Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 9 Part I

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten.

Artikel cerita rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 9 ini terbagi menjadi dua bagian. Berikut ini adalah bagian pertama.

9. Melanjutkan Pengembaraan

Sesampai di bawah pohon beringin Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora berpamitan kepada Ki Bahureksa. Kemudian keduanya meloncat ke atas punggung kudanya, lalu berjalan menyusuri jalan setapak menuruni punggung bukit hingga sampai di Desa Tempel. Sampai di desa kecil yang hanya menempel di kaki bukit Gunung Butak ini hari telah pagi. Langit jingga kemerah-merahan yang mula-mula Nampak semburat lama-lama menjadi terang, meskipun kabut pagi masih mengapung menyelimuti desa dan pesawahan. 

Kuda-kuda Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora berlari di atas jalan berumput menuju arah selatan. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi tapak-tapak kuda yang berlari kencang dalam jumlah tak kurang dari lima ekor. Tak berapa lama kemudian muncul dari tikungan jalan lima ekor kuda berpacu dengan lima orang di atas punggungnya. Orang-orang dengan wajah seram membawa buntalan di atas punggung kuda memacu kuda seperti takut kedahuluan pagi. Ketika berpapasan dengan Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora, mereka berteriak, ”Kalau ingin selamat, cepat minggir!!”

Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora pun menepikan kudanya. Orang-orang kasar itu berlalu dengan meninggalkan kepulan debu di belakangnya. Tetapi ketika Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora hampir mencapai tikungan jalan di batas pedukuhan, tiba-tiba rombongan orang-orang kasar itu kembali. Di sepanjang jalan mereka berteriak-teriak, ”Berhenti! Berhenti!! Berhenti!!!”

Pangeran Jaka Patahwan tahu, dirinya dan abdinyalah yang disuruh berhenti. Ia pun tahu kalau orang-orang itu menghentikan dengan maksud yang tidak baik. Tetapi Pangeran tidak takut. Ia pun mengajak Ki Sidagora untuk berhenti dengan sikap menghadang orang-orang yang kelihatannya akan bermaksud tidak baik kepada mereka.

”Bagus! Kalian menurut perintahku untuk berhenti. Berarti kalian masih sayang pada nyawa kalian. Sekarang serahkan kuda-kuda kalian dan buntalan-buntalan yang kalian bawa. Serahkan semua bekal kalian!” perintah Si Brewok yang agaknya adalah kepala mereka.

”Kenapa aku harus menyerahkan kuda-kuda dan bekalku kepada kalian? Memangnya kalian ini penguasa di sini yang berkewajiban menarik pajak? Kalau iya, mestinya tidak harus semua kuda dan bekal kami yang harus diserahkan, tetapi dihitung dulu, lalu diambil prosentase berapa pajak yang harus dibayar. Tidak main rampas seperti itu,” ujar Pangeran Jaka Patahwan. 

”Banyak bicara! Kami bukan petugas pajak, tetapi kami adalah perampok. Kami membutuhkan kuda-kuda kalian,” teriak Si Brewok.

”Oo, jadi kalian perampok. Aku lihat kalian sudah membawa buntalan-buntalan di punggung kuda-kuda kalian. Tentu buntalan-buntalan itu berisi harta benda hasil rampokan kalian. Kenapa kalian terlalu serakah? Kalian sudah mendapat hasil rampokan sebanyak itu, di jalan melihat orang membawa barang tak seberapa akan kalian rampok juga.”

”Jangan banyak bicara! Kami tergesa-gesa. Kami akan segera kembali ke pondok kami di lereng Gunung Merapi. Sekarang kalian serahkan kuda-kuda kalian apa tidak?” desak Si Brewok memaksa.
”Kalau aku tidak mau menyerahkan bagaimana!” tantang Pangeran Jaka Patahwan.

”Itu berarti kalian memilih mati. Kami perampok gerombolan Sapu Jagat adalah perampok kejam yang tak segan-segan membunuh korbannya,” teriak Si Brewok. Sengaja ia menyebutkan nama gerombolannya. Biasanya orang kalau mendengar nama gerombolan Sapu Jagat disebut nyalinya lalu menjadi ciut, mukanya menjadi pucat dan tubuhnya gemetaran. Tetapi kali ini Si Brewok dibuat terkejut menyaksikan air muka dua orang calon korbannya. Mereka tetap tenang dan tidak merasa ada petir meledak menyambar gendang telinganya. Dua orang itu tidak merasa takut sama sekali.

