Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 1

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten.

1. Baginda Raja Kalingga Mencari Menantu

Konon di daerah Purwodadi sekarang pada jaman dahulu kala berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kalingga. Raja Kalingga mempunyai seorang putri cantik bernama Dewi Wahdi. Sang Putri yang sudah dewasa sudah saatnya untuk dipersunting seorang perjaka. Namun karena tingginya kedudukan sang putri sebagai sekar kedaton Kerajaan Kalingga, sekaligus sebagai putri mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukan raja, tidak sembarang orang berani melamarnya. Sebetulnya banyak pemuda dari kaum bangsawan maupun saudagar kaya raya yang ingin melamar sang putri. Diantaranya pernah ada yang memberanikan diri melamar Dewi Wahdi, tapi kemudian mereka pulang dengan tangan hampa. Mereka ditolak dengan berbagai alasan, yang sebetulnya hanya untuk menutupi alasan sebenarnya, yaitu tidak sepadan. Akibatnya kemudian tidak ada lagi pemuda yang berani melamar sekar kedaton Kerajaan Kalingga tersebut, takut kalau sampai ditolak dan dipermalukan, mengingat kedudukan mereka yang tidak sepadan. Sedangkan mereka tahu, Dewi Wahdi terlalu pilih-pilih dalam mencari jodoh. 

Sekarang setelah cukup lama tak ada laki-laki yang berani melamarnya, dalam usia yang semakin tua, Dewi Wahdi jadi bingung sendiri. Ia menyesal kenapa dulu dirinya terlalu pilih-pilih dan suka menolak laki-laki yang sudah memberanikan diri melamarnya. 

Kebingungan dan penyesalan tidak hanya dirasakan Putri Sekar Kadaton saja, tetapi juga dirasakan Baginda Raja Kalingga, sang Permaisuri, bahkan seluruh kerabat raja, para punggawa dan rakyat Kerajaan Kalingga. Mereka sangat menginginkan putri junjungannya segera menemukan jodohnya, agar kelak kalau menggantikan ayahandanya memerintah Kerajaan Kalingga dapat memerintah dengan tenang, tidak harus direpoti untuk mencari jodoh.

Sementara itu matahari terus berputar, menggugurkan daun-daun yang semula hijau segar, setelah menjadi kering kecoklatan karena tua. Pohon-pohon yang semula kecil kini sudah tumbuh menjadi besar, dan siap ditebang untuk dipergunakan memenuhi kebutuhan, sebagaimana tujuan semula ketika menanamnya. Matahari terus berputar. Waktu demi waktu berlalu. Yang semula kecil kini menjadi besar. Yang muda berangsur menjadi dewasa, kemudian tua keriputan. Yang tua merindukan datangnya keabadian tempat memetik hasil segala yang telah diperbuatnya di masa lalu. Jatah usia hidup di dunia semakin hari semakin berkurang, semakin mendekati garis akhir. Kemampuan berpikir pun semakin tua semakin berkurang tergerus erosi kepikunan.

Raja Kalingga gelisah memikirkan keadaan putrinya. Di usianya yang sudah mendekati kepala tiga, putri yang menurut perhitungannya tidak kurang suatu apa, belum juga menemukan jodohnya. Apa yang kurang pada putri satu-satunya? Wajah? Cantik rupawan. Perawakan? Ideal: tinggi semampai, tidak terlalu gemuk tapi juga tidak kurus, badan singsat, sintal, padat berisi, kulit kuning langsat. Tingkah laku? Sopan santun, lemah lembut, agak sedikit pemalu. Derajat pangkat? Putri satu-satunya adalah sekar kedaton yang juga sebagai putri mahkota calon pengganti raja. Menurutnya, apa yang ada pada putrinya justru semuanya serba berlebih. Tidak ada yang kurang. Tapi kenapa sampai saat ini belum juga menemukan jodohnya?

