Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 bagian VI


Petikan Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3:
12
DEWI  DAMAYANTI  BERTEMU  PRABU  NALA


“Bukankah benar Rayi Dewi Damayanti, siapa yang akan menyangka kalau Bahuka yang buruk rupa dan cacat, sebenarnya adalah penyamaran Rayi Prabu Nala?”  

“Tetapi meskipun aku harus mengerjakan tugas-tugas seorang abdi, sejujurnya aku sangat berterimakasih atas belas kasih dan perlindungan Kanda Prabu. Aku berdoa mohon kepada Dewata Agung, supaya Kanda Prabu mendapat balasan yang jauh lebih baik dan bermanfaat. Selain itu aku juga merasa masih berhutang budi kepada Kanda Prabu. Aku belum melaksanakan kesanggupanku untuk memberikan wirid dan pengetahuan untuk mengendalikan kuda dan menjalankan kereta kuda, agar dapat berjalan cepat tapi selamat. Makanya kalau Kanda Prabu menghendaki, sekarang juga ilmu itu akan aku berikan,” kata Prabu Nala kepada Prabu Rituparna.

“Aku kira baik juga wirid ilmu mengendalikan kuda dan cara-cara menjalankan kereta itu diberikan sekarang.   Saat ini kedudukan Rayi Prabu sudah bukan sebagai abdi lagi, tetapi sudah naik, setidaknya sebagai menantu raja besar, maka apabila Rayi Prabu memberikan wejangan wirid cara mengendalikan kuda dan cara menjalankan kereta supaya cepat dan selamat kepadaku, sudah tepat. Karena ini berarti aku tidak berguru kepada abdi, tetapi aku berguru kepada seorang raja atau menantu raja yang sederajat denganku,” ujar Prabu Rituparna.

Kemudian Prabu Nala memberikan wirid mengenai cara mengendalikan kuda dan cara menjalankan kereta, semuanya, tanpa ada yang disembunyikan. Sehingga mulai hari itu Prabu Rituparna mempunyai ilmu mengendalikan kuda dan menjalankan kereta yang sama dengan ilmu yang dipunyai Prabu Nala. 

Wejangan ilmu memilih, memelihara dan mengendalikan kuda yang diberikan Prabu Nala kepada Prabu Rituparna membuat puas hati Prabu Rituparna. Maka raja Ayodya itu merasa harus memberikan ilmunya tuntas pula kepada Prabu Nala.

”Karena Rayi Prabu telah memberikan ilmu katuranggan kuda dan cara mengendalikannya secara tuntas tak ada yang disembunyikan, maka aku pun merasa perlu untuk melengkapi ilmu aji penerawangan dan bermain judi, khususnya bermain dadu lebih sempurna, tanpa ada yang kusisakan. Maukah Rayi Prabu menerima ilmu itu seluruhnya untuk menyempurnakan ilmu yang sudah aku berikan kepada Rayi Prabu?” tanya Prabu Rituparna.

”Aku akan sangat berterimakasih kepada Kanda Prabu, kalau Kanda Prabu bersedia menyempurnakan ilmu yang sudah aku terima,” jawab Prabu Nala gembira.

”Tetapi pesanku, janganlah ilmu ini disalah-gunakan untuk bermain judi terus-menerus sebagai penjudi tulen, sehingga rakyat negara Nisadha terlantar. Gunakan ilmu ini hanya untuk mengambil kembali negara Nisadha yang sudah kalah dipertaruhkan. Apabila negara Nisadha sudah kembali ke tangan Rayi Prabu, lupakan ilmu berjudi yang Rayi Prabu miliki. Tinggalah ilmu hitung-menghitung yang perlu Rayi Prabu pelihara dan gunakan untuk kesejahteraan rakyat Rayi Prabu,” nasihat Prabu Rituparna. 

Raja Ayodya itu lalu memberikan kelengkapan wirid aji penerawangan dan cara-cara bermain dadu yang lebih sempurna. Sehingga semua ilmu tentang permainan judi, khususnya bermain dadu sudah diterima Prabu Nala tanpa ada yang kurang.

“Sekarang sudah tidak ada orang yang dapat mengalahkan Rayi Prabu Nala dalam bermain judi, khususnya bermain dadu,” ujar Prabu Rituparna. Prabu Nala merasa senang mendengar kata-kata itu. Ia percaya kalau Prabu Rituparna tidak berbohong dalam mengatakannya.

Dengan adanya tukar menukar ilmu itu maka persahabatan antara Prabu Rituparna dengan Prabu Nala menjadi semakin akrab. Mereka berdua menjadi sahabat karib yang kemitraannya bagaikan saudara kandung.

Karena merasa sudah cukup lama berada di negara Widarba, dan sudah cukup lama meninggalkan negara Ayodya, maka Prabu Rituparna mohon diri untuk kembali ke negaranya, karena rakyat dan para punggawa dan sentana sudah lama menanti. Prabu Bima sebagai tuan rumah, dan Prabu Nala sebagai mitra yang sudah masuk  saudara, tidak dapat menahannya lebih lama lagi. Mereka pun berpisah. Prabu Rituparna kembali ke negara Ayodya diikuti dua orang abdinya, Wrasneya sebagai kusir di depan dan Jinala sebagai pekatik duduk di belakang. Meskipun kereta kuda dikusiri Wrasneya, tetapi karena didampingi Prabu Rituparna yang sudah mendapat wejangan wirid cara mengendalikan kuda dan cara menjalankan kuda, maka laju kereta kuda itu tak ubahnya seperti ketika kereta itu dikusiri Prabu Nala ketika berangkat ke negara Widarba. Perjalanan pulang dari Widarba ke Ayodya cukup ditempuh dalam waktu satu hari perjalanan. Mereka sampai di Ayodya dalam keadaan sehat wal afiat dan selamat tak ada aral melintang menghadang di perjalanan.

Keluarga Sutardi MS Dihardjo (Arief Jaka Wicaksana, Wahyuni, Masdi MSD, Yuni Rahmawati Dewi)

Related posts:

No response yet for "Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 bagian VI"

Post a Comment