Cerita Jagading Lelembut

Kuda Lumping Maut

Di perempatan jalan Desa Jungkare tumbuh sebatang pohon nangka yang besar dan sudah tua umurnya, yang dikeramatkan penduduk meskipun tidak pernah diberi sesaji dan bakaran kemenyan. Tengah batang pohon itu gerowong, berlubang ke atas. Kalau sedang berbuah, buah nangkanya bergelantungan di bawah, di dekat akar-akarnya yang menyembul ke permukaan tanah. Anehnya kalau ada orang yang mencuri secara diam-diam buah nangka yang masih muda, lalu memasaknya untuk sayur, berapa hari pun direbus sayur gori atau nangka muda itu tidak akan matang.

Pernah ada penduduk yang mencoba memotong batang pohon itu, tetapi ketika gergaji sudah memotong pohon itu sampai hampir putus, ternyata pohon nangka itu tak mau roboh. Potongan batang itu kembali menyatu dan pohon itu tetap kokoh berdiri. Pernah juga pohon itu terbakar tanpa diketahui siapa yang membakar, mungkin tersambar petir. Api menyala di atas pohon. Tetapi tetap saja pohon nangka itu tidak mau mati. Ia terus hidup, tumbuh dan berbuah. Seperti orang punya ajian pancasona atau ajian rawa rontek saja pohon nangka itu.  

Konon pohon itu sudah berumur ratusan tahun. Menurut cerita yang diyakini penduduk setempat, pohon nangka itu berasal dari tongkat Ki Ageng Gribig, tokoh ulama penyebar Agama Islam di daerah Jatinom dan sekitarnya yang hidup pada jaman kejayaan Mataram Islam, tepatnya jaman pemerintahan Sultan Agung. Ulama ini menurut berbagai sumber adalah keturunan Prabu Brawijaya di Majapahit. Sumber kesatu mengatakan sebagai keturunan ke 5, sumber kedua mengatakan sebagai keturunan ke 3, sumber ketiga mengatakan sebagai keturunan ke 2, bahkan sumber keempat mengatakan sebagai keturunan ke 1.  

Ceritanya waktu itu Syeh Wasi Bango atau yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Ki Ageng Gribig tinggal di sebuah desa untuk berdakwah menyebarkan Agama Islam. Setelah beberapa waktu di desa itu, Ki Ageng Gribig bermaksud melanjutkan perjalanannya untuk menyebarkan Agama Islam ke arah barat. Namun sebelumnya beliau ingin membuat petilasan yang akan dikenang masyarakat di sekitar desa itu.

“Untuk mengingatkan bahwa aku pernah tinggal di sini, sebagai tanda jengkar-ku meninggalkan desa ini, aku tancapkan tongkatku ini di sini. Semoga tongkat ini dapat hidup, tumbuh subur menjadi besar dan berumur panjang,” ujar Ki Ageng Gribig sebelum melanjutkan perjalanan dakwah ke barat. Setelah meninggalkan tanda, kemudian beliau melanjutkan perjalanan dan akhirnya bermukim di Jati Anom atau Jatinom, yang kini terkenal dengan upacara tradisionalnya Ya-Qowiyyu, berupa penyebaran kue apem yang sudah diberkahi dengan dibacakan doa-doa. Desa yang ditinggalkan Ki Ageng Gribig karena ditinggal jengkar (pergi) Ki Ageng Gribig kemudian diberi nama Desa Jungkare, berasal dari kata jengkare.

Konon pada jaman dahulu, dan sekarang pun masih sering terjadi, orang luar desa kalau memasuki Desa Jungkare yang besar itu, yang terdiri dari beberapa RT/RW menjadi satu, tidak dipisah-pisahkan oleh sawah dan ladang,  tanpa permisi atau mengucap salam, akan disesatkan. Berjam-jam ia hanya akan berputar-putar di desa itu, tidak bisa keluar menuju jalan yang akan membawanya ke tempat tujuan. Hal itu bisa terjadi, tidak hanya di malam hari tetapi juga di siang hari. Ia baru akan bisa keluar setelah ditegur dan ditunjukkan jalan oleh penduduk Desa Jungkare. Dan celakanya, orang itu kalau ditegur kenapa berputar-putar saja di Desa Jungkare, biasanya tidak mau mengakui kalau sedang kebingungan mencari jalan keluar. Mereka baru akan mengaku setelah merasa lelah dan putus asa.

