Cerita Misteri Jagading Lelembut 'Membantu Kelahiran Bayi Siluman'

Membantu Kelahiran Bayi Siluman


Bunyi kentongan bertalu-talu mengumandangkan nada dara muluk di gardu Poskamling gerbang desa. Tak berapa lama kemudian isyarat situasi aman yang juga sebagai penanda waktu pukul satu tengah malam itu, disambung pukulan kentongan dengan isyarat yang sama di gardu-gardu Poskamling RW-RW lain di sekitarnya. 

Bu Bidan masih belum dapat memejamkan mata. Sudah sejak ditinggal suaminya berangkat ronda jam sepuluh tadi, ia beranjak ke tempat tidur. Tubuhnya memang diam terbaring. Matanya memang rapat tertutup. Tetapi hati dan pikirannya belum juga mau terpejam. Meski mata terpejam, pikirannya menerawang, nglambrang ke mana-mana. Sampai letih rasanya ia memaksakan diri untuk memejamkan mata, tapi kesadarannya belum juga mau hilang, beralih ke alam mimpi. Suara tik-tak jarum jam yang di siang hari seakan tak terdengar, malam ini terdengar ribut memekakkan telinga.

Bukan karena takut berada di rumah sendirian, kalau malam ini Bu Bidan tidak dapat tidur. Sejak anak-anaknya kuliah di Solo, ia sudah biasa tinggal di rumah sendirian kalau suaminya sedang tugas ronda, yang terkadang jam setengah empat pagi baru pulang. Bu Bidan bukan orang penakut. Ia seorang pemberani, sesuai dengan profesinya sebagai seorang bidan yang tak jarang dimintai bantuan melahirkan pasien di waktu tengah malam. Ia memang pernah mendengar, ada genderuwo yang suka iseng menyerupai seorang suami, lalu mengajak bermain cinta istrinya. Tapi pikiran Bu Bidan tidak sampai ke situ. Dan ia tidak mengkhawatirkan hal itu akan terjadi pada dirinya.

Yang mengganggu pikiran Bu Bidan adalah sebagaimana pikiran ibu-ibu rumah tangga lainnya, masalah ekonomi.  Bulan-bulan menjelang bulan Muharam atau bulan Sura menurut penanggalan Jawa seperti ini, banyak orang punya kerja. Orang Jawa biasa takut punya hajat di bulan Sura, maka pada bulan Besar atau Dzulhijjah, orang sepertinya berlomba-lomba mantu atau supitan. Sebagai bidan yang tinggal di desa, kenalannya banyak. Ibu-ibu yang dulu pernah ditolong melahirkan, mereka tidak akan melupakannya, terutama kalau punya kerja. Bayi-bayi yang dulu ditolong kelahirannya kini sudah pada besar, dan banyak yang sudah sampai pada masanya untuk menikah.

“Ini anak yang Bu Bidan tolong melahirkannya dulu.  Kelahirannya memang susah, kalung usus. Sulit sekali nampaknya Bu Bidan membantu kelahirannya waktu itu. Hingga keringat Bu Bidan keluar brol-brolan sebesar biji-biji jagung. Ternyata benar, bayi yang lahir kalung usus itu, kalau sudah besar banyak yang menyukainya. Punya daya tarik tersendiri. Anakku ini banyak sekali pemuda yang ingin menyuntingnya. Makanya dari pada jadi rebutan, lebih baik segera aku nikahkan dengan yang terbaik, agar yang lainnya tidak apel lagi. Memang susah punya anak perempuan kelahiran kalung usus, mana anaknya cantik lagi,“ ujar bu Yayuk, salah seorang bekas pasien sambil menunjuk anaknya yang memang cantik. 

