Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 7


7. Bertapa di Randu Alas

Perjalanan Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora melewati Kerajaan Kalingga mengambil jalan memutar. Sengaja Pangeran mengajak abdinya untuk tidak melewati kotaraja. Hatinya masih terasa sakit kalau ingat bagaimana kakinya terpaksa harus dibuat buntung akibat ulah Raja Kalingga yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tanpa memperhitungkan orang lain yang mungkin menjadi korban. Bendara dan momongannya itu memilih jalan di pinggiran wilayah Kerajaan Kalingga yang jauh dari kotaraja. Justru hal itu membuat mereka merasa senang karena yang mereka lalui adalah pedesaan dan hutan-hutan yang tidak semrawut dengan lalu lalang orang-orang. Dengan demikian di setiap kesempatan mereka berdua dapat sering berlatih olah kanuragan. 

Mengingat pengalaman yang mereka peroleh di warung gado-gado, maka mereka semakin giat berlatih ilmu bela diri. Permainan silat tangan kosong ataupun permainan silat menggunakan senjata mereka latih dengan tekun. Ki Sidagora melatih permainan pedangnya hingga lebih mahir. Sedangkan Pangeran Jaka Patahwan melatih permainan tongkatnya, sehingga ia dapat menyerasikan antara gerakan kaki kirinya yang utuh, kaki kanannya yang buntung, kedua tangannya, dan tongkat penyangga tubuhnya. Ia juga melatih jurus kitirannya hingga lebih dahsyat lagi. Jurus itu diberinya nama jurus kitiran sewu atau jurus baling-baling seribu. Kadang mereka berlatih sendiri-sendiri, tetapi sering juga mereka berlatih bersama-sama. Ki Sidagora menjadi lawan tanding Pangearn Jaka Patahwan dalam latihan bersama.

Kadang-kadang di perjalanan mereka bertemu dengan begal, kecu, atau perampok. Maka sambil membela diri mereka menggunakan kesmpatan itu untuk melatih dan mematangkan ilmu silatnya. Kadang tingkat ilmu mereka yang mencegatnya ada di tataran di bawah, sama atau di atas tataran ilmu silat perampok yang telah berkelahi dengan mereka di warung gado-gado dulu. Namun kedua orang yang kemudian terkenal dengan nama Pendekar Buntung dan Ki Gora, Dua Malaikat Penjaga Keadilan, selalu dapat mengatasi lawan-lawannya. Kalau ternyata kemudian apa yang dilakukan yang sebetulnya tidak sengaja mencari lawan atau mencari penjahat: begal, kecu, brandal, pencuri, atau perampok, telah dianggap membantu tugas para prajurit, jaga baya, atau keamanan kampung untuk memberantas kejahatan dan menciptakan keamanan dan ketentraman, itu adalah pekerjaan yang dilakukannya atas nama kemanusiaan. Tidak ada yang memerintahkannya untuk melakukan itu semua. Tetapi sebagai pendekar yang merasa mempunyai kemampuan, hatinya terpanggil untuk membela yang lemah.

