Cerpen: Dongeng Wacan Bocah 'HARTA KARUN' Part II

Artikel Dongeng Wacan Bocah 'HARTA KARUN' Part II ini merupakan lanjutan dari artikel Dongeng Wacan Bocah 'HARTA KARUN' Part I.

Tidak diceritakan perjalanan Pak Dadap dan Pak Waru menuju kota Kabupaten. Sampai istana Kabupaten masih malam. Mereka diterima penjaga  pintu gerbang istana. Setelah ditanya apa keperluannya, penjaga pintu gerbang lalu masuk melapor kepada Kanjeng Adipati.

Kanjeng Adipati yang bijaksana lalu memanggil yang sedang berperkara satu persatu untuk menghadap dan ditanya perkaranya. Tidak mau kedahuluan, Pak Dadap menghadap lebih dahulu. Sedangkan Pak Waru yang penyabar dan suka mengalah cukup belakangan.

Meskipun sedang enak-enaknya tidur, Kanjeng Adipati tidak marah dibangunkan abdinya, dimintai solusi rakyatnya yang sedang ada masalah. Memang hal itu sudah menjadi kewajibannya sebagai pelindung rakyatnya untuk menciptakan ketenangan dan ketentraman. Kanjeng Adipati duduk di kursi berukir indah, didampingi sekretaris istana. Sedangkan Pak Dadap duduk  bersila di atas tikar di hadapan Kanjeng Adipati.

“Kamu itu siapa, malam-malam datang menghadap kepadaku? Dan apa keperluanmu?” tanya Kanjeng Adipati mulai memeriksa perkara Pak Dadap dan Pak Waru. 

“Ampun Kanjeng Adipati, saya Pak Dadap dari Dukuh Dadapan, masih wilayah kekuasaan Paduka. Sedangkan perkara saya yaitu saya mempunyai sawah ladang satu pathok. Wasiat dari orang tua saya, di ladang saya itu tersimpan di dalam tanah, harta karun  warisan leluhur saya berupa guci yang di dalamnya ada emas picis raja brana, perhiasan emas, intan, berlian yang kesemuanya mahal harganya. Karena saya merasa belum membutuhkan, maka harta benda itu saya diamkan saja dahulu di situ, terkubur di tanah, ditunggui pepunden saya makhluk halus Bahureksa penunggu pohon bendho growong. Rencana saya harta itu akan saya gunakan untuk biaya perkawinan anak saya. Tetapi karena terlalu lama harta itu saya simpan, disibukkan mengurus anak istri, saya sampai lupa kalau mempunyai harta simpanan yang begitu banyak,” cerita Pak Dadap berbohong tapi dengan nada yang amat meyakinkan.

“Kebetulan sekarang ini saya menyewakan ladang saya itu kepada Pak Waru untuk membuat batu bata. Ketika menggali tanah untuk membuat adonan tanah bahan pembuat batu bata, Pak Waru menemukan harta simpanan leluhur saya itu. Harta itu dianggap harta karun tak ada pemiliknya, lalu diambil dan disembunyikan di rumahnya. Ketika saya menengok ladang saya  yang ternyata sudah sama rata dengan sawah di bawahnya, saya jadi teringat pada harta simpanan leluhur saya yang ada di ladang yang sudah digali rata tersebut. Lalu saya tanyakan kepada Pak Waru, apakah dia tahu dan mengambil harta leluhur saya yang tersimpan di situ.  Dia tidak mau mengaku. Lalu saya tanyakan kepada pepunden saya,  makhluk halus Bahureksa penunggu pohon bendho growong yang oleh leluhur saya ditugasi untuk menjaga harta simpanan tersebut. Pepunden saya mengatakan dan bersedia menjadi saksi, bahwa yang mengambil harta warisan leluhur saya itu adalah Pak Waru.” Pak Dadap berhenti sejenak untuk mengetahui kesan di wajah Kanjeng Adipati. Kanjeng Adipati hanya diam saja, meskipun sesungguhnya ia tahu kalau apa yang dikatakan Pak Dadap adalah kebohongan yang tidak masuk akal. Tetapi Kanjeng Adipati sengaja menyembunyikan ekspresi wajahnya. 

“Oleh karena itu saya tidak terima harta warisan leluhur saya diambil Pak Waru. Dia memang menyewa tanah ladang saya. Dia boleh mengambil tanah permukaan untuk membuat batu bata sesuai perjanjian, tetapi dia tidak boleh mengambil yang lainnya yang ada tersimpan di tanah ladang itu. Saya mohon pengadilan, Kanjeng Adipati. Kembalikan harta warisan leluhur saya kepada saya. Dan hukumlah yang berat Pak Waru yang sudah berani-beraninya mengambil harta simpanan leluhur saya,” lanjut Pak Dadap. Mendengar laporan Pak Dadap, Kanjeng Adipati mengangguk-anggukkan kepala. 

