Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 6

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten.

6. Pengembaraan Pangeran Jaka Patahwan

Si-Dawuk, kuda Ki Sidagora hadiah dari Sri Ratu Warasingha memang kuda pilihan, kuda itu melaju dengan kencangnya melewati jalan-jalan kotaraja Wiratha. Meskipun membawa beban berat dua orang dewasa yang berbadan tinggi besar, kuda yang gagah dan kekar itu mampu membawa penunggangnya melesat cepat bagaikan terbang seperti tak membawa beban saja. Hari masih larut malam ketika mereka meninggalkan kotaraja, namun demikian tidak ada kecurigaan apa-apa dari orang-orang yang kebetulan berpapasan, didahului atau pun kebetulan melihat ketika mereka sedang duduk-duduk di pinggir jalan atau di cakruk gardu ronda. 

Kerajaan Wiratha adalah Kerajaan yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja. Sudah lama tidak ada pencuri, perampok, pembegal atau perbuatan durjana lainnya. Pos ronda tidak lagi menjadi tempat orang berjaga-jaga kalau-kalau ada pencuri yang menyatroni kampungnya, tetapi kini sudah menjadi tempat orang berkumpul, saling bertemu, bersilaturahim, saling asih, asah, asuh, atau berdiskusi membicarakan rencana pembangunan untuk memajukan masyarakat di sekitarnya. Maka melintasnya seekor kuda yang membawa dua orang penunggangnya tidak menimbulkan kecurigaan mereka. Mereka mengira, yang melintas dengan cepat itu mungkin hanya orang-orang yang terburu-buru untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan karena waktunya yang sudah mepet, begitu pikir mereka.

Apalagi Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora sengaja menyamar memakai pakaian orang kebanyakan, tidak memakai pakaian bangsawan dan pakaian abdi dalem yang mempunyai ciri khusus, sehingga tidak menarik perhatian orang. Penyamaran ini dimaksudkan agar kepergiannya tidak mudah dilacak, kalau besok diketahui Pangeran telah hilang, pergi dari istana Kerajaan Wiratha. Biarlah Ibunda Ratu Warasingha mengikhlaskan kepergian dirinya setelah menemukan selembar surat pamitan yang ditaruh di atas bantal tempat tidurnya.

Setelah melewati wilayah kotaraja Ki Sidagora memperlambat laju kudanya. Kuda berjalan tidak terlalu kencang, tetapi juga tidak lambat memasuki pedukuhan dan persawahan. Pangearan calon pengganti raja itu memang memerintahkan abdinya untuk memperlambat laju kudanya, dengan maksud agar dirinya bisa lebih jelas melihat kehidupan rakyatnya yang hidup di pedesaan. Apalagi hari sudah menjelang pagi. Matahari sebentar lagi akan menampakkan diri menyinari perkampungan dan persawahan, menebarkan harapan hidup yang lebih baik hari ini dan hari-hari yang akan datang. 

Hari terus berjalan. Matahari bersinar menampakkan diri di sela-sela rimbun dedaunan pinggir desa. Pangeran Jaka Patahwan yang meminta Ki Sidagora memperlambat laju kudanya, kagum melihat kesuburan tanah sawah di pedesaan. Ada sebagian yang sudah ditanami padi. Bahkan saat ini sudah menguning, menunggu saat panen tiba. Tetapi ada pula yang saat panen sudah lewat. Kini saatnya mengolah tanah. Pak tani dengan tekun membajak sawahnya. Ada yang sedang meluku, membuat tanah yang terbajak mata lukunya membentuk bongkahan-bongkahan tanah berlarik-larik indah dipandang. Pak tani dengan tekun dan sabar mengarahkan sepasang kerbaunya agar berjalan lurus teratur, sehingga tidak ada tanah yang tertinggal tak terbajak. Sesekali petani itu menyuruh kerbaunya berhenti, karena pak tani melihat ada belut menggeliat di antara bongkahan tanah yang dihasilkan mata bajaknya. Dengan cekatan pak tani menangkap belut itu, menyabetkannya ke kayu bajak, lalu menempelkannya ke topi caping yang dipakainya. Kemudian sambil nembang lagu sekenanya, tapi nampak laras juga, pak tani mengajak kerbaunya berjalan lagi melanjutkan membajak sawah.

Di petak lain, Pangeran Jaka Patahwan melihat pak tani yang juga sedang membajak sawahnya. Tetapi petani ini sedang menggaru. Larikan-larikan bongkahan tanah, kini diterjang mata garu pak tani. Kayu yang panjangnya beberapa depa, yang di bawahnya tertancap teratur beberapa besi mata garu, mencacah bongkahan-bongkahan tanah yang dihasilkan mata luku hingga lembut. Agar tanah yang dibajak dapat lebih cepat menjadi lembut, pak tani naik di atas ekor garu yang terbuat dari bulatan bambu. Hanya sesekali pak tani turun kalau sudah sampai di sudut petak sawah untuk mengangkat ekor garu, membelokkan jalannya kerbau. Sambil menjaga jalannya sepasang kerbau yang menyeret garu, pak tani nembang nglaras yang syairnya berisi ajakan agar kerbaunya menurut, mau berjalan sesuai yang diingnkan pak tani.

“Paman Sidagora, kerajaan kita memang betul-betul kerajaan yang gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja. Lihatlah! Tanah yang subur diolah dengan tekun dan sabar oleh para petani yang hidupnya juga tampak tenang dan tentram,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Ini semua berkat keamanan, ketenangan dan ketentraman yang sudah dapat diciptakan dan dipelihara oleh pemerintahan Ibunda Paduka Sang Raja Putri beserta para punggawanya,” sahut Ki Sidagora. “Oleh karena itu Pangeran, kalau nanti Pangeran sudah ganti memegang kekuasaan, harus dapat mempertahankan keadaan yang sudah aman tentram ini agar para kawula dapat bekerja dengan tenang memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk membangun masa depannya,” ujar pengasuh Pangeran itu selanjutnya.