Bu Yayuk hanya salah seorang bekas pasien yang sekarang mengundangnya untuk resepsi pernikahan anak yang dulu ditolong kelahirannya. Pada bulan baik seperti ini tak jarang dalam satu hari di hari Minggu Bu Bidan mendapat undangan semacam itu sampai tiga – empat kali. Padahal gajinya hanya pas-pasan untuk hidup sehari-hari dan biaya kuliah anak bungsunya. Suaminya memang pegawai negeri, tetapi gajinya sebagai pegawai rendahan di kantor kecamatan juga tidak seberapa, karena sudah dipotong angsuran pinjaman untuk renovasi rumah dan biaya pesta pernikahan anak sulungnya dua tahun yang lalu.

Dulu ketika bidan di desanya belum banyak seperti saat ini, mendapat undangan sebanyak itu tidak menjadi masalah. Sebagai bidan satu-satunya yang buka praktek di desanya, orang-orang desa yang tidak sempat melahirkan di rumah sakit akan datang kepadanya untuk minta tolong. Ada beberapa kamar untuk rawat inap ibu-ibu yang akan melahirkan di rumahnya. Tapi banyak juga yang memanggilnya untuk menolong kelahiran di rumahnya sendiri, karena si pasien sudah tidak tahan lagi, bayinya keburu akan lahir. 

Upah menolong kelahiran satu orang pasien cukup untuk menyumbang beberapa orang.  Waktu itu tidak ada kesulitan untuk membagi uang sumbangan, apalagi anaknya masih kecil-kecil, belum butuh biaya banyak. Kesulitan yang ada justru untuk membagi waktu. Menyempatkan diri menghadiri undangan hajatan, sementara undangan untuk menolong kelahiran atau menolong pasien yang datang di rumah, tidak boleh dikalahkan dengan sekedar pesta makan minum di rumah orang punya hajat. 

Tapi kini, setelah di Klaten berdiri Poltekes jurusan kebidanan cabang Poltekes Surakarta, lalu Stikes Muhammadiyah yang juga membuka jurusan kebidanan, dan kemudian Stikes Duta Gama yang juga membuka jurusan kebidanan, banyak bidan di Klaten. Demikian pula di desanya. Ada beberapa bidan buka praktek di desanya. Bahkan kemudian, perawat-perawat yang semula lulusan Sekolah Perawat Kesehatan, tergiur penghasilan bidan, ikut kuliah kebidanan. Mau tidak mau dirinya harus berbagi rejeki dengan bidan-bidan baru. Tambah lagi kesadaran masyarakat untuk melaksanakan KB Mandiri sudah tinggi. Sehingga rejekinya pun semakin jauh berkurang. 

Di sisa bulan Besar ini masih ada empat undangan dari bekas pasiennya yang harus dihadiri. Ditambah satu undangan dari saudara sepupunya. Bu Bidan jadi pusing. Dari mana ia mendapat uang untuk dapat memenuhi lima undangan tersebut? Uang di dompetnya sudah menipis. Tabungannya pun tinggal beberapa ratus ribu. Pasien yang datang untuk minta tolong melahirkan juga sudah jarang. Dari pasien yang rutin datang memeriksakan kehamilannya, tidak ada satu pun yang diperkirakan akan  melahirkan di bulan Besar ini. Dari mana ia akan mendapat uang untuk menyumbang yang sedikitnya membutuhkan dana sebesar Rp. 250.000,- itu? Akan mengambil uang tabungan? Ah... rasanya kok amat sayang! Tabungan itu mestinya hanya keluar untuk hal-hal yang bersifat darurat. Bukan untuk sumbang-menyumbang memenuhi adat kepatutan hidup di desa. Bu Bidan tambah pusing. Kepalanya nyut-nyut panas karena pikiran dan karena seharusnya sudah istirahat tidur tapi tak bisa. Ia mengelus-elus dahinya, lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri untuk mengurangi rasa penat dan pusing di kepalanya.