Samadi untuk memperoleh tenaga dalam dan kesaktian tetap dijalaninya di goa-goa atau di bawah pohon-pohon besar yang ditemuinya. Sambil bertapa Pangeran berdoa memohon kepada Hyang Widhi agar diberi kesembuhan, kakinya yang buntung dipulihkan seperti sedia kala.  Meskipun saat ini kakinya yang buntung tidak lagi menghalangi gerak langkahnya, tetapi Pangeran tetap berkeinginan mempunyai kaki yang utuh seperti orang-orang lain. Apalagi Pangeran menyadari sebagai calon raja dan belum beristri, maka keinginan menjadi manusia yang utuh tanpa cacat tetap menjadi idaman. Menjadi raja yang tampan, gagah tanpa cacat, didampingi istri yang cantik jelita yang mencintai suaminya dengan sepenuh hati karena suaminya tanpa cacat cela, siapa orangnya yang tidak menginginkannya? Tentu setiap orang yang bercita-cita menjadi raja menginginkan hal itu. Oleh karena itu rasa minder, rendah diri, dendam dan sakit hati, mengingat keadaan tubuhnya dan peristiwa yang menyebabkannya, sadar atau tidak telah menghantui hidup Pangeran. Meskipun sudah berusaha melupakan apa yang telah terjadi, dengan sabar menerima keadaan, namun jauh di lubuk hatinya Pangeran sering menyesalkan apa yang sudah terjadi menimpa dirinya. Kadang-kadang Pangeran ingin melampiaskan kekesalan, sakit hati dan dendamnya kepada para penjahat yang telah dikalahkannya. Tetapi sifat welas asih yang lebih besar menguasai dirinya melarang dirinya melakukan kekejaman kepada sesama, apalagi sesama yang sudah kalah tak berdaya. 

Entah sudah berapa lama Pangeran yang sedang menjalani tapa brata itu berjalan mengembara ke arah selatan sesuai petunjuk gaib yang diterimanya, tak terasa perjalanannya yang diikuti abdi kinasihnya itu sudah jauh melewati tapal batas Kerajaan Kalingga. Kini mereka sampai di sebuah hutan. Panas matahari yang tepat berada di atas batok kepala mereka telah mengeringkan tenggorok mereka. Rasa haus yang amat sangat membuat mereka bingung mencari sumber air untuk sekedar membasahi tenggorokannya. Kuda-kudanya pun nampaknya juga kehausan sehingga jalannya pun hanya pelan-pelan. 

Tiba-tiba Pangeran Jaka Patahwan melihat kawanan kijang melintas. Pangeran mengambil anak panah lalu memasangkannya pada tali busurnya. Hampir saja ia akan membidikkan anak panahnya kalau Ki Sidagora tidak keburu mencegahnya.

“Jangan dipanah kijang itu, Pangeran!” cegah Ki Sidagora buru-buru.

“Kenapa, Paman? Kita membutuhkan dagingnya untuk bekal makan kita di jalan,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Benar, Pangeran. Tapi saat ini kita lebih membutuhkan air minum untuk kita sendiri maupun untuk kuda-kuda kita. Kijang itu dapat kita panah nanti, tetapi sebelumnya biarlah mereka kita manfaatkan untuk menjadi penunjuk jalan kita,” sahut Ki Sidagora.

“Menjadi penunjuk jalan kita…. Apa maksudnya? Penunjuk jalan ke mana, paman?” tanya Pangeran Jaka Patahwan tidak mengerti.

“Kalau kita ikuti kawanan kijang itu dari jauh, kita akan sampai ke sebuah telaga atau sendang. Kalau melihat kondisinya dan situasinya panas terik seperti ini, saya yakin kalau kijang-kijang itu saat ini sedang kehausan atau kepanasan. Saya yakin, kijang-kijang itu saat ini sedang menuju ke tempat di mana banyak tersedia air yang dapat menyegarkan tubuhnya yang sedang kehausan dan kepanasan. Mungkin sebuah sendang, telaga, atau sungai,” ujar Ki Sidagora menjelaskan.

“Tahu akau maksud Paman Sidagora sekarang. Kita ikuti kijang-kijang itu. Nanti kalau kita sudah ditunjukkan di mana letak air yang melimpah yang bisa membasahi tenggorokan kita, baru boleh kijang itu kita panah untuk memenuhi kebutuhan makan kita. Betul begitu bukan, maksud Paman?” tanya Pangeran Jaka Patahwan.

“Benar begitu maksud saya, Pangeran,” jawab Ki Sidagora.

“Kalau begitu, mari kita ikuti kawanan kijang itu mumpung belum jauh!” ajak Pangearan Jaka Patahwan. Pangeran dan abdinya kemudian berjalan pelan-pelan mengikuti arah jalan kawanan kijang yang mereka lihat. Benar juga, ternyata mereka menuju ke sebuah sendang. 

