Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 bagian III


Petikan Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3:
12
DEWI  DAMAYANTI  BERTEMU  PRABU  NALA


Pada hari berikutnya, Dewi Damayanti menyuruh dayang Wahyuni yang sering ditugasi mengasuh putera-puterinya untuk membawa anak-anak itu menengok kusir yang ada di gedogan. Menuruti perintah junjungannya, dayang Wahyuni mengajak pangeran Indrasena dan puteri Indrasini mengunjungi kusir Bahuka di gedogan. Melihat putera-puterinya, yang sekarang kelihatan sudah mulai remaja, tampan dan cantik rupawan, rasa rindu di hati Prabu Nala yang menyamar sebagai Bahuka tidak bisa ditahan lagi. Ia segera mendekati anak-anak yang masih berdiri termangu di ambang pintu gedogan. Lupa pada keadaan dirinya yang sudah berbeda dengan ujud Prabu Nala yang tampan dan bersih, Bahuka segera meraih tangan Indrasena dan Indrasini. Lalu kedua anak itu dipangku dan diciumi bertubi-tubi seakan tidak pernah puas-puasnya. Rambut Indrasini yang panjang dan bergelombang dibelainya. Hidung kedua anak yang mancung dipijatnya seperti yang dulu sering dilakukannya ketika masih bersama-sama di istana Nisadha. Pipi Indrasini yang halus dielusnya. Dan dada Indrasena yang bidang serta kedua pundaknya yang kokoh dipijat-pijatnya. Semua yang dilakukannya tak berbeda dengan apa yang telah dilakukannya ketika dulu anak-anak itu masih kecil di istana Nisadha. Dan anehnya kedua anak yang manis-manis dan bersih kulitnya itu, tidak merasa jijik atau marah diperlakukan seperti itu oleh Bahuka, yang badannya kotor dan wajahnya buruk menjijikkan. Mereka justru diam menikmati perlakuan memanjakan seperti itu. Barangkali karena mereka tak pernah dimanjakan seperti itu selama berada di istana Widarba. Atau karena mereka teringat masa kecilnya di istana Nisadha dan ingin merasakan lagi pemanjaan seperti yang pernah diterimanya di istana Nisadha dulu. Atau mungkin sebagai anak kandung, batin mereka telah nyambung, sehingga dapat merasakan dan menikmati limpahan kasih sayang dari orang tua kandungnya yang penuh perasaan rindu.

Dayang Wahyuni yang ditugasi mengasuh putera-puteri Dewi Damayanti itu merasa heran menyaksikan semua itu. Tetapi kemudian ia pun memaklumi, mengingat bahwa mereka adalah ayah dan anak, meskipun anak-anak itu tidak tahu. Tetapi mungkin naluri anak yang digerakkan hubungan batin yang fitri, membuat mereka merasa nyaman berada di pangkuan ayah kandungnya, meskipun orang tuanya dalam ujud yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. 

“Maaf, kenapa begitu melihat kedua putera-puteri junjungan saya, Ki Sanak tanpa sungkan-sungkan langsung memperlakukan anak-anak ini seperti anak Ki Sanak sendiri yang sudah lama tidak bertemu?” tanya dayang Wahyuni kepada Bahuka  menyelidiki. Yang ditanya yang semula lupa diri jadi geragapan, menyadari bahwa yang telah dilakukan adalah suatu hal yang sudah melampaui batas dari seorang abdi kusir tamu kepada putera-puteri cucu raja sang tuan rumah. Buru-buru ia memperbaiki sikapnya. Wrasneya dan Jinala pun memandang Bahuka dengan pandangan yang setengah menyalahkan atas perbuatan Bahuka yang dipandang sudah keterlaluan dan tak tahu aturan. Tetapi Indrasena dan Indrasini justru menjadi kecewa setelah dilepaskan dari pemanjaan Bahuka. Apalagi setelah Bahuka bersikap mengambil jarak dengan sikap bersalah, mereka merasa seperti bayi yang masih enak-enaknya menetek susu ibunya tiba-tiba harus disapih. “Maaf, saya sudah tidak tahan! Tiba-tiba saya teringat kedua anak saya yang terpaksa saya tinggalkan di desa. Umur dan besarnya kedua anak saya kira-kira juga sama dengan kedua anak ini. Wajahnya pun mirip. Cuma waktu saya tinggal kedua anak saya masih agak kecil-kecil, dan sering saya pangku dan saya belai seperti itu. Jadi begitu saya melihat anak-anak ini, saya tidak tahan untuk memperlakukan anak-anak yang sudah remaja ini seperti anak-anak saya yang masih kecil dulu,” ujar Bahuka sambil terisak menangis haru, tidak menyangka setelah sekian tahun berpisah dengan si buah hati, sekarang dapat bertemu kembali dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa.

