Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan Bag. 3 Part II

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten.

Hukuman Potong Kaki


“Setelah aku, Ki Patih dan jaksa Kerajaan berdiskusi, menimbang-nimbang dan menilai baik-buruk segala sesuatunya, akhirnya aku menetapkan, Pangeran Jaka Patahwan bersalah karena hampir mencelakai Patih Tambakbaya, sehingga mebuatnya terkejut dan jatuh ke pinggir jalan. Meskipun niatnya baik. Juga bersalah karena telah menginjak Bokor Kencana hingga rusak, isinya juga rusak berceceran. Meskipun juga tidak sengaja. Oleh karena itu, dengan berat hati aku menetapkan hukuman bagi Pangeran Jaka Patahwan.” Sampai di situ sang Parbu Putri berdiam diri cukup lama. Orang-orang yang ada di tempat itu menunggu dengan berdebar-debar. Mungkinkah Sri Ratu yang bijaksana itu akan tega menjatuhkan hukuman berat bagi putra satu-satunya? Mana yang lebih diutamakan, kasih sayang seorang ibu kepada putra satu-satunya atau tegaknya hukum di Kerajaan Wiratha? Hadirin semua menunduk melihat ke lantai dalam-dalam, meskipun sebetulnya mata mereka ingin sekali melihat ke bibir sang Prabu Putri yang akan mengucapkan putusan penting. Sebagai gantinya mereka memasang telinga baik-baik, takut kalau sampai tak mendengar apa yang akan dikatakan Sri Ratu yang sedang mendapat ujian. Tapi sementara yang terdengar hanya jangkrik mengerik di taman atau kelelawar terbang sambil menjatuhkan remah buah sawo di kebun.

“Dengan berat hati aku menetapkan hukuman potong kaki kanan sebatas pergelangan kaki bagi Pangeran Jaka Patahwan. Hukuman akan dilaksanakan oleh algojo kerajaan di alun-alun hari ini juga, nanti sore jam empat sore, disaksikan para kawula. Sekian. Persidangan ditutup,” kata Prabu Putri kemudian dengan tegas meskipun hatinya hancur menahan kesedihan. Baginda terus masuk istana sambil menahan menetesnya air mata. 

Hadirin yang mendengar keputusan itu jadi bersedih, tak terkecuali Patih Tambakbaya dan Senopati Gagak Lodra. Dua orang punggawa Kerajaan Kalingga itu menyesalkan kejadian ini. Sekarang sudah terbukti Kerajaan Wiratha memang kerajaan yang adil dan makmur. Ratunya tegas menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Tapi apa untungnya bagi Kerajaan Kalingga, kalau hasilnya justru Dewi Wahdi akan mendapatkan suami pangeran yang buntung kakinya, yang sebetulnya tidak perlu terjadi? 

*
Menjelang pukul empat sore kesibukan di alun-alun Kerajaan Wiratha sungguh luar biasa. Algojo kerajaan menyiapkan peralatan dan perlengkapan untuk melaksanakan hukuman potong kaki. Landasan untuk melakukan potong kaki dan pedang yang sangat tajam untuk memotong kaki telah disiapkan dengan sebaik-baiknya. Tenda tratak telah didirikan menaungi panggung tempat akan dilakukannya hukuman potong kaki di tengah alun-alun. Para punggawa kerajaan dan rakyat yang akan menyaksikan telah melingkari panggung tersebut. Para punggawa duduk di kursi yang disediakan di depan, sedangkan rakyat biasa berdiri di belakangnya.

Hukuman potong seperti ini memang jarang dilakukan di Kerajaan Wiratha. Selama undang-undang ini diberlakukan belum genap sepuluh kali hukum potong tangan atau potong kaki dilaksanakan. Bukan karena kerajaan tidak tegas memberlakukan hukum yang berat ini, tetapi karena rakyat yang sudah merasakan adil dan makmur memang sudah sadar hukum sehingga mereka amat mentaati hukum. Kemakmuran membuat mereka tidak terpaksa melanggar hukum untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan keadilan, membuat mereka takut melanggar hukum, bukan hanya karena takut akan mendapat hukuman yang berat, tetapi juga karena sadar bahwa melakukan perbuatan melanggar hukum berarti  dirinya telah merugikan orang lain. 

