Petikan Naskah Drama Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan TP Bag. III

Berikut contoh naskah drama dari "Petikan Naskah Drama Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan TP Bagian ketiga"


Oleh Sutardi MS Dihardjo

BAGIAN KETIGA


PANGGUNG GELAP. HANYA ADA DUA BUAH ONCOR (OBOR DARI BAMBU) YANG DIPASANG DI TENGAH RUANGAN MENERANGI PANGGUNG.

KEMUDIAN MASUK VETERAN 2 YANG PADA BABAK KETIGA INI BERPERAN SEBAGAI NARATOR YANG SEDANG BERCERITA KEPADA PARA PELAJAR. NARATOR BERDIRI DI TENGAH-TENGAH PANGGUNG DI DEPAN OBOR MENGHADAP KE PENONTON MEMBACAKAN NARASI.

VETERAN 2
(Sebagai narator  membacakan narasi) Kini para pasukan Tentara Pelajar Klaten sudah berada di luar kota Klaten. Bersama dengan pasukan bekas mahasiswa Sekolah Tinggi di Klaten, kami membentuk pasukan Scorpio yang sangat ditakuti, karena terkenal keberaniannya. Untuk menghindari pelacakan musuh, basis gerilya tidak boleh berada di suatu tempat terlalu lama, maka markas Tentara Pelajar pun selalu berpindah-pindah. Saat ini markas Tentara Pelajar ada di Desa Tegalrejo Wedi, dan untuk mendekati musuh, agar dapat melakukan pengintaian dan penyerangan secara mendadak, dalam jumlah lebih kecil kami mendirikan Pos-pos TP Sie: 132. Dari Pos-pos TP Sie: 132 inilah Tentara Pelajar melakukan serangan gerilya. Dengan informasi-informasi yang diperoleh dari para pelajar dan penduduk yang masih berada di dalam kota, kami dapat mengetahui pos-pos / markas Belanda dalam kota. Pos-pos dan markas-markas inilah yang dijadikan sasaran serangan gerilya Pasukan TP pada malam hari. Sehingga mereka tidak dapat tidur dengan nyenyak, hingga mereka merasa tidak tentram, tidak nyaman  dan tidak kerasan tinggal di kota Klaten.

Selain itu Pasukan TP dan para gerilya lainnya, sering melakukan pencegatan-pencegatan iring-iringan konvooi Belanda. Penyerangan tidak dilakukan pada saat mereka masih segar bugar, tetapi pada saat mereka akan pulang, setelah melakukan perjalanan panjang, dalam keadaan kelelahan dan mungkin juga lapar. Kami menghindari serangan secara frontal, mengingat kami kalah persenjataan.

Namun pernah juga kami melakukan serangan frontal karena kami slah perhitungan. Kami mengira iring-iringan konvoi yang kami cegat hanya berjumlah sedikit, karena terlalu semangat kami menyerangnya. Tak tahunya ternayat julah mereka sangat banyak.

Saat itu sebagian pasukan TP sedang menempati Pos TP Sie: 132 di Dukuh Sraten Desa Trunuh, kira-kira 500 meter di sebelah selatan jalan raya Yogya – Solo. Pada pagi hari pukul 10.00 WIB, tanggal 7 Februari 1949 sekitar 15 orang Tentara Pelajar menyusuri parit sawah yang sedang kering. Mereka akan melakukan patroli mengamati garis depan di selatan Dukuh Gudang, dekat rel kereta api.  Tiba-tiba terdengar suara gemuruh mesin truk dan jip dari balik dukuh Bendogantungan, dukuh Sumberejo dan dukuh Gudang. Tak lama kemudian muncul truk-truk dan jip-jip yang penuh muatan tentara-tentara Belanda dari arah kota Klaten.

Kami para Tentara Pelajar segera bersiap melakukan penyerangan. Dengan berbekal senjata Tweeling engkel sebagai andalan, dan senjata-senjata laras panjang lainnya, kami melawan tentara Belanda yang menggunakan Panserwagon, Brencarrier dan senjata-senjata berat lainnya. Pertempuran tidak seimbang, persenjataan kami kalah canggih, tetapi kami pantang menyerah. Dengan berbekal semangat tempur untuk mempertahankan kemerdekaan, untuk kebebasan sebagai manusia merdeka yang berhak menentukan nasib sendiri, kami terus berjuang dan bertempur, tidak mengenal lelah, haus maupun lapar. Panas terik matahari memanggang tubuh kami, membakar kepala kami. Semua itu tidak kami rasakan. Kami bertempur seharian dari pukul 11 siang sampai menjelang Maghrib.

