Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 9 Part II

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten.

Artikel cerita rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 9 ini terbagi menjadi dua bagian. Berikut ini adalah bagian kedua. (Baca: bagian pertama)

9. Melanjutkan Pengembaraan

”Terima kasih Ki Sanak masih bersedia menemani kami menghadapi para perampok yang akan menyerang pedukuhan ini. Terima kasih pula Ki Sanak juga menyatakan kesediaan melatih kami ilmu silat, olah senjata dan strategi perang menghadapi para perampok. Kami, para bebahu pedukuhan, para pengawal dan seluruh penduduk pedukuhan ini akan dengan senang hati dan penuh semangat belajar kepada Ki Sanak berdua, karena kami sudah merasakan alangkah hinanya pedukuhan yang tidak mempunyai kemampuan melindungi diri dari jarahan para perampok dan pencuri. Sekarang kami bersemangat untuk menjaga keamanan pedukuhan kami. Betul begitu, Saudara-saudara warga Pedukuhan Jiwan, Pedukuhan Ngasinan dan Pedukuhan Tempel?” tanya Kepala Dukuh Jiwan kemudian kepada semua yang hadir.

”Betul, Pak Dukuh! Kami semua bersedia dan bersemangat untuk ikut berlatih ilmu perang untuk menjaga kemanan pedukuhan kita,” kata yang hadir serempak.

”Terima kasih kalau kalian mempercayai kami untuk mengajari ilmu bela diri untuk menjaga kemanan pedukuhan kalian semua,” kata Jaka Patohan gembira.

Meskipun sudah merasa gembira karena akan ada orang yang melatih ilmu kanuragan kepada warga pedukuhan agar dapat membela diri dari serangan musuh, terutama untuk mempertahankan harta benda, jiwa, keluarga dan kehormatan warga pedukuhan dari serangan para perampok, tetapi agaknya masih ada suatu hal yang mengganjal di hati mereka yang hadir di pendopo pedukuhan itu. Mereka belum tahu bagaimana harus memperlakukan para tawanan yang terasa membebani mereka.

”Tetapi, Ki Sanak, bagaimana dengan para perampok yang sudah kita tangkap itu? Apakah mereka tidak menyusahkan kita? Sementara kita akan berlatih perang-perangan kita juga harus mengawasi dan mengurus mereka. Sampai kapan kami harus ketempatan dan direpotkan dengan adanya tawanan para perampok yang berbahaya ini?” tanya Kepala Dukuh kemudian.

Jaka Patohan dan Ki Sidagora menarik nafas panjang. Jaka Patohan tidak segera menjawab pertanyaan Kepala Dukuh. Ia berdiam diri sejenak, mencari cara terbaik menghadapi para tawanan yang sekarang ditempatkan di sentong yang sebetulnya bukanlah ruang tahanan. Dapat dipastikan kalau para tawanan itu sampai berulah, para bebahu dan pengawal pedukuhan yang tidak menguasai ilmu kanuragan, tentu akan menemui kesulitan. 

”Bagaimana pendapat Paman Sidagora untuk menangani para tawanan ini?” tanya Jaka Patohan kemudian.

Ki Sidagora tidak segera menjawab pertanyaan Jaka Patohan. Sekali lagi abdi setia Jaka Patohan ini menghela nafas panjang. Ia berpikir sejenak mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang cukup rumit ini. Kalau para tawanan itu dibunuh, persoalan sudah selesai. Tidak ada lagi beban yang memberati penduduk. Tetapi apakah itu penyelesaian yang bijaksana? Sebagai manusia yang beradab, menghilangkan nyawa, apalagi nyawa orang-orang yang sudah menyerah, adalah perbuatan yang tidak berperikemanusiaan. Mungkin mereka masih dapat diperbaiki, diajak menempuh jalan yang lurus, setidak-tidaknya perlu diberi kesempatan untuk bertobat. Lain halnya kalau masih dalam pertempuran, tidak ada salahnya ia membunuh musuh yang masih gigih melakukan perlawanan. Mati dalam suatu peperangan sudah menjadi resiko. Jadi cara yang terbaik adalah menawannya. Kemudian menyadarkannya. Lalu membinanya agar dapat kembali menempuh jalan yang lurus, yang tidak mencelakakan orang lain maupun diri sendiri. Sekarang masalahnya, siapa yang akan menawan, menyadarkan dan membinanya?

”Pedukuhan ini berada di bawah wilayah Kademangan mana?” tanya Ki Sidagora kemudian.
”Kademangan Wanabaya,” jawab Kepala Dukuh.