Anehnya melihat orang tua yang tadi memangkunya yang wajahnya mengerikan saking buruknya, anak-anak cucu raja Widarba itu tidak merasa takut atau jijik. Mereka  hanya merasa heran, kenapa orang tua yang tadi menciumi mereka berdua, yang seakan seperti menumpahkan seluruh perasaan rindu yang menggunung, orang tua yang tak dikenalnya tapi terasa dekat di hati itu, sekarang justru menangis terisak-isak seperti dirinya ketika masih kecil dulu. Pikirnya, ”Sudah tua kok masih menangis seperti anak kecil...”

“Sudahlah Ki Sanak Bahuka, tak usah Ki Sanak terlalu larut dalam kesedihan, mengingat anak-anak yang sudah lama ditinggalkan. Suatu saat kalau ada waktu luang, Ki Sanak tentu dapat minta ijin kepada Prabu Rituparna yang bijaksana, untuk menengok putera-puteri Ki Sanak di desa,” hibur dayang Wahyuni pengasuh Indrasena-Indrasini.

“Tetapi kabarnya desa saya sudah musnah terkena bencana, sehingga anak dan istri saya terpaksa mengungsi entah kemana, saya tidak tahu. Jadi saat ini saya kehilangan jejak,” kata Bahuka memelas.

“Kasihan betul nasibmu, Ki Sanak. Ya sudah kalau begitu terima saja nasibmu seperti itu. Barangkali Dewata Agung punya maksud baik yang belum kita ketahui. Berdoa saja semoga tidak berapa lama lagi Ki Sanak dapat bertemu dengan anak – istri,” hibur dayang Wahyuni.

“Terima kasih atas simpati dan nasehat, Mbakyu.”

“Oh ya, Ki Sanak, saya jadi teringat ceritanya seorang brahmana yang ngamen sampai di keraton Ayodya. Kata brahmana itu, ketika ia sedang ngamen dengan menembangkan tembang ciptaan gusti puteri Dewi Damayanti di dekat kandang kuda, ada seorang abdi istana Ayodya yang mempunyai ciri-ciri seperti Ki Sanak, menyambutnya dengan tembang yang tak kalah mengharukannya. Apakah abdi yang nembang itu Ki Sanak Bahuka?” tanya dayang Wahyuni tiba-tiba.  

“Iya memang benar. Tetapi sebetulnya saya tidak sedang menjawab tembang yang dinyanyikan sang brahmana, tetapi saya sedang menceritakan nasib saya sendiri yang selalu sial dan mendapat kesengsaraan bertubi-tubi.”

“Kalau boleh saya tahu, saya ingin mendengar Ki Sanak Bahuka mengidungkannya sekali lagi di gedogan ini. Apakah betul-betul mengharukan atau sebetulnya bapa brahmana itu yang cengeng, menceritakan berlebih-lebihan.”

“Saya tidak keberatan menembangkannya. Tetapi jangan diejek ya, Mbakyu. Suara saya  itu jelek, demikian juga tembang saya itu sebetulnya tidak seindah tembang ciptaan Gusti Puteri Dewi Damayanti,” ujar Bahuka. Kemudian ia mulai menembang yang didengarkan dengan penuh perhatian, serta disimak dan dicatat dengan teliti dalam hati dayang Wahyuni yang cerdas itu.