Tetapi setelah dipikir-pikir sambil mawas diri, akhirnya Raja Kalingga menemukan penyebabnya. Kesalahan awal adalah karena dulu pada saat mulai mekar-mekarnya putrinya, banyak pemuda kaum bangsawan, pangeran putra raja dan saudagar kaya raya ingin memetiknya, semuanya ditolak dengan alasan belum dewasa. Tetapi kenapa sekarang, setelah anak gadisnya memasuki usia dewasa, tidak lagi ada pemuda yang berani melamarnya? Apakah mungkin mereka sudah jera dan takut pada bayangannya sendiri, karena seperti yang sudah-sudah, paling-paling hanya akan ditolak? Mungkin masih banyak pemuda kaum bangsawan, pangeran putra raja, atau raja muda dan para saudagar kaya yang menginginkan menyunting putrinya menjadi istrinya, tetapi mereka tidak berani. Tetapi apakah mereka yang tidak berani melamar, takut ditolak itu, akan dengan senang hati menerima, kalau justru putrinya yang melamarnya? Mungkin juga!

Mendapat kesimpulan seperti itu, kini Raja Kalingga berencana menempatkan putrinya sebagai pihak yang aktif. Kalau harus terus menunggu sampai ada orang yang melamar, mungkin putrinya akan keburu tua, dan pada akhirnya orang yang melamar justru bukan orang terbaik, karena putrinya saat itu sudah menjadi perawan tua, yang berarti sudah memiliki cacat atau kekurangan. Bisa jadi orang yang melamar nanti justru jejaka tua, duda, atau orang-orang yang mempunyai cacat kekurangan lainnya, yang menganggap diri mereka sepadan dengan putrinya yang sudah menjadi perawan tua. Maka Raja Kalingga berencana akan melamar seorang pemuda yang dianggapnya sepadan untuk diperjodohkan dengan putrinya. Lantas siapakah pemuda yang sesuai dengan putrinya? Mungkin ada banyak pilihan menurutnya, tetapi belum tentu cocok menurut putrinya. Oleh karena itu Baginda malam ini memanggil putrinya untuk dimintai pendapatnya.

Malam ini Baginda Raja Kalingga duduk di istana ruang khusus keluarga, didampingi permaisuri. Di hadapannya duduk bersimpuh Dewi Wahdi, sekar kedaton Kerajaan Kalingga. Raja yang arif bijaksana itu memandangi putri satu-satunya penuh wibawa, meneliti dari ujung kaki sampai ujung rambut, sekan sedang mencari cacat cela anggota tubuh putrinya. 

“Sebetulnya putriku ini sungguh cantik luar biasa. Pesonanya memancar dari wajah dan seluruh tubuhnya. Dan pesona itu memancar dari dalam jiwa putriku, bukan dari polesan atau dandanan yang memang dirias oleh dayang-dayang yang ahli. Mestinya ia dapat memikat banyak perjaka yang memandangnya. Tetapi karena ia putri raja yang harus selalu tinggal di istana, maka seumpama bunga yang sedang mekar, ia tumbuh di taman yang dikelilingi pagar kaca tebal. Banyak kumbang yang sebetulnya terpikat, mengagumi keindahannya, dan ingin menghisap sari madunya. Tetapi mereka tidak berani dan tidak bisa mendekat, terhalang tebalnya kaca yang menciptakan jarak antara bunga di taman dengan kumbang yang mengelilinginya. Kasihan putriku, karena kedudukannya yang tinggi dan karena kelebihan yang ada padanya, ia justru bisa menjadi perawan tua, sulit menemukan jodohnya, kalau hal ini terus dibiarkan. Maka sudah sewajarnya  orang tua harus ikut campur tangan dan usaha,” kata Raja Kalingga dalam hati.

“Putriku Dewi Wahdi, sebetulnya apa yang akan aku katakan ini sudah lama menjadi  pemikiranku, tetapi untuk menyampaikannya kepadamu aku tidak sampai hati,” ujar Raja Kalingga.

“Ampun Ayahanda Prabu. Sebetulnya hal apakah yang sudah memberati hati Ayahanda Prabu, tetapi tidak sampai hati untuk mengutarakannya kepada putrinda?” tanya Dewi Wahdi ingin tahu.