”Sebaiknya para perampok itu kita serahkan ke Kademangan Wanabaya. Ki Demanglah yang berwenang memberikan hukuman kepada para perampok ini. Biar Ki Demang yang memutuskan hukumannya. Tetapi apakah Ki Jaga Baya dan para pengawal pedukuhan ini berani mengantarkan mereka ke Kademangan?” ujar Ki Sidagora. ”Berapa jarak pedukuhan ini ke Kademangan Wanabaya?” tanya Ki Sidagora kemudian kepada Kepala Dukuh.

”Tidak begitu jauh, Ki Sidagora,” sahut Kepala Dukuh, ”dengan mengendarai kereta kuda hanya membutuhkan waktu dua jam. Tetapi kalau mengendarai pedati, bisa setengah hari. Maklum melalui jalan hutan yang masih jelek. Kalau naik kuda dengan memboncengkan mereka di belakang, tentu lebih cepat, tetapi jelas kami tidak berani.”

Ki Sidagora mengangguk-anggukkan kepala.

”Sekarang bagaimana kalau Ki Jaga Baya ditemani satu orang atau dua orang pengawal pedukuhan yang menyerahkan para tawanan ini ke Kademangan, sekaligus minta bantuan keamanan untuk menghadapi serangan balasan dari para perampok gerombolan Sapu Jagat? Agar aman di jalan, para perampok itu dalam keadaan tangan dan kaki terikat kita naikkan di atas pedati,” usul Ki Sidagora.

Orang-orang yang ditunjuk oleh Ki Sidagora berpandang-pandangan. Ada rasa khawatir di hati mereka memikirkan kemungkinan berulahnya para perampok tawanan mereka di tengah perjalanan nanti. Rasa takut dan ngeri membayangkan seandainya para perampok itu berhasil melepaskan ikatan lalu berganti mengancam dan menyiksa mereka di tengah jalan menghantui pikiran mereka.

”Maaf, Ki Sidagora, bukannya kami mau lepas tanggung jawab selaku keamanan Pedukuhan Jiwan ini, tetapi terus terang kami ini para petugas keamanan yang belum mempunyai kemampuan kanuragan yang memadai untuk menghadapi para perampok yang kasar dan kejam. Apalagi kami cuma berdua atau bertiga menghadapi empat orang penjahat seperti mereka,” kata Ki Jaga Baya merendah. ”Bagaimana kalau salah seorang dari Ki Sanak menyertai kami mengawal para tawanan ini ke Kademangan Wanabaya, sekaligus menceriterakan penangkapan mereka kepada Ki Demang Wanabaya?” pinta Ki Jaga Baya penuh harap.

Jaka Patohan memandang Ki Sidagora. Yang dipandang mengetahui maksud junjungannya. Ki Sidagora menganggukkan kepala.

”Baiklah kalau begitu. Biar paman Sidagora saja yang menyertai kalian mengawal para tawanan ke Kademangan Wanabaya. Aku bersama para bebahu pedukuhan akan berjaga-jaga di sini kalau-kalau kawan-kawan perampok datang ke sini mencari kawan-kawan mereka. Sambil  berjaga aku akan mulai melatih dasar-dasar ilmu kanuragan, olah senjata dan strategi perang kepada para pengawal pedukuhan serta para pemuda dan warga yang bersedia,” ujar Jaka Patohan. 

Keputusan sudah diambil. Tak ada yang membantah. Maka persiapan pun segera dilaksanakan. Yang bertugas mengantarkan para tawanan, menyiapkan pedati dan segala sesuatu yang diperlukan. Yang bertugas berjaga-jaga dan berlatih perang-perangan mulai mengumpulkan para pemuda, pengawal pedukuhan, dan warga desa yang berbadan sehat dan kuat di halaman pedukuhan yang cukup luas. Ternyata tak seorang pun warga pedukuhan yang berbadan sehat yang tak ingin berlatih perang-perangan untuk menjaga keamanan pedukuhannya, meskipun usia mereka ada yang sudah cukup tua. Tidak hanya warga Pedukuhan Jiwan, tetapi warga Pedukuhan Ngasinan dan warga Pedukuhan Tempel yang letaknya berdekatan juga ikut berlatih, meskipun jumlahnya tidak sebanyak warga Pedukuhan Jiwan.

Setelah pedati yang membawa para tawanan berangkat ke Kademangan Wanabaya dengan pengawalan Ki Jaga Baya, dua orang pengawal pedukuhan dan Ki Sidagora, yang pertama dilakukan Jaka Patohan kepada warga pedukuhan yang sudah berkumpul di halaman pedukuhan adalah menumbuhkan keberanian mereka.  Memberi semangat berkorban untuk melindungi dan  menjaga ketenangan dan ketentraman seluruh warga pedukuhan adalah yang pertama kali harus ditanamkan dalam jiwa seluruh warga pedukuhan.