“Benar, Paman. Aku harus bisa mempertahankan dan meningkatkan keadaan yang sudah baik ini menjadi lebih baik lagi. Barangkali ini suatu beban, tapi aku menganggapnya tantangan. Untuk itu aku membutuhkan bekal untuk lebih mengenal kawulaku agar aku mengetahui apa harapan mereka. Juga untuk mengetahui potensi apa yang ada pada mereka yang dapat aku bantu untuk mengembangkannya kelak.”

“Tetapi meskipun keadaan sudah tenang, aman dan tentram, Pangeran,” kata Ki Sidagora, “kita tetap harus waspada terhadap ancaman, baik dari luar maupun dari dalam. Bisa saja kerajaan kita yang nampak subur makmur dan kaya raya menjadi incaran kerajaan lain. Hanya saja karena pemerintahan kita masih kuat, prajurit kita terlatih dan selalu berjaga-jaga menjaga keutuhan dan kedaulatan kerajaan kita, kerajaan asing tidak berani mengganggu kerajaan kita. Coba kalau pemerintahan kita lemah, para pangeran dan bangsawan selalu berebut kekuasaan, para punggawa memeras rakyat untuk memperkaya diri sendiri, perjudian merajalela, pencurian dan perampokan terjadi di mana-mana, ditambah para prajurit lemah tidak berdaya mengatasi kekacauan yang ditimbulkan oleh situasi seperti itu, tentu kerajaan asing akan berlomba-lomba menjajah kerajaan kita, entah terang-terangan dengan mengirimkan pasukan menyerang kerajaan kita, atau  melalui bantuan kepada salah satu pihak pangeran atau bangsawan yang sedang berebut kekuasaan dengan imbalan sebagian kekuasaan.”

“Benar apa katamu, Paman. Meskipun kerajaan aman dan damai, kekuatan prajurit tetap harus dijaga untuk menjaga wibawa dan menjadi perisai dari rong-rongan pihak-pihak yang ingin meruntuhkan kerajaan kita. Untuk itulah kepergianku dari istana kali ini selain untuk memohon pulihnya kakiku yang buntung juga untuk bertapa menambah kesaktian untuk membentengi kerajaan kita,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

Begitulah, perjalanan Pangeran Jaka Patahwan bersama Ki Sidagora di sepanjang jalan diwarnai dengan diskusi mengenai hal-hal yang menarik hati yang dilihat dalam perjalanan. Apabila Pangeran melihat sesuatu hal yang baru diketahui yang menarik perhatiannya, untuk menambah  pengertian dan wawasan, tak jarang Pangeran mengajak berhenti lalu bertanya kepada orang yang ditemuinya. Mereka bertanya jawab dan bahkan berdiskusi. Namun sejauh itu Pangeran tetap menyamar dan tak menunjukkan jati dirinya, sehingga orang yang diajak berbicara tidak merasa sungkan. Berhari-hari Pangeran dan abdi kinasihnya mengelilingi wilayah pedesaan. Kadang-kadang di daerah persawahan, melihat kehidupan para petani, kadang-kadang di pasar melihat kehidupan para pedagang dan orang-orang yang berjual-beli. Sambil mencari tahu bagaimana roda perekonomian digulirkan di tingkat bawah, Pangeran ingin mengetahui seberapa tinggi tingkat kejujuran kawulanya dalam berjual beli. 

Banyak hal yang dapat dipelajari dari kehidupan para petani, sejak dari bagaimana mereka memperoleh air untuk mengoncori sawahnya sepanjang tahun, bagaimana mereka mengolah tanah dan memelihara tanaman, menjaganya dari serangan hama, sehingga dapat menghasilkan hasil bumi yang sangat diperlukan, tidak hanya oleh mereka sendiri tetapi juga sangat diperlukan oleh orang-orang kota, seperti padi, sayur-sayuran, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Bahkan juga sampai kepada bagaimana cara mereka memasarkannya di kota dan bagaimana cara mereka menyimpan persediaan untuk berjaga-jaga di musim paceklik.

Demikian pula dengan kehidupan para pedagang, banyak hal yang dapat dipelajari oleh Pangeran. Untuk mengetahui lebih dekat kehidupan para pedagang, Pangeran berpura-pura menjadi pedagang kecil dibantu Ki Sidagora. Dengan cara ini Pangeran dapat mengetahui lika-liku orang berjual beli. Pangeran dapat mempelajari bagaimana caranya menjadi pedagang yang jujur, mendapat untung tidak berlebih-lebihan tetapi dagangan laris manis dan pembeli puas. 

Pangeran juga melihat bagaimana petugas pemungut pajak melaksanakan tugasnya. Ternyata mereka melaksanakannya dengan santun, tanpa ancaman ataupun paksaan, karena para pedagang di pasar sudah tahu kewajibannya. Sebelum didatangi petugas mereka sudah menyiapkannya dari hasil penyisihan untung yang didapat setiap hari. Apalagi para petugas pemungut juga hanya memungut sesuai ketentuan, tidak berusaha menaikkan untuk keuntungannya sendiri. Pangeran Jaka Patahwan merasa bangga mengetahui kejujuran para pegawainya dan kesadaran para kawulanya.

Setelah merasa cukup mempelajari kehidupan para petani dan para pedagang di wilayah Kerajaan Wiratha, Pangeran Jaka Patahwan mengajak Ki Sidagora melanjutkan perjalanan ke arah selatan sesuai firasat yang diterimanya  dalam mimpinya untuk memperoleh kesembuhan. Apabila menemukan goa yang cukup besar, Pangeran memerlukan singgah untuk bertapa. Di dalam goa yang gelap, sepi dan nampak angker itu Pangeran bertapa untuk memperoleh kesaktian dan berdoa memohon karunia kesembuhan agar kakinya yang buntung dapat pulih kembali seperti sedia kala. Apabila dirasa cukup bertapa belum mendapat petunjuk, Pangeran mengajak abdi yang setia menungguinya di luar goa untuk melanjutkan perjalanan. Sudah beberapa goa mereka singgahi, kesaktian Pangeran pun sudah bertambah-tambah, tetapi petunjuk di mana dan dengan cara bagaimana Pangeran dapat memulihkan kakinya belum juga didapat. Namun Pangeran tetap sabar dan yakin bahwa pertolongan Hyang Widhi pasti akan tiba. Hanya saja saat ini belum saatnya. 