“Putriku yang cantik jelita, saat ini Ayahandamu merasa sudah tua. Dalam memimpin kerajaan dan menjalankan pemerintahan sudah sering tumpang suh, sering melakukan kesalahan di sana-sini yang disebabkan kepikunan dimakan usia. Meskipun belum sampai berakibat fatal, tapi aku merasa bahwa sebetulnya saatnya akan segera tiba untuk menyerahkan kekuasaan kerajaan kepadamu selaku putri mahkota, yang memang sudah dipersiapkan untuk menggantikanku sebagai ratu di Kerajaan Kalingga,” ujar Raja Kalingga kepada Dewi Wahdi. Dewi Wahdi dan permaisuri yang ada di ruangan itu mendengarkan penuh perhatian kata-kata Baginda Raja Kalingga. Mereka mencoba menebak arah pembicaraan Baginda Raja.

“Tetapi ada suatu masalah yang masih mengganjal dalam hatiku,” kata Baginda Raja kemudian, ”sampai saat ini kamu belum bersuami. Padahal untuk memimpin suatu kerajaan sebagai raja atau ratu, seharusnya kamu mempunyai pendamping sebagai tetimbangan sebelum memutuskan suatu perkara. Memang benar,  di kerajaan sudah ada dewan menteri dan para tetua penasehat kerajaan yang siap memberi pertimbangan, tetapi aku pikir sebelum kita melangkah ke sana kita perlu ada seseorang yang dapat mensuport ide-ide kita sebelum dibawa ke dewan menteri atau kita mintakan nasehat kepada penasehat kerajaan. Ini untuk menjaga wibawa kita, agar kita tidak dianggap bodoh dan mudah disetir pertimbangan mereka yang mungkin sebetulnya mengandung maksud tersembunyi. Apalagi kamu sebagai seorang perempuan. Seorang perempuan sering memutuskan sesuatu lebih banyak dikuasai perasaan, maka perlu pertimbangan seorang laki-laki yang lebih banyak dikuasai akal, agar memperoleh keseimbangan.” Raja Kalingga berhenti sejenak agar kata-kata yang telah diucapkannya dapat diserap putrinya.

“Namun sayang, sampai saat ini belum ada seorang pangeran atau putera raja yang melamarmu. Aku khawatir kalau kita dalam posisi menunggu terus begini, nantinya kamu akan menjadi perawan tua. Dan aku terpaksa menyerahkan mahkota kerajaan kepadamu sebelum kamu mempunyai suami yang bisa kamu jadikan  tetimbanganmu,” ujar Baginda Raja Kalingga. Kemudian lanjutnya, “Memang sulit menjadi seorang perempuan. Kalau tetap diam menunggu, mungkin sampai menjadi perawan tua tidak ada orang yang mau melamar. Lebih-lebih kalau perempuan itu berkedudukan dan berpendidikan tinggi. Orang yang berani melamar tentunya hanya yang mempunyai derajat lebih tinggi, atau setidak-tidaknya setimbang. Tapi kalau perempuan terlalu aktif mendekati laki-laki, ia akan dianggap sebagai perempuan murahan yang tidak dapat menjaga martabat kaum wanita.”

Dewi Wahdi hanya dapat diam, mendengarkan kata-kata ayahandanya. Namun hatinya terasa sakit. Ada rasa cemas dalam hatinya, kalau-kalau kekhawatiran ayahandanya, dirinya menjadi perawan tua, menjadi kenyataan. Ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya, kenapa dirinya dilahirkan sebagai seorang puteri raja sekaligus puteri mahkota, yang tidak bebas bergaul untuk menemukan jodohnya. Tetapi tiada guna itu semua disesali, karena takdir telah memilihnya. Mungkin di luar sana banyak perempuan-perempuan yang iri, menghendaki berada pada posisinya, kenapa dirinya harus menyesal? Kalau masalah jodoh barangkali hanya waktu saja yang belum sampai pada saatnya. Namun demikian tetap saja hatinya terasa pedih kalau memikirkan usianya yang sudah merambat mendekati kepala tiga, sementara puteri-puteri bangsawan seusianya, teman-teman sepermainan dulu, kini sudah menimang-nimang anaknya yang montok dan lucu, penerus sejarah hidupnya.

“Oleh karena itu aku bermaksud melamar seorang putera raja untuk kuperjodohkan denganmu. Apakah kamu setuju, Putriku?” tanya Baginda Raja Kalingga kepada Dewi Wahdi.

“Kalau itu sudah menjadi kehendak Ayahanda Prabu, saya hanya dapat menghaturkan bersedia menjalankan titah,” jawab Dewi Wahdi dengan penuh hormat sambil menyembah.