Kerajaan Wiratha meskipun memberlakukan hukum yang tegas, tetapi rasa kemanusiaan tetap menjadi landasannya. Hukuman dilakukan dimaksudkan untuk membuat jera si pelaku dan sebagai pelajaran kepada orang lain yang mengetahui, bukan untuk menyakiti, apalagi menyiksa si terhukum. Maka pedang yang akan digunakan untuk memotong kaki pun diusahakan pedang yang sangat tajam sehingga si terhukum tidak merasakan sakit. Selain itu sudah disiapkan tim tabib beserta berbagai ramuan untuk mengurangi rasa sakit dan untuk menyembuhkannya. Kerajaan berkewajiban memberi perlindungan kepada rakyatnya, maka Kerajaan pun berkewajiban untuk mengobati si terhukum yang telah menjalani hukum potong hingga sembuh. 

Sementara itu rakyat Kerajaan Wiratha yang ingin menyaksikan eksekusi pelaksanaan hukuman potong kaki bagi sang pangeran pun terus berdatangan memadati alun-alun. Mereka sudah mulai berdatangan sejak matahari tepat berada di atas batok kepala. Meskipun mereka ingin menyaksikan pemandangan yang amat langka, tetapi wajah-wajah mereka tidak ada yang menunjukkan kegembiraan sedikitpun. Mereka tidak akan menyaksikan keramaian pasar malam atau upacara peresmian suatu bangunan yang harus dirayakan dengan penuh kemeriahan, tetapi mereka akan menyaksikan suatu peristiwa yang amat menyakitkan hati bagi seluruh warga Kerajaan Wiratha. Hukuman potong kaki yang dilaksanakan memang bisa menjadi peristiwa yang membanggakan, karena merupakan bukti tegaknya keadilan di kerajaannya, tetapi karena ini yang akan terkena hukuman yang dapat membuat cacat seumur hidup adalah putra mahkota calon pengganti raja, yang amat dicintai rakyatnya, maka lainlah apa yang dirasakan oleh mereka. Apalagi mereka tahu bahwa tindakan menaruh barang basangan di kerajaan lain adalah perbuatan kurang ajar yang melanggar batas kedaulatan kerajaan lain. Lebih-lebih seluruh rakyat kemudian tahu bahwa rusaknya Bokor Kencana beserta isinya bukanlah suatu kesengajaan yang dilakukan oleh pangeran junjungannya, tetapi adalah suatu kecelakaan yang tidak disengaja. Bahkan kejadian itu sebetulnya adalah didasari pada niat baik sang Pangeran untuk menyelamatkan orang lain dari hukuman yang mungkin menimpanya. Maka tidak aneh kalau kemudian banyak rakyat yang merasa geram dan marah kepada orang-orang Kalingga yang telah menyebabkan calon rajanya mendapat celaka.

Pukul empat sore lonceng tanda akan dilaksanakannya hukuman potong dibunyikan bertalu-talu. Sebentar kemudian Sri Ratu Warasingha keluar diiringkan para punggawa tinggi, di antaranya Patih Reksakerajaan dan Jaksa Timbangkerajaan. Mereka berjalan menuju tempat duduk yang sudah disediakan di dekat panggung pesakitan. Setelah rombongan Sri Ratu duduk dengan tenang, sejurus kemudian rombongan nara pidana keluar menuju panggung pesakitan. Pangeran Jaka Patahwan diiringi abdi kinasihnya Ki Sidagora dan dua orang algojo kerajaan yang berbadan kekar. Di belakang mereka para tabib istana yang siap memberi pertolongan kepada sang Pangeran. Sampai di depan Sri Ratu mereka semua menghaturkan sembah penghormatan. Menerima sembah sang Pangeran, Sri Ratu hatinya sangat terharu. Baginda tak kuasa berkata apa-apa. Lebih-lebih ketika putranya berjongkok di kaki Ibundanya sambil menyembah berkata pelan, “Maafkan ananda yang tidak tahu diri ini, Ibunda Ratu. Ananda telah mencemarkan nama baik Ibunda Ratu, karena dengan tidak sengaja saya telah menjadi contoh sebagai orang yang telah melakukan kesalahan, dan harus menerima hukuman potong kaki. Namun ananda berharap, bukan kesalahan yang telah ananda perbuat yang akan diingat-ingat para kawula, tetapi justru ketegasan Ibunda Ratu dalam menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, yang akan senantiasa diingat-ingat kawula sampai akhir jaman.”

