Cerpen Misteri 'Jagading Lelembut'

Cerita Jagading Lelembut:
Dibantu Mancing Penunggu Rowo Jombor
Oleh Sutardi MS Dihardjo

Cerpen Misteri 'Jagading Lelembut'

Panggilannya Sidu atau si-Du. Tetapi bukan singkatan Sinar Dunia seperti nama buku tulis. Nama sebenarnya Duwaji. Entah mengapa orang tuanya memberi nama seperti itu. Barangkali maksudnya untuk mengingat-ingat tanggal kelahirannya, yang mungkin tanggal dua puluh satu atau dua siji. Nama itu memang unik, tapi biarlah itu urusan orang tuanya. Hanya merekalah yang tahu sejarah dan alasan sebenarnya kenapa mereka memberi nama seperti itu.

Tetapi di sini yang akan aku ceritakan bukan masalah sejarah nama itu, tetapi masalah hoby atau kesukaan orang itu yang aku pandang juga unik, karena seakan-akan tidak  boleh dikalahkan oleh kegiatan lainnya, kalau sedang bersamaan dengan jadwalnya. Hoby yang paling menonjol adalah badminton dan mancing. Kalau hari Rabu, Sidu pasti badminton bersama teman-temannya. Kalau tiba hari Kamis atau Malam Jumat, ia pasti mancing sendirian di sungai-sungai besar, kedung dalam, atau yang paling sering mancing di Waduk Rowo Jombor. Waktunya, malam setelah Isya sampai tengah malam.

Orang satu ini memang amat pemberani. Tidak takut diganggu setan, dhemit, pocongan, ilu-ilu, bangaspati, jrangkong dan sebangsanya. Asal sudah memakai jaket kulit, kepala memakai kethu penutup muka  rapat sampai hanya kelihatan matanya saja, untuk melawan hawa dingin. Lalu menyandang kepis untuk menyimpan ikan tangkapan, membawa pancing beserta umpannya. Lalu mengayuh sepedanya, sudah tidak ada sesuatu apa pun yang dapat mengurungkan niatnya. Rapat kampung atau tuguran kematian tetangga, atau kegiatan kampung lainnya, sudah pasti dikalahkan.
Malam itu Sidu berencana mancing ke waduk Rowo Jombor. Semua peralatan dan perlengkapan yang diperlukan sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang ketinggalan. Termasuk bekal makanan sekedar pengganjal perut kalau rasa lapar menyerang, dan lampu senter batu empat untuk penerangan. 

Setelah pamit istrinya, bakda sholat Isya Sidu segera mengayuh sepedanya menuju ke waduk Rowo Jombor yang jauhnya sekitar lima kilo meter. Sampai di waduk, Sidu menyusur tepi Rowo sampai di sebelah tenggara waduk, dekat pintu keluar air yang menuju ke sungai irigasi. Biasanya Sidu kalau mancing kalau tidak di tepi makam yang ada di pinggir Rowo, ya di dekat pintu air ini. Memang orang-orang banyak mengatakan kalau tempat ini angker. Sudah banyak orang melihat penampakan makhluk halus dalam aneka rupa dan bentuk di tempat ini. Mulai dari perempuan berwajah cantik yang baunya harum memabukkan sampai lelembut yang berwajah menyeramkan dan menjijikkan dengan bau banger bacin seperti bau bangkai atau amis darah, pernah menampakkan diri di sini. Sudah banyak saksi mata yang melihatnya. Mereka yang penakut, ya lantas lari dhengkelen atau pingsan di tempat.

Tetapi kata orang pula, dan sudah banyak yang membuktikan,  justru di sinilah terdapat banyak ikan besar yang bebas dipancing. Tentu saja kalau masalah banyaknya ya masih kalah dengan ikan-ikan yang dipelihara di karamba atau di warung apung yang ada di sebelah barat, dekat bukit Sidagora  atau di sebelah utara waduk. Ikan nila, ikan lele, ikan guramai, atau ikan kutuk, banyak dapat dipancing di tempat ini. Makanya Sidu meskipun sendirian lebih suka mancing di dekat pintu air ini. Dasar orang pemberani, tidak ada yang ditakuti.

