Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 8

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten.

8. Telaga Ngembel

Kuda-kuda Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora berpacu melewati jalan tanah berumput. Pangeran Jaka Patahwan di depan, diikuti Ki Sidagora di belakang. Tongkat ranting randu alas Pangeran Jaka Patahwan ditaruh di atas pelana. Ujungnya persis di atas kepala kuda. Entah bagaimana, tanpa diperintah kuda Pangeran memimpin perjalanan di waktu malam itu ke arah selatan. Ujung tongkat itu mengeluarkan sinar menerangi jalan di depan yang harus dilewati. Anehnya kalau melewati persimpangan jalan tongkat itu bergerak seperti jarum kompas, menunjukkan jalan mana yang harus ditempuh. Lalu kudanya menuruti arah sinar yang ditunjukkan tongkat di atas kepalanya. Kuda Ki Sidagora tinggal mengikuti di belakangnya. 

Tidak berapa lama mereka berpacu sampailah mereka di tepian sungai yang jembatannya terputus. Mungkin terbawa banjir belum sempat diperbaiki. Terpaksa mereka harus menyeberangi sungai tersebut. Mereka mencoba menyusuri tepian sungai, mencari tepian yang landai, kalau bisa yang jarak tepi sungainya tidak begitu luas sehingga cukup dilompati kuda-kuda mereka, atau setidaknya menemukan bagian sungai yang dangkal, tidak begitu dalam, sehingga kuda-kuda mereka dapat menyeberangi dengan turun ke sungai. Setelah disusuri beberapa langkah, akhirnya mereka menemukan bagian sungai yang tidak terlalu lebar, sehingga cukup bagi kuda-kuda mereka untuk melompatinya.

“Berhenti dulu, Paman. Aku kira bagian sungai ini dapat dilompati kuda-kuda kita. Berani tidak Paman melompati sungai ini di atas punggung kuda paman?” tanya Pangeran Jaka Patahwan kepada abdinya.

“Berani, Pangeran. Untung kuda-kuda kita kuda-kuda pilihan yang tinggi dan panjang badannya, sehingga lompatannya pun tentu juga panjang. Paman kira kuda-kuda kita akan mampu melompati sungai ini sampai ke tepi sana. Apa perlu paman yang akan mencobanya terlebih dahulu, Pangeran?”
“Kalau Paman berani, boleh juga. Tetapi harus berhati-hati. Banyak perdu pohon pandan berduri di seberang sana. Dan paman harus ambil ancang-ancang agar lompatannya kuat dan jauh,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Baiklah, Pangeran, akan paman coba,” kata Ki Sidagora sambil memundurkan kudanya beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang.  Setelah merasa siap, abdi Pangeran Jaka Patahwan yang setia dan selalu ingin melindungi junjungannya itu memacu kudanya, dan pada saat sudah mencapai tepi sungai, kuda itu diberi isyarat untuk melompat. Kuda yang sudah terlatih mengikuti apa perintah tuannya. Dengan sekuat tenaga kuda itu melayang, menyeberangi sungai. Ketika menjejakkan kakinya di tepi sungai di seberang, hampir saja Ki Sidagora terjatuh karena kaki kuda sedikit terpeleset setelah menerjang rumpun pandan. Tubuh kuda oleng! Untung kaki-kaki kuda itu sangat kuat sehingga ia dapat menahan tubuhnya agar tidak terguling dan membanting tuannya yang berada di atas punggungnya. Agaknya Ki Sidagora salah perhitungan. Ternyata tepi sungai yang dituju untuk mendaratkan kaki kudanya tanahnya tidak keras, tetapi agak lembek. Sehingga kaki depan kudanya terperosok agak dalam. Dan kaki belakangnya menyangkut rumpun pandan berduri. Meskipun sedikit mendapat halangan, akhirnya Ki Sidagora dan kudanya berhasil dengan selamat sampai di seberang sungai.

Sekarang tiba giliran Pangeran Jaka Patahwan dan kudanya yang harus melompat menyeberangi sungai. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, Ki Sidagora memperingatkan kepada junjungannya.

“Hati-hati, Pangeran, ternyata tepi sungai di seberang sini tanahnya agak lembek dan rumpun pandannya cukup lebat. Coba Pangeran agak ke sana, mungkin tepian di sebelah sana tanahnya lebih keras, cukup kuat untuk dijadikan pijakan kuda melompat,” kata Ki Sidagora sambil menunjukkan tepi sungai sebelah selatan.

Pangeran Jaka Patahwan menuruti petunjuk abdinya. Dengan sorot cahaya yang keluar dari ujung ranting pohon randu alas,  Pangeran mengamati tepian sungai di seberang sana. Ternyata betul dugaan Ki Sidagora, bagian itu tanahnya memang tanah cadas yang lebih keras. Pangeran Jaka Patahwan lalu memundurkan kudanya beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang. Setelah siap. Pangeran yang lihai berkuda itu lalu memacu kudanya. Kuda yang tahu apa kemauan tuannya itu berlari sangat kencang,  lalu melayang menyeberangi sungai yang tidak begitu lebar, dan kemudian mendarat dengan manis di seberang sungai. 

Ki Sidagora lalu mengajak kudanya mendekati Pangeran Jaka Patahwan.

“Kita sudah sampai di seberang sungai, Paman. Mari kita segera melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Butak. Semoga tempat itu sudah tidak jauh lagi dari sini,” ajak Pangeran Jaka Patahwan.

“Baiklah, Pangeran, mari kita lanjutkan perjalanan.”

Kembali Pangeran Jaka Patahwan memacu kudanya diikuti Ki Sidagora di belakangnya. Kurang seratus langkah mereka memacu kudanya, tiba-tiba Ki Sidagora merasa ada yang kurang. Ia merasa ada bawaannya yang hilang. Ia mberusaha mencari apa kira-kira yang tertinggal. Kenapa tadi kelihatan penuh muatan di punggung kudanya, sekarang kok terasa kosong. Setelah dicari-cari akhirnya Ki Sidagora baru menyadari kalau buntalan berisi pakain ganti dirinya dan pakain ganti Pangeran yang dititipkan kepadanya tidak ada. Abdi yang amat setia kepada tuannya itu menjadi takut. Kalau pakainnya sendiri hilang, tidak apa. Selamanya hanya memakai thok ji mbi ji (celana satu pakaian satu) tidak menjadi masalah. Tetapi kalau tuannya, Pangeran Jaka Patahwan, seorang putera mahkota yang kaya raya, apa ya mungkin ke mana-mana hanya memakai pakaian yang tidak pernah diganti?

“Berhenti dulu, Pangeran!” pinta Ki Sidagora memberanikan diri.

“Ada apa, Paman?” tanya Pangeran Jaka Patahwan.

“Maafkan saya, Pangeran. Buntalan berisi pakain ganti milik Pangeran dan milik saya tidak ada. Mungkin jatuh di jalan. Atau mungkin jatuh di tepi sungai tempat kita menyeberang tadi.”

“Kalau begitu, mari kita cari menurutkan jalan yang kita lewati tadi,” ajak Pangeran Jaka Patahwan dengan sabar.

“Maafkan saya, Pangeran, karena kekurang hati-hatian saya, jadi merepotkan, Pangeran,” ujar Ki Sidagora.

“Tidak apa, Paman. Justru aku yang telah merepotkan paman. Karena untuk keperluanku yang belum jelas di mana ujung perjalanan ini, paman jadi mengikuti aku terlunta-lunta sampai di tempat yang tidak kita kenal ini.”