”Saudara-saudara warga Pedukuhan Jiwan maupun warga Pedukuhan Ngasinan dan Pedukuhan Tempel yang aku hormati, yang pertama-tama harus kita lakukan adalah menjaga persatuan dan kesatuan di antara warga pedukuhan. Alangkah baiknya kalau penduduk antarpedukuhan juga bersatu padu, bekerja bahu membahu, saling tolong menolong, untuk bersama-sama mengusir para perusuh yang sering mengganggu wilayah kita. Dengan bersatu padu akan tumbuh keberanian pada diri kita, karena kita akan merupakan satu kekuatan yang sulit ditembus dan dipatahkan!” ujar Jaka Patohan.
”Sesakti apa pun kita, kalau kita bergerak sendiri-sendiri, dengan mudah kita akan dipreteli, lalu dihancurkan. Maka kita harus merasa bahwa kita ini adalah satu keluarga, satu kesatuan, yang akan selalu tolong menolong apabila salah satu di antara kita mendapat serangan musuh. Pukulan kentongan sebagai tanda berkumpul atau tanda untuk berjaga-jaga karena adanya suatu bahaya, merupakan alat komunikasi yang sangat baik  untuk mempersatukan kita,” lanjut Jaka Patohan.

”Kalau di dalam diri kita sudah hidup rasa senasib sepenanggungan, maka kita akan merasa bahwa kita tidak hanya sendiri dalam menghadapi bahaya. Rasa persatuan dan kesatuan di dalam diri kita akan menumbuhkan keberanian untuk mengatasi setiap masalah bersama-sama. Jangan sampai ada yang berkhianat karena menjadi pengecut tak berani membela saudara kita yang sedang menghadapi bahaya!” kata Jaka Patohan berapi-api.

”Nah, sekarang aku mau bertanya, apakah di antara Saudara-saudara masih ada yang ingin hidup sendiri-sendiri, tidak mau saling menjaga dan saling melindungi di antara kita?” tanya Jaka Patohan.
”Tidak, Ki Sanak, kami berjanji untuk saling menjaga, menolong dan melindungi sesama warga pedukuhan. Bahkan kami juga akan membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan!” jawab hadirin serempak.

”Kalau kalian sudah berjanji akan menggunakan ilmu beladiri yang Saudara-saudara miliki untuk membantu yang lemah yang tertindas, terutama diantara warga pedukuhan Saudara, dan untuk membasmi kejahatan yang merajalela, terutama di pedukuhan Saudara, aku dengan senang hati akan mengajarkan ilmu tata bela diri, ilmu kanuragan dan olah senjata, serta strategi perang, kepada Saudara-saudara,” kata Jaka Patohan.
”Jangan khawatir! Kami berjanji untuk melakukan itu semua!” kata orang-orang yang sudah tidak sabar ingin segera diajari ilmu bela diri itu serentak.

Jaka Patohan melihat orang-orang yang berkumpul itu sudah tidak sabar ingin segera mendapat latihan ilmu tata bela diri. Lebih-lebih karena semangat mereka sudah terbakar oleh motivasi yang diberikannya. Maka Jaka Patohan pun segera memberikan pelajaran-pelajaran dasar tata bela diri, baik untuk bertahan, menghindar, maupun untuk menyerang.

”Sekarang kalian semua berbaris yang rapi. Ambil antara dengan merentangkan kedua tangan. Jangan sampai ada yang bertumbukan ke kanan ke kiri maupun ke muka dan ke belakang.”

Para peserta latihan pun segera berbaris. Mereka merentangkan kedua tangan masing-masing, ambil antara kanan – kiri. Lalu belok kanan, untuk kemudian ambil antara lagi  dengan merentangkan kedua tangan mereka.  Sekarang jarak kanan – kiri dan muka-belakang sudah cukup leluasa untuk melakukan gerakan latihan ilmu bela diri.

”Sekarang pasang kuda-kuda. Lihat contoh!” petunjuk Jaka Patohan sambil memberi contoh pasang kuda-kuda yang benar. Mereka semua lalu mencontoh gerakan pelatihnya. Jaka Patohan lalu berjalan mengelilingi mereka, membetulkan yang belum betul.

Begitulah, Jaka Patohan melatih para warga Pedukuhan Jiwan, Pedukuhan Ngasinan dan Pedukuhan Tempel, sejak dari gerakan awal berupa pasang kuda-kuda sampai beberapa gerakan memukul, menendang, menangkis, menghindari serangan lawan. Semuanya masih merupakan gerakan dasar dengan tangan kosong. Setelah gerakan menirukan ini berhasil diikuti dengan baik, mereka lalu dicoba saling berhadap-hadapan untuk mempraktekkan apa yang sudah dipelajari dalam suatu pertarungan satu lawan satu, dengan catatan bahwa apa yang mereka lakukan itu hanyalah suatu latihan mempraktekkan jurus, bukan perkelahian yang sesungguhnya. Oleh karena itu mereka harus dapat mengendalikan diri.tidak boleh disertai emosi untuk mematikan lawan.

