Petikan Naskah Drama Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan TP Bag. III/4

Berikut contoh naskah drama dari "Petikan Naskah Drama Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan TP"

Oleh Sutardi MS Dihardjo

BAGIAN KEEMPAT


MALAM HARI. BEBERAPA LAMPU MINYAK (TEPLOK ATAU TING) DI NYALAKAN DAN DIPASANG DI BEBERAPA SUDUT PANGGUNG. VETERAN 2 BERDIRI DI DEPAN SEBUAH LAMPU TEPLOK YANG MENYALA,  MEMBACAKAN NARASI.

VETERAN 2
(Membaca narasi) Malam itu kami kembali ke Pos Sie: 132 Tentara Pelajar di dukuh Sraten Desa Trunuh. Kami merasa lelah setelah bertempur seharian. Lalu komandan kami, Suparno Negro, mengabsen anak buahnya satu persatu. Selesai mengabsen kami jadi tahu kalau anggota TP kurang satu. Bung Soenadi tidak ada di antara kami. Langsung kami semua jadi bersedih. Suasana yang tadinya ramai oleh cerita pertempuran yang baru saja dilakukan, tiba-tiba berubah menjadi murung karena kehilangan seorang kawan. Kami tidak tahu, apakah kawan kami tertembak mati atau ditawan oleh musuh. Kami saling bertanya siapa yang terakhir melihat posisi Bung Soenadi sebelum mundur ke Pos Sie: 132 di dukuh Sraten.

VETERAN 2 KELUAR PANGGUNG. ADEGAN BERGANTI DI POS SIE: 132 TP YANG ADA DI DUKUH SRATEN. PARA TENTARA PELAJAR MEMBICARAKAN HILANGNYA SALAH SATU ANGGOTA MEREKA. PERABOT SEDERHANA ADA DI POS ITU. BALAI BAMBU, KURSI PANJANG (DINGKLIK) KAYU DAN SEBUAH MEJA.

SUPARNO NEGRO
Kawan kita kurang satu. Bung Soenadi belum ada di antara kita. Siapa yang melihatnya terakhir kali?

MARDOWO
Aku lihat yang berada bersama Bung Soenadi terakhir kali bukankah Bung Robert dan Bung Parno sendiri?

SUPARNO NEGRO
Memang benar, semula kami memang bertempur berdekatan. Tetapi karena kami hampir saja terkena tembakan musuh, maka kami lalu berpencar menjauh. Sejak itu aku tidak melihat Bung Soenadi lagi. Bukankah begitu, Bung Robert Sufsidi?

ROBERT SUFSIDI
Benar begitu kata Komandan. Kami berpisah, berpencar untuk mencari posisi sendiri-sendiri yang aman untuk menembak.

SALAH SEORANG TP
Aku yang paling dekat dengan posisi Bung Soenadi. Terakhir, sebelum kita mundur ke Pos, menjelang waktu Maghrib tadi, aku lihat Bung Soenadi didekati seorang serdadu Belanda. Posisi Bung Soenadi ada di sebelah utara palang pintu rel kereta api di selatan Dukuh Gudang. Aku lihat juga, tidak jauh dari mereka ada seorang serdadu Belanda datang mendekati mereka.

SUPARNO NEGRO
Kalau tahu ada dua orang serdadu Belanda di dekat Bung Soenadi, kenapa Bung tidak membantunya?




SALAH SEORANG TP
Peluruku habis! Dari pada aku mati konyol, karena membawa senjata tanpa peluru, melawan musuh yang bersenjata lengkap dengan peluru penuh, lebih baik aku lari menjauh dari mereka.

ROBERT SUFSIDI
Bung jangan jadi pengecut, meninggalkan kawan berjuang sendiri menghadapi musuh?

SALAH SEORANG TP
Aku tidak pengecut. Aku pakai perhitungan. Bung Soenadi ada di utara rel kereta api bersenjata yang masih ada persediaan peluru. Serdadu Belanda akan baku tembak dengannya. Aku posisi ada di selatan rel kereta api agak jauh, dengan senjata tanpa peluru. Kalau aku ikut maju ke utara rel, paling-paling aku hanya dapat berteriak-teriak atau melempar musuh dengan batu-batu landasan rel kereta api. Ada kemungkinan ketika aku sedang mengambil batu, aku akan dijadikan sasaran empuk berondongan peluru serdadu Belanda. Maka lebih baik aku lari saja mundur ke pos seperti yang lain-lain.

ROBERT SUFSIDI
Bung kan bisa teriak-teriak memanggil kawan-kawan yang lain untuk membantu?

SALAH SEORANG TP
Posisi kami, aku dan Bung Soenadi jauh berada di belakang kawan-kawan TP yang sudah mundur duluan. Kalau aku teriak-teriak memanggil kalian, mungkin bukan kalian yang mendengar lalu membantu aku dan Bung Soenadi, tetapi justru serdadu Belanda itu yang mendengar, lalu mengetahui posisi aku. Maka aku yang tidak dapat memberikan perlawanan, bisa jadi menjadi sasaran empuk peluru-peluru mereka.