“Kita sudah melihat sumber mata air yang kita cari, Pangeran. Sekarang silakan kalau Pangeran ingin memanah kawanan kijang itu. Kita sudah tidak membutuhkan petunjuknya lagi,” kata Ki Sidagora setelah melihat sendang yang akan dituju kawanan kijang yang telah mereka ikuti.

“Jangan, Paman! Aku sudah tidak tega untuk membunuh kawanan kijang yang sudah menolong kita menunjukkan sumber air yang kita butuhkan untuk mengusir dahaga kita. Biarlah mereka minum air sendang sepuasnya. Mereka sama hausnya dengan kita. Barangkali mereka pun butuh minum untuk memperpanjang hidupnya. Kita jangan memperpendek hidupnya dengan membunuhnya, karena ia pun telah memperpanjang hidup kita dan kuda-kuda kita dengan menunjukkan letak sendang ini. Aku tidak berkemauan membunuhnya. Biarlah nanti kita di jalan mencari hewan lain yang dapat kita makan. Barangkali seekor kelinci, atau kalau toh juga seekor kijang, jangan kijang yang sudah berjasa kepada kita,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Ya sudah, kalau begitu kita tunggu di sini saja. Nanti setelah kawanan kijang itu selesai minum dan membasahi tubuhnya di sendang itu, gentian kita dan kuda-kuda kita yang turun untuk minum dan mungkin sekedar berendam agar tubuh kita lebih segar.

Beberapa saat kemudian mereka turun menuju sendang. Kawanan kijang meninggalkan jejak tanah basah di atas sendang. Pangeran mengamati keadaan di sekelilingnya. Di bawah sebatang pohon beringin yang cukup lebat, terletak sebuah sendang yang airnya sangat jernih. Karena begitu jernihnya  air sendang sampai pasir dan batu-batu kerikil yang ada di bawahnya terlihat. Begitu juga sumber mata air yang nampak seperti butiran-butiran tanah bergerak-gerak, terlihat dengan jelas. Mata air itu nampak di beberapa tempat. Sendang itu memang tidak terlalu luas, tapi rupanya sumber mata air di dalamnya tidak pernah kering sepanjang masa. Di sekeliling sendang itu banyak ditumbuhi pohon mlinjo yang enak dimakan kalau sudah matang dibakar. Entah siapa yang telah menanamnya. Beberapa ratus tombak di sebelah sana berderet-deret pohon randu alas dengan lingkar batang yang besar-besar serta tinggi menjulang.

“Paman Sidagora, aku berkeinginan tinggal di sini beberapa hari. Di sini makanan dan minuman cukup tersedia. Butuh makan mlinjo, sudah tersedia. Butuh makan daging kijang, setiap siang sudah datang sendiri, tinggal memanahnya. Butuh minum air jernih, ada sendang airnya melimpah. Dan yang lebih menarik hatiku, di sana ada pohon randu alas yang besar-besar dan tinggi-tinggi. Aku akan bertapa di sana mohon petunjuk untuk pulihnya kakiku. Bagaimana pendapat paman?”

“Baik, Pangeran. Saya sangat setuju dan mendukung kehendak Pangeran,” jawab Ki Sidagora. 

“Kalau begitu, mari kita turun ke sendang untuk minum sepuasnya dan mandi membersihkan badan kita yang terasa kotor dan letih. Tolong nanti juga paman mandikan kuda-kuda kita setelah puas minum di sendang. Di sebelah sana banyak rumput-rumput hijau dan segar, biarkan kuda-kuda kita nanti merumput di sana. Lalu paman berburulah di sekitar sini, barangkali ada kelinci liar sedang mencari makan di balik semak-semak itu. Aku akan segera bertapa di bawah pohon randu alas itu setelah selesai minum dan mandi mensucikan diri,” perintah Pangeran Jaka Patahwan kepada Ki Sidagora.

