Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 bagian IV


Petikan Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3:
12
DEWI  DAMAYANTI  BERTEMU  PRABU  NALA


“Kalau memang puteriku sudah yakin, dan ia berkehendak mengundang Bahuka ke keputren untuk memastikannya, dari pada kesempatan ini lewat tanpa kejelasan, aku ijinkan puteriku melakukan apa yang terbaik menurutnya. Hanya pesanku, apapun yang akan ditemuinya, puteriku harus siap menerima dengan legawa,” ujar permaisuri Widarba.

Dayang Mulyati dan dayang Wahyuni segera mohon diri untuk selanjutnya ke gedogan menemui Bahuka. Mendengar dirinya dipanggil menghadap Dewi Damayanti di keputren, Bahuka yang sesungguhnya adalah Prabu Nala, yang sebetulnya juga berharap hal ini suatu saat akan terjadi, tak urung  merasa terkejut, bingung, salah tingkah, dan takut bercampur aduk menjadi satu. Badannya gemetar, bibirnya bergetar, lidahnya terasa hambar, menahan berbagai pikiran dan perasaan yang mengharu biru kalbunya. Ini adalah suatu kesempatan untuk mengetahui kejelasan sikap istrinya terhadap dirinya. Dan untuk menanyakan kenapa ia sampai mengadakan sayembara pilih untuk yang kedua kalinya.  Suatu saat rasa rendah diri memang menguasai dirinya, mengingat keadaan dirinya yang papa, tidak derajat pangkat, harta, maupun rupa. Tetapi kalau mengingat bahwa dirinya saat ini masih merupakan suami yang sah atas Dewi Damayanti, belum bercerai, maka dirinya merasa berhak membatalkan sayembara pilih yang akan diadakan untuk mencari jodoh Dewi Damayanti. Tetapi kalau hal itu dilakukan, apakah tidak akan mencemarkan nama baik negara Widarba karena telah mengundang sewunegara untuk mengikuti sayembara pilih, sekarang tiba-tiba harus dibatalkan? Kalau sayembara pilih tetap diadakan, etiskah kalau dirinya yang hanya seorang kusir, tak berderajat pangkat, harta maupun rupa, mengikuti sayembara? Kemudian ketemu nalarkah kalau justru dirinya yang memenangkan lomba, mengalahkan para raja yang segalanya serba melebihi dirinya? Itu pun kalau Dewi Damayanti mempercayai kalau dirinya si Bahuka ini adalah penjelmaan Prabu Nala suaminya. Dan itu pun juga kalau Dewi Damayanti yang tetap berderajat tinggi dan tetap cantik, masih mau menerima dan mencintai dirinya yang serba kekurangan sekarang ini. Kebimbangan mengamuk di hati Bahuka. Ia menyesali segala peristiwa yang telah terjadi akibat kebodohannya, sehingga ia harus dihadapkan pada keadaan yang tidak mengenakkan sekarang ini. Tetapi setelah dipikir-pikir dan ditimbang-timbang, Bahuka merasa lebih baik ia datang menghadap Dewi Damayanti, apa pun resiko yang harus diterimanya nanti. Sebagai seorang lelaki ia harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya, termasuk kepasrahan dirinya telah meninggalkan istrinya seorang diri di hutan yang penuh bahaya, hanya semata-mata mengharapkan pertolongan dan perlindungan Dewata Agung. Akhirnya Bahuka mengangguk menyanggupkan diri untuk segera datang menghadap sang puteri. Lidahnya kelu, bibirnya gemetar, tak sanggup untuk menjawab dengan kata-kata, meskipun hanya satu kata, ”Ya...”

Dayang Mulyati dan dayang Wahyuni pun segera pamit kembali ke keputren. Kali ini dengan sikap yang lebih hormat, mengingat kemungkinan besar mereka saat ini sedang berhadapan dengan Prabu Nala, raja gung binathara, suami junjungannya.

Dewi Damayanti yang akan menerima kedatangan suaminya tidak berdandan secantik mungkin dan memakai pakaian yang indah-indah serba gemerlapan. Ia tahu suaminya sekarang sedang dalam keadaan papa dan hanya berkedudukan abdi kusir kereta kuda. Ia ingin mengimbangi penampilan suaminya. Selain itu ia ingin mengingatkan kembali kepada suaminya saat-saat mereka berdua sedang dalam keadaan terlunta-lunta didera penderitaan berkepanjangan. Maka Dewi Damayanti justru berdandan seperti ketika mereka berdua terusir masuk hutan. Dewi Damayanti memakai pakaian yang sudah sobek-sobek dan kotor, kain yang dikenakan dicari kain yang warna dan coraknya mirip yang dulu dipakainya ketika terusir dari keraton Nisadha, tetapi yang sekarang sudah tidak ada karena sudah disobek-sobek dibagikan kepada para pendeta yang diutus mencari jejak suaminya. Badannya dibedaki debu di sekujur tubuh, dan rambutnya awut-awutan dibiarkan terurai tak beraturan. Orang yang melihat tentu akan jatuh kasihan.