Mereka lalu memutar kudanya berjalan kembali pelan-pelan sambil mengawasi jalan yang dilalui menuju tepi sungai tempat menyeberang tadi. Benar juga, sampai di tepi sungai mereka menemukan buntalan berisi pakaian itu tersangkut di rumpun pohon pandan berduri dekat kuda Ki Sidagora terpeleset tadi. Agaknya ketika kuda Ki Sidagora terpeleset lalu tubuhnya oleng hampir membanting jatuh penunggangnya, buntalan itu terjatuh menyangkut di pohon pandan. Hal ini karena buntalan yang setelah dibawa berlari-lari ikatannya makin mengendor, tidak dapat berpegangan seperti Ki Sidagora yang punya tangan untuk berpegangan kuat-kuat ke leher kuda dan punya kaki untuk menjepit ke perut kuda. 

Ki Sidagora segera turun dari punggung kuda, lalu mengambil buntalan yang tersangkut itu. Kemudian ia segera meloncat ke atas punggung kuda kembali. Namun sebelum dua orang petualang itu melanjutkan perjalanan kembali menuju Gunung Butak, Pangeran Jaka Patahwan menyuruh Ki Sidagora berhenti sejenak.   

“Berhenti sebentar, Paman! Aku akan membuat petilasan (tanda) sebagai pengeling-eling (untuk mengingat-ingat) di tempat ini. Saksikanlah, Paman Sidagora! Karena di tempat ini buntalan kita yang berisi pakaian ganti untuk kita berdua terjatuh dan hampir hilang, sehingga kita terpaksa kembali untuk mencarinya, maka kelak kalau ada rejaning jaman (sudah menjadi tempat yang ramai) wilayah sekitar tempat ini agar diberi nama pedukuhan Buntalan,” sabda Pangeran Jaka Patahwan.

“Baik, Pangeran, saya menjadi saksi, wilayah sekitar tempat ini kelak menjadi pedukuhan Buntalan,” kata Ki Sidagora bersaksi.

Bunyi jangkrik mengerik, nyanyi belalang, ayam hutan dan suara-suara binatang malam lainnya seakan menjadi saksi pemberian nama pedukuhan Buntalan di pertengahan jalan antara pedukuhan Randu Alas dengan Gunung Butak, oleh Pangeran Jaka Patahwan.

“Mari, Paman, kita lanjutkan lagi perjalanan menuju Gunung Butak,” ajak Pangeran Jaka Patahwan kemudian.

“Baik, Pangeran, mari saya mengikut di belakang,” jawab Ki Sidagora yang segera memacu kudanya di belakang junjungannya.

Tidak berapa lama mereka berkuda, mereka sudah sampai di sebuah kaki bukit. Pangeran Jaka Patahwan memberi isyarat agar Ki Sidagora memperlambat lari kudanya. Diamatinya bukit yang nampak menghitam menghadang di depannya. Sinar bulan yang remang-remang menunjukkan jalan setapak untuk menuju ke puncak bukit. 

“Mungkin inilah yang dinamakan Gunung Butak itu. Buktinya sampai di kaki bukit ini kudaku berhenti mengarah ke jalan setapak yang menuju ke puncak bukit,” kata Pangeran Jaka Patahwan dalam hati.

“Paman Sidagora, berhenti dulu, Paman! Aku kira bukit di depan itu yang dinamakan Gunung Butak,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Tapi Pangeran, di depan kita ini hanyalah sebuah bukit kapur, bukan gunung. Apakah tidak salah kalau Pangeran mengira bukit ini adalah Gunung Butak?” tanya Ki Sidagora menyangsikan pendapat junjungannya. Memang benar, yang ada di depan mereka yang Pangeran kira Gunung Butak itu sebetulnya hanyalah bukit kapur yang tidak begitu tinggi. Semak belukar tumbuh di antara pohon meranti, pohon jati dan pohon mahoni yang memenuhi lereng perbukitan itu. Batu-batu besar, kadang sebesar kepala kerbau, kadang sebesar badan kerbau yang sedang berkubang berserakan di sana sini. Ada jalan setapak yang menuju ke puncak bukit, mungkin jalan yang biasa digunakan orang desa mencari kayu bakar atau mencari rumput.  

“Mari Paman, kita naik ke atas! Ini waktu malam hari, tak mungkin kita mencari orang untuk menanyakan apakah benar bukit di depan kita ini yang dinamakan Gunung Butak atau bukan. Tapi yang jelas, sinar yang keluar dari ujung tongkat ranting randu alas ini mengarah ke puncak bukit ini, dan kudaku pun siap menapaki jalan setapak yang menuju ke puncak bukit ini. Singkirkan keragu-raguan, marilah kita turutkan langkah kaki kudaku sambil berdoa mohon petunjuk kepada Hyang Widhi penguasa alam raya,” ajak Pangeran Jaka Patahwan. 

Tanpa menunggu jawaban dari abdi kinasihnya, Pangeran Jaka Patahwan segera memacu kudanya naik ke atas bukit. Meskipun tidak terlalu tinggi bukit itu, tetapi karena nampaknya jarang dilalui orang, maka semak-semak belukar sering tumbuh liar menutupi jalan setapak itu. Sehingga mereka harus berhati-hati menaiki lereng yang cukup terjal itu. Untung kuda mereka kuda terlatih yang sudah terbiasa melakukan perjalanan di malam hari di tengah hutan pula. Sehingga kuda-kuda itu tahu memilih jalan yang aman dan tidak membahayakan penunggangnya maupun dirinya sendiri. 

Sampai di puncak bukit, kuda Pangeran Jaka Patahwan berhenti di sebuah batu datar di bawah pohon beringin yang cukup besar dan lebat daunnya. Kuda itu diam, tak mau melanjutkan perjalanan lagi. Pangeran Jaka Patahwan yang arif paham pada isyarat yang diterimanya lewat berhentinya kudanya dan matinya sinar yang keluar dari ujung tongkat ranting randu alasnya. Berarti dirinya harus turun dan bertapa di atas batu datar di bawah pohon beringin ini.         

“Agaknya kita sudah sampai ke tempat yang kita cari, Paman. Mari kita turun untuk beresemadi di bawah pohon beringin itu, Paman!” Pangeran Jaka Patahwan meloncat turun dari punggung kudanya. Ki Sidagora mengikutinya. Setelah mengambil tongkat ranting randu alas lalu menyelipkan di balik ikat pinggangnya, Pangeran membiarkan kudanya merumput di sekitar  pohon beringin. Ki Sidagora pun mengikuti apa yang dilakukan junjungannya. Pangeran lalu naik ke atas batu datar, duduk bersila mengambil sikap bersemadi. Tak lama kemudian Pangeran sudah tenggelam ke dalam alam persemadian, menyatu dalam penghambaan, doa dan permohonan kepada Hyang Widhi. Demikian juga dengan Ki Sidagora yang duduk bersila bersemadi di tempat yang lain, di atas tanah berumput di samping junjungannya.