O, sesungguhnya, wanita darah biru yang sedang berduka 
Ketika terlunta-lunta menyusup-nyusup di tengah hutan 
Bersama sang suami, tabah selalu tidak ada penyesalan
Hati yang tulus ikhlas menerima keadaan
Tidak sekalipun berkeluh kesah

Pasrah dan tidak marah
Kepada lelakinya yang malang
Yang pakaian dan kehormatannya hilang
Lelaki yang tak berkain tak berbusana
Dicuri burung-burung siluman ketika 
Sedang mencari makan binatang buruan 

Berhari-hari sia-sia mengetuk pintu
Sia-sia mengharap belas kasih
Berjalan dan terus berjalan masuk hutan
Sembunyikan aib sembunyikan malu

Lelaki yang malang gara-gara permainan judi
Kehilangan harta, wibawa dan kekuasaannya
Terusir dari keratonnya
Mengembara tak tentu tujuan
Terlunta-lunta sengsara sepanjang jalan
Bahaya mengancam setiap saat 
Di setiap tempat

Tapi suami tidak tega mengajak istri bersama mengunyah derita
Terpaksa ditinggal sendirian kala terlelap di gubuk belantara
Dengan segumpal keyakinan, wanita yang tulus setia
Selamanya tidak akan mendapat bencana
Karena seakan dilindungi kere baja
Meski ditingal diam-diam lelakinya
Karena kebaikan hatinya terjaga keselamatan hidupnya
Karena kesucian hatinya kalau menemui bencana 
Menyingkir hilang lebur tak bersisa

Maka bila ada orang yang selalu berkeinginan
Bersatu dengan kekasih tambatan hati
Ia hanyalah istri yang selalu setia pada janji
Biarpun jauh tak pernah bertemu
Tetapi hati selalu bersatu
Perasaan selalu menyatu oleh rasa rindu
Karena jodoh tidak pernah berubah
Tetap jodoh selama-lamanya

Itulah harapan sang pengembara
Yang masih hidup papa sebagai abdi
Kepada kekasih hati yang sudah mukti
Itulah doa yang selalu dilantunkan sang pengembara
Kepada Dewata Agung Sang Pencipta.

Dayang Wahyuni yang ditugasi mengasuh Indrasena dan Indrasini itu mengusap air mata yang meleleh di pipi. Butiran-butiran bening yang muncul tiba-tiba di sudut mata ketika ia menyimak tembang sang kusir Prabu Rituparna itu makin lama makin besar dan berat, lalu runtuh satu persatu membasahi pipi. Tangisnya pun mengisak menyesak di dada.

Setelah reda tangisnya, dan kembali tenang perasaannya, dayang itu mengajak Indrasena dan Indrasini yang sedang melepas rindu dengan Wrasneya mantan kusir ayahnya, untuk kembali ke istana. Dayang Wahyuni lalu pamit kepada Bahuka dan teman-temannya.

Di keputren, Dewi Damayanti yang mendengar cerita dayang Wahyuni tentang reaksi Bahuka ketika bertemu dengan putera-puterinya, dan mendengarkan tembang ciptaan Bahuka yang ditirukan abdinya itu, menjadi semakin yakin siapa sosok di balik penampilan kusir Bahuka yang mempunyai cacat kekurangan, tetapi juga memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang langka.

Dewi Damayanti lalu menyuruh dayang Mulyati dan dayang Wahyuni untuk melaporkan apa saja yang sudah dilihat dan dialami kepada ibunda ratu  permaisuri. 

“Katakan kepada Kanjeng Ibu, kalau aku bermaksud mengundang Bahuka ke keputren. Tetapi kalau Kanjeng Ibu tidak memperbolehkan, maka aku sendiri yang akan datang ke gedogan untuk menemui kusir Bahuka di sana.”

Dayang Mulyati dan dayang Wahyuni menurut perintah Dewi Damayanti. Keduanya segera menemui dayang Eny yang bertugas di keputren Kanjeng Ratu Permaisuri.

”Ada apa tumben Mbakyu berdua datang keputren Gusti Ratu siang tengah hari  begini?” tanya dayang Eny kepada dayang Mulyati dan dayang Wahyuni yang datang menemuinya.

