Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 bagian V


Petikan Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3:
12
DEWI  DAMAYANTI  BERTEMU  PRABU  NALA
Oleh: Sutardi MS Dihardjo


Prabu Nala memegang tangan Dewi Damayanti lalu membimbingnya berdiri dan merangkulnya. Hati mereka berdua menyatu penuh rasa syukur dan suka cita. Cinta yang dulu kering terombang-ambing keadaan yang tidak menentu, kini bagaikan mendapat siraman air hujan yang penuh berkah rahmat, menjadi subur bersemi kembali. Meskipun Dewi Damayanti berpakaian dan berdandan seperti orang sudra, tidak menjadi halangan bagi Prabu Nala untuk tetap memeluk dan menciuminya, menumpahkan segala rasa rindu dan cintanya.

Indrasena dan Indrasini yang masih terpaku memandang dari kejauhan, dipanggil mendekat lalu dipangku dan diciumi ayahandanya yang sudah lama tidak bertemu. Mereka pun dengan manjanya berayun-ayun dan menggelendot di pangkuan dan di gigir ayahanda yang dirinduinya. Suara tangisan pecah bersama-sama seperti konser musik yang indah harmoninya. Tangisan yang merdu dan sendu, tapi bukan tangis kesedihan melainkan tangis kebahagiaan. Yang lama berpisah telah dipertemukan kembali dalam suasana haru yang mengaduk-aduk kalbu.

Prabu Bima yang mendapat  laporan mengenai kembalinya Prabu Nala bertemu dengan puterinya Dewi Damayanti, tidak segera menemui yang sedang kangen-kangenan. Sebagai orang tua yang arif bijaksana, ia tahu harus bagaimana dan di mana menempatkan diri dalam situasi seperti ini. Kalau ada bahaya mengancam memang dirinya selaku orang tua pelindung putera-puterinya, harus segara tampil menjadi perisai, tapi kalau ada kabar yang menggembirakan seperti ini maka ia harus tahu diri di mana porsinya. Biarlah mereka yang baru bertemu, memuaskan diri, mencairkan rindu yang sudah lama membatu. Esok hari masih ada waktu untuk bertemu dengan anak menantunya.

Pagi harinya Prabu Nala dan Dewi Damayanti sudah berganti busana keprabon. Kelihatan mereka berdua serasi dan harmonis, bagaikan Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih. Laki-lakinya tampan dan gagah tanpa cacat, perempuannya pun cantik, anggun, dan penuh pesona. Mereka berdua datang menghadap Prabu Bima menghaturkan sembah, sungkem pangabekti. 

“Aku terima  sembah, sungkem pangabekti kalian berdua. Aku sangat bersyukur kalian berdua sekarang telah dapat bertemu kembali. Tidak perlu kalian mengingat-ingat semua yang sudah terjadi, untuk saling menyalahkan. Kalian boleh mengingat-ingat, tetapi untuk memetik hikmah dan pelajaran dari masa lalu, menyesali kekeliruan agar tidak terulang lagi. Ingatlah, semua itu sudah menjadi kehendak Dewata Agung, kita sebagai titah hanya dapat menjalani. Lebih baik kita berprasangka baik kepada Dewata Agung, bahwa apa yang telah terjadi sebetulnya mempunyai maksud yang baik, hanya saja mungkin kita belum mengetahuinya,” kata Prabu Bima. 

“Kepada puteriku Damayanti, aku sangat berterima kasih kepadamu, dan bersyukur kepada Dewata Agung, karena apa yang kamu lakukan dapat mengharumkan nama baik negara Widarba yang telah melahirkan, mendidik dan membesarkanmu. Sebagai wanita kamu dapat menjadi contoh betapa suci cintamu kepada suamimu, dan betapa tulus kesetiaanmu kepada suamimu. Semoga apa yang sudah kamu kerjakan, menjadi  suri tauladan  bagi wanita di manapun dan kapanpun juga, tidak terbatas di negara Widarba saat ini. Ayah bundamu sangat bersyukur, karena kamu dapat menjadi contoh seorang istri yang setia kepada suaminya, kesetiaan yang tidak goyah oleh segala macam cobaan, tidak berkurang oleh bertubi-tubinya godaan, tidak surut oleh tekanan berbagai bahaya. Kesucian dan kesetiaanmu dalam memegang teguh sumpah janji mempertahankan cinta kepada suami, dapat dikatakan menambah kewibawaan negara dan rakyat negara Widarba,” lanjut Prabu Bima.

