Cerpen Misteri 'Sate Gagak'

Cerita Alaming Lelembut:
SATE GAGAK
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Cerpen Misteri 'Sate Gagak'

Penghidupan setelah terjadinya tragedi pemberontakan G 30 S/PKI sangatlah sulit. Sampai awal tahun tujuh puluhan harga barang-barang masih mahal karena langka. Banyak pengangguran yang kemudian disebut panji klantung, alias lontang-lantung ke sana ke mari tanpa pekerjaan.  Orang-orang yang susah  hidupnya itu lalu diberi hiburan, mimpi dan harapan yang berupa undian sumbangan berhadiah bernama Nalo atau Nasional Lotre. Untuk orang kecil yang miskin yang tidak kuat membeli Nalo, disediakan hiburan yang lebih murah yang diberi nama buntutan, yaitu bagian belakang dari deretan angka Nalo. Itu yang diselenggarakan dan diundi di tingkat nasional setiap hari Sabtu, satu minggu sekali. Di daerah, penguasa daerah tak mau kalah. Mereka mengeluarkan Loda, Lotre Daerah, lotre yang diselenggarakan oleh daerah dan keuntungannya untuk pembangunan daerah. 

Dengan adanya lotre-lotre yang menjanjikan orang-orang dapat menjadi kaya mendadak secara instan, membuat banyak orang hidup di alam mimpi, hidup dalam angan-angan dan berandai-andai. “Nanti kalau aku nembus, putus lotre, aku akan membeli..... aku akan membuat ...... aku akan ...... dan seterusnya......dan seterusnya.....” 

Untuk mewujudkan impian dan angan-angannya itu  orang-orang yang sedang gila nomor lalu suka mereka-reka nomor yang kebetulan ditemukan, menjadi nomor yang seolah-olah akan keluar dalam undian minggu itu. Mereka suka menghubungkan kejadian-kejadian aneh yang dialami, dilihat, didengar atau dibaca di mass-media sebagai isyarat nomor yang akan keluar. Bahkan kecelakaan yang merupakan musibah bagi yang mengalami, mereka anggap sebagai anugerah, sebagai suatu isyarat yang akan membuatnya kaya raya! Setelah kejadian di alam nyata atau kejadian di alam mimpi ditafsirkan, disonji atau diramal, dan dihitung-hitung dengan cermat dan teliti, lalu munculah sederet nomor yang wajib dibeli agar menang undian. 

Untuk mendapatkan isyarat-isyarat nomor yang akan keluar, orang-orang tidak takut-takut memburunya di tempat-tempat yang sepi dan berbahaya di malam gelap. Tempat-tempat yang dianggap angker, punden-punden yang dikeramatkan didatangi, sampai menginap berhari-hari agar mendapat bisikan gaib atau impian, petunjuk ketika tertidur tak sengaja.

Ridwan adalah seorang pemuda berijasah SMP yang sudah lama menjadi pengangguran, karena selalu ditolak ketika melamar pekerjaan. Akan berdagang, tak punya modal. Padahal umur semakin bertambah. Sebagai umumnya orang, ia harus mulai berpikir untuk berkeluarga. Tapi bagaimana? Pekerjaan tetap atau penghasilan yang dapat diharapkan setiap hari, dia belum punya. Sebagai buruh harian lepas, kelihatannya penghasilannya belum dapat dijadikan sandaran hidup sekeluarga. Maka tidak mengherankan kalau Ridwan ikut-ikutan hanyut dalam aliran mimpi jaman yang sudah telanjur bobrok. Ia suka membeli nomor buntutan.  Memanjakan angan-angan, impian dan harapan selama satu minggu, semakin meninggi mimpi-mimpinya di hari Sabtu, lebih-lebih menjelang jam sepuluh malam. Lalu terjatuh dalam jurang kekecewaan dan penyesalan setelah melihat angka yang keluar yang ditulis di tengah jalan ternyata berbeda dengan nomor yang dibelinya. Mimpinya mendapatkan kendaraan bermotor baru yang saat itu masih merupakan barang langka dan mewah, ternyata blong hanya selisih beberapa nomor saja. Tapi kekecewaan ini hanya sebentar, karena nomornya hanya meleset sedikit maka ia menjadi lebih bersemangat untuk membeli nomor undian dengan mengejar isyarat yang lebih jitu.