Penduduk Pedukuhan Jiwan, Pedukuhan Ngasinan dan Pedukuhan Tempel melakukan latihan ini dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Banyak pelajaran yang dapat mereka petik. Yang belum pengalaman berkelahi, sekarang mereka jadi tahu bagaimana caranya menyerang, menghindar dan mempertahankan diri supaya selamat dari serangan musuh dan dapat memenangkan pertarungan. Mereka yang sudah berpengalaman berkelahi, sekarang menjadi tahu kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan mereka yang menyebabkan mengalami kekalahan atau mendapat kesulitan dalam perkelahian. Sekarang mereka menjadi lebih percaya kepada kemampuannya.

Ketika matahari sudah sampai pada puncak pendakiannya, latihan ilmu bela diri yang penuh semangat itu pun dihentikan. Mereka perlu istirahat dan makan siang bersama-sama. Ibu-ibu dari tiga pedukuhan yang berdekatan itu telah bekerja bersama-sama memasak di dapur umum. Seperti yang sudah direncanakan, ibu-ibu yang memasak di dapur umum pun sudah selesai dengan tugasnya. Makanan, minuman dan buah-buahan sudah disajikan di pendapa pedukuhan di atas tikar pandan. Mereka yang sudah merasakan lapar dan haus setelah setengah hari berlatih ilmu bela diri dipersilakan makan dan minum seadanya.

Dengan gembira, sambil memperbincangkan latihan yang baru saja dilakukan, dan kemungkinan-kemungkinan prakteknya dalam perkelahian yang sesungguhnya, mereka makan dan minum dengan lahapnya. Meskipun sebagian dari mereka ada yang mendapat pukulan di tubuhnya hingga membuat bagian itu sekarang pun masih terasa agak sakit, tapi mereka tidak ada seorang pun yang mendendam kepada lawan latihnya. Mereka memaklumi bahwa latihan harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dalam batas-batas yang tidak menimbulkan celaka, mengingat lawan yang sesungguhnya kemungkinan dalam waktu dekat ini akan benar-benar datang.

Ketika matahari sudah lepas dari puncak pendakiannya lalu tergelincir ke arah barat, kira-kira pukul dua siang, latihan perang-perangan pun dilanjutkan. Kali ini tidak lagi latihan tangan kosong, tetapi latihan bertarung dengan menggunakan senjata. Mula-mula diajari cara memegang bermacam-macam senjata yang benar. Lalu dilatih cara menggunakan senjata tersebut untuk menyerang maupun menangkis. Kemudian diajarkan pula cara-cara menghindari serangan bermacam-macam senjata. Setelah itu barulah dicoba untuk berlatih bertarung dengan menggunakan senjata melawan lawan latih masing-masing. Senjata yang digunakan untuk latihan bukanlah senjata betul-betul tetapi menggunakan ranting-ranting kayu dan bilah-bilah bambu seukuran senjata yang dilatihkan, yang sudah disiapkan setelah mereka selesai makan siang. Untuk latihan kali ini Jaka Patohan memerlukan mengawasi dengan ketat agar tidak menimbulkan celaka karena berlatih terlalu bersemangat sehingga lepas kontrol.

Karena tahu lawan yang akan dihadapi nanti adalah para perampok ganas yang sudah berpengalaman bertarung dengan garang, maka Jaka Patohan dalam latihan ini lebih memperbanyak latihan perang dalam kelompok. Maka setelah dirasa cukup latihan pertarungan satu lawan satu, mereka dilatih kerja sama dalam kelompok menghadapi satu orang lawan yang tangguh dan berpengalaman. Sebagai  lawan latih yang harus dikeroyok adalah Jaka Patohan sendiri. Bergantian mereka berkelompok mencoba mengeroyok Jaka Patohan. Sementara yang lainnya duduk atau berdiri melingkari pertarungan itu, melihat dan memperhatikan pertarungan yang berlangsung di depan matanya. 

Pada kesempatan itu, sambil melatih kelompok yang sedang mengeroyoknya, Jaka Patohan dapat memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka. Petunjuk-petunjuk itu tidak hanya bagaimana caranya menyerang, menangkis dan menghindari senjata lawan, tetapi juga bagaimana menguatkan batin, menjaga kekuatan mental, memperbesar nyali, menghadapi serangan mental para perampok yang mungkin bertempur sambil menggertak, mengumpat, mencaci maki dan meludahi musuh-musuhnya. Petunjuk-petunjuk tersebut juga disimak dan diperhatikan mereka yang sedang menyaksikan, sehingga pada gilirannya mereka dapat mempraktekannya dengan benar. 

