Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan I

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten


Bokor Kencana Di Tengah Jalan Siapa Punya
Novel Sutardi MS Dihardjo

Kerajaan Wiratha pada jaman dahulu letaknya kira-kira di daerah Jepara pada jaman sekarang. Kerajaan yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja ini dipimpin seorang raja putri yang memerintah rakyatnya dengan adil, bijaksana, menerapkan aturan-aturan yang ada dalam kitab undang-undang hukum kerajaan tanpa pandang bulu. Prabu putri itu bernama Sri Ratu Warasingha. Sri Ratu adalah seorang raja putri, beranak satu, seorang pemuda yang gagah perkasa, sakti mandra guna, namun sopan santun, menghargai kepada setiap orang meskipun hanya kawula alit. 

Pangeran Jaka Patahwan putra raja putri tersebut, suka menyamar sebagai rakyat biasa, berjalan-jalan mengelilingi wilayah kotaraja atau bahkan sampai jauh ke pelosok desa di wilayah Kerajaan Wiratha untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Tak jarang dalam perjalanan ke pelosok-pelosok desa ini ia menemukan sesuatu hal yang kemudian menjadi laporan kepada Prabu Putri untuk dijadikan bahan pertimbangan memutuskan sesuatu perkara guna menyejahterakan rakyat Kerajaan Wiratha. Dalam melakukan perjalanan keliling ini sang pangeran selalu ditemani abdi kinasihnya yang juga bertindak sebagai pengasuh dan penasehat pribadinya. Abdi setia itu bernama Ki Sidagora.

Pagi itu, ketika mereka berdua sedang berjalan-jalan dengan mengendarai kuda di perbatasan kotaraja, mereka melihat orang-orang berkerumun di perempatan jalan yang menuju ke arah kotaraja. Pangeran mengira ada kecelakaan, mungkin tabrakan di perempatan jalan itu. Pangeran heran, kenapa korban tidak segera dibawa berobat ke tabib, tapi justru menjadi tontonan orang yang jumlahnya semakin lama semakin banyak mengelilingi tempat itu.  

“Apakah rasa kemanusiaan sudah menipis di hati rakyatku, sehingga mereka tidak segera membantu orang lain yang sedang kena musibah? Apakah pantas kecelakan di tengah jalan yang dapat membawa korban jiwa kalau tidak segera ditolong, justru hanya dijadikan tontonan beramai-ramai?” kata Pangeran dalam hati ketika belum tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

Pangeran segera mempercepat laju kudanya mendekati kerumunan orang-orang itu. Ki Sidagora mengikutinya di belakang. Orang-orang yang melihat kedatangan sang Pangeran bersama abdinya, segera menyisih memberi jalan. Ketika Pangeran Jaka Patahwan sudah dekat, dan orang-orang juga sudah menyisih, terlihatlah oleh pangeran, sebuah Bokor Kencana tergeletak di tengah perempatan jalan, di dalamnya penuh barang-barang perhiasan yang sangat indah dan mahal harganya terbuat dari emas, intan dan berlian. Takjub sang Pangeran melihatnya. Pantas orang-orang berkerumun di situ melihat dan menjadi kagum serta heran, kenapa benda yang sangat indah, mahal dan langka itu sampai berada di situ. Siapa yang telah menaruhnya? Atau kalau barang-barang itu terjatuh, lantas siapakah yang telah kehilangan benda yang sangat mahal harganya itu? Kalau sengaja ditaruh orang, kenapa ditaruh di tengah jalan? Apakah orang yang menaruhnya tidak khawatir perhiasan dan Bokor Kencana yang sangat bagus itu akan rusak terlindas kendaraan atau terinjak kaki kiuda? Lantas punya tujuan apa pemilik benda berharga itu menaruh barang yang tak ternilai harganya itu di tengah jalan? Pangeran Jaka Patahwan, Ki Sidagora dan orang-orang yang berkerumun melihat Bokor Kencana beserta isinya tergeletak di tengah jalan itu saling bertanya-tanya.

