Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 5

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten

5. Pangeran Jaka Patahwan Meninggalkan Kraton

Berkat kemanjuran obat oles yang secara rutin setiap pagi, siang dan malam dioleskan ke kaki buntung Pangeran oleh tabib yang dengan setia merawatnya, dalam beberapa hari saja bekas luka hukuman potong itu kini sudah menjadi kering. Tidak ada lagi darah ataupun nanah keluar dari bekas luka itu. Bahkan karena Pangeran memakan makanan bergizi, ditambah jamu-jamuan yang harus diminum, dan daya tahan tubuh Pangeran yang kuat, kakinya sudah tidak terasa sakit lagi. Daging dan kulit pun mulai tumbuh menutupi tulang pada bekas luka potong. 

Namun demikian, kaki yang tanpa telapak kaki itu tidak dapat digunakan untuk menapak ke tanah. Selain karena panjangnya sudah tidak sama dengan kaki kirinya, sehingga kalau digunakan untuk menapak akan tampak timpang, juga karena daging dan kulit yang masih baru itu terasa ngilu kalau dipergunakan untuk menapak di tanah. Oleh karena itu, Sri Ratu memerintahkan tukang kayu istana untuk membuatkan tongkat penyangga tubuh yang dijepitkan di ketiak kanan. Agar kuat dipilihkan bahan dari kayu asam yang sudah galih untuk pembuatan tongkat tersebut.

Sang Pangeran mencoba berjalan dengan menggunakan tongkat itu. Mula-mula kesulitan, hingga jalannya hanya dapat maju dengan amat lambatnya. Ketiaknya pun terasa sakit. Tetapi setelah beberapa hari berlatih, kini jalannya sudah dapat cepat, meskipun masih kalah dengan orang berlari.

Selama sang Pangeran dalam perawatan tabib dan setelah Pangeran mendapat latihan menggunakan tongkat penyangga tubuh untuk berjalan, Ki Sidagora abdi kinasihnya selalu setia mendampinginya. Abdi yang setia itu tak hendak berpisah dengan tuannya barang sekejap mata pun. Di mana ada Pangeran di situ ada Ki Sidagora. Bahkan saat tidur pun ia tidak akan memejamkan mata terlebih dahulu, sebelum Pangeran lelap tertidur. Tatkala Pangeran merintih-rintih kesakitan  setelah pengaruh boreh pati rasanya berangsur lenyap, Ki Sidagora semalaman tak hendak tidur. Dengan sabar ia menunggui tuannya dan memberikan pelayanan apa yang diperlukan. Bolak-balik ia memanggil tabib untuk memberikan obat pengurang rasa sakit.

Suatu hari Ki Sidagora melihat bendaranya sedang duduk termenung di taman. Tampak sekali pangeran yang malang itu sedang merenungi nasibnya yang kurang beruntung. Ki Sidagora berjalan mendekati bendaranya untuk menghibur hatinya.

“Ampun Pangeran junjungan hamba. Kenapa Pangeran kelihatan bersedih hati begitu? Apa yang sedang Pangeran pikirkan?” tanya Ki Sidagora setelah dekat di samping bendaranya sambil duduk pelan-pelan.

Pangeran Jaka Patahwan terkejut mendengar pertanyaan dari orang yang tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya. Untung Pangeran sudah hapal dengan pemilik suara yang bertanya kepadanya, sehingga Pangeran segera mengenali. Namun pertanyaan itu telah membuyarkan lamunannya.

“Paman, aku sekarang sudah menjadi orang buntung. Meskipun aku sekarang dapat berjalan dengan tongkat penyangga, tapi tetap saja aku ini orang buntung, orang cacat yang tidak sempurna. Aku malu, paman! Tak sepantasnya seorang buntung kaki, yang buntungnya karena hukuman potong, tinggal di istana menjadi pewaris tahta,” ujar Pangeran Jaka Patahwan masygul. 