Begitulah suasana Desa Jungkare yang masih diselimuti aura magis yang penuh misteri, tempat kejadian cerita yang akan aku ceritakan di bawah ini. 

***

Setiap bulan Agustus Bangsa Indonesia seakan berlomba-lomba memperingati hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Ada bermacam-macam perlombaan yang bertujuan memperoleh prestasi, seperti perlombaan-perlombaan dalam cabang-cabang olah raga. Tetapi yang lebih banyak lagi adalah perlombaan-perlombaan yang sifatnya sekedar memeriahkan untuk keakraban dan hiburan. Selain itu berbagai pertunjukan kesenian, dari yang tradisional sampai yang moderen yang sedang digemari banyak orang, digelar di mana-mana. Inilah ajang untuk apresiasi budaya, sekaligus untuk menghibur masyarakat, dengan biaya iuran gotong royong.

Desa Jungkare sebagai bagian dari negara Republik Indonesia, tidak mau ketinggalan. Setelah berbagai perlombaan yang sifatnya murah meriah, seperti lomba makan krupuk, lomba pukul air dengan mata tertutup, lomba balapan karung, sepak bola campur joget, memakai kain sarung atau daster bagi laki-laki dengan diiringi musik dangdut, dan lain-lain perlombaan digelar di tiap RW, puncak acaranya adalah pertunjukan Jaran Kepang atau Kuda Lumping Massal. Dikatakan massal, karena pemain dan pemusik pengiringnya sangat banyak, ada sekitar lima puluh orang laki-laki dan perempuan. Rencananya pertunjukan itu akan digelar di halaman dekat pohon nangka kuna di perempatan jalan. Mengenai tempat pertunjukan ini, dalam rapat panitia sempat terjadi adu pendapat.

“Kenapa harus di perempatan jalan dekat pohon nangka peninggalan Ki Ageng Gribig? Kenapa tidak di tempat lain yang lebih netral dan tidak beresiko?” tanya Pak Arjo, Seksi Tempat dan Perlengkapan. 

“Memangnya kenapa kalau di perempatan jalan dekat pohon nangka itu?” sahut Pak Walimin, Seksi Kesenian dan Hiburan.

“Tempat itu angker dan dikeramatkan oleh penduduk desa kita sejak jaman dahulu. Tidak semestinya kita jag-jagan, dlajigan, bertingkah semaunya sendiri di punden yang dihormati penduduk. Kita bisa kuwalat kalau melakukan itu,” jawab Pak Arjo, orang tua yang umurnya sudah enam puluh tahun lebih itu.

“Itu alasan kuno! Hari gini masih percaya pada tahyul! Kita tahu, sekarang ini sudah tidak ada orang yang nyembah-nyembah, memuja sambil bakar kemenyan di depan pohon nangka biasa yang Pak Arjo katakan sebagai pohon keramat itu. Tempat itu sudah tidak angker lagi, sudah kehilangan keramatnya. Nyatanya selama saya tinggal di desa ini, tidak pernah ada orang celaka di tempat itu,” sahut Pak Walimin agak emosi karena usulnya ada yang menyanggah. Pak Walimin adalah pendatang yang baru lima tahun tinggal di Desa Jungkare.

“Bermain kuda lumping di sekitar pohon nangka tua itu tidak akan mendatangkan celaka atau membuat kita kuwalat. Sudah sejak lama, seingat saya, ketika saya masih kecil, ketika masih banyak kelompok kuda lumping keliling, tempat itu biasa digunakan untuk beber kelompok kuda lumping yang main di desa kita. Dan mereka tidak apa-apa. Tidak ada yang celaka! Biasa, pemain kuda lumping kesurupan, di mana pun juga sering begitu! Dan memang harus begitu! Tetapi setelah pawangnya turun tangan membacakan mantranya, mereka akan sadar kembali. Justru lebih banyak pemain yang kesurupan akan lebih seru,” ujar  Pak Wito menyanggah pendapat Pak Arjo. Dia juga orang tua penduduk asli Desa Jungkare yang berumur mendekati enam puluh tahun. Hadirin yang mendengar usulnya yang sebagian adalah generasi muda mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka merasa mendapat tambahan pengetahuan mengenai riwayat desanya.