Untuk mendapatkan isyarat nomor yang lebih jitu agar dapat nembus, Ridwan suka bertirakat di tempat-tempat yang dianggap gawat, angker dan keramat. Berendam di kali tempuran, tempat bertemunya dua sungai, mengambang di kedung sungai yang sepi, atau menyepi di kuburan-kuburan keramat, tanpa merasa takut sedikit pun, sering dilakukannya.

Pada suatu hari, ketika Ridwan sedang  berendam di tempuran kali di dekat punden keramat, ia bertemu dengan orang tua yang juga sedang berendam di situ. Orang tua itu bertanya kepada Ridwan, “Nak Ridwan! Malam-malam dingin begini, sebetulnya lebih enak tidur di rumah bersama keluarga. Pakai selimut hangat dan rapat. Tetapi kenapa kamu justru berada di sini. Berendam di air yang dingin dalam udara malam yang juga dingin. Sebetulnya apakah yang kamu cari, Nak Ridwan?”

“Terus terang, saya ini sedang tirakat untuk mendapatkan nomor undian yang jitu. Saya ingin dapat nembus nomor undian yang dapat membuat saya menjadi kaya, agar saya dapat dihormati orang-orang di sekeliling saya,” jawab Ridwan mantap. “Sedangkan kakek, apa yang kakek cari dengan berendam di kali tempur ini? Apakah kakek juga ingin mencari nomor undian yang jitu?” tanya Ridwan balik.

“Tidak, Nak Ridwan. Aku tidak sedang mencari nomor undian.  Aku hanya ingin mengendapkan batin, mencari ketenangan hidup dan keselamatan,” jawab orang tua itu. 

“Kalau kamu ingin mencari uang yang banyak, apa kamu mau aku tunjukkan suatu tempat untuk mencari uang yang banyak, tetapi tidak dengan cara membeli undian?” tanya orang tua itu kemudian.

“Mau, Kek! Terima kasih kalau Kakek  mau menunjukkan jalan untuk menuju tempat yang dapat membuat saya kaya,” sahut Ridwan.

“Tapi tempatnya angker, dijaga gendruwo tinggi besar, yang matanya bulat besar menyeramkan, badannya dipenuhi bulu-bulu  menakutkan. Padahal jumlahnya tidak hanya satu dua, tetapi banyak sekali. Apa kamu berani?” tanya orang tua itu menjajaki keberanian Ridwan. 

“Berani, Kek. Saya sudah biasa bertirakat di tempat-tempat keramat yang sepi dan angker,” jawab Ridwan mantap.

“Tetapi apakah kamu pernah melihat penampakan gendruwo di tempat-tempat  kamu menyepi itu?”

“Belum, Kek. Tetapi saya berani menyepi di tempat-tempat seperti itu berarti saya sudah siap bertemu dengan gendruwo, kuntil anak , pocongan, dan sebangsanya.”

“Kalau memang kamu berani, aku beri tahu. Kamu beli saja burung gagak, dua ekor atau tiga ekor. Beli juga bumbu sate dan segala perlengkapan untuk masak sate. Burung-burung itu kamu sembelih, lalu dagingnya iris-irislah agak besar untuk disunduki jadi sate. Bakarlah sate itu di Kedung Preh. Ketika membakar sate itu kamu harus sambil merokok, tapi tidak sembarang rokok. Rokoknya harus rokok  cerutu Landa. Bau asap sate yang bercampur dengan asap cerutu Landa akan mengundang datangnya gendruwo-gendruwo yang tinggal di pohon preh. Gendruwo-gendruwo itu akan membeli satemu,” ujar orang tua itu. “Kalau nanti ditanya berapa harganya, tawarkan harga yang mahal. Yang kira-kira kalau semua satemu dibeli, uangnya cukup untuk modal kamu berdagang barang-barang lain yang lebih berharga yang cukup dijadikan sandaran hidupmu sekeluarga,” lanjutnya. Orang tua itu berhenti sebentar untuk menyalakan rokonya, rokok tingwe yang sudah disiapkan di slepennya. Nyala korek yang hanya sekilas memperlihatkan muka kakek itu yang sudah tua dan keriput.

