Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan Bag. 3 Part I

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten.

Hukuman Potong Kaki


Hari masih malam ketika Patih Tambakbaya yang membawa Pangeran Jaka Patahwan diiringkan Senopati Gagak Lodra dan Ki Sidagora sampai di depan pintu gerbang istana kerajaan Wiratha. Istana besar dan megah itu dikelilingi pagar tembok tinggi. Di depan istana ada pintu gerbang yang menjadi jalan masuk menuju pekarangan istana. Dua orang prajurit bersenjata tombak berjaga di depan pintu gerbang. Prajurit penjaga pintu gerbang terheran-heran, melihat putra mahkota berjalan lesu diiringkan abdi kinasih yang juga tampak lesu dan dua orang yang tak dikenal di belakangnya. Lebih-lebih ketika mereka mengetahui kedua tangan sang pangeran diikat menjadi satu dengan sisa tali yang cukup panjang yang di ujungnya dipegang orang asing yang kelihatan seperti menggiringnya. Kesalahan apa yang telah diperbuat pangeran junjungannya, sehingga pangeran yang selalu santun dan penuh perhatian kepada rakyat kecil itu sekarang seperti akan dihadapkan Sri Ratu sebagai pesakitan yang akan diadili?

“Maaf paman Prajurit Jaga, tolong kabarkan kepada Ibunda Ratu kalau aku Pangeran Jaka Patahwan mohon datang menghadap Ibunda Ratu di balairung. Haturkan kepada Ibunda Ratu, ada urusan penting yang tidak bisa ditunda-tunda lagi, sehingga putranda pangeran ingin menghadap malam ini juga,” perintah Pangeran Jaka Patahwan dengan halus.

“Ampun Gusti Pangeran, sebetulnya ada apa? Kenapa malam-malam begini Gusti Pangeran datang menghadap Ibunda Ratu dalam keadaan terikat dengan diiringkan dua orang asing? Bagaimana hamba akan melaporkan hal ini kepada Sri Ratu?” tanya prajurit jaga gugup.
“Laporkan saja apa yang kamu lihat,” kata Pangeran tegas.

Salah seorang prajurit jaga menghaturkan sembah, lalu mohon diri. Ia bergegas menuju ke istana tempat kediaman Sri Ratu Warasingha untuk melapor. Tak berapa lama kemudian Sri Ratu yang nampak gugup juga setelah mendengar laporan prajurit jaganya, bergegas menuju balairung. 

Di balairung Sri Ratu Warasingha berjalan tergesa ke singgasana yang berukir halus dan rumit, penuh lapisan emas bahkan permata yang indah. Namun keindahan ruangan itu tidak dapat membuat wajah Prabu Putri yang suram menjadi terang. Bukan karena Prabu Putri baru saja bangun tidur, dan belum sempat mandi ataupun berdandan,  tetapi karena wajah Sri Ratu yang sebenarnya cantik, anggun dan penuh wibawa itu, sedang diliputi kecemasan mendengar dan kemudian melihat sendiri putra tercinta satu-satunya dihadapkan kepadanya sebagai seorang pesakitan dengan tangan terikat. Sementara Baginda juga melihat ada dua orang asing yang berpakaian biasa, tetapi wajah mereka menunjukkan bahwa mereka sebenarnya bukan dari kalangan rakyat jelata, mungkin seorang bangsawan atau punggawa tinggi dari kerajaan lain.  Di samping putranya yang duduk dengan menundukkan kepala, duduk pula Ki Sidagora abdi putranya dengan lesu mengulaikan pandangan ke lantai.

Begitu Sri Ratu duduk di singgasana, hadirin semua menghaturkan sembah penghormatan, tak terkecuali dua orang tamu tak dikenal.

“Ada perlu apa kalian berempat ingin menghadap kepadaku tanpa bisa ditunda-tunda lagi? Dan kenapa putraku datang menghadap dengan tangan terikat? Kesalahan apa yang telah diperbuat putraku sehingga ia harus dihadapkan kepadaku sebagai seorang pesakitan?” tanya Prabu Putri segera ingin tahu setelah menerima sembah penghormatan hadirin semua.