“Apa pekerjaan orang tuamu, Pak Dadap?” tanya Kanjeng Adipati kemudian.

“Setahu saya orang tua saya ya hanya bertani seperti saya,” jawab Pak Dadap.

“Lalu leluhurmu, apa pekerjaannya?Apakah mereka keturunan raja yang kaya raya?” tanya Kanjeng Adipati lagi.. 

“Setahu saya pekerjaan leluhur saya juga hanya bertani,” jawab Pak Dadap lagi.

“Lalu kira-kira dari mana leluhurmu mendapat harta perhiasan emas, intan, berlian sebanyak itu?” kejar Kanjeng Adipati mulai menyelidiki. Pertanyaan itu langsung menohok ke bangunan kebohongan yang didirikan Pak Dadap.

“Ampun Kanjeng Adipati, saya tidak tahu dari mana leluhur saya mempunyai harta sebanyak itu,” jawab Pak Dadap gelagapan. Ia menggeragap ketakutan mendapat pertanyaan yang tak diduga-duganya itu. Kanjeng Adipati mengangguk-anggukkan kepala. Sebetulnya Kanjeng Adipati akan mengatakan ‘Apakah mungkin leluhurmu mendapatkan harta sebanyak itu dari merampok atau mencuri?’ tetapi Kanjeng Adipati tidak tega mengucapkan kata-kata yang bersifat tuduhan dan memojokkan kepada rakyatnya yang sudah ia ketahui berbohong dan sekarang nampak ketakutan.
“Sekarang mana surat wasiat yang kamu terima dari leluhurmu itu?” tanya Kanjeng Adipati kemudian.

“Aaa…anu… Kanjeng Adipati, tidak ada surat wasiat. Saya hanya menerima wasiat itu secara lesan. Turun temurun dari para leluhur kepada anak-anaknya secara lesan tanpa surat atau catatan,” jawab Pak Dadap semakin ketakutan. Meskipun demikian ia tetap bersikukuh melanjutkan kebohongannya.

”Kenapa orang tuamu, kakekmu, atau buyutmu, yang sebelumnya telah menerima wasiat turun temurun itu, tidak berkeinginan untuk mengambil harta warisan leluhurmu itu?” tanya Kanjeng Adipati semakin memojokkan Pak Dadap.

”Ampun Kanjeng Adipati, saya tidak tahu. Mungkin mereka merasa masih belum membutuhkan,” jawab Pak Dadap sekenanya, dan nampak tidak yakin pada jawabannya sendiri. 

“Ya sudah, aku terima laporanmu. Sekarang kamu keluarlah dahulu. Aku akan gantian menanyai Pak Waru,” perintah Kanjeng Adipati.

Pak Dadap keluar. Pak Waru gantian menghadap Kanjeng Adipati. 

”Ampun, Kanjeng Adipati, hamba menghadap,” kata Pak Waru sopan.

”Duduklah, Pak Waru, lalu ceritakan apa yang sesungguhnya telah terjadi!” ujar Kanjeng Adipati. Pak Waru lalu menceritakan apa adanya semua yang telah terjadi, mulai dari bagaimana Pak Dadap menawarkan menyewakan tanah ladangnya untuk membuat batu bata, sampai terjadi perselisihan setelah  harta karun yang ditemukannya di ladang Pak Dadap hilang kembali. Semua diceritakan dengan cermat dan lancar, tidak ada yang ditutup-tutupi. Termasuk bagaimana ia dibujuk, setengah dipaksa untuk membagi dua barang temuannya dengan Pak Dadap. 

Bagi Kanjeng Adipati yang arif dan bijaksana perkara ini sudah jelas siapa yang benar dan siapa yang salah. Tetapi semua itu perlu dibuktikan agar tidak dianggap pilih kasih, mban cindhe mban siladan. Dua-duanya harus dihadapkan bersama-sama disertai saksi. Juga barang bukti perlu ditemukan. Maka Kanjeng Adipati lalu memerintahkan sekretaris istana mengajak Pak Dadap dan Pak Waru menunggu di pendapa. Sambil menunggu mereka dijamu sekedarnya. Teh hangat dan goreng singkong segera disajikan abdi istana. Lumayan untuk menghangatkan perut yang sudah mulai keroncongan, setelah tenaganya terkuras untuk mencangkuli ladang mulai tengah malam tadi. 
“Pak Dadap, setelah aku teliti dan timbang-timbang dengan cermat, kelihatannya laporan Pak Waru yang lebih masuk akal. Laporanmu kelihatan mengada-ada. Tetapi kalau kamu dapat menghadapkan pepundenmu makhluk halus Bahureksa penunggu pohon bendho growong, dan ia mau memberikan kesaksian di bawah sumpah, lalu dapat ditemukan bukti-bukti, barangkali memang kamu yang benar. Maka aku minta hari ini juga undanglah ke mari saksimu itu!” perintah Kanjeng Adipati kepada Pak Dadap. Tidak menyangka akan mendapat perintah seperti itu, Pak Dadap jadi kebingungan.