Tiba-tiba tanah di sekitar mereka bertapa menyatukan diri dengan Hyang Widhi bergoncang bagai dilanda gempa bumi. Langit memuntahkan cahaya menyilaukan, petir sabung menyabung. Pohon-pohon meliuk-liukkan batangnya, mengibas-ngibaskan rantingnya dan merontokan daun-daunnya,  disapu angin ribut. Suasana yang tadinya remang-remang di bawah sinar bulan yang temaram, kini tiba-tiba diliputi mendung tebal, dan berubah byar-pet byar-pet, kadang gelap pekat kadang terang benderang menakutkan. Alam silih berganti, antara gelap tanpa cahaya dan terangnya kilat sambar-menyambar, saling berebut. Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora  tetap khusyuk bersemadi, tak terpengaruh perubahan alam yang menggila.  Namun Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora terpaksa membuka matanya,ketika dirasakan goncangan bumi semakin dahsyat bersamaan dengan menggelegarnya suara tawa mengerikan, sehingga tubuh Pangeran dan tubuh Ki Sidagora terlempar hampir ke pinggir jurang. Bersamaan dengan itu dirasakannya sakit di gendang telinga mereka mendengar suara tawa yang dilambari ilmu kesaktian. Untuk menangkal serangan ilmu kesaktian tersebut, dengan sigap kedua orang petualang tersebut lalu berdiri memasang kuda-kuda kuat-kuat agar tidak terjatuh oleh goncangan sambil mengerahkan tenaga dalam menutup gendang telinganya.

Setelah membuka matanya, Pangeran melihat sesosok bayangan yang kadang kelihatan kadang lenyap. Sosok itu adalah sosok raksasa  tinggi besar dengan wajah yang amat menakutkan. Mata besar bersinar tajam merah membara dengan alis tebal sampai bertemu di tengah di bawah dahi. Telinganya besar dan runcing di atas dan di bawah. Rambutnya panjang dan gimbal tebal. Gigi-giginya besar-besar dengan taring panjang di kanan kiri. Tangan-tangan dan kaki-kakinya yang besar-besar berotot sesuai benar dengan tubuhnya yang besar dan nampak kuat. Kuku-kuku yang panjang dan hitam menghiasi jari-jari tangan dan kakinya.

“Hoaaa…hahaha…..Ada dua orang manusia lancang, berani-beraninya bertapa di singgasanaku! Sudah rangkapkah nyawamu, sehingga berani jag-jagan di kratonku ini?” gertak raksasa berambut gimbal itu.

Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora sekilas merasa takut melihat raksasa yang kelihatan buas memandangnya dengan beringas. Nampak sekali kalau raksasa itu marah singgasana yang ia mulyakan telah didudukinya tanpa ijin. Namun karena sebetulnya Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora melakukan itu semua tidak sengaja, karena sebagai manusia ia tidak tahu kalau sebetulnya batu datar di bawah pohon beringin itu sebetulnya adalah singgasana raksasa yang sangat dimuliakan oleh pemiliknya, maka Pangeran merasa tidak bersalah. Namun kalau tidak tahu tetap dianggap sebagai suatu kesalahan, pangeran yang berjiwa besar itu, tidak malu untuk meminta maaf.

“Hai raksasa, maafkan aku kalau ternyata yang aku duduki tadi adalah singgasanamu. Aku telah mempergunakannya untuk bertapa memohon kepada Hyang Widhi, tanpa meminta ijin kepada dirimu selaku pemiliknya,” kata Pangeran Jaka Patahwan meminta maaf. 

“Enak saja minta maaf! Apa kamu kira cukup, telah mengotori singgasanaku, kamu tebus dengan meminta maaf? Kamu harus membayarnya dengan tetes darahmu! Kebetulan sudah cukup lama aku tidak menghisap darah manusia. Ulurkan lehermu, biar aku gigit dan aku hisap darahmu, manusia!” gertak raksasa itu lagi.

Mendapat gertakan seperti itu, Pangeran Jaka Patahwan yang semula merasa takut, dan mengira dengan meminta maaf raksasa di hadapannya akan memaklumi dan memaafkan dirinya yang memang betul-betul tidak tahu, sekarang menjadi berani. 

“Agaknya raksasa ini tidak dapat diajak bicara baik-baik. Kalau aku merasa takut, ia akan tetap mengancam akan membunuhku dan menghisap darahku. Tetapi kalau aku nekad melawannya mungkin aku dapat mengalahkannya. Meskipun tubuhnya tampak kuat, kulitnya tampak liat kebal senjata, tapi tentu punya kelemahan. Dari pada aku mati tanpa perlawanan lebih baik aku berusaha melawannya, siapa tahu aku bisa mengalahkannya. Sekalian aku akan mencoba kesaktian tongkat ranting randu alas ini sebagai senjata,” kata Pangeran Jaka Patahwan dalam hati. 

Pangeran Jaka Patahwan lalu memperkuat kuda-kudanya. Sambil memegangi di bagian pegangan, Pangeran mengepit kuat-kuat di ketiak kanannya tongkat penyangga tubuhnya untuk memperkuat kuda-kudanya. Tangan kiri memegang erat tongkat ranting randu alas, siap memukul atau menangkis serangan lawan.

“Hahahaha… besar juga nyalimu hai manusia buntung! Kamu berani melawanku, manusia berdiri saja tidak dapat tegak? Coba kalau aku pukul tongkat penyanggamu itu kamu tentu akan jatuh terguling, masak akan berani melawan aku raksasa yang kuat, gagah dan perkasa! Yang bener saja hai manusia buntung?” ejek sang raksasa.

“Tidak usah banyak cakap, raksasa jelek! Kalau kamu berani, segera serang aku, kalau kamu ingin merasakan kerasnya tongkat saktiku ini!” tantang Pangeran Jaka Patahwan.

“Tongkat ranting kayu randu seperti itu saja apa yang aku takutkan hai manusia buntung! Awas seranganku!!” kata raksasa sambil terus menerjang melancarkan tendangan mengarah ke tongkat penyangga Pangeran Jaka Patahwan. 

Pangeran Jaka Patahwan meloncat ke samping sambil menarik tangannya yang menggenggam tongkat penyangga. Kemudian tangan kirinya memukulkan tongkat ranting kayu randu alas mengarah ke kepala sang raksasa. Hawa pukulan yang panas membuat sang raksasa tak berani membiarkan kepalanya kena pukul tongkat kayu yang semula diremehkannya. Ia melemparkan kepalanya ke samping. Sekarang ia baru menyadari betapa besar kekuatan yang tersimpan dalam tongkat yang bentuknya tak seberapa itu. Ia merasa harus berhati-hati menghadapi pukulan tongkat ranting kayu randu alas itu.

Karena terlalu memberi perhatian kepada tongkat ranting kayu randu alas yang ada di tangan kiri Pangeran Jaka Patahwan, raksasa itu tidak memperhatikan tongkat penyangga yang ada di tangan kanan Pangeran, tahu-tahu tongkat penyangga yang terbuat dari kayu asam yang sudah galih itu menghantam dadanya. Tubuh raksasa yang kebal terhadap senjata tajam itu terpental, lalu jatuh berguling-guling di tanah. Raksasa yang tertembus ilmu kebalnya itu merasakan dadanya sesak. Ia sadar kini, tidak hanya tongkat ranting randu alas di tangan kiri musuhnya yang berbahaya, tetapi juga tongkat penyangga tubuh di tangan kanan musuhnya. Itu semua karena memang manusia bunting yang menjadi musuhnya ini memiliki kesaktian yang tidak dapat dianggap ringan.