”Silakan kalau kalian akan memaksa! Aku sudah siap menghadapi kalian!” Pangeran Jaka Patahwan segera mempersiapkan diri, adu punggung dengan Ki Sidagora. Para perampok gerombolan Sapu Jagat mengepung mereka dengan pedang terhunus. Agaknya mereka tidak ingin buang-buang waktu. Karena hari sudah pagi, sebentar lagi para petani akan berangkat ke sawah melewati tempat itu. Mereka tidak ingin dibuat repot mengahadapi banyak orang, meskipun mereka tidak pandai bela diri. Mereka ingin segera menghabisi korbannya, lalu membawa lari kuda-kudanya yang nampak lebih gagah dibanding kuda-kuda mereka sendiri.

Si Brewok yang tidak sabaran segera menerjang sambil mengayunkan pedangnya mengarah ke leher Pangeran Jaka Patahwan. Yang jadi sasaran masih menginginkan umurnya panjang, maka ia merendahkan tubuhnya sambil mengirim tendangan mengarah ke perut lawan. Agar tak terkena tendangan lawan Si Brewok meloncat ke samping. Sementara itu perampok yang lain yang badannya kerempeng membantu Si Brewok dengan mengayunkan goloknya mengarah ke punggung Pangeran Jaka Patahwan. Dengan lincahnya Pangeran membuang diri ke samping kanan. Perampok lainnya yang bertubuh tambun memburu Pangeran dengan menusukkan tombaknya ke arah perut Pangeran Jaka Patahwan. 

Untuk menghadapi keroyokan para perampok yang nampaknya sudah terbiasa dengan perkelahian keroyokan, terbukti dari serangan mereka yang kompak saling mengisi dan saling melengkapi, mau tidak mau Pangeran Jaka Patahwan harus mengeluarkan senjatanya juga. Tongkat ranting pohon randu alas dengan cepat ia keluarkan dari balik punggungnya. Dalam sekejap tangan kanannya sudah menggenggam tongkat sakti itu menangkis serangan tombak lawannya yang mengarah ke perutnya. Benturan antara tongkat dengan tombak tak terelakkan. Percikan bunga api yang diakibatkan benturan itu membuktikan bahwa tongkat kayu yang kelihatannya hanya sepele ternyata mengandung kekuatan yang tak kalah keras dan ampuhnya dibanding kerasnya logam pilihan. 

Perampok bertubuh tambun terhuyung-huyung ke belakang. Tangannya tergetar kesemutan. Tangan itu terasa mau lumpuh. 

”Setan alas! Tongkat apa itu, kerasnya bisa menandingi landheyan tombakku yang terbuat dari kayu galih asem pilihan? Tanganku bahkan kesemutan seperti mau lumpuh!” umpat si Perampok bertubuh tambun. Sekarang setelah tahu kehebatan senjata lawannya ia merasa harus lebih berhati-hati, meskipun mengeroyok tiga lawan satu.

Si Perampok bertubuh kerempeng yang belum tahu kehebatan senjata lawannya dengan sikap meremehkan membabatkan goloknya ke tongkat Pangeran Jaka Patahwan. Yang akan dibabat tongkatnya sengaja tidak menghindari, tapi justru menyongsongnya dengan ayunan tongkat membentur golok Si Kerempeng. Ayunan tongkat yang dilambari tenaga dalam, tidak hanya membuat tongkat itu menjadi semakin keras, tetapi juga menjadikan tongkat itu seperti pedang yang tajam. Akibatnya golok yang diayunkan Si Kerempeng dengan sekuat tenaga dengan tujuan untuk memotong tongkat ranting pohon randu alas musuhnya, justru patah sendiri satu jengkal di dekat pegangan tangannya. Si Kerempeng terkejut mendapati kenyataan seperti itu. Ia lalu melemparkan dengan sekuat tenaga patahan golok yang masih ada padanya mengarah ke kepala musuhnya. Secara reflek Pangeran Jaka Patahwan menangkis dengan tongkatnya meluncurnya patahan golok yang menyambar tiba-tiba. Patahan golok itu pun terpental berbalik mengarah ke perut tuannya. Si Kerempeng yang tidak menduga akan mendapat serangan balik dengan tiba-tiba dari senjatanya sendiri tak sempat menghindar. Kejadiannya begitu cepat. Tahu-tahu kini perutnya mengucurkan darah tertembus potongan goloknya sendiri. Begitu kuat tangkisan Pangeran Jaka Patahwan, hingga lesatan patahan golok itu pun begitu dalam menancap di perut perampok yang lagi kena sial tersebut. 
Si Kerempeng tersungkur di luar arena pertarungan. Tubuhnya limbung lalu roboh ke tanah. Darah keluar dari luka-luka di perutnya yang bedah sejengkal panjangnya. Ususnya terburai keluar. Setelah sekarat beberapa saat, tubuhnya berkelojotan seperti ayam disembelih, akhirnya tubuh kerempeng itu diam kaku untuk selama-lamanya.

