Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bag. 4

Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 4
Oleh Sutardi MS Dihardjo:

4
TAKUT  BERHADAPAN  DENGAN  PUTERI

PANGERAN LINDU AJI sudah menginjak dewasa. Dia sudah bisa bergaul dengan orang-orang di sekelilingnya. Ternyata berbicara dengan sang pangeran ini sangat menyenangkan, karena banyak yang dia ketahui, berkat luasnya bacaannya. Orangnya juga ramah dan menghormati lawan bicaranya. Tidak hanya suka berbicara, tetapi juga suka mendengarkan bicara orang lain. Termasuk suka memperhatikan keluhan dan aduan orang lain.
Tetapi yang menjadi keprihatinan Prabu Reksa Buwana adalah Pangeran Lindu Aji  yang tampan ini tidak berani bergaul dengan puteri-puteri. Kalau melihat puteri-puteri yang cantik-cantik seperti melihat hantu saja. Yang tadinya ia banyak bicaranya, tiba-tiba tak terdengar lagi suaranya. Kalau ada kesempatan ia akan segera pamit pulang ke bangsal kasatriannya. Hal ini sungguh memprihatinkan bagi Gusti Prabu Reksa Buwana. Bagaimana tidak, sebagai calon putera mahkota yang nantinya akan menggantikan menjadi raja, ia harus memilih salah seorang puteri untuk dijadikan istrinya. Peraturan kerajaan Arga Pura mensyaratkan seorang pangeran yang akan diwisuda sebagai putera mahkota terlebih dahulu harus beristri yang nantinya akan dijadikan garwo Permaisuri. Sementara itu, Pangeran Lindu Aji yang sudah dewasa sampai saat ini kelihatannya belum ada seorang puteri pun yang memikat hatinya. Jangankan seorang puteri yang memikat hatinya, bahkan seorang puteri yang bergaul akrab dengannya pun tak ada. Karena ia selalu menghindar kalau didekati puteri-puteri.  Kepalanya selalu terasa gatal dan tanduknya seperti menggeliat-geliat kalau ia berhadapan dengan seorang puteri. Hal ini karena rasa minder dan rendah diri yang selalu menghantuinya. Maka daripada tersiksa lebih baik ia segera pamit undur diri  kembali ke kasatriannya menyesali nasibnya.
Itulah yang menyebabkan Prabu Reksa Buwana berusaha mencarikan jodoh untuk putera kesayangan satu-satunya. Pangeran Lindu Aji adalah putera satu-satunya Prabu Reksa Buwana, karena setelah melahirkan Pangeran Lindu Aji yang memiliki cacat aib yang harus selalu dirahasiakan, permaisuri jadi trauma tidak mau melahirkan lagi. Takut kalau nantinya akan melahirkan bayi yang mempunyai cacat yang sama, atau cacat yang lain lagi.
***

PAGI INI, kerajaan Arga Pura kedatangan tamu dari Negara tetangga. Yaitu dari Negara Arga Wilis yang diperintah Prabu Lingga Buwana, yang masih paman Pangeran Lindu Aji, adik Permaisuri Dewi Widiyaningrum. Kedatangannya disertai Permaisuri dan putera-puterinya. Selain untuk bersilaturrahim, kedatangan mereka memang sengaja diundang oleh Prabu Reksa Buwana. Maksudnya ingin menjodohkan Pangeran Lidu Aji dengan puteri Prabu Lingga Buwana yang bernama Dewi Larasati.  Memang aneh, seharusnya yang datang dari pihak laki-laki untuk nontoni atau melamar, tetapi kali ini yang datang bahkan dari pihak perempuan. Hal ini karena sifat Pangeran Lindu Aji yang sangat pemalu untuk berhadapan dengan seorang puteri, maka karena sudah dipaksa-paksa tetap saja dia tetap menolak, tidak mau nontoni ke Keraton Arga Wilis, terpaksa dari pihak perempuan, Dewi Larasati yang diajak datang bersilaturrahim, berkenalan dengan Pangeran Lindu Aji, sekaligus membicarakan rencana pertunangan mereka.
