Cerita Jagading Lelembut: Bercinta Dengan Penunggu Bok Depan Polres Bag. I

Cerita Jagading Lelembut:
Bercinta Dengan Penunggu Bok Depan Polres Bagian I


Semua laki-laki punya bakat untuk berselingkuh. Bahkan meskipun ia sudah punya istri yang cantik dan seksi. Tak pandang ia orang mata keranjang atau orang alim, kalau melihat wanita cantik dan seksi di jalan, pasti ia akan tertarik. Bahkan meskipun istrinya yang cantik saat itu sedang nangkring di boncengan motornya, kalau melihat wanita cantik, sintal, bahenol, apalagi memperlihatkan sebagian auratnya, lelaki itu pasti akan melirik nakal. Masalahnya, apakah rem laki-laki itu makan atau tidak. Kalau remnya makan, pengendalian dirinya kuat, karena hidupnya memang dibimbing oleh keimanan dan ketakwaan yang kuat, maka melihat hal yang tidak pantas seperti itu, mereka akan segera berpaling sambil istighfar mohon ampun. Tetapi apabila remnya tidak makan, maka mereka akan membiarkan saja matanya jelalatan memandang dengan penuh nafsu, pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat. Bahkan mereka menganggap mendapat tambahan gizi atau vitamin! Lebih-lebih kalau remnya blong, maka mereka tidak akan puas hanya dengan memandang saja. Mereka tentu akan melakukan aksi untuk menarik perhatian wanita yang telah mempesonanya. Kalau ada tanggapan yang merupakan lampu hijau, bisa jadi akan berlanjut pada perselingkuhan.

Itulah kata-kata yang dikatakan Rinto ketika ia dilarang menggoda, ketika ada perempuan cantik dengan dandanan menor lewat, tatkala ia bersama kawan-kawannya sedang nongkrong di pinggir jalan. Waktu itu Rinto bersuit-suit untuk menarik perhatian perempuan yang sedang lewat di depan matanya. Perbuatan itu oleh kawan-kawannya yang tergolong laki-laki dengan rem makan, dianggap bikin malu dan merendahkan martabatnya, juga martabat perempuan yang di-suit-suit.

Sebetulnya Rinto sendiri tak peduli akan hal itu. Kalau kemudian ia terpaksa mengendalikan diri, bukan karena takut dianggap merendahkan martabatnya, tetapi semata-mata untuk menjaga kekompakan dengan kawan-kawannya. Rinto takut diusir kawan-kawannya yang ia anggap sok alim. Tetapi kalau kebetulan yang nongkrong bareng itu adalah kawan-kawannya yang sama-sama remnya blong, maka godaan Rinto akan lebih berani lagi. Colek dan cubit pun tak jarang mewarnai.

Rinto sendiri tanpa malu-malu memasukkan dirinya ke dalam golongan laki-laki dengan rem blong. Sudah banyak perempuan yang kena goda lalu diselingkuhi. Karena dasarnya hanya suka dan nafsu, bukan cinta, maka perselingkuhan yang dilakukannya ya hanya sesaat, tidak berlanjut sampai menggegerkan keluarga atau menyebabkan perceraian. Boleh dikatakan Rinto itu seperti ayam jago, mana ada babon yang mau ya ia tangkringi. Cintanya hanya iseng sesaat, sekedar memenuhi hasrat nafsu yang timbul tiba-tiba.

Tetapi agaknya Rinto harus mengubah kebiasaan yang sudah ia jalani semenjak usianya menginjak masa remaja itu. Setidak-tidaknya ia harus berusaha memperbaiki remnya agar lebih makan, tidak blong-blongan tanpa kendali, setelah mengalami kejadian seperti yang akan aku ceritakan di bawah ini. Rinto harus lebih berhati-hati dan waspada dalam mengumbar hawa nafsunya. Terlebih nafsu biologisnya.

***

Lanjut ke bagian II

Related posts:

No response yet for "Cerita Jagading Lelembut: Bercinta Dengan Penunggu Bok Depan Polres Bag. I"

Post a Comment