LAMPU PADAM. VETERAN 2 KELUAR.

KETIKA KEMUDIAN LAMPU DINYALAKAN, PANGGUNG  MEMPERLIHATKAN SUASANA PAGI YANG CERAH. NAMPAK SEKELOMPOK TENTARA PELAJAR SEDANG MENYUSURI PARIT SAWAH YANG KERING. MEREKA SEMUA MEMBAWA SENJATA LARAS PANJANG. MEREKA MENGADAKAN PENGINTAIAN DI SEPANJANG REL KERETA API. BUNYI BURUNG-BURUNG DI SAWAH DAN DI PEPOHONAN TERDENGAR, SEMAKIN MENUNJUKKAN INDAHNYA SUASANA PAGI HARI, DI TENGAH ALAM TERBUKA YANG MENDAMBAKAN KEBEBASAN. SAMBIL BERJALAN MEREKA BERBICARA, BERANGAN-ANGAN TENTANG PERDAMAIAN, KETENANGAN DAN KETENTRAMAN.

ROBERT SUFSIDI
Seandainya kita setiap hari dapat merasakan suasana damai, aman dan tentram seperti ini, tidak lagi dibayang-bayangi ketakutan akan mendapat serangan musuh, alangkah indah hidup ini.

SUTRISNO
Ya, setiap hari kita dapat mengolah tanah, menggarap sawah. Meluku sawah sambil mencari belut, dan naik garu sambil uro-uro (bernyanyi Jawa). Dan pada saatnya, kita akan memanen padi untuk mengisi lumbung-lumbung kita, tanpa takut akan dirampas penjajah.

KASIRAN
Untuk itulah saat ini kita berada di sini, berpanas-panas dan berlapar-haus. Kita akan merebut kembali kebebasan, ketenangan dan ketentraman yang sudah dirampas penjajah, baik  Jepang maupun Belanda dan sekutunya. Bung Karno dan Bung Hata memang sudah memproklamirkan kemerdekaan negara kita. Tetapi kenyataannya kita harus berjuang untuk mewujudkannya.

SUPARNO NEGRO
Proklamasi Kemerdekaan bukanlah kata sakti yang langsung membuat para penjajah lari terbirit-birit meninggalkan negara kita. Ia bukanlah mantram sakti yang langsung membuat penjajah bertekuk lutut tak berdaya. Proklamasi Kemerdekaan butuh pengakuan, makanya harus diperjuangkan. Proklamasi Kemerdekaan akan banyak mendapat ujian dan cobaan. Proklamasi Kemerdekaan akan mendapat banyak gangguan dan rintangan, untuk dapat hidup terus, untuk dapat berumur panjang sampai akhir jaman. Ia serupa kita menanam pohon di tengah padang. Akan banyak angin dan terik matahari menerpanya. Bahkan puting beliung dan badai akan bergelombang-gelombang menghantamnya. Maka akarnya harus kuat tertancap di kedalaman tanah. Tanah yang subur karena selalu dipupuk.

ROBERT SUFSIDI
Bahkan ia juga butuh disiangi dan disirami, tidak hanya dengan aliran air kali yang bening, tapi juga dengan tetesan keringat, banjir air mata, dan genangan darah para pahlawan.

MARDOWO
Saat ini kita ikhlas berjuang dan berkorban. Apakah demikian juga anak cucu kita kelak? Ikhlaskah mereka kelak berjuang untuk mengisi kemerdekaan, agar kemerdekaan tidak hanya berhenti sebagai kata-kata manis, tetapi dapat dirasakan seluruh warga negara Indonesia?

ROBERT SUFSIDI
Itulah sebabnya kita harus belajar dengan tekun, agar kita dapat menjadi pengambil keputusan di negara kita. Sehingga kita yang sudah merasakan pahit getirnya jaman perjuangan, akan dapat selalu mengarahkan laju perjalanan bangsa kita, ke arah yang sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan negara kita. Dan kita dapat selalu mengingatkan kepada generasi penerus, apabila mereka kelak melenceng dari cita-cita tersebut.