Agar tidak menjadi beban bagi Ki Sidagora, di sepanjang jalan Pangeran Jaka Patahwan berlatih mengendalikan kuda di depan dengan menggunakan kaki yang tidak sempurna. Ternyata meskipun kaki Pangeran buntung sebelah, bagi pemuda yang trampil dan cekatan itu latihan mengendarai kuda tidak memerlukan waktu lama. Sebentar saja Pangeran sudah dapat menjaga keseimbangan, sehingga dengan mudah kuda dapat dikuasai, melaju sesuai dengan keinginannya. Apalagi sebelum buntung kakinya Pangeran adalah penunggang kuda yang lihai. Dengan rajin berlatih lama-lama Pangeran merasakan bahwa buntung kakinya bukan lagi menjadi halangan gerak langkahnya. 

Karena merasa sudah dapat mengendarai kuda sendiri, Pangeran Jaka Patahwan lalu membeli kuda sendiri di pasar kuda. Dipilihnya kuda yang tinggi, kuat dan kekar, karena Pangeran mengira perjalanannya ini akan memakan waktu lama, dan belum diketahui sampai kapan dan di mana akan berakhir. Oleh karena itu Pangeran memerlukan kuda yang dapat memperlancar perjalanannya, bukan kuda yang selalu ketinggalan kalau dijajarkan dengan si Dawuk, kuda Ki Sidagora yang memang kuda pilihan. 

Setiap ada kesempatan, di tempat yang sepi tidak dilihat orang lain, Pangeran dan Ki Sidagora sering menggunakan tempat lapang yang ditemui untuk berlatih olah kanuragan.  Pangeran pun makin lihai menggunakan tongkat penyangga tubuhnya, bukan hanya untuk membantu melangkahkan kaki, tetapi juga sebagai senjata dalam berlatih olah kanuragan. Berbagai jurus ilmu silat yang pernah dikuasainya, dilatih kembali dan dimatangkan. Bahkan Pangeran juga menciptakan dan melatih jurus-jurus baru disesuaikan dengan kondisi tubuhnya yang timpang.

*

Tak terasa perjalanan Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora sudah melewati wilayah perbatasan. Kini mereka sudah masuk ke pinggiran wilayah Kerajaan Kalingga. Memasuki wilayah kerajaan tetangga ini nampak suasananya agak berbeda. Meskipun Kerajaan Kalingga juga kerajaan besar seperti Kerajaan Wiratha tetapi kehidupan rakyatnya tidak setenang-tentram seperti di kerajaannya. Mungkin keamanannya pun tidak seaman Kerajaan Wiratha yang dijaga oleh hukum yang tegas yang ditegakkan dengan pedang dan kesadaran hukum para kawulanya. Benar juga, belum jauh memasuki wilayah Kerajaan Kalingga mereka sudah mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan yang menyangkut kemanan dan keselamatan hidupnya.

Saat itu Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora merasakan perutnya  sudah berkerucukan minta diisi. Kebetulan di pinggir jalan di sebuah kampung mereka menemukan sebuah warung makan yang cukup besar. Pangeran mengajak abdinya untuk turun, beristirahat sambil mengisi perut dan membeli perbekalan sekedarnya untuk persediaan di jalan. Mereka measuki warung setelah menambatkan kuda-kuda mereka di pohon waru yang tumbuh di depan warung. 

“Maaf, mau makan apa, Tuan?” tanya pemilik warung.

“Apa sajalah, Bi, yang penting dapat sekedar mengenyangkan perut kami,” sahut Pangeran.

“Gado-gado mau, Tuan? Minumnya teh manis?” tanya pemilik warung lagi. 

“Boleh juga,” jawab Pangeran.

Pemilik warung segera meracik kobis, buncis, wortel dan sayur lain yang sudah matang, lalu mengaduknya dengan sambal kacang, kemudian menaburinya dengan kerupuk kecil-kecil khusus untuk gado-gado. Setelah selesai dua piring, pedagang kecil itu lalu menyajikannya kepada kedua tamu pembelinya. Bibi pemilik warung lalu berjalan menuju ke bangku Pangeran dan Ki Sidagora yang duduk agak jauh di dekat pintu masuk sambil mencari angin. Tetapi sebelum sampai ke hadapan Pangeran, masih beberapa langkah, tiba-tiba salah satu dari empat orang yang duduk di tengah-tengah mereka menjulurkan kakinya untuk menjegal kaki yang sedang berjalan. Orang berwajah sangar itu melakukan pekerjaan yang dapat mencelakai orang lain itu sambil dengan kasar tangannya berusaha merampas dua piring gado-gado di dua tangan pemilik warung dan   berkata, “Aku dulu, Nyai!! Aku nambah dua piring lagi!” Karuan saja bibi penjual gado-gado itu akan jatuh terjerembab ke depan. 

Tetapi sebelum bibi penjual gado-gado itu terjerembab, dan sebelum dua piring gado-gadonya beralih ke tangan laki-laki kasar yang akan merampasnya, dengan isyarat kedipan mata, Ki Sidagora sudah bergerak membantu Pangeran Jaka Patahwan. Tahu-tahu tubuh bibi pemilik warung sudah berpindah berdiri di depan pintu masuk, dalam perlindungan Ki Sidagora. Dan dua piring gado-gado sudah berpindah di kedua tangan Pangeran Wiratha. Kemudian Pangeran mengulurkan satu piring kepada Ki Sidagora. Dua orang asing itu lalu memakannya dengan nikmatnya seperti tidak pernah terjadi sesuatu. 

