Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji 'Pangeran Bertanduk Bagian 3'

Petikan Novel LINDU AJI PANGERAN BERTANDUK BAGIAN 3:
Karya Sutardi MS Dihardjo


3
PANGERAN YANG TAKUT BERGAUL


Pangeran Lindu Aji tumbuh menjadi bocah yang sehat dan menyenangkan. Wajahnya tampan, kulitnya halus dan putih bersih. Meskipun tidak pernah bekerja keras, karena menurun dari ayahnya yang bertubuh kekar dan tinggi besar, Pangeran Lindu Aji pun bertubuh gagah tinggi semampai. Mungkin kalau ia dilatih olah kanuragan setiap hari, tubuhnya akan kekar dan gempal seperti ayahnya.
Pangeran Lindu Aji hidup bagaikan dalam pingitan. Setiap hari hanya tinggal di bangsal kasatriyan yang dibangun khusus sebagai tempat tinggalnya. Di dalamnya terdapat perpustakaan yang menyimpan buku-buku keagamaan, sastra, dan kemasyarakatan. Buku-buku yang mengajarkan budi pekerti juga ada di situ. Inilah yang menemani Pangeran Lindu Aji setiap harinya, di samping ayah dan ibunya yang membimbing membaca dan memahami isinya. Mula-mula hal ini dianggap aneh oleh para abdi dan punggawa kerajaan. Tetapi lama-lama dianggap biasa. Hanya saja mereka sering bertanya-tanya dalam hati, apa kira-kira yang disembunyikan pada diri Pangeran Lindu Aji? Sebab kalau mereka sempat melihat dari kejauhan sebetulnya pangeran ini tidak kurang suatu apa. Semuanya serba baik dan menyenangkan. Wajah yang nampak manis cocok benar  dengan ikat kepala yang tak pernah lepas dari kepalanya. Ikat kepala yang selalu berganti menyesuaikan dengan pakaian yang dikenakannya. Jalannya pun baik, tidak timpang,  karena seluruh anggota tubuhnya lengkap dan utuh.
Ketika Pangeran Lindu Aji masih kecil, mandi dan berdandan permaisuri yang melakukannya. Oleh karena itu tidak diperlukan kaca cermin untuk Pangeran Lindu Aji berhias diri. Lagi pula, permaisuri takut kalau nanti Pangeran Lindu Aji dapat melihat tanduk di kepalanya lewat kaca cermin yang terpasang di dinding. Maka permaisuri melarang ada cermin di bangsal kasatrian. Tetapi setelah menginjak remaja, Pangeran Lindu Aji tidak mau lagi dimandikan dan didandani ibu maupun ayahnya. Ia merasa malu. Ia ingin mandiri, mandi dan berdandan sendiri. Oleh karena itu ia membutuhkan cermin untuk mematut dandanannya.
“Bunda, sekarang saya sudah besar. Malu kalau harus dimandikan dan didandani Bunda. Saya ingin mandi dan berdandan sendiri.”
“Tapi Ananda….” Permaisuri ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
“Bunda tidak usah khawatir! Meskipun Bunda belum secara khusus mengajari Ananda, tetapi karena Ananda setiap hari memperhatikan Bunda memandikan dan mendadani Ananda, sekarang Ananda yakin dapat melakukannya sendiri”.
“Sebetulnya bukan itu masalahnya. Tetapi kalau itu sudah menjadi kehendak Ananda, apa boleh buat, Ibunda tidak dapat melarang. Barangkali ini merupakan latihan bagi Ananda menuju kedewasaan,” kata permaisuri akhirnya memberi kesempatan kepada puteranya.
“Tetapi Bunda, saya tidak dapat melihat wajah saya sendiri. Oleh karena itu saya membutuhkan kaca cermin seperti yang ada di ruang Bunda, untuk berdandan sendiri. Kenapa Bunda, di bangsal kasatrian ini tidak ada cermin satu buah pun? Bagaimana saya nanti akan berhias dan mematut sisiran rambut saya?” Tanya Pangeran Lindu Aji  sebelum ia mulai berdandan sendiri.
“Ananda boleh mandi sendiri karena Ananda sudah besar. Tetapi untuk berdandan dan menyisir rambut Ananda, biarlah Ibunda yang melakukannya. Ini karena Ibunda sangat sayang kepada Ananda”
“Tidak, Ibunda! Biarkan Ananda  mengurus diri Ananda sendiri. Nanti kalau Ananda ada kesulitan, baru Ananda akan minta bantuan Bunda.”
“Biarlah Dinda Permaisuri, biarkan Pangeran Lindu Aji belajar mengurus dirinya sendiri. Janganlah kita terlalu ikut campur urusan pribadinya seperti ketika dia masih kanak-kanak. Hal ini akan lebih baik untuk proses pendewasaannya. Semakin dia mampu mengurus keperluannya sendiri, dia akan semakin percaya diri. Rasa percaya dirinya akan menambah harga dirinya, yang selanjutnya akan membuatnya semakin dewasa,” kata Prabu Reksa Buwana yang tiba-tiba sudah berada di samping Permaisuri Dewi Widiyaningrum.
“Tapi Kanda Prabu, bagaimana kalau….” Kata Permaisuri Dewi Widiyaningrum ragu-ragu.
“Kanda tahu maksud Dinda Permaisuri. Tapi kita tidak bisa selamanya menyembunyikan hal ini. Cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga. Kita harus mempersiapkan, pada saatnya nanti kita harus menjelaskannya, tapi harus dijaga jangan sampai menggoncangkan jiwanya,” kata Prabu Reksa Buwana.