KASIRAN
Ya, kita harus sekolah setinggi-tingginya, agar dapat mencapai apa yang kita cita-citakan. Tetapi itu hanya dapat dicapai apabila negara kita dalam keadaan merdeka. Kita bebas memilih sekolah di mana saja yang kita sukai dan minati. Tetapi saat ini kita sedang perang. Kita terpaksa berhenti sekolah, agar dapat ikut berjuang mengusir penjajah. Bukan pena dan buku-buku yang kita bawa. Tetapi bedil dan kelewang yang kita sandang. Bukan rumus-rumus berhitung atau hafalan-hafalan yang kita pelajari. Tetapi strategi-strategi perang, taktik gerilya, cara menyusup, cara menghilang tiba-tiba stelah membuat musuh panik dan kocar-kacir, cara meledakan trektbom, cara menghadang, mencegat, menyerang, dan menghindar, yang kita pelajari.

SUPARNO NEGRO
Inilah pengorbanan kita. Dan kita pun tak tahu sampai kapan perang ini akan terus berlanjut. Kita tidak tahu kapan perang ini akan berakhir. Kita tidak tahu kapan negara kembali damai dan merdeka, dan kita dapat bersekolah lagi. Kapan kita dapat belajar dengan tenang, menggapai cita-cita yang sudah sekian waktu tertunda, sementara usia kita sudah merambat semakin tua.

TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA DERU MESIN KENDARAAN BERAT. MULA-MULA TERDENGAR PELAN.

ISKANDAR
(Sambil memberi isyarat jari ditempel vertikal di bibir) Sssstt...Diam dulu! Dengar itu! Suara apa itu pelan-pelan menderu di kejauhan?

SUPARNO NEGRO
Kelihatannya suara kendaraan konvoi Belanda di kejauhan. Kalau tak salah saat ini masih berada di utara dukuh Bendogantungan.

ROBERT SUFSIDI
Dengar baik-baik! Semakin lama semakin jelas. Kelihatannya sekarang sudah berada di utara dukuh Sumberejo. Suaranya menggemuruh, mungkin jumlahnya banyak.

KASIRAN
Cepat sekali jalannya. Sekarang yang terdepan kelihatannya sudah sampai di utara dukuh Gudang. Suaranya menggemuruh seperti langit akan runtuh.

SUPARNO NEGRO
Mari kita bersiap-siap! Cari tempat perlindungan! Cari tempat untuk menembak yang aman! Robert, siapkan tweeling andalan kita, lindungi kawan-kawan!

SUARA GEMURUH KENDARAAN KONVOOI SEMAKIN JELAS DAN BISING. DI LAYAR FILEM DITAYANGKAN IRING-IRINGAN KONVOI TENTARA BELANDA, TRUK-TRUK YANG MENGANGKUT SERDADU-SERDADU BELANDA DAN JIP-JIP SERTA PANSERWAGON MUNCUL DARI BELAKANG DUKUH GUDANG.

DI PANGGUNG  TENTARA PELAJAR SUPARNO NEGRO DAN ANAK BUAHNYA SUDAH MENGAMBIL POSISI BERLINDUNG DI BALIK GUNDUKAN TANAH DI PINGGIR SUNGAI. MEREKA SIAP MENEMBAKKAN SENJATA MEREKA KE ARAH IRING-IRINGAN SERDADU BELANDA.

SUPARNO NEGRO
Lihat.... mereka sudah banyak yang melewati dukuh Gudang!  Sekarang, mulai tembaaaakkk!

SENJATA DI TANGAN PARA GERILYA TENTARA PELAJAR MULAI MENYALAK, TERUTAMA TWEELING DI TANGAN ROBERT SUFSIDI. SERDADU-SERDADU BELANDA YANG SUDAH MELEWATI DUKUH GUDANG MELIHAT TEMBAKAN-TEMBAKAN TERTUJU KE ARAHNYA, LALU TURUN. MEREKA GANTI MENGHUJANI PARA GERILYAWAN TENTARA PELAJAR DENGAN TEMBAKAN-TEMBAKAN YANG TAK KALAH GENCAR. TEMBAK MENEMBAK BERLANGSUNG SERU BEBERAPA SAAT.