Di tengah sepinya suasana malam di pedesaan, tiba-tiba Bu Bidan mendengar suara motor menderum, lalu berhenti, parkir di halaman rumahnya. Aneh! Tak terdengar suaranya dari kejauhan, tahu-tahu suara motor itu sudah dekat, lalu berhenti di depan rumahnya. Apa karena asyik  mengikuti pikirannya yang melayang-layang, sehingga dirinya tidak mendengar suara motor mendekat dari kajauhan?  Bu Bidan tidak sempat berpikir lagi, karena tak lama kemudian sudah terdengar suara pintu rumahnya diketuk dari luar. Mungkin orang yang datang mengendarai motor tadi yang kini bertamu. Semoga adalah keluarga pasien yang datang untuk minta tolong melahirkan keluarganya. Lumayan untuk memenuhi undangan hajatan yang sedang kehabisan dana. Bu Bidan bangkit menuju ke pintu depan.

“Maaf, apakah ini rumah Bu Bidan Sartini?” tanya seorang laki-laki dengan nada gugup. Wajahnya membayangkan kecemasan dan ketergesa-gesaan.

“Benar. Aku sendiri Bidan Sartini. Ada perlu apa, malam-malam Bapak mencari Bu Bidan Sartini?” tanya Bu Bidan. Pertanyaan yang hanya basa-basi. Sebetulnya ia sudah hafal, kalau ada orang mencari dirinya malam-malam, bukan waktunya orang biasa bertamu, disertai sikap yang gugup penuh kekhawatiran, sudah jelas ini pasti orang akan minta tolong melahirkan keluarganya. Tak jarang keadaan si pasien sudah kritis, anaknya hampir lahir, ibunya sudah amat kesakitan.

“Tolong Bu Bidan! Istriku akan melahirkan! Bayinya keburu akan lahir. Sejak sore tadi istriku menjerit-jerit kesakitan. Bu Bidan harus segera ke rumahku sebelum istriku melahirkan tanpa bidan penolong!” kata laki-laki itu gugup.

“Baiklah, Pak, aku akan mengemasi peralatanku dulu. Juga aku akan menelepon suamiku yang sedang ronda, untuk mengantar aku ke rumah Bapak. Di mana rumah Bapak? Bapak tinggalkan alamat saja, nanti aku dan suamiku segera menyusul!” 

“Maaf Bu Bidan. Bu Bidan segera kemasi saja peralatan Bu Bidan! Tidak usah minta diantar. Kelamaan! Kasihan istriku, dari tadi menjerit-jerit kesakitan. Sekarang juga Bu Bidan aku boncengkan. Jangan khawatir, nanti pulangnya juga aku antar. Ini sangat mendesak, Bu Bidan. Istriku sudah kesakitan sejak sore tadi,” sahut tamunya

“Baiklah, kalau begitu sabarkan hatimu dulu, Pak. Aku akan segera mengemasi peralatanku. Oh ya, di mana rumah Bapak?”

“Rumahku di Buntalan, Bu Bidan, dekat jembatan Mbah Tondo yang di sebelahnya ada kandang sapi besar milik kelompok tani itu,” kata tamunya sambil meletakkan pantatnya di kursi tamu. Nampaknya ia mulai tenang setelah ada kesediaan Bu Bidan. 

“Kenapa jauh-jauh ke mari, Pak? Bukankah di Buntalan juga sudah ada bidan desa? Bukankah Bu Bidan Tina ada di sana?” tanya Bu Bidan sambil memasukkan jarum, benang jahit, dan suntikan ke dalam tas kerjanya.

“Aku tidak tahu alasan istriku. Dia yang menyuruhku memanggil Bu Bidan Sartini. Mungkin karena Bu Bidan adalah bidan senior yang sudah berpengalaman. Sudah sejak kehamilannya membesar, istriku selalu mengatakan ingin dibantu Bu Bidan Sartini.”

Tak lama kemudian Bu Bidan sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Peralatan medis yang dibutuhkan untuk menolong kelahiran sudah masuk ke tas kerja. Sebelum berangkat, Bu Bidan sempat SMS kepada suaminya kalau dirinya akan pergi menolong kelahiran warga Desa Buntalan di dekat kandang sapi milik kelompok tani.

“Sudah siap, Pak, mari kita berangkat sekarang!”

