Cerita Misteri: Jagading Lelembut 'Riwayat Sebuah Ruas Jalan Misterius'


Riwayat Sebuah Ruas Jalan Yang Misterius
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Bagiku sepanjang jalan antara sebelah timur warung sweke di depan Abatoar Rumah Pemotongan Hewan, sampai pojok Dukuh Pengkol yang melewati kuburan Sasana Loyo Pengkol, antara waktu Isya sampai menjelang Subuh adalah tempat yang menyeramkan dan penuh misteri. Makanya kalau pas giliran ronda, aku tidak mau disuruh mengambil jimpitan sendirian melewati atau melintasi ruas jalan itu. Ketika dulu aku masih remaja pun, ketika aku setiap malam belajar bersama di rumah kawanku yang melintasi jalan itu, aku mesti berangkat dekat-dekat waktu Maghrib. Itu pun di sepanjang jalan aku tak henti-henti membaca ayat-ayat suci Al Quran yang aku pandang dapat menangkal gangguan jin, setan dan sebangsanya hantu. Pulangnya? Aku menginap di rumah teman sampai fajar menunjukkan hidungnya.

Di kampungku, ruas jalan itu memang termasuk kiwo, tidak ramai dilewati orang di malam hari, meskipun sebetulnya merupakan jalan pintas kalau orang dari kota mau menuju ke Kecamatan Wedi. Hanya kalau liburan panjang, orang-orang Jakarta banyak yang mudik, sehingga memacetkan jalan raya sekitar lampu bang-jo (traffic light) Bendogantungan di pertigaan jalan menuju Wedi, maka lalu lintas di situ menjadi ramai. Tapi itu pun hanya terjadi di siang hari sampai sore hari. Malam hari kembali sepi.

Yang menyebabkan jalan itu nampak kiwo mungkin karena di sepanjang jalan yang sejajar dengan sungai itu tidak ada rumah yang menghadap ke jalan itu. Entah mengapa rumah-rumah yang dibangun di sebelah barat jalan itu yang jumlahnya tidak seberapa, semuanya  hanya menjadikan jalan itu sebagai samping rumah yang berbatasan dengan tembok bangunan atau pagar pekarangan. Tidak ada yang menempatkan jalan itu sebagai latar depan. 

Di sebelah timur jalan adalah lereng yang terjal yang di beberapa bagian ditumbuhi perdu dan semak-semak yang gelap di malam hari. Beberapa meter dari lereng itu mengalir sungai yang letaknya beberapa meter lebih rendah dari jalan. Rumah-rumah di Dukuh Soka yang terletak di seberang sungai itu pun tidak ada yang menghadap ke sungai, semuanya menempatkan tepi sungai itu sebagai bagian samping rumah. Itu pun masih menyisakan tanah kosong sebagai halaman samping, yang ditumbuhi beberapa pohon besar sebagai pelindung dan benteng agar tanah pekarangan tepi sungai itu tidak longsor dimakan erosi.

Di sebelah timur jalan, di bagian utara, sejak dari depan bekas kantor kecamatan, di sebelah utara Dukuh Soka sampai jalan raya Yogya – Solo adalah sawah yang gelap dan sepi. Di bagian selatan, sehabis dukuh Soka sampai pojok Dukuh Pengkol, terbentang sawah dan kuburan Sasana Loyo yang juga gelap dan sepi. 

Jadi kalau malam hari, ruas jalan itu tampak menyeramkan karena sepi dan penuh misteri. Gelap? Dulu memang gelap tidak ada lampu menerangi, bahkan ada pekarangan yang ditumbuhi rumpun bambu segala yang seolah menjadi sarang hantu, tetapi kini rumpun bambu itu sudah ditebang, dan warga sudah bergotong-royong mengeluarkan lampu penerangan jalan. Maka tak heran kalau di ruas jalan yang panjangnya hanya kira-kira setengah kilo meter lebih itu, hidup cerita-cerita yang menyeramkan dan penuh misteri.