”Kurang ajar! Kamu telah membunuh kawanku! Hutang nyawa harus dibayar nyawa. Aku belum akan merasa puas sebelum berhasil membunuhmu, Anak muda!” teriak Si Brewok dengan geram menahan marah. Ia berusaha memburu Pangeran Jaka Patahwan dengan mengayun-ayunkan pedangnya.

Dengan tenang Pangeran Jaka Patahwan melayani amukan Si Brewok yang seperti orang kesetanan. Serangan-serangan Si Brewok dapat ditangkis dan dimentahkan Sang Pangeran. Si Brewok merasakan serangan-serangannya yang membadai seperti membentur dinding baja, bahkan balik menyerang dirinya. Tapi meskipun demikian, ia tetap nekat menyerang dengan membabi buta bersama-sama dengan Si Tubuh Tambun yang lebih memilih berhati-hati.

Sementara itu di tempat lain, Ki Sidagora juga tidak tinggal diam. Dua orang perampok yang lainnya sedang mengeroyoknya. Dengan gencarnya perampok yang berkepala botak bekerja sama dengan perampok yang berbadan bongkok menyerang Ki Sidagora dengan mengayun-ayunkan pedangnya. Dengan tenang Ki Sidagora melayani serangan mereka sambil sesekali mengamati pertarungan momongannya. Setelah yakin kalau Pangeran Jaka Patahwan akan dapat mengatasi lawan-lawannya, apalagi setelah diketahui momongannya itu telah berhasil merobohkan salah seorang perampok yang mengeroyoknya, Ki Sidagora dapat lebih berkonsentrasi menghadapi musuh-musuhnya.

Ki Sidagora bukanlah abdi biasa bagi Pangeran Jaka Patahwan. Ia adalah pengawal pribadi Sang Pangeran. Bahkan ia adalah guru yang memperkenalkan dasar-dasar ilmu silat beserta jurus-jurusnya, sebelum putra mahkota itu memperdalamnya kepada guru-guru silat di padepokan-padepokan silat yang ada di Kerajaan Wiratha. Bahkan pada setiap Pangeran berguru di padepokan, Ki Sidagora yang selalu menemani kemana pun Pangeran pergi, tak ketinggalan ikut berguru di padepokan itu. Meskipun tidak semua ilmu yang diajarkan di padepokan itu kepada Pangeran juga diajarkan kepada Ki Sidagora, setidaknya ilmu-ilmu pilihan yang ada di padepokan itu berhasil diserapnya. Hanya ilmu-ilmu tataran tertinggi yang merupakan ilmu pamungkas yang tidak diajarkan kepada Ki Sidagora. Selebihnya semua ilmu di padepokan tempat Sang Pangeran berguru juga dipelajari oleh Ki Sidagora. Maka untuk menghadapi dua perampok yang bertempur dengan jurus-jurus yang kasar yang mengandakan dangkalnya ilmu yang dimiliki, Ki Sidagora tidak menemui kesulitan sama sekali. Terlebih karena Ki Sidagora sudah cukup umur dan pengalaman, maka ia lebih dapat menguasai emosi dan perasaannya, maka benturan-benturan serangan lawan yang kasar seolah-olah jadi seperti mengenai gulungan karet yang kenyal, lunak tapi ulet, sulit ditembus.