“Mari, Bu Bidan.”

Mereka berdua keluar rumah. Tak lupa Bu Bidan mengunci pintu rumahnya.

“Pegangan yang kuat, Bu Bidan, motor ini akan aku larikan kencang biar lekas sampai. Kasihan istriku kalau bayinya keburu lahir. Dia pasti bingung!” kata laki-laki yang belum dikenal namanya itu, setelah mereka naik di atas motor. Dan tiba-tiba tanpa minta persetujuan yang membonceng, motor itu sudah menderum lari dengan kencangnya. Melewati By Pass, lalu belok kiri di samping bangunan tua bekas pabrik moto Miwon di belakang stasiun Klaten, motor terus melaju dengan kencang.

“Jalan jurusan ke Rawa Jombor ini memang aspal halus, tapi aku tidak menyangka kalau jalan ini begitu halusnya, hingga seakan-akan motor ini tidak menggelinding di atas aspal jalanan. Seperti tidak menapak di atas tanah saja. Apa karena begitu kencangnya laju motor ini?” batin Bu Bidan terheran-heran. Dirinya memang sudah terbiasa diboncengkan orang yang gugup dan tergesa-gesa saat minta tolong kelahiran anaknya. Rata-rata mereka memang ngebut ingin segera cepat sampai. Dan mereka sangat cemas istrinya keburu melahirkan, sebelum dirinya datang untuk membantu melahirkannya. Tapi yang kali ini, sungguh sangat terlalu cemasnya, sehingga motornya ngebut sangat kencang sampai seperti terbang saja. Bu Bidan tidak ingin mengganggu konsentrasi orang yang memboncengkannya, maka ia tidak berusaha mencegah atau menghambat. Bu Bidan hanya dapat berdoa mohon perlindungan kepada Allah Sang Maha Pelindung, sambil kuat-kuat berpegangan pada besi di belakang sadelnya.

Tak lama kemudian motor sudah sampai di kompleks Stikes Muhammadiyah, SMK Muhammadiyah 3 dan SMK Muhammadiyah 4 Buntalan. Kemudian motor berbelok ke kanan. Sebelum lapangan Bendo, motor berbelok ke kiri. Setahunya jalan di sini ini juga tidak terlalu halus. Tapi kenapa motor yang dinaikinya juga berjalan mulus dengan kencangnya mengitari lingkar dukuh Bendo? Beberapa saat saja sudah sampai di samping dua kuburan yang ada di pinggir desa. Masih terlihat ada payung baru, tertancap di gundukan tanah kuburan yang masih baru. Payung yang dibalut bunga-bunga berwarna putih itu, seperti tangan melambai-lambai memanggilnya. Bau harum bunga kuburan menusuk hidungnya. Bulu kuduknya meremang. Kepalanya, kedua tangannya, dan sekujur tubuhnya merinding. Rasa takut tiba-tiba menggerayangi perasaannya. Bu Bidan membayangkan, bagaimana seandainya tanpa setahu orang yang sekarang sedang konsentrasi mengendarai motor itu, tiba-tiba melayang pocong ikut membonceng, menempel di punggungnya? Atau bahkan menariknya dan menggantikannya di boncengan. Ia ditinggal sendirian di jalanan samping kuburan....Hiii....! Takut....!!!

Tapi semua itu hanya perasaan sekilas, karena sekejap mata kemudian motor itu sudah jauh meninggalkan tanah kuburan itu. Motor terus melaju dengan kencangnya. Setelah melewati dukuh Sobrah Lor, motor belok ke kanan. Lagi-lagi Bu Bidan teringat kata orang-orang. Katanya di pojok bekas bangunan SD yang sekarang dijadikan pabrik itu, sering muncul hantu pocong atau orang tinggi besar tanpa muka dari MCK yang sudah tak dipakai. Tapi rasa takut itu segera ditepisnya dengan doa dalam hati.

