Cerita Jagading Lelembut: Bercinta Dengan Penunggu Bok Depan Polres Bag. II

Cerita Jagading Lelembut:
Bercinta Dengan Penunggu Bok Depan Polres Bagian II (Baca bagian pertama)


Malam itu Rinto keluar dengan sepeda motornya. Maksudnya ingin mengisi  bensin di SPBU Jonggrangan. Rencananya besok pagi-pagi benar ia bersama kawan-kawannya akan berlibur ke pantai Parangtritis dan pantai Indrayanti dengan bersepeda motor. Ketika ia mengecek persiapan sepeda motornya, ternyata bensinnya tinggal satu ketip terlihat di speedometernya. Maka agar besok tidak repot harus mampir ke SPBU ketika sudah di perjalanan bersama kawan-kawannya, malam ini ia bermaksud mengisi bensin dulu di SPBU terdekat. 

Rinto mengeluarkan varionya. Dengan sekali pencet pada tombol start sepeda motor itu sudah menyusuri jalan by pass menuju SPBU Jonggrangan. Beberapa saat kemudian hujan gerimis yang hanya tipis menyambut perjalanan Rinto. Tidak membasahkan bajunya. Itulah sebabnya ia enggan berbalik untuk mengambil mantel hujannya yang ketinggalan di rumah, lupa tidak ia masukkan ke jok sadel setelah kemarin kehujanan. Angin dingin bercampur titik gerimis menyengat-nyengat badannya yang hanya mengenakan kemeja berlengan pendek tanpa jaket.

Melewati depan Polres, Rinto melihat seorang perempuan berdiri di pinggir jalan. Payung merahnya menaungi tubuhnya yang juga mengenakan pakaian berwarna merah motif kembang-kembang. Agaknya perempuan itu sedang menunggu bus atau angkutan umum lainnya. Tapi mana ada bus lewat pada pukul sepuluh malam lebih seperti sekarang ini? Mungkin dia menunggu ojek. Tapi kenapa tidak di pangkalan ojek sana? 

Rinto ingin menghampiri perempuan itu untuk menawarkan boncengan, tapi ia takut motornya nanti mogok di tengah jalan, karena bensinnya tinggal satu ketip saja. “Biarlah ia menunggu dulu. Aku akan ke SPBU dulu mengisi bensin. Setelah itu aku akan kembali. Kalau dia masih ada di situ, belum disambar angkutan umum atau tukang ojek, berarti dia rejekiku, aku yang akan mengantarkannya. Tetapi kalau sekembaliku dari SPBU, ternyata ia sudah tidak ada, berarti ia bukan bagianku. Aku akan cari gebedan lain.” Berpikir begitu, Rinto segera mempercepat laju kendaraannya menuju SPBU. 

Lewat di depan perempuan yang lagi nunggu angkutan penumpang itu, Rinto sempat melirik perempuan itu. Tubuhnya tinggi semampai. Sekilas Rinto melihat baju merah yang dikenakan perempuan itu. Sungguh menggiurkan bagi Rinto, baju yang ketat yang mempertontonkan bagian tubuhnya yang menonjol. Rinto menelan ludahnya. Tak sabar Rinto ingin segera mendapatkan perempuan itu. Justru karena itu ia lebih mempercepat laju sepeda motornya menuju SPBU yang jaraknya hanya sekitar setengah kilo meter dari tempat itu.

Sampai di SPBU Rinto segera mengisi bensin. Polteng. Uang Rp. 20.000,- melayang ke kantong penjaga SPBU. “Tidak apa, selain persiapan besok untuk ke Parangtritis dan ke Indrayanti, juga untuk mengantarkan perempuan yang sekarang sedang kedinginan menunggu angkutan umum di depan Polres. Siapa tahu rumahnya jauh, perlu bensin yang cukup. Siapa tahu pula ia mau memberikan kehangatan di malam yang dingin ini.”  Begitulah pikir Rinto dalam perjalanan kembali ke depan Polres.

Hati Rinto melonjak girang melihat perempuan berbaju merah itu masih berdiri menunggu di depan Polres. Motor yang semula melaju kencang ia perlambat berjalan menuju perempuan itu. 
“Menunggu bus ta, Mbak?” tanya Rinto mulai memasang jerat.

“Benar, Dik. Menunggu dari pukul sepuluh tadi sampai kini hampir pukul sebelas, tidak juga ada bus, colt, ataupun tukang ojek lewat,” jawab perempuan berbaju merah itu.

