Cerita Misteri: Siluman Kera Jurang Kali Manggal

Cerita Misteri:
Siluman Kera Jurang Kali Manggal
Karya Sutardi MS Dihardjo

Pasca erupsi Gunung Merapi penghidupan di lereng Merapi jadi sulit. Bagi manusia, tidak bisa memanen hasil pertanian dan perkebunan karena semuanya hangus  terbakar dimakan awan panas si-wedhus gembel, dan  keblebeg aliran lahar berisi pasir dan batu, masih bisa mencari pasir atau batu untuk dijual kepada orang kota yang membutuhkan bahan bangunan. Tetapi bagi binatang-binatang penghuni lereng Merapi yang hidupnya tergantung pada alam, apa yang bisa diperbuat untuk mengisi perutnya? Maka tak heran kalau mereka lalu turun ke kampung-kampung untuk menjarah makanan milik manusia.
Kera-kera Merapi yang tinggal di hutan dekat puncak Merapi yang biasanya makan buah-buahan, pucuk-pucuk daun, dan  biji-bijian hutan yang tumbuh di sekitar lereng Merapi, kini kehilangan makanan, karena hutan di lereng dekat puncak Merapi habis terbakar. Pepohonan dan tumbuhan hutan yang biasanya menyediakan banyak makanan bagi kera-kera itu, hangus direnggut wedhus gembel yang turun berkeliaran melingkar-lingkar berpijar panas, melanda hutan-hutan dan perkampungan di lereng gunung. Akibatnya, untuk bertahan hidup kera-kera itu terpaksa turun ke kampung-kampung sekitar Desa Tegal Mulyo, Tlogo Watu, Sidorejo, dan Balerante, untuk yang tinggal di kawasan wilayah Kabupaten Klaten.
Penduduk Desa Tlogo Watu yang semula tinggal di pengungsian, setelah Gunung Merapi dinyatakan aman, pulang ke kampung halamannya untuk mengolah tanahnya kembali. Mereka bergotong royong membenahi kampungnya. Membersihkan rumahnya dari debu dan pasir yang tebal melapisi rumah dan pekarangannya. Menebang pohon-pohon yang roboh karena terlalu berat dibebani abu dan pasir Gunung Merapi. Begitu pula ladang dan sawahnya yang rusak terbengkalai dihujani abu dan pasir, mereka perbaiki agar dapat ditanami kembali.
Untung daerah ini tidak separah wilayah Yogyakarta di sebelah barat yang betul-betul rata tanah. Di Desa Tlogo Watu masih bisa diharapkan tak lama lagi aktifitas kehidupan pedesaan akan kembali berputar normal seperti biasa. Nampaknya sawah dan ladang akan dapat segera ditanami dan menghasilkan bahan makanan yang diinginkan. Mereka semakin giat bekerja karena ingin segera dapat hidup mandiri, tidak menggantungkan hidup dari bantuan sembako dari luar. Oleh karena itu mereka segera menanami sawah ladangnya dengan bibit jagung, ketela, lombok, sawi, loncang dan sayur-sayuran lainnya. Dasar mereka memang para petani yang ulet, tak lama setelah membenahi sawah ladangnya, lalu menanaminya, maka sambil menanti saatnya memanen jerih payahnya, mereka bekerja menambang pasir dan batu untuk dijual kepada sopir-sopir truk yang sudah antri mendatangi tempat mereka bekerja.
*
Tetapi keadaan yang sudah mulai membaik, tenang dan penuh harapan, pasca erupsi Merapi yang memporak-porandakan ketenangan dan ketentraman mereka, tiba-tiba berubah menjadi keresahan yang lain lagi.
 “Celaka, Pak Lurah! Tanaman ketela dan jagung kita di ladang rusak dimakan ratusan kera dari Jurang Kali Manggal,” lapor Pak Kepala Dusun kepada Pak Lurah. Bukan sekali ini saja Pak Kepala Dusun,  Pak Carik, dan perangkat desa lainnya atau warga desa melaporkan kejadian serupa. Kera-kera yang kehilangan makanan di habitatnya itu terpaksa menjarah makanan di kampungnya. Kalau jumlahnya hanya satu dua saja tidak masalah. Tetapi ini jumlahnya sangat banyak. Bisa puluhan atau bahkan ratusan. Tidak hanya dari Jurang Kali Manggal mereka berasal, tetapi juga dari Jurang Mlumbang di atas Pring Cendani Desa Sidorejo dan tempat-tempat lain yang menjadi sarang mereka. Bisa dibayangkan bagaimana mereka menghabiskan tanaman penduduk yang dipelihara dengan susah payah. Apalagi sebagai binatang mereka tidak punya belas kasih untuk hanya mengambil yang sudah masak dan yang mereka butuhkan saja. Pokoknya yang ada di depannya mereka sikat. Yang enak dimakan, yang tidak enak mereka buang. 
“Kita harus bagaimana lagi, Pak Kadus? Kita pernah berusaha mencegah kerusakan yang diakibatkan mengganasnya binatang-binatang liar itu. Membuat pagar bambu, dengan mudah kera-kera yang kelaparan itu memanjat lalu melompatinya. Memasang jaring-jaring tinggi di sekeliling pagar agar dapat lebih rapat, juga tidak membawa hasil. Ada yang pernah melihat, kera yang besar membuka jaring-jaring yang dipasang memagari ladang, lalu kera-kera yang kecil satu persatu masuk ke ladang memakan dan merusak tanaman kita,” ujar Pak Lurah.
“Betul itu, Pak Lurah,” sahut Pak Carik. “Saya juga pernah melihat barisan kera-kera itu sedang berjalan menuju ke barat ke arah ladangnya Pak Sastro. Kera yang besar mengawal di belakang, tetapi tidak menghadap ke barat. Ia berjalan mundur dengan lincahnya sambil menghadap ke timur, ke belakang! Mengawasi belakang, barangkali ada orang sedang mengintip akan menyerang dari belakang. Sungguh dia binatang yang cerdik. Saya jadi takut untuk sendirian mendekati ratusan binatang yang siap menghancurkan ladang sumber makanan kita,” sambung Pak Carik yang pagi itu juga sedang bercakap-cakap membicarakan keadaan kampungnya yang tidak aman dari gangguan binatang liar akhir-akhir ini.
“Kera besar itu sungguh menakutkan, Pak Carik. Saya pernah mengintip dia yang sedang menunggui teman-temannya yang sedang merusak tanaman jagung di ladang saya. Agaknya dia memang pemimpinnya. Dia tiduk ikut merusak, tapi kelihatannya dia sedang berjaga-jaga, kalau-kalau ada bahaya mengancam anak buahnya. Mestinya saya tidak memusuhi kera besar yang tidak ikut merusak tanaman ladang saya. Mestinya saya lebih geregetan dan marah kepada kera-kera kecil yang setelah kenyang makan jagung tanaman saya, masih dengan enaknya membawa pulang ke sarangnya jagung-jagung yang saya pelihara dengan susah payah. Tetapi karena saya tahu kera besar itu sengaja pasang badan menjadi perisai bagi teman-temannya,  saya jadi marah kepadanya yang telah melindungi kawan-kawannya. Dengan mengandalkan pedang piandel warisan leluhur, saya menyerang kera besar itu. Saya membabatkan pedang ke tubuh kera besar itu. Kera yang tidak membawa senjata apa-apa itu menangkis dengan menggunakan tangannya. Aneh! Kena babat pedang lengannya, kera besar itu tidak apa-apa. Ternyata pedang tajam warisan leluhur yang kami yakini mempunyai tuah sakti itu tidak mempan, tidak mampu melukai lengan pimpinan kera liar itu. Tubuhnya kebal. Hampir saja pedang saya direbutnya, untung saya dapat menghindar. Saya jadi takut, sehingga saya terpaksa berlari menghindar. Untung kera sakti itu tidak mengejar dan membalas saya,” cerita Pak Lurah.  “Kalau begini keadaannya, saya jadi kehabisan akal,” lanjut Pak Lurah putus asa di akhir ceritanya.
“Terus bagaimana lagi, Pak Lurah? Kasihan penduduk kita. Kera-kera liar itu sudah keterlaluan. Kita yang sedang membawa bekal untuk makan waktu istirahat di ladang pun, sering mereka cegat dan dijarah di jalan. Bukan itu saja, kalau kita sedang pergi bekerja sering rumah kita didatangi kera-kera itu. Mereka naik membuka genteng, lalu menyusup masuk ke dalam rumah lewat atap yang sudah terbuka. Di dalam rumah mereka memakan makanan apa saja persediaan kita yang ada di rumah. Membuka alamari makan, membuka tudung saji, bahkan juga membuka panci, periuk atau belanga tempat masak. Makan nasi dan ngokop sayur yang ada sampai tak bersisa. Sampai kita kelaparan, pulang kerja tak ada yang dimakan.” sahut Pak Kadus.
Mereka semua tercenung. Diam dan berpikir mencari solusi terbaik untuk dapat lepas dari kesulitan yang dihadapi. Setelah cukup lama berdiam diri, akhirnya Pak Carik mengajukan usul.
