Cerita Jagading Lelembut: Kuda Lumping Maut Bag. I


Kuda Lumping Maut

Di perempatan jalan Desa Jungkare tumbuh sebatang pohon nangka yang besar dan sudah tua umurnya, yang dikeramatkan penduduk meskipun tidak pernah diberi sesaji dan bakaran kemenyan. Tengah batang pohon itu gerowong, berlubang ke atas. Kalau sedang berbuah, buah nangkanya bergelantungan di bawah, di dekat akar-akarnya yang menyembul ke permukaan tanah. Anehnya kalau ada orang yang mencuri secara diam-diam buah nangka yang masih muda, lalu memasaknya untuk sayur, berapa hari pun direbus sayur gori atau nangka muda itu tidak akan matang.

 Pernah ada penduduk yang mencoba memotong batang pohon itu, tetapi ketika gergaji sudah memotong pohon itu sampai hampir putus, ternyata pohon nangka itu tak mau roboh. Potongan batang itu kembali menyatu dan pohon itu tetap kokoh berdiri. Pernah juga pohon itu terbakar tanpa diketahui siapa yang membakar, mungkin tersambar petir. Api menyala di atas pohon. Tetapi tetap saja pohon nangka itu tidak mau mati. Ia terus hidup, tumbuh dan berbuah. Seperti orang punya ajian pancasona atau ajian rawa rontek saja pohon nangka itu.  

Konon pohon itu sudah berumur ratusan tahun. Menurut cerita yang diyakini penduduk setempat, pohon nangka itu berasal dari tongkat Ki Ageng Gribig, tokoh ulama penyebar Agama Islam di daerah Jatinom dan sekitarnya yang hidup pada jaman kejayaan Mataram Islam, tepatnya jaman pemerintahan Sultan Agung. Ulama ini menurut berbagai sumber adalah keturunan Prabu Brawijaya di Majapahit. Sumber kesatu mengatakan sebagai keturunan ke 5, sumber kedua mengatakan sebagai keturunan ke 3, sumber ketiga mengatakan sebagai keturunan ke 2, bahkan sumber keempat mengatakan sebagai keturunan ke 1.  

Ceritanya waktu itu Syeh Wasi Bango atau yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Ki Ageng Gribig tinggal di sebuah desa untuk berdakwah menyebarkan Agama Islam. Setelah beberapa waktu di desa itu, Ki Ageng Gribig bermaksud melanjutkan perjalanannya untuk menyebarkan Agama Islam ke arah barat. Namun sebelumnya beliau ingin membuat petilasan yang akan dikenang masyarakat di sekitar desa itu.

“Untuk mengingatkan bahwa aku pernah tinggal di sini, sebagai tanda jengkar-ku meninggalkan desa ini, aku tancapkan tongkatku ini di sini. Semoga tongkat ini dapat hidup, tumbuh subur menjadi besar dan berumur panjang,” ujar Ki Ageng Gribig sebelum melanjutkan perjalanan dakwah ke barat. Setelah meninggalkan tanda, kemudian beliau melanjutkan perjalanan dan akhirnya bermukim di Jati Anom atau Jatinom, yang kini terkenal dengan upacara tradisionalnya Ya-Qowiyyu, berupa penyebaran kue apem yang sudah diberkahi dengan dibacakan doa-doa. Desa yang ditinggalkan Ki Ageng Gribig karena ditinggal jengkar (pergi) Ki Ageng Gribig kemudian diberi nama Desa Jungkare, berasal dari kata jengkare.

Konon pada jaman dahulu, dan sekarang pun masih sering terjadi, orang luar desa kalau memasuki Desa Jungkare yang besar itu, yang terdiri dari beberapa RT/RW menjadi satu, tidak dipisah-pisahkan oleh sawah dan ladang,  tanpa permisi atau mengucap salam, akan disesatkan. Berjam-jam ia hanya akan berputar-putar di desa itu, tidak bisa keluar menuju jalan yang akan membawanya ke tempat tujuan. Hal itu bisa terjadi, tidak hanya di malam hari tetapi juga di siang hari. Ia baru akan bisa keluar setelah ditegur dan ditunjukkan jalan oleh penduduk Desa Jungkare. Dan celakanya, orang itu kalau ditegur kenapa berputar-putar saja di Desa Jungkare, biasanya tidak mau mengakui kalau sedang kebingungan mencari jalan keluar. Mereka baru akan mengaku setelah merasa lelah dan putus asa.

Begitulah suasana Desa Jungkare yang masih diselimuti aura magis yang penuh misteri, tempat kejadian cerita yang akan aku ceritakan di bawah ini. 

***

Lanjut ke bagian II

Related posts:

No response yet for "Cerita Jagading Lelembut: Kuda Lumping Maut Bag. I"

Post a Comment