“Hanya pesanku, sejak sekarang berhentilah berjudi membeli undian berhadiah! Carilah rejeki yang lebih halal dan jelas, bisa diharapkan hasilnya setiap hari. Jangan percaya pada ramalan-ramalan yang hanya membiuskan angan-angan kosong! Kamu tidak akan menjadi kaya karena membeli buntutan, Loda, Nalo dan sebangsanya. Tapi kamu justru akan menjadi semakin miskin dan tak berdaya. Bisa jadi kamu bahkan akan menjadi gila, hilang akal, hanyut dalam aliran angan-angan yang semakin menggila yang tidak akan menjadi kenyataan.”

Ridwan mendengarkan semua nasehat  orang tua itu dengan seksama. Dalam hati ia membenarkan semua nasehat itu. Dulu sebelum dirinya gila nomor buntutan, ia bisa menabung sedikit-sedikit dari hasil memburuh. Tapi semenjak dirinya gila nomor buntutan, kantongnya selalu kosong. Yang ada di dompetnya hanya lembar-lembar nomor undian yang dipenuhi angan-angan, harapan-harapan, dan mimpi-mimipi indah yang tak kunjung menjadi kenyataan. 

“Sudah, begitu saja pesanku. Sekarang segeralah naik dan tinggalkan tempat ini! Oh ya, ini aku beri uang sedikit untuk modal kamu berjualan sate gagak. Belilah segala sesuatu yang diperlukan di pasar, mumpung   besok hari pasaran!” kata orang tua itu sambil mengulurkan tangan memberikan sejumlah uang kepada Ridwan.

“Terima kasih, Kek. Tapi nanti dulu, Kek. Letak Kedung Preh itu ada di mana, Kek?” tanya Ridwan karena belum tahu letak Kedung Preh yang dimaksudkan orang tua itu.

“Kedung Preh itu merupakan sungai yang ada bagiannya yang luas dan dalam. Di pinggirnya ada pohonnya preh yang bentuknya besar dan rindang seperti pohon beringin. Sering kali pohon preh itu menjadi rumah gendruwo. Kalau yang jelas ada gendruwonya, datanglah ke Kedung Preh yang ada di wilayah Ngrambe. Sudah jelas ta? Sekarang sudah larut malam, aku akan segera kembali. Kita berpisah, kamu segeralah pulang. Besok pagi jangan lupa ke pasar. Kebetulan besok hari Selasa Kliwon. Carilah burung gagak di Pasar Kliwon! “ kata orang tua itu sambil melangkah keluar dari dalam sungai.

“O iya, senyampang aku ingat. Kalau nanti kamu berani melihat gendruwo yang sosoknya sangat menyeramkan, kamu boleh membakar sate menghadap ke pohon preh. Tetapi kalau kamu ragu-ragu atau takut, kamu boleh membelakangi pohon preh. Dan kalau kamu betul-betul takut melihat ujud gendruwo itu, kamu jangan sekali-kali menoleh untuk memandang gendruwo itu,” pesan orang tua itu sambil melepas pakainnya yang basah.

Tidak berapa lama kemudian, setelah  berganti pakaian yang kering, orang tua itu sudah berjalan meninggalkan Ridwan sendirian. Dalam sekejap mata orang tua itu sudah hilang ditelan gelapnya malam. Ridwan tak habis pikir, begitu cepatnya orang tua  yang menurut perkiraannya jalannya tentu gruyah-gruyuh karena sudah jompo, ternyata begitu cepat dari lenyap dari pandangan matanya. Suara tapak kakinya pun tidak terdengar, padahal banyak daun-daun kering di jalan setapak yang dilaluinya. Bulu kuduk Ridwan meremang, tetapi segera ia tepiskan prasangka buruk kepada orang tua yang baru sekali ini ditemuinya.  Ridwan justru berprasangka baik, bahwa orang tua itu merupakan utusan Penguasa Alam Raya untuk memberi petunjuk kepada dirinya, lepas dari kesengsaraan hidupnya. Berpikir demikian, Ridwan segera keluar dari dalam air. Naik ke darat dan segera pulang.