Sambil mengusap air mata yang melelh di pipinya, Sri Ratu Warasingha berkata pelan, “Berdirilah, anakku! Ananda tidak bersalah, hanya sedang sial saja. Maafkan Ibunda, karena untuk menjaga reputasi kerajaan dan untuk menjaga nama baik Ibunda, terpaksa Ibunda tidak dapat membebaskan ananda dari hukuman yang akan membuatmu cacat seumur hidup ini. Sekarang terimalah hukuman yang seharusnya tidak pantas kamu terima ini, dengan tabah dan lapang dada.”

Pangeran Jaka Patahwan pun berdiri. Pelan-pelan rombongan sang pangeran berjalan menuju panggung pesakitan. Sampai di atas panggung, Pangeran yang menjadi pesakitan itu duduk di kursi yang sudah disediakan. Lalu kaki kanannya dijulurkan ke landasan kayu yang tingginya sama dengan kursi tempat duduknya. Para tabib segera melumuri kaki pesakitan dengan boreh ramuan obat-obatan yang berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit. Boreh itu adalah boreh pati rasa. Diharapkan dengan bekerjanya boreh pati rasa ini pesakitan yang menjalani hukuman potong kaki tidak akan merasakan sakit sama sekali ketika tajamnya pedang memutus kakinya. Bekerjanya boreh pati rasa ini membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit dari sejak selesai diborehkan.

Sepuluh menit kemudian, ketika sang algojo mencoba mencubit pergelangan kaki kanan Pangeran Jaka Patahwan, yang dicubit tidak merasakan apa-apa, maka Sri Ratu pun segera berdiri dan bersabda, “Laksanakan hukuman potong kaki sekarang juga!”

Algojo bergegas mengambil pedang tajam  yang sudah tersedia. Dengan didahului menyembah kepada Sri Ratu dan kemudian juga menyembah kepada Pangeran Jaka Patahwan junjungannya, algojo itu segera menggoreskan pedangnya ke pergelangan kaki sang Pangeran. Dasar pedangnya memang sangat tajam, dengan cepat telapak kaki kanan yang memuat jari-jari itu sudah terlepas. Potongan kaki itu jatuh di kayu landasan, dan segera dimasukkan ke dalam tempat yang sudah disediakan.

Sang Pangeran yang tidak merasakan sakit sedikit pun  karena pengaruh boreh pati rasa di kakinya, ingin melihat apakah hukuman potong sudah dilakukan di kakinya apa belum. Tetapi begitu Pangeran melihat telapak kakinya sudah terlepas, pergelangan kakinya sudah menjadi buntung, dan darah mengalir deras dari luka, ia pun jatuh pingsan! 

Para tabib dengan sigap segera bekerja keras. Ada yang memborehkan ramu-ramuan pemampat darah di bekas luka, dan kemudian membebatnya dengan kapas dan kain yang sudah dibubuhi obat. Ada pula yang berusaha menyadarkan sang Pangeran yang pingsan. Kemudian Pangeran dibawa ke Panti Husada Istana untuk diobati.

Sementara itu Patih Tambakbaya dan Senopati Gagak Lodra yang merasa takut menghadapi kemarahan rakyat Kerajaan Wiratha, diam-diam segera kembali ke kerajaannya, menyelinap di antara rakyat yang menyaksikan berlangsungnya eksekusi kepada sang Pangeran. Ia ingin segera melaporkan apa yang terjadi kepada Raja Kalingga yang telah memberi amanat kepadanya. Namun ia bingung menilai hasil akhir dari misinya. Apakah dirinya telah berhasil ataukah telah gagal dalam mengemban misinya? Mungkin orang akan memandang dirinya telah berhasil, karena berhasil mengetahui kesadaran dan ketaatan hukum rakyat Kerajaan Wiratha dan ketegasan ratunya dalam menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Tetapi untuk tujuan akhir, yaitu untuk mencarikan jodoh yang sempurna bagi Dewi Wahdi, calon pewaris tahta Kerajaan Kalingga, apakah dirinya dapat dikatakan berhasil? Bukankah kaki kanan Pangeran Jaka Patahwan sekarang sudah menjadi buntung, yang berarti pangeran itu sekarang telah menjadi manusia cacat yang tidak sempurna lagi seumur hidup? Apakah Pangeran yang sudah dirugikan dalam peristiwa ini mau memperistri Dewi Wahdi junjungannya? Sebaliknya apakah Dewi Wahdi calon ratu gung binathara juga bersedia mempunyai suami yang cacat kakinya? Patih Tambakbaya dan Senopati Gagak Lodra pulang ke kerajaannya dengan kepala dipenuhi pertanyaan tentang sikap Raja Kalingga dan putrinya nantinya.

Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan Bag. 3 Part II"

Post a Comment