“Pak Lurah, kalau kita amati tanaman-tanaman di ladang kita, kelihatannya ada yang aneh. Di antara tanaman-tanaman yang berebahan dirusak kera-kera liar, ada ladang yang tanamannya masih utuh tidak ada yang rusak. Padahal di sebelah-sebelahnya semua tanaman rusak bosah-baseh. Pak Lurah tahu?” tanya Pak Carik  seakan mengetes ketajaman pengamatan Pak Lurah.
“Oo ya, saya ingat apa yang saya lihat kemarin ketika berkeliling melihat-lihat ladang-ladang di wilayah desa kita. Saya juga heran kenapa tanaman di ladang Pak  Singa Yuda masih utuh tidak ada yang rusak. Padahal tanaman di kanan kirinya semuanya rusak bosah-baseh bekas diserbu kera-kera liar. Betul itu yang Pak Carik  maksudkan?” tanya Pak Lurah kemudian.
“Betul, Pak Lurah. Itulah yang saya maksud. Saya yakin, sebagai keturunan Kiai Suro Bledeg, orang dhugdheng sakti mandra guna  pada jaman dahulu, Ki Singa Yuda tentu punya mantra untuk membentengi agar tanamannya dapat terhindar dari musibah gangguan binatang liar, hama tanaman, maupun orang yang berniat mencuri. Tidak ada salahnya kalau kita mencoba meminta tolong Ki Singa Yuda, memberikan tumbal, tidak hanya untuk tanamannya sendiri saja, tetapi juga untuk semua ladang yang ada di desa kita,” usul Pak Carik.
Pak Lurah dan Pak Kadus mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. “Ide yang bagus. Kenapa tak terpikir kemarin-kemarin ya? Kalau tahu dan dapat memanfaatkan adanya orang sakti di lingkungan kita, tentunya keadaan tidak perlu menunggu sampai separah sekarang ini. Kalau begitu mari kita ke rumah Ki Singa Yuda,” ajak Pak Lurah kepada anak buahnya.  Mereka bergegas menuju ke rumah Ki Singa Yuda.
*
Ki Singa Yuda sedang asyik memperbaiki kandang ayam ketika para perangkat desa itu datag ke rumahnya. Dengan tergopoh-gopoh orang tua yang sudah berusia setengah abad lebih itu menyambut pemimpin desanya. Para tamu dipersilakan masuk ke pendapa rumahnya yang cukup luas. Ki Singa Yuda termasuk orang terpandang di Desa Tlogo Watu. Orang tuanya dahulu, Ki Suro Bledeg  mula-mula adalah seorang kepala perampok ternak raja kaya yang ditakuti. Ia terkenal kebal tak mempan senjata tajam maupun senjata api. Pernah dikejar-kejar polisi dan pendekar silat yang jumlahnya puluhan, tetap dapat lolos karena pedang dan peluru yang mengenai tubuhnya mental kembali tak dapat melukai. Baiknya ia kalau melakukan aksinya di luar desanya. Dan yang dirampok hanya orang-orang kaya yang terkenal pelit. Dan kalau sudah mendapat hasil rampokan tidak dimakan sendiri, tetapi sebagian dibagi-bagikan kepada penduduk miskin yang ada di desanya. Baiknya lagi, Ki Suro Bledeg setelah tua insyaf, tidak mau merampok lagi. Kesaktiannya justru dipergunakannya untuk mengabdi, menolong mengobati orang sakit, terutama sakit karena luka-luka, salah tulang dan sakit karena gangguan makhluk halus, juga untuk mencarikan hari baik bagi penduduk yang akan melakukan pekerjaan besar atau hajatan.
“Ada apa ini? Tumben Pak Lurah, Pak Carik dan Pak Kadus beramai-ramai datang mengunjungi gubuk saya yang jelek ini. Apakah ada sesuatu yang dapat saya bantu?” tanya Ki Singa Yuda sambil mempersilakan tamu-tamunya duduk.
“Begini Ki Singa Yuda. Seperti yang Ki Singa Yuda ketahui sendiri, saat ini orang-orang kampung kita sedang resah karena gangguan kera-kera liar. Tanaman jagung, ketela, kedelai dan sayur-sayuran yang sudah kita tanam dan pelihara dengan susah payah, sebelum dipanen sudah rusak dimakan kera-kera yang jumlahnya banyak sekali. Sementara saya lihat tanaman di ladang Ki Singa Yuda kok kelihatan masih utuh dan baik-baik saja. Tentu Ki Singa Yuda mempunyai tumbal untuk menangkal gangguan binatang-binatang liar itu. Oleh karena itu, demi kesejahteraan dan ketentraman kita bersama, atas nama seluruh warga Desa Tlogo Watu, saya mohon agar Ki Singa Yuda bersedia memberi tumbal untuk menangkal gangguan binatang-binatang liar itu. Tolong tumbal itu jangan  hanya dipergunakan di ladang Ki Singa Yuda, tetapi juga untuk seluruh ladang yang ada di Desa Tlogo Watu ini,” ujar Pak Lurah menyampaikan maksudnya. Ki Singa Yuda tidak segera menjawab permintaan Pak Lurah. Ia berdiam diri cukup lama, seolah-olah sedang menghitung kekuatan dan kemampuannya untuk menunaikan tugas berat yang dipikulkan Pak Lurah di atas pundaknya.
“Sebelumnya saya mohon maaf kepada Pak Lurah dan seluruh warga kalau sampai saat ini saya memberikan tumbal hanya untuk ladang saya sendiri. Karena memang kemampuan tumbal saya itu sangat terbatas, tidak bisa menjangkau seluas wilayah desa kita. Tetapi meskipun begitu saya akan mencoba menghalau kera-kera yang mengganggu desa kita. Mungkin kalau kita dapat melumpuhkan atau menjinakkan pemimpinnya, kita dapat membuat jera kera-kera yang lainnya,” kata Ki Singa Yuda menyanggupi.
Pak Lurah dan anak buahnya merasa puas atas kesanggupan Ki Singa Yuda, membantu mengamankan desanya dari gangguan kera-kera liar. Mereka percaya, sebagai keturunan orang sakti, Ki Singa Yuda tentu mempunyai sesuatu yang dapat diandalkan untuk mengusir kera-kera yang rakus itu.
“Kalau Ki Singa Yuda akan melumpuhkan atau menjinakkan pemimpin kera-kera itu, saya kira saat inilah waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Karena saat ini kera-kera itu dikawal pemimpinnya sedang mengganas di ladang sebelah barat desa,” kata Pak Lurah memberi tahu.
“Kalau begitu, sebaiknya bapak-bapak mendahului dengan mengajak para warga desa ke tempat itu. Saya akan segera menyusul setelah mempersiapkan diri. Kita usir kera-kera itu bersama-sama,” sahut Ki Singa Yuda.
Pak Lurah, Pak Carik dan Pak Kadus membenarkan pendapat Ki Singa Yuda. Mereka lalu permisi untuk mengajak penduduk desa nggropyok mengusir kera-kera liar yang saat ini menjadi musuh bersama. Untuk mengumpulkan penduduk desa, Pak Lurah cukup memukul kentongan besar yang tergantung di teras balai desa. Suara kentongan yang mempunyai suara khas, berbeda dengan bunyi kentongan di rumah penduduk, menjadi pertanda perintah berkumpul di Balai Desa bagi para kepala keluarga di Desa Tlogo Watu. Mereka berkumpul dengan membawa senjata masing-masing, sesuai isyarat bunyi kentongan yang memerintahkan mereka berkumpul dalam sikap siaga bersenjata. Kemudian mereka beramai-ramai ke ladang untuk mengusir kera-kera yang telah menjarah tanaman mereka.
Setelah para perangkat desa itu pergi meninggalkan rumahnya, Ki Singa Yuda segera masuk ke kamar khusus yang tidak sembarang orang boleh memasukinya. Di kamar itu Ki Singa Yuda mengambil senjata pusaka warisan leluhurnya, sebuah tombak yang tangkainya hanya sepanjang lengan orang dewasa. Tombak sakti yang menjadi andalan para leluhur Ki Singa Yuda itu diberi nama Kiai Guntur Geni. Ki Singa Yuda lalu berganti pakaian seperti pendekar silat. Celana komprang, baju koko lengan panjang tanggung agak longgar. Memakai sabuk hitam di pinggang dan ikat kepala motif batik warna sogan menutupi sebagian rambut panjangnya yang telah memutih.
Dengan menggenggam tombak sakti di tangan kanan, Ki Singa Yuda berjalan keluar ke arah ladang-ladang penduduk yang sedang dijarah kawanan kera. Dengan perhitungan yang teliti Ki Singa Yuda dapat memperkirakan jalan mana kira-kira yang akan dilalui kera-kera Jurang Kali Manggal itu untuk kembali setelah menjarah tanaman penduduk. Di pinggir jalan yang akan dilalui kera-kera itulah Ki Singa Yuda bersembunyi di balik pohon mahoni yang besarnya melebih pelukan dua orang dewasa.