“Gerrrrr… Tinggi juga ilmumu hai manusia buntung!  Aku harus lebih berhati-hati mengahadapimu. Tapi kamu jangan besar kepala dulu! Aku belum mengeluarkan seluruh kesaktianku. Sekarang terimalah ajianku bledhek sayuta (sejuta petir)!” teriak raksasa itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dari jari-jarinya yang terbuka, melalui ujung-ujung kukunya yang runcing keluar cahaya kilat menyambar-nyambar disertai suara petir menggelegar membelah angkasa.  Kilatan-kilatan petir itu mengarah ke tubuh Pangeran Jaka Patahwan.

Pangeran Jaka Patahwan segera memusatkan seluruh kekuatan batinnya ke ujung tongkat ranting randu alas, disertai doa mohon perlindungan kepada Tuhan Penguasa Alam Raya. Kemudian tongkat itu diputar-putar mengelilingi tubuhnya membentuk gumpalan cermin maya melindungi tubuhnya. 
Ki Sidagora yang tanggap akan datangnya bahaya segera menyingkir kembali menuruni bukit. Ia takut terkena serangan nyasar dari mereka yang sedang bertanding menggunakan ilmu kesaktian tingkat tinggi.

Serangan ajian bledhek sayuta raksasa itu semakin gencar dan dahsyat, tetapi  gumpalan cermin maya perlindungan Pangeran juga semakin tebal dan kuat karena semakin cepatnya putaran tongkat Pangeran yang menggunakan jurus baling-baling seribu. Sambil berputar pada porosnya, Pangeran semakin maju mendekati musuhnya. Pada jarak yang telah diperhitungkan dengan tepat, Pangeran Jaka Patahwan memukulkan tongkatnya menghantam kedua tangan raksasa yang mengeluarkan kilatan-kilatan petir dari kuku-kuku jari-jarinya. Seketika cahaya yang menyambar-nyambar itu padam. Dan raksasa itu jatuh terduduk, bersimpuh tak berdaya. Tangan-tangannya bagai lumpuh tak dapat digerakkan. Kaki-kakinya pun lumpuh tak kuat berdiri. Rasa sakit, nyeri di kepala, dan ngilu-ngilu di seluruh persendian tubuhnya, memaksa mulutnya untuk mengerang-ngerang kesakitan. 

“Aduh….Aduhhhh…Sakit semua tubuhku. Sudah, manusia jangan sakiti aku lagi! Tubuhku sudah lumpuh dan badanku sakit semua. Aku menyerah kalah. Tolong sembuhkan aku! Kembalikan kekuatanku! Aku akan mengabdi untuk membantumu,” rintih raksasa yang sudah tak berdaya itu.

Pangeran Jaka Patahwan berdiri di depan raksasa yang sudah dikalahkannya. Ia bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kalau mencegah untuk tidak membunuh atau menyakiti lagi raksasa yang sudahtak berdaya itu, mudah ia melakukannya. Asal dirinya menghentikan memukul raksasa itu, raksasa itu tentu tidak tersakiti lagi atau terbunuh olehnya. Tetapi untuk menyembuhkan sakitnya atau mengembalikan kekuatannya, ia tidak tahu caranya. Belum ada orang atau tabib melatih dirinya cara mengobati orang sakit, meskipun sakit itu dirinyalah yang menjadi penyebabnya. Bagaimana ini?

“Raksasa, siapa namamu? Aku bisa mengampunimu dan tidak membunuhmu, tetapi aku tidak dapat menyembuhkanmu atau mengembalikan kekuatanmu, karena aku tidak pernah belajar menjadi tabib. Bagaimana caranya aku akan menyembuhkanmu?”

“Bocah bagus! Aku adalah Jin Bahureksa Gunung Butak ini. Kamu tidak tahu cara menyembuhkan sakitku? Kalau begitu aku minta tolong. Angkatlah tubuhku, atau kalau kamu keberatan seret lah tubuhku, lalu masukkan aku ke kolam Lumpur Telaga Ngembel yang terletak tidak jauh dari tempat ini ke arah timur. Semoga Tuhan Penguasa Alam Raya berkenan menyembuhkan diriku, memulihkan kesehatan dan kekuatanku,” petunjuk raksasa itu.

“Baiklah Jin Bahureksa Gunung Butak. Kebetulan kedatanganku ke mari juga untuk mencari Telaga Ngembel tersebut untuk merendam kakiku, agar kakiku yang buntung ini dapat sembuh, pulih seperti sedia kala. Apakah kamu tahu apa kasiat air Lumpur Telaga Ngembel?” ujar Pangeran Jaka Patahwan bergembira telah mendapat petunjuk letak telaga yang dicarinya.

“Tidak salah kalau kamu datang ke sini mencari Telaga Ngembel untuk menyembuhkan sakitmu yang buntung itu. Anak muda, eh… maaf, siapa namamu?”

“Aku Pangeran Jaka Patahwan dari Kerajaan Wiratha,” sahut Pangeran Jaka Patahwan.
“Oh.. ya maaf, Pangeran Jaka Patahwan, air lumpur Telaga Ngembel ini mempunyai kasiat dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Termasuk menyembuhkan orang lumpuh seperti yang aku alami saat ini, dan menyembuhkan orang buntung seperti Pangeran. Caranya rendamlah kaki Pangeran yang buntung itu ke dalam Lumpur Telaga Ngembel, disertai doa permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Penyembuh.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kamu aku angkat untuk kubenamkan di Telaga Ngembel,” kata Pangeran Jaka Patahwan. Kemudian teriaknya kepada Ki Sidagora yang telah muncul kembali naik ke atas bukit setelah tahu kalau perang tanding antara junjungannya melawan raksasa Bahureksa Gunung Butak sudah selesai, “Paman Sidagora, tolong bantu aku mengangkat raksasa Bahureksa Gunung Butak ini  sampai pinggir Telaga Ngembel di sebelah timur sana.”

Ki Sidagora segera datang, mengangkat bagian kaki raksasa yang penuh bulu itu. Sedangkan Pangeran mengangkat di bagian punggung raksasa itu. Perjalanan mereka cukup sulit melewati gerumbul-gerumbul perdu dan batu-batu sebesar kepala kerbau yang berserakan. Meskipun perjalanan kali ini agak menurun, tetapi cukup sulit dan harus hati-hati, karena mereka membawa beban makhluk hidup, yang begitu besar dan berat yang sesekali mengaduh kesakitan, apabila langkah Pangeran Jaka Patahwan tidak seiring dengan langkah Ki Sidagora, disebabkan terhalang oleh cuatan batu menghadang jalan atau tingginya gerumbul perdu menyerimpat kaki. Untung sinar bulan yang tadi tertutup mendung sekarang kembali merekah, lepas dari belitan awan. Bulan bundar sebesar tampah yang seakan berlomba dengan munculnya fajar di ufuk timur itu memancarkan sinarnya yang kuning keemasan menerangi alam raya, menuntun mereka yang sedang mengangkat beban menuju ke tepi telaga di bawah bukit.

Setelah sekian lama, akhirnya mereka sampai juga di Telaga Ngembel. Telaga itu tidak berisi air yang jernih bagai kaca sehingga memperlihatkan pasir dan batu-batu di dasarnya, tetapi air telaga itu justru nampak keruh dan menjijikkan. Air telaga penuh lumpur, liat bagai umbel (ingus) berwarna putih kekuning-kuningan bersemu hijau. Lumut hijau yang tebal tumbuh di atas batu-batu yang berserakan di tepi-tepinya. Pohon-pohon perdu tumbuh liar di tepi-tepinya di samping pohon munggur yang amat besar menaungi di atasnya, membuat telaga itu nampak teduh dan damai. Akar pohon munggur yang tersembul ke permukaan tanah menjalar di tepi salah satu sisi telaga seperti sengaja dibuat menjadi talud tepi telaga, penahan erosi tanah di sekitarnya, sekaligus seperti disediakan untuk tempat duduk bersantai, menikmati keteduhan di bawah pohon yang rindang dan semilir angin membelai rambut, mengeringkan keringat yang bercucuran.