Akhirnya dipasanglah cermin di dinding bangsal kasatrian. Akibatnya apa yang sudah lama ditakutkan permaisuri pun terjadi. Ketika Pangeran Lindu Aji sedang bercermin setelah mandi pagi, tiba-tiba ia tertegun melihat ada benjolan hitam di kepalanya. Ketika tangannya meraba, terasa keras benjolan itu. Hampir saja ia menjerit melihat keanehan yang ia tahu hanya ada di kepalanya. Ia merasa takut dan minder. Menyadari hal tersebut, tiba-tiba terasa ada yang menggeliat gatal di kepalanya. Pangeran segera berlari mencari ibunya di keputren.
“Ibunda, kenapa kepala Ananda bertanduk dan rasanya gatal seperti menggeliat-geliat?” tanya Pangeran Lindu Aji kepada ibunya setelah bertemu. Permaisuri Widianingrum bingung menjawabnya. Apa yang dicemaskannya kini telah terjadi. Tanduk kecil Pangeran Lindu Aji yang selalu ia sembunyikan di balik rambut panjang dan ikat kepala kini telah diketahui pemiliknya. Untung saat itu tidak ada dayang-dayang maupun biyung emban di keputren. Mereka sedang keluar entah kemana.
“Maafkan Ibunda, Puteraku. Ini semua adalah kesalahan Ayahanda dan Ibundamu. Dulu ketika Ibunda mengandungkan Ananda, Ayahandamu tidak mau menghentikan kesukaannya mengadu hewan bertanduk. Bahkan Ibunda pun nyidam diadakan festival adu banteng,” kata permaisuri yang dilanjutkan menceritakan masa lalunya yang menjadi penyebab terjadinya keadaan yang tidak diinginkan ini.
“Itulah sebabnya kenapa Bunda selalu memaksamu memakai ikat kepala. Tujuannya adalah untuk menyembunyikan tanduk di kepalamu. Karena Ananda sudah terlanjur tahu, sekarang tugas Ananda untuk selalu merahasiakannya. Jangan sampai ada orang lain yang tahu.”
 Sejak hari itu Pangeran Lindu Aji jadi tahu bahwa dirinya punya rahasia yang harus disembunyikan agar tidak membuat malu keluarga dan negara. Aneh, setelah tahu bahwa dirinya punya rahasia yang harus disembunyikan, tanduknya jadi seperti bertumbuh. Padahal sebelum ia tahu, tanduknya seperti hanya tanda hitam saja. Meski terasa keras, tidak tumbuh menjadi panjang. Tetapi sekarang setelah tahu, dan dalam hati ingin menyembunyikan, tanduknya seperti bertumbuh. Semakin besar keinginannya untuk menyembunyikan, tanduk itu bahkan semakin bertambah panjang.
Dan karena Pangeran Lindu Aji sudah tahu kewajibannya untuk merahasiakan aib yang terletak di kepalanya, Prabu Reksa Buwana justru memperbolehkan Pangeran Lindu Aji bergaul dengan orang lain. Lebih-lebih untuk mempersiapkannya  selaku pangeran pati, putera mahkota yang nanti akan menggantikannya, Prabu Reksa Buwana sadar untuk membekali Pangeran Lindu Aji dengan berbagai ilmu. Tidak hanya ilmu agama, sastra, kemasyarakatan dan budi pekerti, tetapi juga ilmu ekonomi, poltik, hukum dan pemerintahan. Untuk itu Gusti Prabu menyuruh Pangeran Lindu Aji agar mengunjungi perpustakaan negara yang lebih lengkap koleksi bukunya. Selain itu Gusti Prabu juga mendatangkan guru-guru untuk mengajar berbagai ilmu kepada Pangeran Lindu Aji.
Tetapi mereka semua dipesan dan diawasi jangan sampai berani membuka ikat kepala Pangeran Lindu Aji. Alasannya bahwa itu adalah kehormatan pangeran calon pengganti raja yang harus dihormati.
Namun meskipun Prabu Reksa Buwana sudah memberi kebebasan kepada Pangeran Lindu Aji untuk bergaul dengan orang-orang di sekelilingnya, termasuk dengan orang-orang di luar istana, tetap saja ia merasa canggung dan tak dapat menggunakan kebebasan itu dengan leluasa. Seperti burung yang sejak kecil hidup dalam kurungan, ketika dikeluarkan dari kurungan ia bingung untuk terbang menjelajahi angkasa. Akhirnya ia hanya hinggap di atas pohon atau di atas atap di sekitar pemeliharanya saja. Bagi Pangeran Lindu Aji, hal ini selain karena ia belum berpengalaman memasuki dunia orang lain, dan tidak punya bahan untuk menerobos masuk kedalam pergaulan mereka, juga karena ada rasa rendah diri padanya mengingat aib yang membebaninya, yang harus dirahasiakan kepada orang lain. Di sisi lain, bagi orang lain juga beban mental untuk dapat mengakrabi sang pangeran, mengingat predikatnya sebagai calon junjungannya yang harus disembah dan dihormati. 
***

NB: Cerita ini adalah bagian ke 3 dari naskah buku novel berjudul “Lindu Aji Pangeran Bertanduk” yang belum pernah diterbitkan. Penulis menunggu penerbit yang bersedia menerbitkannya.

                                                            Penulis: Sutardi MS Dihardjo

Related posts:

No response yet for "Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji 'Pangeran Bertanduk Bagian 3'"

Post a Comment