“Sudah malam mana ada angkutan umum lewat, Mbak. Kalau mau ngojek, mestinya Mbak tidak menunggu di sini. Sana, di pangkalan ojek sana,” kata Rinto sambil menunjuk ke arah selatan. 

“Aku harus jalan sampai ke pertigaan SMK Kristen sana? Wah...jauh, Dik. Aku khawatir, kalau nanti aku keasyikan jalan, tidak tahu ada bus atau colt lewat menyalipku. Tidak tahu kalau aku sebetulnya calon penumpang yang ingin numpang angkutan umum, mereka lewat brgitu saja meninggalkan aku,” kata perempuan itu sambil sesekali membungkuk menepuk nyamuk yang menggigit betisnya. 
Rinto melirik betis yang mulus itu. Rok yang dikenakan perempuan itu, yang panjangnya beberapa senti di atas lutut, semakin tertarik ke atas. Rinto kembali harus menelan ludah. Sungguh sayang kalau paha dan betis yang putih mulus itu luput dari elusan tangannya. 

“Rumahnya mana ta, Mbak? Apakah Mbak bersedia  kalau aku menawarkan boncengan sampai ke rumah Mbak?” ujar Rinto menyodorkan jerat semakin mendekat.

“Benar, kamu mau mengantarkan aku sampai ke rumahku? Rumahku cukup jauh dari sini, di perumahan Tegalmas sana. Mau kamu mengantar aku ke sana, malam-malam hujan gerimis begini?” sahut perempuan itu gembira. Wajahnya yang tadinya memperlihatkan raut yang letih dan cemas, mendadak menjadi berseri-seri penuh harapan.

“Untuk Mbak yang cantik, mengantar ke mana saja tentu aku tidak berkeberatan. Bahkan mengantar ke lubang semut pun, tentu akan aku lakukan dengan senang hati,” Rinto mulai nggombal memasang umpan dalam jerat.

“Ah...kamu itu, jangan ngegombal begitu! Kalau aku ajak ke lubang semut beneran, baru tahu rasa kamu!” balas perempuan berbaju merah itu sambil mendekat, melemparkan senyuman mesra dan lirikan nakal.

“Tidak, Mbak, hanya bercanda saja kok. Yang jelas, malam ini aku bersedia mengantarkan Mbak sampai ke rumahmu. Tegalmas tidak terlalu jauh dari sini. Masih jauh Prambanan atau Jogja,” sahut Rinto.

Perempuan berbaju merah itu sudah semakin dekat. Ketika sudah berada di samping vario Rinto, ia segera mengatupkan payungnya. 

“Kok dikatupkan payungnya, tidak dikembangkan?” tanya Rinto.

“Biar sama-sama. Kamu kehujanan aku juga kehujanan. Kita sama-sama,” kata perempuan berbaju merah itu sambil memegang pundak Rinto dengan tangan kanannya. Lalu kaki kannnya segera ia angkat melangkahi sadel belakang. Mak tratap, jantung Rinto jadi berdebar kencang melihat paha putih mulus itu mengangkang di sadel belakangnya. 

“Perempuan ini, beraninya... pakai rok pendek, tidak pakai celana panjang kok mbonceng mengangkang, tidak miring. Mana kuat kalau merasakan begini terus-menerus?” batin Rinto.

“Lagian kalau bonceng sepeda motor sambil mengembangkan payung, bahaya! Kena angin dari bawah, kalau tidak payungnya terlepas lalu kabur, ya orangnya yang bonceng bisa ikut kabur, terlempar jatuh,” kata Rinto kemudian.

“Ya itulah, maka payung aku mesti aku katupkan. Biar, tidak apa kehujanan sebentar. Asal mas ngebut, segera sampai. Nanti sampai di rumah segera mandi pakai air hangat dan berganti pakaian, tentu tak bikin sakit,” kata perempuan berbaju merah yang sekarang sudah nangkring di boncengannya itu.

“Ya kamu di rumah sudah tersedia pakaian ganti. Aku bagaimana? Aku tidak punya ganti. Nanti aku masih harus berbasah-basah pulang ke rumah,” kata Rinto dibuat memelas agar dikasihani.

“Jangan khawatir! Di rumah aku nanti kamu boleh mandi air hangat dan ganti pakaian pakai pakaian ayahku. Kebetulan hari ini ayahku lagi menginap di rumah saudaraku yang punya hajat di Solo,” sahut perempuan berbaju merah itu sambil mencubit paha Rinto. Butir-butir gerimis yang semakin rapat mulai membasahi baju tipisnya yang kini semakin nampak transparan. Rinto memperhatikan itu semua.   