Sampai tempat yang diinginkan, Sidu langsung memasang umpan ke mata kail. Lalu dengan penuh harapan melemparkan mata kailnya ke tengah. Sidu lalu diam konsentrasi sambil memegangi pangkal kail. Sebentar kemudian terasa ada yang menyentuh mata kailnya. Ditandai dengan bergoyang-goyangnya tangannya yang memegangi pangkal batang kail. Mula-mula pelan. Tapi kemudian lebih keras dan cepat. Wuuuuttt...! Sidu segera menarik pancingnya. Tapi betapa kecewanya ia, meihat mata kailnya kosong. Ikan tidak didapat, umpan pun lenyap. Dengan sabar Sidu memasang umpan lagi ke mata kailnya. Lalu melemparkannya kembali ke tengah. Namun lagi-lagi kejadian mata kailnya disentuh, digoyang-goyang dan ditarik-tarik yang disangkanya ikan memakan umpannya, terulang lagi seperti meledeknya. Tapi kemudian setelah pancing ditarik, ternyata kosong tidak terdapat apa-apa. Kejadian itu berulang dan berulang sampai berkali-kali. 

Sidu sampai hampir putus asa! Malam ini ia merasa betul-betul sial. Sudah berjam-jam memancing, sampai umpan yang dibawanya tinggal kurang dari separo, tak satu ekor ikan pun diperolehnya. Akan kembali pulang, tanpa membawa ikan seekor pun ia merasa sayang. Sidu membayangkan, betapa kecewanya istri dan anak-anaknya nanti kalau dirinya pulang tanpa membawa seekor ikan pun. Padahal biasanya setiap memancing, sampai jam sekian paling tidak tiga atau empat ekor ikan besar sudah ia renteng, atau ikan-ikan itu telah memberati kepisnya. Apakah mungkin sekarang akan kembali begitu saja tanpa membawa ikan seekor pun, meskipun Cuma kecil?

“Coba sekali lagi! Kalau masih blong.... ini berarti hari ini aku memang lagi sial. Tidak perlu dilanjutkan. Lebih baik aku pulang, menerima kekecewaan anak istri ketika membukakan pintu, nanti di rumah,” kata Sidu dalam hati. 

Sidu melemparkan mata kailnya lagi ke tengah. Tidak lama kemudian, pangkal  pancing yang dipegangnya bergerak-gerak, makin lama makin cepat dan kuat. Kelihatannya ikan yang mencaplok kailnya benar-benar besar! Sidu menggulung senar pancingnya pelan-pelan. Tapi kadang-kadang ia juga harus mengulurnya kembali, menurutkan gerak ikan yang telah memakan umpannya. Hal itu dilakukan Sidu sebab kalau sampai ditarik paksa, ikan besar seperti ini akan memutuskan tali senarnya, atau mungkin bahkan mematahkan batang pancingnya. Situasi menunggu saat-saat lelahnya ikan besar tangkapannya untuk kemudian dapat ditarik dan ditangkap dengan jaring yang sudah disiapkan, merupakan saat-saat menegangkan yang paling nikmat bagi seorang pengail. Sidu sangat menikmati situasi seperti ini.  Dan adanya kenikmatan pada saat-saat seperti inilah yang membuat Sidu tidak rela kalau jadwal acaranya mancing akan digusur acara lain, meskipun bagi orang lain acara itu bisa dianggap lebih penting. Bahkan meskipun ia ditukar diberi uang yang dapat dibelikan ikan yang lebih besar dan lebih banyak.   Baginya merasakan mata kailnya disambar ikan besar, yang lalu bergerak ke sana ke mari, sampai ikan itu lelah sendiri. Lalu menggulung tali senar lebih cepat. Lalu mengambil ikan yang masih hidup, tetapi sudah menyerah itu dengan jaring, jauh lebih nikmat dari pada hanya sekedar membeli ikan yang lebih besar dalam jumlah banyak di pasar.

“Inilah buah dari kesabaranku! Usahaku sampai tengah malam, sendirian, kedinginan, akhirnya akan membuahkan hasil juga. Seekor ikan yang besar. Cukup untuk mengetuk pintu. Jelas nanti aku akan disambut dengan senyum istriku dan tawa anakku ketika mereka membukakan pintu nanti,” kata Sidu dalam hati.