Suatu saat perampok yang berkepala botak menjulurkan pedangnya untuk menusuk dada Ki Sidagora. Dengan tenang Ki Sidagora melibaskan pedangnya yang tipis dan lentur membelit pedang yang mengarah ke jantungnya itu. Terjadi tarik menarik antara Ki Sidagora dengan Si Botak. Terasa oleh Si Botak, betapa lengket  pedangnya menempel di pedang orang tua yang dikiranya tidak mempunyai ilmu bela diri itu. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan belitan pedang lawannya, tetapi sulit sekali. Untung kemudian kawannya yang berbadan bongkok segera datang menolong. Ia menebaskan pedangnya mengarah ke kepala Ki Sidagora. Dengan terpaksa Ki Sidagora melepaskan belitan pedangnya untuk menangkis serangan Si Bongkok.

Setelah mengetahui kelebihan lawannya yang dikiranya tidak mempunyai kemampuan untuk membeladiri, kini dua orang perampok yang mengeroyok Ki Sidagora jadi lebih berhati-hati. Agar tidak dapat dilibas lagi oleh senjata lawannya, mereka mempergunakan taktik tebas-tarik. Secepat kilat mereka menebaskan pedangnya lalu secepat kilat pula mereka menarik pedangnya. Sehingga tidak ada kesempatan untuk saling tempel. 

Namun demikian, pada setiap benturan antara pedang mereka dengan pedang tipis milik Ki Sidagora, terasa telapak tangannya seperti tersengat sesuatu yang membuat tangannya seperti kehilangan daya. Makin lama makin terasa lama-lama tenaganya seperti semakin habis karena tersedot kekuatan pedang lawannya.

Sementara itu kabut pagi mulai menipis seiring dengan munculnya matahari di balik rerimbunan pohon di pinggir jalan. Pedukuhan di dekat arena pertempuran mulai menggeliat. Satu dua orang petani yang sudah terbangun mulai bergegas menuju ke sawah. Dataran di bawah Gunung Butak waktu itu sudah dijadikan areal persawahan yang ditanami padi dan aneka palawija. Orang yang bersawah di areal itu tidak hanya dari Pedukuhan Tempel, tetapi juga dari pedukuhan yang ada di sebelah selatan Gunung Butak. 

Beberapa orang dari Pedukuhan Jiwan yang terletak di sebelah selatan Gunung Butak yang akan ke sawahnya yang terletak di sebelah barat Gunung Butak terkejut mendengar suara pertempuran di batas pedukuhannya. Mereka menduga salah satu kelompok yang sedang bertempur itu tentu gerombolan perampok yang sering menyatroni pedukuhannya dan sekitarnya. Sudah lama mereka mendendam pada perampok yang setiap saat mengambil harta benda yang susah payah mereka kumpulkan. Sayangnya mereka tidak cukup keberanian untuk menghadapinya karena kurangnya ilmu bela diri yang mereka punyai. Maka begitu melihat ada orang yang berani memberikan perlawanan kepada para perampok itu, mereka bermaksud membantu lawan perampok.

Begitulah, salah seorang dari petani itu lalu kembali ke pedukuhan lalu memukul kentongan dengan nada titir tanda ada perampok yang menyatroni pedukuhan mereka. Suara kentongan titir tersebut lalu di sambung di bagian pedukuhan yang lainnya. Begitu seterusnya sambung bersambung, bahkan sampai ke Pedukuhan Ngasinan, Pedukuhan Tempel dan sekitarnya. Dan tak lama kemudian para penduduk pedukuhan lalu berdatangan dengan membawa senjata mereka masing-masing. Ada keris, ada pedang, ada tombak, sabit, linggis, atau pun cuma pentungan. Yang penting mereka membawa senjata yang dianggap dapat melindungi dirinya dari serangan musuh.

Para penduduk Pedukuhan Jiwan, Pedukuhan Ngasinan dan Pedukuhan Tempel bersama-sama berkumpul di sekitar arena pertempuran di batas Pedukuhan Jiwan. Mereka mengacung-acungkan senjata mereka, siap menghadang dan menyerang para perampok yang dandanannya serba kasar. Tetapi ketika mereka sudah maju semakin dekat, tiba-tiba mereka mendengar pemuda dan orang tua yang sedang dikeroyok para perampok memberi isyarat agar mereka semua mundur.

”Ki Sanak semua kami persilakan mundur! Para perampok ini sangat berbahaya bagi kalian. Mereka semua bagian kami, biar kami berdua yang akan meringkusnya. Kalian berjaga-jagalah agar mereka tidak dapat melarikan diri. Buatlah pagar betis dengan senjata siap di tangan agar mereka tidak dapat menerobos!” teriak pemuda yang sedang bertempur melawan dua orang perampok Si Brewok dan Si Tubuh Tambun.