“Kalau kamu sudah setuju, masalahnya sekarang pangeran atau putera mahkota dari kerajaan mana yang akan aku lamar untuk aku jadikan suamimu. Karena sebagai puteri mahkota calon pengganti raja di Kerajaan Kalingga, kamu tidak bisa mencari suami pemuda sembarangan. Suamimu harus orang yang dapat menambah wibawa dan kebesaran Kerajaan Kalingga. Kamu tidak boleh menikah dengan orang yang berderajat lebih rendah dari kita, karena itu hanya akan membuat malu kita. Lebih-lebh kalau lamaran kita sampai ditolaknya. Kita harus melamar raja bujangan atau anak raja yang mempunyai derajat lebih tinggi atau setidak-tidaknya sama dengan kita. Kalau lamaran kita diterima, dan kamu berjodoh, akan menambah kemashuran dan kebesaran kerajaan kita. Tapi kalau ditolak, kita pun tidak terlalu mendapat malu,” ujar Baginda Raja Kalingga.

“Selain dari segi derajat pangkat, kita pun harus memilih calon suami yang berbudi pekerti luhur, agar kita tidak menjerumuskan rakyat dalam kesengsaraan dan penderitaan. Meskipun di daerah terpencil yang jauh dari kotaraja masih sering terjadi perampokan dan pencurian, tetapi pada umumnya kerajaan kita saat ini dapat dikatakan dalam keadaan aman, tenteram, adil, makmur dan sejahtera. Aku khawatir kalau kamu sampai salah pilih, mendapatkan suami yang tamak dan kejam, tidak berbelas kasih kepada rakyat, akan merusak apa yang sekarang sudah kita capai. Aku khawatir karena pengaruh suamimu,  nanti kamu dalam memerintah kerajaan lebih menuruti hasutan suami yang seperti itu dari pada mendengarkan pertimbangan dewan menteri atau para penasehat kerajaan yang didasarkan pada pengamatan atau usul kehendak rakyat. Oleh karena itu marilah kita pikirkan masak-masak, raja atau putera raja siapa dari kerajaan mana yang akan kita lamar untuk menjadi suamimu,” kata Baginda Raja Kalingga.

Putri mahkota Dewi Wahdi merasa beban di pundaknya menjadi semakin berat. Bukan hanya masalah dirinya yang sampai usia dewasa mendekati kepala tiga belum juga ada pemuda yang berani melamar, tetapi terlebih karena masa depan kerajaan beserta kesejahteraan rakyatnya bergantung pada dirinya dan ketepatannya dalam memilih jodoh.

Suasana di ruangan itu menjadi sunyi senyap. Semua terbawa pada pikiran masing-masing. Raja Kalingga membongkar semua ingatan dan pengetahuan yang ada padanya tentang kerajaan-kerajaan sahabat yang mempunyai putera raja yang masih bujang yang sekiranya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkannya. Begitu juga dengan permaisuri dan Dewi Wahdi. Wawasan mereka tentang kerajaan-kerajaan sahabat yang pernah dikunjungi, atau yang pernah berkunjung ke kerajaannya, maupun yang baru terdengar kabar beritanya, digelar, diteliti, dinilai  dan dipertimbangkan. Lama mereka berdiam diri. Agaknya raja memang sengaja tidak mendahului mengajukan suatu nama untuk memberi kesempatan putrinya  memberikan usul sesuai  hati nuraninya.

“Ampun Ayahanda Prabu, kalau boleh saya mengajukan usul saya akan menyampaikan satu nama untuk dipertimbangkan,” kata Dewi Wahdi kemudian, setelah ditunggu sekian lama tidak juga keluar satu perkataan pun dari ayahandanya.

“Bagus! Memang itu yang aku harapkan. Aku ingin usulan itu datang dari padamu, karena kamulah yang nantinya akan menjadi istrinya dan hidup bersama selama-lamanya. Sedangkan kami sebagai orang tua, hanya dapat memberi pertimbangan, baik buruknya bagimu, bagi masa depanmu, dan bagi masa depan kerajaan kita ini. Sekarang katakan, siapa pemuda yang beruntung  menjadi calon suami pilihanmu, dan dari kerajaan mana ia berasal?” tanya Baginda Raja Kalingga gembira. Dewi Wahdi yang pemalu tersenyum malu-malu.

