Petikan Naskah Drama Perjuangan & Pengorbanan Pahlawan TP Bag. III/V

Berikut contoh naskah drama dari "Petikan Naskah Drama Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan TP"

Oleh Sutardi MS Dihardjo

BAGIAN KELIMA

BEBERAPA DETIK SETELAH IRING-IRINGAN JENASAH KELUAR PANGGUNG, LAMPU MENYALA TERANG. DI PANGGUNG BAGIAN BELAKANG, NAMPAK VETERAN 1 DAN VETERAN 2 DUDUK DI ATAS KURSI DI DERETAN TAMU KEHORMATAN UPACARA MEMPERINGATI DETIK-DETIK PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBBLIK INDONESIA YANG KE 69 TAHUN 2014 DI ALUN-ALUN KLATEN. TEMPAT DUDUK MEREKA BERDAMPINGAN. TENDA TRATAK MEMAYUNGI TEMPAT DUDUKNYA. TAPI IA HANYA BERDUA. TAMU-TAMU YANG LAINNYA SUDAH PADA PULANG, KARENA UPACARA SUDAH BEBERAPA MENIT YANG LALU SELESAI.

VETERAN 2
(MEMBACAKAN NARASI DIIRINGI SAYUP-SAYUP LAGU MARS ”BANGUN PEMUDI-PEMUDA”) Kesedihan yang mendalam merasuki iring-iringan pengantar jenasah, sejak dari tempat ditemukannya di utara rel kereta api selatan dukuh Gudang, sampai ke Desa Tegalrejo Wedi Birit. Mereka memang kelihatan loyo karena bersedih kehilangan salah satu temannya, tetapi sebetulnya mereka bagaikan api dalam sekam.   Di balik kesedihan itu tersembunyi gejolak semangat yang berkobar untuk menuntut balas.  Semangat untuk menjadikan pengorbanan Bung Soenadi tidak sia-sia. Mereka harus dapat merebut kembali, tidak hanya senjata Bung Soenadi yang telah dirampas serdadu Belanda, lebih dari pada itu, mereka bertekad untuk merebut kembali kebebasan, ketenangan dan ketentraman yang telah dirampas penjajah Belanda,  agar dapat memperoleh kembali kemerdekaan bangsanya, agar dapat mengisinya dengan pembangunan, untuk kesejahteraan seluruh rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

(DIPERDENGARKAN LAGU ”GUGUR BUNGA” MENGIRINGI ADEGAN PEMBACAAN NARASI YANG MENGGAMBARKAN PEMAKAMAN BUNG SOENADI INI) Tanggal 8 Februari 1949 Bung Soenadi dimakamkan di pemakaman umum Desa Birit. Pemakamannya mendapat penghormatan istimewa dari rakyat banyak. Laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, berbondong-bondong dari berbagai penjuru desa.  Pemakamannya diiringi dengan tembakan salvo kehormatan dari barisan 17 orang pasukan bersenjata, dengan taburan bunga duka di atas pusara makam. Diiringi lagu Gugur Bunga yang dinyanyikan sayup-sayup oleh para pelajar desa, dipimpin seorang guru sekolah desa. Suasananya sangat khusuk dan mengharukan. Dibarengi tetesan air mata dari kawan-kawannya setikar tidur, bahkan sebantal tidur. Sungguh mengharukan, untuk pertama kalinya mereka merasakan betapa sedihnya kehilangan kawan Tentara Pelajar gugur dalam perjuangan. Mereka berpikir, barangkali besok-besok jiwa merekalah yang mendapat giliran, dipanggil menjadi kusuma bangsa, menjadi pupuk penyubur jiwa patriot Ibu Pertiwi, Negara Republik Indonesia yang masih sangat muda, lebih muda dari usia mereka yang juga masih muda.

VETERAN 1 DAN VETERAN 2 TERTIDUR DI KURSINYA DI BAWAH TENDA TAMU KEHORMATAN. MASUK PROTOKOL UPACARA MENDEKATI VETERAN 1 DAN VETERAN 2 YANG TERTIDUR. PROTOKOL  MEMBANGUNKAN VETERAN 1 DAN VETERAN 2

PROTOKOL 2
(Menggoyang-goyang pundak Veteran 1 dan 2 bergnti-ganti) Pak, bangun Pak! Upacara sudah selesai. Kawan-kawan Bapak sudah pada pulang. Pak, bangun, Pak!

VETERAN 1 dan 2 PELAN-PELAN TERBANGUN. IA MENGUCAK-UCAK MATANYA. KETIKA TERSADAR MEREKA SALING PANDANG DAN MENJADI KEHERANAN MENDAPATI DIRI MEREKA DUDUK DI BAWAH TENDA TAMU KEHORMATAN DI ALUN-ALUN KLATEN.

VETERAN 1
Kenapa kita bisa ada di sini? Bukankah kita tadi ikut baris di lapangan bersama para pelajar SMU?

VETERAN 2
Iya, perasaan tadi kita mengikuti upacara di barisan sana tadi, di depan Masjid Raya menghadap ke panggung kehormatan. Kita kepanasan dan kehausan, tapi kita senang  karena kita dekat dengan generasi muda, generasi penerus yang akan kita warisi jiwa, semangat dan nilai-nilai ’45.

VETERAN 1
Tapi kenapa tahu-tahu kini kita dapati diri kita ada di sini, duduk di tempat yang teduh di tenda kehormatan, tapi jauh dari anak-anak muda penerus cita-cita kita? Di mana anak-anak SMU yang tadi mengerumuni kita, duduk di pinggir lapangan, di bawah pohon nan rindang, mendengarkan cerita kita?

