Cerpen: Dongeng Wacan Bocah 'HARTA KARUN' Part I

HARTA KARUN
Oleh: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD


Pak Dadap mempunyai sebidang tanah sawah yang terdiri dari beberapa petak. Petak-petak sawah itu bersusun-susun, ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih rendah  letaknya. Sayangnya tidak semua petak sawah itu dapat ditanami padi. Ada sepetak tanah yang karena letaknya terlalu tinggi air tidak dapat dialirkan ke situ, sehingga terpaksa dijadikan ladang yang hanya dapat ditanami palawija. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Pak Dadap berniat menjadikan tanah ladang yang terletak di tepi  jurang itu menjadi tanah sawah yang dapat dialiri air irigasi. Petak ladang itu ditumbuhi pohon bendho besar berlubang di tengah batangnya, sehingga disebut pohon bendho growong. Untuk melaksanakan pekerjaan ini Pak Dadap teringat kalau mempunyai kawan yang bernama Pak Waru. Kawannya ini pekerjaannya membuat batu merah sebagai bahan bangunan. 

“Kalau aku mengupah orang untuk menggali tanah di ladangku, dan meratakan dengan tanah di bawahnya agar dapat dialiri air, tentu banyak sekali biayanya. Upah menggali berapa? Belum lagi upah membuang tanah ke tempat lain berapa? Terus uangku dari mana? Tetapi kalau aku bekerja sama dengan Pak Waru, aku kira pekerjaan ini tidak saja lebih hemat, tetapi juga lebih menguntungkan,” kata Pak Dadap dalam hati.

Mendapat pikiran seperti itu, Pak Dadap segera menemui Pak Waru sahabatnya di rumahnya. Pak Waru menyambut kedatangan Pak Dadap dengan hangat dan gembira. Teh manis dan ketela rebus segera dikeluarkan untuk menemani percakapan dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu.

”Sudah lama Kang Dadap tidak main ke rumahku. Tumben hari ini pagi-pagi Kang Dadap sudah datang ke rumahku. Apakah ada sesuatu yang perlu kubantu, atau hanya untuk melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu?” tanya Pak Waru.

”Begini Adi Waru, kedatanganku ke sini yang pertama adalah untuk melepas rindu. Karena kita sebagai sahabat sejak kecil, setelah jadi orang tua, terbawa kesibukan masing-masing jadi tidak bisa sering bertemu. Yang kedua, sebetulnya memang ada perlu dengan Adi Waru.”

”Kalau memang ada perlu katakan saja. Jangan sungkan-sungkan. Kita ini sudah seperti saudara sendiri. Barangkali aku bisa membantu. Akan aku bantu sebisa-bisanya,” sahut Pak Waru.

”Adi Waru tahu ’kan sawahku di selatan desa? Selama ini hasil panenku selalu kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargaku. Penyebabnya karena tanah sawah itu yang terletak di tepi jurang letaknya lebih tinggi, sehingga air tidak dapat dialirkan ke sana. Akibatnya tanah itu tidak dapat ditanami padi. Paling-paling hanya dapat ditanami ketela karena sulitnya mendapatkan air.”

”Lalu apa keinginan Kang Dadap?” sahut Pak Waru.

”Bagaimana kalau Adi Waru menyewa tanah itu untuk membuat batu bata. Berapa pun uang sewa yang Adi Waru berikan akan aku terima. Aku tidak akan menawar. Yang penting tanahku itu ketinggiannya dapat sama dengan tanah sawah di bawahnya, sehingga dapat dialiri air irigasi.”

”Kalau itu yang Kang Dadap minta dariku aku tidak keberatan. Aku berterima kasih kalau Kang Dadap hanya minta uang sewa sedikit saja. Aku akan melakukan apa yang Kang Dadap kehendaki. Percayalah padaku, tanahmu nanti akan menjadi lebih baik. Sawahmu akan kelihatan lebih luas. Kebetulan saat ini aku sedang membutuhkan tanah untuk membuat batu bata. Ada pesanan batu bata dalam jumlah yang cukup besar dari seorang pemborong yang sedang membangun gedung bertingkat di kota,” kata Pak Waru. Mendapat sewa tanah yang jauh lebih murah dari harga biasanya, tentu saja Pak Waru menerimanya dengan senang hati. Setelah ada kesepakatan dengan Pak Dadap mengenai harga sewa dan aturan-aturannya, Pak Waru segera memanfaatkannya untuk bekerja memproduksi batu bata.