Kira-kira gerak ikan sudah mulai tenang. Mungkin sudah kelelahan. Sidu lalu menggulung senarnya lebih cepat. Tapi alangkah terkejutnya Sidu ketika pancing  sudah sampai ke tepi lalu ditangkap dengan jaring, dibawa naik..... Ternyata bukan ikan besar yang tertangkap. Tetapi tulang besar, kelihatannya seperti tulang paha manusia dewasa! Sidu bergidik, bulu kuduknya meremang. Ada rasa takut, tetapi juga ada rasa jengkel ia rasakan. Keterlaluan sekali lelembut penunggu rawa ini telah menggodanya sejak ia datang sampai sekarang sudah tengah malam! Sidu mrinding ketika ia teringat cerita GM. Sudarta dalam Cerita Pendeknya yang berjudul “Orang-orang Mati yang Tidak Mau Masuk Kubur”. Dalam cerpen itu diceritakan ketika terjadi pemberontakan G. 30 S/PKI banyak tahanan Pemuda Rakyat yang tertangkap ketika akan merebut persenjataan di gudang senjata yang ada di Pusat latihan Tempur Prajurit, mati dibenamkan di tengah rawa dengan diganduli batu supaya dapat menyelam. Apakah ini ulah para arwah  gentayangan itu? Sidu bergidik, bulu kuduknya meremang. Tapi ia lalu membesarkan nyalinya, menghibur diri, bukankah kejadian itu sudah lama berlalu? Kejadiannya sudah empat puluh tahunan yang lalu? Dan selama itu belum pernah ada ceritanya orang mancing di rawa dimakan arwah gentayangan korban penumpasan G. 30 S/PKI? Lama-lama rasa takut di hati Sidu hilang sendiri. Keberaniannya semakin tebal.

Namun kalau teringat harapannya mendapatkan hasil pancingan hilang  justru diganti mendapatkan tulang manusia, seakan para lelembut itu memang sengaja meledeknya, Sidu jadi kecewa. Kok tega-teganya ada orang memancing baik-baik, tidak bedhigasan sengaja berbuat onar,  para lelembut tersebut justru mangganggunya. Sidu lalu berdoa mohon perlindungan dan belas kasih Tuhan Yang Maha Besar. Kemudian ia menyapa kepada para lelembut yang ia yakini saat ini ada di sekitarnya, “Mbok ya jangan mengganggu aku. Aku di sini mancing mencarikan makan anak istri. Tidak akan mengganggu kalian. Aku minta kalian juga jangan mengganggu aku!”

Selesai menyapa begitu, tiba-tiba di samping Sidu sudah berdiri seorang tua yang jenggotnya sudah memutih. Orang tua itu batuk-batuk lalu menyapa Sidu, “Sedang mancing ta, Le? Aku lihat dari tadi sampai tengah malam ini kepismu masih kosong, belum isi. Barangkali salah arah kamu melemparkan pancingmu, Le.”

Menggeragap Sidu terkejut sampai berjingkat mendengar suara orang tua yang muncul tiba-tiba tanpa terdengar suara langkah kakinya terlebih dahulu. Tetapi karena tegur sapa orang tua itu terasa sabar kekeluargaan, Sidu jadi tenang, tidak jadi takut.

“Iya, Mbah, sejak tadi pancing saya sering dimakan ikan. Tetapi apabila saya angkat, pasti kosong tidak mendapat ikan. Bahkan baru saja, saya kira pancing saya dimakan ikan besar. Geraknya kuat sekali. Tetapi ketika saya tarik, ternyata bukan ikan besar yang tergantung di pancing saya, tetapi justru tulang besar yang menyangkut. Kalau dilihat lebih seksama tulang itu adalah tulang manusia dewasa. Apakah ini tidak dapat dikatakan keterlaluan lelembut rawa ini yang menggoda saya? Padahal biasanya tidak sampai seperti itu,” ujar Sidu mengadukan perlakuan lelembut pada dirinya kepada orang tua yang baru saja ditemuinya.

“Coba sekarang arahkan pancingmu ke sebelah timur sana, tentu akan mendapat yang kamu inginkan!” kata orang tua itu memberi petunjuk.

Sidu menurut mengarahkan pancingnya ke arah yang ditunjukkan orang tua itu. Ternyata benar. Belum lama pancing dilemparkan, pangkal pancing dalam pegangannya terasa bergerak-gerak, makin lama makin kuat, menandakan pancingnya sudah dicaplok ikan besar.   Setelah berhasil diangkat, ternyata mendapat seekor ikan nila besar kira-kira beratnya mencapai satu setengah kilo gram. Selanjutnya orang tua itu selalu memberi aba-aba ke mana Sidu harus mengarahkan pancingnya. Karena selalu benar mendapatkan ikan-ikan besar, Sidu hanya menurut petunjuk orang tua itu. Tak pernah ia mengarahkan pancingnya ke tempat lain selain arah yang ditunjukkan orang tua itu. Hasilnya, dalam waktu kurang lebih satu jam Sidu sudah mendapatkan lima ekor ikan besar jenis nila, lele, kutuk, dan badher yang bobot seekornya antara satu setengah kilo gram sampai dua kilo gram. Kepisnya sudah tidak muat. Sisanya direnteng pakai kawat yang sudah disiapkan.