Dari persembunyiannya Ki Singa Yuda mendengar orang-orang berteriak-teriak mengusir kawanan kera. Suara orang yang jumlahnya sangat banyak itu sangat gaduh, karena bersahutan dengan suara mere dan mbekesnya kera-kera yang mau memberikan perlawanan. Tetapi karena lawan kera-kera itu adalah penduduk yang begitu banyak dan bersenjata, terpaksa mereka lari-lari berserabutan kembali pulang ke sarangnya, sambil membawa jagung jarahannya.  Mereka membawa jagung tidak tanggung-tanggung. Mulutnya penuh menggondol jagung yang masih utuh, tangan kanan kiri dua-duanya menggenggam jagung pula. Masih ditambah kedua ketiaknya mengepit jagung kanan kiri. Sungguh cerdik dan serakah! Untung mereka belum mengenal budaya tekstil, sehingga mereka tidak dapat membawa jagung dengan karung di punggungnya dan di kantong baju dan celananya.
Kera-kera itu lari lintang pukang ketakutan karena diusir puluhan penduduk desa bersenjata. Di belakang mereka, dalam jarak dua puluh meter kera besar pemimpin mereka yang kebal senjata berjalan menghadap ke belakang menjadi pelindung bagi anak buahnya. Pisau, sabit, bahkan tombak yang dilemparkan penduduk mengenai tubuhnya tetapi tidak dapat melukai. Benar-benar ia telah menjadi perisai yang melindungi anak buahnya.
Ketika kera besar yang kebal itu sampai di tempat persembunyian Ki Singa Yuda, orang tua yang sakti itu melemparkan tombak saktinya,  disertai bacaan doa untuk dapat menembus ilmu kebal si kera besar. Tombak meluncur diiringi kesiur angin yang menimbulkan rasa giris. Kejadiannya begitu cepat. Tanpa bisa menghindar, tahu-tahu tombak bertangkai pendek itu sudah tertancap di paha kera besar. Kera sakti itu memekik kesakitan. Ternyata kekebalan kulitnya tak berdaya melawan kesaktian tombak Ki Singa Yuda yang disertai doa. Kera yang sudah berani pasang badan menjadi perisai bagi anak buahnya itu mencoba mencabut tombak yang menancap dalam di pahanya, tetapi tidak bisa. Rasa sakit, panas dan pedih, bahkan semakin menyengat. Akhirnya ia berlari-lari berloncatan nunjang-nunjang sambil tangan memegangi paha dan tangkai tombak yang terasa mengganggu. Ia berlari sambil menjerit memekik-mekik kesakitan.
Anak buahnya yang melihat pemimpinnya berlari-lari sambil memekik-mekik kesakitan, menjadi takut, bubar mawut ikutan berlari lebih kencang mencari selamat sendiri-sendiri. Jagung-jagung yang mereka bawa pun jatuh berceceran. Suara teriakan mereka ramai sekali, mere-mere dan mbekes-mbekes di sepanjang jalan.
Sampai di Jurang Kali Manggal kera-kera yang berlarian ketakutan itu berloncatan ke atas pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar jurang. Lalu mereka turun ke bawah ke jurang yang tanahnya nggrowong memayung melindungi mereka dari hujan, panas dan serangan musuh.
Ki Singa Yuda yang sudah berhasil melukai kera besar merasa lega. Ini berarti ilmunya masih di atas kera sakti pemimpin kera liar Jurang Kali Manggal. Terbukti tombaknya dapat menembus ilmu kebal kera besar tersebut. Tetapi setelah sadar mengetahui kalau tombak saktinya hilang terbawa lari kera besar yang berloncatan sambil memekik-mekik kesakitan menuju ke sarangnya di Jurang Kali Manggal, Ki Singa Yuda jadi khawatir. Tombak itu bukan tombak sembarangan. Senjata itu adalah sipat kandel warisan leluhurnya yang harus dijaga, dirumat, dan kelak diwariskan kembali kepada anak keturunannya. Akankah warisan yang sangat bernilai itu hilang tak terwariskan pada generasinya? Akankah mata rantai pewarisan budaya leluhur itu terputus di tangannya? Ki Singa Yuda cemas, beranikah dirinya mengejar mencari tombak saktinya ke sarang kera di Jurang Kali Manggal, sementara senjata sipat kandelnya sudah tidak ada di tangan? Setelah ditimbang-timbang, sebagai ujud rasa tanggung jawabnya kepada para leluhur dan generasi penerusnya, serta netepi jejere pendekar yang pantang menyerah, akhirnya dengan mantap Ki Singa Yuda melangkahkan kaki menuju Jurang Kali Manggal.
Sampai di tepi Jurang Kali Manggal yang dikeramatkan oleh penduduk, Ki Singa Yuda termangu-mangu. Untuk turun ke dasar jurang yang growong membentuk goa, tidak mudah. Kera-kera yang ringan tubuhnya dengan mudahnya berloncatan ke dahan-dahan dan ranting pepohonan yang batangnya tertanam mengakar di dasar jurang. Mereka sudah terbiasa. Tetapi bagaimana dengan dirinya? Ki Singa Yuda termangu-mangu di bibir jurang. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Ranting-ranting dan dahan-dahan pepohonan di pinggir jurang itu meliuk-liuk. Salah satu ranting yang cukup kuat meliuk-liuk mendekati tempat Ki Singa Yuda berdiri. Tanpa berpikir panjang Ki Singa Yuda dengan sigap menangkap ranting tersebut.
Aneh! Begitu salah satu ranting tertangkap tangan Ki Singa Yuda, angin berhenti bertiup. Pohon-pohon kembali tegak. Ki Singa Yuda yang memegang erat ranting pohon tertarik menjauh dari bibir jurang. Agar tidak jatuh, kedua tangannya menangkap dahan yang cukup besar, lalu berpegangan erat di dahan  pohon itu, kedua kakinya menjepit  dahan dalam posisi orang memanjat pohon. Namun kali ini bukan untuk memanjat naik, tetapi justru melorot menuruni pohon, dari dahan ke batang, pangkal batang, lalu turun ke dasar jurang.
*
Ajaib! Dasar jurang, dalam goa, yang tadi nampak gelap terlihat dari batang pohon tempat ia memanjat, begitu Ki Singa Yuda turun menginjak  tanah, tiba-tiba nampak terang benderang. Ia merasa ada di alun-alun menghadap ke keraton yang besar dan megah. Orang-orang berlalu lalang di sekitar Ki Singa Yuda. Mereka tidak saling bicara. Nampaknya kesedihan sedang membayangi negeri itu.
Ki Singa Yuda yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap lingkungan, tidak tahan memendam pertanyaan tak terjawab dalam hatinya. Ia segera mendekati salah seorang yang sedang berjalan di dekatnya. Orang itu berpakaian cukup mewah, mungkin ia seorang bangsawan kerajaan.
“Maaf Ki Sanak, apa nama negeri ini, saya kok baru tahu sekarang? Dan kenapa orang-orang kelihatan sedang berduka?” tanya Ki Singa Yuda.
“Ki Sanak ini seorang pendatang baru, ya?  Ketahuilah, Ki Sanak, ini adalah Negara Kali Manggal. Aku adalah patihnya, namaku Patih Wanara Tinaya. Adapun kenapa saat ini rakyat Kali Manggal nampak sedang berduka cita, karena raja kami Gusti Prabu Wanara Kusuma sedang menderita sakit parah yang belum dapat disembuhkan. Padahal raja kami hanya mempunyai seorang puteri yang belum bersuami. Kalau raja kami meninggal, siapa yang akan menggantikannya? Akankah negeri kami dipimpin seorang perempuan? Padahal aturan negeri kami, seorang raja harus seorang laki-laki, karena ia berkewajiban melindungi rakyatnya dari serangan musuh,” jawab yang ditanya.
“Oh…maaf, Gusti Patih. Saya tidak tahu kalau saat ini saya sedang berhadapan dengan Gusti Patih Wanara Tinaya dari Negara Kali Manggal. Lalu kalau saya boleh tahu lagi, apa sakit yang diderita Paduka Raja?” tanya Ki Singa Yuda ingin tahu.
“Ketika kami sedang mencari makan di negeri seberang, raja kami yang sedang melindungi kami dalam perjalanan pulang, tiba-tiba diserang musuh dari tempat persembunyiannya. Entah kenapa, raja kami yang biasanya kebal tak mempan senjata tajam, saat itu sedang apes, tombak bertangkai pendek yang dilemparkan orang itu dapat menembus ilmu kebal raja kami, menancap dalam di paha kanannya. Sampai kini tombak itu tidak dapat dicabut. Sepanjang hari raja kami hanya dapat berbaring menjerit-jerit kesakitan. Katanya rasanya panas dan pedih. Tenaganya seperti dihisap senjata tombak yang menancap itu. Kakinya melepuh seperti terbakar. Tabib-tabib dan dukun dari negeri kami yang mencoba mengobati, semuanya gagal, hasilnya nol.”
Mendengar penjelasan orang itu, mengetahui adanya tombak pendek menancap di paha raja, Ki Singa Yuda dapat menduga negeri apakah yang sedang didatanginya ini. Juga ia dapat menduga siapakah raja yang sedang sakit itu. Ia merasa senang menemukan jalan untuk mendapatkan pusaka tombak saktinya kembali.
