Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan Bag. 2

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten.

Takdir Tak Dapat Dielakkan

Karena sudah hampir sampai pada batas akhir usahanya mencobai rakyat dan punggawa Kerajaan Wiratha, yaitu sudah sampai pada hari yang kesepuluh, tidak ada rakyat maupun punggawa Kerajaan Wiratha yang berani mengambil Bokor Kencana basangannya, maka Patih Tambakbaya bermaksud akan mengambil kembali Bokor Kencana milik Kerajaan Kalingga itu. Maka ia pun merundingkan cara yang aman untuk mengambil benda yang selalu menjadi perhatian rakyat Kerajaan Wiratha itu dengan Senopati Gagak Lodra.

“Malam ini sudah sepuluh hari kita mencobai rakyat Kerajaan Wiratha. Ternyata betul kabar yang kita terima. Rakyat dan punggawa Kerajaan Wiratha sudah mengesampingkan pamrih kepada barang yang bukan miliknya. Mereka semua sudah menjadi warga kerajaan yang sadar dan taat hukum. Jadi malam ini juga kita harus mengambil kembali Bokor Kencana beserta isinya. Kita harus mencari waktu yang tepat untuk mengambil barang basangan itu. Jangan sampai kita terlihat orang-orang yang selalu mengawasi barang itu. Lalu mereka menangkap dan menghukum kita, mengira kita telah mencuri barang yang bukan milik kita,” kata Patih Tambakbaya kepada Senopati Gagak Lodra.

“Tapi bagaimana caranya kita mengambil Bokor Kencana milik Kerajaan Kalingga yang kita taruh sendiri, Ki Patih, agar tidak diketahui orang-orang Wiratha?  Dan kapan waktunya yang tepat, Ki Patih? Kita tahu, nampaknya ada orang-orang yang ditugaskan oleh kerajaan untuk selalu mengawasi keberadaan benda-benda yang mereka anggap malati itu. Bukan karena mereka takut ada rakyatnya yang berkeinginan untuk mencurinya, tetapi mereka justru merasa khawatir kalau ada orang yang mendapat celaka, dihukum karena secara tidak sengaja menginjak atau melindas barang basangan kita. Nampaknya usaha kita untuk mencobai rakyat Kerajaan Wiratha akan berhasil mengetahui ketaatan hukum rakyatnya, tetapi tidak akan dapat mengetahui ketegasan ratunya dalam menegakkan keadilan. Karena tidak akan ada pencuri yang berani mengambil barang basangan kita. Tetapi barang yang sangat berharga itu malah dijadikan tontonan, yang secara tidak sengaja juga telah mempertontonkan kepada kita, ketaatan hukum warga kerajaannya,” ujar Senopati Gagak Lodra.

“Ya, nampaknya usaha kita ini hanya membuat repot rakyat dan para punggawa Kerajaan Wiratha. Mereka yang seharusnya dapat melalui jalan ini dengan leluasa, sekarang harus berjalan melewati jalan lain yang lebih panjang. Para punggawa kerajaan yang seharusnya dapat mengerjakan hal lain untuk kesejahteraan rakyatnya, terpaksa harus mengurusi barang basangan kita agar tidak mencelakakan rakyatnya. Aku jadi merasa salah dan berdosa telah melakukan pekerjaan ini,” kata Patih Tambakbaya menyesal.

“Ki Patih tidak perlu merasa terlalu bersalah dan berdosa. Kita ini hanya seorang abdi. Kita diperintahkan melakukan pekerjaan ini oleh Baginda Raja Kalingga. Mau tidak mau kita harus melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Perkara ini benar atau tidak bagi orang lain, itu bukan urusan kita. Terlebih lagi karena niat kita itu baik, tidak untuk mencelakai rakyat Wiratha, meskipun mungkin ada satu dua orang yang akan menjadi korban karena melakukan kesalahan. Niat kita justru baik, untuk mengawinkan calon ratu kita dengan calon raja mereka,” ujar Senopati Gagak Lodra menghibur. Setelah berdiam sebentar senopati itu melanjutkan lagi, “Sekarang marilah kita cari cara untuk dapat mengambil kembali barang basangan kita tanpa diketahui orang-orang Wiratha.”