Semua orang yang ada di warung itu terkejut melihat kelakuan dua orang asing yang telah melakukan pekerjaan yang sangat berani dengan cepat, tetapi kemudian dapat bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Ke-empat orang berwajah sangar, lebih-lebih laki-laki yang tadi berusaha merebut gado-gado dari tangan pemilik warung, terperangah. Mereka terkejut, tidak menyangka ulahnya yang biasanya tidak ada orang yang berani menghalangi, kini dengan mudah dan berani digagalkan seorang pemuda buntung dan seorang tua yang berwajah agak bloon. 

“Hai pemuda buntung! Jangan gumendhung jual lagak di sini kamu!” teriak orang kasar yang gagal menjegal pemilik warung, “Gado-gado itu sudah aku minta untuk menambah makanku yang belum kenyang, kenapa kamu merebutnya?” 

“Kamu jangan memutar-balikkan fakta. Yang berusaha merebut itu kamu, bukan aku! Orang bijak mengatakan, berhentilah makan sebelum kamu merasa kenyang. Tetapi kenapa kamu sudah mendapat bagian satu piring, masih juga akan merampas dua piring bagian orang lain? Memangnya yang butuh makan itu hanya kamu sendiri?” balas Pangeran Jaka Patahwan sengit.

“Berani kamu membantah aku ya, Pemuda buntung!  Belum tahu kamu kepadaku?” gertak orang itu.  
“Kenapa aku harus tahu namamu? Apakah setiap orang yang datang ke warung ini untuk makan harus tahu nama orang-orang yang datang ke sini untuk makan juga? Aneh! Aku kira itu tidak perlu. Bagiku yang penting kita sama-sama menghormati orang lain yang juga datang ke sini untuk keperluan yang sama. Tetapi kita harus berusaha mencegah kalau ada orang lain yang sama-sama datang ke sini namun justru untuk merampas hak orang lain, apalagi kalau nanti ternyata orang itu justru melalaikan kewajibannya,” ujar Pangeran Jaka Patahwan menyindir.

“Keparat!” umpat orang kasar yang mengaku perampok, “Kamu menyindir aku ya? Kamu sudah tahu kalau aku ini perampok yang malang melintang di daerah ini, dan suka jajan tanpa membayar?” 

“Aku belum tahu kamu dan kawananmu. Aku juga belum kenal siapa namamu. Tetapi aku bisa menduga, melihat dandanan dan penampilanmu, lebih-lebih setelah mengetahui kelakuanmu baru saja tadi. Barangkali benar apa yang kamu katakan, kamu dan kawananmu adalah perampok kampung yang tak tahu aturan,” ujar Pangeran.

“Keparat!” umpat perampok itru lagi, “Berani benar kamu merendahkan kami sebagai perampok kampung!”

“Hai pemuda buntung, kata-katamu membuat panas telingaku. Kalau kamu memang ingin menjadi pahlawan di sini, ayo kita keluar, diadu siapa yang lebih jago di antara kita?” tantang si perampok.

“Nanti dulu! Aku belum selesai makan. Tidak adil rasanya, kamu sudah makan satu piring, meskipun katamu kamu belum kenyang, sedangkan aku makan baru saja mendapat tiga suapan sudah kamu ajak berbantahan, sekarang bahkan kamu ajak berkelahi. Begini saja, kamu toh bukan pimpinan kawanan perampok ini, bukan? Kalau kamu sabar, tunggu aku selesai makan baru kita berkelahi. Tetapi kalau kamu tidak sabar, biar kamu dihadapi kawanku, paman Sidagora yang sekarang sudah selesai makan. Biar nanti setelah selesai makan, aku akan hadapi pimpinanmu atau yang lainnya,” kata Pangeran yang juga merupakan perintah kepada Ki Sidagora. Yang mendapat perintah tidak perlu menunggu penjelasan lebih lanjut segera meloncat ke halaman warung. Perampok yang sebetulnya kurang puas tidak berkesempatan memberangus mulut pemuda buntung  yang dirasakan sudah merendahkan dirinya itu, terpaksa mengikuti meloncat ke halaman.

Melihat musuhnya sudah tua dan berwajah agak bloon, perampok yang sudah kenyang pengalaman berkelahi itu merasa kecewa. Kenapa orang tua ora pakra, ngidak telek wae ora pendeng, sekarang justru dihadapkan kepada dirinya sebagai lawan. Tega betul pemuda buntung itu mengorbankan kawannya. Lebih  mendidih lagi darahnya ketika ia melirik ke warung, dirinya melihat pemuda yang dianggapnya besar mulut itu kini enak-enak makan gado-gado dengan lahapnya. 

Sementara itu orang-orang yang ada di dalam warung, termasuk kawanan perampok yang lainnya sudah turun ke halaman, melingkari arena perkelahian.

Perampok itu mau tertawa ketika melihat kuda-kuda lawannya yang sudah tua itu tampak kurang kokoh. Tetapi ketika menyadari kalau dirinya kini sedang diremehkan karena dihadapkan dengan orang tua yang bukan tandingannya, tawa itu disimpannya, diganti geraman amarah yang amat sangat. Maka sejurus kemudian kakinya sudah meloncat sambil tangannya terayun deras ke arah kepala. Inginnya dengan sekali ayun, musuhnya sudah terjungkal dengan kepala pecah. Tetapi ternyata pukulannya mengenai udara kosong. Dengan menarik kepalanya ke samping Ki Sidagora sudah terlepas dari pukulan tangan yang diayunkan dengan sekuat tenaga itu. Bahkan kemudian tahu-tahu perampok itu merasakan perutnya terasa sakit, kepalanya pun benjut dan bocor. Tubuhnya sudah tersungkur di bawah pohon. Ternyata telapak kaki Ki Sidagora yang sekeras alugoro telah menendang perutnya yang terseret gerakannya sendiri yang luput mengenai sasaran, hingga jatuh terlempar membentur pohon perindang di tengah halaman. 

