran di pinggir rel kereta api dekat Bendogantungan. Dia pahlawan TP yang gugur pertama kali di Klaten. Kisahnya sungguh mengharukan. Bayangkan, anak-anak yang seharusnya masih menekuni pelajaran di bangku sekolah, tetapi demi panggilan Ibu Pertiwi yang ingin mempertahankan kemerdekaannya, harus berjuang memanggul senjata dengan mempertaruhkan nyawa, jiwa dan raganya. Akhirnya dia gugur. Bayangkan, bagaimana sedihnya kawan-kawannya menyaksikan salah seorang kawannya gugur pertama kali, sebelum yang lain-lainnya menyusul.

ENY : Ada lagi yang lainnya, Bu?
 IBU : Masih banyak. Di sini kamu dapat baca kisah-kisah penghadangan yang dilakukan para pejuang kita terhadap konvoi dan patroli Belanda. Dahulu dikenal adanya tempat-tempat pencegatan yang menakutkan pasukan Belanda. Banyak senjata-senjata berat Belanda hancur dalam pencegatan-pencegatan di tempat itu.  Tempat-tempat pencegatan itu adalah di Jombor Ceper, di tikungan maut Sangkalputung (di mana sekarang didirikan monumen juang ’45), juga di Bendogantungan, di Plintengan, desa-desa antara Pandansimping sampai Gondangwinangun, di Pakis Delanggu, kemudian di jembatan maut Jabang Bayi di Desa Banaran Delanggu, dan lain-lain. Ini semua perlu kamu ketahui, agar kamu bangga pada pahlawanmu, dan kemudian bersemangat untuk melanjutkan cita-cita perjuangannya.

ENY : Begitu ya, Bu? Kalau begitu Eny perlu baca buku itu.

IBU : Tentu saja! Sudah lama buku ini ada di almari perpustakaan keluarga kita. Setiap bulan Agustus atau bulan Nopember bapak dan ibu sering memerlukan membacanya untuk mengenang perjuangan para pahlawan kita dulu. Kalau bapak diminta memberi sambutan pada acara malam tirakatan di kampung, bapak sering mennyuplik sebagian dari kisah sejarah yang ada di buku ini. Kamu saja yang tidak memperhatikan. Kamu seperti umumnya anak-anak jaman sekarang, hanya asyik SMS-an dengan kawan-kawannya, dari pada membaca buku-buku yang bermanfaat seperti ini. Kecil-kecil sudah suka face-book-an.

ENY : Tidak, Bu, Eny sekarang akan mengurangi main game maupun SMS-an ataupun face-bookan. Eny akan lebih mengutamakan baca buku-buku yang bermanfaat. Buku-buku sejarah atau buku-buku cerita dan lain-lain yang dapat menambah wawasan Eny.

IBU : Bagus! Ini baru putri ibu yang cantik, manis, dan dapat dibanggakan. Ibumu seorang kutu buku, demikian juga bapakmu. Perpustakaan keluarganya saja sampai menyimpan buku ratusan judul. Sungguh eman kalau anaknya sampai tidak mewarisi kesukaan membaca dan bakat menulis. Ibu yakin, kalau Eny mau belajar dan terus mencoba, pasti Eny punya bakat menulis yang kuat. Bukankah bapak ibunya, dua-duanya adalah seorang penulis? Yang penting, kurangi pegang HP, kecuali untuk hal-hal yang penting dan dibutuhkan. Bukan sekedar iseng yang terus ketagihan.

ENY : Baik, Bu. Sekarang Eny akan mengurangi pegang HP. Eny sekarang juga sudah tidak malu bertempat tinggal di Jalan Kopral Sayom.  Eny bangga punya pahlawan, biarpun kecil, hanya di lingkup lokal Klaten, bernama Kopral Sayom. Yang besar tidak akan menjadi besar tanpa dukungan dan andil perjuangan yang kecil. Betul begitu kan, Ibu?

IBU : Pintar! Anakku sekarang sudah pandai berfilsafat. Kamu memang calon pemikir yang jenius. Ibu bangga punya anak seperti kamu.

ENY : Ah, Ibu! Eny jadi malu disanjung langsung begini. Tapi ralat sedikit, Bu. Jangan katakan, Ibu bangga punya anak seperti kamu, tapi katakan: Ibu bangga punya anak kamu yang berkomitmen menjadi lebih baik.

IBU : Ya..ya..ya, betul. Ibu bangga punya anak kamu Eny yang manis, Eny yang pintar, dan Eny yang mau berubah mengurangi main game, SMS-an, dan facebook-an, ganti lebih suka membaca dan belajar menulis.