“Baiklah Senopati, sekarang kamu lihatlah keluar apakah masih ada orang di sekitar Bokor Kencana atau sudah sepi tak ada orang! Biasanya tengah malam begini keadaan sudah sepi tak ada orang. Kalaupun ada hanya satu dua orang yang duduk terkantuk-kantuk di kejauhan melaksanakan perintah rajanya untuk mengawasi. Mereka baru akan waspada dan membuka matanya yang mengantuk kalau mendengar derap kaki kuda atau suara menggelindingnya roda kereta. Sekarang tengoklah ke timur dan barat, aku akan mengamati ke arah utara dan selatan. Kalau benar-benar sudah sepi, tak ada orang, tak ada yang tahu, aku akan mengambil kembali barang basangan kita, lalu kita segera pergi dari sini,” ujar Patih Tambakbaya membagi tugas dengan Senopati Gagak Lodra. Yang diberi tugas tanpa diperintah untuk yang kedua kalinya segera keluar, dengan hati-hati untuk menjalankan tugas yang diperintahkan atasannya.

Ternyata keadaan di luar sepi, tak ada kemliwer orang satu pun. Senopati Gagak Lodra mengamati jalan yang membentang dari arah barat ke timur yang berporos di perempatan jalan tempat barang basangan Bokor Kencana berada. Hanya terlihat dua orang duduk di tepi jalan sebelah barat dan sebelah timur perempatan, terkantuk-kantuk berjaga untuk memberi peringatan kepada orang yang akan lewat. Selebihnya adalah pepohonan yang nampak hitam berderet di pinggir jalan. Demikian juga dengan hasil pengamatan Patih Tambakbaya. Dari arah utara ke selatan tak terlihat ada orang lewat. Hanya terlihat dua orang duduk terkantuk-kantuk di pinggir jalan sebelah utara dan sebelah selatan perempatan. Bangku-bangku di pinggir jalan tempat para pedagang makanan, minuman dan cendera mata pun tampak kosong ditinggalkan pemiliknya, tidur di penginapan di sekitar perempatan jalan itu.

Agar orang-orang yang berjaga-jaga itu cepat tertidur, Patih Tambakbaya segera merapal mantra sirep untuk melengkapkan rasa kantuk mereka. Tidak usah terlalu kuat sirep itu ditiupkan, ternyata telah membuat mereka yang sudah sangat mengantuk dan lelah itu terbaring mendengkur,  tidur di tepi jalan.

Patih Tambakbaya berjalan pelan-pelan mendekati tempat barang basangan. Tiba-tiba telinganya menangkap sayup-sayup derap sepatu kuda di kejauhan. Begitu pelannya suara itu sehingga Patih Tambakbaya menduga kalau masih cukup jauh kuda itu berada. Mungkin baru beberapa menit kemudian kuda itu akan sampai di perempatan jalan. Kalau dirinya dapat melakukan gerak cepat mengambil Bokor Kencana, dan cepat-cepat menghilang masuk rumah lewat gerumbul di belakang rumah, dirinya akan selamat tak terlihat penunggang kuda itu. 

“Tapi masalah akan timbul,” pikirnya, “kalau penunggang kuda itu ternyata adalah orang yang ditugaskan mengawasi Bokor Kencana, tentu ia akan segera melakukan pemeriksaan, menggeledah rumah-rumah,  terutama yang ada di sekitar perempatan jalan. Kalau benar begitu yang akan dilakukan, tentu dengan mudah aku akan tertangkap sebelum sempat kabur menjauhi tempat ini.”

Patih Tambakbaya termangu. Ia berpikir menimbang-nimbang lagi. “Kalau tidak sekarang aku mengambil Bokor Kencana itu, lalu kapan lagi? Kalau menunda-nunda, keburu datang pagi hari, dan Bokor Kencana itu akan diambil untuk dititipkan di gedung perbendaharaan kerajaan. Sesuai aturan, untuk mengambilnya prosedurnya sangat rumit. Kalau aku harus menunjukkan bukti kepemilikan dari Keraton Kalingga, bagaimana nanti tanggapan Sri Ratu Warasingha? Apakah mereka tidak merasa dilecehkan, dan merasa kedaulatan kerajaannya diganggu, karena telah dicobai kerajaan tetangga sampai membuat heboh rakyat seluruh negeri?” 