Ternyata semua anggota Panitia tidak ada yang membela Pak Arjo. Melihat kenyataan itu, mau tidak mau terpaksa orang tua itu menerima usul Pak Walimin. Ini berarti usul Pak Walimin diterima oleh semua anggota Panitia secara aklamasi. Bagaimana tidak? Pak Walimin yang mencalonkan diri sebagai Calon Annggota Legislatip itu adalah orang yang sudah menyanggupi menjadi penyandang dana terbesar dalam acara pagelaran kuda lumping massal yang akan digelar. Ia berharap, dengan adanya pagelaran yang disaksikan banyak orang, tidak hanya dari Desa Jungkare tetapi juga dari desa dan daerah lain, namanya akan semakin dikenal dan menjadi terkenal. Ia berencana, atas nama Panitia akan menyebar selebaran pengumuman yang juga berfungsi sebagai undangan ke berbagai desa di wilayah Daerah Pemilihannya. Di dalam selebaran pengumuman nanti, ia akan menyantumkan namanya dan membubuhkan tanda tangannya, selaku Ketua Sub Seksi Pagelaran Kuda Lumping Massal. Dengan demikian namanya akan dikenal banyak orang, sehingga terbuka kemungkinan untuk memenangkan pemilihan anggota DPRD nanti pada Pemilu Legislatip.

“Lalu, kelompok Kuda Lumping dari mana, yang akan kita undang untuk bermain dalam acara pagelaran Kuda Lumping Kolosal nanti, Pak Walimin?” tanya Pak Kasim, Ketua Panitia HUT RI kepada Pak Walimin sebagai pengusul.

“Mengenai kelompok kuda lumping yang akan kita undang, saya sudah mempunyai rencana, ada dua kelompok kuda lumping yang akan kita undang. Satu kelompok dari wilayah Kecamatan Jatinom, dan satunya lagi dari wilayah Kecamatan Karangnongko. Ketua-ketua mereka adalah kenalan baik saya. Tentu mereka akan senang hati main kuda lumping di desa kita,” jawab Pak Walimin.

Setelah semua anggota panitia setuju, maka persiapan dilaksanakan, termasuk mengundang Pak Camat untuk menyaksikan dan memberi sambutan. Seksi tempat sibuk meratakan tanah halaman yang akan dipakai, merempeli dahan dan ranting-ranting yang sekiranya mengganggu tempat akan didirikannya tenda tratak untuk para tamu undangan terhormat. 

Pada hari yang sudah ditentukan sesuai dalam selebaran, halaman dekat perempatan jalan yang ditandai dengan berdirinya sebatang pohon nangka tua dan besar telah disulap menjadi arena pertunjukan yang meriah. Umbul-umbul dan rontek menghiasi tepi-tepi halaman. Dua buah tenda tratak didirikan menaungi kursi-kursi tempat duduk para tamu undangan yang menyaksikan pagelaran tari kuda lumping yang sudah lama tidak diadakan di Desa Jungkare. 

Pukul setengah tiga sore acara dimulai. Setelah laporan Pak Walimin selaku Ketua Sub Seksi Pagelaran Kuda Lumping Kolosal, Pak Camat selaku tamu kehormatan berkenan memberikan sambutan. 

“Kami mewakili Pemerintah Kecamatan maupun selaku pribadi, menyambut gembira dengan diadakannya Pagelaran Tari Kuda Lumping Massal ini. Kami berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada panitia penyelenggara, khususnya kepada Bapak Walimin selaku pemrakarsa acara ini. Kegiatan ini merupakan upaya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya dan kesenian tradisionil, agar tidak punah.” Itulah antara lain sambutan Pak Camat, yang kemudian mendapat  aplaus tepuk tangan yang meriah dari para penonton dan tamu undangan lainnya. Pak Walimin yang disebut namanya dan mendapat penghargaan Pak Camat semakin bangga dan besar kepala.

Tepat pukul tiga sore pertunjukan benar-benar sudah mulai. Gamelan yang terdiri dari saron, bonang, kempul, kendang, slompret, gong dan ketipung, mulai dimainkan sebagai musik pengiring. Menyesuaikan dengan kemajuan jaman, alat musik tersebut ditambah dengan drum dan keyboard untuk mengiringi lagu-lagu campur sari sebagai selingan diantara irama musik khas kuda lumping. Para penari yang mengenakan pakaian warna-warni keluar beriringan. Tangan kiri mereka memegangi kuda-kudaan dari kepang anyaman bambu, tangan kanan mereka memegang cambuk pendek. Sesuai irama musik mereka menari sambil berjalan beriringan menuju ke tengah arena. Secara serempak mereka mengangkat kaki kiri – kaki kanan bergantian, kadang berputar kembali ke belakang, berputar lagi maju, lalu menyamping kanan – menyamping kiri, maju lagi. 