TIBA-TIBA TEMBAKAN TWEELING ENGKEL DARI TANGAN ROBERT SUFSIDI TERHENTI.

SUPARNO NEGRO
(Kepada Robert Sufsidi) Kenapa, Bung, kok tembakanmu berhenti?

ROBERT SUFSIDI
Peluru habis. Aku perlu mengisi peluru dahulu.

SUPARNO NEGRO
Bukankah tweeling itu isinya banyak? Kenapa sudah habis?

ROBERT SUFSIDI
Benar, senjata peninggalan tentara Jepang ini memang isinya banyak, dan mampu menyemburkan peluru sampai 200 butir per menit. Tetapi kita tadi sudah menembakkannya dengan gencar ke arah musuh. Entah sudah berapa orang Belanda yang mati kena tembak tweeling ini di sana. Makanya tweeling ini perlu diisi peluru lagi.

SUPARNO NEGRO
Ya sudah, sekarang Bung isi dulu tweeling itu dengan peluru yang banyak. Aku dan kawan-kawan akan ganti melindungi Bung Robert.

ROBERT SUFSIDI
Baik. Terima kasih, lindungi aku selama aku mengisi tweeling ini dengan peluru.

ROBERT SUFSIDI SEGERA MENGISI TWEELING ANDALAN KELOMPOK GERILYAWAN TENTARA PELAJAR ITU DENGAN PELURU YANG SEMULA DIBUNTAL KAIN SARUNG. IA MENGISI BAK PELURU YANG SUDAH KOSONG DIBANTU EMPAT ORANG KAWANNYA.

TIBA-TIBA TERDENGAR BUNYI ”BUM...!” KERAS SEKALI. BERSAMAAN DENGAN ITU TANAH DI BELAKANGNYA BERGUGURAN DITERJANG PELURU BRENGUN BELANDA. ROBERT SUFSIDI YANG SEMULA BERADA DI LERENG SUNGAI LANGSUNG LONCAT KE SUNGAI.

ROBERT SUFSIDI
Puji Tuhan! Untung kepalaku tadi aku sembunyikan. Seandainya kepalaku tadi masih nongol ke jalan, tentu sudah pecah disambar brengun Belanda. Tuhan Yang Maha Perkasa masih melindungi hambanya yang lemah.

ROBERT SUFSIDI KEMBALI MEMBENAHI TWEELINGNYA. TAK BERAPA LAMA KEMUDIAN IA PUN SIAP DENGAN SENJATANYA.

SUPARNO NEGRO
Bagaimana Bung Robert, senjata tweeling sudah siap?

ROBERT SUFSIDI
Siap Komandan! Senjata sudah siap. Mari kita menyerang musuh lagi! Kita usir penjajah yang tak mau enyah itu.

SUPARNO NEGRO
Kawan-kawan mari kita serang lagi. Sebaiknya kita berpencar.

SEMUA ANGGOTA TP
Siap Komandan!

SETELAH BERPENCAR PARA TENTARA PELAJAR MULAI MENEMBAKKAN SENJATANYA KE ARAH KONVOI BELANDA LAGI. TAPI RUPANYA TENTARA BELANDA ITU JUGA SUDAH BERPENCAR. MEREKA MEMASUKI DUKUH GUDANG, DAN MENEMBAKKAN SENJATANYA DARI BALIK RUMAH-RUMAH PENDUDUK DAN PEPOHONAN DI PINGGIR DESA.

TIBA-TIBA TERDENGAR BUNYI ”CROK” DARI SENJATA TWEELING DI TANGAN ROBERT SUFSIDI. DAN SENJATA TWEELING TIDAK DAPAT DITEMBAKKAN. MACET.

ROBERT SUFSIDI
Sialan! Senjata macet!

SUPARNO NEGRO
(Kepada Robert Sufsidi) Kenapa, Bung?

ROBERT SUFSIDI
Senjata tweeling macet, tidak dapat ditembakkan, peluru tak mau keluar.

SUPARNO NEGRO
Coba dilihat! Kalau ada yang rusak diperbaiki!

ROBERT SUFSIDI
Harus dibongkar. Butuh waktu cukup lama. Padahal musuh telanjur tahu posisi kita.

SUPARNO NEGRO
Kalau begitu, posisi kita saat ini dalam bahaya? Tanpa tweeling untuk mengimbangi senjata lawan yang lebih lengkap dan canggih, nyawa kita benar-benar berada di ujung tanduk.