Beberapa saat Rinto masih diam, belum mulai memencet tombol starter varionya. Ia perlu menenangkan diri, mengatur detak jantungnya agar tidak copot karena terlalu cepat melonjak-lonjak. Apalagi ketika buah dada kenyal di balik baju merah yang tipis itu mulai menempel di punggungnya. Rasa-rasanya Rinto sudah tidak kuat lagi.

“Kenapa diam, Mas? Ayo jalan! Kakiku sudah pegal berdiri menunggu sejak tadi. Aku ingin segera sampai di rumah, berbaring menyelunjurkan kakiku yang pegal,” kata perempuan berbaju merah itu menyadarkan Rinto. Sekarang ia sudah mulai memanggil mas, tidak dik lagi. Sopan santun laki-laki dan perempuan yang baru kenal yang tadi masih menyelubungi hubungan mereka, kini selaput demi selaput pudar.

“Baik, Mbak. Oh ya, Mbak namanya siapa? Boleh aku tahu, agar panggilnya lebih enak, tidak kaku?” Rinto lalu menyetater varionya. Mula-mula melaju dengan kecepatan sedang, tapi kemudian karena terpacu oleh gairah darah mudanya, gas ia tambahkan sehingga sepeda motor itu kini melaju dengan kencang.

“Nama aku Selfi. Balik kamu, nama kamu siapa, Mas?” jawab perempuan yang mengaku bernama Selfi manja. Mulutnya hampir menempel di telinga Rinto. Hangat nafasnya dan bau tubuhnya yang harum menyodok-nyodok hidung Rinto.

“Yeah... kamu mengaku nama Selfi atau Endang atau Ety, aku juga tidak akan tahu yang sebenarnya. Toh kamu tidak mungkin memperlihatkan KTP kamu di sini ta, Mbak? Tapi biarlah aku percaya saja nama kamu Selfi. Kalau aku, nama aku Rinto,” kata Rinto bercanda.

“Betul kok, nama aku Selfi. Tapi sayang aku tidak mungkin memperlihatkan KTP aku di sini. KTP aku, aku simpan di rumah. Habisnya KTP elektronik itu kalau rusak, susah mencari gantinya.  Apalagi sekarang hujan sering datang tiba-tiba.  Kalau Rinto benar ingin membuktikan, nanti di rumah dapat aku perlihatkan KTP aku.”

“Tidak usah!” sahut Rinto, “nama itu hanya untuk memudahkan memanggil. Yang penting kalau lain kali aku mencari nama Selfi, tetangga dan teman-teman kamu tahu semua, tidak salah panggil orang.”
“Tentu saja. Semua tetangga dan teman-teman aku semua kenal nama Selfi, nama aku,” sahut Selfi.

Mereka lalu berdiam diri. Motor terus melaju dengan kencang. Tapi dalam diam itu pikiran Rinto melayang-layang, menyusun rencana untuk dapat menikmati tubuh perempuan yang ada dalam boncengannya itu nanti kalau sudah ada di rumahnya.

“Oh ya, dari mana Selfi kok malam-malam begini masih ada di jalan menunggu angkutan umum?” tanya Rinto tiba-tiba membuka pembicaraan yang terputus untuk beberapa saat.

“Ini tadi aku pulang kerja lalu diajak ke rumah kontrakan teman. Dia ulang tahun mengadakan pesta perayaan. Pesta yang aku pikir akan selesai pukul delapan malam itu ternyata molor sampai pukul sepuluh malam. Gara-gara menunggu datangnya kawan-kawannya yang datang dari Solo, Jogja dan Semarang. Pestanya meriah, jadi sayang kalau aku harus pulang mendahului.”

“Memangnya Selfi kerja di mana?” tanya Rinto selanjutnya. Ia tahu di sekitar depan Polres itu ada pabrik kaos, pabrik roti, gudang beras, toko, restoran dan kantor Polres.  

“Aku kerja di pabrik kaos. Sudah lima tahun aku bekerja di sana,” kata Selfi sambil maju lebih mepet duduknya. Sadel motor Rinto serasa terlalu sempit untuk menampung pantat Selfi yang besar itu. Tubuh Rinto merinding merasakan tangan Selfi melingkar nyetut di pinggangnya. Tangan itu terasa dingin. 