Mula-mula Pak Waru membersihkan ladang dari semak-semak perdu dan rerumputan. Dengan cangkulnya ia meratakan tanah untuk menjemur batu batanya nanti setelah dicetak. Lalu menggali lubang untuk membuat adonan tanah bahan pembuat batu bata. Tanah dicangkuli hingga lembut, dicampur sekam dan air yang diambilkan dari sungai yang ada di petak sawah bawahnya. Adonan tanah itu diinjak-injak dan dicangkul berulang-ulang hingga menjadi liat, baru kemudian diusung ke tanah rata yang sudah disiapkan untuk menjemur. Di situ sudah tersedia cetakan dari kayu berbentuk empat persegi panjang bersekat-sekat membentuk empat petak. 

Dengan hati-hati Pak Waru mencetak adonan tanah liat itu menjadi  batu bata. Mula-mula adonan tanah liat ditaruh di atas kayu cetakan. Kemudian jari-jari tangannya disogok-sogokkan ke tanah itu hingga padat memenuhi seluruh bidang yang dibatasi kayu cetakan. Setelah ketiga bidang yang ada dalam kayu cetakan itu  padat dan rata terisi adonan tanah liat, Pak Waru memberi tanda lekukan dengan tiga jarinya. Lalu kayu cetakan diangkat. Kayu cetakan lalu dicuci, diusap dengan gombal atau kain bekas yang sudah disediakan. Setelah itu Pak Waru mulai menaruh cetakan di sampingnya untuk mencetak batu bata berikutnya, berderet-deret. Begitu berulang-ulang, sehingga seluruh tanah rata yang disiapkan, penuh jemuran batu bata. Nanti sore setelah batu bata itu menjadi agak kering, maka pekerjaan Pak Waru selanjutnya adalah menyisir bagian bawah batu bata itu dengan pisau agar permukaannya rata, lalu menjemurnya lagi bertumpuk-tumpuk dalam posisi miring. Besok kalau sudah banyak barulah batu bata itu ditata sedemikian rupa untuk kemudian dibakar dan dijual.

***

Pekerjaan Pak Waru membuat batu bata merah di ladang Pak Dadap sudah berlangsung beberapa bulan. Bahkan Pak Waru sudah berkali-kali membakar batu batanya dan menjualnya ke kota. Banyak keuntungan sudah diperoleh Pak Waru, sehingga ia merasa sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, dan sangat berterima kasih kepada Pak Dadap. Sebagai tanda terima kasih Pak Waru sering memberi uang sewa melebihi dari jumlah yang ditentukan dalam perjanjian.

Digali dan diambil setiap hari, lama-lama bagian tanah ladang Pak Dadap yang  terletak agak tinggi yang menyebabkan tidak dapat dialiri air, semakin habis.  Tanah ladang itu kini  tingginya sudah hampir sama dengan tanah sawah di bawahnya. Sebentar lagi air irigasi  dari sawah di bawahnya akan dapat dialirkan ke tanah ladang  yang sekarang sedang disewa Pak Waru itu. Sehingga setelah diolah tanah ladang itu akan dapat dijadikan sawah. Ini berarti sebentar lagi Pak Waru harus menyudahi usahanya membuat batu bata di situ.