Sebelum matahari menghilang di balik rimbun pepohonan, latihan perang-perangan dengan menggunakan senjata diakhiri. Memang tidak semua kelompok kebagian berlatih bersama Jaka Patohan, tetapi mereka semua sudah berkesempatan melihat kawan-kawannya berlatih mengeroyok Jaka Patohan yang melatihnya. Mereka juga sudah memperhatikan dengan sungguh-sungguh petunjuk-petunjuk yang diberikan. 

Ketika mereka sedang mengemasi peralatan-peralatan yang dipergunakan untuk berlatih, rombongan Ki Jaga Baya, Ki Sidagora, dua orang pengawal pedukuhan, sudah datang kembali di Pedukuhan Jiwan disertai lima orang pengawal Kademangan Wanabaya yang oleh Ki Demang sengaja dikirim untuk membantu menjaga keamanan  di Pedukuhan Jiwan dan sekitarnya yang dikhawatirkan dalam waktu dekat akan mendapat serangan dari gerombolan perampok Sapu Jagat. 

Para pengawal Kademangan Wanabaya itu sempat melihat sekilas latihan perang-perangan yang dilakukan warga pedukuhan dibantu Jaka Patohan. Mereka amat terkesan dengan cara tamu yang belum dikenalnya ini melatih warga pedukuhan yang sebelumnya masih buta sama sekali ilmu bela diri.
***
Malam harinya warga pedukuhan secara bergiliran dalam kelompok-kelompok kecil dengan senjata di pinggang dan kentongan di tangan, berjaga-jaga di gerbang pedukuhan. Setiap ujung jalan dijaga oleh kelompok-kelompok kecil tersebut. Dan setiap saat secara bergantian para pengawal Kademangan Wanabaya yang ditugaskan menjaga keamanan pedukuhan bawahannya itu berpatroli, menyambangi kelompok-kelompok yang sedang berjaga-jaga di ujung jalan. Mereka disertai warga yang ditugaskan membagikan sekedar makanan dan minuman pencegah kantuk. Mereka berjaga-jaga menghadapi kemungkinan serangan balasan dari kawanan perampok gerombolan Sapu Jagat dari lereng Gunung Merapi.

Sementara itu, di pendopo pedukuhan Jaka Patohan dan Ki Sidagora sedang berdiskusi dengan para pengawal Kademangan Wanabaya yang sedang tidak berpatroli, mengenai cara-cara melatih ilmu bela diri dengan cepat kepada warga pedukuhan. Mereka diskusikan pula situasi pedukuhan Jiwan, Pedukuhan Ngasinan, Pedukuhan Tempel dan sekitarnya, serta strategi yang baik untuk menghadang dan menghancurkan atau setidak-tidaknya menghalau para perampok yang datang menyerang, dari kemungkinan berbagai arah yang akan dilewati para perampok yang berasal dari wilayah utara itu.

Namun ternyata sampai pagi menjelang, bahaya yang diperkirakan akan datang malam itu, belum datang juga. Mereka bernapas lega, lalu menyempatkan diri untuk memejamkan mata sebelum matahari terbit di ufuk timur. Beberapa orang yang sebelumnya sudah sempat tidur, gantian ditugaskan untuk berjaga-jaga.
***
Pagi harinya kegiatan latihan perang-perangan dilanjutkan lagi. Meskipun mereka semalam hanya tidur sebentar, tetapi karena terbakar semangatnya untuk mempertahankan, menjaga keamanan dan ketentraman pedukuhannya, mumpung ada orang-orang yang berbaik hati bersedia melatihnya, rasa kantuk itu hilang lenyap. Yang ada hanyalah semangat untuk berlatih. Bahkan semalam sambil berjaga-jaga mereka menyempatkan diri untuk membuat pedang-pedangan dari bilah-bilah bambu. Maka pada latihan kali ini, pedang-pedangan dari bilah-bilah bambu itu semakin banyak, menggantikan senjata dari ranting-ranting kayu seadanya yang mereka pergunakan kemarin. Meskipun hanya pedang-pedangan dari bilah-bilah bambu mereka memperlakukannya seperti memperlakukan senjata pedang sungguh-sungguh, tak pernah lepas dari genggaman tangan mereka.

Para pengawal dari Kademangan Wanabaya dan Ki Sidagora menjadi pelatih yang mengajar dalam kelompok-kelompok, di samping Jaka Patohan. Dengan banyaknya pelatih maka latihan perang-perangan ini pun menjadi semakin seru. Banyak jurus-jurus perkelahian dengan menggunakan pedang dan senjata lainnya dilatihkan kepada mereka. Karena yang akan mereka hadapi dalam waktu dekat adalah para perampok yang mungkin dalam hitungan hari akan menyerangnya, sedangkan kemampuan mereka secara perorangan belum memadai untuk menghadapi para perampok itu, latihan masih difokuskan dalam pertarungan berkelompok. Mereka dilatih untuk mengeroyok seorang musuh yang sudah mahir dan berpengalaman dalam bertempur. Para pengawal Kademangan, Ki Sidagora dan Jaka Patohan adalah lawan-lawan yang harus mereka keroyok. Setingkat demi setingkat kemampuan tempur warga Pedukuhan Jiwan, Pedukuhan Ngasinan dan Pedukuhan Tempel itu meningkat. Kelemahan-kelemahan mereka yang sudah mendapat kritikan dan petunjuk dari pelatihnya dapat diperbaiki. 