Sesaat kemudian motor sampai di tugu yang bentuknya seperti miniatur tugu Monas di dekat jembatan Mbah Tondo. Bu Bidan merasa heran melihat kemajuan pembangunan di wilayah ini. Dulu setahunya di sekitar jembatan ini banyak ditumbuhi rumpun bambu ori di sepanjang bantaran sungai. Tapi sekarang, rumah-rumah bagus dan permanen, bahkan ada satu dua yang tergolong mewah, memadati sepanjang bantaran sungai sekitar jembatan Mbah Tondo.  Lewat di atas jembatan, di sebelah kiri terlihat ada kandang sapi yang cukup luas. Terlihat sapi-sapi bantuan pemerintah milik kelompok tani di dalam kandang yang diterangi lampu-lampu cukup terang. 

Jembatan Mbah Tondo Buntalan Klaten

Motor yang diboncengi Bu Bidan turun ke sebelah barat jalan, tepat di ujung jembatan, menuju perumahan yang berdiri di bantaran sungai. Aneh! Dulu di perumahan yang ditujunya ini hanya ada rumpun bambu ori, yang kabarnya angker, banyak dihuni siluman. Kenapa sekarang sudah berdiri deretan rumah-rumah penduduk? Apakah mereka tidak takut diganggu siluman yang dulu tinggal di bantaran sungai ini? Apakah sudah ada paranormal, orang sakti yang mampu memindahkan para siluman yang kabarnya ada yang berujud wedhon, pocong, ular naga,  jrangkong, dan lain-lain itu?
“Mari masuk, Bu Bidan, jangan bengong di situ saja! Lekaslah Bu Bidan tolong istriku. Kasihan, jerit tangisnya semakin keras. Mungkin sakitnya sudah memuncak,” ujar laki-laki yang istrinya akan segera melahirkan, menyadarkan Bu Bidan. 

Bu Bidan segera masuk ke rumah. Begitu melangkah melewati pintu rumah, segera terdengar jerit tangis kesakitan si-ibu yang akan melahirkan anaknya. Terlihat ibu muda itu sedang terbaring kesakitan di atas ranjang di kamarnya. Perut ibu itu menggelembung sangat besar. Bu Bidan terperangah. Pantas saja pasien ini kesakitan, dilihat dari kehamilannya mungkin pasien ini mengandung bayi kembar. Bu Bidan merasa malam ini harus bekerja ekstra keras! Maka ia segera mengeluarkan peralatannya. Setelah memeriksa kondisi si pasien, Bu Bidan memastikan pasien ini sudah sampai pada pembukaan delapan. Sebentar lagi akan mencapai pembukaan sembilan, lalu sepuluh. Maka saat-saat kelahiran sudah dekat.

“Atur nafas, Bu. Biarkan berkontraksi agar pembukaan lekas sampai ke sepuluh. Ya betul, begitu, terus tarik nafas panjang, lalu hembuskan! Mengejan! Mengejan, seperti orang mau buang hajat! Ya, terus...!! Terus!!!” petunjuk Bu Bidan kepada pasien.

Terlihat kepala bayi nongol melalui lubang kemaluan si ibu. Tapi tak maju-maju juga. Berulang kali Bu Bidan memberi petunjuk untuk mengejan agar bayinya segera keluar, tapi kepala bayi itu tidak maju-maju juga. “Kalau begini caranya, terpaksa harus aku tarik kepala ini. Tapi sebelumnya harus aku gunting dulu jalan bayi ini agar lebih lebar lagi,” kata Bu Bidan dalam hati.  Ia segera mengambil gunting lalu membedah jalan bayi agar lebih lebar. Kemudian ditariknya kepala si bayi pelan-pelan.