“Di kerajaan lain yang belum adil makmur seperti kerajaan kita, kadang-kadang ada orang menaruh barang basangan dengan maksud agar benda itu menarik keinginan orang untuk mengambilnya. Kalau ada orang yang berani mengambil barang itu, orang itu akan dijadikan tumbal, dijadikan makanan pesugihan, makhluk halus yang tugasnya mencuri harta orang lain, yang telah memberi kekayaan melimpah pada pemilik barang basangan,” kata salah seorang yang ikut berkerumun memberikan pendapatnya.

“Ya, itu memang mungkin terjadi di kerajaan-kerajaan yang belum makmur, yang masih banyak rakyatnya hidup miskin dan sengsara, sehingga mereka tidak segan-segan menggadaikan kehidupan akheratnya, dengan mencari kekayaan dengan jalan pintas di dunia ini.  TetapI di kerajaan kita yang sudah makmur begini, di mana rakyatnya taat menyembah Hyang Widhi, apakah masih ada orang yang mau mencari kekayaan dengan menggadaikan kehidupan akheratnya? Apakah mereka tidak takut hidup sengsara di akherat kelak?” sahut yang lain.

“Lagi pula orang memasang barang basangan agar diambil orang yang dapat dijadikan tumbal pesugihan, hanya berhasil apabila dilakukan di kerajaan yang belum memberlakukan hukum dengan tegas tanpa pandang bulu. Di kerajaan di mana perbuatan mencuri, merampok, mengambil barang milik orang lain, masih sering dilakukan rakyatnya dan para punggawa kerajaan, secara sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan, memasang barang basangan tentu akan cepat berhasil. Ibarat orang mengail, umpannya tentu akan cepat disambar ikan, karena mereka tidak takut hukuman kerajaan yang dapat dibeli dengan uang. Tetapi tentu tidak akan terjadi di kerajaan kita, yang hukum kerajaannya, peraturan-peraturan yang ada dalam pasal-pasalnya, ditegakkan dengan pedang para penegak hukum dan kesadaran para warga negaranya,” sahut yang lainnya lagi.

“Lagi pula orang menaruh barang basangan untuk mendapatkan tumbal bagi pesugihannya, tentu tidak sebanyak dan semahal itu taruhannya. Memangnya pesugihannya akan memberikan kekayaan jauh lebih banyak dari barang basangan yang demikian banyak dan mahal seperti yang kita lihat di tengah jalan itu?” tanya yang lain.

“Iya ya. Ini memang aneh. Lalu siapa dan dengan maksud apa orang menaruh barang basangan sebanyak, seindah dan semahal itu di tengah jalan?”

“Kalau melihat nilai dan indahnya barang yang tergeletak di tengah jalan itu, aku yakin itu bukan sembarang benda berharga milik orang biasa. Tetapi aku yakin itu adalah benda berharga milik kerajaan. Apakah kira-kira ada pencuri yang berani memasuki gedung perbendaharaan kerajaan, mencuri barang-barang berharga milik kerajaan, lalu salah satunya tercecer jatuh di tengah perempatan jalan sebagaimana yang kita lihat itu?” tanya salah seorang minta dukungan pendapatnya.
“Bisa juga! Pendapatmu masuk akal. Tetapi lantas siapa yang sudah berani mencuri di gedung perbendaharaan kerajaan? Apakah ia tidak tahu besarnya hukuman yang akan diterima kalau ia sampai tertangkap? Kalau tidak dipotong lehernya untuk memisahkan kepala yang sudah mempunyai pikiran jahat, dengan anggota tubuhnya yang lain yang telah diseret untuk melakukan tindak pidana pencurian, paling tidak ya dipotong tangannya yang telah melakukan pencurian. Hiii… ngeri aku membayangkannya. Amit-amit, semoga bukan keluarga atau sanak kerabatku yang melakukannya,” kata yang lain.