”Ketahuilah adi dayang Eny, kedatanganku kemari diutus Gusti Puteri Dewi Damayanti untuk menghadap Gusti Ratu Permaisuri. Ada sesuatu hal penting yang harus aku haturkan kepada Kanjeng Gusti Ratu Permaisuri. Maka katakan kepada Kanjeng Gusti Ratu kalau dayang-dayang Dewi Damayanti mohon ijin untuk dapat menghadap Kanjeng Ratu,” pinta dayang Mulyati kepada dayang Eny.

”Kalau begitu tunggulah sebentar di situ, akan aku haturkan permintaanmu kepada Kanjeng Ratu Permaisuri,” kata dayang Eny mempersilakan dayang Mulyati dan dayang Wahyuni untuk menunggu. Kemudian ia segera masuk menghadap Kanjeng Ratu Permaisuri. Tak berapa lama kemudian dayang Eny sudah keluar untuk mempersilakan dayang Mulyati dan dayang Wahyuni masuk menemui Kanjeng Ratu Permaisuri.

Dayang Mulyati dan dayang Wahyuni segera masuk menghadap sang Ratu  Permaisuri di keputren utama. 

”Ada perlu apa puteriku Dewi Damayanti mengutus kalian berdua menghadapku siang-siang tengah hari begini?” tanya Kanjeng Ratu Permaisuri.

”Ampun, Gusti Ratu Permaisuri, hamba berdua telah diutus menyelidiki  kusir sang Prabu Rituparna yang bernama Bahuka, karena Gusti putri Dewi Damayanti mencurigai kusir itu sebagai Prabu Nala, suaminya. Kami diperintah menyelidiki untuk meyakinkan kalau dugaan Gusti Damayanti itu benar adanya. Hamba diminta untuk menyelidiki asal-usul dan keahlian Bahuka. Hasil penyelidikan hamba menunjukkan adanya tanda-tanda kesamaan antara Bahuka dengan Prabu Nala, kecuali bentuk fisik dan rupa Bahuka,” kata dayang Mulyati menceritakan hasil penyelidikan yang dilakukan atas perintah Dewi Damayanti, terhadap kusir Prabu Rituparna yang bernama Bahuka.

”Ampun Gusti Ratu Permaisuri, hamba pun ditugaskan untuk menyelidiki Bahuka. Hamba diminta menyelidiki tanggapan Bahuka ketika berhadap-hadapan dengan Pangeran Indrasena dan putri Indrasini. Ternyata Bahuka menunjukkan sikap dan perbuatan seorang bapak yang sudah sangat rindu kepada putera-puterinya. Bahuka merangkul, membelai, memangku dan memanjakan pangeran dan puteri layaknya kepada anak sendiri yang sudah lama tidak bertemu. Ia pun menangis seakan menumpahkan perasaan rindunya yang sudah lama tertahan. Demikian juga cucu-cucu Paduka. Mereka semua tidak ada yang merasa jijik dan kikuk diperlakukan Bahuka yang berwajah jelek menjijikkan. Justru mereka hamba lihat sangat menikmati perlakuan memanjakan yang diberikan si kusir Bahuka. Seakan mereka memang bapak dan anak yang sudah lama tidak bertemu, baru sekarang dapat bertemu untuk saling melepas rindu.” 

“Dari hasil penyelidikan tersebut gusti puteri Dewi Damayanti  berkesimpulan, bahwa kusir Bahuka itu tak lain dan tak bukan adalah sinuwun Prabu Nala putera menantu Paduka Gusti Permaisuri sendiri. Untuk itu Gusti Puteri Dewi Damayanti bermaksud mengundang Bahuka ke keputren. Maka kedatangan kami kemari adalah untuk memintakan ijin kehendak Dewi Damayanti tersebut. Apabila Gusti Permaisuri mengijinkan kami akan segera menemui Bahuka mengundangnya ke keputren. Tetapi apabila Gusti Permaisuri tidak mengijinkan, Gusti Puteri Dewi Damayanti sendiri yang akan datang ke gedogan untuk menemui Bahuka yang diduga suaminya,” kata dayang Mulyati hati-hati.

Related posts:

No response yet for "Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 bagian III"

Post a Comment