“Ampun Ayahanda Prabu, menurut kabar yang saya terima, di sebelah utara kerajaan kita ini ada Kerajaan Wiratha. Rajanya seorang wanita bernama Sri Ratu Warasingha. Beliau memerintah rakyatnya dengan adil, bijaksana, dan berpegang teguh pada kitab undang-undang hukum kerajaan. Sri Ratu mempunyai seorang putera yang gagah, tampan, dan mewarisi sifat-sifat baik ibunya. Kalau Ayahanda Prabu setuju saya ingin melamar sang pangeran yang bernama Pangeran Jaka Patahwan,” usul Dewi Wahdi.

Baginda Raja Kalingga tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala mendengar usul putrinya. Hatinya merasa senang karena usul putrinya ternyata sesuai dengan apa yang diinginkannya. Namun ia tidak cepat menyetujui usul putrinya itu. Ia perlu minta pertimbangan sang permaisuri.

“Itu usul dari putri kita. Sekarang bagaimana usulmu, Permaisuriku?” tanya Baginda Raja Kalingga ganti kepada permaisuri. Dengan takzim permaisuri mengangkat sembah.

“Ampun Gusti Prabu, ternyata apa yang diusulkan putri kita sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Memang saat ini kebesaran Kerajaan Wiratha, keadilan dan kebijaksanaan rajanya, serta kebagusan budi pekerti dan ketampanan Jaka Patahwan putra mahkotanya sudah termashur ke mana-mana. Maka tidak salah kalau putri kita menginginkan dipersunting sang pangeran yang gagah perkasa itu,” atur permaisuri Raja Kalingga.

“Bagus! Ternyata pendapat kita semua sama. Tadinya aku juga akan mengusulkan nama Pangeran Jaka Patahwan untuk kita lamar menjadi suami Dewi Wahdi. Tetapi aku tidak segera mengatakannya, karena aku ingin mengetahui usulan kalian terlebih dahulu. Ternyata putriku dan permaisuriku pun mempunyai pilihan yang sama dengan aku. Pertimbanganku, selain karena keluhuran budi pekerti Raden Jaka Patahwan dan ia keturunan raja besar gung binatara yang adil dan bijaksana, juga karena ia adalah putera mahkota Kerajaan Wiratha yang masih tetangga kita. Jadi seandainya putriku Dewi Wahdi diterima lamarannya kepada Pangeran Jaka Patahwan, lalu mereka kawin. Kelak kalau mereka sudah mewarisi tahta kekuasaan kerajaan masing-masing, dua kerajaan itu dapat digabung menjadi satu, menjadi satu kerajaan yang besar dan kuat,” ujar Baginda Raja Kalingga.

“Tetapi kabar kebesaran dan kearifan Sri Ratu Warasingha dan kepatuhan rakyatnya kepada hukum kerajaan, selam ini barulah merupakan kabar yang belum dapat dibuktikan. Bisa saja kabar itu sengaja dihembus-hembuskan untuk menaikkan pamor Kerajaan Wiratha dan Ratu Gustinya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu,” kata Raja Kalingga kemudian. 

Dewi Wahdi menjadi pucat mendengar kata-kata ayahandanya yang terakhir ini. “Apakah ini berarti Ayahanda Prabu tidak setuju kepada pilihannya? Ataukah Ayahanda Prabu mempunyai calon menantu lain yang lebih  dapat diharapkan menjamin kebahagiaannya dan dapat diandalkan untuk semakin menjunjung tinggi kebesaran kerajaannya di kelak kemudian hari?” tanya Dewi Wahdi dalam hati. Sekar kedaton Kerajaan Kalingga ini hanya dapat pasrah pada kehendak ayahandanya. 

“Untuk mengetahui apakah kabar itu betul-betul nyata atau hanya kabar bohong, aku ingin membuktikan kebenaran kabar tersebut. Aku tidak ingin mempertaruhkan masa depan putriku dan kerajaanku di atas landasan kabar bohong yang sengaja disebar-luaskan orang  untuk membohongi masyarakat. Maka sekarang juga panggillah Patih Tambakbaya menghadapku di sini,” perintah Baginda Raja Kalingga kemudian.

