Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan II

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten

Part II (Baca: part I)

Bokor Kencana Di Tengah Jalan Siapa Punya
Novel Sutardi MS Dihardjo

“Apabila dalam waktu sepuluh hari tidak juga ada orang yang mengaku memilikinya dan mengambilnya sesuai ketentuan, pada hari yang kesebelas, pagi hari  sebelum matahari mulai bersinar di ufuk timur, penguasa wilayah setempat dengan disaksikan dua orang saksi keamanan diwajibkan mengambil benda itu untuk dititipkan ke gedung perbendaharaan kerajaan. Tindakan ini harus dibuatkan berita acara. “ Ki Sidagora berhenti sejenak agar penjelasannya dapat dicerna oleh hadirin semua.

“Kemudian ditunggu selama satu tahun. Dalam waktu satu tahun itu kalau pemiliknya datang ke gedung perbendaharaan kerajaan dengan menunjukkan bukti kepemilikan dari ketua kampung, dikuatkan penguasa wilayah tempat tinggalnya, ia dapat mengambil barangnya di gedung perbendaharaan kerajaan,” lanjut Ki Sidagora.

“Lha kalau sampai waktu satu tahun ternyata tidak ada orang yang mengaku memiliki barang tersebut, lantas bagaimana, Ki?” tanya salah seorang.

“Kalau dalam waktu satu tahun tidak ada orang yang mengaku memiliki barang berharga tersebut, maka barang itu menjadi milik kerajaan. Kalau nilainya tinggi, barang tersebut akan dicatat sebagai perbendaharaan kerajaan dan disimpan di gedung perbendaharaan kerajaan. Kalau nilainya tidak terlalu tinggi atau biasa-biasa saja, barang tersebut akan dilelang, hasilnya untuk membantu usaha rakyat kecil,” kata Ki Sidagora mengakhiri penjelasannya.

“Oooo, begitu,” kata orang-orang yang berkerumun di tempat itu. Ada dua orang asing yang tidak dikenal, ikut berkerumun di tempat itu, juga mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya baru mendengar aturan seperti itu sekarang.

“Kalau boleh tahu, apa kira-kira hukuman orang yang telah berani mengambil benda sebagus dan semahal itu, Gusti Pangeran?” tanya salah seorang dari orang asing itu. Meskipun orang itu orang asing tetapi ia telah mengenakan pakaian dan berdandan seperti rakyat Kerajaan Wiratha, maka tidak ada orang yang mengira kalau dia itu sebenarnya adalah orang asing.

Pangeran Jaka Patahwan  memandang orang yang bertanya. Ia heran kenapa masih ada rakyatnya yang tidak tahu aturan di kerajaannya. Tapi kemudian pangeran lalu berpikir, mungkin juga rakyatnya sudah lupa, karena sudah lama tidak ada rakyatnya yang dijatuhi hukuman karena mencuri sesuatu. Rakyatnya sudah lama taat hukum. Lebih-lebih mencuri benda berharga seindah dan semahal itu, seumur-umur belum ada rakyatnya yang melakukannya. Maka wajar saja kalau ada rakyatnya yang bertanya seperti itu.

“Jawaban aku ini sekaligus untuk mengingatkan kepada saudara-saudara semua rakyat Kerajaan Wiratha,” kata Pangeran Jaka Patahwan sambil mengahapkan pandangannya ke semua rakyatnya yang mengelilingi tempat berdirinya, “hukuman bagi orang yang berani mencuri semua barang semahal ini, setidak-tidaknya dipotong tangannya sebatas lengan. Kalau ia  mengambil sebagian saja, hukumannya sesuai besarnya nilai barang yang diambil, bisa sebatas pergelangan tangan atau hanya beberapa jarinya saja,” ujar Pangeran Jaka Patahwan menjelaskan.

“Kalau tidak berniat mengambil, tetapi secara tidak sengaja kaki kudanya atau roda keretanya melindas benda berharga ini?” tanya orang asing yang satunya lagi.

“Pertanyaanmu sungguh sulit aku jawab begitu saja, Saudara. Karena hal itu harus disidangkan dalam majelis hakim yang diketuai Sri Ratu. Harus diteliti seberapa besar tingkat kelalaian pengendaranya. Yang jelas kendaraannya, entah itu kuda atau kuda dan keretanya, harus disita menjadi milik kerajaan dan nanti akan diberikan sebagai ganti rugi kepada pemilik benda berharga yang sudah dirusakkannya. Bisa juga ia akan dikenai ganti rugi yang lebih besar lagi dari hanya sebesar kuda atau kuda beserta keretanya. Bagaimana Saudara, sudah puas dengan jawabanku yang memang belum tuntas ini? ”

“Terima kasih, Gusti Pangeran. Kami sudah cukup puas menerima jawaban Paduka,” jawab orang asing yang tadi bertanya.