Para penduduk pedukuhan menuruti perintah pemuda yang tak lain adalah Pangeran Jaka Patahwan. Penduduk Pedukuhan Tempel berjaga di sebelah utara dan barat jalan. Penduduk Pedukuhan Ngasinan berjaga di sebelah timur jalan. Penduduk Pedukuhan Jiwan yang lebih dekat dengan arena pertempuran jumlahnya juga lebih banyak. Mereka berjaga di sebelah selatan jalan. Karena arena pertempuran itu adalah perlimaan jalan maka mereka yang berjaga di sebelah selatan, ada yang berjaga di jalan jalur timur dan di jalan jalur barat. Penjagaan begitu rapat sehingga tak mungkin ada ruang bagi para perampok itu untuk melarikan diri.

”Keparat! Setan alas! Sial! Kurang ajar!” umpat para perampok setelah melihat para penduduk pedukuhan berdatangan mengepung mereka dengan rapat lengkap dengan senjata mereka masing-masing. Ditambah rasa jengkel bertempur dari tadi belum juga dapat merobohkan lawannya, justru tenaga mereka semakin susut, para perampok itu jadi frustasi. Mereka mengumpat-umpat dan memaki-maki sejadi-jadinya. Karena putus asa mereka memperhebat serangannya dengan penuh nafsu tapi juga putus asa. Namun segera nampak, bahwa serangan-serangan mereka semakin ngawur tak terarah. Akhirnya mereka terduduk lemas kehabisan tenaga. Satu per satu mereka yang sudah tak berdaya diikat tangannya dijadikan tawanan oleh Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora. 

Salah seorang penduduk yang mengerumuni para perampok itu maju mendekati Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora yang telah selesai mengikat para perampok. Orang itu sudah tua. Rambutnya yang tidak tertutup ikat kepala nampak sudah memutih. Kumis dan jenggotnya pun sudah memutih. Namun garis-garis wajahnya menunjukkan kewibawaan yang ada padanya.

”Maaf Ki Sanak, perkenalkan, saya Kepala Dukuh Jiwan sini. Nama saya Ki Sastro Dikromo. Saya mewakili para penduduk di Pedukuhan Jiwan mengucapkan terima kasih kepada Ki Sanak yang telah dapat meringkus kawanan penjahat, perampok yang sudah berkali-kali menjarah harta benda penduduk Pedukuhan Jiwan dan sekitarnya,” ujar Ki Sastro Dikromo Kepala Dukuh Jiwan.

”Menangkap para penjahat adalah tugas kita bersama, termasuk juga tugas kami yang diberi kemampuan untuk itu. Jadi tak perlu Pak Dukuh mengucapkan terima kasih kepada kami. Sekarang bagaimana Pak Dukuh, para perampok ini akan kita apakan?” tanya Pangeran Jaka Patahwan.

”Kita bunuh saja!” teriak salah seorang.

”Kita habisi saja!” sahut yang lainnya.

”Kita potong tangan dan kakinya biar tidak dapat merampok lagi!” yang lain menimpali.

”Kita patahkan tulang punggungnya, agar lumpuh seumur hidup!” usul yang lainnya lagi.

Teriakan-teriakan penduduk bersahut-sahutan menumpahkan amarahnya. Suasana jadi gaduh, masing-masing penduduk mengusulkan cara penyiksaan yang kejam kepada kawanan perampok yang sebelumnya juga sudah sering menyiksa penduduk.

”Ampun! Ampuuun, Tuan-tuan! Kami jangan dibunuh! Kami jangan dilumpuhkan! Kami sudah tobat, tak berani-berani lagi merampok penduduk pedukuhan ini. Kami mohon diberi hidup! Kami akan bertobat,” rengek para perampok itu mendengar teriakan-teriakan penduduk yang berencana akan membunuh mereka.

”Tidak bisa! Mereka telah merampok sapiku, dan telah membunuh ayahku ketika mempertahankannya. Hutang nyawa harus dibayar nyawa!” teriak salah seorang penduduk.

”Benar, kita habisi saja mereka! Karena mereka telah merampok, menguras harta benda saudaraku dan kemudian menyiksa saudaraku sampai setengah mati,” usul penduduk yang lainnya.