Paginya Ridwan ke Pasar Kliwon, berbelanja keperluan berjualan sate gagak. Tentu saja yang pertama dibeli adalah burung gagak, tiga ekor. Lalu ia berencana membeli bumbu sate yang sudah jadi, karena ia tidak tahu bahan apa saja yang harus dibeli kalau meramu sendiri.  Juga ia perlu tahu caranya memasak sate bakar. Maka sambil mengisi perut ia akan belajar kepada Pak Karjan penjual sate kambing di Pasar Kliwon. Di warung itu Ridwan makan sambil memperhatikan Pak Karjan dan pelayannya meracik bumbu, menyunduk daging, membakar sate, mengoles-olesi kecap dan mrica. Kemudian ia bertanya hal-hal yang menurutnya perlu diketahui tetapi belum dimengertinya. Setelah cukup pengetahuan dan cukup kenyang, serta telah membayar harga sate yang dimakannya, Ridwan keluar dari warung.

Kini Ridwan tinggal membeli tungku pembakaran, arang dan rokok cerutu landa. Kebetulan kios Babah Liong menyediakan semua yang diperlukannya. Tak banyak menawar Ridwan segera membeli barang-barang yang dibutuhkannya. Lalu ia pulang sambil berdoa semoga usahanya kali ini membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

Malamnya Ridwan secara sembunyi-sembunyi membawa segala keperluan yang sudah disiapkan dengan bersepeda ke Kedung Preh. Setelah sepeda disembunyikan di tempat yang aman, Ridwan segera menuruni jurang lewat jalan setapak menuju ke Kedung Preh. Jalannya harus hati-hati melewati jalan yang biasa digunakan kerbau kalau akan dimandikan di kedung. Ridwan harus waspada kalau-kalau dari lereng jurang yang lebat ditumbuhi rumput ilalang, tiba-tiba ada ular menyambar tubuhnya yang sedang meraba-raba mencari jalan di kegelapan malam. Sampai di tepi sungai Ridwan masih harus hati-hati berjalan mlipir-mlipir menurutkan tepi sungai yang kadang sempit dan licin berbatu-batu. Lampu senternya dinyalakan menyinari jalan-jalan yang akan dilaui, menjaga jangan sapai tersandung batu yang berakibat jatuh terjungkal. Kalau sampai jatuh ke sungai, sial... itu berarti dirinya gagal berjualan sate gagak yang diharapkan bisa melepaskan dirinya dari kesengsaraan dan kemiskinan yang kini membelit hidupnya. Makanya ia harus berjalan sangat hati-hati sambil menunggu malam semakin larut, agar para gendruwo itu semakin lapar sehingga semaikn berani membeli satenya dengan harga  lebih mahal.  

Sampai di tepi kedung, Ridwan segera memilih tempat yang luas untuk berjualan. Sengaja ia memilih tempat agak mepet lereng jurang di bagian depan dan menyisakan tanah luas di bagian belakang. Dengan demikian para pembeli nanti hanya akan membeli dari arah belakang. Sehingga ia tidak berkesempatan melihat para gendruwo yang wajahnya menyeramkan itu, kecuali kalau ia berani menoleh ke belakang. Sebelum Ridwan mulai menyalakan tungku pembakaran, ia menyempatkan melihat pohon preh di seberang kedung, tempat bersemayamnya gendruwo-gendruwo calon pembelinya. Pohon preh itu kelihatan rimbun  dengan cabang-cabang dan ranting-ranting yang dipenuhi daun-daun yang lebat. Membayangkan pohon itu sebagai rumah para gendruwo menjadi lebih menakutkan, menyeramkan dan penuh misteri. Dalam angan-angannya Ridwan melihat gendruwo-gendruwo itu bergenteyongan  sambil berkejar-kejaran bercanda ria, saling gigit memamerkan taring masing-masing seperti anjing-anjing tetangga yang sering dilihatnya.

Berpikirseperti itu Ridwan jadi bergidik. Ingin rasanya ia lari pulang terbirit-birit tak jadi jualan sate. Tapi kalau menginat hidupnya yang sengsara, padahal usianya yang semakin bertambah mengharuskannya segera melamar Sariyem yang sudah lama dipacarinya, Ridwan jadi menguatkan lagi tekadnya. Lebih-lebih kalau ia ingat betapa ia telah mendapatkan kepercayaan dan amanat dari orang tua yang ditemuinya kemarin yang dengan suka rela telah memberinya modal untuk berjualan sate gagak malam ini. Apakah dirinya akan menyia-nyiakan kepercayaan orang tua yang kemarin sempat disombonginya? Malu dan bodoh kalau harus mundur, menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Apalagi kalau harus ngacir melarikan diri sebagai seorang pengecut. Ridwan menguatkan nyalinya!