Begitu memasuki ruang keputren, melihat sosok Dewi Damayanti yang jauh dari angan-angannya, bukan pakaian dan dandanan yang menunjukkan derajat keningratannya, tetapi justru pakaian dan dandanan seperti orang sudra papa yang sedang dalam keadaan prihatin, Bahuka jadi bingung, kasihan dan terharu. Ia ingat penderitaannya bersama istri yang sangat dicintainya beberapa tahun yang lalu. Bahuka jadi bersedih dan merasa bersalah. Tapi kalau melihat lebih seksama ke wajah yang sengaja ditutupi debu itu, hatinya tergetar, ternyata wajah itu tetap kelihatan cantik meski debu berlepotan di sana-sini. Ya, wajah itu, wajah Dewi Damayanti, wajah istri yang amat dicintainya, yang dulu tak puas-puasnya selalu diciumi dan dikecupi sambil membelai rambutnya yang panjang terurai. Bahuka sang Prabu Nala hampir tak tahan untuk segera merangkul dan mendekap istri yang sudah lama tidak bertemu, yang selalu dirindui dan selalu terbayang-bayang dalam jaga dan menjadi bunga tidur menghiasi mimpi-mimpinya. Tetapi Bahuka ingat keadaan dirinya saat ini dan kedudukannya saat ini. Ia pun menahan diri, menunggu apa kata dan apa yang dikehendaki istri yang sudah beberapa tahun disia-siakannya.

Setelah beberapa lama mereka berdua hanya berdiam diri, tenggelam dalam pikiran dan perasaan masing-masing, akhirnya Dewi Damayanti mulai menyampaikan apa yang mengganjal di hatinya selama ini. 

“Heh, Bahuka, apakah kamu tahu suami yang  telah tega meninggalkan istrinya sendirian di tengah hutan? Katanya sangat sayang dan cinta kepada istrinya, tapi ternyata ia tega diam-diam meninggalkannya menghadapi bahaya tanpa teman tanpa pengawal. Hampir saja istrinya mati ditelan ular besar yang sedang kelaparan.  Hampir saja istrinya kehilangan kesuciannya diperkosa pemburu tua tak bermoral. Tahukah kamu Bahuka, siapakah  suami yang tak bertanggung jawab itu? Ia adalah raja gung binathara. Orang yang berbudi pekerti luhur, belas kasih kepada sesama. Ia sangat dihormati dan disegani oleh rakyatnya maupun para punggawa, karena ia pelindung bagi rakyatnya dan pembimbing bagi bawahannya. Tetapi ternyata ia tega meninggalkan istrinya sendirian yang sedang terlelap tidur di dalam gubug di tengah hutan, karena kelelahan dan kelaparan berhari-hari tersuruk-suruk di tengah hutan, bela penderitaan suaminya,” kata Dewi Damayanti dengan nada menyindir yang sangat tajam menusuk hati lawan bicara. 

Bahuka yang mendengar sindiran Dewi Damayanti diam saja. Hatinya terasa pedih serasa diiris-iris merasakan betapa berat penderitaan yang ditanggung istrinya sepeninggalnya di tengah hutan dahulu.

”Ketahuilah Bahuka, orang itu tiada lain adalah Prabu Nala, raja negara Nisadha, raja yang terkenal ber budi bawa leksana, raja yang penuh belas kasih, terpilih oleh dewa, ketika menikah mendapat berkah pangestu dan perlindungan para dewa.” Dewi Damayanti berhenti sebentar. Bibirnya gemetar menahan emosi yang pedih. Tangannya sibuk mengusap air mata yang runtuh dari sudut matanya. Perasaan yang ngondhok-ondhok di dada tumpah semua di hadapan suami yang selama ini dirindu-dendami.

“O, Bahuka, ketahuilah pada waktu Prabu Nala menikah dengan Dewi Damayanti, di hadapan api persembahan, dengan disaksikan para dewa, ia sudah bersumpah setia untuk selalu bersama melindungi istrinya dalam suka maupun duka, tak pernah berpisah ataupun meninggalkannya, apapun yang terjadi! Tetapi ternyata kemudian ia tega meninggalkan istrinya di tengah hutan yang banyak binatang buasnya, hutan lebat dan luas yang tak diketahui arah utara – selatan atau barat – timurnya, dan banyak halangan rintangan menghadang,” lanjut Dewi Damayanti sambil menangis tersedu-sedu kelara-lara.