”Setuju, kita bunuh saja mereka. Penjahat seperti ini tak mungkin diharapkan menjadi baik. Setiap saat pikirannya hanya ingin menjarah harta milik orang lain, bagaimana akan bertobat? Lagian kalau kita ampuni, siapa yang akan mencegah kalau mereka berbuat jahat dan kejam lagi kepada kita?” usul yang lainnya lagi.

Para perampok yang sudah tak berdaya itu ketakutan. Dalam hati mereka memang mengakui kalau telah berbuat kejam dan bengis kepada korban-korbannya, terutama yang berani melawannya. Sudah sepantasnya kalau orang-orang itu menumpahkan kemarahannya kepadanya. Tetapi kalau ingat keluarganya, anak istri yang ditinggalkannya di sarangnya, di lereng Merapi sana, mereka jadi bersedih. Kalau dirinya sampai dibunuh atau dilumpuhkan sehingga tidak dapat bekerja, lalu siapa yang akan mencarikan makan anak dan istrinya? Para perampok itu ketakutan membayangkan semua itu.

”Ampun, Tuan-tuan! Beri kami hidup! Kami punya anak-istri. Siapa yang akan mencarikan makan mereka kalau kami dibunuh sekarang di sini.” rengek Si Brewok dan teman-temannya, minta belas kasihan.

”Kenapa kalian tidak berpikir seperti itu ketika membunuh dan menyiksa korban-korban kalian? Apakah kalian juga berpikir siapa yang akan mencarikan makan anak istrinya ketika kalian membunuh orang yang kalian rampok?” tanya Kepala Dukuh.

”Maaf, waktu itu kami kilaf. Saya tak menyangka malang melintang sebagai perampok suatu saat akan terkena batunya juga,” kata Si Brewok.

”Kalau sudah ketanggor, kena batunya, sekarang baru sadar? Coba kamu tidak ketanggor Ki Sanak ini, kamu tentu tak akan sadar! Kamu akan terus menguras harta benda dan menyiksa korban-korbanmu!” sahut Pak Kepala Dukuh.

”Ya, bunuh saja mereka! Tak usah diberi ampun! Mereka penjahat kejam tak berperi kemanusiaan. Kalau tetap hidup mereka hanya akan membuat onar di muka bumi ini saja,” teriak salah seorang penduduk yang kemudian diikuti dengan teriakan-teriakan senada dari orang-orang yang hadir di tempat itu.

”Tenang! Tenang!! Tenang, Saudara-saudara! Kita harus dapat berbuat adil. Jangan mudah main bunuh kepada orang yang sudah tak berdaya. Kalau kemarin dia tersesat, marilah kita beri kesempatan padanya untuk bertobat. Bukankah begitu, Pak Dukuh?” kata Ki Sidagora menenangkan suasana, dilanjutkan dengan pertanyaan kepada Kepala Dukuh.

Kepala Dukuh tidak menjawab pertanyaan Ki Sidagora. Ia masih diliputi kemarahan kepada para perampok yang sudah tertangkap itu. Sudah lama kewibawaannya sebagai Kepala Dukuh diinjak-injak oleh para perampok itu. Karena sebagai Kepala Dukuh dirinya dianggap tidak dapat memberi perlindungan kepada rakyatnya. Keamanan dan ketentraman pedukuhannya selalu diacak-acak para perampok gerombolan Sapu Jagat dari lereng Gunung Merapi. Jaga Baya, para bebahu pedukuhan dan para pengawal pedukuhan yang ditugaskan menjaga keamanan pedukuhan selalu  dibuat tak berdaya menghadapi para perampok yang kejam dan bengis itu. Kini sebagian dari mereka sudah tertangkap, inilah saatnya untuk membuat perhitungan, melampiaskan dendam kesumat, membalas kekejaman mereka.

”Kenapa diam, Pak Dukuh? Sebagai orang yang sudah tua dan dituakan di pedukuhan ini, apakah Pak Dukuh juga akan terbawa emosi seperti penduduk yang lainnya? Apakah Pak Dukuh juga seperti para penduduk itu, tidak dapat berpikir secara jernih?” desak Pangeran Jaka Patahwan.