Ada beberapa titik yang ditandai pernah terjadi penampakan makhluk halus dari dunia lain di tempat-tempat itu. 

Aku sendiri sebenarnya belum pernah melihat penampakan hantu di tempat itu. Tetapi aku sering mendengar, sejak aku masih anak-anak sampai sekarang aku sudah dewasa dan punya anak yang sudah remaja, adanya penampakan makhluk-makhluk misterius di ruas jalan itu. Aku memang tidak ingin membuktikan adanya kejadian-kejadian yang menyeramkan di tempat itu, misalnya dengan mencoba tengah malam jalan-jalan sendiri melewati ruas jalan itu, agar aku dapat melihat dengan mata kepalaku sendiri adanya hantu yang menakutkan di tempat itu. Aku tidak mau! Takuuuuttt! Dan hal itu jangan sampai terjadi! Biarpun ada orang akan membayar aku uang satu juta atau sepuluh juta rupiah, atau mungkin malah satu milyard rupiah, kalau aku harus berjalan-jalan di ruas jalan itu bolak-balik dari pukul tujuh malam sampai pukul empat pagi, aku tidak akan mau! Lagian, siapa pula yang akan mau membayar aku uang satu juta, sepuluh juta, atau satu milyard, hanya untuk menguji nyali aku jalan-jalan di tempat yang dikabarkan angker itu?

Dari yang paling utara. Di sebelah barat ruas jalan itu, setelah beberapa rumah antara lain warung sweke, ada pekarangan luas berpagar tembok bata tinggi, dan tanahnya memang lebih tinggi dari jalan. Dulu pekarangan luas dengan beberapa bangunan itu digunakan untuk kantor kecamatan, sebelum pindah. Di pojok pekarangan itu dulu, sebelum dibongkar, ada kamar mandi yang letaknya terpencil, jauh dari bangunan kantor maupun rumah dinas. Kata orang, di situ pernah ada penampakan makhluk menyeramkan berlidah panjang yang menggoda seorang penjual mie angkringan keliling. Mula-mula ia menyamar sebagai orang biasa, membeli mie rebus. Setelah makan mie banyak sekali, lalu masuk ke kamar mandi itu untuk mengambil uangnya. Tetapi ternyata ketika keluar, ia justru memperlihatkan ujud aslinya yang mengerikan, lalu menjulur-julurkan lidahnya. Yang mengerikan, lidah itu panjang sekali, dari atas pekarangan yang tinggi itu sampai menyentuh tanah di jalan. Sehingga penjual mie yang ketakutan itu lari ngacir meninggalkan angkring beserta isinya.

Di depan kamar mandi itu, di seberang jalan, pernah ada orang yang akan buang hajat di sungai, ketika baru saja mulai jongkok tiba-tiba harus lari terbirit-birit karena melihat penampakan gundhul pringis, hantu berbentuk kepala tanpa tubuh yang berjalan menggelinding mengejarnya.

Di belakang rumah Bu Kitri masih ada pekarangan kosong yang masih luas. Di pojok pekarangan itu dahulu tumbuh beberapa gerumbul rumpun bambu. Siswa SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) yang kost di rumah Bu Kitri pernah melihat perempuan cantik muncul dari situ. Waktu itu ia baru saja pulang dari praktek dinas siang di rumah sakit yang jaraknya kurang satu kilo meter dari rumah kostnya. Kira-kira pukul delapan malam ia berjalan kaki lewat jalan di samping rumpun bambu itu. Tanpa diketahui dari mana datangnya, tiba-tiba ia sudah digandeng perempuan cantik yang muncul mengagetkan di sampingnya.

“Mas, tolong antar aku pulang, Mas,” pinta perempuan itu sambil menggelendot manja di bahu Wahyudi. Yang digelendoti kaget-kaget senang. Sebetulnya ia agak curiga pada kemunculan perempuan berbau harum yang tiba-tiba itu. Tetapi dasar bukan anak penakut, kecurigaannya ia tepiskan. Yang tinggal hanya rasa senang digelendhoti seorang perempuan cantik. Dasar ia memang perjaka yang belum laku pacaran.