“Ampun sang Prabu Putri Sri Ratu Warasingha. Kedatangan kami ke istana Wiratha malam-malam begini, adalah untuk mohon keadilan kepada Sri Ratu. Bokor Kencana milik raja junjungan hamba di Negeri Kalingga telah rusak terinjak kaki Pangeran putra Paduka. Demikian pula isinya yang berupa barang-barang perhiasan juga jadi rusak putus-putus berantakan oleh injakan itu,” kata Patih Tambakbaya.

“Jadi kedatanganmu ke mari malam-malam begini adalah untuk minta keadilan?” tanya Prabu Putri minta ketegasan.

“Ampun Sri Ratu, begitulah yang saya inginkan,” jawab Patih Tambakbaya.

“Kalau begitu aku harus menggelar pengadilan malam ini juga.” Sri Ratu Warasingha lalu bertepuk tangan memanggil prajurit jaga, “Tolong panggilkan Ki Patih Reksakerajaan dan jaksa kerajaan Ki Timbangkerajaan.”

Prajurit jaga yang mendapat perintah segera meninggalkan balairung untuk menjalankan perintah, setelah menghaturkan sembah tiga kali. Tak berapa lama kemudian ia sudah kembali mengiringkan Ki Patih dan Jaksa Kerajaan yang segera hadir di balairung. Mereka menghaturkan sembah, lalu duduk dengan khidmad. Sri Ratu Warasingha pun melanjutkan menanyai orang asing yang datang menghadap untuk minta keadilan. 

“Jadi Bokor Kencana berisi perhiasan emas permata yang ada di tengah perempatan jalan itu adalah milik Raja Kalingga junjunganmu?” Tanya Sri Ratu Warasingha.

“Benar begitu, Prabu Putri,” sahut Patih Tambakbaya.

“Lalu kalian berdua ini siapa? Apakah kalian yang telah menaruh barang-barang itu di sana?” tanya Sri Ratu selanjutnya.

“Ampun Prabu Putri. Kami adalah utusan Baginda Raja Kalingga. Saya adalah Patih Tambakbaya, patih Kerajaan Kalingga. Dan yang ada di sebelah saya ini adalah teman saya, Senopati Gagak Lodra.  Memang benar Sri Ratu, kamilah yang disuruh raja kami Baginda Raja Kalingga untuk menaruh Bokor Kencana beserta isinya di perempatan jalan itu,” jawab Patih Tambakbaya.

“Lalu punya maksud apa rajamu berani-beraninya menyuruh menaruh benda yang dapat menimbulkan mala petaka bagi rakyatku itu di kerajaanku? Apakah rajamu ingin mencari penyakit? Mencari alasan untuk berperang dengan kerajaanku?” tanya Sri Ratu Warasingha. Nada suaranya menunjukkan perasaan tak senang.  

“Ampun Sri Ratu. Bukan maksud raja junjungan kami mencari penyakit ataupun mencari dadakan sebagai alasan untuk berperang dengan Kerajaan Wiratha. Raja kami bermaksud baik, ingin berbesan dengan Paduka Sri Ratu. Tetapi raja kami ingin mengetahui dahulu kebenaran kabar yang telah telanjur tersiar sampai ke mancakerajaan,” ujar Patih Tambakbaya. Ia berhenti sebentar berusaha menyusun kata-kata yang kira-kira tidak menyinggung perasaan Sri Ratu Warasingha dan seluruh rakyat Wiratha yang nanti mendengarkannya. Ada perasaan takut di hati Patih Tambakbaya untuk mengatakan alasan rajanya yang sesungguhnya, mengingat apa yang telah dilakukan jelas mengganggu ketertiban umum dan bisa membawa korban bagi rakyat Kerajaan Wiratha.

“Kabar apa yang ingin diketahui rajamu, sehingga untuk membuktikannya rajamu harus melakukan perbuatan yang membuat heboh kawulaku, dan membuat repot punggawaku, serta terbukti sekarang dapat mencelakai putraku sendiri?” tanya Prabu Putri kemudian setelah ditunggu-tunggu Patih Tambakbaya tidak memberi penjelasan lebih lanjut.

“Ampun, beribu-ribu ampun Baginda Prabu Putri! Sekali lagi, sebetulnya raja kami tidak bermaksud buruk. Sebetulnya raja kami bermaksud baik, namun kini saya menyadari bahwa apa yang telah dilakukan raja junjungan kami itu kebablasan, agak berlebihan. Sehingga mungkin bisa berakibat buruk,” sahut Patih Tambakbaya ketakutan.