ENY LALU SEMAKIN MENDEKATI IBUNYA. IBUNYA TAHU APA YANG DIINGINKAN PUTRINYA. IBUNYA MENCIUM ENY SEBAGAI TANDA BAHAGIA DAN SEPAKAT UNTUK MEMENUHI KOMITMEN YANG SUDAH DICANANGKAN.

LAYAR TURUN.

TAMAT.


CATATAN BIOGRAFI PENULIS:

Nama :   Sutardi, S.IP
Nama Pena : 1. Sutardi Ardi Manikam; 2. Sutardi MS Dihardjo; 3. Masdi MSD.
Tempat / Tgl. Lahir : Klaten / 18 Juli 1960
Alamat : Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07 Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, KLATEN 57422
Nomor HP. : 085642365342
e-mail : sutardimsdiharjo@yahoo.com

Pendidikan : SD Negeri Sumberejo, SMP Negeri 2 Klaten, SMA Negeri 1 Klaten / SMA Muhammadiyah Wedi Klaten. Tahun 1983 pernah kuliah di FISIPOL UNS Surakarta tidak tamat. Setelah bekerja di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten, melanjutkan kuliah di STISIPOL KARTIKA BANGSA Yogyakarta Jurusan Administrasi Negara, lulus tahun 2003.

Pengalaman menulis : Waktu sekolah di SMP – SMA menjadi anggota redaksi Majalah Dinding Sekolah. Mulai menulis di media massa tahun 1975 di rubrik Ajar Ngarang dan Cerita Bocah Ariwarti Parikesit Solo. Kemudian beberapa puisi pernah dimuat di Majalah SEMANGAT Yogyakarta, Majalah KRIDA Semarang, Koran SUARA MERDEKA Semarang, Koran KEDAULATAN RAKYAT Jogjakarta, Majalah UNIQUE Bandung, Majalah PUTERI INDONESIA Jakarta,  Majalah MEDIA P-4 Semarang, Koran SOLOPOS Surakarta, Majalah NUSA INDAH Semarang.  Juga menulis beberapa artikel yang dimuat di Majalah NUSA INDAH Semarang.

Selain menulis puisi juga menulis cerpen. Dua buah cerpen dengan memakai nama pena Sutardi Ardi Manikam pernah dimuat di Majalah Sastra HORISON tahun 1978. Waktu itu masih sekolah di SMA Negeri 1 Klaten. Dua buah Cerpen tersebut berjudul: Ajal Itupun Tibalah (bulan Maret 1978) dan Penggembala (bulan Mei 1978).

Selain menulis dalam bahasa Indonesia juga menulis dalam bahasa Jawa. Beberapa geguritan pernah dimuat di Koran SOLOPOS Surakarta, Majalah Djaka Lodang Yogyakarta dan Majalah Panjebar Semangat Surabaya. Selain menulis Geguritan juga menulis Cerita Alaming Lelembut/Jagading Lelembut yang dimuat di Majalah Panjebar Semangat Surabaya dan Majalah Djaka Lodang Jogjakarta. Menulis Cerita Remaja, Cerita Cekak, dan Cerita Anak-anak dalam Bahasa Jawa, yang antara lain telah dimuat di Majalah Mingguan Berabahasa Jawa  Jaya Baya Surabaya, Majalah Panjebar Semangat Surabaya dan Majalah Djaka Lodang Jogjakarta dan Koran SOLOPOS Surakarta.

  • Bukunya yang sudah terbit: ”KAMIGILAN Angkernya Kedung Blangah”, kumpulan cerita misteri (mediakita Jakarta, September 2013)
  • Satu cerita misterinya ”Penghuni Jembatan Karangwuni”  termasuk 20 cerita terpilih dalam lomba Nulis Bareng Cerita Horor Mediakita, yang telah diterbitkan pada bulan Januari 2014 ini dengan judul buku ”Midnight Stories 3”
  • Buku yang segera akan terbit: ”PRABU NALA DAN DAMAYANTI, Ujian Cinta dan Kesetiaan Wanita Utama” Novel (divapress Jogjakarta)
  • Sedang antri untuk dinilai Penerbit Kana Media Yogyakarta, Buku Kumpulan Dongeng dengan judul: ”Raja Lobaningrat”
  • Buku Kumpulan Cerita Misteri berjudul: ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” berisi 18 cerita misteri sudah di-ACC Penerbit Galangpress Yogyakarta, bulan September 2014 yang akan datang dijadwalkan mulai masuk editing.

Sutardi MS Dihardjo
Sutardi MS Dihardjo & Istri (Wahyuni)

Related posts:

No response yet for "Naskah Drama Kopral Sayom Ke Internet Babak II"

Post a Comment