“Maaf Gusti Patih, bolehkah orang luar seperti saya ini mencoba untuk mengobati sakit Paduka Raja?” tanya Ki Singa Yuda kemudian.
“Boleh saja. Tetapi sebelumnya aku perlu tahu siapakah nama Ki Sanak ini dan dari mana asalmu? Apakah Ki Sanak ingin ikut sayembara? Apakah Ki Sanak menginginkan hadiah yang sudah dijanjikan bagi siapa saja yang dapat menyembuhkan sakit raja kami?” Patih Wanara Tinaya balik bertanya.
“Nama saya Ki Singa Yuda. Saya berasal dari Desa Tlogo Watu Kecamatan Kemalang di lereng Gunung Merapi. Boleh dipanggil Ki Singa begitu saja. Sedikit banyak saya pernah belajar ilmu pengobatan dari leluhur saya Ki Suro Bledeg. Saya tidak tahu adanya sayembara. Saya hanya ingin menolong sesama yang sedang menderita. Kalau boleh minta hadiah, saya hanya ingin diberi hadiah tombak yang telah berhasil melukai Paduka Raja. Itu saja,” jawab Ki Singa Yuda.
“Tetapi, Ki Sanak tidak boleh mengabaikan hadiah yang telah dijanjikan. Siapa saja yang berhasil mencabut tombak yang bersarang di paha raja kami dan berhasil menyembuhkan sakitnya, kalau laki-laki akan dikawinkan dengan puterinya, Puteri Puspita Wanari yang cantik jelita, dan kelak berhak menggantikan sebagai raja kami. Kalau ia seorang perempuan, akan dipersaudarakan dengan puteri raja kami dan berhak mendapat  perlakuan sebagai puteri raja. Ia pun akan diberi warisan sepertiga kekayaan raja kami. Bagaimana, apakah Ki Sanak tidak mau menerimanya?”
“Hadiah itu terlalu besar bagi kami yang hanya orang biasa dan sudah tua. Tetapi yang lebih penting adalah menyelamatkan Paduka Raja penguasa Negara Kali Manggal. Mumpung belum terlambat. Kalau tidak keberatan, mari antarkan saya menghadap raja Prabu Wanara Kusuma. Saya akan mencoba menyembuhkannya,” ajak Ki Singa Yuda.
“Dengan senang hati, mari aku antar Ki Singa Yuda menghadap raja kami yang sedang terbaring sakit.” Mereka segera bergegas meninggalkan alun-alun menuju ke istana raja. Di depan istana, Patih Wanara Tinaya memberi tahu maksud kedatangannya kepada perajurit jaga. Mereka dipersilakan masuk ke ruang peraduan raja.
Raja yang bertubuh tinggi besar itu sedang berbaring sambil mengerang-ngerang kesakitan. Ia sudah tidak mampu menjerit-jerit lagi. Tenaganya sudah lemah karena banyaknya darah yang keluar. Patih Wanara Tinaya yang mengantarkan Ki Singa Yuda membisikkan maksud kehadirannya ke telinga Puteri Puspita Wanari yang sedang menunggui ayahandanya sambil terisak menangis berurai air mata. Puteri yang cantik itu mengangguk-angguk tanda setuju. Ki Patih lalu memberi isyarat mempersilakan tamunya untuk segera bekerja mengobati rajanya.
Ki Singa Yuda yang paham maksud  isyarat Ki Patih segera mendekati pembaringan sang raja. Ia menyingkap selimut yang menutupi paha sang raja yang terluka. Kelihatan paha yang nampak kenyal berbulu itu tertancap tombak cukup dalam. Tidak salah lagi, itulah tombak Kiai Guntur Geni miliknya. Ki Singa Yuda duduk bersila, tangan bersedekap, diam menahan nafas. Memusatkan seluruh cipta, rasa dan karsa, berkomat-kamit membaca doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Memohon pertolongan, bimbingan dan kekuatan untuk dapat mencabut tombak yang menancap di paha raja, dan untuk dapat menyembuhkan sakitnya. Kemudian tapak tangannya yang sudah ia sembur dengan ludahnya diusapkannya di seputar luka itu. Hawa dingin yang tersalur lewat usapan itu mengurangi rasa panas dan pedih di luka di paha sang raja yang tak berdaya.
Ketika sang raja sedang terlena merasakan berkurangnya rasa sakit, tiba-tiba tangan kanan Ki Singa Yuda kuat-kuat memegang gagang tombak, dan dengan cepat mencabutnya, sementara tangan kiri menekan paha di sekitar bagian yang sakit. Raja Wanara Kusuma menjerit pendek merasakan sakit luar biasa! Tapi kemudian merasa lega seperti terbebas dari beban yang amat berat. Darah merah tua kehitaman meleleh keluar dari luka itu. “Tahan Paduka Raja!!” kata Ki Singa Yuda sambil mengurut pangkal paha dan sekitar luka, memaksa keluar racun di sekitar luka. Raja Wanara Kusuma meringis menahan sakit.
Dari kantong celana komprangnya, Ki Singa Yuda segera mengeluarkan ramuan warisan leluhurnya yang sengaja dibuat khusus untuk menawarkan racun yang ada pada mata tombaknya. Untung raja mempunyai kesaktian dan daya tahan tubuh yang kuat, sehingga ia kuat bertahan sampai mendapat pertolongan ini. Seandainya raja hanya orang biasa tentu ia sudah tewas beberapa menit setelah tubuhnya tergores ujung tombaknya. Ki Singa Yuda lalu minta air putih. Puteri Puspita Wanari segera mengambilkan air putih dalam gelas. Sambil memangku kepala Raja Prabu Wanara Kusuma, Ki Singa Yuda membantu menelankan butiran obat ke mulut raja. Kemudian satu teguk dua teguk air putih menggelontor obat itu masuk ke dalam perut sang raja.
“Sudah. Sekarang biarkan Paduka Raja istirahat. Pakaikan selimutnya agar raja dapat tertidur nyenyak. Nanti setelah bangun, badannya akan segar kembali, sehat wal afiat seperti sedia kala. Sekarang mari kita keluar ruangan, agar Paduka Raja tidak kegerahan,” ujar Ki Singa Yuda sambil meletakkan kembali kepala sang raja ke pembaringan. Ia pun lalu melangkah keluar, diikuti yang lainnya.
“Saya kira tugas saya di sini sudah selesai. Besok pagi kalau Paduka Raja bangun dari tidurnya, badannya akan sehat kembali. Untuk memulihkan kekuatannya, ini saya beri catatan daun-daunan dan akar-akaran yang dapat dijadikan ramuan untuk memulihkan kesehatan Paduka Raja. Saya kira tidak sulit mencarinya,” ujar Ki Singa Yuda membuka pembicaraan setelah saling berdiam diri beberapa waktu.
“Ki Singa Yuda, seperti yang sudah diumumkan, penyembuhan Paduka Raja ini disayembarakan. Ternyata yang dapat menyembuhkan adalah Ki Singa Yuda. Jadi Ki Singa Yuda berhak memperoleh hadiah yang sudah dijanjikan,” kata Patih Wanara Tinaya hati-hati.
“Sudah saya katakana sejak awal, Gusti Patih. Saya mau menolong Paduka Raja, bukan untuk mengharapkan suatu hadiah. Saya hanya ingin menolong sesama yang sedang menderita kesusahan. Kalau boleh meminta hadiah, tidak ada lain yang saya minta kecuali tombak bertangkai pendek yang sudah melukai Paduka Raja. Itu saja, tiada yang lain lagi,” sahut Ki Singa Yuda.
“Sebelumnya, atas nama seluruh rakyat Negara Kali Manggal aku ucapkan terima kasih atas pertolongan Ki Singa Yuda, sehingga raja kami dapat berangsur sembuh. Tetapi kami pun meminta, janganlah Ki Singa Yuda menolak menerima hadiah sesuai yang telah kami janjikan dalam sayembara. Sebab kalau sampai Ki Singa Yuda  menolak menerimanya, itu berarti penghinaan bagi negara dan rakyat Kali Manggal,” ujar Patih Wanara Tinaya penuh wibawa.
Ki Singa Yuda termangu-mangu. Dirinya bagaikan menelan buah simalakama. Kalau menerima hadiah sayembara, ia tidak berani. Karena ia tahu dengan siapa ia berhadapan dan di negeri mana ia berada. Seharusnya dirinya tidak boleh lama-lama di negeri ini. Tetapi kalau menolak, dirinya akan dianggap menghina negara dan rakyat Kali Manggal. Mungkin seumur hidupnya ia dan keturunannya akan dimusuhi. Kemudian ia melihat ke tubuhnya sendiri lalu membandingkannya dengan tubuh Puteri Puspita Wanari. Dirinya sudah tua. Kulitnya sudah mulai keriput. Rambutnya sudah memutih. Beberapa giginya sudah tanggal. Sedangkan puteri keraton Kali Manggal ini masih muda. Tubuhnya sintal, padat, singsat dan payudaranya montok menggiurkan. Parasnya cantik, matanya bersinar-sinar cemerlang, hidungnya mancung, geriginya kecil-kecil teratur rintik-rintik. Senyumnya manis menawan. Ki Singa Yuda malu pada dirinya sendiri. Dan anehnya, meskipun sudah sepuluh tahun Ki Singa Yuda ditinggal mati istrinya, dan kini menghadapi wanita cantik molek mendekati sempurna yang siap dikawini, dirinya merasa tidak ada nafsu untuk mengawininya.