Ridwan segera menyalakan rokok cerutu Landa yang sudah ada di mulutnya. Pelan-pelan ia sedotnya cerutu itu dalam-dalam, lalu dihembuskannya asapnya menyebarkan bau yang khas.  Sambil merokok Ridwan segera menyalakan arang di tungku, memasang besi alas di atas arang yang menyala, lalu mulai membolak-balik sate dengan tangan kiri, dan mengipas-ngipas api dengan tangan kanan. Bergulung-gulungnya asap yang mengepul dari tungku pembakarannya membawa bau sedap daging gagak dan bau bumbu sate yang terbakar.harum, gurih dan lezat, menggugah selera. Kebetulan waktu itu angin bertiup dari sebelah barat tempat Ridwan membakar sate, menuju ke timur, arah pohon preh tempat bermukimnya gendruwo-gendruwo penunggu Kedung Preh.

Belum ada reaksi dari arah pohon preh. Hanya berkesiurnya angin menggoyang-goyang pohon yang berdaun rimbun itu. Di sela-sela batu dan tanah cadas, jangkrik dan serangga-serangga malam bernyanyi menyanyikan sepinya malam. Kemericik bunyi air pancuran dari sela tanah cadas masuk ke kedung juga menambah sunyi malam yang semakin dalam. Tiba-tiba terdengar suara, “Jleg! Jleg! Jleg! Jleg! Jleg!” 

Kalau mendengar suaranya ada lima gendruwo yang datang mendekati Ridwan yang sedang membakar sate gagak. Perasaan hati Ridwan jadi tidak menentu. Ingin rasanya ia menoleh ke belakang untuk melihat wajah-wajah gendruwo yang telah mendatanginya. Tapi rasa takut melarangnya. Tetapi kalau tidak menoleh rasanya kok penasaran. Tetapi kalau nekat menoleh ia khawatir jangan-jangan dirinya justru ketakutan, lalu tak jadi jualan sate gagak. Mungkin dirinya justru akan lari terbirit-birit atau pingsan di tempat karena ketakutan. Dengan demikian ushanya akan jualan sate gagak yang dapat mendatangkan banyak keuntungan jadi gagal. Tapi kalau tidak menoleh, bagaimana kalau nanti tahu-tahu gendruwo-gendruwo itu menggigit tengkuknya dan seluruh anggota tubuhnya, dan ada yang mencaplok kepalanya, bagaimana? “Bagaimana ini? Aku takuuuuttt.....!” jerit Ridwan dalam hati.tapi dikuat-kuatkannya hatinya sambil terus mengipasi sate yang sedang dibakarnya.

“Kamu sedang masak apa, Le?” tanya salah satu gendruwo. Suaranya besar agak serak tapi berwibawa. Meskipun terdengar cukup keras tapi suara itu kedengarannya tidak bermusuhan, bahkan boleh dikatakan seperti pertanyaan orang tua yang sabar kepada anaknya. Ridwan jadi timbul keberaniannya meskipun masih belum berani menoleh memandang  yang bertanya. Khawatir kalau gendruwo lainnya tidak mempunyai sikap yang sama. Bisa celaka dirinya nantinya. 

“Sedang membakar sate gagak, Kek,” jawab Ridwan.

“Aku boleh minta, Le?”

“Ya jangan minta, Kek. Beli, Kek. Karena gagak, bumbu dan segala yang diperlukan untuk membuat sate gagak ini juga saya dapat dari membeli,” Ridwan memberanikan menjawab sesuai petunjuk kakek yang ditemui ketika menyepi di tempuran kali kemarin.

“Kalau beli, terus berapa harganya satu sunduk sate, Le?”

“Hanya lima ribu rupiah saja, Kek.”

“Biyuh...Biyuh...Lha kok mahal sekali, Le! Tapi ya biarlah, aku sudah telanjur pengin kok. Air liurku sudah menetes-netes dan perutku sudah berkerucuk setelah hidungku membaui rasa asap satemu yang lezat menggugah seleraku. Bakarkan aku empat sunduk saja, Le! Tambah satu sunduk lagi saren, ya?  Ada kan sarennya? Darahnya hitam juga kan?” tanya gendruwo itu selanjutnya.