Sampai di tepi Telaga Ngembel, Pangeran dan Ki Sidagora meletakkan raksasa Bahureksa itu di atas tanah berumput. Mereka menata nafasnya yang memburu karena mengangkat beban yang cukup berat melewati jalan yang cukup sulit. Jin Bahureksa Gunung Butak berusaha menggelindingkan sendiri tubuhnya yang sudah ada di tepi telaga untuk mencebur ke dalam telaga. Tapi ternyata persendian kakinya, tangannya, dan seluruh tubuhnya sudah tak berdaya. Tidak ada kekuatan sedikit pun untuk mengangkat tubuhnya, meskipun tinggal sejengkal lagi tubuhnya sudah tercebur ke dalam telaga lumpur berkasiat. 

“Sabar dulu Ki Bahureksa! Biarkan kami beristirahat dulu untuk memulihkan tenaga. Nanti kamu akan kami angkat masuk ke dalam telaga,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Pangeran, tak usah Pangeran mengangkat tubuhku dengan hati-hati lalu meletakkan pelan-pelan ke dalam telaga. Asal tubuh saya sudah terbenam dalam lumpur telaga, tentu kesehatan, tenaga dan kekuatan saya akan segera pulih. Oleh karena itu, cukuplah Pangeran dorong tubuh saya masuk ke telaga, disepak pakai telapak kaki juga tidak apa, saya sudah sangat berterima kasih kepada Pangeran,” kata Jin Bahureksa Gunung Butak. 

“Jadi tak usah aku dan abdiku masuk ke kolam untuk membopongmu dalam kolam lumpur?” tanya Pangeran Jaka Patahwan keheranan.

“Tak usah, Pangeran! Pokoknya asal tubuh saya dapat terbenam dalam lumpur kolam, sudah cukup. Pangeran tidak perlu khawatir saya akan mati tenggelam dalam lumpur kolam, tak dapat bernafas dan tak dapat keluar dari dalam lumpur. Yakinlah, saya akan selamat, sehat dan segar bugar kembali asal saya sudah dibenamkan di air Lumpur Telaga Ngembel ini,” sahut Jin Bahureksa Gunung Butak meyakinkan. 

“Baiklah kalau begitu,” kata Pangeran Jaka Patahwan. Kemudian katanya kepada abdinya, “Mari Paman Sidagora, kita dorong Jin Bahureksa ini masuk ke dalam lumpur Telaga Ngembel ini!”

Kemudian bendara dan abdinya itu mendorong tubuh jin raksasa yang sudah dikalahkan itu masuk ke dalam lumpur Telaga Ngembel. Karena letak berbaringnya raksasa itu sudah berada di pinggir telaga maka meskipun cukup berat, tidak membutuhkan waktu lama tubuh yang besar dan berat itu akhirnya terdorong mencebur ke dalam telaga juga.  

Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora kemudian duduk di tepi telaga sambil mengamati permukaan telaga. Menunggu munculnya tubuh Jin Bahureksa yang seluruhnya terbenam ke dalam kolam lumpur. Cukup lama mereka menunggu adanya reaksi atau gerakan dari dalam kolam, akhirnya reaksi itu terlihat juga. Air telaga yang penuh lumpur, liat bagai umbel (ingus) berwarna putih kekuning-kuningan bersemu hijau itu teraduk-aduk bagai jenang bekatul mendidih dalam kuali yang sedang dimasak di atas api panas menjilat-jilat. Kadang meletup-letup sambil melontarkan gelembung lumpur ke udara.  Di sela letupan-letupan itu, terdengar erangan-erangan panjang menahan rasa sakit dari mulut Jin Bahureksa yang nampak timbul tenggelam dalam lumpur yang bagai dikebur tersebut. 

Melihat reaksi air lumpur telaga dan penderitaan yang dirasakan raksasa Jin Bahureksa seperti itu, Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora merasa kasihan. Pangeran Jaka Patahwan sendiri kemudian ingat pada kakinya yang buntung, dan usahanya untuk berobat di air lumpur Telaga Ngembel itu juga. Akankah dirinya juga akan mengalami penderitaan seperti yang dialami Jin Bahureksa itu jika nekad menceburkan diri ke dalam kolam untuk menyembuhkan sakitnya? Kalau iya, kuatkah dirinya mengalami penderitaan seperti yang dialami Jin Bahureksa itu? Pangeran Jaka Patahwan bimbang. 

Sementara itu erangan-erangan kesakitan dan lenguh-lenguh panjang dari mulut raksasa Jin Bahureksa itu terus terdengar di sela-sela suara gerepek-gerepek seperti suara ruas-ruas atau sendi-sendi tulang belulang yang dipijat-pijat kuat-kuat secara paksa. Hati Pangeran semakin miris.  Namun apakah Pangeran akan lari menghindar mengetahui reaksi yang sedemikian sakitnya untuk mendapatkan kesembuhan yang sudah lama didambakannya? Tidak!!! Jauh-jauh dari Kerajaan Wiratha, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan dan bertahun-tahun dirinya meninggalkan kemuliaan di keraton, diikuti pengorbanan abdi setianya, hanya untuk mendapatkan kesembuhan, pulihnya kakinya yang buntung, sekarang ketika yang dicari dan diidam-idamkannya itu sudah ada di depan mata, akan ditinggalkan hanya karena takut pada rasa sakit yang tentunya tidak lama seperti lamanya penderitaan yang dialaminya selama ini.  Rasanya sia-sia perjalanan dan tapa bratanya selama ini, kalau hal itu yang dilakukannya. Lantas jiwa kesatrianya yang pantang menyerah, rawe-rawe rantas, malang-malang putung, berani menghadapi segala rintangan dan penderitaan untuk mencapai cita-cita mulia, ada di mana kalau dirinya takut menghadapi penderitaan, lari ngacir begitu saja menghadapi kawah candra dimuka yang tergelar di depan mata? 

Pangeran Jaka Patahwan membulatkan tekad untuk berani mencontoh raksasa Jin Bahureksa untuk mendapatkan kesembuhan, pulihnya kakinya yang buntung. Ia menguatkan hati untuk berani menanggung penderitaan yang betapapun sakitnya demi kesembuhan dan kesempurnaan kakinya yang sudah lama diinginkannya, diburu sampai jauh meninggalkan kerajaan dan kenikmatan hidup yang mestinya dapat dinikmatinya setiap hari.

Sementara itu, setelah tersiksa sekian lama terbenam dalam air lumpur Telaga Ngembel, tiba-tiba raksasa Jin Bahureksa Gunung Butak itu muncul dari dalam telaga, lalu berenang menepi. Saat itu air lumpur Telaga Ngembel sudah terlihat tenang kembali. Sampai di tepi telaga, raksasa itu naik ke atas keluar dari telaga. Nampak badannya sudah sehat, kuat dan segar bugar. Raksasa itu menggerak-gerakkan tangan, kaki, leher dan seluruh anggota tubuhnya. Ia mencoba memutar-mutar persendian tangan dan kaki-kakinya. Setelah merasa tak ada hambatan, ia mencoba meloncat-loncat. Mula-mula pelan-pelan dan hati-hati seperti anak-anak baru belajar berjalan. Namun setelah dirasakannya semua baik-baik saja, ia lalu meloncat-loncat kesana kemari dengan gesit dan lincah seperti orang kesenangan, sampai setinggi pepohonan yang ada di sekelilingnya.

Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora kagum melihat hasil yang diperoleh raksasa Jin Bahureksa setelah keluar dari kawah candra dimuka lumpur Telaga Ngembel.

“Sudah, Pangeran. Saya sudah sehat tak kurang suatu apa. Seluruh tenaga, kekuatan dan kesaktian saya sudah pulih kembali.  Sekarang ganti Pangeran yang perlu menyembuhkan kaki Pangeran agar pulih seperti sedia kala,” ujar raksasa Jin Bahureksa Gunung Butak yang sudah nampak segar bugar kembali. 

“Bagaimana rasanya Ki Bahureksa, apakah sakit sekali?” Tanya Pangeran Jaka Patahwan kepada Jin Bahureksa sebelum menceburkan diri ke dalam air lumpur Telaga Ngembel.

“Kalau saya terang amat sangat sakit sekali, Pangeran, karena sebelumnya saya memang menderita sakit di sekujur tubuh, bahkan untuk mengangkat anggota tubuh setengah jengkal pun tak mampu. Sehingga untuk menyembuhkannya saya harus menceburkan diri seutuhnya ke dalam air Lumpur telaga. Tapi karena sakit yang saya derita ini belum lama, maka juga tidak membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkannya,” kata Jin Bahureksa.

“Untuk penyembuhan Pangeran nanti mungkin akan membutuhkan waktu yang lebih lama, karena sudah cukup lama menderita sakit seperti itu. Namun Pangeran tidak perlu takut! Karena anggota tubuh Pangeran yang sakit hanya pergelangan kaki kanan yang… maaf, buntung,  jadi Pangeran tidak perlu menceburkan diri sepenuhnya ke dalam air lumpur telaga. Cukup Pangeran mencelupkan kaki kanan Pangeran yang buntung sampai setengah tulang kering Pangeran. Sedangkan bagian tubuh yang lainnya tetap berada di atas, dan tidak akan merasakan sakit apa-apa. Jadi nanti yang akan merasakan sakit hanya sebatas setengah tulang kering kaki kanan ke bawah. Tapi tidak mengapa. Sebagai seorang kesatria, rasa sakit seperti itu saya kira hal biasa, tidak perlu ditakuti,” kata raksasa Jin Bahureksa Gunung Butak.

“Terima kasih atas petunjukmu, Jin Bahureksa. Baiklah aku akan mencobanya. Rasa sakit seperti apa pun akan aku tahan, kalau memang hanya cara ini yang harus ditempuh. Karena memang jauh-jauh dari Kerajaan Wiratha sampai ke tempat ini, hanya kesembuhan dan pulihnya kakiku dari kebuntungan ini yang aku cari,” ujar Pangeran Jaka Patahwan. Kemudian Pangeran melinting celana kaki kanannya sampai setinggi lutut. Kemudian Pangeran Jaka Patahwan menuju ke akar pohon munggur yang menjalar ke tepi telaga yang agak rendah, tidak jauh dari permukaan air, Pangeran segera duduk di atas akar pohon munggur di tepi telaga itu. Dengan berpegang pada bagian akar yang cukup besar di depannya, Pangeran menjulurkan kaki kanannya masuk ke dalam air lumpur telaga sampai setengah tulang kering.

Pangeran Jaka Patahwan memejamkan mata, memusatkan seluruh nalar budinya, berdoa mohon pertolongan, perlindungan, kekuatan lahir batin dan kesembuhan kepada Sang Maha Penyembuh. Dirinya pasrah jiwa raga, dan hanya mengharapkan belas kasih dari Hyang Widhi Penguasa Jagad Raya.

Beberapa kejapan mata setelah kaki kanan Pangeran mencelup ke dalam air lumpur, air lumpur yang liat seperti umbel (ingus) kental itu mulai bereaksi. Mula-mula terlihat adanya gelembung-gelembung udara di sekitar kaki yang meletup-letup kecil-kecil seperti air dijerang yang mulai mendidih.  Lama-lama letupan-letupan yang semula jarang itu menjadi semakin sering dan semakin besar, disertai suara mengejas seperti reaksi bongkahan batu kapur diguyur air. Lalu air Lumpur di sekitar kaki itu bergolak bagaikan diaduk-aduk. Bersamaan dengan itu, kaki Pangeran yang tercelup di dalam air lumpur bagai dibetot-betot. Rasanya sakit sekali seperti digigit dan ditarik-tarik beribu-ribu ular kecil-kecil. Menahan rasa sakit ini, Pangeran Jaka Patahwan yang sudah menjadi pendekar pilih tanding ini sampai meringis-ringis.  

“Maaf, Pangeran, gigitlah ranting kayu ini, agar lidah Pangeran tidak putus kena gigitan gigi Pangeran sendiri,” kata raksasa Jin Bahureksa sambil menyodorkan sepotong ranting kayu kering yang sangat keras ke mulut Pangeran Jaka Patahwan. Yang disodori menurut saja, karena ia tahu kalau tak ada yang digigit bisa-bisa dirinya akan menggigit lidahnya sendiri untuk menahan rasa sakit yang hampir tak tertahan. Peluh mengucur dari sekujur tubuhnya. Keringat sebesar biji-biji jagung itu keluar dari pori-pori kulitnya membanjir membasahi pakaiannya ketika Pangeran menahan sakit yang luar biasa, tatkala ia merasa ada yang membetot tulang kakinya seperti keluar dari sarungnya. Setelah seperti ada yang terbetot paksa keluar dari sarungnya, tulang-tulang yang nampaknya masih rawan itu seperti dibelah-belah menjadi lima bagian, lalu dipatah-patahkan. Proses ini berlangsung cukup lama. Sakitnya sungguh luar biasa. Pangeran Wiratha itu sampai menjerit-jerit sekuat tenaga, hingga ranting kayu yang menjejali mulutnya hampir terlompat keluar. Kemudian terasa ada benda lembek mengelilingi tulang belulang yang masih lunak itu, membalutnya. Rasanya dingin. 

Ki Sidagora yang menyaksikan itu semua, tidak sampai hati. Ia merasa amat kasihan. Maka abdi yang amat mengasihi bendaranya melebih kecintaannya pada keluarganya, bahkan kecintaannya pada dirinya sendiri itu, hanya dapat menundukkan kepala seraya berdoa mohon agar bendaranya dikaruniai kekuatan lahir dan batin dari Hyang Widhi dalam menerima cobaan yang amat berat ini.
Demikian pula dengan raksasa Jin Bahureksa yang sudah merasakan sendiri betapa sakitnya proses penyembuhan di air lumpur Telaga Ngembel, ia pun hanya berdoa kepada Hyang Widhi agar Pangeran yang telah mengalahkannya, tetapi yang juga telah membantunya untuk memulihkan kekuatannya itu, diberi kekuatan lahir batin dan ketabahan menjalani segala proses yang menyakitkan untuk mendapatkan kesembuhan.