Hati Patih Tambakbaya menjadi bimbang dan ragu. Waktu pun berlalu.  Sementara itu suara tapak kaki kuda semakin dekat semakin jelas. Hati Patih Tambakbaya semakin bimbang. Kalau dirinya tetap mengambil barang itu, kalau sampai  kuda dan penunggangnya yang sekarang suara langkahnya sudah semakin jelas, tiba-tiba sampai di tempat itu, melihatnya, lalu menangkapnya, apa yang akan terjadi? Biarpun benda itu dirinya sendiri yang menaruh, dan jelas dirinya mengambil barang yang dikuasakan pada dirinya, bukan milik orang lain, tetapi karena cara mengambilnya tidak menggunakan aturan yang sudah diatur oleh undang-undang Kerajaan Wiratha, tentu dirinya akan mendapat hukuman yang berat. Mungkin hukuman dirinya akan disamakan dengan hukuman bagi pencuri. Patih Tambakbaya semakin bimbang dan ragu.

Kalau dipikir-pikir aneh juga! Usaha Ratu Gusti Sesembahannya untuk mencobai kejujuran, kesadaran dan ketaatan hukum rakyat dan punggawa kerajaan Wiratha sudah berhasil, terbukti kabar mengenai tidak berpamrihnya rakyat negeri yang sudah makmur itu terhadap harta yang bukan miliknya, bukan kabar yang dilebih-lebihkan. Dirinya sudah melihat sendiri buktinya. Barang tidak bertuan yang sangat indah dan mahal di tengah jalan tidak dijadikan rebutan, atau dicuri secara sembunyi-sembunyi, tetapi malah menjadi tontonan, tanpa pamrih sedikit pun untuk memilikinya. Tetapi sekarang justru timbul masalah pada dirinya, bagaimana caranya untuk dapat mengambil kembali barang basangan itu lalu melaporkan kepada raja junjungannya apa yang disaksikannya sebagai rekomendasi untuk segera melamar Pangeran Jaka Patahwan menjadi suami Sekar Kedaton Dewi Wahdi.

“Kepatuhan rakyat Kerajaan Wiratha pada aturan hukum sudah terbukti. Tetapi ketegasan ratunya dan para punggawanya dalam menegakkan hukum, belum dapat dibuktikan, karena tidak ada satu pun rakyat Kerajaan Wiratha yang berani melanggar hukum. Tapi aku kesulitan untuk mengambil barang basangan bokor kencana itu kembali, akankah diriku nanti tertangkap ketika mengambil barang basangan itu kembali? Lalu apakah aku akan diadili sebagai pencuri yang harus menerima hukuman potong  tangan? Apakah aku harus menjadi korban untuk membuktikan ketegasan Ratu Kerajaan Wiratha dalam menegakkan keadilan?” keluh Patih Tambakbaya menyesal telah menerima tugas rahasia yang tak disangkanya ternyata begitu berat resikonya.

Setelah dipikir-pikir bolak-balik, akhirnya Patih Tambakbaya nekat memilih untuk segera mengambil Bokor Kencana beserta isinya sekarang juga. Ia berusaha berlomba dengan datangnya si penunggang kuda. Dengan sigap, langkah seorang prajurit terlatih, Patih Kerajaan Kalingga yang sedang menyamar itu melangkah mendekati barang basangannya sendiri. Patih Tambakbaya berjalan mengendap-endap tapi sigap dan cepat seperti pencuri, mendekati Bokor Kencana. Tubuhnya menyelinap di antara tanaman perdu yang tumbuh di pekarangan rumah yang disewanya. Sampai di pagar pekarangan, ia cepat meloncati pagar yang tidak begitu tinggi itu. Kemudian ia berjalan merunduk semakin mendekati Bokor Kencana.

Tib-tiba dari arah utara, suara langkah kuda yang tadi terdengar sayup dan berjalan pelan berubah menjadi cepat dan terdengar jelas. Kuda itu berlari sangat cepat membawa penunggangnya seorang pemuda gagah di punggungnya. Patih Tambakbaya terkejut, perbuatannya sudah diketahui orang. Tapi sudah telanjur, tak mungkin surut kembali.