VETERAN 2
Ternyata apa yang telah kita lakukan hanyalah mimpi. Ya, hanyalah sebuah mimpi, hanyalah sebuah khayalan duduk di pinggir lapangan, diteduhi pepohonan nan rindang, seusai upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan, di lingkari anak-anak sekolah calon pemimpin bangsa, mendengarkan kita bercerita pengalaman masa perjuangan, sambil mewariskan jiwa, semangat, dan nilai-nilai 45.

PROTOKOL
Mohon maaf, Bapak-bapak jangan bingung. Bapak-bapak tadi tertidur, sejak dari upacara belum dimulai sampai upacara selesai. Bahkan Bapak-bapak baru terbangun setelah saya bangunkan, karena semua peserta upacara sudah pada pulang.

VETERAN 2
Aneh! Perasaan tadi aku ikut upacara di lapangan sana. Berdiri tegap bersama para pelajar SMU yang patuh aku ajak mengikuti upacara sesuai yang dipandu protokol.

VETERAN 1
Bahkan setelah usai upacara, kami sempat cukup lama bercerita kepada anak-anak pelajar SMU itu. Kami bercerita tentang pengalaman kami, perjuangan dan pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar Klaten.

PROTOKOL
Tidak mungkin, Bapak-bapak. Usia Bapak-bapak sudah tua. Tidak mungkin panitia menempatkan Bapak-bapak berdiri di lapangan upacara pada panas terik seperti ini. Juga tidak mungkin Bapak-bapak sempat bercerita panjang lebar tentang perjuangan dan pengobaranan Bapak-bapak kepada para pelajar SMU di pinggir lapangan sana. Karena setelah upacara, anak-anak SMU itu langsung pada pulang ke rumah mereka masing-masing. Mungkin mereka bersiap-siap untuk mengikuti obade nanti siang.

VETERAN 1
O..ya..ya, baru sadar aku sekarang. Saat ini tubuhku sudah tua. Usiaku sudah 85 tahun. Tidak mungkin aku berpanas-panas di tengah lapangan sana. Tapi sebetulnya aku ingin, seperti bapak-bapak tentara, bapak-bapak polisi, dan para pelajar itu, berbaris dengan tegak dan berdisiplin mengikuti upacara, dari persiapan sampai selesai. Tapi ternyata aku sudah tua. Sudah tidak memungkinkan.

VETERAN 2
Benar Bung, kita ini sudah tua, dan sudah menjadi makhluk langka. Bahkan teman-teman seperjuangan kita satu persatu sudah pada meninggal menghadap Sang Khalik. Tinggal beberapa orang saja yang masih tersisa, di antaranya kita.

VETERAN 1
Untuk itulah kita harus berpacu dengan waktu, untuk dapat mewariskan jiwa, semangat, dan nilai-nilai ’45. Cerita-cerita pengalaman kita yang banyak mengandung hikmah dan suri tauladan harus segera kita wariskan kepada generasi muda. Agar mereka dapat memetik hikmah dan meneladaninya.

PROTOKOL
Benar kata Bapak-bapak. Generasi muda harus diberi cerita yang dapat membangkitkan rasa kecintaan kepada negaranya. Juga sikap yang menghargai dan menghormati perjuangan dan pengorbanan para pahlawannya. Jangan sampai generasi muda justru lebih mengenal cerita kepahlawanan super hero seperti Batman, Superman, Spiderman, atau Doraemon, daripada cerita kepahlawanan para pejuang yang telah berjuang memerdekakan negaranya, dan berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsanya yang akan dijajah bangsa asing lagi.

VETERAN 2
Benar katamu, Nak. Globalisasi yang sekarang sedang melanda bangsa kita bisa menjadi penjajah dalam bentuk lain, apabila kita tidak mengenali dan menemukan jati diri bangsa kita.

PROTOKOL
Baik, Bapak-bapak. Tapi hari ini sudah terlalu siang. Mungkin sebentar lagi lapangan ini akan segera dipersiapkan untuk pelaksanaan obade. Saya persilakan Bapak-bapak pulang ke rumah.

VETERAN 1
Baiklah, Nak. Terima kasih, Nak Protokol telah membangunkan kami dari mimpi masa lalu.

VETERAN 2
Sayang keterbatasan fisik kami menjauhkan kami dari generasi muda  yang ingin kami warisi jiwa, semangat, dan nilai-nilai kepahlawanan ’45.

VETERAN 1& 2
Permisi, Nak. Kami pamit pulang

PROTOKOL
Silakan.

VETERAN 1 DAN VETERAN 2 BERJALAN KELUAR PANGGUNG, DIIKUTI PROTOKOL. LAMPU PADAM

SELESAI.

Klaten, 21 September 2014

Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo[at]yahoo.com


DAFTAR PUSTAKA:
1. Panitiya Pembangunan Monumen Perjoangan ’45 Klaten. 1976. ”Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Klaten”.
2.     Ex Tentara Pelajar Sie 132/TNI Det II Brigade 17. 1993. ”Di Bawah Sang Merah Putih Tentara Pelajar Klaten Mengabdi.”
3.     R. Sufsidi. 1993. ”Nukilan Cerita TP. Klaten.”
4.    Dewan Harian Nasional Angkatan 45. 1991. “Pedoman Umum Pelestarian Jiwa, Semangat, dan Nilai-nilai-45.”

Related posts:

No response yet for "Petikan Naskah Drama Perjuangan & Pengorbanan Pahlawan TP Bag. III/V"

Post a Comment