Sesampainya di tengah arena, penari kuda lumping yang jumlahnya tak kurang dari tiga puluh orang itu menjadi dua kelompok yang saling berhadap-hadapan. Mereka menari bergerak ke kiri ke kanan, ke muka ke belakang, sesuai irama musik. Musik menyanyikan lagu-lagu campur sari yang sedang populer saat ini dalam irama khas musik kuda lumping. Pukulan kendang dan ketipung menjadi aba-aba perubahan gerak mereka. Sesekali mereka melecutkan cambuknya. Gerak tari mereka yang serempak nampak serasi dan indah dipandang, meskipun terkesan monoton berulang-ulang. Kadang mereka menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, kadang bergeser ke samping dengan setengah berlari, kadang melompat lalu bergulingan sambil melecutkan cambuknya. Mengangkat kaki kanan lalu ganti kaki kiri sambil memegangi kuda kepang dengan kedua tangan di samping tubuh sang penari, yang dilakukan tiga puluh orang penari, sungguh indah dipandang. Seirama iringan musik, kadang mereka membiarkan kuda-kudaan dari anyaman bambu itu tergantung di antara selangkangannya, sedangkan kedua lengan  mereka diangkat setinggi bahu sambil menari penuh semangat. 

Sementara itu, pemimpin mereka yang agaknya pawang kuda lumping, berkeliling sambil melecutkan cambuknya yang besar dan panjang. Suara lecutan cambuk membahana di udara memekakkan telinga. Iringan musik yang semakin rancak dan dinamis membuat para penari semakin bersemangat. Namun beberapa menit kemudian pertunjukan babak pertama yang menampilkan tari kuda lumping yang sudah dikemas dengan sentuhan lagu-lagu moderen yang sedang populer itu berakhir. Para penari yang terdiri dari penari laki-laki dan perempuan itu masuk ke rumah di samping arena yang dijadikan tempat persiapan para penari.

Sekarang tibalah babak berikutnya yang lebih seru, yang penuh diliputi aura magis. Babak yang merupakan puncak dari pertunjukan tari kuda lumping ini tidak diikuti oleh banyak penari, tetapi hanya diikuti enam penari senior. Mereka mengenakan kaos merah dibalik rompi hitam, celana tanggung hitam longgar dan berkain sarung kotak-kotak besar. Ikat kepala batik warna hitam putih, sabuk stagen lebar dan beberapa kain selendang berjuntai melengkapi busana para penari. Di pergelangan kaki melingkar untaian klinthing yang mengeluarkan bunyi setiap kaki digerakkan. Tangan kiri mereka memegangi leher kuda lumping, sedangkan tangan kanan mereka memegang cambuk pendek yang sesekali dilecutkan. Mereka berjalan dengan gagah, mengangkat kaki kanan, bergantian kaki kiri tinggi-tinggi menuju ke tengah arena. 

Pada babak ini musik yang dibunyikan sebagai pengiring hanya gamelan tradisionil khas jathilan atau kuda lumping, yang terdiri slompret, saron, bonang, kempul, kendang, gong dan ketipung. Iramanya monoton, tapi kadang juga rancak menanjak dinamis.

Di tengah arena, si pawang sudah menunggu dengan setumpuk kemenyan yang sudah dibakar mengepulkan asap yang baunya menyengat hidung para penonton, mengundang datangnya roh-roh halus di sekitar arena. Para penari lalu merubung kepulan asap kemenyan itu. Satu persatu mereka memakan bara kemenyan lalu berguling-guling dalam keadaan trance. Tubuh mereka mengejang, lalu mengadakan gerakan-gerakan semaunya sendiri, tetapi masih seirama dengan musik pengiring, terutama slompret yang terus ditiup naik turun. Para penari membanting diri di tanah, berguling-guling, kedua kaki digerak-gerakkan nendang ke atas, ke bawah, ke samping, sambil berputar-putar. Pawang lalu mendekatinya, menenangkannya dengan menyentuhkan pangkal cambuknya ke muka para penari. 

Ada yang mengeluarkan nyiru anyaman bambu berisi beling pecahan lampu listrik. Ada pula batang neon yang masih utuh. Seorang penari mendatangi tempat itu, lalu memakan beling-beling itu dengan lahapnya seolah-olah mereka sedang makan ceriping ketela. Puas makan beling ia pun menari lagi. Kemudian ia dekati panci besar berisi air kembang, lalu meminumnya. Selanjutnya ia menari lagi, menari dan menari terus dengan lincahnya.