“Mari Dinda Prabu, silakan duduk!” Prabu Reksa Buwana mempersilakan tamunya duduk.
“Terima kasih Kanda Prabu.”
Mereka lalu saling mengabarkan keselamatan masing-masing.
“Inilah Kanda Prabu keponakanmu, yang besar Dewi Larasati, sedangkan yang kecil adiknya Pangeran Kuda Respati. Anakku hanya dua orang ini, tapi dua orang pun sudah cukup karena sudah lengkap, laki-laki dan perempuan,” kata Prabu Lingga Buwana memperkenalkan putera puterinya.
“Itu sudah lebih baik, Dinda Prabu. Daripada aku, puteraku hanya satu, ya Pangeran Lindu Aji seorang. Tiada lagi yang lain.”
“Dinda lihat putera Kanda Prabu sangat gagah dan tampan. Mestinya Yunda Dewi Widiyaningrum melahirkan lagi satu orang anak perempuan. Dinda yakin pasti anak itu nanti akan secantik ibunya, atau bisa juga bahkan lebih cantik lagi, karena Kanda Prabu pun juga sangat tampan,” kata Prabu Lingga Buwana yang adik kandung Permaisuri Dewi Widiyaningrum.
“Tapi itulah Dinda Prabu, kakandamu sudah tidak ingin melahirkan anak lagi. Katanya sudah kapok. Sakit katanya,” sahut Prabu Reksa Buwana menutupi alasan yang sesungguhnya.
“Sekarang marilah kita bicarakan keperluan kita. Sementara biarlah Dewi Larasati berbincang-bincang sendiri dengan Pangeran Lindu Aji di taman sari. Ayo Pangeran Lindu Aji, ajak adikmu Dewi Larasati ke taman sari sana! Berkenalanlah lebih dekat lagi!” perintah Prabu Reksa Buwana.
Pangeran Lindu Aji berjalan bersama Dewi Larasati keluar ruangan menuju taman sari. Kemudian Prabu Reksa Buwana bersama Permaisuri Dewi Widiyaningrum melanjutkan berbincang-bincang dengan Prabu Lingga Buwana dan permaisurinya, membicarakan rencana pertunangan Pangeran Lindu Aji dengan Dewi Larasati.
Sementara itu di taman sari Pangeran Lindu Aji sedang duduk berdua saling berhadapan dengan Dewi Larasati. Dewi Larasati melirik ke wajah Pangeran Lindu Aji yang tampan. Ia sangat kagum memandang ketampanan sang pangeran. Ia berharap Pangeran Lindu Aji segera menegur dan mengajaknya berbincang-bincang tentang segala hal. Ia juga berharap Pangeran Lindu Aji akan mengagumi kecantikannya, lalu menyatakan cintanya, dan kemudian merencanakan masa depan mereka berdua. Tetapi ditunggu-tunggu, sampai lama sekali, tak satu kata pun keluar dari mulut Pangeran Lindu Aji yang tampan itu. Bahkan wajahnya pun selalu menunduk seolah tidak memperdulikan dirinya. Dingin! Itulah kesan Dewi Larasati terhadap Pangeran Lindu Aji. Padahal, dirinya sangat ingin menegur dan mengajak bercengkerama dengan Pangeran Lindu Aji yang tampan itu. Tapi sebagai seorang perempuan, yang baru kenal pula, apakah patut untuk memulai menegur terlebih dahulu? Kalau orang kebanyakan itu mungkin, tetapi untuk seorang ningrat seperti dirinya, apakah tidak dianggap tidak sopan nantinya?  Ya kalau tegurannya nanti bersambut, kalau tidak, kalau Pangeran Lindu Aji tetap diam saja, apakah tidak malu dirinya nanti? Dewi Larasati merasa kikuk dan serba salah. Ingin rasanya ia berlari meninggalkan tempat itu, kembali kepada ayahanda dan bundanya. Tetapi apa kata mereka nantinya?