Dewi Damayanti tidak dapat melanjutkan kata-kata yang berisi penyesalan atas tindakan dan perlakuan Prabu Nala terhadap dirinya, karena kesedihan hatinya mulai menjebolkan bendungan yang menyesak di dada. Tangisnya mulai pecah mengiringi derasnya air mata yang deras mengalir. Suasana jadi betul-betul mengharukan dan mencekam. 

Bahuka yang berkali-kali kena tampar dan tikam  oleh kata-kata Dewi Damayanti yang selalu menyalahkan suaminya, merasa bahwa sesungguhnya puteri Widarba itu sudah tahu siapa sesungguhnya dirinya. Biarpun dirinya saat ini berpenampilan layaknya seorang sudra dengan tubuh dan wajah cacat mengerikan, tetapi agaknya istri yang sudah lama dipergaulinya itu tetap dapat mengenali dirinya, sehingga kata-kata yang ditujukan kepada Prabu Nala itu tajam diarahkan kepada dirinya sebagai Bahuka kusir Prabu Rituparna. Tak kuat berdiam diri saja mendengar kata-kata yang tajam menusuk hatinya tanpa pembelaan, maka kemudian ia pun menanggapi.

“Maaf Kusumadewi, bukankah kamu sudah tahu sendiri kalau lepasnya istana dan negaraku itu bukan semata kesalahanku, tetapi itu semua perbuatan musuh sakti yang merasa iri dan sakit hati tidak berhasil mempersunting Kusumadewi. Musuh sakti itu bukan sembarang orang tetapi adalah Hyang Kali dan Hyang Dwapara yang tak terlawan ketika itu. Maka janganlah kamu terlalu menyalahkan aku. Sedangkan tindakanku meninggalkan dirimu secara diam-diam di tengah hutan, tidak ada maksud untuk mencelakaimu. Aku yakin, sebagai istri yang setia berbakti kepada suami dan selalu menjaga kesucian dirinya, Dewata Agung tentu selalu memberi pertolongan dan perlindungan. Lagi pula dari pada hidup sengsara mengikuti langkah kakiku yang sedang mencuci dosa tak jelas yang dituju, lebih baik kamu pergi ke Widarba ikut ayah-bundamu. Bukankah sebelumnya aku selalu menunjukkan arah dan tanda-tanda jalan menuju ke Widarba?” 

Bahuka menarik nafas panjang, lalu diam beberapa saat. Membiarkan kekasih hatinya memperdengarkan isak tangisnya menyesali perbuatan suaminya yang dianggap sudah menyia-nyiakan dirinya, membiarkan seorang perempuan lemah sendirian menapaki malang mujurnya garis nasib, tanpa teman tanpa pengawal tanpa bekal makanan, di tengah hutan yang penuh bahaya dan godaan.

“Kusumadewi, kalau kamu meragukan kesetiaanku kepadamu, lalu bagaimana dengan tindakanmu menyebar utusan ke berbagai negara, mengundang para raja, bupati dan pangeran untuk mengikuti sayembara pilih memperebutkan dirimu? Padahal kamu statusnya masih istriku. Sampai saat ini kita belum bercerai. Apakah perbuatanmu itu dapat dikatakan perbuatan istri yang setia, yang selalu menepati sumpah janji? Bukankah dulu kamu pernah bersumpah di hadapan para dewa, kalau kamu lebih baik mati kalau tidak bersuamikan Prabu Nala? Tetapi kenapa sekarang kamu mengadakan sayembara pilih lagi untuk mendapatkan jodohmu?” 

Mendengar kata-kata suaminya yang seperti itu, Dewi Damayanti yang sudah tidak dapat berkata-kata lagi untuk melakukan pembelaan diri karena semua uneg-uneg yang menggumpal di dadanya sudah tumpah di hadapan orang yang dirindu-dendami, seketika maju ke depan lalu menjatuhkan diri di kaki suami yang sangat dicintainya. Tangisnya pecah semakin seru tak terbendung lagi. 

“Duh, Sang Prabu, ketahuilah perbuatan hamba utusan brahmana Sudewa ke negara Ayodya untuk mengundang Prabu Rituparna datang ke Widarba mengikuti sayembara pilih, hanyalah suatu cara belaka untuk dapat menghadirkan Paduka ke negara Widarba. Sesungguhnyalah, tidak ada utusan lain yang disebar ke negara-negara lain. Hanya satu utusan, yaitu brahmana Sudewa yang arif dan bijaksana, sebagai kail untuk mendatangkan Kanda Prabu dari Ayodya ke Widarba. Makanya waktu yang diberikan hanya satu hari, untuk menguji keahlian kusir kereta yang sudah menanggapi tembang nyanyian hamba, apakah benar kusir itu sesungguhnya Sinuwun Prabu yang sedang menyamar,” kata Dewi Damayanti memberi penjelasan setelah dapat menguasai diri dan meredakan tangisnya. 