“Maaf Gusti Patih. Saya sudah tua, tidak sepadan untuk Tuan Puteri Puspita Wanari yang masih muda belia,” ujar Ki Singa Yuda kemudian. 
“Tidak masalah, Ki Singa Yuda. Kami punya telaga berisi air yang dapat membuat awet muda. Namanya Telaga Madirda. Kalau Ki Singa Yuda sudah mandi di telaga itu, tubuh dan wajah Ki Singa Yuda akan kembali muda belia. Tidak hanya sesaat, tetapi akan awet muda selamanya. Jadi, bersedia, ya, Ki Singa Yuda, menerima hadiah sayembara, untuk mengawini puteri junjungan kami?” desak Patih Wanara Tinaya.  Puteri Puspita Wanari yang ada di sampingnya tersenyum malu-malu. Ada perasaan senang dan bangga pada puteri itu kalau dapat diterima menjadi istri orang gagah yang ada di hadapannya. Tetapi juga ada perasaan was-was penuh khawatir kalau sampai ditolak. Mukanya akan ditaruh di mana kalau puteri yang selalu diturut kehendaknya ini kini harus menerima nasib ditolak seorang rakyat jelata dari seberang?
Ki Singa Yuda masih diam kebingungan. Alasan tua ternyata bukan alasan yang tepat untuk menolak hadiah yang harus diterimanya. Alasan perbedaan alam kehidupan? Apakah mereka mau mengerti bahwa dirinya hidup di alam nyata, sedang mereka hidup di alam siluman? Nyatanya mereka sering masuk ke alam nyata, meskipun dalam ujud yang berbeda. Sedangkan dirinya sendiri sekarang sedang berada di alam mereka. Ki Singa Yuda masih kebingungan. Ia ingin menolak, tapi bagaimana caranya agar tidak menyinggung perasaan dan tidak menimbulkan amarah mereka yang merasa terhina?
Tiba-tiba arwah Ki Suro Bledeg, ayahnya, memperlihatkan diri. Ki Suro yang hanya dapat dilihat Ki Singa Yuda membisikkan petunjuk, ”Terimalah kehendak mereka tetapi tidak sepenuhnya.  Apabila nanti kamu diminta mandi di Telaga Madirda, janganlah kamu mandi, tetapi cukup membasuh muka, tangan dan kaki saja. Dengan demikian kamu maupun puteri itu tidak akan punya nafsu untuk saling berhubungan badan layaknya suami-istri. Sehingga kamu akan dapat kembali hidup di alam manusia. Dan kamu mempunyai kelincahan dan ketrampilan seperti mereka.” Setelah memberi petunjuk yang disimak baik-baik oleh Ki Singa Yuda, arwah Ki Suro Bledeg menghilang. 
“Baiklah Gusti Patih, saya menerima hadiah mengawini Puteri Puspita Wanari. Tetapi janganlah saya dipaksa untuk mengikuti ritual perkawinan sepenuhnya, karena saya juga sudah punya keluarga, meskipun tinggal anak, tetapi saya belum minta ijin padanya,” kata Ki Singa Yuda memberi syarat.
“Tidak apa. Yang penting Ki Singa Yuda tidak menolak puteri junjungan kami menjadi istri Ki Singa Yuda. Itu sudah cukup sebagai pertanda kalau Ki Singa Yuda menghargai bangsa kami. Dan kami sudah memenuhi janji kami yang diumumkan dalam sayembara,” kata Patih Wanara Tinaya.
Maka pada hari yang dianggap baik menurut petungan mereka, dilangsungkanlah pesta perkawinan antara Ki Singa Yuda dengan Puteri Puspita Wanari. Raja Wanara Kusuma yang sudah sembuh yang menikahkan mereka. Ritual mandi di Telaga Madirda pun dilaksanakan. Tetapi sesuai pesan Ki Suro Bledeg, Ki Singa Yuda tidak mau mandi. Ia hanya membasuh muka, tangan dan kaki. Begitu pun di cermin rias istana Kali Manggal, Ki Singa Yuda sudah melihat betapa wajahnya kembali muda dan tampan. Tangan dan kakinya pun sudah tidak keriput lagi. Kemudian Ki Singa Yuda diminta memakai pakaian kebesaran seorang pangeran sebagai menantu raja. Lalu pesta perkawinan, duduk di pelaminan disaksikan seluruh rakyat Negara Kali Manggal pun digelar. Usai pesta perkawinan yang cukup meriah, pasangan pengantin itu pun masuk ke kamar pengantin. Tidur di kanthil pagulingan khusus untuk pengantin. Aneh! Sebagai pengantin baru mereka sama-sama tidak punya nafsu untuk melaksanakan malam pertama yang banyak diidam-idamkan pasangan pengantin baru. Ki Singa Yuda memandang Puteri Puspita Wanari dengan perasaan kasih sayang orang tua kepada puteri kesayangannya. Sedangkan Puteri Puspita Wanari memandang Ki Singa Yuda dengan perasaan seorang puteri kepada orang tua yang sangat dihormati.
Esok harinya Ki Singa Yuda menyampaikan maksudnya untuk pulang ke rumahnya di Desa Tlogo Watu untuk minta ijin puteranya, sekaligus menjemput putera satu-satunya, Singa Taruna untuk ikut hidup bersama di Negara Kali Manggal.
“Silakan pulang minta ijin dan menjemput puteramu, kalau itu sudah menjadi kehendakmu. Hanya pesanku, sebelum keluar dari gerbang alun-alun, janganlah Ki Singa Yuda menengok ke belakang, meskipun Ki Singa Yuda mendengar orang-orang memanggil nama Ki Singa Yuda,” pesan Raja Wanara Kusuma.
“Pesan Paduka Raja akan selalu saya ingat-ingat,” kata Ki Singa Yuda. Kemudian dengan membawa bekal secukupnya, tak lupa membawa tombak pusaka Kiai Guntur Geni, Ki Singa Yuda kembali ke Desa Tlogo Watu. Keluar dari istana, sebelum melewati alun-alun, berpapasan dengan orang-orang dan para penjaga, Ki Singa Yuda tidak bertegur sapa. Paling hanya menganggukkan kepala kalau ada orang yang bertanya. Atau senyum sedikit. Tetapi setelah mulai menapakkan kaki di alun-alun, Ki Singa Yuda mendengar langkah orang mengikutinya di belakang. Orang itu, yang tak lain adalah penjaga istana memanggil namanya, memperingatkan  agar berhati-hati menapaki jalan di luar gerbang alun-alun. Jalan itu licin dan rumpil, katanya.
“Terima kasih, Prajurit Jaga,” kata Ki Singa Yuda sambil menoleh ke arah penjaga yang ada di belakangnya. Ia terpaksa menoleh ke belakang karena khawatir dikira sombong kalau berbicara tidak menghadap yang diajak bicara.
*
Karena telah melanggar pantangan seperti yang sudah diperingatkan Raja Wanara Kusuma, tiba-tiba seperti dilontarkan, Ki Singa Yuda tahu-tahu sudah ada di atas pohon besar yang tumbuh di Jurang Kali Manggal. Ia melihat pohon yang amat tinggi tempat dirinya memanjat itu jaraknya dengan bibir jurang tempat ia akan melangkah pulang, cukup jauh. Tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh, kecuali ia harus meloncat turun menginjak tanah di bibir jurang. Tetapi bagaimana ia harus melakukannya? Pohon tempat dirinya bertengger cukup tinggi, sedangkan tanah di bawah begitu rendah, apakah kakinya nanti tidak akan patah kalau jatuh ke tanah penuh bebatuan? Tapi kalau tidak dengan cara itu, lalu harus dengan cara apalagi? Akhirnya Ki Singa Yuda harus berusaha meringankan tubuhnya ketika meloncat ke tanah. Tidak ada cara lain. Tubuh Ki Singa Yuda melayang ringan ke bibir jurang. Hup!! Tubuh yang besar itu mendarat ringan di tanah. Tidak terasa sakit sedikit pun.
Ki Singa Yuda segera melangkah pulang ke rumah. Langkahnya terasa ringan, sehingga ia berjalan sambil meloncat-loncat di antara pepohonan yang berbaris rapat di pinggir jalan. Ia naik ke atas pohon, saking gembiranya ia meloncat-loncat dari satu dahan ke lain dahan, dari satu pohon ke lain pohon, menuju rumahnya.