Kepala Dukuh masih diam. Ia mencoba menimbang-nimbang, mencari jalan terbaik menghadapi para perampok yang sudah tertangkap ini. Apakah ia juga akan membalas kekejaman para perampok itu dengan kekejaman pula. Kalau begitu apa bedanya orang-orang pedukuhan, termasuk dirinya, dengan para perampok itu? Bukankah orang-orang pedukuhan adalah orang-orang yang beradab, yang berperi kemanusiaan? Bukankah orang-orang pedukuhan tidak mau disamakan dengan para perampok yang biadab, yang tidak berperikemanusiaan, yang tidak segan-segan menyiksa dan membunuh para korbannya? 

”Tetapi, kalau para perampok ini tidak dibunuh, lalu kita apakan? Kalau dilepaskan, mereka tentu akan merampok lagi. Tidak ada jaminan mereka tidak akan merampok pedukuhan di sekitar sini lagi. Apalagi kalau tahu bahwa Ki Sanak berdua bukanlah penduduk pedukuhan ini. Tak ada lagi yang mereka takutkan,” ujar Kepala Dukuh Jiwan penuh kebimbangan.

”Kita tahan mereka. Kita jadikan tawanan!” sahut Pangeran Jaka Patahwan.

”Apakah tidak berbahaya, Ki Sanak?” tanya Kepala Dukuh.

”Berbahaya bagaimana?”

”Mereka, para perampok yang kejam itu ada di dukuh ini, sekarang dalam keadaan diikat. Tapi sampai kapan mereka akan terus diikat? Bagaimana kalau mereka akan makan atau buang hajat? Apakah kami harus menyuapi? Apakah kami harus memandikan dan menceboi? Lalu, kalau besok-besok kawan-kawan mereka, atau bahkan pimpinan mereka datang untuk mencari mereka, membebaskan mereka, sekaligus untuk menghukum kami karena telah berani menawan anak buah mereka, bagaimana? Sementara Ki Sanak berdua telah pergi meninggalkan pedukuhan ini, kami tak berdaya menghadapi serangan para perampok itu,” ujar Kepala Dukuh.

”Pak Dukuh dan Saudara-saudara semua tidak perlu khawatir. Saya akan tetap berada di pedukuhan ini, setidaknya sampai keadaan benar-benar aman. Yang penting sekarang, mari kita amankan dulu para perampok yang sudah tak berdaya ini! Kita tempatkan mereka di ruangan tertutup pedukuhan yang kita jadikan kamar tahanan. Ruangan tersebut dikunci rapat dan dijaga ketat. Masalah selanjutnya kita bicarakan bersama di Rumah Pak Dukuh nanti,” ajak Pangeran Jaka Patahwan. 

Tak ada yang membantah. Semua mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

”Kalau semua sudah setuju pada usulku, sekarang aku minta ada beberapa orang yang masih tinggal di sini untuk mengurus mayat perampok yang mati terbunuh itu. Kuburkan ia selayaknya menguburkan orang mati. Meskipun semasa hidupnya ia berbuat jahat, selalu merugikan masyarakat, sekarang setelah mati hormatilah ia sebagaimana menghormati manusia. Maksudnya, galilah kuburan yang cukup dalam, agar baunya tidak keluar, tercium binatang buas, lalu menimbulkan keinginan untuk ndhukiri, menggali dan mencurinya. Memasukkan ke kuburan pun jangan asal digelundungkan, tetapi letakkan dengan cara baik-baik.”

Orang-orang berpandang-pandangan, mencari sukarelawan yang dengan senang hati menawarkan diri untuk melakukan pekerjaan yang ditawarkan Pangeran Jaka Patahwan. Akhirnya ada juga orang yang mau memikul tugas itu.

”Baik Ki Sanak, kami berempat yang akan mengurus mayat perampok ini sampai ke penguburannya,” kata seorang pemuda menyanggupkan diri. Ia mengajak tiga orang kawannya, yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala. 

Kepala Dukuh, Ki Jaga Baya, para pengawal pedukuhan dan penduduk semua yang hadir di situ, kecuali empat pemuda yang ditugaskan mengurus mayat perampok yang terbunuh, mengiringkan Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora menggiring tawanan perampok yang terikat tangannya. Mereka berjalan menuju rumah Kepala Dukuh Jiwan. Sampai di rumah Kepala Dukuh para perampok itu dimasukkan ke salah satu sentong yang tertutup rapat, masih dalam keadaan tangan terikat ke belakang. 