Pagi ini, ketika Pak Waru akan membuat batu bata untuk pembakaran yang terakhir sebelum ia mengakiri sewa tanah milik Pak Dadap, tiba-tiba ia dikejutkan kejadian yang tidak terduga-duga. Ketika Pak Waru mulai menggali tanah untuk dibuat adonan  sebelum dicetak, tiba-tiba cangkulnya mengenai benda keras. Setelah tanah di sekelilingnya disisihkan, kelihatan ada benda yang cuwil terkena cangkulnya. Bentuknya guci keramik. Terlihat dari lubang yang cuwil, guci itu berisi  benda-benda berwarna kuning mengkilap. Bisa dipastikan benda-benda itu barang perhiasan dari emas. Tetapi belum diketahui apa bentuknya. Pak Waru gemetar ketakutan. Menurut keyakinannya orang menemukan mas-masan (benda terbuat dari emas) itu bisa-bisa justru kena sial, dapat ngemasi atau menemui ajalnya. Karena menurut keyakinannya benda-benda itu disukai  makhluk-makhluk halus sebangsa para jin dan para danyang. Lebih-lebih benda yang sudah lama tersimpan di dalam tanah. Biasanya benda semacam itu ditunggui para lelembut atau makhluk halus. Selain itu ia juga takut pada peraturan kerajaan. Lebih-lebih ia merasa sebagai orang yang tidak tahu hukum. Supaya tidak disangka mencuri, mengurangi sebagian isi guci yang ditemukan, Pak Waru bermaksud mengajak Pak Dadap untuk menjadi saksi dirinya yang akan mengangkat guci tersebut. Maka ia pun tergopoh-gopoh pergi ke rumah Pak Dadap. Tak peduli kaki dan tangannya masih kotor berlepotan lumpur, belum dicuci. 

“Ada apa ini? Katanya masih sepuluh hari lagi yang menyewa tanah, kok ini sudah datang kemari lagi, apa ladangnya sudah rata dengan sawah di bawahnya, lalu akan diserahkan kembali kepadaku, Adi Waru?” tanya Pak Dadap.

“Tidak Kang Dadap. Kedatanganku kemari akan memberi tahukan, sekaligus akan meminta Kang Dadap menjadi saksi,” jawab Pak Waru.

“Saksi apa? Apa kamu kena perkara? Kalau perkara di pengadilan, aku tidak dapat membantumu sebagai saksi, karena pekerjaanku banyak. Aku sangat sibuk! Aku tidak mau mondar-mandir menjadi saksi di pengadilan!” ujar Pak Dadap. Pak Waru tidak segera menjawab. Ia diam sebentar untuk menata kata-kata. Ia tahu Pak Dadap itu orangnya tidak mau direpotkan. Boleh dikata Pak Dadap itu orangnya egois. Tetapi untuk masalah ini tentu ia akan bersedia. Apalagi kejadiannya di tanah milik Pak Dadap, mau tidak mau Pak Dadap harus terlibat sebagai saksi. Kemudian ia menceritakan bagaimana ia menemukan guci yang diduga berisi benda-benda perhiasan  dari emas, harta karun peninggalan jaman dahulu, ketika dirinya sedang membuat adonan tanah untuk bahan membuat batu bata.

“Aku minta Kang Dadap menjadi saksi  bagaimana aku mengangkat guci harta karun itu.   Kalau aku sampai mati dibunuh makhluk halus penunggu harta karun itu, Kang Dadap bisa mengabarkan keadaanku kepada keluargaku. Tetapi kalau aku selamat, Kakang aku minta bisa mengetahui dan ikut menghitung isinya guci, serta menjadi saksi kalau aku tidak mengambil barang-barang yang ada di dalam guci.”

Mendengar penjelasan Pak Waru, Pak Dadap tidak hanya menjadi lega tetapi juga menjadi gembira. Karena penemuan ini di sawahnya maka keberuntungan ini sudah seharusnya melibatkan dirinya.

“Kalau begitu, mari kita segera ke sana, nanti keburu hilang dicuri orang,” ajak Pak Dadap tidak sabar. Pak Dadap buru-buru ingin mengetahui penemuan harta karun berupa mas-masan di sawahnya. Ia merasa berhak mendapat bagian dari penemuan itu. Mereka segera bergegas menuju ladang tempat pembuatan batu bata.