Tiba-tiba ia ingat ladang-ladang penduduk yang kemarin dijarah kera-kera liar. Ki Singa Yuda ingin melihat tanaman jagung di ladangnya, apakah masih utuh atau ikut dijarah kera-kera liar. Ki Singa Yuda berbelok ke arah ladangnya. Sampai di ladang, Ki Singa Yuda merasa lega melihat tanaman jagungnya di ladang masih utuh. Ia turun ke ladang untuk memeriksa tanamannya. Melihat jagung-jagung manis yang sudah mulai tua, tiba-tiba terbit air liur Ki Singa Yuda, ingin memakannya mentah-mentah. Ki Singa Yuda memetik sebuah jagung, dan dengan cepat mengupasnya menggunakan mulutnya, lalu dengan rakus mbrakoti jagung mentah itu. Belum puas dan belum kenyang memakan satu jagung, ia pun memetik dan memakan lagi dua, tiga buah jagung.
Tanpa sepengetahuannya, saat itu perbuatannya sedang diintip oleh Singa Taruna, anaknya yang sedang menunggui ladangnya. Singa Taruna jadi heran, kenapa sekarang ladangnya dapat disatroni sang penjarah. Apakah mantra penangkal gangguan binatang liar, hama tanaman, dan para pencuri, yang ditanam ayahnya itu sudah tidak berfungsi? Buktinya saat ini seekor kera besar yang berjalan tegak sudah dapat memasukinya dan memakan beberapa buah jagung tanamannya. Ataukah kera ini yang teramat sakti sehingga ia dapat menembus tumbal penangkal yang dipasang ayahnya?
Singa Taruna berjalan mengendap-endap mendekati kera besar yang dilihatnya. Dasar keturunan pendekar sakti konthengan, Singa Taruna tidak takut menghadapi binatang buas apa saja. Setelah dekat dengan kera besar yang sedang memakan jagungnya, tiba-tiba Singa Taruna menyikap erat kera besar tersebut. Kera besar yang tidak menduga akan ditangkap dan disikap erat sedemikian kuatnya dari belakang, secara spontan berteriak-teriak minta dilepaskan. Sambil berteriak-teriak ia berusaha mengeluarkan tenaga untuk melemparkan orang yang telah berani menyikapnya demikian kuatnya.
Kera besar yang sebetulnya adalah Ki Singa Yuda itu menoleh ke belakang, akan melihat orang yang telah berani-beraninya menangkap dirinya yang sedang memetik dan memakan jagung tanamannya sendiri. Meskipun hanya melihat sebagian anggota badannya saja, orang kalau sudah mengenal dan sering bertemu, tentu akan dapat mengenali siapa orang itu. Demikian pula dengan Ki Singa Yuda, demi melihat sebagian wajah dan bahu orang yang menyikapnya, tahulah ia bahwa orang itu adalag Singa Taruna, anaknya. Kenapa ia menyikapnya dari belakang? Apakah ia mengajaknya bercanda, untuk melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu? Kalau iya, kenapa ia menyikap demikian kuat, sehingga ia seakan terkunci dan sulit bernafas? Keterlaluan sekali anak ini!
Tak tahan disikap begitu kencang, Ki Singa Yuda berteriak kuat-kuat memperingatkan anaknya, “Singa Taruna… ini aku, bapakmu! Jangan kamu sikap kuat-kuat begini, sampai aku sulit bernafas! Lepaskan aku, anakku! Aku bisa mati kehabisan nafas kalau begini terus!” Sambil berteriak-teriak, Ki Singa Yuda menguras tenaga berusaha melepaskan diri.
Singa Taruna merasakan kera besar yang berhasil ditangkapnya mengeluarkan tenaga begitu besar sambil mere-mere dan mbekes-mbekes menakutkan. Ia merasa hampir tidak kuat lagi mempertahankan  dekapannya. Kalau tidak ada bantuan dari orang lain, sebentar lagi kera besar yang ditangkapnya dengan susah payah ini tentu akan lepas. Maka Singa Taruna pun berteriak-teriak minta tolong, berharap ada orang di dekatnya mau berlari membantunya.
“Tolong….!!! Tolonggggg…!!! Aku telah berhasil menangkap kera besar. Tetapi tenaganya amat kuat. Ia hampir lepas. Tolong bantu aku memeganginya! Tolonggg…!!!” teriak Singa Taruna.
Ki Singa Yuda terkejut mendengar teriakan anaknya. Agaknya Singa Taruna tidak sedang bercanda. Mungkin ia melihat dirinya sebagai kera besar, sehingga ia bermaksud akan mencelakainya. Lebih-lebih kemudian ia mendengar langkah orang beramai-ramai mendatangi tempat ia bergumul dengan anaknya. Orang-orang desa berdatangan akan mengeroyok dan menangkapnya. Kalau benar tubuhnya sekarang sudah berubah menjadi kera besar, tentu orang-orang yang tak tahu siapa dirinya yang sebenarnya akan mencincangnya beramai-ramai. Berpikir begitu, Ki Singa Yuda lalu berteriak-teriak minta dilepaskan sambil mengeluarkan tenaga sekuat-kuatnya untuk melepaskan diri dari dekapan anaknya yang sudah tumbuh besar dan dewasa.
Singa Taruna merasakan kera besar yang ditangkapnya mere-mere dan mbekes-mbekes begitu hebat. Tenaganya pun jadi bertambah kuat berlipat-lipat, sehingga Singa Taruna jadi semakin kewalahan hingga terpaksa pegangannya terlepas. Bahkan dirinya terlempar beberapa langkah ke belakang.
Ketika Singa Taruna bangun, kera besar yang ditangkapnya telah lari sejauh-jauhnya, meloncat-loncat di antara dahan-dahan dan ranting-ranting pepohonan yang berjajar di pinggir jalan. Orang-orang desa berdatangan membantu Singa Taruna. Mereka berlari-lari mengejar kera besar yang berlari dan berloncatan di atas pohon begitu lincahnya. Orang-orang desa itu mengejar sambil melemparkan batu-batu, potongan kayu dan apa saja yang mereka temukan. Tetapi lemparannya hanya mengenai dedaunan dan ranting-ranting pohon yang bergoyang-goyang bekas dilalui Ki Singa Yuda. Ki Singa Yuda sendiri sudah lari jauh meninggalkan mereka. Tak terkejar. 
Ki Singa Yuda yang merasa telah jauh meninggalkan orang-orang yang mengejarnya, kemudian menuju ke sungai. Ia ingat di pinggir kali itu ada belik bermata air jernih. Ia merasa haus setelah makan beberapa buah jagung mentah, lalu mengeluarkan tenaga besar untuk dapat lepas dari dekapan erat anaknya yang sudah tidak mengenalinya lagi. Ia juga merasa lelah dan kegerahan setelah berlari-lari dan berloncat-loncatan menghindari kejaran orang-orang desa pada saat udara panas dibakar terik matahari. Ia ingin mencuci muka atau bahkan mandi sekalian.
Sampai di tepi sungai, Ki Singa Yuda  lalu menuruni jalan setapak di lereng sungai yang menuju ke belik mata air. Langkahnya ringan tidak seperti biasanya. Ia berloncatan di antara batu-batu dan tanah cadas yang bersembulan di jalan setapak yang tidak rata itu. Sampai di muka belik yang merupakan bak penampung air jernih yang langsung keluar dari mata air tanah, Ki Singa Yuda akan melepas baju kepangeranan pemberian Raja Wanara Kusuma. Tapi berulang kali ia mencoba melepas kancing baju, selalu tidak berhasil. Lalu ia coba tarik bagian bawah baju ke atas seperti kalau orang melepas kaos, juga tidak bisa. Ternyata baju ini demikian ketat, pas dengan tubuhnya, dan kainnya tidak elastis, tidak melar.
Akhirnya Ki Singa Yuda memutuskan tidak usah mandi. Cukup cuci muka, kaki dan tangan saja. Ia lalu membungkuk sambil tangan dibenamkan ke belik. Betapa terkejut Ki Singa Yuda, melihat bayangan wajah yang tercermin di air belik yang jernih bening. Wajah itu bukan wajahnya yang biasa ia lihat ketika bercermin ketika berdandan di rumah. Juga bukan wajah yang ia lihat di cermin rias di Keraton Kali Manggal, yang memperlihatkan wajahnya yang lebih muda dan lebih tampan. Wajah itu adalah wajah seekor kera yang menyeramkan. Kemudian ia baru sadar untuk memperhatikan tangan dan kakinya. Ia melihat tangan dan kakinya. Astaghfirullaah! Tangan dan kakinya adalah tangan dan kaki kera penuh bulu. Bukan tangan dan kaki manusia biasa. Pantas dirinya merasa ringan meloncat-loncat dari satu dahan ke dahan lainnya, dari satu pohon ke pohon lainnya.
Ia lalu melihat bayangan dirinya di belik yang berair jernih. Tubuhnya yang mengenakan baju dan celana kebesaran seorang pangeran Kerajaan Kali Manggal dalam bayangan yang terlihat di air belik ternyata adalah tubuh kera besar yang penuh bulu panjang-panjang menyeramkan. Tanpa pakaian selembar benang pun! “Pantas tidak dapat dilepas! Sebagai bagian dari tubuh, kulit berbulu ini tentu lengket menjadi satu.” Kata Ki Singa Yuda dalam hati. Jangan-jangan suaranya pun bukan lagi suara manusia, tetapi suara kera, dalam pendengaran orang lain. Sehingga teriakan-teriakan peringatannya pada anaknya, justru terdengar sebagai mere dan mbekesnya kera yang mengancam keselamatan anaknya.