“Baiklah Pangeran, perintah Paduka akan saya laksanakan. Mengenai makanan yang akan kita makan, Pangeran tidak perlu khawatir. Di sendang ini sudah tersedia banyak makanan kita. Lihatlah, itu ikan-ikan yang cukup besar dan gemuk berenang-renang kian kemari, itu bisa menjadi  santapan kita yang lezat kalau kita bakar. Boleh juga buah-buah mlinjo yang matang kemerahan atau kekuningan di atas pohon itu, isinya juga enak kalau kita bakar. Belum lagi binatang buruan yang ada di hutan sekitar sendang ini, tentu akan mudah kita peroleh, karena biasanya di mana ada sumber mata air, di situ akan banyak didapatkan bermacam-macam bentuk kehidupan, karena sumber kehidupan ada di situ,” ujar Ki Sidagora.

Mereka kemudian segera turun ke sendang untuk minum dan mandi. Demikian juga kuda-kuda mereka. Kuda-kuda yang sudah lama merasakan haus dan lelah itu juga segera minum di bagian hilir sendang. Lalu Ki Sidagora pun memandikan kuda-kuda yang setia menemani dan menjadi tunggangan para pengembara itu, agar tubuhnya menjadi segar dan kuat kembali untuk berjalan jauh.

Sementara itu, setelah selesai mandi bersuci diri, tanpa menghiraukan perutnya yang sudah mulai keroncongan, Pangeran Jaka Patahwan segera melangkah ke deretan pohon randu alas. Di bawah pohon randu alas yang besar dan rindang, yang duri-durinya besar-besar dan tajam,  di antara lekuk-lekuk batang yang membentuk seperti dinding goa dan akar-akar besar yang menyembul ke permukaan tanah, Pangeran Jaka Patahwan segera duduk bersila, tangan bersedekap dalam sikap samadi, memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar diberi petunjuk untuk kesembuhan dan pulihnya kakinya yang buntung. Rindangnya dedaunan pohon randu alas menaungi tubuhnya sehingga panas matahari tidak dapat memanggang tubuhnya. Ditambah angin semilir yang berhembus pelan, dan badan yang masih segar setelah mandi membersihkan diri, maka Pangeran yang sudah lama mengelana bertapa brata mohon pertolongan Hyang Widhi Wasa semakin khusyuk bertapa, berdoa memusatkan seluruh nalar budinya kepada Sang Pencipta. Begitu khusyuknya Pangeran bertapa sehingga tak terasa matahari yang semula memancarkan panasnya menyengat alam sekitar, lama-lama semakin meredup tinggal menyisakan panorama menakjubkan serba kuning keemasan, dan akhirnya beristirahat di balik selimut kegelapan yang semakin menebal. 

Tiba-tiba Pangeran mendengar bisikan suara gaib. Tidak terlihat siapa yang bicara, dan tidak diketahui arah datangnya suara, tetapi tahu-tahu jelas terdengar di hatinya. Meskipun pelan  sayup-sayup, tetapi di keheningan malam di tengah hutan yang sepi itu, suara bisikan itu jelas tedengar, karena nyanyian jengkerik atau kepak kelelawar dan suara-suara binatang malam lainnya seakan tak berani memperdengarkan suaranya. Semuanya takut mengganggu pendengaran yang sedang bertapa memohon petunjuk. Meskipun pelan, jelas sekali suara itu terdengar, tidak hanya di telinga tetapi masuk sampai di lubuk hati Pangeran, “Sudah dekat saatnya, sudah dekat tempatnya. Berjalanlah terus ke selatan! Carilah bukit Gunung Butak, tidak jauh dari tempat ini. Bertapalah di atas bukit itu. Petunjuk apa yang kamu cari ada di tempat itu. Ambilah salah satu ranting pohon randu alas ini, yang daunnya dipenuhi kerlip kunang-kunang, jadikanlah tongkat yang akan menuntunmu ke atas bukit Gunung Butak! Tongkat itu akan menunjukkan di tempat mana kamu harus bertapa.”