“Kamu tidak usah menyalahkan rajamu. Sekarang cepat katakan apa maksud rajamu menyuruhmu menaruh barang basangan yang demikian tinggi nilainya di wilayah kerajaanku?” tanya Sri Ratu Warasingha tegas. Patih Tambakbaya dan Senopati Gagak Lodra yang mendengarnya menjadi gemetar ketakutan.

“Ampun Baginda Prabu Putri! Raja kami mempunyai seorang putri calon pewaris tahta Kerajaan Kalingga, namanya Dewi Wahdi, anak satu-satunya. Oleh karena itu raja kami sangat berhati-hati dalam memilihkan jodoh bagi putrinya. Jangan sampai Kerajaan Kalingga yang saat ini sudah dalam keadaan aman, tenteram, adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja, karena mendapat bujukan dan hasutan suaminya yang mempunyai sifat-sifat tidak baik, menjadi hancur di tangan putrinya. Maka raja kami menimbang-nimbang para putra raja kerajaan sahabat. Akhirnya pilihan jatuh kepada putra Paduka, Pangeran Jaka Patahwan. Dengan alasan, menurut kabar yang sudah tersebar sampai ke mancakerajaan pemerintahan Paduka adalah pemerintahan yang baik yang dapat dijadikan suri tauladan bagi pemerintahan Dewi Wahdi dan Pangeran Jaka Patahwan kelak. Namun demikian raja kami yang sangat berhati-hati, masih memerlukan untuk membuktikan kabar, bagaimana Paduka berhasil mendidik rakyatnya untuk sadar dan taat hukum, serta bagaimana Paduka dengan tegas tanpa pandang bulu telah menerapkan hukum kerajaan sesuai undang-undang,” kata Patih Tambakbaya.

“Lalu pembuktian itu dengan cara menaruh barang basangan di wilayah kerajaanku? Sadarkah rajamu, kalau perbuatan itu sesungguhnya telah melanggar kedaulatan kerajaanku? Dan apakah rajamu tidak berpikir, bahwa kemungkinan besar yang terkena hukuman dari perbuatan itu, bukanlah pencuri yang benar-benar berniat memiliki benda basangan itu, tetapi tidak mustahil justru menimpa orang yang tidak tahu apa-apa yang secara tidak sengaja menginjak atau melindas benda yang tergeletak di tengah jalan umum?” sahut Sri Ratu Warasingha.

“Ampun Baginda Raja Putri! Itulah yang saya maksudkan dengan raja kami telah melakukan tindakan kebablasan, hanya mementingkan keperluannya sendiri, tidak melihat kesulitan orang lain. Sebetulnya usaha kami untuk membuktikan kesadaran dan ketaatan hukum rakyat Kerajaan Wiratha sudah berhasil. Selama sepuluh hari barang basangan kami yang sangat berharga tidak disentuh, apalagi dicuri rakyat Paduka. Meskipun kami tidak dapat membuktikan ketegasan Paduka dalam menghukum rakyat Paduka yang bersalah lewat barang basangan kami, kami sudah terima. Kami bermaksud mengambil kembali Bokor Kencana beserta isinya untuk kami bawa kembali ke kerajaan kami. Sekaligus kami akan melapor bahwa Pangeran Jaka Patahwan memang calon menantu yang tepat bagi Dewi Wahdi. Tetapi tanpa diduga-duga ketika saya akan mengambil Bokor Kencana itu justru saya dikejutkan oleh teriakan dan lari kuda yang hampir menabrak saya. Hingga saya jatuh terpelanting ke pinggir jalan. Ternyata kuda yang hamper menabrak saya mendadak berdiri, melemparkan penungganya jatuh ke tanah. Tak tahunya penunggang yang terjatuh dari punggung kuda itu ternyata adalah Pangeran Jaka Patahwan. Kakinya jatuh menginjak hancur Bokor Kencana beserta isinya,” kata Patih Tambakbaya menyesal.