 “Ini pasti ada yang tidak beres! Aku harus kembali ke Jurang Kali Manggal minta dikembalikan ke ujudku semula kepada Raja Wanara Kusuma. Aku tidak ingin anakku dan orang-orang kampungku tidak mengenali aku lagi, gara-gara aku memakai pakaian kepangeranan yang ternyata mengubah ujudku menjadi kera besar yang tidak aku inginkan,” kata Ki Singa Yuda dalam hati.
Setelah minum air belik beberapa teguk untuk membasahi kerongkongannya yang kering, lalu membasuh muka, kaki dan tangannya untuk mengurangi rasa lelah dan panas, Ki Singa Yuda berdiri. Sebentar kemudian ia sudah berada di atas sungai, lalu berlari kencang menuju Jurang Kali Manggal.
Sampai di dekat Jurang Kali Manggal, Ki Singa Yuda melihat orang-orang desa dan Singa Taruna anaknya sudah berkumpul di sana. Mereka mengepung jurang yang mereka keramatkan itu sambil berteriak-teriak minta agar penguasa Jurang Kali Manggal mengembalikan Ki Singa Yuda yang mereka sangka disekap di jurang itu.
“Hei… Penguasa Jurang Kali Manggal, lepaskan Ki Singa Yuda warga kami!” teriak Pak Lurah yang kemudian diikuti teriakan-teriakan serupa warga Desa Tlogo Watu. “Hei… Penguasa Jurang Kali Manggal, lepaskan Ki Singa Yuda, ayahku!” teriak Singa Taruna tak kalah serunya.
Ki Singa Yuda yang telah menyadari bagaimana ujud dirinya, mengendap-endap di antara gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan, mendekati bibir Jurang Kali Manggal. Sesampai di bibir jurang, dengan ringannya ia meloncat ke ranting pohon yang batang dan akarnya tertanam di dasar jurang. Orang-orang yang melihat Ki Singa Yuda yang mereka sangka pemimpin kera Jurang Kali Manggal, meloncat dengan cepat ke atas pohon besar lalu turun ke dasar jurang, terbengong-bengong seperti orang kecolongan. Tetapi kemudian mereka berteriak-teriak lebih ramai lagi minta dikembalikannya Ki Singa Yuda. Dan mereka mengancam akan membakar Jurang Kali Manggal kalau Ki Singa Yuda tidak dikembalikan.
*
Begitu meloncat turun, kakinya menapaki tanah Jurang Kali Manggal, Ki Singa Yuda merasa sudah berada di alun-alun Keraton Kali Manggal. Ia segera bergegas masuk ke dalam istana. Penjaga yang melihat pangeran menantu junjungannya telah kembali, memberi salam hormat. Tapi mereka menjadi heran, kenapa kali ini sang pangeran berjalan tergesa-gesa dengan sikap kurang ramah seperti ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya.
 Raja Wanara Kusuma dan Puteri Puspita Wanari yang melihat kedatangan Ki Singa Yuda menyambutnya. Mereka pun dibuat terkejut melihat sikap Ki Singa Yuda yang kurang ramah bersahabat.
“Ada apa anakku, datang-datang kamu memperlihatkan sikap kecewa dan kurang bersahabat?” tanya Raja Wanara Kusuma ingin tahu.
“Maaf Paduka Raja! Ternyata kedatangan saya ke Desa Tlogo Watu tidak disambut selayaknya sambutan kepada orang yang dihormati. Anak saya sendiri sudah tidak mengenali saya lagi, apalagi orang lain. Mereka melihat saya seperti melihat kera besar yang menjadi musuh mereka. Saya ditangkap. Ketika saya dapat melepaskan diri, mereka mengejar-ngejar dan meneriaki saya sebagai kera pengganggu yang patut diusir atau dimusnahkan! Ketika saya dapat lolos, lalu pergi ke belik, melihat bayangan wajah dan tubuh saya di air jernih, ternyata wajah dan tubuh saya memang wajah dan tubuh kera besar. Sekarang mau tidak mau saya minta dikembalikan ke ujud saya semula, sebagai manusia Ki Singa Yuda,” pinta Ki Singa Yuda.
“Kenapa bisa begitu, anakku? Apakah kamu melanggar laranganku? Apakah ketika akan melewati gerbang alun-alun, kamu menoleh ke belakang dan menyahut panggilan rakyatku?” tanya Raja Wanara Kusuma.
“Benar Paduka Raja. Saya terpaksa menoleh ke belakang karena takut dikira tidak sopan, diajak bicara orang kok tidak memandang lawan bicara,” jawab Ki Singa Yuda.
“Memang begitulah sopan santun di dunia manusia. Tetapi itulah pantangan bagi kami kepada manusia yang telah masuk ke dunia kami dan akan keluar di alam bebas sana. Maka ujud kamu pun menjadi menyerupai ujud kami. Karena kamu telah menganggap kami sederajat dengan kamu yang pantas dihormati. Tubuhmu telah berubah menjadi kera besar. Meskipun kamu merasa menjadi manusia, tetapi sebetulnya kalau kamu hidup di alam manusia kamu adalah kera besar yang hidup, makan dan bicaramu tidak seperti manusia, tetapi seperti kera. Sehingga bahasamu tidak dimengerti oleh manusia. Tetapi kamu mengerti bahasa manusia, dan bisa mengikutinya ”
“Lalu bagaimana, Paduka Raja? Saya ingin kembali ke ujud saya sebagai manusia. Biarpun tua dan hanya sebagai rakyat jelata.”
 “Barangkali sudah menjadi kehendak Tuhan Pemelihara Alam Semesta, kamu tidak berjodoh dengan anakku Puteri Puspita Wanari. Terbukti ketika kamu diminta untuk mandi di Telaga Madirda, kamu tidak mau mandi. Tetapi hanya membasuh muka, tangan dan kakimu. Sehingga kelamin dan nafsumu bukan kelamin dan nafsu kera, tetapi tetap manusia. Sehingga kamu tidak tertarik dan bernafsu melihat tubuh Puteriku Puspita Wanari. Demikian pula Puteriku Puspita Wanari pun tidak tertarik untuk berhubungan badan denganmu.   Maka karena kalian belum berhubungan badan, kamu masih bisa kembali ke ujudmu semula sebagai manusia biasa,” kata Raja Wanara Kusuma.
“Kalau begitu saya masih dapat dikembalikan ke ujud semula sebagai manusia?” sahut Ki Singa Yuda minta penegasan.
“Dengan ijin Tuhan Penguasa Alam Semesta, kamu masih dapat dikembalikan ke ujud aslimu. Aku akan berusaha untuk itu. Juga aku akan membatalkan perkawinanmu dengan puteriku, karena kalian tidak berjodoh. Bukankah sebetulnya kamu tidak menghendaki perkawinan itu? Anakku pun sudah kuberi pengertian, dan ia pun menyetujuinya,” kata Raja Wanara Kusuma kemudian.
“Terima kasih kalau Paduka Raja sudah tahu keinginan saya dan akan membantu saya mengembalikan ujud dan status saya. Saya mohon maaf  kalau ternyata saya tidak dapat memenuhi harapan Paduka Raja dan seluruh rakyat Kali Manggal,” ujar Ki Singa Yuda.
“Justru aku yang perlu minta maaf kepadamu. Aku sudah kamu tolong menyembuhkan sakitku, tidak berterima kasih, tapi justru memaksamu memenuhi keinginan rakyatku yang bertentangan dengan keinginanmu. Kita memang hidup di alam yang berbeda, seharusnya kita saling menghormati. Tidak seharusnya kita saling mengganggu atau memaksakan kehendak kepada pihak lain. Kalau kami terpaksa menjarah makanan di wilayahmu, itu semua sebetulnya karena kami terpaksa melakukannya karena makananku ludes dilalap si-wedhus gembel Merapi,” ujar Prabu Wanara Kusuma.
Alhamdulillah saat ini   tanaman-tanaman di bagian atas lereng Merapi sudah mulai tumbuh.  Pohon-pohon mulai bersemi. Biji-bijian dan buah-buahan pun sudah ada yang mulai masak. Ini semua berkah dari Tuhan Pemelihara Alam Semesta yang telah menyuburkan tanah melalui guyuran abu vulkanis Gunung Merapi pada waktu erupsi yang lalu. Oleh karenanya besok kami sudah tidak akan mengganggu tanaman di ladang kalian lagi. Kami akan mencari makan naik ke atas ke hutan yang mulai tumbuh menghijau di lereng Merapi bagian atas,” lanjut Raja Wanara Kusuma setelah berdiam diri beberapa saat.
“Lalu bagaimana caranya untuk mengembalikan saya ke ujud semula, Paduka Raja?”desak Ki Singa Yuda.