Jelas sekali petunjuk yang diucapkan pelan-pelan namun seakan terus mengiang-ngiang di hatinya itu. Maka Pangeran yang merasa sudah mendapat petunjuk dari Hyang Widhi Wasa melalui suara gaib, segera menyudahi samadinya. Meskipun baru berupa petunjuk tapi karena begitu jelasnya, sehingga apa yang diburunya sampai demikian jauh perjalanannya, seolah hampir menjadi kenyataan, membuat Pangeran merasa bersyukur. Air matanya menetes bergulir ke pipi, bukan karena kesedihan tetapi karena rasa syukur atas harapan yang selama ini dicarinya, akan segera menjadi kenyataan. Lebih yakin lagi Pangeran kepada kebenaran wisik yang diterimanya, ketika mengamat-amati ranting-ranting pohon randu alas, tidak jauh dari tempatnya duduk dan juga tidak tinggi letaknya, ia melihat sebuah ranting pohon randu alas sebesar pergelangan tangan anak-anak daunnya dipenuhi kunang-kunang yang menyala kerlap-kerlip. Pangeran Jaka Patahwan buru-buru mengeluarkan pedangnya lalu menebaskannya ke pangkal ranting tersebut. Satu kali, dua kali, sampai tiga kali pedangnya menebas pangkal ranting, tetapi ternyata ranting yang tidak begitu besar itu tidak terpotong. Jangankan terpotong, bekas tatunya sedikit pun tidak ada. Pangeran yang sakti itu lalu mengerahkan tenaga dalamnya lewat mata pedangnya sebelum ditebaskan ke pangkal ranting pohon randu alas. Hasilnya… lagi-lagi ranting itu bergeming, tak terluka sedikit pun.

“Bagaimana ini? Kenapa ranting pohon ini tak mempan oleh senjataku? Bahkan tanganku yang menebas terasa sakit seperti membentur besi baja,” kata Pangeran dalam hati. Ia berpikir mencari akal. Akhirnya ia menyadari bahwa dirinya bukanlah yang pemilik pohon randu alas itu. Dirinya bukanlah orang yang telah menanam dan memelihara pohon yang rindang yang bias menjadi peneduh sekaligus paru-paru yang dapat menyegarkan alam raya. Maka kalau ingin memiliki sesuatu yang bukan miliknya dirinya harus minta ijin kepada pemiliknya. Tapi siapa pemilik pohon randu alas yang tumbuh sendiri di tengah hutan? Memang tidak ada orang di sekitar sini yang mengaku telah memiliki dan memelihara pohon yang umurnya sudah ratusan tahun itu, tetapi Tuhan Yang Maha Pencipta dan Pemelihara Alam Semesta, adalah pemiliknya yang pantas dimintai ijin. Dan kalau meminta ijin kepada Tuhan Pemelihara Alam Semesta, berarti dirinya harus mengambil seperlunya saja, tidak boleh semena-mena merusak alam.

Maka Pangeran Jaka Patahwan lalu bersedekap berdoa memohon kepada Tuhan Penguasa dan Pemelihara Alam Semesta, “Ya Tuhanku, ijinkanlah hamba mengambil ranting pohon randu alas ciptaanMu ini. Jadikanlah ranting itu tongkat penunjuk jalan ke mana hamba harus pergi untuk memulihkan kaki hamba  yang buntung ini. Dan seijinMu jadikanlah tongkat itu senjata untuk melindungi keselamatan hamba.” Selesai berdoa, Pangeran dengan penuh rasa hormat menebaskan pelan pedangnya ke pangkal ranting pohon randu alas.  Dengan sekali tebas yang tidak begitu keras ranting yang sudah berulang kali gagal dipotong itu kini jatuh melayang ke tanah. Sebelum mencapai tanah, dengan sigap Pangeran menangkapnya. Meskipun hanya ranting pohon randu alas yang tidak begitu besar, tapi ternyata ranting ini lain, sepertinya mempunyai bobot yang antab, berat berisi. Pangeran lalu membersihkannya dari daun-daun, kulit dan durinya. Setelah dipotong sepanjang satu depa, tongkat itu dibawanya. Ucapan rasa syukur disampaikannya kepada Tuhan Penguasa Alam Semesta yang telah mengijinkan meminjam sebagian ciptaanNya.  