Perampok yang sudah kenyang pengalaman berkelahi itu, setelah menyadari keadaannya, dan sudah dapat mengukur kemampuan lawannya, segera berdiri sambil meletupkan umpatan-umpatan kasar. Sekarang dirinya sudah tidak mau meremehkan lawannya lagi. Ia segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi lawan yang ternyata juga tangguh, tidak sesuai dengan penampilannya yang tidak seberapa. Ki Sidagora pun sadar kalau perampok yang sudah terkena batunya itu akan lebih berhati-hati dalam menyerang dan menangkis serangannya. Maka ia pun lebih mempersiapkan diri.

“Pak tua, ternyata boleh juga kemampuan kanuraganmu. Meskipun kamu tadi sudah dapat menjatuhkan aku, kamu jangan bersenang-senang dulu. Kamu akan rasakan seranganku yang membadai,” sambil berkata begitu perampok itu melancarkan serangannya susul-menyusul. Tendangan kaki dan pukulan tangannya mengarah ke bagian-bagian tubuh yang berbahaya.  Bagian kepala, bagian dada, bagian ulu hati, dan bahkan bagian selangkangan menjadi sasran tendangan dan pukulan perampok ganas itu. Tetapi sejauh ini serangan-serangan itu dapat dibendung oleh pertahanan Ki Sidagora yang rapat. Bahkan sesekali pengasuh Pangeran Wiratha itu berhasil menyarangkan pukulannya ke tubuh perampok itu, membuat perampok itu semakin geram dan marah. Tetapi justru karena ia semakin marah maka serangannya semakin ngawur, penuh nafsu tetapi kurang tenaga. Lama-lama tenaganya semakin terkuras. Dan akhirnya gerakannya yang tidak terkendali justru menjadi hampa tak bertenaga. Dengan tendangan yang kuat di pinggang perampok yang sudah kehabisan tenaga itu, Ki Sidagora berhasil  membuat lawannya tersungkur tak sadarkan diri.

Melihat anak buahnya dapat dikalahkan, pimpinan perampok yang sejak tadi diam saja memperhatikan anak buahnya berkelahi, maju ke depan untuk menghajar Ki Sidagora. Tetapi sebelum pimpinan perampok itu sampai dalam jarak serang, sebuah bayangan sudah melesat turun dengan ringannya   dari dalam warung ke hadapan pimpinan perampok.

“Nanti dulu, Paman! Apa yang akan kamu lakukan kepada kawanku?” tanya Pangeran Jaka Patahwan yang sudah berhadap-hadapan dengan pimpinan perampok.

“Dia telah menghajar anak buahku. Aku ingin menjajal ilmunya. Aku ingin membekuk dan melumpuhkannya agar kelak tidak mengganggu pekerjaanku!”  kata pimpinan perampok geram.
“Kalau kamu ingin menjajal ilmunya, itu tidak adil! Kawanku baru saja berkelahi, sedikit banyak tenaganya sudah terkuras. Sedangkan kamu masih segar bugar. Maka kalau kamu ingin menjajal, lawanmu adalah aku. Tadi aku kan sudah bilang, biarkan aku makan dulu, nanti setelah kenyang lawanku adalah pimpinan perampok. Nah, bukankah kamu pimpinan perampok, maka lawanmu adalah aku!” kata Pangeran Jaka Patahwan dengan berani.

“Keparat kamu pemuda buntung!” umpat pimpinan perampok. 

“Apa yang kamu andalkan sehingga kamu berani menantang pimpinan perampok yang sudah kondang malang melintang di dunia kejahatan di kawasan ini? Ketahuilah, aku adalah pimpinan perampok Kala Hitam, namaku Ki Cluring Sakti. Semua orang yang mendengar namaku, apalagi sampai berani berhadap-hadapan, tentu akan gemetar ketakutan.,” ujar Pimpinan Perampok menggertak Pangeran agar ketakutan dan ciut nyalinya. Tetapi ia segera menjadi heran, kenapa pemuda buntung di hadapannya tidak segera ketakutan, menangis dan mohon ampun. Kenapa pemuda ingusan berkaki buntung yang berjalan saja dibantu dengan tongkat penyangga tubuh, tetap saja tersenyum-senyum seolah tidak mendengar bunyi guntur menggelegar menyambar telinganya.

“Hai pemuda buntung! Kenapa kamu tidak segera menyembah kakiku, mohon diberi hidup? Apakah kamu tidak tahu kondangku sebagai setan pencabut nyawa? Apakah kamu orang asing yang berasal jauh dari  tempat ini? Kalau kamu belum tahu dan belum dengar karena tempat tinggalmu jauh dari sini, ketahuilah aku ini pimpinan perampok Kala Hitam. Aku dan anak buahku adalah perampok yang tidak segan-segan membunuh korbanku. Bahkan membakar seluruh isi kampung yang sudah berani melawanku sudah sering aku lakukan. Menyembelih atau menggorok leher para korbanku yang sudah berani melawan juga sudah sangat sering aku lakukan. Tetapi aku juga sering membiarkan para korbanku pergi dengan selamat apabila mereka mau menyembah kakiku sambil merunduk menyerahkan harta benda yang aku inginkan,” ujar pimpinan perampok menakut-nakuti.  

“Nah sekarang minta ampunlah kamu dan kawanmu itu kepadaku sambil menyembah kakiku! Kalau kamu mempunyai kemampuan lebih atau setidak-tidaknya sama dengan kawanmu yang sudah tua itu, kalian berdua akan aku jadikan anggota komplotanku, menjadi kawanan perampok yang ditakuti semua orang. Tetapi kalau tidak mau….” perintah pimpinan perampok.

“Kalau tidak mau, terus bagaimana?” potong Pangeran Jaka Patahwan menantang.

“Kalau tidak mau, kalian berdua akan aku habisi sekarang juga di sini, dari pada kelak akan menjadi batu sandungan, mengganggu pekerjaanku!” ancam pimpinan perampok.

