Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 2

Jika Anda sedang mencari referensi contoh novel, berikut ini adalah contoh novel dari petikan novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 2.

Petikan Novel LINDU AJI PANGERAN BERTANDUK BAGIAN 2:
Karya Sutardi MS Dihardjo

2
 KELAHIRAN PANGERAN LINDU AJI


Sejak peristiwa festival adu banteng yang menewaskan banteng Jaya Handoko milik Prabu Reksa Buwana, Permaisuri Dewi Widiyaningrum tidak pernah lagi berani menyaksikan pertandingan adu hewan bertanduk. Bagaimana dia akan berani, sedangkan bayangan banteng Kala Gumarang yang mengamuk kesetanan, dan bayangan kepala banteng Jaya Handoko yang remuk dengan dua tanduk patah sekaligus, serta lenguh panjang banteng kesayangannya itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Setiap hari bayangan-bayangan dan lenguh memelas yang seakan mengadukan nasibnya itu selalu menghantui dirinya. Perasaan bersalah menyidamkan pertandingan yang membawa korban hewan tidak berdosa, begitu dalam mencekam hatinya.
Kembali terngiang pula nasihat Parampara penasihat kerajaan. Nasihat yang melarang para suami menyakiti, lebih-lebih membunuh binatang selagi istrinya sedang hamil. Karena hukum karma akan menimpa bayi yang sedang dikandung istrinya. Dan karena hal itu akan berakibat tidak baik pada sifat, watak, atau peri laku bayi dalam kandungan istrinya. Nasihat yang intinya sebetulnya sudah menjadi nasihat umum bagi pasangan suami istri yang istrinya sedang hamil itu juga menghantui permaisuri.
Dalam bayangannya, dirinya melahirkan bayi yang cacat. Kadang dia membayangkan bayinya lahir cacat buntung tangannya. Lain kali dia membayangkan yang buntung bukan tangannya, tapi kakinya. Hal ini karena dia ingat, pada waktu festival adu banteng itu, ada banteng yang ditanduk lawannya hingga buntung kakinya.  Bahkan sering kali permaisuri bermimpi bayinya lahir cacat tidak mempunyai batok kepala hingga otaknya kelihatan. Hal ini karena permaisuri tidak dapat melupakan bagaimana banteng milik Patih Mangkubumi mematahkan tanduk banteng Jaya Handoko sampai menjebolkan batok kepala banteng kesayangannya itu.  Kadang juga permaisuri bermimpi bayinya lahir dengan usus terburai keluar, karena ia ingat ada banteng yang mati ditanduk perutnya sampai jebol.
Bayangan-bayangan menakutkan itu selalu lekat dalam ingatan permaisuri sampai mendekati saat-saat melahirkan, ketika usia kandungannya mencapai sembilan bulan. Hingga dia takut diketahui orang lain kalau sampai melahirkan bayi cacat.
“Dinda takut, Kanda! Dinda takut sekali,” kata permaisuri ketika sedang berbaring berdua dengan Prabu Reksa Buwana di tempat tidurnya. Sudah lama dia berbaring, tetapi matanya tidak juga mau terpejam. Mendekati saat-saat kelahiran anaknya, ia sulit untuk  dapat tidur pulas. Rasa cemas menanti kelahiran anaknya yang mungkin lahir cacat selalu membangunkannya dengan geragapan.