Kemudian Pangeran tergopoh-gopoh berjalan menuju ke sendang tempat abdinya menunggu sambil menyediakan makan sejak siang tadi. Waktu makan siang kini sudah berganti menjadi makan malam, bahkan makan malam yang terlambat, karena saat ini malam sudah sangat larut. Pangeran mendapati abdinya sedang tertidur di dekat perapian yang sengaja dibuat untuk mengusir hawa dingin, gigitan nyamuk dan gangguan binatang malam. Terdengar dengkurnya sangat keras menandakan yang tidur baru saja melakukan pekerjaan berat yang melelahkan. Ingin rasanya Pangeran segera membangunkan Ki Sidagora untuk mengabarkan kegembiraan, bahwa dirinya telah mendapat petunjuk gaib yang demikian jelas kemana dirinya harus melangkah melakukan tapa brata berikutnya, untuk mendapat petunjuk bagi pulihnya kakinya. Kalau tadinya langkah yang diayunnya di atas kaki kudanya, seperti mengejar layang-layang putus benang. Tahu arah, tetapi tidak tahu tempat yang dituju. Tahu ke arah mana layang-layang itu melayang, tetapi tidak tahu kapan dan di mana layang-layang itu akan berhenti. Demikian juga dengan perjalanannya. Semula ia tidak tahu kapan dan di mana dirinya akan mendapat petunjuk untuk memulihkan kakinya. Dirinya diikuti abdinya hanya diperintahkan berjalan ke arah selatan. Tapi sampai kapan dan di mana dirinya harus berhenti? Belum tahu! Maka alangkah bahagia dan bersyukur dirinya, sekarang sudah diterima petunjuk gaib kapan dan di mana dirinya akan mendapat pertolongan. Waktunya tidak lama lagi. Tempatnya sudah dekat, yaitu di Gunung Butak tidak jauh dari tempat dirinya berada saat ini. 

Oleh karena itu Pangeran ingin segera membangunkan Ki Sidagora, lalu bergegas menuju ke Gunung Butak seperti kata petunjuk gaib yang diterimanya. Tetapi setelah mengetahui betapa nyenyaknya tidur abdi kinasihnya itu, dan karena Pangeran menyadari betapa abdinya itu membutuhkan waktu istirahat yang cukup, setelah berjalan seharian mengikuti dirinya. Pangeran jadi tidak tega membangunkannya sekarang. Seperti dirinya, tentu abdinya itu sangat letih. Tetapi kalau dirinya keletihan itu sekarang sudah terbayar dengan diterimanya petunjuk gaib untuk semakin mendekati harapannya, sehingga rasa letih itu sekarang seakan sudah tidak terasa lagi. Sedangkan bagi abdinya? Apa yang dicarinya dengan berjalan jauh meninggalkan kamukten sebagai abdi istana Kerajaan Wiratha, kedharang-dharang dalam perjalanan yang penuh bahaya sampai jauh di tengah hutan ini, jauh dari sanak dan keluarga?  Kasihan Ki Sidagora, demi kesetiaan ia ikut mengalami kesengsaraan seperti yang dialamai bendaranya.  Kesetiaan? Kesetiaan kepada siapa? Kesetiaan kepada tugas sebagai seorang abdi atau kesetiaan kepada bendaranya sebagai pribadi? Karena kalau kesetiaannya hanya karena tugas, apa ada orang yang setia kepada tugas padahal saat ia bertugas tidak menerima gaji sedikit pun. Bahkan untuk makan pun tak jarang ia justru harus mencarikan makanan buah-buahan atau hewan buruan di hutan, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk bendara yang diikutinya. Ya… Ki Sidagora melakukan ini semua tidak hanya karena kesetiaan kepada tugas yang dibebankan kepada dirinya selaku seorang abdi, tetapi juga  karena kesetiaan kepada dirinya, yang selain sebagai bendaranya adalah juga sebagai momongannya, yang berarti selain sebagai tuannya juga sebagai anak asuhnya yang diasuh sejak Pangeran masih kecil belum pandai berbuat apa-apa. 