Beberapa saat kemudian, terlihat gejolak reaksi di air lumpur Telaga Ngembel itu pun berangsur-angsur surut. Lama-lama air lumpur itu menjadi tenang kembali. Pangeran Jaka Patahwan pun merasakan kalau sekarang kakinya sudah tidak terasa sakit lagi. Ada perasaan nyaman yang ia rasakan.

“Sudah, Pangeran, sekarang angkatlah kaki Pangeran, berdirilah, dan tinggalkan tepian telaga itu! Ke marilah!” ujar raksasa Jin Bahureksa Gunung Butak kepada Pangeran Jaka Patahwan yang dirasa sudah cukup menjalani proses penyembuhan di telaga yang berkasiat itu.

Pangeran Jaka Patahwan pun menurut. Diangkatnya kaki kanannya keluar dari dalam telaga dengan hati-hati.  Penuh harap-harap cemas Pangeran mengangkat kakinya. Tak berani memandang, Pangeran memejamkan matanya. Ada perasaan takut dalam hatinya, jangan-jangan sudah dijalani sakit yang begitu hebat, kakinya tidak pulih juga. Kalau dipikir-pikir apa ya mungkin, kaki yang sudah buntung dapat tumbuh kembali, keluar telapak kaki lengkap dengan lima jari yang serasi seperti kaki kirinya? Tapi kalau tidak, kenapa tadi ia merasakan kaki buntungnya seperti dibetot-betot keluar, lalu seperti ada yang  tumbuh memanjang dari bawah mata kakinya?  

Pangeran Jaka Patahwan yang sudah mengangkat kaki kanannya keluar dari dalam Telaga Ngembel  dengan mata masih terpejam, tidak berani menapakkan kakinya di atas tanah. Kaki itu masih menggantung beberapa jengkal di atas tanah. Ia tetap berdiri di atas kaki kirinya saja. 

Ki Sidagora dan raksasa Jin Bahureksa Gunung Butak yang melihat keadaan Pangeran Jaka Patahwan tersenyum. Mereka merasa bersyukur karena telah melihat kaki kanan Pangeran Jaka Patahwan sudah tidak buntung lagi. Telapak kaki lengkap dengan lima jarinya sudah melengkapi kaki itu. Tapi mereka juga merasa kasihan kepada Pangeran yang masih merasa bimbang akan keberhasilan usahanya, sehingga tak berani melihat dan menapakkan kaki kanannya di atas tanah. Maka mereka ingin segera memberitahukan kabar baik ini kepada Pangeran Jaka Patahwan.

“Bersyukur, Pangeran! Bukalah mata Pangeran! Lihatlah! Kaki kanan Pangeran sekarang sudah pulih, sudah tidak buntung lagi! Kalau tak percaya, coba tapakkan kaki kanan Pangeran di atas tanah!” kata Ki Sidagora tak tahan melihat junjungannya terus-terusan diamuk bimbang untuk melihat hasil usahanya.

Masih dengan memejamkan matanya, Pangeran Jaka Patahwan mencoba menapakkan kaki kanannya di atas tanah. Terasa kini kalau benar-benar telapak kakinya yang menyentuh tanah, bukan hanya tulang kaki berbalut kulit. Pangeran jadi yakin pada kebenaran kata-kata abdinya. Lalu dengan mengucap puji syukur kepada Hyang Widhi pemelihara alam semesta, Pangeran Jaka Patahwan membuka matanya. Alangkah bahagianya dirinya setelah tahu kaki kanannya sudah pulih, sudah tidak buntung lagi. Kabut kegelapan yang menyelubungi hati dan gerak langkahnya seolah-olah sudah tersingkap kini. Pangeran Jaka Patahwan memandang cerah masa depannya kini. Tak ada lagi perasaan minder yang sepertinya selalu menyerimpung kakinya. Lepas bebas tanpa halangan yang meribedi langkahnya lagi kini.

Pangeran Jaka Patahwan mencoba menggerak-gerakkan jari-jari kaki kanannya, lalu mencoba menggerak-gerakkan telapak kaki kanannya naik turun. Ternyata semuanya normal seperti dulu sebelum kena hukuman potong kaki. Lalu Pangeran yang sekarang merasa hidup baru sebagai orang yang sempurna itu mencoba berjalan-jalan tanpa memakai tongkat penyangga, mengelilingi Telaga Ngembel, meloncati gerumbul-gerumbul perdu yang kadang-kadang tumbuh liar di tepi telaga. Ternyata tidak ada hambatan. Pangeran lalu mencoba berlari-lari dan meloncat-loncat. Ternyata semuanya berjalan normal tak kurang suatu apa. Semakin besar rasa syukur Pangeran kepada Tuhan yang telah menuntunnya sampai ke Telaga Ngembel ini untuk mendapatkan kesembuhan. Sudah lupa Pangeran kepada sakit luar biasa yang dirasakannya saat dirinya mengalami proses penyembuhan di Telaga Ngembel tadi. Semuanya terbayar lunas dengan kesembuhan sempurna yang telah diperolehnya.

“Saya mengucapkan selamat, turut bergembira Pangeran sekarang sudah sembuh, pulih seperti sedia kala. Semoga pulihnya kaki Pangeran membawa manfaat yang lebih besar bagi Pangeran dan bagi sesama,” ujar raksasa Jin Bahureksa Gunung Butak.

“Demikian pula saya, Pangeran. Saya pun juga mengucapkan selamat, syukur dan turut berbahagia, doa dan usaha Pangeran untuk mendapatkan kesembuhan kembali, pulih menjadi orang yang tidak bercacat, telah terkabul. Jauh dari Kerajaan Wiratha sampai di Telaga Ngembel di atas Gunung Butak ini kita menjalani laku prihatin, akhirnya Pangeran mendapatkan apa yang kita cari. Semoga membawa kemanfaatan bagi kita semua,” ujar Ki Sidagora.

“Terima kasih, Ki Bahureksa dan Paman Sidagora telah mengucapkan selamat dan turut berbahagia atas anugerah yang aku terima ini. Semua itu menunjukkan betapa besar rasa cinta kalian kepadaku. Aku pun juga mengucapkan rasa syukur yang tiada tara kepada Hyang Widhi, Tuhan yang menciptakan dan yang memelihara alam semesta, yang telah mengabulkan doaku,” ujar Pangeran penuh rasa syukur.

Mereka kemudian berdiam diri, namun dalam hati tak henti-henti mengucapkan rasa syukur atas anugerah kesembuhan yang telah diterima Pangeran Jaka Patahwan. Pangeran Kerajaan Wiratha dan Ki Sidagora abdinya merenungi masa lalunya. Mulai saat terjadinya peristiwa penemuan bokor kencana di perempatan jalan yang menghebohkan, kecelakaan yang menimpa diri Pangeran, hukuman potong kaki, hingga perjalanannya mencari kesembuhan dari Kerajaan Wiratha sampai di Telaga Ngembel ini. Ada perasaan sakit di hati Pangeran terhadap raja, putri dan juga patih Kerajaan Kalingga yang telah dianggapnya melanggar kedaulatan Kerajaan Wiratha dengan memasang barang basangan untuk mencobai rakyat dan ratu Kerajaan Wiratha. Hatinya bergolak dan memberontak kalau mengingat hal itu. Tapi setelah dipikir-pikir lebih jauh, akhirnya Pangeran yang mempunyai kebesaran jiwa itu pun dapat memaklumi, memaafkan, dan kemudian merasa bangga, karena itu semua bukan didasarkan kepada niat jahat Raja Kalingga, tetapi didasari sikap berhati-hati Raja Kalingga dalam memilih calon menantu yang akan mendampingi putrinya yang kelak akan menggantikan memerintah Kerajaan Kalingga. Pangeran pun harus merasa bangga karena dari sekian pemuda berderajat pangkat tinggi, dirinyalah yang terpilih untuk mendampingi putri mahkota itu.