Tidak menunggu perintah diulang, Dewi Wahdi segera meminta prajurit jaga memanggil Patih Tambakbaya menghadap Baginda Raja Kalingga di ruang keluarga istana Kerajaan Kalingga malam itu juga. Tak berapa lama kemudian Patih Tambakbaya pun sudah datang menghadap. Penuh tanda tanya ia memasuki ruangan yang tidak sembarang orang boleh memasukinya itu. Tentu ada sesuatu yang dianggap penting dan rahasia yang akan dibicarakan sehingga dirinya diijinkan memasuki ruang keluarga yang bersifat pribadi ini.

“Mungkin Ki Patih terkejut malam-malam aku panggil menghadap, di ruang keluarga pula. Sekarang duduklah dengan tenang terlebih dahulu, Ki Patih,” ujar Baginda Raja Kalingga.

“Ampun, Tuanku Baginda Raja. Terkejut hati hamba mendapat panggilan di waktu dan di tempat yang tidak biasa. Namun sebagai seorang abdi, hamba selalu siap kapan saja dan dalam keadaan apa saja, kalau hamba dibutuhkan. Ampun Gusti Prabu, apakah ada titah Paduka yang harus segera hamba laksanakan, yang sifatnya rahasia, sehingga malam-malam begini Gusti Prabu utusan prajurit jaga memanggil hamba menghadap di ruang pribadi ini?” tanya Patih Tambakbaya.  

“Benar, Ki Patih. Ada suatu tugas yang sifatnya rahasia, yang tidak boleh diketahui orang lain kecuali aku, permaisuriku, putriku sekar kedaton Dewi Wahdi, dan Ki Patih sendiri yang aku harapkan akan mengemban tugas ini,” kata Raja Kalingga. 

“Ampun, Tuanku Baginda Raja. Begitu rahasianya tugas yang akan Paduka titahkan kepada hamba, sehingga hanya empat orang saja yang boleh tahu?” tanya Patih Tambakbaya minta ketegasan.

“Benar, Ki Patih. Langsung saja ke pokok permasalahan, Ki Patih, dari pada kamu penasaran menebak-nebak. Begini Ki Patih, sebagaimana Ki Patih ketahui, putriku Dewi Wahdi adalah pewaris tunggal Kerajaan Kalingga yang saat ini aku perintah. Saat ini aku merasa sudah tua, sudah hampir tiba saatnya  aku lengser keprabon, dan menyerahkan tahtaku kepada putriku. Tetapi sayangnya sampai saat ini putriku belum mempunyai suami sebagai pendamping hidupnya yang dapat diajak bersama-sama memerintah Kerajaan Kalingga. Padahal menurut pendapatku seorang pimpinan harus mempunyai jiwa yang stabil dan emosi yang terkendali. Seorang lajang yang tidak mempunyai pasangan sebagai tetimbangan, apalagi kalau dia itu seorang perempuan, tidak bisa dijamin ia akan mempunyai jiwa dan emosi seperti itu. Oleh karena itu aku mengharapkan, sebelum memangku jabatan sebagai Ratu Kalingga, putriku harus sudah mempunyai suami yang dapat diajak bersama-sama memerintah Kerajaan Kalingga.” Raja Kalingga mengambil nafas panjang sebentar. Lalu diam sejurus, seolah menyesali keadaan. Kemudian lanjutnya, ”Karena sampai saat ini belum ada jejaka melamarnya, dan mungkin kalau aku terus menunggu bisa jadi tidak akan kunjung datang jejaka melamarnya sampai putriku menjadi perawan tua, maka aku bermaksud mencarikan jodoh bagi putriku. Aku akan memilih jejaka yang tepat, lalu melamarnya,” ujar Baginda Raja Kalingga. 

Kemudian Sang Prabu melihat ke wajah patihnya untuk mengetahui reaksinya. Ternyata patih yang setia itu diam saja penuh kepatuhan meskipun mendengar rencana yang tak lazim dari raja junjungannya. Suatu rencana yang mungkin bagi sebagian orang dapat dianggap melecehkan martabat kaum perempuan. Ngunggah-unggahi, ya putri junjungannya, putri raja gung binathara  akan melamar seorang jejaka yang akan dijadikan suaminya.