Pangeran Jaka Patahwan melihat ada makanan yang telah disediakan abdinya untuknya. Ada daging kelinci bakar, ada  beberapa buah-buahan hutan yang ranum maupun yang merah matang, bahkan juga ada buah mlinjo yang sudah dibakar yang kulit kerasnya nampak hitam-hitam agak gosong. Tiba-tiba perut Pangeran berteriak minta isi. Kalau tadinya ia lupa pada rasa laparnya terbawa oleh kebahagiaan yang memenuhi dadanya karena sudah mendapat petunjuk untuk kembali menjadikan dirinya sebagai manusia yang utuh dan sempurna. Kini setelah perasaannya sedikit mengendap, agak terkendali tidak tergesa-gesa segera menuju ke tempat yang ditunjukkan suara gaib mengingat kepentingan abdinya,  begitu melihat bermacam-macam makanan sudah tersedia, rasa lapar itu tiba-tiba unjuk rasa minta dipuaskan. Maka Pangeran pun segera mengambil satu buah mangga yang nampak matang memerah. Dikupasnya dengan menggunakan pisau yang sudah disediakan abdinya di dekatnya. Kemudian dimakannya seiris demi seiris. Manis rasanya. Setelah itu baru dimakannya daging kelinci yang sudah matang dibakar Ki Sidagora. Kenyang sudah perutnya. Untuk menggenapkan isi perutnya, menggelontor dan melunakkan makanan yang sudah ditelannya, maka Pangeran pun ke tepi sendang. Dengan menggunakan kedua tangannya diambilnya air sendang, lalu diminumkannya ke mulutnya. Segar rasanya. Kini perutnya sudah benar-benar terasa kenyang.

Tetapi bunyi sisa-sisa air yang terjatuh kembali ke sendang, lewat sela-sela jari Pangeran ketika mengambil air di sendang, telah menimbulkan bunyi gemericik. Dan bunyi itu ternyata sudah cukup untuk membangunkan Ki Sidagora yang sudah merasa puas tertidur.  Ki Sidagora mengucak-ngucak matanya agar pandangannya dapat lebih jelas. Dilihatnya momongannya sedang minum air sendang dengan menggunakan tangannya. 

“Ampun Pangeran. Apakah Pangeran sudah selesai bertapa? Dan apakah Pangeran juga sudah makan?” tanya Ki Sidagora merasa bersalah karena sudah ketiduran, tidak menjagai Pangeran.

“Sudah, Paman. Aku sudah selesai bertapa. Aku juga sudah selesai makan dan minum. Sekarang perutku sudah kenyang. Badanku pun sudah segar meskipun aku belum tidur,” jawab Pangeran Jaka Patahwan.

“Maaf, Pangeran. Saya ketiduran. Setelah kenyang makan dan minum tiba-tiba rasa kantuk menyerang saya, tahu-tahu saya sudah tertidur tak sadarkan diri. Untung Pangeran tidak kenapa-kenapa,” ujar Ki Sidagora.

“Tidak jadi apa, Paman, justru kebetulan paman sudah dapat istirahat. Mari kita segera mengemasi barang-barang kita. Segera kita lanjutkan perjalanan ke selatan, menuju Gunung Butak,” ajak Pangeran Jaka Patahwan. Ki Sidagora terkejut mendengar ajakan bendaranya.  