“Rumahmu mana?” tanya Wahyudi kemudian.

“Rumahku desa di sebelah selatan itu. Aku takut jalan melewati kuburan,” kata perempuan itu semakin manja.

Wahyudi merasa senang mendapat tawaran mengantarkan perempuan cantik dan manja. Meskipun lewat samping kuburan yang  gelap dan sepi, anak pemberani itu tidak takut. Bahkan ia berencana, nanti di dekat kuburan ia akan menakut-nakuti agar perempuan cantik berbau harum itu semakin mepet dan merangkulnya.

“Baiklah. Tapi tunggu dulu, aku masuk ke rumah dulu, menyimpan buku dan pamit kepada teman-teman,” kata Wahyudi menyanggupi. 

“Ya sudah, sana! Tapi cepat lho ya?” kata perempuan itu sambil melepaskan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Wahyudi.

Rindik asu digitik Wahyudi segera berlari menuju kostnya yang sudah dekat. Seolah khawatir perempuan itu keburu hilang, Wahyudi tidak sabar lewat pintu depan, ia menerobos pagar rumpun teh-tehan yang tidak rapat lalu masuk rumah lewat pintu belakang. Sebentar kemudian ia bergegas akan segera keluar lagi sambil bersiul-siul gembira, membuat kawan satu kostnya heran.

“Mau kemana lagi, Yud, kok kelihatan gembira dan tergesa-gesa?” tanya kawannya.

“Kamu tidak usah ikutan. Aku mau mengantarkan cewek cantik ke Pengkol,” katanya sambil tergesa pergi.

Sampai di jalan sebelah timur rumah Bu Kitri, Wahyudi menyapukan pandangan dari utara sampai ke selatan, dari bawah rumpun bambu sampai nun jauh di sana di ujung gerbang dukuh Pengkol, tengah jalan, pinggir jalan, tak nampak siapa-siapa. Tak ada sosok perempuan yang tadi minta diantar pulang. Semuanya sepi. Sepi dan sunyi. Bulu kuduk Wahyudi merinding. Terasa ada yang meniup-niup leher belakangnya. Kemudian terdengar tawa cekikikan panjang sekali bergema. Suara tawa itu dibawa pemiliknya lari ke arah selatan, sampai jauh di depan kuburan Sasana Loyo Pengkol. Wahyudi yang biasanya pemberani kali ini merasa takut. Wahyudi pun lari kembali ke rumah kostnya.

Cerita lain, masih di sebelah timur rumah Bu Kitri, seperti yang sudah aku ceritakan pada cerita “Jelmaan Peri” (Buku KAMIGILAN Angkernya Kedung Blangah, mediakita 2013),  Pak Jono yang sedang ambil jimpitan ketika ronda juga digoda makhluk halus peri yang menyamar sebagai tetangganya.

Di ujung jalan, di pojok dukuh Pengkol, warga Pengkol yang bernama Woho pernah juga digoda peri yang menyamar sebagai istrinya. Waktu itu pak Woho baru pulang dari tugas ronda. Sebelum masuk rumah ia disambut istrinya menangis di depan pintu sambil menutupi mukanya pakai sapu tangan. Ketika ditanya katanya ia rindu keponakannya di Desa Tegalyoso. Ia minta diantar ke sana. Pak Woho yang memang sayang kepada istrinya segera mengeluarkan sepeda ontelnya. Sebentar kemudian mereka sudah berboncengan di atas sepeda onta yang tinggi itu. Sampai di pojok dukuh Pengkol Bu Woho minta berhenti.

“Pak, berhenti dulu, Pak!”

“Ada apa?” tanya Pak Woho sambil mengerem sepedanya.