Semakin ke barat, hujan turun semakin deras. Tubuh Rinto menggigil kedinginan. Selfi mengetahui hal itu. Untuk menghangatkan tubuh Rinto, Selfi mendekap tubuh Rinto lebih erat. Meskipun tubuh Selfi juga terasa dingin, kini Rinto merasa tubuhnya lebih hangat karena aliran darahnya yang semakin cepat mengalir, menahan nafsu birahinya. Rinto hampir tak tahan, ingin menghentikan motornya ke pinggir jalan yang sepi. Untung tak lama kemudian mereka pun sampai ke rumah Selfi di perumahan Tegalmas.

“Rumah yang masih gelap karena lampunya belum dinyalakan itu rumahku. Ayo ke sana temani aku, Mas Rinto. Malam ini aku berada di rumah sendirian. Aku tinggal di rumah bersama ayahku. Tetapi saat ini ayahku sedang tidak ada di rumah, ayah menginap di rumah saudaraku yang ada di Solo,” kata Selfi menunjukkan rumahnya. Rinto memperlambat motornya memasuki pekarangan rumah Selfi. Kemudian mereka masuk ke rumah yang kemudian menjadi terang setelah Selfi menyalakan listrik.

“Kita mandi bersama-sama atau aku mandi dulu?” tanya Selfi.

Rinto terpana mendapat tawaran seperti itu.

“Kamu saja dulu. Aku nanti saja setelah kamu,” jawab Rinto sedikit menahan diri, meskipun sebetulnya ia juga ingin mandi sama-sama sambil saling menggosok dan menyabun.

“Jangan sungkan-sungkan, di rumah ini hanya ada kita berdua!” pancing Selfi. Tapi kemudian ia lalu masuk ke kamar mandi yang letaknya tak jauh dari kamar tamu. Sebentar kemudian sudah terdengar guyuran air gebyar-gebyur.

Rinto kembali terpana, ketika kemudian melihat Selfi keluar dari kamar mandi hanya mengenakan pinjungan handuk, menutupi sebagian buah dada dan bagian paling rahasia di bawah pusarnya.

“Maaf, almari pakaiannya ada di kamar sana, aku lupa mengambil pakaian ganti. Oh ya, sana lho Mas Rinto segera mandi. Airnya hangat. Nanti akan aku ambilkan sekalian pakaian gantinya,” ujar Selfi mempersilakan Rinto segera mandi. Tak ketinggalan senyuman dan lirikan nakal ia lemparkan ke mata Rinto.

Setelah menenangkan diri Rinto segera menuju ke kamar mandi. Sampai di dalam, pakaiannya yang basah ia lepas, lalu disangkutkan ke kapstok yang ada di kamar mandi itu. Ia lalu masuk ke bak mandi bekas dipakai mandi Selfi yang belum sempat diganti. Bau harum sabun mandi tercium pada air hangat yang ada dalam bak itu. Rinto menggosok tubuhnya dengan sabun yang sudah tersedia di situ.
Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka dari luar. Rinto kaget.

“Ini, Mas Rinto, pakaian gantinya,” kata Selfi sambil menaruh pakaian kering di cantolan kapstok. Yang membuat Rinto semakin tak kuat, saat itu Selfi masuk tanpa mengenakan pakaian slembar benang pun. Lebih kaget lagi Rinto, karena begitu selesai mencantelkan pakaian ganti ke kapstok, Selfi segera loncat masuk ke dalam bak mandi. 

Tak ada yang perlu ditahan lagi, kini Rinto bergumul dengan Selfi. Bosan bermain di bak mandi, Rinto lalu membopong Selfi pindah ke kamar tidur. Berbagai jurus yang pernah ia pelajari dari buku kamasutra ia praktekan. Nampaknya Selfi pun adalah perempuan yang sudah banyak pengalaman. Ia justru menuntunnya ke arah gaya-gaya yang dapat lebih memberi kepuasan bersama. Hebatnya lagi, Selfi nampaknya adalah perempuan yang tidak pernah merasa lelah dalam berhubungan badan. Rinto sampai merasa pinggangnya akan putus, dan ia hanya dapat mengeluarkan angin, Selfi masih terus minta dilayani. Tak puas-puasnya!

Terakhir Rinto menempatkan tubuh Selfi di sandaran ranjang, lalu ia menghujamkan tombaknya berulang kali dari depan.

***

Lanjut ke bagian III

Related posts:

No response yet for "Cerita Jagading Lelembut: Bercinta Dengan Penunggu Bok Depan Polres Bag. II"

Post a Comment