Sampai di ladang, Pak Dadap minta agar Pak Waru segera mengangkat guci dari dalam tanah. Pak Waru menurut, Guci lalu dibuka tutupnya dan dikeluarkan isinya. Bergemerincing suara perhiasan emas berjatuhan ke tanah. Betapa terkejut keduanya melihat emas, intan, berlian bersinar-sinar gemerlapan. Jumlahnya tidak sedikit, ada yang berbentuk gelang, kalung, cincin, liontin, subang, peniti dan lain-lain.

Melihat benda-benda yang sangat berharga itu, tiba-tiba timbul niat jahat dalam hati Pak Dadap.

“Adi Waru, barang-barang ini merupakan harta karun. Menurut peraturan kerajaan kita, penemuan ini harus dilaporkan ke pemerintah, kemudian menjadi milik kerajaan. Adi Waru sebagai yang menemukan dan aku sebagai pemilik tanah yang ketempatan harta karun ini, paling hanya mendapat hadiah yang tidak seberapa. Maka, aku punya usul, bagaimana kalau harta karun ini kita ambil secara sembunyi-sembunyi? Kalau sudah sampai di rumahku kita bagi berdua sama besarnya. Supaya tidak ketahuan orang banyak, kita ambil nanti malam saja, jam dua belas malam. Sekarang kita kembalikan dulu, ditutup tanah lagi,” usul Pak Dadap.

Pak Waru sebetulnya hatinya tidak setuju pada usul Pak Dadap untuk memiliki harta karun temuannya, karena tahu kalau hal ini melanggar aturan kerajaan, tetapi dirinya tidak mempunyai pilihan lain. Karena meskipun sebetulnya dialah yang menemukan harta karun itu, tetapi dirinya hanyalah seorang penyewa. Pak Dadaplah pemilik tanah sesungguhnya. Seandainya ia tidak menyewa dan menggali tanah itu, harta karun itu tetap ada di tanah ladang milik Pak Dadap, yang suatu saat kelak kalau digali oleh Pak Dadap sendiri, harta karun itu akan ditemukan Pak Dadap. Dirinya hanyalah orang yang beruntung menemukan harta karun di ladang Pak Dadap. Boleh dikatakan ia hanya nempil atau nunut mukti. Akhirnya Pak Waru hanya dapat pasrah kepada kehendak Pak Dadap. Guci beserta isinya dikembalikan ke tempat semula, ditutup tanah  kembali meskipun hanya tipis saja.

“Adi Waru, sebelum kita kembali pulang, terlebih dahulu aku akan minta tolong pepundenku Dhemit Bahureksa penunggu pohon bendho growong ini untuk menjaga benda-benda berharga ini,” kata Pak Dadap sambil menunjuk pohon bendho besar yang berlubang besar di tengahnya yang terletak di tepi ladang itu.

“Terserah kepada Kang Dadap, karena ini ada di ladang Kang Dadap.”

“Ya sudah, kalau begitu aku akan segera minta tolong kepada pepundenku,” ujar Pak Dadap. Ia lalu menghadap ke arah pohon bendho growong, “Hey…Pepunden Bahureksa Pohon Bendho Growong! Buyutmu minta tolong kepadamu, jagalah harta karun yang ada di dalam guci, hari ini saja, sampai tengah malam nanti. Jangan sampai diambil orang lain, kecuali Pak Waru yang ada di sampingku ini. Kalau ada orang lain mengambil, jeratlah kakinya! Lalu ikatlah di  pohon bendho growong tempat tinggalmu!” pinta Pak Dadap kepada penunggu pohon bendho growong yang tidak kelihatan ujudnya. Keduanya lalu pulang ke rumah masing-masing.

Pak Waru yang hatinya bersih dan lugu tidak punya kecurigaan apa-apa, jalannya cepat dan mantap. Tidak menoleh-menoleh ke kiri ke kanan atau ke belakang. Sehingga tidak terlalu lama ia sudah berada di rumahnya. Tetapi Pak Dadap yang mempunyai rencana lain, jalannya pelan-pelan. Seolah-olah ia baru pertama kali melewati jalan itu sehingga takut tersesat. Tetapi yang mencurigakan, sebentar-sebentar ia menengok ke kanan menengok ke kiri, lalu mengawasi jalannya Pak Waru, seakan mencari kesempatan kelengahannya. Lalu umpetan di balik pohon. Ketika dirasa Pak Waru sudah jauh, tidak mungkin melihat apa yang akan dikerjakannya, ia kembali ke ladangnya. 