Di tempat lain, seorang penari sedang berusaha mengupas buah kelapa dengan menggunakan gigi-giginya. Setelah buah kelapa terkupas, penari itu memecahkan tempurung kelapa itu menggunakan batok kepalanya, lalu meminum airnya. Kemudian ia menari bebas namun masih seirama alunan musik yang terkesan monoton tapi menciptakan suasana magis.

Di tempat lain lagi, dua orang penari berlari ke arah topeng-topeng yang sudah disediakan di tepi arena. Satu orang mengambil lalu memakai topeng genderuwo, yang satunya mengenakan topeng kepala naga. Mereka menari sambil berjalan jongkok dan berguling-guling. Ketika dekat dikerumunan anak-anak yang sedang nonton, anak-anak pun ketakutan. Ada yang menangis lalu digendong ibunya.

Yang dua orang lagi masih menari dengan menggunakan kuda kepang dalam berbagai variasi gerakan. Kadang kadang melompat tinggi, kadang bergulingan, kadang jongkok, berputar-putar, maju, mundur, bergantian, berulang-ulang, sambil melecutkan cambuknya.

Sementara itu, empat orang pawang yang mengenakan seragam hitam-hitam dan membawa cambuk besar panjang, tak henti-henti melecutkan cambuknya mengenai tubuh para penari. Kadang-kadang cambuk itu diputar-putar di atas kepala, lalu digeletarkan di udara. Mungkin ayunan cambuk, lecutan cambuk yang mengenai tubuh atau kaki para penari, dan suara ledakan cambuk di udara inilah yang membuat para penari itu makin ndadi, makin kesurupan, makin trance. 

Para penari terus menari dengan gerakan-gerakan yang makin liar, energik dan dinamis, meskipun terkesan diulang-ulang. Di akhir pertunjukan satu persatu para penari disadarkan para pawang. Satu persatu para penari dicambuk kakinya, lalu ia meloncat ke hadapan sang pawang. Setelah dibacakan mantera, tubuh penari yang berdiri tegak itu jatuh tak sadarkan diri ke belakang, tapi segera ditangkap pawang yang ada di belakangnya. Lalu penari itu dibaringkan di tanah. Setelah dibacakan mantera sekali lagi sambil dikipas-kipas pakai kipas anyaman bambu, ada yang langsung sadar, tetapi ada pula yang seperti melakukan perlawanan. Tubuhnya mengejang, lalu berputar-putar di tanah seperti kincir dengan menggunakan kepala sebagai porosnya. Ia menggeram dan mbekos-mbekos seperti ular besar akan menyerang. Namun akhirnya dengan susah payah dapat disadarkan juga.

Tetapi ada satu orang penari yang sangat sulit disadarkan. Ketika ia sudah jatuh ditangkap sang pawang, lalu dibaringkan, ia tak sadar-sadar juga. Lalu penari yang tadi memainkan peran sebagai genderuwo itu digotong masuk oleh tiga orang pawang ke rumah tempat persiapan pentas. Orang-orang mengira pertunjukan sudah berakhir karena penari sudah disadarkan di dalam rumah. Ternyata tidak. Beberapa saat kemudian penari itu berlari-lari keluar lagi, masuk ke arena pertunjukan. Ia memberi aba-aba agar musik pengiring dibunyikan lagi. Setelah musik berbunyi, ia berjoget lagi. Kali ini lebih agresif dan atraktif.

Penari itu meloncat-loncat, jungkir balik, berguling-guling, memain-mainkan kuda-kudaan dengan kedua tangannya, setelah menyelipkan cambuk di punggungnya. Para pawang yang kehilangan pasiennya, keluar rumah lalu mengejar penari yang tak mau disadarkan itu sambil menggeletarkan cambuknya. Penari yang sudah kesurupan itu berlari sambil menari menuju pohon waru yang ada di pinggir arena. Penonton di bawah pohon waru ketakutan, bubar menjauh. Penari yang dalam keadaan trance berat itu memanjat pohon waru, lalu ia menari di sana, di antara ranting-ranting dan dahan-dahan.