Adapun Pangeran Lindu Aji, sebenarnya ia sedang berperang melawan dirinya. Di satu sisi, menuruti gejolak darah mudanya ia sangat ingin memandang dan mengagumi wajah Dewi Larasati yang cantik jelita. Ingin ia berbincang-bincang tentang segala hal sambil mendengarkan suara merdu dan gerak bibir yang indah dari puteri yang akan ditunangkan dengan dirinya itu. Tetapi di sisi lain, Pangeran Lindu Aji menyadari dirinya yang memiliki cacat. Ia sadar akan kepalanya yang bertanduk, yang pasti akan mengagetkan dan menakutkan puteri itu kelak kalau mereka sudah hidup sebagai suami istri. Bisa-bisa di malam pertama puteri cantik ini akan langsung minta cerai darinya. Menyadari keadaan ini, tiba-tiba kepalanya terasa gatal, kedua tanduknya seolah hidup menggeliat-geliat. Pangeran Lindu Aji tidak tahan. Ia segera berlari meninggalkan Dewi Larasati menuju ke kasatriannya.
Dewi Larasati yang menyaksikan hal ini jadi terbengong-bengong tak mengerti. Ia jadi takut, lalu lari kembali masuk ke tempat ayah bundanya berbincang-bincang dengan Prabu Reksa Buwana. Sesampai di hadapan mereka Dewi Larasati menangis. Semua yang menyaksikan jadi bingung tak mengerti.
***
SEPULANGNYA Prabu Lingga Buwana beserta permaisuri dan anak-anaknya, Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri Dewi Widiyaningrum yang merasa malu segera datang ke bangsal kasatrian menemui Pangeran Lindu Aji. Di bangsal kasatrian Gusti Prabu mendapati puteranya sedang menangis di kamarnya.  Dengan sabar mereka mendekati, lalu duduk di sisi pembaringan puteranya yang sedang menangis sedih.
“Sabar! Ada apa, Puteraku? Kenapa ananda Ayahanda suruh berkenalan dan berbincang-bincang agar lebih akrab dengan Dewi Larasati, kok malah menangis masuk ke kasatrian ini? Apakah kalian berdua berselisih paham? Tidak ada kecocokan? Coba berceriteralah pelan-pelan! Ayahanda mau dengar penjelasanmu,” kata Prabu Reksa Buwana dengan sabar.
“Tanduk ini Ayahanda! Tanduk ini selalu menghalangi keinginan ananda untuk berdekatan dengan seorang puteri. Ananda malu mendapat kutuk mempunyai tanduk di kepala! Setiap ananda berhadapan dengan seorang puteri, selalu rasa malu dan rendah diri muncul di hati ananda. Bersamaan dengan itu rasa-rasanya ananda ingin sekali mencongkel kedua tanduk ananda agar tidak lagi bertengger di kepala. Ingin rasanya ananda menyembunyikan atau bahkan menghilangkan tanduk ini. Tapi seiring dengan itu, keberadaannya seperti bahkan minta perhatian. Rasa gatal yang berlebihan muncul bersamaan dengan rasa klelar-kleler menggeliat-geliatnya kedua tanduk ananda. Ananda jadi merasa sangat tersiksa, tak kuat lama-lama berhadapan dengan puteri,” kata Pangeran Lindu Aji menumpahkan segala penderitaan yang dialaminya selama ini di sela-sela tangisnya.
Ayahanda dan Ibundanya yang mendengarkannya ikut bersedih dan prihatin. Tak disangka sebesar itu penderitaan anaknya.