Siang hari mereka berlatih dengan giatnya, malam hari mereka secara bergiliran berjaga-jaga. Pada hari ketiga mereka berlatih, mulai dicoba menggunakan senajata yang sesungguhnya. Ada yang memakai pedang, ada yang memakai golok, ada yang memakai keris, dan ada pula yang memakai tombak. Latihan dengan menggunakan senjata yang sesungguhnya ini dilakukan secara hati-hati, dengan pengawasan yang ketat dari para pelatihnya. Sesekali para pelatih itu membetulkan cara memegang dan cara mempergunakan senjata yang mereka pakai, sehingga pegangan mereka menjadi kuat, efektif dalam menyerang dan menangkis serangan musuh, serta tidak membahayakan bagi mereka sendiri. 

Dengan menggunakan senjata yang sesungguhnya, semangat tempur para warga pedukuhan semakin menggelora. Mereka seakan-akan bertempur yang sesungguhnya melawan musuh-musuhnya. Oleh karenanya kadang-kadang para pelatih itu sering kewalahan untuk mengingatkan mereka, bahwa saat ini mereka sedang berlatih, yang mereka hadapi saat ini bukanlah musuh mereka yang sebenarnya. Mereka pun jadi ingat kembali pada situasi dan kondisi yang sedang mereka hadapi. Dalam hati mereka menginginkan agar musuh yang sesungguhnya segera datang, sehingga mereka tak perlu menahan diri lagi dalam bertempur malawan musuh-musuhnya.

Pada latihan di hari keempat, warga pedukuhan yang semula tidak mempunyai kemampuan tempur dan tak punya nyali untuk melawan para perampok, sekarang sudah semakin yakin pada kemampuannya. Mereka merasa sudah cukup bekal untuk menghadapi para perampok, biarpun masih dalam formasi mengeroyok musuh-musuhnya. Mereka yakin akan dapat mengalahkan musuh-musuh yang dulu-dulunya mereka sambut dengan kancingan pintu rapat-rapat dengan slarak pintu yang kuat. Sekarang mereka merasa tak perlu bersembunyi lagi apabila para perampok itu datang menjarah pedukuhan mereka. Apalagi pedukuhan mereka saat ini dijaga oleh dua orang tamu yang sudah terbukti dapat mengalahkan lima orang perampok dengan mudah, ditambah bantuan lima orang pengawal dari Kademangan Wanabaya. Mereka benar-benar telah siap menyongsong kehadiran para perampok.
***
Latihan perang-perangan dalam rangka membentengi diri menghadapi datangnya serangan balasan dari para perampok gerombolan Sapu Jagat telah menarik perhatian warga pedukuhan sekitar Pedukuhan Jiwan. Mereka merasa sebetulnya mereka pun juga menghadapi ancaman yang sama dengan warga Pedukuhan Jiwan, Ngasinan maupun Tempel, sebab para perampok yang bersarang di lereng Gunung Merapi itu juga sering menjarah pedukuhan mereka. Itulah sebabnya mereka juga menginginkan mendapat latihan perang-perangan agar mampu melindungi pedukuhan mereka dari penjarahan yang sering dilakukan para perampok gerombolan Sapu Jagat maupun kelompok-kelompok perampok lainnya. Oleh karena itu para Kepala Dukuh di sekitar Pedukuhan Jiwan berbondong-bondong mengajak Jaga Baya Pedukuhan, para bebahu pedukuhan dan para pengawal pedukuhan ke Pedukuhan Jiwan untuk mengikuti latihan perang-perangan.

Melihat orang-orang berbondong-bondong menuju ke Pedukuhan Jiwan dengan membawa bermacam-macam senjata di tangan, Jaka Patohan, Ki Sidagora dan para pengawal dari Kademangan Wanabaya menjadi heran. Semangat mereka menunjukkan semangat orang-orang yang siap tempur, tetapi sikap mereka menunjukkan sikap yang bersahabat, sopan dan tidak memusuhi orang-orang Pedukuhan Jiwan, Ngasinan maupun Tempel yang sedang berlatih perang-perangan.

”KI Jaga Baya, siapakah mereka? Kenapa mereka datang berbondong-bondong dengan senjata siap di tangan?” tanya Jaka Patohan kepada  Jaga Baya Pedukuhan Jiwan minta penjelasan.