“Owek...Owek...Oweekkk!,” terdengar tangis bayi setelah keluar dari dalam perut ibunya. Kepala bayi ini agak aneh, terlihat memanjang atau lonjong dan agak pipih. Mungkin akibat ditarik Bu Bidan tadi. Anehnya lagi, bayi yang nampak montok, besar dan panjangnya melebihi ukuran bayi biasa itu mempunyai kulit berbintik-bintik, dan lidahnya panjang bercabang. Bu Bidan tidak ingin berpikir macam-macam melihat keanehan-keanehan itu, ia segera memotong tali pusar, lalu membersihkan bayi yang baru lahir itu. Memakaikan pakaian bayi dan kemudian meletakkannya di tempat yang sudah disediakan. Kemudian ia membantu keluarnya tembuni. Lalu menjahit jalan bayi yang tadi diguntingnya. Selesailah tugasnya.

“Tugasku malam ini sudah selesai. Empat hari atau lima hari lagi, aku akan datang lagi untuk melepas jahitan. Sekarang antarkan aku pulang,” pinta Bu Bidan. 

Setelah memberikan setumpuk uang yang ada dalam amplop tertutup, laki-laki yang istrinya baru melahirkan itu segera mengantarkan Bu Bidan pulang ke rumah. Sampai di rumah jarum jam dinding sudah menunjuk angka tiga malam. Suaminya pun sudah ada di rumah.

Empat hari kemudian jam 08.00 pagi, Bu Bidan pergi ke Desa Buntalan sendirian mencari rumah pasiennya di dekat jembatan Mbah Tondo. Ia tidak melewati bekas pabrik moto Miwon, Stikes Muhammadiyah, maupun kampung Sobrah Lor, tetapi melewati perempatan dekat Klasis, Perumahan Krapyak Permai, lalu jembatan Mbah Tondo. Sampai di tempat yang dituju, Bu Bidan jadi terheran-heran. Kenapa yang dilihatnya kini masih seperti dulu-dulu. Kandang sapi dan  rumpun bambu ori bergerumbul memagari bantaran sungai. Tak ada perumahan bagus, apalagi rumah mewah di tepi sungai.

“Mencari siapa, Bu?” tanya seorang laki-laki yang muncul tiba-tiba mengejutkan.

“Mencari rumah pasien  yang empat hari yang lalu aku tolong melahirkannya,” jawab Bu Bidan setelah  rasa terkejutnya hilang.  

“Di sini tidak ada orang yang baru melahirkan. Barangkali Bu Bidan salah alamat,” kata orang itu.
“Tapi aku yakin, sesuai rute yang aku lewati. Pasienku itu tinggalnya di sebelah barat jembatan ini, di pinggir sungai,” kata Bu Bidan meyakinkan.

“Seperti yang Bu Bidan lihat, di bantaran sungai ini, baik di barat maupun di timur, di utara sungai maupun di selatan sungai, yang ada hanya tumbuhan rumpun bambu ori dan pohon pisang. Jadi mungkin Bu Bidan salah alamat kalau mencari di sini.”

Tak ada gunanya Bu Bidan berdebat dengan orang itu. Memang yang dilihatnya pada malam ketika ia membantu melahirkan bayi aneh itu berbeda dengan kenyataan yang dilihatnya pada pagi hari ini. Meskipun ia yakin tempatnya memang di sini. Barangkali memang ada dua dunia di bantaran sungai dekat jembatan Mbah Tondo ini. Dunia yang didatanginya malam itu berbeda dengan dunia yang dilihatnya pagi ini. Jadi tak ada gunanya ia mencarinya pagi ini. Mungkin kalau diperlukan, lelaki itu akan mendatanginya lagi dan membawanya ke dunianya yang berbeda dengan dunia yang dilihatnya pagi ini. 

Bu Bidan pun pulang dengan tanda tanya di kepalanya. ***

NB: Cerita Jagading Lelembut ini bersama 17 cerita jagading lelembut lainnya akan diterbitkan menjadi buku Kumpulan Cerita Misteri dengan judul “ Yang Nyusul Di Tempat Tidur” oleh Penerbit Galang Press Yogyakarta. Bulan September ini dijadwalkan memasuki tahap editing.  

Penulis: Sutardi MS Dihardjo

Related posts:

No response yet for "Cerita Misteri Jagading Lelembut 'Membantu Kelahiran Bayi Siluman'"

Post a Comment