“Ampun Kanjeng Adipati, saksi saya itu berujud jin, makhluk halus, Bahureksa penunggu pohon bendho growong. Ia sangat setia kepada tugasnya. Jadi ia tidak mau disuruh pergi-pergi ke tempat lain, selain menunggui pohon bendho growong, menjaga agar pohon keramat itu tidak ditebang orang. Kalau Kanjeng Adipati berkenan, mari saya antarkan ke ladang saya. Nanti Kanjeng Adipati dapat menanyai jin pepunden saya itu untuk menyelidiki perkara ini.”

“Kalau begitu, mari bersama-sama  kita buktikan di ladang Pak Dadap!” ajak Kanjeng Adipati.  

”Mari, Kanjeng Adipati, kita ke tempat penemuan harta karun itu,” sahut Pak Dadap dan Pak Waru bersamaan. Mereka lalu mendahului berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Kanjeng Adipati naik kuda diikuti sekretaris istana dan dikawal sementara prajurit berjalan kaki, mengikuti di belakangnya.

Sampai di ladang Pak Dadap waktunya sudah menjelang pagi. Kabut putih masih menyelimuti suasana pedesaan. Yang sampai di tempat itu merasa heran melihat ada bayangan putih tinggi besar duduk bersila di lubang pohon bendho. Cangkulan tanah yang seperti baru saja disisir diosak-asik untuk mencari sesuatu, masih  terlihat di depan pohon bendho itu.

“Ampun Kanjeng Adipati, itulah ujud pepunden saya, jin Bahureksa penunggu pohon bendho growong. Silakan Paduka menanyai, mumpung hari belum terang. Nanti kalau sudah siang sedikit saja ia akan menghilang tidak kelihatan,” kata Pak Dadap kepada Kanjeng Adipati.

”Baiklah aku akan mulai menanyai jin Bahureksa pepundenmu,” ujar Kanjeng Adipati. “Hai Bahureksa penunggu pohon bendho growong! Kamu ditanyai Adipati yang menguasai wilayah sini, jawablah semua pertanyaanku dengan jujur!  Kalau kamu sampai berbohong kamu akan menerima hukumanku dan menerima laknat dari Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Kanjeng Adipati penuh wibawa.
“Baik, Kanjeng Adipati! Saya akan menjawab dengan jujur, apa adanya,” jawab jin Bahureksa dengan  suara keras dan dibesar-besarkan. Ada nada gemetar ketakutan di balik nada  suara yang dipalsukan itu. 

“Apa betul kamu ditugasi menjaga pohon bendho growong oleh leluhur Pak Dadap?”
“Betul, Gusti Adipati.”

“Selain itu, apakah kamu juga ditugasi untuk menjaga harta karun warisan leluhur Pak Dadap yang ditanam di tanah ladang yang ada di depanmu itu?”

“Betul, Gusti Adipati. Sudah ratusan tahun saya menunggui harta karun ini sejak nenek moyang Pak Dadap.”

“Apakah kamu juga tahu, siapa yang telah mengambil harta karun itu?”
“Saya tahu. Yang mengambil Pak Waru sore tadi. Ia menemukan ketika sedang menggali tanah untuk dibuat adonan bahan pembuat batu bata. Lalu membawanya pulang setelah matahari terbenam.”
“Kalau memang kamu tahu, sekarang harta karun itu disembunyikan di mana?” kejar Kanjeng Adipati.

Jin Bahureksa itu tidak segera menjawab, barangkali sedang mencari tempat disembunyikannya harta karun itu oleh Pak Waru. Pak Dadap juga kelihatan bingung. Ia tidak menyangka Kanjeng Adipati akan menanyakan sejauh itu. Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya jin Bahureksa itu menjawab dengan gugup, ”Harta karun itu oleh Pak Waru disembunyikan di kandang kerbau di belakang rumahnya.”

Mendengar jawaban jin Bahureksa itu, Pak Waru yang tadinya tenang-tenang saja karena merasa tidak mengambil harta karun dari ladang Pak Dadap, tiba-tiba timbul kekhawatirannya, jangan-jangan Pak Dadap dengan diam-diam telah mengambil harta perhiasan yang tidak ternilai harganya itu, lalu meletakkan di kandang kerbaunya untuk memfitnahnya. Tapi kalau memang demikian, lantas apa untungnya? Bukankah kalau demikian halnya, harta itu semuanya akan jatuh kepada kerajaan, dan ia hanya akan mendapatkan hadiah yang tidak seberapa?   Sedangkan dirinya, Pak Waru yang menemukan, akan mendapat celaka, dihukum sebagai pencuri harta kerajaan. Ini sungguh tidak adil. Pak Waru akan berteriak membantah fitnah itu, tetapi bibirnya rapat terkunci karena emosi. Selain itu, di hadapan persidangan pengadilan seseorang dilarang berbicara kalau tidak ditanya. Tidak boleh saling bantah seperti orang debat kusir. Akhirnya ia hanya dapat diam menahan diri.