Pangeran Jaka Patahwan lalu menebarkan pandang ke sekeliling, barangkali masih ada rakyatnya yang mengacungkan tangan untuk bertanya perihal hukum di Kerajaan Wiratha. Tetapi ternyata mereka semua hanya berdiam diri. Roman muka mereka menunjukkan kepuasan atas penjelasan yang telah disampaikan Pangeran Jaka Patahwan maupun abdinya Ki Sidagora. 

“Kalau sudah tidak ada yang bertanya, dan sudah jelas apa yang harus kita lakukan, sekarang marilah kita bubaran! Hanya pesanku, sebar-luaskan kepada seluruh rakyat Kerajaan Wiratha yang berencana akan ke kotaraja melewati perempatan jalan ini, agar mereka berhati-hati. Jangan sampai mereka mendapat celaka karena tidak sengaja menginjak atau melindas Bokor Kencana yang ada di tempat ini,” pesan sang Pangeran sambil menyuruh orang-orang bubaran agar tidak mengganggu lalu lintas. 
Orang-orang pun bubaran. Mereka ingin segera mengabarkan apa yang mereka lihat kepada orang-orang kampung di sekitarnya. Mereka merasa sebagai orang penting yang mengetahui suatu peristiwa penting pertama kali. Apalagi mereka telah mendapat penjelasan yang cukup lengkap mengenai hukum yang berlaku di kerajaannya mengenai penemuan benda berharga seperti itu. 

Di tempat tinggalnya, orang-orang yang tadi melihat bokor kencana di tengah jalan dan mendapat penjelasan langsung dari Pangeran Jaka Patahwan, lalu menjadi pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya, ketika sedang menceritakan kejadian istimewa ini di pos ronda atau di warung-warung kopi. Akibatnya justru semakin banyak rakyat Kerajaan Wiratha yang berbondong-bondong ingin melihat sendiri barang berharga Bokor Kencana berisi perhiasan emas, intan, berlian tidak bertuan, yang tergeletak di tengah perempatan jalan. Setiap mereka yang datang menyaksikan, lalu pulang ke kampungnya menceritakan apa yang telah mereka lihat, orang yang mendengarkan ceritanya pun ingin melihatnya sendiri. Sehingga sebelum sepuluh hari, sudah hampir seluruh rakyat Kerajaan Wiratha dari kota sampai pelosok desa, telah melihat benda berharga yang sangat indah dan mahal harganya itu, tergeletak tak bertuan di tengah perempatan jalan. Bahkan karena banyaknya orang berkerumun di situ untuk menyaksikan, kemudian laju kendaraan yang biasa lewat perempatan jalan itu oleh petugas dialihkan lewat jalan lain.

Para pedagang makanan dan minuman pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menangguk untung, mengais rejeki dari peristiwa langka ini. Mereka menggelar dagangan di sekitar perempatan jalan itu. Mereka berpendapat, orang-orang dari jauh yang memerlukan datang untuk melihat benda langka di tempat yang tidak semestinya itu tentu akan merasa lapar dan haus setelah melakukan perjalanan jauh. Mereka tentu memerlukan makanan dan minuman. Maka menjual makanan dan minuman di tempat itu, selain untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang berdatangan dari jauh yang sedang merasakan lapar dan haus, juga tentunya dapat mendatangkan keuntungan yang besar baginya. Dan ternyata memang benar, dagangan mereka laris manis, sebentar saja habis, sehingga harus masak lagi.

Para pedagang cendera mata pun tidak mau ketinggalan. Mereka menggelar dagangan bermacam-macam cendera mata hasil kerajinan rakyat Kerajaan Wiratha dari berbagai daerah. Para perajin yang kreatif, menambahkan gambar bokor kencana lengkap dengan gambar benda-benda perhiasan dari emas, intan dan berlian yang bersinar-sinar pada cendera mata hasil karyanya. Para pelancong yang telah menyaksikan temuan bokor kencana di perempatan jalan itu, memerlukan membeli cendera mata bergambar bokor kencana tersebut sebagai bukti kalau mereka telah datang ke perempatan itu untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri temuan benda langka yang telah membuat heboh semua rakyat Kerajaan Wiratha.  

Meskipun rakyat dan para punggawa Kerajaan Wiratha mengagumi Bokor Kencana dan perhiasan yang serba indah gemerlapan yang ada di dalamnya, tidak ada niatan sedikitpun di hati mereka untuk mengambil dan menguasai benda yang bukan miliknya itu. Meskipun rakyat merasa tidak akan mungkin dapat memiliki benda sebagus itu seumur hidupnya, mereka tidak berani secara sembunyi-sembunyi mencuri benda itu. Mereka takut mendapat hukuman dari kerajaan di dunia ini dan hukuman Hyang Widhi di akherat kelak. Bahkan secara moral, mereka pun takut mendapat hukuman berupa cap pencuri pada dirinya, keluarganya dan keturunannya.    
*

Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan II"

Post a Comment