“Aku sudah tak tahan. Aku mau kencing di sungai itu dulu. Bapak tunggu aku di sini,” pinta Bu Woho. Ia segera meloncat turun lalu berlari menuju ke sungai yang ada di pojok Dukuh Pengkol itu.

Setelah ditunggu beberapa saat terdengar suara krupyak-krupyuk gerakan air. Pikir Pak Woho istrinya baru cebok. Pak Woho sabar menunggu. Tapi setelah ditunggu-tunggu sampai beberapa saat Bu Woho belum juga muncul kembali, padahal suara krupyak-krupyuk gerakan air sudah lama berhenti, Pak Woho menjadi cemas. Ada apa ini?

“Bu, kok lama sekali! Ayo segera naik! Katanya sudah tidak tahan rindu keponakanmu, kenapa lama sekali di sungai tidak naik-naik?” teriak Pak Woho dari atas.

Tak ada sahutan. Sepi. Udara dingin menggigit lengan Pak Woho.

“Ayo, Bu, cepat naik! Udara dingin!” teriak Pak Woho sekali lagi.

Tak ada sahutan. Suasana sepi, tintrim. Tapi kemudian dipecahkan oleh suara tawa cekikikan panjang dan mengerikan di antara suara ringkik kuda. 

Pak Woho ketakutan! Ini jelas suaranya hantu peri yang sedang menggodanya. Ya, hantu peri itu tadi telah menyamar sebagai istrinya. Pak Woho segera memutar sepedanya, lalu cepat ia kayuh kembali ke rumah. Berat rasanya kakinya mengayuh, tetapi tetap ia pancal sekuat tenaga, hingga hampir menabrak pagar pinggir jalan.

Sebelumnya, pembantu Pak Woho yang bernama Kasiya juga pernah disesatkan masuk ke kuburan Sasana Loyo Pengkol. Ceritanya ia pulang dari kota ke Dukuh Pengkol malam hari, melewati jalan samping kuburan Sasana Loyo Pengkol. Perasaan ia sudah sampai di rumah Pak Woho majikannya. Karena lelah, setelah menyandarkan sepedanya Kasiya segera tidur di kamarnya. Tapi alangkah terkejut pembantu itu, ketika pagi hari terdengar suara adzan subuh dari masjid ia terbangun, mendapati dirinya tertidur di dalam cungkup makam yang ada di tengah kuburan. Sepedanya tersandar di pohon kamboja. Ia segera berlari pulang ke Pengkol. Sepeda ia tingalkan begitu saja. Baru siangnya sepeda itu diambil dengan susah payah melewati nisan-nisan batu yang terbujur tidak teratur. Aneh! Bagaimana ia bisa bersepeda sampai di situ tanpa kesulitan sedikit pun tadi malam, sedangkan menuju ke cungkup makam itu tidak ada jalan lapang cukup untuk lewat sepeda tanpa menabrak nisan?

Itulah beberapa cerita yang sempat aku dengar, pernah terjadi di sepanjang ruas jalan antara warung sweke sampai pojok Dukuh Pengkol. Tetapi agaknya semua cerita itu belum cukup, ruas jalan itu masih menyusun ceritanya sendiri sampai kini. Belum lama ini seorang tetanggaku melihat penampakan ular besar, melintas dari belakang rumah Bu Kitri menuju ke sungai sebelah barat Dukuh Soka.

Dibantu suaminya,  istri Aji bekerja sebagai pedagang tahu pong. Setiap hari ia membeli tahu putih, lalu dimasak digoreng sehingga menjadi tahu pong. Sore hari mereka mulai menggoreng tahu putih itu. Lalu didinginkan sebelum dipasarkan. 

Seperti umumnya para pedagang yang termasuk produsen yang memasarkan dagangannya kepada pedagang eceran di pasar induk, istri Aji masih malam sekitar pukul tiga malam sudah berangkat ke pasar induk untuk menjual dagangannya kepada para langganannya.  Setiap hari ia menjual dagangannya ke pasar sendirian. Aji suaminya hanya membantu dalam memasak atau menggoreng tahu.