“Kamu tidak perlu khawatir Ki Singa Yuda. Hanya, kalau sekarang juga di sini kamu dikembalikan ke ujud semula sebagai manusia, kamu akan kesulitan naik ke atas sana, ke alammu sebagai manusia. Maka sebaiknya untuk sementara tetaplah kamu berujud seperti itu. Tetapi ini aku beri air sebagai sarana untuk mengembalikan tubuh dan jiwamu ke ujud semula,” kata Raja Wanara Kusuma sambil menyerahkan air putih kepada Ki Singa Yuda. Meskipun belum tahu apa guna dan bagaimana cara menggunakannya, Ki Singa Yuda menerima air putih dalam botol itu dengan penuh hormat.
“Air dalam botol ini meskipun kelihatannya hanya seperti air putih biasa, tetapi sesungguhnya ia bukan sembarang air. Ia adalah air yang diambil di Telaga Waluyo Jati di Jurang Mlumbang. Khasiatnya dapat mengembalikan ujud orang yang berubah menjadi siluman secara tidak sempurna, kembali ke ujud semula sebagai manusia. Tuangkan air putih ini ke dalam bak air, atau belik atau ember berisi air. Lalu gunakan air yang sudah bercampur itu untuk membasuh muka, tangan, kaki, dan untuk mengguyur seluruh tubuhmu. Dengan seijin Tuhan Yang Maha Kuasa, kamu akan kembali ke ujud semula, sebagai manusia seutuhnya,” ujar Raja Wanara Kusuma.
“Dan terimalah ini, pakaianmu. Barangkali kamu ingin segera mengembalikan ujudmu sebelum sampai di rumahmu. Kamu dapat memakainya, agar kamu tidak pulang dalam keadaan tanpa selembar pakaian pun,” lanjutnya.
Ki Singa Yuda menerima bungkusan yang berisi pakaiannya sendiri.
“Sekarang segeralah kamu naik ke atas. Sebelum pulang ke rumahmu, mampirlah dulu ke belik tempat kamu membasuh muka tadi. Kembalikan ujudmu sebagai manusia di sana. Tetapi berhati-hatilah melewati orang-orang yang berjaga-jaga di atas sana. Meskipun mereka adalah tetanggamu atau bahkan anakmu, mereka tidak mengenalmu. Mereka mengira kamu adalah aku si Raja Kera Jurang Kali Manggal. Mereka tentu akan mengejar-ngejarmu, melemparimu dengan batu atau apa saja yang tersedia. Dan meneriakimu minta agar mengembalikan Ki Singa Yuda kepada mereka. Jangan digubris dan jangan dilawan! Cepat tinggalkan mereka menuju ke belik untuk dapat segera berganti ujud!” nasehat Raja Wanara Kusuma. “Segera tinggalkan tempat ini, sebelum mereka menjadi marah lalu membakar tempat ini!!” lanjut Raja kera setengah mengusir.
“Lalu bagaimana dengan pakaian kepangeranan yang saya pakai ini, Paduka Raja?” tanya Ki Singo Yudo sedikit bingung.
“Jangan khawatir! Begitu kamu mandi dengan air yang sudah dicampur air dari Telaga Waluyo Jati itu, pakaian kebesaran pangeran Negara Jurang Kali Manggal itu akan lenyap kembali kepada kami,” jawab Raja Wanara Kusuma.
“Kalau bebitu saya akan menurut petunjuk Paduka Raja.”
Ki Singa Yuda menyalami Raja Wanara Kusuma, Puteri Puspita Wanari, Patih Wanara Tinaya, dan semua yang hadir di tempat itu. Mereka meneteskan air mata, menahan haru perpisahan. Ki Singa Yuda pun berlinangan air mata. Merasa haru menerima kebaikan Raja Wanara Kusuma yang telah dicelakainya, meskipun dirinya pula yang kemudian menyembuhkannya. Apakah sesungguhnya raja siluman kera yang sakti ini  tidak mengetahui hal ini?
Dengan hormat dan hangat, kerabat Raja Wanara Kusuma menyambut salam perpisahan Ki Singa Yuda. Kemudian dengan mantap Ki Singa Yuda keluar keraton. Ia mengangguk kepada penjaga pintu gerbang alun-alun, menapaki alun-alun yang ditumbuhi rumput-rumput tebal namun terasa lembut di kaki. Keluar dari gerbang alun-alun, sekali lagi penjaga pintu gerbang keluar alun-alun mengingatkan agar hati-hati. Ki Singa Yuda hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Lalu ia meloncat-loncat di antara lempengan-lempengan batu yang tertata tidak teratur di sepanjang jalan yang dilalui. Setelah itu, tahu-tahu Ki Singa Yuda sudah ada di jalan di belakang orang-orang yang mengepung Jurang Kali Manggal.
*
Waktu itu kebetulan ada salah satu warga desa yang sedang menoleh ke belakang. Ia melihat ada seekor kera besar sedang berlari-lari menjauh. Ia langsung berteriak, “Lihat kawan-kawan, aku melihat kera besar itu sudah ada di belakang kita. Lihat itu di belakang!” Orang itu menunjuk kepada Ki Singa Yuda yang dikira Raja Kera Jurang Kali Mnggal sedang berlari kencang sambil berloncat-loncatan menjauhi mereka.
Seperti mendapat aba-aba, orang-orang memutar tubuhnya ke belakang. Mereka melihat kera besar berlari-lari dan berloncat-loncatan di antara pohon-pohon, gerumbul-gerumbul dan semak-semak demikian kencangnya. Arah yang dituju adalah ke belik yang cukup jauh dari Jurang Kali Manggal tempat mereka berada. Orang-orang segera berlari-lari sambil berteriak-teriak mengejar kera besar yang mereka sangka telah menyandera Ki Singa Yuda di sarangnya. 
Lari Ki Singa Yuda tidak terkejar oleh penduduk. Sampai di belik ia segera menuang air dalam botol ke belik yang berisi air jernih. Lalu dengan menggunakan tempurung yang sengaja ditaruh penduduk di situ untuk gayung siapa saja yang ingin mandi di belik, Ki Singa Yuda mengguyur tubuhnya. Mula-mula mukanya diguyur, seketika wajah keranya hilang berganti wajah manusia Ki Singa Yuda yang sudah tua. Lalu tangannya diguyur, seketika tangannya berubah menjadi tangan manusia, bulu-bulu yang lebat menutupi tangannya hilang lenyap. Lalu kakinya diguyur, seketika kakinya berubah menjadi kaki manusia. Kemudian karena terasa segar, seluruh tubuhnya diguyur berkali-kali sampai air belik terasa hampir kering. Maka seluruh tubuhnya sekarang sudah kembali seperti sedia kala. Wajahnya  yang semula dikira menjadi lebih tampan dan lebih muda, tetapi yang sesungguhnya wajah itu telah berubah menjadi wajah kera yang menakutkan, kini sudah kembali menjadi wajah Ki Singa Yuda yang memang sudah tua dan mulai keriput. Tapi itulah wajahnya sendiri yang mau tidak mau harus disyukuri.
Orang-orang yang mengejar Ki Singa Yuda beramai-ramai sampai di belik. Mereka melihat Ki Singa Yuda sedang mandi cibar-cibur seolah-olah tiada puas-puasnya mengguyur tubuhnya dengan air segar di tengah terik matahari yang membakar tubuhnya. Setelah itu mereka melihat Ki Singa Yuda mengenakan pakaian kebesaran seorang pendekar sambil menggenggam tombak bertangkai pendek.***  

NB: Cerita misteri ini bersama 17 cerita misteri lainnya akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta. Bulan September 2014 ini memasuki tahap editing. Adapun judul-judul cerita selengkapnya yang akan dimuat dalam Kumpulan Cerita Misteri “Yang Nyusul di Tempat Tidur” itu adalah:

                 Judul Cerita:                                                                           Halaman:
Yang Menyusul Di Tempat Tidur………………...........……………………..    6
Senin Legi Minta Dekat Mbah Buyut .............................................................. 15         
Bertamu ke Kraton Laut Selatan ........................................................................21
Urung Menjadi Tumbal ......................................................................................29
Membantu Kelahiran Bayi Siluman ...................................................................36
Harimau-Harimau Merapi ..................................................................................45
Bercinta Dengan Penunggu Bok Depan Polres ..................................................54
Riwayat Sebuah Ruas Jalan Yang Misterius ......................................................64
Hilangnya Kakek Amat Sari ...............................................................................71
Hantu Lawang Sewu Ikut Main Aksi Teatrikal ..................................................81
Hantu Wewe Penunggu Waru Doyong ...............................................................88
Kuda Lumping Maut ...........................................................................................98
Disembunyikan Dalam Kakus Plung-Lep .........................................................108
Siluman Kera Jurang Kali Manggal ..................................................................117
Kemarahan Cikal Bakal Randu Alas .................................................................143
Pemancing Yang Misterius ................................................................................153
Ular Sebesar Batang Pohon Kelapa Di Bendungan ...........................................161
Siluman Harimau Putih ......................................................................................168
Catatan Biografi Penulis .....................................................................................174

                                          Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Cerita Misteri: Siluman Kera Jurang Kali Manggal"

Post a Comment