“Dinda tak usah cemas. Tidak akan terjadi apa-apa yang tidak kita inginkan. Semua akan baik-baik saja. Seandainya kata-kata Paman Parampara dulu pasti terjadi kepada setiap orang yang mengadu binatang, tentu saat ini sudah banyak rakyat kita yang lahir cacat. Karena pertandingan adu hewan bertanduk sebagai cara untuk memajukan peternakan, dan suatu upaya untuk memajukan kegiatan pariwisata, sudah menjadi tradisi di Negara Arga Pura ini. Dan tak sedikit dalam pertandingan itu salah satu hewan yang diadu mengalami cedera atau bahkan mati. Kenyataannya sekarang ini kebanyakan rakyat kita ada baik-baik saja. Berarti kepercayaan masyarakat terhadap mitos itu tidak benar, Dinda Permaisuri,” kata Gusti Prabu menghibur istrinya.
“Tetapi perasaan Dinda selalu tak enak kalau mengingat peristiwa itu, Kanda Prabu. Dan mimpi-mimpi melahirkan bayi yang cacat selalu mengganggu tidur Dinda.”
“Berdoalah sebelum tidur, Dinda Permaisuri. Lalu pejamkan matamu. Lalu pejamkan pikiranmu. Jangan berpikir macam-macam. Dinda akan dapat tertidur pulas. Jiwa dan raga Dinda akan dapat istirahat untuk mengumpulkan tenaga dan kekuatan guna melahirkan nantinya.”
“Kanda Prabu!” panggil Permaisuri pelan setelah berdiam beberapa lama, seakan ragu untuk mengatakan.
“Ya, ada apa, Dinda?” tanya Gusti Prabu dengan sabar. “Jangan ragu-ragu dan jangan takut-takut. Katakan saja apa yang Dinda inginkan.”
 “Dinda takut jangan-jangan Dinda nanti melahirkan bayi yang cacat, seperti kata Paman Parampara. Oleh karena itu Dinda ingin, pada saat melahirkan nanti tidak boleh ada orang luar yang boleh mendekat. Tidak boleh ada orang lain yang tahu!”
“Tetapi tetap saja ada orang luar yang tahu, Dinda! Bukankah dukun bersalin istana yang akan membantumu melahirkan, juga orang luar?”
“Tidak Kanda Prabu! Tidak boleh ada dukun bersalin yang membantu kelahiran bayi kita! Dinda ingin hanya Kanda Prabu saja yang tahu saat Dinda melahirkan nanti.”
“Apa maksudmu, Dinda Permaisuri?” tanya Gusti Prabu tak mengerti.
“Dinda ingin Kanda Prabu seorang yang menjadi dukun bayi, membatu proses kelahiran bayi kita.”
“Gila! Jangan berlebih-lebihan, Dinda! Kanda ini raja, bukan dukun bersalin! Kanda tak pernah belajar cara membantu proses kelahiran seorang bayi. Apakah ini tidak berbahaya?” Tanya Gusti Prabu tak habis mengerti kemauan permaisurinya.
“Kanda seorang yang pandai dan terampil. Dinda yakin, kalau Kanda mau belajar, minta petunjuk kepada dukun bersalin istana, tentu Kanda Prabu akan cepat menguasai. Tolonglah Kanda, Dinda takut sekali cacat anak kita akan diketahui orang lain, dan cepat tersebar ke seluruh penjuru. Menjadi pembicaraan ibu-ibu di pasar dan di perhelatan-perhelatan. Dinda takut sekali, mereka akan menyalahkan Dinda gara-gara nyidam minta diadakan festival adu banteng.”
“Ya sudah, kalau begitu besok Kanda akan memanggil dukun bersalin istana untuk mengajari Kanda cara-cara membantu proses kelahiran.” Akhirnya Prabu Reksa Buwana menyanggupi. Permaisuri merasa lega. Tak berapa lama kemudian  permaisuri pun tertidur pulas.
***