Tapi harus diakui, sampai detik ini Pangeran tidak dapat menghapus perasaan sakit di hatinya, karena akibat cara yang digunakan Raja Kalingga untuk mencobai kerajaannya, yang kemudian ternyata mengenai dirinya itu, berakibat dirinya harus menderita lahir batin sekian lamanya, sehingga harus terlunta-lunta sampai di Telaga Ngembel ini.

Pangeran Jaka Patahwan pun merasa sakit hati kepada Ibunda Ratu dan seluruh anggota Dewan Kerajaan yang tidak berusaha membela dirinya, untuk membebaskan dari kesalahan yang tidak sengaja dilakukannya, sehingga dirinya terpaksa menjalani hukuman yang amat menyakitkan lahir dan batinnya. Ibunda Ratu lebih mementingkan reputasinya sebagai raja yang adil dan bijaksana, yang menjunjung tinggi supremasi hukum, dan mengorbankan keluarganya sehingga harus menjalani hukuman potong kaki yang berakibat berkemungkinan menderita cacat seumur hidup.

“Paman Sidagora, aku tidak akan kembali ke Kerajaan Wiratha!” kata Pangeran Jaka Patahwan tiba-tiba, mengejutkan Ki Sidagora yang sedang asyik mengenangkan perjalanan pengembaraannya, yang dikiranya sudah akan berakhir, dan berharap sebentar lagi akan kembali berkumpul dengan anak istri dan sanak saudara. 

“Kenapa, Pangeran? Sekarang kaki Pangeran sudah sembuh. Apa yang Pangeran cari selama ini, sampai jauh meninggalkan Kerajaan Wiratha, terlunta-lunta sampai di Telaga Ngembel ini sudah Pangeran peroleh. Kedudukan putera mahkota yang tidak lama lagi akan menggantikan Sang Prabu Puteri Wara Singha memangku jabatan menjadi raja Kerajaan Wiratha sudah menanti. Kenapa sekarang tiba-tiba Pangeran berkata tidak akan kembali ke Kerajaan Wiratha? Apa yang Pangeran inginkan?” tanya Ki Sidagora. 

“Aku merasa sudah tidak dibutuhkan lagi di Kerajaan Wiratha. Mungkin Ibunda Ratu mengira aku ini orang cacat yang tidak lagi bisa diharapkan sembuh, pulih menjadi orang  yang sehat, utuh dan sempurna, yang pantas menyandang kedudukan putera mahkota, calon pengganti raja. Buktinya sudah lama kita mengembara, berbulan-bulan kita terlunta-lunta menjelajah desa-desa dan hutan-hutan, tidak sekali pun kita menjumpai utusan Ibunda Ratu mengejar dan mencari kita. Bukankah telik sandi Kerajaan Wiratha itu banyak? Kenapa tidak ada satu pun yang sampai kemari menemui kita? Bahkan juga ketika perjalanan kita belum terlalu jauh, ketika kita malang melintang membasmi kejahatan sebagai pendekar dengan ciri kecacatan kaki yang tentu dapat dikenali para telik sandi. Kalau memang mereka ada yang ditugaskan untuk melacak keberadaan kita untuk diajak kembali ke Keraton Wiratha, tentu mereka sudah menemui kita dan mengajak kembali ke Keraton Wiratha,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Tapi, Pangeran, mungkin Kanjeng Ratu Wara Singha sengaja memberi kebebasan kepada Pangeran untuk memperoleh kesembuhan, sekaligus untuk menemukan jati diri Pangeran sebagai pemuda pilihan, calon raja gung binathara. Para telik sandi hanya ditugaskan untuk membayang-bayangi perjalanan Pangeran. Mereka baru turun tangan kalau kita dalam keadaan bahaya dan benar-benar membutuhkan pertolongan. Bukankah meskipun hanya berupa selembar daun lontar, sebelum Pangeran pergi meninggalkan Keraton Wiratha, Pangeran sempat menulis surat ijin kepada Ibunda Ratu Wara Singha?” ujar Ki Sidagora menghibur momongannya yang merasa terbuang dan disia-siakan.

“Meskipun begitu, seharusnya para telik sandi yang ditugaskan membayangi perjalanan kita, sesekali mendekat, dan dapat kita kenali. Apakah para telik sandi Kerajaan Wiratha itu sudah sedemikian tinggi kemampuannya menyamar, sehingga dalam jangka waktu sekian lama, kita tidak dapat mengenalinya? Ataukah mereka justru menggunakan uang perjalanan dinas untuk bersenang-senang sendiri?”

Ki Sidagora mendengarkan kata-kata Pangeran Jaka Patahwan dengan perasaan yang dipenuhi kebimbangan juga. Memang seringkali para petugas kerajaan tidak bekerja apa mestinya. Mereka sering menggunakan fasilitas kerajaan untuk kepentingannya sendiri. Lagi pula benar kata Pangeran, kalau memang ada satu dua orang petugas telik sandi yang ditugaskan membayang-bayangi perjalanan mereka, kenapa sampai sejauh ini tak satu pun dari mereka yang sempat terlihat, meskipun dalam keadaan menyamar? Bahkan ketika mereka berdua sedang bertarung dengan Ki Bahureksa, yang menurut pendapatnya saat itu sedang dalam keadaan genting, mereka juga tidak satu orang pun yang datang membantu.

“Sekarang lantas apa yang akan Pangeran lakukan kalau tidak mau kembali ke Kerajaan Wiratha?” tanya Ki Sidagora kemudian.

“Aku akan melanjutkan pengembaraanku. Siapa tahu aku akan menemukan daerah yang baik untuk mulai mendirikan kerajaan baru. Aku ingin mempunyai kerajaan sendiri, biarpun kecil tetapi akulah pendirinya, akulah cikal bakalnya” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Kalau itu sudah menjadi tekad Pangeran, saya akan mendukung. Saya akan mengikuti kemana pun Pangeran pergi dan bertempat tinggal,” kata Ki Sidagora menyatakan kesetiaannya.

Pangeran Jaka Patahwan kemudian beralih memandang kepada Ki Bahureksa yang sejak tadi hanya berdiam diri.

“Ki Bahureksa, apa nama desa yang ada di bawah Gunung Butak itu?” tanya Pangeran Jaka Patahwan.

“Desa itu namanya Desa Tempel, Pangeran,” jawab Ki Bahureksa.

“Kami akan turun melalui Desa Tempel itu, lalu melanjutkan perjalanan ke selatan. Ki Bahureksa tetaplah menjaga Gunung Butak agar tidak dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”
“Baik, Pangeran, saya akan tetap tinggal di Gunung Butak. Tetapi sewaktu-waktu Pangeran membutuhkan pertolongan, saya beserta anak buah saya siap membantu,” kata Ki Bahureksa menawarkan diri.

“Sekarang marilah kita kembali ke puncak Gunung Butak, kuda-kuda kita masih ada di sana,” kata Pangeran Jaka Patahwan sambil berjalan menuju Gunung Butak. Ki Sidagora dan Ki Bahureksa mengikuti di belakangnya.
***
Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 8"

Post a Comment