ROBERT SUFSIDI
Dengan tweeling pun sebenarnya pertempuran ini tidak seimbang dari segi persenjataan maupun jumlah lawan. Apalagi kalau tanpa tweeling, kita benar-benar dalam bahaya.

SUPARNO NEGRO
Kalau begitu, biarlah kawan-kawan kita perintahkan mundur dulu. Kita perbaiki dulu tweelingnya, sambil menunggu bala bantuan.

ROBERT SUFSIDI
Silakan Komandan perintahkan anak buah mundur dahulu ke dukuh Sraten.



SUPARNO NEGRO
Baiklah. (kepada anggota TP lainnya) Kawan-kawan, mari kita mudur! Tweeling kita macet, keadaan bahaya, ayo kita mundur dulu! Kita perbaiki dulu tweelingnya. Nanti kita maju lagi. Ayo mundur dulu sambil berlindung!

SEMUA ANGGOTA TP
Siap Komandan!

SEMUA ANGGOTA TP BERBARIS MUNDUR PELAN-PELAN KE DUKUH SRATEN. BEBERAPA SAAT BERJALAN, MASUK ROMBONGAN ANGGOTA TP DARI KELOMPOK LAIN, DIANTARANYA ADA SOENADI YANG MEMBAWA SENJATA KARABEN LARAS PANJANG ATAU STEYER. MEREKA BERTEMU DENGAN  TP KELOMPOK SUPARNO NEGRO YANG SEDANG MUNDUR.

SUPARNO NEGRO
Merdeka!

SOENADI
Merdeka! Pertempuran belum selesai, kenapa kalian mundur?

SUPARNO NEGRO
Tweeling rusak. Macet! Kami terpaksa mundur untuk memperbaiki. Nanti setelah selesai kami akan maju lagi.

SOENADI
Oo, begitu. Ya sudah kalian mundur dulu untuk memperbaiki senjata kalian, sebaiknya untuk mengisi perut kalian juga. Biar kami menggantikannya bersama pasukan TNI yang akan segera datang membantu kita.

ROBERT SUFSIDI
Hati-hati! Musuh kita banyak, bersenjata lengkap, dan mereka agak menang posisi. Mereka berlindung di balik rumah-rumah penduduk dan di balik pohon-pohon di pekarangan penduduk. Sedangkan kita berada di tempat terbuka. Untung ada sungai kecil tempat kita berlindung.

SOENADI
Pesan Bung akan kami perhatikan. Kami akan bertempur dengan hati-hati. Nanti setelah Bung semua selesai memperbaiki tweeling, dan kalian sudah mengisi perut di dapur umum, kami minta segera maju lagi membantu kami.

SUPARNO NEGRO
Siap! Kami tidak akan berlama-lama di garis belakang. Kami akan segera maju, bertempur bersama kalian. Jangan khawatir!

SOENADI
Sekarang biar kami maju. Kita saling mendoakan untuk keselamatan kita bersama. Semoga Tuhan melindungi kita semua. Amin.

SEMUA ANGGOTA TP
Amin!!!

TP KELOMPOK SOENADI MELANJUTKAN MAJU KE MEDAN PERANG. MEREKA TETAP BERADA DI PANGGUNG. TP KELOMPOK SUPARNO NEGRO MUNDUR KE DUKUH SRATEN, KELUAR PANGGUNG.

SEKARANG GANTIAN TP KELOMPOK SOENADI YANG BERTEMPUR MELAWAN PASUKAN BELANDA YANG POSISINYA SUDAH BERPINDAH KE DUKUH GUDANG. DALAM JARAK YANG LEBIH DEKAT PERTEMPURAN SEMAKIN DAHSYAT. APALAGI TENTARA PELAJAR DIBANTU SEPASUKAN TNI YANG DATANG KEMUDIAN.

TAK LAMA KEMUDIAN TP KELOMPOK SUPARNO NEGRO YANG SUDAH SELESAI MEMPERBAIKI TWEELING DAN SUDAH SELESAI MAKAN MASUK KE PANGGUNG. MEREKA LALU BERGABUNG DENGAN TP KELOMPOK SOENADI.

SOENADI
Cepat sekali Bung kembali.