PADA KIRA-KIRA hitungan sembilan bulan sepuluh hari usia kehamilan permaisuri, mulai pukul sepuluh malam permaisuri merasakan perutnya mulas, pinggangnya pegal-pegal. Saat melahirkan sudah dekat. Gusti Prabu yang sudah berjaga-jaga menanti saat-saat seperti ini dengan berdebar-debar harap-harap cemas, mempersiapkan segala sesuatunya sesuai petunjuk dukun bersalin istana. Kemudian Gusti Prabu mengajak permaisuri berjalan-jalan mengelilingi ruang dalam istana yang cukup luas agar mempercepat pembukaan jalan bayi, untuk memperlancar persalinannya.
Pukul tiga dinihari bayi dalam kandungan permaisuri sudah mapan, siap untuk dilahirkan. Permaisuri berbaring merasakan kesakitan luar biasa. Mulutnya berulang kali ngeses menahan sakit. Melahirkan yang pertama kali memang sakitnya bukan main. Selain belum berpengalaman juga jalan bayi masih sempit. Prabu Reksa Buwana mendekati istrinya untuk memberi kekuatan. Memberi dukungan moril! Selain itu juga tanda siap membantu proses kelahiran.
“Tahan Dinda! Menyebutlah nama Yang Maha Kuasa! Mohonlah kekuatan dan pertolongan! Mohonlah bayimu lahir sehat dan selamat! Demikian juga untukmu, mohonlah dapat melahirkan dengan mudah, lancar, dan tetap sehat! Marilah kita berdua berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Pemberi Pertolongan!” ajak Gusti Prabu. Kemudian Gusti komat-kamit berdoa memohon pertolongan, kekuatan, dan perlindungan. Permaisuri mengikuti ajakan suaminya. Meskipun masih merasakan sakit kelihatannya permaisuri sudah mulai tenang. Sekali-sekali permaisuri berteriak menahan sakit. Keringat menglir deras dari tubuhnya. Wajahnya pun dihiasi butri-butir keringat perjuangan yang berkilauan. Betul-betul perjuangan fisabilillah antara hidup dan mati.
Pukul empat pagi bayi lahir dengan selamat. Trampil dan cekatan Prabu Reksa Buwana membantu proses kelahiran bayinya sesuai petunjuk dukun bersalin istana. Pangeran kecil lahir sehat, montok dan lucu. Setelah dibersihkan, badannya dibungkus kain yang sudah disiapkan, lalu digendong ditimang-timang Gusti Prabu. Permaisuri melambaikan tangannya minta agar bayinya dibawa mendekat. Kekhawatiran yang selalu menghantuinya selama ini mendorongnya untuk meneliti seluruh anggota tubuh pangeran kecil. Dilihat tangannya, kakinya semuanya utuh. Sekilas batok kepalanya juga ada. Perutnya juga utuh. Hatinya lega. Kekhawatirannya tidak terbukti. Tetapi ketika lebih cermat lagi dia meneliti dan meraba-raba bagian kepala bayinya, di antara rambut kepala pangeran yang sudah ada, permaisuri melihat ada dua benjolan hitam di atas kedua telinga pangeran. Ketika permaisuri merabanya benjolan tipis itu terasa keras.  Permaisuri merasa cemas.
“Aduh, Kanda Prabu! Lihatlah kepala anak kita! Ada benjolan tipis seperti bakal tanduk yang baru singit. Apa yang selama ini Dinda khawatirkan sekarang terbukti sudah. Dinda takut, bagaimana kalau nanti bakal tanduk ini bertumbuh menjadi panjang? Apakah tidah membuat malu kita dan Negara kita?” tanya permaisuri sambil mulai menangis sedih.
Prabu Reksa Buwana mengamati bagian yang ditunjukkan istrinya. Hatinya pun merasa cemas dan sedih. Gusti Prabu mengkhawatirkan masa depan puteranya. Bagaimana ia nanti kalau menjadi bahan ejekan teman-teman sepermainannya? Bukan hanya itu, apakah nanti Negara yang sudah dibinanya, yang sudah diusahakan untuk mengharumkan namanya, akhirnya akan menjadi hinaan karena diperintah oleh puteranya, raja bertanduk?! Gusti Prabu mencari cara untuk menutupi aib ini.
“Begini saja, Kanda Prabu. Sejak hari ini biarkanlah hanya Dinda seorang yang boleh memandikan dan mendadani pangeran. Tidak boleh ada orang lain yang ikut-ikutan mendadani, kecuali Kanda Prabu. Rahasia ini hanya boleh diketahui kita berdua. Untuk menutupinya, pangeran sejak bayi sampai selamanya harus pakai ikat kepala. Dan hanya kita yang boleh mengganti ikat kepala pangeran. Kalau ada orang lain yang berani melepas ikat kepala pangeran kita hukum mati dia, termasuk semua orang yang sempat melihat tanduk pangeran,” usul permaisuri.
“Aku setuju semua usulmu Dinda. Akan kita sampaikan hal ini kepada semua abdi istana dan orang-orang yang akan sering berhubungan dengan pangeran. Selain itu agar tidak ada orang salah membuka ikat kepala pangeran dengan tidak sengaja, agar kita tidak perlu menghukum orang, selama pangeran masih kecil, belum bisa menjaga diri, biarlah ia hanya bermain-main dalam lingkungan istana saja. Tidak boleh keluar istana.”