Kemudian mereka diam beberapa saat. Suasana menjadi hening. Hadirin tenggelam dalam pikiran dan angan-angan masing-masing. Kemudian keheningan itu  dipecahkan oleh kata-kata Prabu Nala, “Maafkan ananda Ayahanda Prabu, selama ini ananda telah menelantarkan anak-istri ananda karena kekhilafan ananda, kena bujuk-goda Hyang Kali dan Hyang Dwapara, sehingga ananda lupa segalanya, nekad mempertaruhkan segalanya di meja perjudian. Harta benda, kedudukan, negara, rakyat, dan kehormatan, semua habis dikocok di meja dadu. Tak bersisa kecuali Dewi Damayanti kekasih gegantilaning ati, yang pada akhirnya juga ananda tinggalkan di tengah hutan. Bukan karena tak sayang dan tak cinta lagi, tetapi justru karena cinta ananda, tak tega melihatnya ikut menderita karena dosa ananda. Ternyata sesuai harapan ananda, setelah berpisah, lama-lama ia pun bisa kembali bersatu dengan Ayahanda Prabu dan Ibunda Ratu serta  putera-puteriku. Sebetulnya ananda malu ikut mukti Ayahanda Prabu dan Ibunda Ratu di Widarba ini, tetapi tiada pilihan lain, barangkali dari sini ananda nantinya akan dapat merebut kembali negara ananda yang saat ini sedang dikuasai adi Prabu Puskara,” kata Prabu Nala merendah. 

“Tak perlu kamu memohon maaf kepadaku, menantuku Prabu Nala. Bahkan  aku juga perlu mengucapkan selamat, atas semua yang telah kamu lakukan, ketika sedang dalam keadaan sengsara. Karena kamu selalu menjunjung keperwiraan  dan keluhuran budi. Sekarang kamu telah bertemu dengan istri dan anak-anakmu, aku sangat bersyukur kepada Dewata Agung. Semoga kalian berdua selalu selamat, tulus dalam mengarungi samudera asmara, melajukan bahtera cinta yang bahagia, lestari kalian berdua dalam memerintah negeri, juga dalam mengasuh putera-puteri, tanpa halangan suatu apa,” ujar Prabu Bima kepada menantunya menyampaikan pujian dan harapan.

 “Kalian tidak perlu sungkan tinggal di keraton Widarba ini. Anggap saja rumah mertuamu ini sebagai rumahmu sendiri.  Apa saja yang kamu butuhkan kamu tinggal menyuruh kepada dayang-dayang, inang atau prajurit jaga, tentu akan segera disediakan,” kata Prabu Bima.

Berita timbulnya kembali Prabu Nala di keraton Widarba, membuat heboh segenap isi istana. Mereka bersyukur, puteri junjungannya Dewi Damayanti sekarang tidak kesepian lagi, karena suami yang selalu ditunggu-tunggu siang dan malam, kini telah datang bersatu dalam kehidupannya. Berita yang menghebohkan itu juga sampai ke pesanggrahan tempat Prabu Rituparna menginap. Tahu kalau Prabu Nala itu sesungguhnya adalah kusir yang setiap hari melayaninya karena telah beberapa tahun mengabdi kepadanya, hati Prabu Rituparna tidak dendam atau benci karena merasa telah dikhianati.  

“Maaf, Kanda Prabu Rituparna, maafkan aku kalau telah mengecewakan Kanda Prabu, memupus harapan Kanda Prabu yang sudah telanjur diupayakan jauh-jauh dari Ayodya sampai ke Widarba ini. Semua ini sesungguhnya tidak aku sengaja, meskipun aku tahu yang dituju adalah istriku,” ujar Prabu Nala dengan tulus meminta maaf  kepada mantan junjungannya ketika masih menyamar.