SUPARNO NEGRO
Ya sudah, tidak perlu diperdebatkan. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Posisi kawan kita ini memang sulit. Kalau kita jadi dia, belum tentu juga kita dapat membantu Bung Soenadi. Sekarang yang penting bagaimana caranya kita dapat menemukan Bung Soenadi, hidup atau mati.

ISKANDAR
Kita sama-sama ke sana dengan membawa oncor. Kita cari bersama-sama kawan kita itu. Siapa tahu ia masih hidup, dan butuh pertolongan segera untuk diobati.

SEMUA TP YANG ADA DI SITU
Ya, mari kita segera mencari Bung Soenadi di dekat palang pintu rel kereta api.

MARDOWO
Kita mesti siapkan tandu bambu untuk mengangkutnya. Kalau dia masih hidup dan tak mampu berjalan, tandu bambu itu akan sangat berguna. Begitu juga seandainya ia sudah gugur, tandu bambu itu pun akan sangat berguna untuk mengangkut mayatnya.

SUPARNO NEGRO
Baiklah, balai bambu ini saja kita rubah, kita jadikan tandu. Sekarang mari kita segera bekerja menyiapkan oncor dan membuat tandu. Setelah itu kita segera berangkat mencari Bung Soenadi.

MEREKA SEMUA KELUAR. LAMPU PADAM.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN MUNCUL BEBERAPA ORANG TENTARA PELAJAR MEMBAWA PENERANGAN ONCOR DAN ADA EMPAT ORANG YANG MEMBAWA TANDU BAMBU.

SEORANG PETANI MASUK PANGGUNG MENEMUI MEREKA

PETANI
Selamat malam anak-anak pejuang!

SEMUA ANGGOTA TP
Selamat malam!

PETANI
Anak-anak ini mencari salah seorang kawan kalian?

SUPARNO NEGRO
Benar. Kami memang mencari salah seorang kawan kami yang hilang dalam pertempuran tadi siang. Apakah Bapak melihatnya?

PETANI
Kebetulan ketika aku akan mengalirkan air ke sawahku tadi aku melihat sesosok mayat tergeletak di jalan, di sebelah utara rel kereta api. Sebetulnya saat ini saya akan menuju ke pos kalian untuk melaporkan temuan ini.

SUPARNO NEGRO
Jadi Bapak sudah menemukannya?

PETANI
Iya, di utara palang pintu rel kereta api. Kalau kalian juga akan mencari, mari aku tunjukkan!

SUPARNO NEGRO
Terima kasih. Jadi kami tidak perlu susah-susah mencari. Mari kita ke sana! (Kepada kawan-kawannya) Mari kita ikuti bapak Petani ini! Teman kita Bung Soenadi sudah ditemukan gugur tergeletak di jalan, di utara palang pintu rel kereta api dukuh Gudang.

SEMUA ANGGOTA TP
Mari! Kasihan dia terlalu lama tergeletak di jalan tidak ada yang merawat.

SALAH SEORANG TP
Menyesal aku tidak dapat membantunya dalam pertempuran tadi sore.

SUPARNO NEGRO
Tidak usah disesali. Semua sudah terjadi. Bersyukurlah, nyawa kamu masih selamat. Kalau kamu nekat maju, pasukan Tentara Pelajar tidak hanya kehilangan satu anggota, tapi mungkin justru dua anggota. Karena itu kita semua mesti bersyukur. Dalam pertempuran yang sedemikian dahsyatnya kita hanya kehilangan satu anggota. Dan bagi Bung Soenadi pun keluarganya juga mesti bersyukur, meskipun juga wajar kalau bersedih, karena di antara sekian banyak anggota TP, justru Bung Soenadilah yang terpilih gugur pertama kali sebagai Kusuma Bangsa. Namanya akan harum dikenang sepanjang masa. Mari kita lanjutkan mengikuti bapak Petani ini.

MEREKA SEMUA MELANJUTKAN PERJALANAN. TAK BERAPA LAMA KEMUDIAN MEREKA SUDAH SAMPAI DI DEPAN MAYAT SOENADI.

PETANI
(Sambil menunjuk ke bawah, ke arah mayat Soenadi) Inilah, anak-anak, mayat kawan kalian yang aku temukan!

SEMUA ANGGOTA TP MERUBUNG MAYAT SOENADI

SEMUA ANGGOTA TP
Inna lillaahi wa innaa ilihi raa ji’uun.

ISKANDAR
Maasyaa Allah! Kasihan Bung Soenadi! Kejam sekali serdadu Belanda itu. Luka-luka Bung Soenadi arang keranjang. Tiga bekas tembakan yang melumpuhkan dan mematikan, ditambah banyak tusukan bayonet dan sayatan-sayatan. Ini betul-betul perbuatan kejam tak berperikemanusiaan!