“Betul Kanda Prabu. Dinda juga setuju usul Kanda Prabu. Karena kalau kita sampai menghukum orang gara-gara membuka ikat kepala pangeran, tentu semakin membuat orang penasaran, ingin mengetahui apa yang kita sembunyikan.” Permaisuri diam sejenak. Kemudian lanjutnya, “Masalah pengamanan rahasia pangeran sudah kita rencanakan. Lalu siapa ya kira-kira nama pangeran sulung kita ini, Kanda Prabu?”
Prabu Reksa Buwana tertegun menerima pertanyaan permaisurinya. Dia belum siap dengan nama yang sesuai dengan keadaan anaknya yang tak diduga sebelumnya. Dia tak mungkin memberi nama anak yang diidam-idamkannya Lembu Sura, Mahesa Suro, atau Handoko Suro. Apalagi nama Kebo Marcuet. Gusti Prabu betul-betul tidak rela anaknya diberi nama-nama itu, meski ujud anaknya nanti kalau sudah besar mungkin sesuai dengan nama itu. Baginya nama adalah hadiah dan harapan orang tuanya. Hadiah mestilah membuat senang dan bangga yang menerimanya. Harapan adalah cita-cita yang diamanatkan orang tuanya kepada anaknya. Bahkan nama mencerminkan watak dari orang tua yang memberikannya. Gusti Prabu diam, berpikir, dan mencari-cari nama yang sesuai dengan idam-idamannya, tetapi jangan sampai nanti ditertawakan orang mengingat ujud anaknya nantinya.
Tiba-tiba tanah bergerak-gerak. Istana bergoncang keras. Perabot dan benda-benda yang ada di istana itu bergoyang-goyang dengan cepat saling beradu. Gaduh suaranya. Prabu Reksa Buwana dan permaisuri panik. Terdengar bunyi kentongan ditabuh irama empat-empat berulang kali sambung-menyambung di seluruh penjuru, mulai dari arah pos penjagaan tungguk kemit istana,  menandakan ada bencana alam gempa bumi.   
Hanya beberapa detik gempa bumi sudah berhenti. Prabu Reksa Buwana setelah meletakkan bayinya di sisi pembaringan istrinya, keluar untuk melihat-lihat akibat gempa bumi. Istana yang dibangun kokoh penuh perhitungan, tampak utuh tak kurang suatu apa. Tapi di luar, rumah-rumah yang dibangun sembarangan saja ada yang retak-retak dindingnya. Genting yang kurang kuat cakilannya jatuh berserakan di tanah. Para prajurit jaga menghadap Prabu Reksa Buwana tanpa diminta. Mereka melaporkan gempa bumi yang baru saja terjadi dan kerusakan yang ditimbulkannya. Ternyata meskipun goncangannya cukup kuat, tetapi hanya sebentar, sehingga kerusakan yang ditimbulkannya pun tidak seberapa. Setelah mengetahui situasi yang terjadi ternyata tidak begitu mengkhawatirkan, dan setelah memerintahkan agar para prajurit menghubungi para pembesar kerajaan supaya memberikan pertolongan seperlunya kepada para korban, Gusti Prabu kembali ke ruang permaisuri.
“Keadaan sudah terkendali. Tidak ada kerusakan dan korban yang berat. Semua sudah aku perintahkan untuk segera diberi pertolongan. Dinda, sekarang Kanda justru seperti mendapat petunjuk untuk memberi nama anak kita,” kata Prabu Reksa Buwana setelah kembali  duduk di sisi pembaringan istrinya.
“Apa Kanda, nama yang tepat untuk anak kita?” tanya permaisuri tidak sabar. Rasa cemas seketika hilang dari wajahnya berganti rasa gembira.
“Lindu Aji. Pangeran Lindu Aji. Itulah nama yang tepat untuk anak kita,” kata Gusti Prabu tegas.
“Lindu Aji… Nama yang bagus. Tetapi apakah artinya nama itu, Kanda Prabu?”
“Lindu Aji. Nama ini sebagai pengingat-ingat saat-saat kelahirannya. Yaitu adanya lindu atau gempa bumi besar di negara kita. Sebetulnya tidak hanya gempa bumi saja, tapi juga gempa di hati kita ketika kita menngetahui anak kita bertanduk. Tetapi ini menjadi aji atau ilmu atau pelajaran bagi kita agar kita tidak suka mengadu hewan, termasuk mengadu hewan bertanduk semacam kambing, kerbau, sapi, atau banteng, lebih-lebih mengadu manusia. Yang kesemuanya itu hanya untuk kesenangan kita saja.  Dan dengan nama Aji, aku berharap anak kita kelak menjadi anak yang bernilai, yang mampu mengangkat derajat dan jadi kebanggaan kita semua.”
Permaisuri tersenyum mendengar penjelasan Prabu Reksa Buwana. Meskipun kecewa dan cemas melihat tanduk di kepala puteranya, ternyata Prabu Reksa Buwana tetap menaruh harapan terbaik bagi putera sulungnya. Permaisuripun berharap, meskipun bertanduk semoga Pangeran Lindu Aji kelak tetap menjadi orang yang sabar, berbudi pekerti luhur dan bijaksana. Tidak seperti Lembu Sora, Mahesa Suro, maupun Kebo Marcuet yang jahat dalam dongeng-dongeng.

***
NB: Cerita ini adalah bagian ke 2 dari naskah buku novel berjudul “Lindu Aji Pangeran Bertanduk” yang belum pernah diterbitkan. Penulis menunggu penerbit yang bersedia menerbitkannya.

Related posts:

No response yet for "Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 2"

Post a Comment