”Ki Jaka tidak perlu khawatir! Mereka adalah kawan-kawan kita, para Kepala Dukuh, Jaga Baya, bebahu dan pengawal pedukuhan di sekitar Pedukuhan Jiwan sini. Silakan Ki Jaka tanya sendiri mereka itu berasal dari mana,” jawab Ki Jaga Baya.

”Baiklah, Ki Jaga Baya, akan aku tanyakan kepada mereka,” ujar Jaka Patohan, ”Maaf Ki Sanak semua, aku ingin tahu Ki Sanak ini semua siapa dan berasal dari mana? Dan apa maksud Ki Sanak berbondong-bondong datang ke tempat latihan ini?”

Para Kepala Dukuh yang kemudian maju menghadap Jaka Patohan. Secara bergantian mereka memperkenalkan diri dan kelompoknya kepada Jaka Patohan.

”Saya adalah Kepala Dukuh Marangan. Ini adalah Ki Jaga Baya Marangan. Sedangkan yang itu adalah para bebahu dan pengawal pedukuhan kami,” jawab Kepala Dukuh Marangan.

”Saya adalah Kepala Dukuh Kajoran.  Ini adalah Ki Jaga Baya Kajoran. Sedangkan yang itu adalah para bebahu dan pengawal pedukuhan kami,” jawab Kepala Dukuh Kajoran.

”Saya adalah Kepala Dukuh Jragung.  Ini adalah Ki Jaga Baya Jragung. Sedangkan yang itu adalah para bebahu dan pengawal pedukuhan kami,” jawab Kepala Dukuh Jragung.

”Saya adalah Kepala Dukuh Glodogan.  Ini adalah Ki Jaga Baya Glodogan. Sedangkan yang itu adalah para bebahu dan pengawal pedukuhan kami,” jawab Kepala Dukuh Glodogan.

”Saya adalah Kepala Dukuh Sobrah.  Ini adalah Ki Jaga Baya Sobrah. Sedangkan yang itu adalah para bebahu dan pengawal pedukuhan kami,” jawab Kepala Dukuh Sobrah.

”Saya adalah Kepala Dukuh Jombor.  Ini adalah Ki Jaga Baya Jombor. Sedangkan yang itu adalah para bebahu dan pengawal pedukuhan kami,” jawab Kepala Dukuh Jombor.

”Saya adalah Kepala Dukuh Jimbung.  Ini adalah Ki Jaga Baya Jimbung. Sedangkan yang itu adalah para bebahu dan pengawal pedukuhan kami,” jawab Kepala Dukuh Jimbung.

”Saya adalah Kepala Dukuh Krakitan.  Ini adalah Ki Jaga Baya Krakitan. Sedangkan yang itu adalah para bebahu dan pengawal pedukuhan kami,” jawab Kepala Dukuh Krakitan.

Begitulah para Kepala Dukuh sebagai pimpinan utusan masing-masing pedukuhan memperkenalkan diri dan kelompoknya di hadapan Jaka Patohan. Jaka Patohan menerima mereka dengan senang hati.
”Lalu apa keperluan Ki Sanak semua datang ke mari?” tanya Jaka Patohan kemudian.

Para Kepala Dukuh tidak segera menjawab. Mereka beradu pandang satu sama lain, seolah minta kesepakatan siapa yang akan mewakili menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada mereka. Akhirnya mereka menunjuk Kepala Dukuh Jimbung untuk memberi jawaban.

”Begini Ki Sanak Jaka Patohan, kami sudah mendengar kemampuan Ki Sanak dan Paman Ki Sanak, yang telah berhasil meringkus kawanan perampok gerombolan Sapu Jagat. Kami juga telah mengetahui adanya latihan perang-perangan untuk membekali warga Pedukuhan Jiwan, Ngasinan dan Tempel dalam menghadapi serangan balasan dari para perampok gerombolan Sapu Jagat,” ujar Kepala Dukuh Jimbung, ”Sesungguhnya ancaman dari para perampok itu tidak hanya dialami para warga Pedukuhan Jiwan, Ngasinan dan Tempel saja. Tak urung kami pun yang letaknya berdekatan dengan tiga dukuh ini juga akan kena imbasnya juga. Karena kami pun juga sudah sering mendapat serangan mereka. Sudah banyak harta benda kami, bahkan jiwa keluarga kami yang mereka rampas. Puluhan nyawa telah menjadi korban mereka. Banyak istri-istri kehilangan suami, menjadi janda, setelah sebelumnya  diperkosa para penjahat tak bermoral itu.”