Kemudian Dewi Damayanti juga berterus terang kalau kedatangan para dayang,  dayang Mulyati dan dayang Wahyuni serta putera-puterinya ke gedogan adalah juga atas perintahnya untuk menyelidiki siapa sesungguhnya Bahuka kusir Prabu Rituparna itu. Setelah mendapat laporan tentang keahlian memasak sang kusir, tingkah lakunya, lebih-lebih ketika bertemu dengan putera-puterinya, serta mendengarkan tembang yang dinyanyikannya, barulah sang dewi yakin, lalu utusan untuk mengundang ke keputren ini. Bahuka mendengarkan semua penjelasan Dewi Damayanti dengan penuh permakluman. Bahkan hatinya menjadi sangat terharu, mengetahui betapa gigih dan hati-hatinya istrinya berusaha menemukan dirinya.

“Begitulah, Kanda Prabu, usaha yang sudah hamba lakukan untuk menyelidiki dan menemukan Paduka. Namun semuanya terserah kepada Paduka, apakah Paduka dapat memaklumi, memaafkan dan menerima perbuatan hamba, ataukah Paduka tetap marah dan menganggap hamba ini istri yang tidak setia,” ujar Dewi Damayanti pasrah sambil dalam-dalam menundukkan kepala.

Bahuka masih diam, belum menunjukkan reaksi menerima atau menolak penjelasan istrinya yang disampaikan di sela-sela isak tangisnya. Separo hatinya didera rasa rindu ingin segera memeluk istrinya, tetapi hati yang separonya lagi menahan Ia  ragu-ragu karena Dewi Damayanti telah mengundang Prabu Rituparna yang saat ini menjadi junjungannya untuk seorang diri mengikuti sayembara pilih. Apa kata junjungannya itu kalau nanti tahu bahwa dirinya telah diperalat untuk mengantarkan dirinya ke negara Widarba ini? Rasa-rasanya ia tak tega mengecewakan hati raja yang penuh belas kasih yang telah menolong dirinya dari kepapaan. Tak tega ia memupus harapan raja junjungannya yang tampak menggebu-gebu, terbukti tadi ketika mendekati wilayah kotaraja, ia diperintahkan untuk memacu kuda lebih cepat menarik kereta. Prabu Nala ragu-ragu antara menerima Dewi Damayanti kembali atau tidak. 

Tiba-tiba dari udara, terbawa semilirnya angin malam yang sejuk segar, terdengar suara Hyang Bayu di angkasa, “Heh, Prabu Nala, ketahuilah semua yang dikatakan istrimu benar belaka. Ia tidak berdusta ataupun berkhianat kepadamu. Ia adalah istri yang setia menepati janji dan berbakti kepada suami. Tak sedetik pun hatinya diisi lelaki lain. Dewi Damayanti benar-benar wanita yang suci hatinya dan setia pada sumpah dan janji, maka janganlah kamu ragu-ragu menerimanya kembali. Maka segera hiburlah ia dengan limpahan cinta dan kasih sayang, agar hatinya tak lagi bersedih, agar duka lara hilang mulai hari ini. Mengenai perasaan Prabu Rituparna, jangan khawatirkan dia. Ia raja yang bijaksana, berhati seluas samudera. Ia akan bisa mengerti kalau tahu kamu adalah Prabu Nala suami sah Dewi Damayanti.”

Setelah suara Hyang Bayu itu lenyap, maka tercium bau semerbak mewangi seperti hujan bunga beraneka aroma yang menyegarkan dan tidak memabukkan. Seiring dengan itu maka menggelegarlah bunyi guntur disertai kilat menerangi jagad raya. Tetapi meskipun suaranya menggelegar dan sinarnya amat terang, tidak membuat terkejut orang yang menyaksikannya, karena bunyi itu adalah bagaikan saksi dan menghormati dua insan sejoli yang saling berjumpa dan mencinta. 

Bahuka yang sudah dapat menerima Dewi Damayanti sebagai istrinya, tiba-tiba teringat kepada rajanaga Karkotha dan busana kanalendran dari kahyangan pemberiannya. Bungkusan berisi pakaian itu segera dikeluarkannya dan dipakainya. Maka seketika itu juga keajaiban terjadi, Bahuka yang cacat dan buruk rupa tiba-tiba berubah menjadi Prabu Nala yang gagah, tampan, tanpa cacat, dengan sinar terang di wajahnya.

Related posts:

No response yet for "Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 bagian IV"

Post a Comment