Sementara itu, Pangeran Jaka Patahwan dan abdinya Ki Sidagora sudah sampai di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang menyaksikan Bokor Kencana berisi perhiasan emas, intan, berlian. Sang Pangeran mengamat-amati benda-benda berharga itu dengan teliti. Setelah yakin pada pengamatannya, sang Pangeran menggeleng-gelengkan kepala. Ia berkeyakinan bahwa benda-benda berharga itu tidak berasal dari gedung perbendaharaan Kerajaan Wiratha. Memang kalau melihat besarnya barang, halusnya buatannya, dan indahnya motif hiasannya, sehingga memancarkan keindahan yang anggun mempesona, tidak mungkin benda-benda ini milik orang biasa, meskipun ia seorang pedagang yang kaya raya. Yang paling mungkin benda-benda ini adalah milik seorang bangsawan tinggi yang kaya raya. Tapi siapakah bangsawan tinggi Kerajaan Wiratha yang sudah kehilangan benda berharga cukup banyak sampai tercecer di tengah jalan begini? 

Melihat Pangeran Jaka Patahwan hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa mengeluarkan pernyataan apa-apa, orang-orang jadi menduga kalau benda-benda itu bukanlah berasal dari gedung perbendaharaan Kerajaan Wiratha. Mereka lalu semakin ramai kasak-kusuk menebak-nebak, menduga-duga dari mana asal barang-barang berharga itu. Tetapi tak satu pun dari mereka yang yakin akan dugaan mereka sendiri. Suara kasak-kusuk itu semakin ramai seperti dengungan pasar di pagi hari. Tiba-tiba Pangeran Jaka Patahwan memandang keliling kepada orang-orang yang berada di sekitar perempatan jalan itu.

“Tenang! Tenang, Saudara-saudara! Kita tidak perlu menebak-nebak siapa pemilik Bokor Kencana beserta isinya yang tercecer di tengah perempatan jalan ini. Hal ini akan segera kami laporkan kepada Ibunda Ratu. Biarlah nanti Ibunda Ratu mengeluarkan pengumuman tentang berita penemuan ini, agar pemiliknya segera melapor dan mengambilnya kembali, sehingga tidak mengganggu lalu lintas di jalan ini. Yang penting sekarang, sementara belum ada orang yang mengaku pemiliknya untuk mengambil barangnya kembali, kita harus menjaga jangan sampai ada orang yang secara tidak sengaja menginjak atau melindas barang berharga yang berada di tengah jalan yang ramai dengan lalu lalang orang lewat ini,” ujar Pangeran Jaka Patahwan kemudian.

“Benar, Gusti Pangeran! Kita harus mencari cara agar orang-orang tidak mendapat celaka, karena tidak sengaja kaki kudanya menginjak atau roda keretanya melindas Bokor Kencana ini,” usul salah seorang.

“Coba, apakah ada usul yang lebih kongkrit dari saudara-saudara yang hadir?” tanya Pangeran Jaka Patahwan kepada rakyatnya.

“Hamba usul, Pangeran! Bagaimana kalau dalam jarak dua ratus langkah dari tempat ini, baik dari arah barat – timur, ataupun dari arah utara – selatan, kita pasangi rambu-rambu lalu lintas yang berisi peringatan agar orang-orang hati-hati, mengurangi kecepatan jalan, supaya tidak menginjak atau melindas Bokor Kencana ini?”

“Usul yang bagus. Aku kira baik untuk kita laksanakan. Apakah ada usul yang lainnya lagi?” kata Pangeran Jaka Patahwan senang menerima usul rakyatnya.