“Ampun, Pangeran. Tidak seharusnya Pangeran terlalu bersedih hati. Meskipun Pangeran buntung kaki, dan buntungnya karena  hukuman potong, tetapi semua orang tahu kalau sebenarnya Pangeran tidak bersalah. Pangeran bukanlah seorang durjana yang pantas mendapat cap atau tanda hukuman potong sebagai peringatan. Tetapi Pangeran justru seorang mulia karena bermaksud menyelamatkan orang yang dapat mendapatkan tanda itu. Hanya saja Pangeran sedang kena sial, sehingga tanda yang seharusnya diterima orang lain justru menempel kepada Pangeran. Yakinlah, Pangeran, bukan kehinaan yang ditujukan kepada Pangeran lewat pandang mata kawula, tetapi kemuliaanlah yang akan mereka sanjungkan kepada Pangeran,” ujar Ki Sidagora menghibur untuk menguatkan hati bendaranya.

“Kemuliaan atau kasihan kepada orang cacat yang malang ini, Paman?” sahut Pangeran Jaka Patahwan.

“Mungkin juga. Rasa kasihan dan penyesalan, kenapa justru Pangeran yang baik hati dan penuh rasa welas asih ini harus tertimpa musibah yang seharusnya tidak perlu terjadi. Tetapi kalau semuanya kita kembalikan kepada takdir Hyang Widhi, maka kita harus dapat menerimanya dengan legawa. Ini semua pasti ada hikmahnya. Mungkin maksudnya agar kerajaan kita selalu dikenang sepanjang jaman sebagai kerajaan yang adil dan makmur, yang rajanya menegakkan keadilan dengan tegas tanpa pandang bulu,” kata Ki Sidagora.

“Hanya saja, kenapa harus aku yang dikorbankan untuk keluhuran dan kemuliaan Kerajaan Wiratha dan Ibunda Ratu,” sahut Pangeran. 

“Sekali lagi, tak usah Pangeran terlalu menyesali diri. Barangkali ada hikmah yang belum kita ketahui dari kejadian ini, Pangeran. Oleh karena itu marilah kita syukuri dan kita cari hikmah yang terkandung di balik ini semua,” hibur Ki Sidagora.

Pangeran Jaka Patahwan kembali berdiam diri. Nampak sekali dirinya belum bisa legawa menerima kejadian yang menimpanya. Perasaan sedih, kecewa dan geram masih menguasai dirinya. Kenyataan bahwa dirinya sekarang menjadi orang cacat berkaki buntung, mungkin seumur hidup, telah membuatnya menyesali semua yang telah terjadi. Semua ini adalah gara-gara tindakan Raja Kalingga yang kebablasan dalam memilih calon menantu. Hanya menginginkan yang terbaik bagi dirinya sendiri, tetapi tidak memperhitungkan bahwa apa yang dilakukan sangat merugikan bagi orang lain. Pangeran yang merasa dirinya sebagai orang sial yang teraniaya itu merasa geram dan dendam kepada Raja Kalingga yang telah menyebabkan dirinya cacat seumur hidup.

“Paman Sidagora, aku merasa malu kalau keluar istana dan dilihat para kawula Wiratha. Mereka akan melempar pandang kasihan kalau melihat diriku yang cacat berjalan timpang di hadapan mereka. Tetapi aku juga tidak akan betah kalau harus selalu sembunyi di dalam tembok keraton. Lebih-lebih kalau aku melihat para senopati dan para pangeran lain berjalan dengan gagahnya di atas dua kakinya yang utuh dan perkasa. Hatiku merasa panas, iri dan sakit hati. Aku iri pada keberuntungan mereka, dan sakit hati kepada nasib sial yang menimpaku,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

Ki Sidagora mengernyitkan keningnya. Ia belum tahu ke mana arah pembicaraan bendaranya. Namun ia tidak berani bertanya menyela. Barangkali Pangeran ingin menumpahkan isi hatinya, dan hanya butuh didengar. Maka abdi yang setia itu siap menerima muntahan unek-unek yang terpendam di hati bendaranya. Apalagi dirinya merasa bersalah kenapa dulu membiarkan bendaranya berlari mendahului, tanpa sempat mencegahnya, sehingga kecelakaan dan kesialan menimpa bendaranya.