SUPARNO NEGRO
Kalau pekerjaan di belakang sudah selesai, kenapa kami mesti berlama-lama di belakang, sementara kalian semua mengadu nyawa di sini dan butuh bantuan?

SOENADI
Apanya yang rusak dengan tweeling kalian?

ROBERT SUFSIDI
Ternyata ada sebutir peluru yang tidak rapi  memasangnya di dalam bak, sehingga tidak dapat turun ke ruang peluru dalam larasnya. Makanya tidak dapat ditembakkan.

SOENADI
Lantas bagaimana Bung memperbaikinya.

ROBERT SUFSIDI
Dicongkel! Setelah peluru itu dapat dicongkel keluar, maka senjata tweeling ini dapat digunakan lagi.

SOENADI
Ooo, begitu.

TIBA-TIBA SEBUAH TEMBAKAN LEWAT DI DEPAN MUKA MEREKA. BUNYI PELURU YANG LEWAT ITU BERDESINGAN.

SUPARNO NEGRO
(Memperigatkan) Awas! 

SOENADI DAN SUPARNO NEGRO MELONCAT MUNDUR SALING MENJAUHI UNTUK MENGHINDARI PELURU YANG DITEMBAKKAN KE ARAH MEREKA.

SUPARNO NEGRO
Berbahaya kalau kita bergerombol begini. Sebaiknya mari kita berpencar, agar tidak menjadi sasaran serangan musuh!

SEMUA ANGGOTA TP
Ya mari kita berpencar.

MEREKA SEMUA BERPENCAR MENCARI PERLINDUNGAN SENDIRI-SENDIRI. SETELAH MENDAPATKAN PERLINDUNGAN YANG AMAN, MEREKA LALU MENEMBAKKAN SENJATANYA KE ARAH MUSUH YANG TERUS MENYERANGNYA DENGAN GENCAR. TEMBAK MENEMBAK PUN BERLANGSUNG DENGAN SERUNYA.

SETELAH BEBERAPA SAAT TERJADI TEMBAK MENEMBAK, DAN SERANGAN TENTARA BELANDA SEMAKIN GENCAR, PELAN-PELAN LAMPU BERGANTI YANG NYALANYA KUNING DAN ORANYE, SEHINGGA SUASANA MENJADI SEPERTI SORE HARI.

SUPARNO NEGRO
Sudah sore. Peluru kita pun sudah mulai menipis, mari kita mudur pelan-pelan! Lihat! Mereka pun juga sudah mulai menarik pasukannya, mundur ke kota Klaten. Ayo, kita juga mundur!

PELAN-PELAN PASUKAN TP MUNDUR DARI MEDAN PERANG. SATU PER SATU MEREKA KELUAR PANGGUNG. TINGGAL SOENADI YANG MASIH DI ATAS PANGGUNG. DIA PUN JUGA AKAN MUNDUR, TETAPI TIBA-TIBA TERDENGAR TEMBAKAN. LALU SOENADI JATUH BERGULING-GULING. PAHANYA TERKENA TEMBAKAN TENTARA BELANDA DARI JARAK DEKAT.

SOENADI BERUSAHA BANGKIT UNTUK BERLARI, TETAPI TAK BISA. KAKINYA SANGAT SAKIT. IA MENGADUH KESAKITAN. DAN TIBA-TIBA SEORANG SERDADU BELANDA MUNCUL MENGHADANG JALANNYA. IA LANGSUNG MENENDANG SOENADI HINGGA JATUH BERGULING-GULING.

BELANDA 1
(Sambil menodongkan senjatanya) Mau lari ke mana kau pemberontak kecil?

SOENADI
Minggir! Biarkan aku pergi, atau kamu aku tembak!

TIBA-TIBA SERDADU BELANDA ITU MENDAHULUI MENEMBAK TANGAN SOENADI YANG PEGANG SENJATA. BERSAMAAN DENGAN BUNYI ”DOOR” TERJATUHLAH SENJATA DARI TANGAN SOENADI.

SOENADI
Kurang ajar! Belanda kejam! Tadi kau tembak pahaku. Sekarang kau tembak tanganku.