Semua yang hadir di ruangan itu diam termangu-mangu. Mereka semuanya menyesal, kenapa peristiwa ini harus terjadi. Sebetulnya maksud Raja Kalingga ingin menjodohkan Dewi Wahdi dengan Pangeran Jaka Patahwan adalah ide yang bagus. Dewi Wahdi adalah pewaris tahta Kerajaan Kalingga, sedangkan Pangeran Jaka Patahwan adalah putra mahkota Kerajaan Wiratha. Dua orang calon pewaris tahta dari dua kerajaan yang berdekatan, kalau kemudian mereka menikah lalu dua kerajaan itu dijadikan satu, maka akan terbentuklah kerajaan baru yang lebih kuat dan berjaya. Tetapi sayang sekali, kenapa Raja Kalingga harus mempunyai ide untuk mencobai kesadaran dan ketaatan hukum rakyatnya, serta ketegasan ratunya dalam menerapkan hukum di kerajaannya?

“Ya sudah. Itu sudah telanjur. Yang sudah terjadi tidak bisa ditarik kembali. Tetapi tidak adil kalau aku hanya mendengar laporan dari satu pihak. Aku juga ingin mendengar laporan dari pihak Pangeran Jaka Patahwan,” ujar Sri Ratu lalu beralih bertanya kepada putranya, ”Putraku Pangeran Jaka Patahwan, apa betul semua yang dikatakan Patih Tambakbaya?”

Pangeran Jaka Patahwan mengahturkan sembah, lalu katanya, “Ampun Ibunda Ratu. Sebetulnya apa yang terjadi tidak saya sengaja untuk mencelakai Ki Patih Tambakbaya. Maksud saya ingin menyelamatkan orang yang saya kira akan mencuri Bokor Kencana agar tidak terkena hukuman. Tak tahunya orang itu adalah Patih Tambakbaya yang menaruh barang itu sendiri. Meskipun demikian sebetulnya menurut aturan di Kerajaan kita, perbuatan Ki Patih itu tetap merupakan kesalahan yang dapat dikenai hukuman. Maka tindakan saya melarangnya sebetulnya adalah benar adanya.”

“Mengenai kaki saya yang menginjak Bokor Kencana hingga rusak dan isinya juga rusak berserakan, itu sebetulnya adalah kecelakaan. Saya tidak sengaja. Tetapi karena kuda yang saya tunggangi sedang berlari cepat, ketika tiba-tiba saya kekang, jadi tak terkendali, melemparkan saya jatuh ke tanah. Kebetulan pula kaki saya jatuh menginjak Bokor Kenca hingga rusak penyok-penyok, isinya berceceran,” lanjut Pangeran Jaka Patahwan.

Mendengar keterangan putranya, Sri Ratu Warasingha diam beberapa saat untuk menimbang-nimbang keputusan yang harus diambil. Kemudian Sri Ratu memanggil Patih Reksakerajaan dan jaksa kerajaan Ki Timbangkerajaan untuk lebih mendekat duduknya. Mereka bertiga berdiskusi untuk mengambil keputusan benar-salah dan berat-ringannya hukuman Pangeran Jaka Patahwan. Sungguh berat mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman kepada anak satu-satunya penguasa Kerajaan Wiratha. Apalagi ia adalah calon pewaris tahta kerajaan yang sudah lama dibina hingga menjadi kerajaan yang adil makmur. Kalau mereka memihak kepada Pangeran Jaka Patahwan, membebaskannya dari hukman dengan alasan perbuatannya  tidak disengaja, hanya kecelakaan, dan maksudnya bagus untuk menyelamatkan orang lain, lalu justru menyalahkan Kerajaan Kalingga yang telah melanggar kedaulatan kerajaannya dengan menaruh barang basangan di kerajaan lain yang dapat membahayakan rakyat kerajaannya, reputasi kerajaannya sebagai kerajaan yang dipimpin raja yang dengan tegas menerapkan pasal-pasal hukum kerajaan tanpa pandang bulu,  akan hancur. Bahkan mungkin akan terjadi perang antara Kerajaan Wiratha melawan Kerajaan Kalingga, yang membawa korban rakyat banyak yang tidak berdosa. Setelah selesai berdiskusi, keputusan sudah disepakati di antara mereka bertiga, lama Prabu Putri menimbang-nimbang sambil menundukkan kepala menahan kesedihan. Tapi akhirnya Baginda menegakkan kepala. Wajahnya memancarkan kewibawaan meskipun tetap terlihat diliputi kesedihan.


Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan Bag. 3 Part I"

Post a Comment