“Ini masih dini hari, Pangeran. Fajar belum menyingsing. Pangeran pun belum tidur. Istirahatlah sejenak, Pangeran. Saya yang akan menjaga. Kenapa harus tergesa-gesa melanjutkan perjalanan, Pangeran?” sahut Ki Sidagora tak tahu alasan bendaranya mengajak segera meninggalkan tempat yang dirasanya nyaman untuk istirahat itu.

“Ketahuilah, Paman, ketika aku bertapa di bawah pohon randu alas tadi, aku menadapat wisik, mendengar suara gaib, aku disuruh melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Tetapi perjalanan kali ini tidak tanpa tujuan, karena aku diperintahkan untuk menuju ke Gunung Butak yang letaknya tidak jauh dari sini. Aku disuruh bertapa di di situ. Petunjuk selanjutnya akan diberikan di situ. Menurut wisik yang aku terima terkabulnya permohonanku sudah dekat, tidak lama lagi. Oleh karena itu, Paman, mari kita segera berangkat ke Gunung Butak,” ajak Pangeran Jaka Patahwan sekali lagi.

“Saya turut senang Pangeran sudah mendapat petunjuk yang lebih jelas untuk kesembuhan Pangeran. Semoga harapan Pangeran segera terwujud. Tetapi mohon ampun  Pangeran, menurut wisik yang Pangeran terima Gunung Butak tidak jauh dari sini, sekarang masih malam, apa tidak lebih baik kalau Pangeran tidur sebentar, agar besok pagi-pagi dalam keadaan badan segar bugar kita dapat melanjutkan perjalanan mencari dan mendaki Gunung Butak?” 

“Tidak, Paman, aku tidak lelah dan juga tidak mengantuk. Setelah bertapa di bawah pohon randu alas tadi, apalagi setelah mendapat wisik, dan kemudian makan dan minum sampai kenyang, kini badanku tersa segar siap melanjutkan perjalanan,” ujar Pangeran Jaka Patahwan tidak sabar. 

Ki Sidagora mengangguk-anggukkan kepala penuh pengertian. Sebagai orang tua dirinya paham semangat anak muda. Lebih-lebih keinginan bendaranya untuk segera mendapatkan kesembuhan dari kakinya yang buntung yang menyebabkan rasa minder, sehingga mendorongnya untuk keluar istana, mengembara jauh mencari kesembuhan. Kini setelah mendapat petunjuk demikian jelas tempat mana yang harus dituju, tentu saja tidak sabar untuk segera pergi ke tempat itu.

“Kalau itu sudah menjadi kehendak Pangeran saya akan segera mengemasi barang-barang dan kita berangkat sekarang juga,” kata Ki Sidagora kemudian.

“Tapi nanti dulu, Paman, sebelum kita berangkat aku akan membuat tanda untuk diingat-ingat, Paman. Tempat aku bertapa di bawah pohon randu alas tadi, kalau ada rejane jaman, kalau kelak tempat ini menjadi pedukuhan yang ramai agar diberi nama pedukuhan Randu Alas,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Saya menjadi saksi pemberian nama kampung di sebelah barat sendang ini dengan nama Kampung Randu Alas,” sahut Ki Sidagora.

Setelah selesai mengemasi barang-barangnya yang tidak seberapa banyak, dan kuda-kudanya pun sudah diberi pelana dan perlengkapan lainnya, dua orang pengembara bendara dan abdinya itu memacu kudanya pelan-pelan menuju ke arah selatan. Udara dingin dan malam yang remang-remang karena sinar bulan semakin redup tertutup awan,  tidak menjadi halangan bagi mereka yang sudah biasa berpetualang siang malam menjelajah desa-desa, keluar masuk hutan.

Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 7"

Post a Comment