“Terus terang aku memang belum pernah mendengar kebesaran namamu dan nama gerombolanmu yang sengaja dibesar-besarkan dan diseram-seramkan untuk menakut-nakuti anak kecil. Dan aku juga tidak sudi menjadi anak buahmu, ikut-ikutan tersesat di dunia hitam. Apalagi harus didahului dengan upacara mohon ampun belas kasih sambil menyembah kakimu yang mungkin korengan atau setidaknya penuh daki tak pernah dicuci. Jadi kalau kalian ingin menghabisi kami, kami tidak takut! Justru kami ingin menjajal kemampuan setan pencabut nyawa, apakah nyawa kami yang akan tercabut atau justru nyawa kalian yang melayang di tangan dua orang malaikat penjaga keadilan,” tantang Pangeran Wiratha.

“Keparat, tidak bisa dikasihani!” umpat pimpinan perampok merasa diremehkan, “Kalau begitu bersiaplah, aku tidak hanya akan maju sendiri, tapi kami bertiga akan maju bersama-sama membungkam mulutmu yang lancang itu! Kamu boleh mengajak kawanmu yang sudah tua yang napasnya masih kempas-kempis itu.” Pimpinan perampok itu segera mempersiapkan serangan. Demikian juga dua orang kawannya yang masih segar bugar. Sedangkan kawannya yang tadi berkelahi dengan Ki Sidagora yang sudah mulai siuman, juga berusaha bangun. Tetapi agaknya badannya masih lemas tak bertenaga. Baru saja ia mencoba berdiri, tubuhnya sudah limbung lalu jatuh terduduk lagi. Akhirnya ia hanya bisa diam di tempat menyaksikan kawan-kawannya yang akan bertempur. 

Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora segera mempersiapkan diri. Mereka berdua berhadap-hadapan dengan tiga orang perampok yang sudah mempersiapkan diri dengan gerakan-gerakan kembangan tangan. Pangeran memasang kuda-kuda dengan salah satu kakinya dibantu tongkat penyangga tubuh. Yang dihadapi adalah pimpinan perampok beserta seorang anak buahnya. Sedangkan Ki Sidagora menghadapi perampok yang satunya lagi, yang kumisnya panjang dengan ujungnya mencuat ke atas, dan kepala berambut gimbal. 

“Kalian tidak menggunakan senjata pedang kalian? Jangan menyesal dan salahkan aku kalau kalian tidak menggunakan pedang-pedang kalian, sedangkan aku akan tetap menggunakan tongkat ini sebagai penyangga tubuh maupun sebagai senjata,” kata Pangeran memperingatkan lawan-lawannya.
“Untuk apa aku harus mencabut pedangku, hanya menghadapi pemuda buntung ingusan seperti kamu?” jawab pimpinan perampok meremehkan.

“Aku sudah memperingatkan dan memberi kesempatan pada kalian. Kalau kalian tidak mengindahkan, apa yang terjadi jangan salahkan aku!” 

Mendengar peringatan Pangeran yang nampak sungguh-sungguh, anak buah perampok yang ikut mengeroyok Pangeran segera mencabut pedangnya. Sedangkan pimpinan perampok yang merasa akan mampu mematahkan tongkat lawan dalam satu kali pukulan tetap bertahan melawan dengan tangan kosong yang sudah dilambari ajian yang mematikan. Dengan tidak sabar pimpinan perampok itu segera memulai serangan dengan melancarkan pukulan mengarah ke kepala Pangeran. Sedangkan anak buahnya dengan sekuat tenaga membabatkan pedangnya ke tongkat pengganti kaki kanan Pangeran. 

Mendapat serangan serentak di dua bagian yang berbeda Pangeran tidak menjadi gugup. Dengan sigap Pangeran melenting ke atas bertumpu pada tongkat penyangganya. Sejurus kemudian kaki kanannya yang buntung tetapi ternyata menyimpan kekuatan yang luar biasa sehingga menjadi sekeras baja, menangkis serangan pimpinan perampok. Sedangkan tongkat penyangga tubuh Pangeran yang terbuat dari galih asem yang keras dan wuled yang juga sudah mendapat penyaluran tenaga dalam, menangkis serangan pedang anggota perampok. 

Pimpinan perampok merasakan tangannya membentur dinding baja hingga terasa sakit kesemutan. Terpaksa ia melangkah surut ke belakang menghindari serangan kaki kiri lawannya yang datang menyusul. “Keparat! Tidak bisa dianggap ringan!” umpatnya. 

Anak buah perampok yang pedangnya baru saja membabat tongkat Pangeran juga merasakan tangannya sakit karena pedangnya seperti membentur dinding baja yang kokoh dan keras. 

“Paman-paman perampok kampung, menyerahlah! Apa yang kalian rasakan itu baru salam perkenalan dari malaikat penjaga keadilan. Kalau kalian tidak menyerah, jangan salahkan aku kalau nanti kalian terpaksa menyerah dalam keadaan lumpuh tidak mampu berdiri,” gertak Pangeran memperingatkan.
“Jangan sombong dulu, anak muda buntung! Kamu pun belum merasakan tajamnya pedangku. Sekarang rasakan tajamnya pedang pencabut nyawa!” teriak pimpinan perampok sambil mencabut pedangnya yang besar dan panjang dan terus menerjang mengarahkan pedangnya ke kepala Pangeran. Kawannya tidak mau ketinggalan membabatkan pedangnya ke arah perut lawannya. 

Dengan bertumpu pada kaki kirinya, Pangeran menggunakan tongkat galih asem untuk menangkis serangan pedang pimpinan perampok. Dan ternyata tongkat galih asem yang sudah dialiri tenaga dalam itu mampu mengimbangi tajamnya pedang pimpinan perampok. Sementara itu, dengan gerakan memutar kaki buntungnya yang sudah dilambari kekuatan tenaga dalam menyapu pedang anggota perampok yang berusaha membabat perutnya, justru dari arah yang sama. Akibatnya pedang anggota perampok itu terlempar ke samping karena tangan yang memeganginya merasakan sakit dan kaku, tak kuat mencengkeram. 