ROBERT SUFSIDI
Betul-betul pembunuhan yang keji dan biadab! Orang sudah mati masih ditusuk-tusuk dan disayat-sayat. Kita mesti menuntut balas!

MARDOWO
Senjata Bung Soenadi? Mana senjata Bung Soenadi?

ISKANDAR
Tak ada! Senjata Bung Soenadi, Steiyer panjang telah dirampas serdadu Belanda itu.

MARDOWO
Kurang ajar! Kita telah kehilangan satu senjata yang sangat berharga dalam masa peperangan ini.

SUPARNO NEGRO
Bukan hanya senjata! Nyawa Bung Soenadi tak kalah penting. Kita telah kehilangan satu saudara kita dan satu senjata. Dua-duanya sangat berharga dan sangat kita butuhkan.

ROBERT SUFSIDI
Gugur satu tumbuh seribu! Satu teman kita gugur, kita harus menuntut balas seribu serdadu Belanda!

SEMUA ANGGOTA TP
Ya, kita harus menuntut balas kematian Bung Soenadi!

MARDOWO
Satu senjata kita hilang dirampas Belanda, kita harus bisa ganti merebut seribu senjata mereka!

SEMUA ANGGOTA TP
Kita serbu markas serdadu mereka! Kita kuras gudang senjata mereka!

SUPARNO NEGRO
Kita pasti akan menuntut balas. Entah kapan kita harus dapat mendapatkan ganti senjata yang mereka rampas. Tapi yang lebih penting, mari kita urus terlebih dahulu jenasah Bung Soenadi ini baik-baik.

ISKANDAR
Di mana kita akan menguburkannya?

ROBERT SUFSIDI
Karena di dukuh Sraten itu hanya ada Pos Sie: 132 yang bersifat sangat sementara. Dan letaknya sangat berdekatan dengan lokasi pertempuran siang tadi, sangat berbahaya kalau rumah duka bertempat di dukuh Sraten. Ada kemungkinan serdadu-serdadu Belanda itu akan mengadakan operasi pembersihan di sekitar dukuh Sraten.

ISKANDAR
Lagi pula besok kita tidak akan dapat melaksanakan upacara penguburan jenasah pahlawan dengan khidmat, kalau dilaksanakan di dukuh Sraten. Kita tentu akan dibayang-bayangi kekhawatiran mendapat serangan serdadu Belanda.

SUPARNO NEGRO
Sudah begini saja. Malam ini juga jenasah Bung Soenadi kita bawa ke Desa Tegalrejo Wedi Birit. Rumah duka kita tempatkan di markas kita di sana. Besok penguburan jenasah pahlawan kita Bung Soenadi dapat kita laksanakan dengan khidmat, dengan iringan tembakan Salvo Kehormatan di sana. Bagaimana, kawan-kawan, setuju?

SEMUA ANGGOTA TP
Setuju! Setuju!

ROBERT SUFSIDI
Kita berikan penghormatan terakhir yang layak bagi pahlawan kita. Ia gugur, tetapi sesungguhnya ia tidak mati. Karena sebagai seorang pahlawan, sebagai seorang suhada,  sesungguhnya ia tidak pernah mati. Ia hidup abadi dan menyaksikan perbuatan kita, termasuk bagaimana kita memberikan penghormatan kepadanya.

SUPARNO NEGRO
Sekarang, mari kita bawa jenasah Bung Soenadi ke Tegalrejo. Untuk sementara semua anggota TP yang ada di Pos Sie: 132 Sraten kita tarik mundur ke Tegalrejo, untuk memberikan penghormatan kepada pahlawan kita Bung Soenadi, pahlawan Tentara Pelajar yang gugur pertama kali untuk daerah kita, Klaten.

SEMUA ANGGOTA TP
Siap Komandan!

DENGAN IRINGAN LAGU GUGUR BUNGA, MEREKA MENGANGKAT JENASAH BUNG SOENADI DILETAKKAN DI ATAS TANDU BAMBU. ENAM ORANG MEMIKUL DI KANAN KIRI, DEPAN, TENGAH DAN BELAKANG. BUNG SUPARNO NEGRO SELAKU KOMANDAN TP BERJALAN DI DEPAN. DI BELAKANGNYA JENASAH BUNG SOENADI DIPIKUL ENAM ORANG KAWANNYA. DI BELAKANGNYA LAGI IRING-IRINGAN ANGGOTA TENTARA PELAJAR DAN PETANI, BERJALAN PELAN DAN KHIDMAT. KETIKA IRING-IRINGAN PENGANTAR JENASAH ITU SUDAH BERLALU KELUAR PANGGUNG, PANGGUNG NAMPAK GELAP.

                                                                 (Bersambung ke Bagian V……….)
                                            
                                             Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Petikan Naskah Drama Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan TP Bag. III/4"

Post a Comment