Setelah berhenti sejenak Kepala Dukuh Jimbung melanjutkan, ”Oleh karena itu, kami pun tidak ingin ketinggalan memanfaatkan kedatangan Ki Sanak berdua yang dibantu para Pengawal Kademangan Wanabaya. Kami ingin ikut latihan perang-perangan untuk meningkatkan kemampuan olah kanuragan kami untuk melindungi pedukuhan kami dari serangan para perampok. Bolehkah kami ikut latihan perang-perangan di Pedukuhan Jiwan ini, Ki Sanak? Soal makanan kami yang ikut berlatih, jangan khawatir, kami akan membantu bahan makanan dari pedukuhan kami.” 

Jaka Patohan tidak segera menjawab permintaan Kepala Dukuh Jimbung yang mewakili para kepala dukuh di sekitar Pedukuhan Jiwan. Ia memandang Ki Sidagora, para pengawal Kdemangan Wanabaya dan Kepala Dukuh Jiwan.

”Bagaimana pak Kepala Dukuh Jiwan, apakah mereka boleh ikut berlatih perang-perangan di Pedukuhan Jiwan sini?” tanya Jaka Patohan kemudian kepada Kepala Dukuh Jiwan.

”Kalau kami, sebetulnya tidak keberatan. Kami bahkan merasa senang ada banyak kawan berlatih. Kami bahkan menjadi tambah bersemangat. Sekarang tergantung Ki Sanak Jaka Patohan, Ki Sidagora dan para pengawal Kademangan Wanabaya, apakah bersedia melatih kami yang jumlahnya semakin banyak?” ujar Kepala Dukuh Jiwan.

Jaka Patohan lalu menanyakan pendapat Ki Sidagora dan para pengawal Kademangan Wanabaya.

”Meskipun tugas kami menjadi semakin berat, kami tidak keberatan melatih kalian semua. Kami justru merasa senang kalau setiap pedukuhan mempunyai jaga baya, bebahu dan para pengawal yang kuat dan terlatih sehingga mampu melindungi pedukuhannya dari serangan musuh. Dengan demikian tugas kami selaku kemanan di wilayah Kademangan Wanabaya menjadi lebih ringan,” ujar kepala Pengawal Kademangan Wanabaya yang ditugaskan di Pedukuhan Jiwan.

”Sekarang sudah jelas, kami menerima kalian semua ikut berlatih perang-perangan di sini. Kalau begitu tempatnya tidak akan muat kalau latihannya di halaman pedukuhan ini. Pak Kepala Dukuh, bagaimana kalau latihannya dipindah di sawah sebelah utara pedukuhan?” tanya Jaka Patohan kemudian kepada Kepala Dukuh Jiwan.

”Tidak apa, Ki Sanak, kebetulan sawah sekarang baru selesai panen. Jadi tidak ada tanaman yang dirusakkan,” Jawab Kepala Dukuh Jiwan.

”Terima kasih kami semua sudah diijinkan berlatih perang-perangan di sini. Kami berjanji akan berlatih dengan sungguh-sungguh agar dapat melindungi pedukuhan kami,” kata para Kepala Dukuh serentak.

Mereka pun lalu berbondong-bondong menuju ke tanah sawah di sebelah utara Pedukuhan Jiwan di sebelah barat Gunung Butak. Kebetulan tanah sawah di situ baru diberokan setelah selesai dipanen dan dibabat jeraminya, sambil menunggu benih padi yang ditabur cukup umur untuk ditanam. Beberapa petak sawah sudah mulai dibajak. Ada yang berisi air, ada yang dibiarkan kering. Meskipun demikian para petani tetap merelakan tanah sawahnya dipergunakan untuk tempat berlatih perang-perangan. Mereka berpendapat, tak apa berkorban sedikit, menunda mengerjakan sawahnya atau nanti harus memperbaiki pematang sawahnya yang sedikit rusak akibat terinjak-injak untuk latihan perang-perangan, dari pada setiap saat hasil panen dijarah para perampok.

Sekarang latihan perang-perangan digelar lebih luas dan lebih seru. Peserta latihan yang bertambah banyak seperti tambahan darah segar bagi warga Pedukuhan Jiwan, Ngasinan dan Tempel yang sudah lebih dahulu berlatih. Meskipun mereka berlatih sudah berhari-hari tubuh mereka tidak nampak menjadi kelelahan, tetapi nampak semakin mapan dan terbiasa. Bahkan mereka yang dianggap sudah cukup menguasai beberapa jurus gerak silat dan ilmu pedang, diminta untuk membantu memberikan latihan kepada para warga tetangga pedukuhan yang baru saja bergabung. Dan karena mereka yang baru saja bergabung adalah orang-orang pilihan di pedukuhannya maka mereka pun cepat menguasai jurus-jurus yang diajarkan, sehingga cepat pula menyesuaikan diri dengan mereka yang sudah berlatih terlebih dahulu.
***
Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Cerita Rakyat: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan 9 Part II"

Post a Comment