Kemudian Pangeran Jaka Patahwan, Ki Sidagora, Kepala Dukuh, Ki Jaga Baya, para pengawal pedukuhan dan tokoh-tokoh pemuda Pedukuhan Jiwan, Pedukuhan Ngasinan dan Pedukuhan Tempel berkumpul di pendapa Pedukuhan Jiwan. Mereka akan membicarakan langkah selanjutnya menghadapi para perampok yang sudah tertangkap dan kemungkinan serangan balasan dari gerombolan mereka. Minuman air putih yang disajikan dalam kendi dan singkong rebus yang baru saja diangkat dari periuk tanah dihidangkan di atas piring menemani pembicaraan mereka.

Kepala Dukuh dan KI Jaga Baya serta para bebahu dan pengawal Pedukuhan Jiwan berhadap-hadapan dengan Pangeran Jaka Patahwan dan Ki Sidagora. Mereka ingin memulai percakapan. Tetapi terasa canggung bagi Kepala Dukuh dan kawan-kawannya untuk menyebut lawan bicaranya karena selama ini mereka belum memperkenalkan diri.

”Maaf Ki Sanak. Kita sudah lama berbicara. Bahkan Ki sanak sudah membantu kami menangkap kawanan perampok yang menyatroni pedukuhan kami. Tapi sampai detik ini kami belum mengetahui siapa nama Ki Sanak dan dari mana tempat tinggal Ki Sanak?” tanya Kepala Dukuh membuka percakapan.

”Oh ya, maaf, Pak Dukuh dan Saudara-saudara semua. Aku sudah lancang banyak bicara kepada Saudara-saudara semua. Tetapi sampai saat ini aku belum memperkenalkan diri. Sekarang perkenalkan, namaku Jaka Patohan. Asalku dari Kerajaan Wiratha, nun jauh di sebelah utara sana. Sedangkan ini pamanku, namanya Ki Sidagora. Kami berdua adalah pengembara yang tidak punya arah tujuan. Kami hanya berjalan menurutkan kaki melangkah, menurutkan kehendak hati untuk mencari pengalaman,” ujar Pangeran Jaka Patahwan memperkenalkan diri dengan menyebutkan namanya memakai nama samaran yang hampir sama dengan nama sebenarnya tetapi memakai logat pedesaan. Ia pun tidak memperkenalkan diri sebagai seorang pangeran, tetapi mengaku sebagai pengembara biasa.

”Terima kasih Ki sanak Jaka Patohan sudah mau memperkenalkan diri. Sekarang kami pun akan memperkenalkan diri,” kata Kepala Dukuh. Ia lalu memperkenalkan satu per satu para pembantunya para bebahu pedukuhan dan semua yang hadir di pendapa pedukuhan itu.

”Sekarang kembali ke masalah tindak lanjut terhadap para perampok yang sudah kita tangkap. Juga persiapan yang akan kita lakukan untuk menghadapi serangan balasan dari kawan-kawannya yang jumlahnya lebih banyak. Apabila mereka bersama-sama mencari kawan-kawannya yang hilang setelah merampok di pedukuhan ini, kira-kira tindakan apa yang dapat kita kerjakan, Ki Sanak Jaka Patohan?” tanya Kepala Dukuh kemudian.

Pangeran Jaka Patohan dan Ki Sidagora tidak segera menjawab. Mereka perlu berunding terlebih dahulu dengan berbisik-bisik. Setelah ada kata sepakat, Jaka Patohan pun lalu menjawab pertanyaan Kepala Dukuh yang juga merupakan pertanyaan semua yang hadir di pendapa itu.

”Untuk menghadapi serangan balasan dari kawanan perampok yang lain, kami akan mengajarkan olah kanuragan dan strategi perang menghadapi para perampok yang akan menyerbu pedukuhan ini. Kumpulkan para pemuda dan orang-orang tua yang masih kuat badannya, aku dan pamanku akan mengajari dasar-dasar ilmu silat dan olah senjata,” ujar Jaka Patohan.

Kepala Dukuh dan semua yang hadir di tempat itu merasa gembira mendengar kesediaan tamu-tamunya. Mereka sudah lama mengidam-idamkan ada orang yang bersedia melatih mereka ilmu bela diri, silat dan olah senjata, juga strategi perang meskipun hanya sederhana untuk melindungi pedukuhan mereka dari gangguan para perampok yang sering menjarah pedukuhan mereka. 


Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 9 Part I"

Post a Comment