***

Malamnya, tengah malam Pak Dadap dan Pak Waru bersama-sama datang lagi ke ladangnya. Pak Dadap lalu minta Pak Waru menggali lagi, mencari guci yang ditimbun lagi siang tadi. Sebagai saksi Pak Dadap tidak ikut menggali, hanya menerangi dengan obor yang dibawa dari rumah. Pak Waru pun menggali tanah di tempat ia menimbun kembali barang temuannya siang tadi. Setelah sekian lama bekerja, Pak Waru merasa aneh, rasanya  ia menggali sudah lebih dalam lagi dari yang dikerjakannya siang tadi, bahkan seolah-olah tanah ladang itu sudah disisir semua sampai tak ada tanah sejengkal pun yang tertinggal, hingga Pak Waru mandi keringat, tetapi guci itu tetap saja tidak dapat ditemukan. Pak Waru merasa aneh, rasanya ada yang tak wajar. Ia cangkuli semua tempat yang diduga jadi tempat ia menyembunyikan guci harta karun, tetap saja tak dapat menemukan.

“Perasaan siang tadi aku tanam di sini, tetapi kenapa sekarang sudah aku cari dan aku cangkul bolak-balik, tetap saja tidak dapat kutemukan. Ini pasti ada yang tidak beres. Di mana, ya? Apa ada orang lain yang telah berani mengambilnya?” pikir Pak Waru. Tahu dari tadi Pak Waru tidak dapat menemukan, Pak Dadap lalu ikut-ikutan turun membantu mencari. Hasilnya sama saja. Tanah sudah dicangkul sampai lebih dalam dan lebih luas, bolak-balik, berkali-kali, tetap saja tidak dapat menemukan guci berisi harta karun itu.

“Ini jelas hilang gucinya! Tentu sudah diambil orang! Padahal yang tahu adanya guci itu hanya aku dan kamu, Adi Waru,” kata Pak Dadap.

”Apa maksud Kang Dadap berkata begitu?” sahut Pak Waru merasa tak enak hati mendengar kata-kata Pak dadap yang mengandung tuduhan.

”Semuanya sudah jelas! Aku tidak mengambil guci itu. Kalau begitu, tentu kamu yang mengambil, Adi Waru!” tuduh Pak Dadap.

Pak Waru gelagapan, “Mbok sumpah, aku benar-benar tidak mengambil guci itu! Aku tidak bohong, Kakang,” bantah Pak Waru.

“Lalu siapa, coba? Lebih-lebih aku sudah minta tolong dan berpesan kepada pepundenku  makhluk halus Bahureksa penunggu pohon bendho growong, selain   Adi Waru  kalau ada orang lain yang berani mengambil guci itu akan dijerat dan diikat di pohon bendho growong. Padahal sekarang tidak ada orang diikat di pohon keramat itu. Jadi sudah jelas kalau yang mengambil guci beserta seluruh isinya pastilah Adi Waru sendiri! Maka sebelum aku laporkan ke yang berwajib, lebih baik tunjukkan kepadaku di mana Adi Waru menyembunyikannya. Sekarang mari kita ambil lalu kita bagi dua. Aku minta bagianku separo, jangan dimiliki sendiri!” desak Pak Dadap.

Karena Pak Dadap terus mendesak menuduh Pak Waru yang mengambil, lama-lama Pak Waru tidak tahan, lalu keluar tantangannya, “Sudah begini saja, mari kita minta pengadilan di hadapan Kanjeng Adipati. Nanti tentu akan terbuka siapa sesungguhnya yang mengambil guci itu!”
“Iya, mari! Siapa takut?” sambut Pak Dadap. Keduanya lalu berjalan menuju kota Kabupaten malam itu juga.

***


Related posts:

No response yet for "Cerpen: Dongeng Wacan Bocah 'HARTA KARUN' Part I"

Post a Comment