“Setelah ditimbang-timbang dan kami diskusikan bertiga, ternyata pilihan jatuh kepada Pangeran Jaka Patahwan, pangeran dari Kerajaan Wiratha. Kabar yang kita terima, Sri Ratu Warasingha, ibunda ratu Pangeran Jaka Patahwan adalah seorang raja yang adil, bijaksana, dan dalam memerintah kerajaannya selalu berpegang teguh pada kitab undang-undang hukum kerajaan. Raja atau Ratu seperti itulah yang aku harapkan menjadi besanku. Karena dari orang tua seperti itulah aku harapkan seorang menantu yang sudah mendapat didikan budi pekerti dan latihan kekerajaanan yang baik, sebagai bekal untuk bersama-sama memerintah Kerajaan Kalingga bersama putriku nantinya setelah menjadi menantuku,” ujar Baginda Raja Kalingga. Kembali raja yang sudah tua itu berdiam diri sejenak untuk memberi kesempatan yang hadir mencernakan kata-katanya.

“Tetapi Ki Patih, selama ini kita baru mendengar kabarnya saja. Kenyataan yang sesungguhnya kita belum membuktikan. Apakah benar Sri Ratu Warasingha adalah kepala kerajaan yang adil dan bijaksana, yang selalu mendasarkan tindakannya berdasarkan kitab undang-undang hukum kerajaan dalam memutuskan suatu perkara? Dan benarkah rakyat Kerajaan Wiratha beserta para sentana dan punggawa Kerajaan Wiratha adalah para kawula yang patuh dan taat pada hukum, seperti kabar yang telah tersebar sampai ke manca kerajaan? Oleh karena itu, Ki Patih, aku ingin membuktikan kabar yang telah tersebar luas itu dengan cara mencobai mereka.” Kembali Baginda Raja Kalingga berdiam diri agak lama. Rupanya raja sedang menimbang-nimbang rencana yang akan dilakukannya. Patih Tambakbaya pun diam saja, tidak berani menyela titah rajanya meskipun sesungguhnya ia merasa canggung hanya diam saja menunggu dalam waktu yang cukup lama. Ia merasa, dari pada disuruh menunggu rencana rahasia yang belum diketahui, lebih baik segera diperintah menyiapkan pasukan untuk menggempur suatu kerajaan yang menjadi musuhnya. 

“Aku berencana mencobai kejujuran rakyat Kerajaan Wiratha yang sepi ing pamrih marang barang kang dudu darbek-e (tidak berkeinginan memiliki benda/harta yang bukan kepunyaannya), dan keadilan serta kebijaksanaan ratunya  yang selalu berpegang teguh pada undang-undang hukum kerajaan, dengan cara memasang Bokor Kencana berisi emas picis raja brana, perhiasan dari emas, intan dan berlian di tengah jalan yang ramai dilewati orang,” ujar Baginda Raja Kalingga kemudian.

“Orang yang aku percaya melaksanakan tugas ini tidak ada lain kecuali hanya engkau, Ki Patih Tambakbaya. Apakah kamu bersedia melaksanakan tugas rahasia ini Ki Patih?” tanya Baginda Raja Kalingga kepada Patih Tambakbaya yang masih diam menundukkan kepala.

“Ampun Tuanku Baginda Raja, hamba akan melaksanakan tugas rahasia yang dipikulkan di pundak hamba dengan penuh tanggung jawab. Lalu kapan hamba harus berangkat menunaikan tugas ini?” tanya Patih Tambakbaya. 

“Nanti dulu, Ki Patih. Aku belum selesai memberi  petunjuk kepadamu. Besok pagi-pagi berangkatlah kamu ke  kotaraja Kerajaan Wiratha. Carilah perempatan jalan yang cukup lebar dan ramai di kotaraja, lalu letakkan Bokor Kencana yang kau bawa di tengah perempatan jalan itu. Kenapa dicari jalan yang lebar? Maksudnya agar tidak mengganggu orang lewat. Mudah bagi orang-orang yang tidak mempunyai pamrih untu menghindari agar tidak sengaja melindasnya dengan keretanya, atau tidak sengaja menginjaknya dengan kudanya atau dengan kakinya. Tetapi barang berharga itu justru dapat dilihat dari empat penjuru, sehingga kalau rakyat Kerajaan Wiratha adalah kawula yang masih mempunyai pamrih, menginginkan benda milik orang lain, tentu mereka akan berebut mengambilnya. Bisa juga mereka akan berkelahi membuat keributan yang segera akan diketahui punggawa dan ratu Kerajaan Wiratha.” Baginda Raja Kalingga berhenti sejenak.