“Jangan diambil benda itu, supaya kamu tidak kena hukuman!!!” teriak penunggang kuda dengan gugup kepada orang yang dikira akan mencuri Bokor Kencana. Ia berusaha sekuat tenaga menggagalkan pencurian itu, selain untuk menyelamatkan orang itu dari hukuman juga untuk menyelamatkan reputasi kerajaannya sebagai kerajaan bebas pencuri dan bebas perampok. Saking semangatnya usahanya untuk menggagalkan pencurian itu, ia melajukan kudanya terlalu kencang hingga hampir menabrak Patih Tambakbaya yang sedang menyamar. Kuda segera dikekang agar berhenti dan tak jadi menabrak. Kuda yang berlari kencang dikekang mendadak, jadi terkejut! Sambil mengeluarkan suara mbengingeh, kuda itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi, melemparkan penunggangnya jatuh ke tanah. Pangeran Jaka Patahwan jatuh terbanting tanpa kontrol, kakinya menginjak Bokor Kencana. Barang yang indah itu jadi rusak penyok-penyok. Isinya berceceran keluar.

Patih Tambakbaya yang terkejut hampir tertabrak kuda, menjadi lebih marah setelah melihat Bokor Kencana jadi rusak terinjak orang yang hampir menabraknya. Lebih-lebih ia melihat barang-barang perhiasan isi Bokor Kencana yang berceceran keluar itu juga rusak putus-putus.

“Hei anak muda yang tak tahu diri! Kamu sungguh tidak tahu aturan! Naik kuda malam-malam begini kencangnya seperti dikejar setan! Sudah begitu, tidak lihat jalan lagi, hingga hampir menabrak aku! Membuat aku terkejut sampai hampir copot jantungku!  Bahkan sekarang kamu telah menghancurkan Bokor Kencana milik junjunganku. Aku tidak terima! Aku akan minta pengadilan kepada Sri Ratu Warasingha!” kata Patih Tambakbaya yang sedang menyamar sehingga tidak dikenali identitasnya, dengan penuh kemarahan kepada Pangeran Jaka Patahwan yang juga sedang menyamar. 

Tak lama kemudian Ki Sidagora yang tadi ditinggalkan Pangeran Jaka Patahwan ketika terburu-buru akan menyelamatkan orang yang dikiranya akan mencuri Bokor Kencana, tiba di tempat itu. Senopati Gagak Lodra yang sedang menyamar pun juga segera tiba di tempat itu.

Pangeran Jaka Patahwan yang kesakitan terjatuh dari punggung kuda masih diam saja  tergeletak di dekat Bokor Kencana yang sekarang sudah penyok-penyok. Sebetulnya sakit di tubuhnya tidak seberapa, tetapi sakit di hatinya lebih pedih lagi. Orang yang ditolongnya, yang akan diselamatkan dari hukuman karena mencuri, sekarang justru menyalahkan dirinya. Sang Pangeran menyesal, kenapa kesialan ini menimpa dirinya. Maksudnya baik, menyelamatkan orang, tetapi justru dirinya nanti yang akan mendapat celaka, secara tidak sengaja telah menginjak Bokor Kencana beserta isinya hingga rusak. Ironisnya kesialan ini menimpanya justru pada hari terakhir sebelum batas waktu barang basangan itu akan dititipkan ke gedung perbendaharaan kerajaan. Berhari-hari dirinya nganglang mengawasi benda itu jangan sampai ada rakyatnya kena sial secara tidak sengaja menyentuh dan merusakkan benda malati itu, agar tidak kena hukuman, tapi hasilnya justru kesialan itu menimpa dirinya, ketika dirinya berusaha untuk menyelamatkan orang dari kesialan yang diakibatkan benda laknat malati itu. 

Pangeran Jaka Patahwan hanya dapat pasrah ketika Ki Sidagora membantunya berdiri. Lalu dengan paksa orang yang telah diselamatkannya dari hukuman itu menyeretnya ke hadapan sang Prabu Putri untuk menerima hukuman.

Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan Bag. 2"

Post a Comment