“Sekarang ke mana lagi, Mbah?” tanya Sidu minta petunjuk kepada orang tua yang sebelumnya terus-terusan menunjukkan arah pancing harus dilempar, agar mendapat ikan besar. Sidu menunggu jawaban sambil memasang umpan ke mata kailnya. Tidak ada jawaban! Hanya terdengar suara kodok ngorek, suara jangkrik ngengkrik dan suara belalang bernyanyi sebagai simponi malam yang mendendangkan sepi, diiringi bertiupnya angin malam yang dingin menggigit kulit. Sidu menengok ke kiri, menengok ke kanan, clingukan mencari orang tua yang tadi menemani mancing, dan telah memberi petunjuk untuk mengarahkan pancingnya, ternyata sudah tidak ada. Aneh! Seperti kedatangannya, perginya pun tidak terdengar langkah kakinya. Ranting-ranting dan batang perdu yang ia tahu banyak di sekitar tempatnya mancing, juga tidak terdengar terinjak kaki orang tua misterius itu. Kembali bulu tengkuk Sidu meremang. Tapi cepat ia tepis perasaan itu. Orang tua itu sungguh baik, justru telah membantunya mendapatkan banyak ikan besar yang semula susah diperoleh. Tak mungkin ia ingin mencelakai dirinya. Juga tidak mungkin kedatangannya untuk mengganggu dirinya.

Tiba-tiba Sidu mendengar gemericik air kena dayung dan tersibak sampan.  Di sela-sela suara gemericik air itu terdengar suara batuk-batuk orang tua yang makin lama makin ke tengah rawa, menjauhi dirinya. Sidu sadar, saat ini sudah waktunya dirinya harus mengakhiri mancing di waduk Rowo Jombor malam ini. Sidu lalu berkemas-kemas akan kembali. Barang-barangnya dikumpulkan agar mudah dibawa. 

Ketika akan mulai mengayuh sepedanya, Sidu masih penasaran, ingin tahu tempat yang banyak memberinya ikan besar-besar sebanyak lima ekor itu. Maksudnya kalau besok akan kembali mancing di rawa, ia sudah tahu tempat mana yang harus dituju, dan ke mana ia harus mengarahkan pancingnya. Sidu lalu menyoroti tempat itu memakai lampu senter yang amat terang karena memakai empat batu batery. Tatkala sorot lampu senter mengarah ke tempat yang menjadi tambang ikan perolehannya malam ini, Sidu terkejut setengah mati! Ternyata  di situ tidak ada genangan air yang memungkinkan hidupnya ikan-ikan. Tetapi tempat itu justru berisi tanah endapan rawa yang ditumbuhi banyak tanaman krangkong. Yang membuatnya tak habis pikir, berulang kali dirinya tadi melemparkan pancingnya ke situ, kenapa tali senar pancingnya tidak menyangkut ke kayu-kayu krangkong yang rimbun bagaikan hutan krangkong? Kenapa justru di situlah ia berulang kali memperoleh ikan-ikan besar, dan tidak kesulitan ketika menariknya? 

Sidu lalu curiga kepada ikan-ikan tangkapannya. Ia menyoroti dan memperhatikan dengan seksama ikan-ikan perolehannya malam itu. Jangan-jangan...... Alhamdulillah! Ternyata ikan-ikan itu benar-benar ikan betulan. Bukn ikan jadi-jadian. Aneh! Betul-betul kejadian yang tidak terlupakan seumur hidup. 

Sidu lalu mengayuh pulang sepedanya dengan penuh rasa syukur. Juga terima kasih kepada orang tua yang telah membantunya. Entah ia orang tua sungguhan atau orang tua jadi-jadian penunggu Rowo Jombor. Karena dengan petunjuknya dan ridlo Allah, Tuhan yang menguasai alam raya seisinya dirinya malam ini memperoleh banyak ikan yang akan membuat bahagia keluarganya. ***

NB: 
  • Cerita ini dalam versi bahasa Jawa pernah dimuat di Majalah Djaka Lodang No. 12 * 8/8/2012
  • Dalam versi bahasa Indonesia bersama 14 cerita misteri lainnya telah diterbitkan menjadi buku Kumpulan Cerita Misteri dengan judul “KAMIGILAN Angkernya Kedung Blangah”. Diterbitkan Penerbit MEDIAKITA Jakarta tahun 2013. 


Foto Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri) - Exnim
Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri)
        Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Related posts:

1 Responses for "Cerpen Misteri 'Jagading Lelembut'"

  1. ceritanya menarik sekali, terimakasih atas tulisan nya bapak..

    ReplyDelete