“Tinggalah di dekat perempatan itu. Sewalah rumah yang ada jendelanya menghadap ke perempatan jalan itu. Awasilah benda basangan itu siang malam selama sepuluh hari selama bulan terang. Setelah sepuluh hari tidak ada orang yang mengambil benda itu, aku ijinkan kamu mengambil benda itu kembali untuk kamu bawa pulang ke hadapanku. Itu berarti Sri Ratu Warasingha, Pangeran Jaka Patahwan, dan kawula Kerajaan Wiratha lulus menghadapi ujianku dalam rangka memilih menantu. Tetapi kalau ternyata ada salah satu kawula Kerajaan Wiratha, bahkan punggawa atau sentana kerabat raja berani mengambil Bokor Kencana beserta isinya atau sebagian isinya, maka segera laporkan kepada Sri Ratu Warsingha tanpa menghadapkan pelakuknya. Aku ingin tahu bagaimana usaha ratu beserta para punggawanya untuk menangkap si pelaku, dan bagaimana Sri Ratu berbuat adil dalam menjatuhkan hukuman bagi pelaku kejahatan itu. Bagaimana Ki Patih, sudah jelas apa yang harus kamu kerjakan di Kerajaan Wiratha mulai besok?”

Patih Tambakbaya mengangkat tangan menghaturkan sembah kepada raja junjungannya, “Ampun Tuanku Baginda Raja. Hamba kira semua sudah jelas, tidak ada satu kata pun yang terselip. Semua perintah Paduka akan hamba kerjakan dengan sungguh-sungguh meskipun terasa berat bagi hamba yang hanya sendiri saja melaksanakan titah ini.”

“Jangan khawatir, Ki Patih. Ajaklah seorang senopati yang terpercaya untuk menemanimu dan bergantian mengawasi Bokor Kencana yang tidak ternilai harganya itu. Beritahukan kepadanya semua yang harus dikerjakan sebagaimana petunjukku kepadamu,” ujar Baginda Raja Kalingga.

“Terima kasih Gusti Prabu berkenan mengijinkan hamba mengajak seorang senopati terpercaya untuk membantu hamba dalam melaksanakan tugas yang teramat berat ini,” kata Patih Tambakbaya lega.

“Sekarang aku ijinkan Ki Patih untuk kembali ke Kepatihan. Mintalah ijin kepada Nyi Patih. Katakan kalau kamu akan menjalankan tugas dari Gusti Prabu. Tetapi jangan kamu katakan tugas apa yang harus kamu kerjakan. Katakan saja kalau tugas ke luar kota untuk waktu sekitar sepuluh hari sampai lima belas hari. Sudah, sekarang pulanglah! Bawalah Bokor Kencana beserta isinya yang sudah aku sediakan di sampingku ini. Sebagai bekal kamu dan senopati pendampingmu, ini ada dua buah kantung uang untuk sewa rumah, biaya keperluan kalian di sana dan sekedar untuk tinggalan keluarga yang ada di rumah. Besok pagi-pagi benar segera berangkatlah ke Kerajaan Wiratha dengan mengendarai kuda. Dalam perjalanan dan selama di sana, jangan tunjukkan jati dirimu sebagai patih dan senopati Kerajaan Kalingga. Menyamarlah sebagai seorang kawula biasa yang sedang bepergian atau sebagai seorang pedagang, terserah kamu mana yang lebih baik,” pesan Baginda Raja Kalingga.

Karena sudah tidak ada yang akan dibicarakan maka Patih Tambakbaya pun pamit kembali ke Kepatihan untuk mempersiapkan diri dan untuk menghubungi Senopati Gagak Lodra kepercayaannya.

Pagi harinya dua ekor kuda terlihat berlari kencang meninggalkan Kotaraja Kalingga, membawa penunggangnya menuju Kotaraja Wiratha.


Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 1"

Post a Comment