Para pawang mencambuki kaki penari itu agar turun. Tetapi penari itu tak mau turun. Ia justru naik ke cabang yang lebih atas. Para pawang menggeletarkan cambuk ke udara berkali-kali. Penari lalu turun. Sampai di bawah ia disadarkan kembali oleh para pawang. Ketika tubuh penari itu sudah menggeletak di tanah, ia lalu digotong kembali masuk rumah. Belajar dari pengalaman yang sudah, penonton belum mau beranjak pulang. Mereka masih menunggu, barangkali kejadian tadi akan terulang kembali. Ternyata penonton benar. Tak lama kemudian penari itu pun kembali muncul berlari-lari. Kali ini ia dikejar para pawang sambil menggeletarkan cambuknya berkali-kali di udara. 

Penari yang bandel kesurupan itu masih dalam gerakan tari kuda lumping, berlari ke arah pohon nangka tua. Ia dikejar para pawang, tetapi ia berlari mengelilingi pohon nangka. Mereka berkejar-kejaran. Salah seorang pawang menghadang di dekat bagian batang yang growong berlubang. Tak dapat lari terus, akhirnya penari kuda lumping itu masuk kedalam lubang pohon nangka. Dikejar para pawang, ia memanjat ke atas dalam growongan pohon nangka tua itu. Tapi ia tertangkap sang pawang, lalu kakinya ditarik turun. Setelah sampai di bawah, tangannya ditarik keluar. Sampai di luar, ritual untuk menyadarkannya kembali dilakukan oleh tiga orang pawang. Tetapi tak berhasil!

***

Pak Walimin menjadi gelisah. Demikian pula semua panitia dan Pak Kepala Desa. Sore hari hampir sampai pada detik-detik akhir, sebelum gelap malam menggantikannya. Tetapi kenapa penari kuda lumping yang satu itu, sangat sulit disadarkan? Setiap dibawa masuk, dikira sudah dapat diatasi, tapi ternyata selalu gagal, ia masih saja menari-nari dan bertingkah laku sebagai penari yang sedang kesurupan. Ingin tahu apa yang terjadi dan bagaimana menyelesaikannya, Pak Walimin berjalan mendekati salah satu pawang. 

“Apa yang terjadi? Kenapa penari itu belum sadar-sadar juga? Apakah roh halus yang merasukinya tidak mau pergi? Apakah ia ingin terus menguasai tubuh penari itu?” tanya Pak Walimin bertubi-tubi.

“Betul! Tempat ini terlalu keramat, terlalu angker! Atau mungkin ada yang telah mengganggu kami. Roh yang merasuki penari kami tidak mau pergi. Ia baru mau pergi kalau bersama orangnya,” jawab pawang yang ditanya. Pak Walimin terkejut mendengar jawaban itu.

“Apa? Roh itu mau kembali bersama orangnya? Apakah ini berarti......” kata Pak Walimin ragu-ragu.

“Benar!” sahut Pawang, “Ini sudah menjadi resiko kami. Kemungkinan seperti ini, meskipun sangat jarang terjadi, selalu ada.”

“Lalu bagaimana?” tanya Pak Walimin kebingungangan.

“Akan kami lakukan upaya terakhir! Resikonya kalau tidak berhasil...ya kita ikhlaskan,” kata pawang itu pasrah.

“Begitu?! Apa tidak ada upaya lain untuk menyelamatkannya?” tanya Pak Walimin lagi masih belum rela.

“Tidak bisa. Kami sudah berusaha maksimal. Dari pada nanti mengajak orang lain untuk menemani, lebih baik kita tempuh jalan ini.”

Sementara itu, dari dalam rumah keluar tiga orang pawang membawa sang penari yang masih trance ke tengah arena. Penari itu belum mau berhenti menari. Di tengah arena dibentangkan kain jarit batik sebagai tabir untuk menutupi penari itu. Setelah dibacakan mantera, penari itu jatuh ke belakang, langsung ditangkap pawang yang ada di belakangnya. Kemudian penari itu dibaringkan di tanah. Tangan disedekapkan seperti posisi orang yang sudah meninggal. Lalu diselimutkan kain jarit batik yang tadi dijadikan tabir. Kain itu lalu digunakan untuk membungkus tubuh sang penari layaknya kain kafan.

Penonton diminta bubar pulang ke rumah masing-masing. Pertunjukan tari kuda lumping selesai. 

***
  
NB: Cerita Jagading Lelembut ini bersama 17 cerita jagading lelembut lainnya akan diterbitkan menjadi buku Kumpulan Cerita Misteri dengan judul “ Yang Nyusul Di Tempat Tidur” oleh Penerbit Galang Press Yogyakarta. Bulan September ini dijadwalkan memasuki tahap editing.  

Related posts:

No response yet for "Cerita Jagading Lelembut"

Post a Comment