“Aku juga mohon maaf, Kanda Prabu Rituparna, raja Ayodya yang arif bijaksana. Semoga Paduka sudi ngluberaken lumunture sih pangaksami kepada diriku, yang sudah mempermainkan Kanda Prabu. Sebetulnya bukan maksudku mempermainkan perasaan Paduka yang mulia, tetapi itu semua hanyalah taktikku minta tolong kepada Paduka raja ber budi bawa leksana, untuk mengantarkan Kanda Prabu Nala sampai ke Widarba. Oleh karena itu, apabila hal ini dianggap tindakan yang salah, telah berani mempermainkan Kanda Prabu yang bijaksana, aku mohon maaf dengan hati yang tulus,” kata Dewi Damayanti merendah.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Rayi Dewi Damayanti dan Rayi Prabu Nala. Tidak ada rasa serik sedikitpun di hatiku terhadap kalian berdua. Aku turut merasa senang kalian telah bersatu kembali, mendapatkan kebahagiaan yang selama ini tergadai. Semoga kalian tetap lestari berjodoh, dan tidak berpisah-pisah lagi. Ananda juga mengucapkan selamat kepada rama Prabu Bima, karena sudah dapat bertemu dengan putera menantu yang terkenal berbudi pekerti luhur, arif dan bijaksana. Semoga Dewata Agung memberi perlindungan kepada kita semua,” ujar Prabu Rituparna menunjukkan kebesaran jiwanya.

”Aku terima ucapan selamatmu, anakku Prabu Rituparna yang arif bijaksana. Aku sungguh kagum dan sangat menghargai kebesaran jiwamu menerima keadaan ini dengan hati tulus tanpa rasa serik,” kata Prabu Bima.

“Sesungguhnyalah, Kanda Prabu Rituparna, aku merasa sangat berhutang budi kepada Kanda Prabu. Karena ketika aku masih mengabdi di Ayodya aku merasa mendapat belas kasih yang tiada terhingga, dan aku merasa mendapat perlindungan serta tercukupi semua yang aku butuhkan. Tetapi aku juga merasa bersalah, kebaikan yang Kanda Prabu berikan kepadaku, balasannya adalah aku justru memupus harapan Kanda Prabu,” kata Prabu Nala dengan tulus.

“Jangan berkata begitu, Rayi Prabu Nala. Aku ikhlas lila legawa menerima kejadian yang tidak aku sangka ini. Aku menyadari, aku memang tidak berjodoh dengan Dewi Damayanti. Rayi Prabu Nalalah yang berjodoh dengan Dewi Damayanti. Lagi pula semua yang aku lakukan sudah menjadi kewajiban kita semua untuk saling tolong-menolong. Apalagi pengabdian Rayi Prabu sebagai Bahuka, memang sangat menarik perhatianku, karena kelebihan-kelebihan yang Rayi tunjukkan. Bahuka pantas menerima perlakuan yang istimewa dariku. Tetapi kalau aku tahu Bahuka adalah Rayi Prabu Nala, aku tidak berani memperlakukan seperti itu. Bahkan aku merasa perlu mohon maaf kepada Rayi Prabu Nala, karena mungkin selama Rayi menjadi Bahuka abdiku, aku sering berkata dan bersikap kasar kepadamu. Barangkali aku sering memarahi Rayi Prabu yang aku sangka abdi biasa. Itu semua karena aku  tidak tahu, kalau sesungguhnya aku sedang berhadapan dengan Rayi Prabu Nala raja Nisadha yang agung, arif dan bijaksana,” ujar Prabu Rituparna.  

Mereka bertiga tertawa mengingat betapa lucunya Prabu Nala seorang raja besar, kemudian jatuh miskin dan hina dina, lalu dalam keadaan cacat dan serba kekurangan, bekerja sebagai abdi Prabu Rituparna, bertugas menyiapkan santapan sang prabu dan mengurus kuda-kuda  dan keretanya. Mereka bertiga tertawa membayangkan, bagaimana Prabu Nala menyamar menjadi Bahuka yang kotor terpaksa membersihkan kandang kuda dan membuang kotorannya.

Related posts:

No response yet for "Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 bagian V"

Post a Comment