Sementara itu di tempat lain, Ki Sidagora pun sudah mulai bertempur melawan musuhnya yang menggunakan golok besar. Untuk mengimbangi permainan lawannya abdi sang Pangeran itu pun menggunakan senjatanya berupa pedang tipis tetapi lentur dan tajam. Kali ini lawan Ki Sidagora tidak berani gegabah seperti kawannya yang sudah dapat dilumpuhkan oleh orang tua yang kelihatannya tidak berkemampuan apa-apa ini. Ia menyerang dengan penuh perhitungan dan hati-hati, meskipun kadang-kadang masih nampak kasar dan ngawur seperti kebanyakan tata perkelahian seorang perampok. Sedikit banyak ia sudah dapat melihat dan mengamati jurus-jurus lawannya ketika berkelahi melawan kawannya tadi. Namun yang dilihatnya tadi adalah jurus tangan kosong. Meskipun ada kemiripan, jurus memakai pedang yang digunakan lawannya kali ini sering agak berbeda, sehingga sering ia menjadi gugup mendapat serangan yang tidak terduga.

Setahap demi setahap pertarungan antara Pangeran Jaka Patahwan melawan pimpinan perampok dan anggotanya semakin naik ke tataran yang lebih tinggi. Nampak sekali anggota perampok itu sering dibuat bingung oleh gerakan lawannya, sehingga berkali-kali ia merasakan tubuhnya seperti masuk dalam pusaran yang membingungkan. Kemudian tanpa diketahui bagaimana kejadiannya tahu-tahu tubuhnya sudah terpental ke luar arena. Tetapi dasar perampok bandel dan mempunyai daya tahan tubuh yang kuat, setelah melihat ada kesempatan ia masuk lagi menerjang lawannya. Namun ia selalu menjadi bulan-bulanan dalam lingkaran pertempuran yang sesungguhnya antara pimpinannya melawan pemuda buntung yang ternyata mempunyai kemampuan jauh di atasnya.

Jangankan anggota perampok yang mempunyai kemampuan tempur yang hanya pas-pasan saja, sedangkan pimpinan perampok itu pun sebetulnya juga mengalami kesulitan menghadapi Pangeran. Jurus-jurusnya yang memanfaatkan tongkat galih asem penyangga tubuhnya sering tak terduga sehingga membuatnya bingung. Hanya karena ia menang pengalaman bertempur dan melakukan pengeroyokan bersama anak buahnya, ia masih mampu bertahan sampai saat ini. Namun demikian, pertempuran itu tidak mengalami kemajuan bagi para perampok itu, kecuali hanya semakin menguras tenaga mereka. 

Di bagian lain, Ki Sidagora sedikit demi sedikit dapat mendesak lawannya yang berwajah kasar dengan tandang grayang yang juga kasar. Rasa ngeri menghadapi kekasaran lawannya ditepisnya untuk kemudian dengan penuh percaya diri menekan lawannya. Pada suatu kesempatan Ki Sidagora berhasil menebaskan pedang tipisnya yang tajam ke jari-jari lawannya yang sedang menggenggam golok besar. 

“Keparat! Setan alas!” perampok itu mengumpat. Tapi rasa sakit di jari-jari tangannya yang kini sudah menjadi buntung memaksanya untuk melepaskan golok besar di tangannya. Darah mengucur deras dari luka-lukanya. Rasa nyeri di tangan dan tanpa senjata membuatnya hanya mampu menghindar dari serangan lawan. Namun ruang gerak perampok yang tak bersenjata itu kini sudah semakin sempit. Tubuhnya sudah semakin mepet ke tembok warung. Akhirnya dengan mudah Ki Sidagora menempelkan ujung pedangnya ke leher perampok itu. Tidak dapat berkutik lagi, perampok itu pun menyerah. Ki Sidagora lalu mengikat tangan dan kakinya dan menempatkannya di dekat perampok yang telah dikalahkan terlebih dahulu. Kedua-duanya diikat dan ditungguinya sambil memperhatikan bendara momongannya bertempur melawan pimpinan perampok yang sudah nampak kewalahan.  

Dalam pada itu Pangeran yang sedang mengembara itu lama-lama merasa bosan juga meladeni para perampok itu. Apalagi ketika dirinya sempat melirik ke pinggir jalan, ternyata semakin banyak orang-orang berdatangan menonton pertempuran ini.  Dan ia pun melihat abdinya sudah menyelesaikan tugasnya meringkus lawannya. Maka ia pun segera melenting mundur mengambil jarak. Lalu dengan bertumpu pada ujung tongkat, menggunakan kedua tangan yang memegangi tongkat sebagai poros, tubuhnya berputar kencang seperti kitiran. Kedua kakinya yang sudah menjadi sekeras baja karena dialiri tenaga dalam yang bersumber dari alam bawah sadarnya berputar sebagai jari-jari kitiran yang melenting-lenting berpindah-pindah tempat mengejar lawan-lawannya. 

Pimpinan perampok dan anak buahnya menjadi bingung lalu lari pontang-panting di halaman warung itu. Ketika pimpinan perampok mendekati pagar pekarangan dan bersiap-siap meloncat untuk melarikan diri, tiba-tiba kitiran tubuh Pangeran sudah melenting menghadang. Tanpa ampun lagi kaki yang perputar cepat itu menghajar tubuh pimpinan perampok sehingga jatuh pingsan di samping kawan-kawannya yang sudah diringkus Ki Sidagora. Kini tinggal seorang anggota perampok yang berlari-lari ketakutan. Ia berusaha mendekati pagar untuk meloncat melrikan diri, tetapi orang-orang yang ada di pinggir jalan menghadangnya dengan berani sambil mengacung-acungkan berbagai senjata di tangan mereka. Perampok itu hanya bias mengumpat-umpat putus asa.

Kini Pangeran Jaka Patahwan tidak lagi menggunakan jurus kitiran. Ia berdiri tegak di atas kaki dan tongkat penyangganya. Pelan-pelan didekatinya anggota perampok yang ketakutan itu.