BELANDA 1
Nanti kutembak jantungmu sekalian, biar mampus! Aku cabut nyawamu!
Sekarang, sebelum ajalmu menjemput, berbuatlah baik kepada tentara kerajaan. Tunjukkan di mana markas kawan-kawanmu! Kalau kamu mau aku ajak kerja sama akan aku obati sakitmu. Dokter Belanda siap membantumu.

SOENADI
Tidak sudi! Aku tak mau mengkhianati bangsaku. Aku tak mau mengkhianati kawan-kawanku.

BELANDA 1
Kalau kamu menurut, kamu bukan pengkhianat. Tetapi kamu justru pahlawan pemberantas pengacau, pemberantas pemberontak! Kamu pahlawan karena telah membantu membuat negeri ini jadi aman dan tentram.

SOENADI
Tau apa kamu tentang pahlawan? Pahlawan adalah orang yang berjuang untuk mengusir bangsamu yang telah menjajah bangsaku. Bukan yang justru menjadi pengkhianat menumpas para pejuang yang akan mempertahankan kemerdekaan bangsanya.

BELANDA 1
Pahlawan atau pengkhianat, tinggal dari mana kita memandangnya. Kalau dari sudut pandang kami, kalian dan kawan-kawanmu adalah pengacau, pemberontak yang harus diberantas.

SOENADI
Tetapi dari sudut pandang kami, Bangsa Indonesia, kami adalah pahlawan. Sedangkan apabila kami menuruti bujukanmu, kami adalah pengkhianat yang rela menjerumuskan bangsa kami menjadi gedibal di telapak kaki penjajah.

BELANDA 1
Trserah kamu. Yang penting sekarang, apakah kamu bersedia bekerja sama atau kamu mati di ujung senjataku ini? Sekarang pilihlah salah satu, mana yang baik bagi kamu!

SOENADI
Aku tak mau mengkhianati bangsaku. Biarlah aku mati di ujung senjatamu. Tetapi aku tetap istikomah sebagai seorang pejuang yang berjuang tanpa pamrih.

TIBA-TIBA MUNCUL SEORANG SERDADU BELANDA YANG LAIN. IA SIAP DENGAN SENJATA TERKOKANG DI TANGANNYA.

BELANDA 2
Kelamaan, pakai diajak berdiskusi segala. Ini bukan saatnya. Kita sedang perang. (Langsung menembakkan senjatanya ke jantung Soenadi )

SOENADI YANG TADI TERDUDUK TAK BERDAYA, LANGSUNG JATUH TERSUNGKUR SEKARATUL MAUT. NAMUN SEBELUM MEREGANG  NYAWA, IA MASIH SEMPAT MENERIAKKAN KATA-KATA TERAKHIR MESKIPUN PELAN.

SOENADI
Mer-de-ka! Alla-hu... Ak-bar! As-tagh-fi-rullah...! Laa Ilaaha illallaah!

BELANDA 1
(Kepada Belanda 2) Kamu sungguh kejam. Orang sudah tak berdaya begitu masih juga kamu tembak.

BELANDA 2
Kalau tidak kita tembak, suatu saat dia yang akan nembak kita. Dan ini pun masih kurang. Untuk peringatan kepada ekstrimis-ekstrimis pemberontak yang lainnya, agar mereka jera, kita perlu ini (menusuk-nusukkan dan menyayat-nyayatkan ujung bayonetnya ke tubuh Soenadi)

BELANDA 1
Sudah! Sudah! Jangan kau teruskan kamu menusuk-nusuk dan menyayat-nyayat mayat yang sudah tidak dapat berkutik lagi! Sekarang mari kita pergi meninggalkan tempat ini. Lihat! Kawan-kawan kita sudah pada kembali ke mobil. Kita akan kembali ke kota Klaten.

BELANDA 2
Baiklah, mari kita kembali ke mobil. Tapi sambil kembali kita cari dulu kawan-kawan kita yang terluka dan yang tewas dalam pertempuran hari ini. Kita kuburkan mereka dengan semestinya.

SERDADU-SERDADU BELANDA ITU LALU PERGI, KELUAR PANGGUNG, MENINGGALKAN MAYAT SOENADI YANG TELAH GUGUR SEBAGAI KUSUMA BANGSA. LAMPU PADAM.
MALAM HARI.

                                                                 (Bersambung ke Bagian Keempat……….)
                                            
                                             Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Petikan Naskah Drama Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan TP Bag. III"

Post a Comment