Malam itu seperti biasa ia berangkat sendirian ke pasar pukul tiga malam. Sepeda motornya penuh dengan tahu dagangan dalam bronjong yang ada di sadel belakang. Seperti biasa pula ia lebih suka lewat jalan sebelah timur, melewati jalan sebelah timur rumah Bu Kitri lalu ke utara lewat sebelah timur warung Sweke, belok kanan ke kota. Katanya lebih singkat dari pada lewat barat melalui lampu bang-jo.

Malam yang dingin, jalanan sepi. Istri Aji yang bukan orang asli kampungku, yang belum lama tinggal di kampungku,  tidak tahu apa-apa riwayat jalan yang ia lalui, makanya ia santai saja, tidak takut apa-apa. Sampai di belakang rumah Bu Kitri, lain dari biasanya, kali ini bulu kuduknya dan lengan tangannya terasa merinding. Rasa was-was merayapi hatinya. Untuk menghilangkan rasa takut ia pun lalu tancap gas. Sepeda motor pun ia larikan ngebut. 

Tiba-tiba ia terkejut. Dari arah kebun Bu Kitri menggelesar seekor ular yang besarnya luar biasa, sebesar batang pisang. Istri Aji jadi bingung. Jaraknya terlalu dekat, kalau dipaksakan ia menginjak rem dalam keadaan motor melaju kencang, bisa-bisa motornya akan selip dan ia bisa terjatuh di depan mulut ular raksasa itu. Tetapi kalau ia nekat melindaskan roda motornya ke tubuh ular itu, tak ada bedanya. Bisa jadi ia pun akan terpeleset jatuh. Bahkan karena sudah menyakiti tubuh ular itu, ular itu akan mengamuk dan mencaploknya. Istri Aji jadi bingung. Tapi ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir lagi. Ia tak punya pilihan. Maka ia nekat, justru menambah gasnya. Kalau bisa motornya akan dibawa terbang di atas ular yang sedang melintasi jalan itu.

Tapi aneh! Motor itu justru berhenti sendiri, membiarkan istri Aji menyaksikan ular raksasa itu melintas dengan santai melintasi jalan yang lebarnya lima meteran itu. 

Istri Aji diam terpaku. Tubuhnya menggigil ketakutan. Kakinya berat untuk dilangkahkan. Mulutnya pun terkatup rapat tidak bisa teriak apa-apa. Beberapa saat istri Aji hanya diam seperti tak sadar apa pun juga. 

Tiba-tiba di samping istri Aji sudah berdiri seorang perempuan yang kehadirannya juga sangat misterius. Perempuan itu menepuk bahu istri Aji sehingga ia tersadar. Begitu sadar, karena masih takut, istri Aji lalu membalikkan motornya untuk kembali pulang. Selesai membalikkan motornya ia menoleh ke kiri ke kanan, mencari-cari perempuan yang telah menolong menyadarkannya. Ternyata perempuan misterius itu sudah tidak ada. Ke mana perginya? Istri Aji tidak tahu. Karena masih merasakan cemas dan takut, istri Aji tidak peduli lagi, ia lalu menstater motornya lalu tancap gas kembali pulang. 

Itulah beberapa cerita misteri yang menjadi riwayat sebuah ruas jalan di kampungku, percaya atau tidak, aku memang tidak dapat membuktikan, karena aku memang takut untuk membuktikannya sendiri! ***

NB: Cerita Jagading Lelembut ini bersama 17 cerita jagading lelembut lainnya akan diterbitkan menjadi buku Kumpulan Cerita Misteri dengan judul “ Yang Nyusul Di Tempat Tidur” oleh Penerbit Galang Press Yogyakarta. Bulan September 2014 dijadwalkan memasuki tahap editing.  

Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Cerita Misteri: Jagading Lelembut 'Riwayat Sebuah Ruas Jalan Misterius'"

Post a Comment