“Menyerahlah! Aku tidak akan menyakitimu. Kamu dan komplotanmu hanya akan aku serahkan kepada  prajurit yang ada di desa ini untuk diadili di Kadipaten. Semoga kamu mendapat hukuman yang setimpal dengan kejahatanmu,” ujar Pangeran Jaka Patahwan sabar. Pangeran merasa kasihan melihat perampok yang ketakutan, berusaha berlari ke sana ke mari, tak ada celah untuk melarikan diri.

“Ampun tuan! Saya menyerah. Saya minta diberi hidup,” kata perampok  sambil ndeprok dudk di tanah.

“Saudara-saudara semua, aku serahkan para perampok yang sudah menyerah ini kepada kalian semua. Jangan main hakim sendiri! Serahkan mereka kepada para prajurit yang bertugas di tempat ini, untuk dibawa ke Kadipaten. Biarlah pengadilan di Kadipaten yang memutuskan hukuman yang adil bagi mereka. Semoga hukuman itu membuat mereka menjadi jera. Dan membuat takut para penjahat yang lainnya untuk melakukan kejahatan serupa. Karena mungkin di sini atau di tempat lain mereka akan bertemu dengan orang-orang seperti kami. Dan kepada kalian semua, belajarlah ilmu bela diri, dan galanglah persatuan dan kesatuan! Tolonglah orang lain yang dijahili! Tingkatkan kepedulian kalian kepada sesame. Aku jamin kejahatan semacam yang mereka lakukan tidak akan dapat merajalela,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

Orang-orang kemudian mengikat para perampok yang sudah menyerah. Pak Kepala Desa lalu datang menemui Pangeran Jaka Patahwan.

“Saya atas nama warga desa menghaturkan beribu-ribu terima kasih kepada tuan-tuan berdua yang telah membantu kami meringkus para perampok yang telah lama membuat onar di lingkungan kami. Maaf, Tuan, kalau boleh kami tahu, siapakah nama besar tuan-tuan berdua?” tanya Kepala Desa dengan sopan. 

“Kami tidak sengaja membantu warga desa sini. Sebetulnya kami hanya membela diri. Sedangkan nama kami, saya kira tidak penting, karena kami hanyalah seorang pengembara yang kebetulan melintas di daerah ini. Namun demikian kalau saudara-saudara semua memaksa ingin tahu nama kami, sebut saja kami dua orang malaikat penjaga keadilan. Nama saya Pendekar Buntung, dan ini paman. saya namanya Ki Gora,” kata Pangeran Jaka Patahwan.

Kemudian Pangeran dan Ki Sidagora mendekati bibi pemilik warung.

“Bibi, ini uang pembayaran dua piring gado-gado dan dua gelas teh yang telah kami habiskan. Dan maaf telah membuat ramai di tempat ini,” kata Pangeran kepada pemilik warung.

“Sudah, Tuan. Kami sangat berterima kasih atas pertolongan tuan. Mereka sering membuat onar di warung kami, sehingga kalau mereka ada di warung kami, orang-orang tidak berani jajan  di warung kami. Yang sudah telanjur  berada di warung pun, kalau mereka datang, banyak yang lalu meninggalkan warung karena ketakutan. Jadi karena tuan-tuan telah membantu kami, saya ikhlas tuan-tuan tidak usah membayar untuk makan minum yang sudah tuan-tuan makan dan minum,” kata pemilik warung.

“Terima kasih kalau itu sudah menjadi kehendak bibi. Itu berarti rejeki kami, dan amal bagi bibi. Semoga mendapat balasan pahala dari Hyang Widhi.”

Pangeran Jaka Patahwan kemudian menghadap kepada Kepala Desa dan orang-orang yang ada di tempat itu. “Saudara-saudara sekalian, saya kira sudah jelas apa yang harus dilakukan terhadap para tawanan ini. Dan karena tujuan kami singgah di tempat ini untuk makan dan minum sudah cukup, maka kami akan mohon diri. Perkenankanlah kami melanjutkan perjalanan mengembara mencari pengalaman. Kelak mungkin suatu saat kami akan singgah di tempat ini lagi dalam keadaan yang lebih baik.”

“Terima kasih tuan-tuan pengembara. Kedatangan tuan di sini telah membawa berkah dengan tertangkapnya  kawanan perampok yang sering mengganggu keamanan di daerah kami. Apabila tuan-tuan ingin segera melanjutkan perjalanan kami hanya dapat mendoakan semoga selamat dalam perjalanan,” ujar Kepala Desa.

“Mohon maaf tuan-tuan, sudilah kiranya tuan-tuan menerima pemberian saya yang tidak seberapa. Sebagai tanda terima kasih tuan-tuan telah melepaskan kami dari gangguan para perampok yang sering menyatroni warung saya, ini saya haturkan beberapa bungkus makanan sekedar bekal di jalan,” kata bibi pemilik warung tergopoh-gopoh mendekati penolongnya. 

“Terima kasih, Bibi. Sebetulnya saya tidak mengharapkan ini, tetapi karena niat Bibi baik, aku terima pemberian ini dengan senang hati. Semoga Bibi tidak merugi. Hyang Widhi memberi ganti yang lebih baik dengan larisnya dagangan Bibi,” kata Pangeran dengan tulus. Kemudian ia mengajak Ki Sidagora segera melepas tali kekang kuda yang ditambatkan di pohon waru. Mereka berdua lalu naik ke atas punggung kudanya. Orang-oranng menepi memberi jalan. Sebentar kemudian dua ekor kuda itu sudah berlari melanjutkan perjalanan ke arah selatan.  

Tidak berapa lama kemudian para prajurit yang diminta hadir ke tempat itu sudah datang. Mereka lalu membawa kawanan perampok itu ke Kadipaten untuk dimintakan keadilan kepada Adipati bawahan Raja Kalingga.

Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

2 Responses for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 6"