“Paman, aku ingin mengembara ke luar istana. Aku ingin melakukan tapa brata, memohon kesembuhan kepada Dewata Agung. Aku yakin, kalau aku memohon dengan sungguh-sungguh dengan sepenuh hati, disertai keprihatinan dalam tapa brata untuk mendekatkan diri kepada Dewata Agung, tentu permohonan untuk pulihnya kakiku seperti sedia kala, akan terkabul,” ujar Pangeran Jaka Patahwan penuh keyakinan.

“Tapi Pangeran, selama ini belum pernah ada, mohon ampun, kaki yang buntung tumbuh menjadi utuh kembali,” ujar Ki Sidagora agak takut-takut.

“Tidak ada yang mustahil kalau Dewata Agung sudah menghendaki! Dan kehendak Dewata Agung hanya akan sesuai dengan kehendak kita, kalau kita terus-menerus memintanya dengan sungguh-sungguh, dengan mengorbankan kesenangan dan kenikmatan yang membuat kita lalai,” ujar Pangeran meyakinkan.

Ki Sidagora mengangguk-anggukkan kepala. Ia tidak berani membantah. Abdi setia itu melihat kekuatan yang luar biasa yang terpancar dari kata-kata junjungannya yang diucapkan dengan penuh keyakinan.

“Oleh karena itu, aku ingin kamu menyertaiku mengembara ke luar istana malam ini juga. Wiratha yang saat ini kurasakan seperti penjara yang mempermalukanku, kita tinggalkan. Kita berboncengan mengendarai kudamu. Kamu pegang kendali di depan, sedang aku membonceng di belakangmu,” kata Pangeran.

“Ampun Pangeran, apa tidak lebih baik kalau Pangeran mohon ijin dan mohon doa restu kepada Gusti Ratu terlebih dahulu?” saran Ki Sidagora.

“Tidak usah, Paman! Kalau aku minta ijin kepada Ibunda Ratu, tentu aku tidak akan diijinkan. Atau kalaupun diijinkan, tentu aku akan disertai pengawalan para prajurit yang hanya akan merepotkanku saja,” sahut Pangeran.

“Pengawalan prajurit secukupnya, itu tanda kalau Gusti Putri sayang dan memperhatikan keselamatan dan keamanan Pangeran,” kata Ki Sidagora.

“Kepergianku ini adalah untuk menenangkan diri yang saat ini sedang galau karena mendapat musibah yang tidak aku inginkan. Selain itu aku membutuhkan ketenangan dan kekhusyukan untuk bertapa di suatu tempat yang sepi, untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi. Jadi aku tidak ingin ada banyak orang yang hanya akan membuat gaduh suasana. Selain itu, aku bertekad tidak akan kembali ke istana Wiratha, sebelum kakiku pulih kembali seperti sedia kala. Kalau aku diikuti banyak prajurit, kasihan mereka dan keluarganya yang harus berpisah entah sampai kapan. Sekarang tinggal paman Sidagora pilih, menyertai aku mengembara melakukan tapa brata ke luar istana Wiratha atau paman tetap tinggal di istana dengan janji tidak akan membocorkan rencanaku kepada siapapun, termasuk kepada Ibunda Ratu?” tanya Pangeran Jaka Patahwan kemudian.

“Ampun Gusti Pangeran! Hamba pilih ikut Pangeran ke mana Pangeran pergi,” sahut Ki Sidagora buru-buru. Ia tidak mau dikatakan sebagai abdi yang tidak setia. Maka begitu Pangeran menyodorkan dua pilihan yang sebetulnya sama sulitnya, ia lebih memilih mengikuti Pangeran yang menjadi momongannya sejak masih kecil.

Maka malam itu juga dengan bekal seadanya dua orang bendara dan abdinya itu keluar istana dengan diam-diam tanpa berpamitan kepada Sri Ratu Warasingha terlebih dahulu. Hanya selembar daun lontar berisi kata-kata permohonan ijin yang amat singkat yang ditinggalkan Pangeran Jaka Patahwan di atas meja kerjanya yang ditinggalkan Pangeran sebagai kata pamitan kepada Sang Prabu Puteri Wara Singha. Setelah sampai di luar istana  mereka mampir ke rumah Ki Sidagora untuk mengambil kudanya.

Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 5"

Post a Comment