“Ada, Pangeran! Kalau siang hari, kita mudah mengetahui adanya Bokor Kencana di tengah jalan ini, sehingga kita dapat menghindarinya. Tetapi kalau malam hari, meskipun bulan bersinar terang, dari jauh mungkin orang yang belum pernah melihat bokor ini di sini, dan tidak sempat melihat rambu-rambu peringatan, dengan tidak sengaja bisa saja ia akan menginjak atau melindas Bokor Kencana ini. Oleh karena itu  hamba punya usul, bagaimana kalau di dekat Bokor Kencana ini kita pasangi lampu penerangan berwarna merah, agar menjadi perhatian orang yang akan lewat, lalu mereka lebih berhati-hati dan mengurangi kecepatan lajunya.”

“Hamba juga punya usul! Lampu penerangan itu tidak hanya ditempatkan di dekat Bokor Kencana ini saja, tetapi juga di dekat rambu-rambu peringatan di empat penjuru.”

“Bagus! Semua usul aku terima. Semua akan aku laporkan kepada Ibunda Ratu untuk dapat dilaksanakan. Aku pun juga tidak akan tinggal diam. Aku akan lebih sering mengawasi tempat ini, untuk memperingatkan orang-orang yang akan melewati tempat ini,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

Orang-orang merasa puas pada rencana yang akan dilakukan pihak kerajaan sehubungan dengan penemuan benda berharga tidak bertuan di tengah perempatan jalan yang ramai dengan orang-orang yang lalu lalang. Sebetulnya mereka merasa terganggu dengan adanya Bokor Kencana yang sangat indah dan mahal harganya di tengah jalan yang seharusnya mereka bisa bebas berjalan atau mengendarai kendaraan lewat di situ. Tetapi mau bagaimana lagi, mereka tidak mengetahui orang yang telah menempatkan benda itu, atau tidak sengaja telah kehilangan harta miliknya di situ. Seandainya mereka tahu, tentu mereka akan segera meminta pemiliknya mengambil kembali barang-barangnya.

“Aku tahu, kita semua merasa terganggu dengan adanya benda-benda tak bertuan ini di tempat ini. Seandainya benda itu adalah batu atau duri atau pecahan kaca yang tak mungkin ada orang yang akan mengaku sebagai pemiliknya, aku yakin kalian akan segera menyingkirkannya ke pinggir jalan agar tidak mengganggu dan mencelakai orang lewat. Tetapi ini barang berharga yang tentu ada pemiliknya. Boleh dikata benda ini malati. Kita tidak boleh memindahkannya begitu saja, kalau tidak mau dituduh sebagai orang yang berniat untuk mencuri. Oleh karena itu kita harus bersabar. Kita tunggu pemiliknya mengambilnya kembali,” ujar Pangeran Jaka Patahwan.

“Lantas sampai kapan kita harus menunggu, Gusti Pangeran?” tanya salah seorang.

Pangeran Jaka Patahwan berpaling kepada abdinya Ki Sidagora. “Tolong Paman Sidagora! Jelaskan kepada mereka aturan kerajaan kita tentang penemuan benda berharga di tempat umum,” pinta Pangeran Jaka Patahwan kepada abdinya yang juga sebagai pengasuh dan penasehat pribadinya.

“Baik, Gusti Pangeran,” kata Ki Sidagora. Ia lalu menghadap kepada hadirin, terutama kepada salah seorang yang tadi bertanya.

“Menurut undang-undang kerajaan kita, penemuan benda berharga di tempat umum harus segera dilaporkan kepada penguasa wilayah setempat. Karena ini terletak di kotaraja, dan nilai benda yang ditemukan termasuk tinggi, maka harus segera dilaporkan kepada Sri Ratu Warasingha untuk diambil tindakan pengamanan seperlunya. Kemudian berita penemuan itu dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, harus sudah diumumkan kepada khalayak ramai, agar orang yang kehilangan dapat segera mengambilnya, dengan surat keterangan kepemilikan dari ketua kampungnya, dan seijin penguasa wilayah tempat benda itu ditemukan,” kata Ki Sidagora mulai menjelaskan.


Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan I"

Post a Comment