“Para prajurit, kalian bagilah dua. Sebagian pergilah ke rumah Pak Waru, carilah harta karun itu di kandang kerbau Pak Waru dan sekitarnya. Sebagian lainnya, carilah harta karun itu di rumah Pak Dadap! Jangan terlalu lama! Sekarang juga segeralah berangkat, aku tunggu di sini!” perintah Kanjeng Adipati kepada bawahannya.

Para prajurit segera berangkat melaksanakan perintah. Yang ditugasi mencari di kandang kerbau Pak Waru sudah mencari di mana-mana, kandang dan kebun, juga di dalam rumah, tetap tidak dapat menemukan yang dicari. Akhirnya prajurit itu kembali ke ladang Pak Dadap. Yang ditugasi mencari di rumah Pak Dadap, tidak perlu susah-susah mencari segera menemukan guci keramik di kolong amben tempat tidur Pak Dadap. Guci dibuka, ternyata berisi berbagai perhiasan yang kesemuanya sangat indah dan mahal harganya. Mereka berkesimpulan benda inilah yang sekarang sedang jadi perkara. Mereka lalu mengambil dan membawanya menghadap Kanjeng Adipati di ladang Pak Dadap.

Melihat prajurit yang ditugaskan mencari di kandang kerbaunya tidak menemukan apa-apa, Pak Waru jadi lega. Sebaliknya melihat prajurit yang ditugaskan mencari di rumahnya kembali membawa guci keramik yang dicari, Pak Dadap jadi ketakutan. Mukanya pucat pasi seakan darah tak mengalir ke situ. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Kanjeng Adipati mendekati Pak Dadap dengan langkah tegap penuh wibawa. Yang didekati tambah gemetar ketakutan.

“Sekarang sudah jelas siapa yang salah siapa yang benar. Pak Dadap, kamu sudah memfitnah Pak Waru temanmu sendiri dengan tuduhan palsu. Kamu juga sudah mencuri dan menyembunyikan harta karun yang seharusnya dilaporkan kepada kerajaan. Kemudian aku ingin tahu, siapa orang yang kamu katakan sebagai jin Bahureksa penunggu pohon bendho growong itu?” tanya Kanjeng Adipati untuk mengetahui orang yang sudah mau diajak bersekutu untuk memfitnah Pak Waru. Semua yang ada di situ juga ingin tahu siapa sebetulnya orang yang telah bersedia semalam berada di situ jadi makanan nyamuk.

“Mohon ampun Kanjeng Adipati. Sebetulnya ia adalah anak saya. Agar kelihatan seperti jin berbulu putih, ia saya lumuri dengan air tape, lalu saya suruh bergulung-gulung di kasur yang sudah saya bedah, sehingga kapuknya semua menempel di tubuh anak saya, “jawab Pak Dadap menjelaskan.

“Kalau begitu sekarang aku putuskan: Pak Dadap dinyatakan bersalah. Ia harus menerima hukuman bekerja paksa di kebun karet milik kerajaan tanpa upah, kecuali ditanggung sandang, pangan, kesehatan dan tempat berteduh sekedarnya, lamanya sepuluh tahun. Anak Pak Dadap yang sudah menjadi saksi palsu, karena hanya menurut perintah orang tuanya, dikenai pidana kerja paksa di kebun karet selama tiga tahun. Sedangkan Pak Waru dinyatakan bebas dari tuduhan. Bahkan ia diberi hadiah berupa uang, besarnya sepuluh persen dari taksiran nilai harta karun yang telah ditemukannya,” kata Kanjeng Adipati memutuskan perkara Pak Dadap dan Pak Waru bersamaan terbitnya matahari di ufuk timur. 

***

NB:   
  • Cerita dongeng ini dalam versi Bahasa Jawa telah dimuat di Majalah Bahasa Jawa Djaka Lodang N0. 11 * 13/8/2011 dan No. 12 * 20/8/2011 dengan judul ”Nemu Bandha Karun”
  • Dalam versi Bahasa Indonesia bersama 6 dongeng lainnya dibukukan dalam buku kumpulan dongeng dengan judul ”Raja Lobaningrat” kini menunggu ACC untuk diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Related posts:

No response yet for "Cerpen: Dongeng Wacan Bocah 'HARTA KARUN' Part II"

Post a Comment