Penderitaan Pangeran Lindu Aji dan keprihatinan akan masa depan kerajaannya yang butuh raja dan permaisuri untuk menggantikannya kelak, mendorong Prabu Reksa Buwana untuk lebih sering melakukan tirakat, menjalani berbagai puasa dan berdoa mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Berkehendak. Gusti Prabu ingin agar anaknya bisa lepas dari kutuk yang disebabkan kesalahan ayah bundanya. Demikian juga Permaisuri Dewi Widiyaningrum. Dia senantiasa berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Pengasih disertai penyesalan yang dalam dari lubuk hatinya, sampai menangis air matanya bercucuran. Setiap tengah malam hal ini dia lakukan.
Ternyata Tuhan Yang Maha Pemurah mendengarkan doa mereka yang disampaikan dengan tulus ikhlas penuh harapan. Tuhan memberi petunjuk lewat mimpi mereka berdua. Aneh, dua-duanya bermimpi yang sama persis! Maka mereka yakin, bahwa ini bukan sekedar mimpi, tapi betul-betul petunjuk sebagai jawaban atas doa-doa mereka berdua. Segera keduanya memanggil Pangeran Lindu Aji untuk menghadap.
 “Anakku, ayah dan bundamu sudah mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Mengetahui. Dalam mimpi kami berdua, Tuhan memberi petunjuk bahwa lepasnya penderitaanmu, hilangnya kutukan yang ananda sandang, berupa tanduk di kepala, bisa terlaksana apabila ananda sudah berhasil membunuh banteng yang sedang mengamuk membuat kerusakan,” kata Prabu Reksa Buwana setelah Pangeran Lindu Aji menghadap.
“Tapi bagaimana, Ayahanda, caranya ananda membunuh banteng yang sedang mengamuk? Sedangkan membunuh banteng yang sudah jinakpun ananda tidak berani. Di Keraton ananda tidak pernah belajar ilmu kanuragan. Bisa-bisa sebelum ananda berhasil membunuh banteng itu, ananda sendiri justru yang terbunuh diseruduk banteng,” kata Pangeran Lindu Aji putus asa.
“Itulah makanya Ananda, pentingnya belajar ilmu kanuragan, untuk dapat membela diri. Ananda dari dulu Ayahanda minta belajar ilmu kanuragan tidak mau. Katanya kelak akan memerintah Kerajaan Arga Pura dengan kebijaksanaan, tidak dengan perang-perangan, memuntahkan darah, menghilangkan nyawa. Sekarang tahu kan gunanya ilmu bela diri? Lagi pula kalau membunuh banteng mengamuk dari jarak dekat memang penuh resiko. Sebaiknya membunuhnya dari jarak jauh saja. Ananda harus belajar memanah terlebih dahulu sampai mahir. Banteng itu harus dipanah dari jarak jauh, sehingga banteng dapat terbunuh dan keselamatan ananda terjaga.”
“Kalau begitu ajari ananda memanah, Ayahanda Prabu!” pinta Pangeran Lindu Aji.
“Baiklah, hari ini juga Ananda akan Ayahanda ajari cara memanah. Ayahanda yakin kalau ananda berlatih sungguh-sungguh ananda akan cepat dapat menguasai. Karena yakin darah kesatria Ayahanda yang mengalir dalam darahmu tentu memberi bakat yang besar kepadamu.”
Mulai hari itu Pangeran Lindu Aji belajar memanah kepada Prabu Reksa Buwana. Seperti yang sudah diduga, dengan cepat Pangeran Lindu Aji dapat menguasainya sampai tingkat mahir. Sungguh mengagumkan!
 Setelah dirasa cukup bekal ketrampilan yang diperlukan, ditambah pengetahuan cara-cara hidup dan mencari serta mengolah makanan di hutan, disertai dua orang pengawal yang mempunyai ilmu kanuragan yang cukup tinggi untuk menjaga keselamatan Pangeran Lindu Aji, mereka bertiga berangkat meninggalkan keraton dengan bekal secukupnya. Agar tidak menarik perhatian di jalanan, mereka bertiga menyamar sebagai orang biasa.
***
                                             Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bag. 4"

Post a Comment