“Iya, Kek. Ada sarennya, darahnya juga hitam, memang ini saren burung gagak,” jawab Ridwan sambil melanjutkan membakar sate. Di antaranya ada sate saren.
“Ini, Kek, satenya sudah matang,” kata Ridwan sesaat kemudian. Sate diulurkan ke belakang lewat samping tengkuknya tanpa menoleh.

“Yah... sini aku makannya. Seperti apa rasanya sate gagak masakanmu. Kalau enak aku bayar, tapi kalau tidak enak kamu saja yang aku makan,” kata gendruwo sambil menerima sate gagak yang diulurkan Ridwan. Bulu-bulu rambut tangannya yang dhiwut-dhiwut mengenai tengkuk Ridwan, membuat  bergidik bulu kuduknya. Rasanya ia seperti ingin segera lari meninggalkan tempat yang menyeramkan itu. Tapi kalau ingat satenya masih banyak, dan uang belum ada di tangan, rugi kalau ia harus lari meninggalkan tempat ini. 

“Weleh...Weleh... Weleh enak sekali, Le, sate masakanmu.  Ayo, anak-anak, segeralah beli! Satenya enak sekali,” ujar gendruwo itu yang agaknya orang tuanya, menyuruh anak-anaknya segera membeli sate. 

“Ini, Le, uangnya terimalah!” Ridwan menerima uang yang diulurkan gendruwo lewat samping tengkuknya. Lagi-lagi bulu-bulu tangan yang kasar itu mengenai tengkuk dan telinganya. Rasanya bagian yang terkena itu jadi menebal dan berdiri bulu-bulunya. Uang yang sudah diterima lalu dimasukkannya ke dalam saku.

“Beli! Beli! Aku beli!” “Beli! Beli! Aku beli!” “Beli! Beli! Aku beli!” teriak anak-anak gendruwo dan ibunya berebutan.

“Sabar.... Sabar! Jangan berebut! Jangan takut tidak kebagian! Kalau masing-masing menginginkan empat sunduk sate daging ditambah satu sunduk sate saren, untuk empat orang lagi masih cukup. Jadi tidak usah berebut, kalian semua tentu akan kebagian. Sekarang tenang dulu, aku akan membakar satenya,” kata Ridwan menyabarkan para gendruwo yang berdesak-desakan di belakang Ridwan berebut minta didahulukan. Sebetulnya Ridwan amat takut mengetahui tingkah laku para gendruwo yang agak liar itu, tapi demi mendapatkan modal usaha, ia terpaksa harus berani bertahan.

Setelah para gendruwo tenang, Ridwan mulai membakar sate lagi. Dengan cekatan tangan kiri membolak-balik sate lagi dan tangan kanannya mengipasi api arang dalam tungku. Setelah matang sate daging empat sunduk dan satu sunduk sate saren, Ridwan mengulurkan sate tersebut ke belakang lewat samping tengkuknya. Gendruwo-gendruwo yang ada di belakangnya berebutan menerimanya sambil menyodor-nyodorkan uang pembayarannya. Suara para gendruwo yang berebut itu betul-betul mengerikan. Pating kraek pating bengok, sepertinya tidak ada yang mau mengalah. Ulah para gendruwo itu sungguh menakutkan, ada yang sampai mengenai Ridwan hingga terdesak dan hampir jatuh terjerembab di atas tungku pembakaran. Bahkan salah satu gendruwo jari-jari tangannya yang ditumbuhi kuku-kuku yang panjang dan tajam sempat mengenai tengkuk Ridwan, hingga meneteskan darah segar meskipun tidak deras. Oleh gendruwo itu darah yang keluar itu dijilati sambil berkata, “Nyam...Nyam....Nyam.... segar dan manis sekali darahmu. Enak sekali!” “Iya, telinganya juga kelihatan empuk dan segar darahnya! Bagaimana kalau kita iris-iris lalu kita sate sendiri? Tentu ueeeenakkkkk.... sekali!” sahut gendruwo yang lainnya. 

Ridwan ketakutan! Kalau salah satu gendruwo itu sudah telanjur merasakan lezatnya darah segarnya, bisa jadi mereka akan beralih membantainya, menghisap darahnya dan memakan dagingnya. Hiii... sungguh mengerikan kalau usahanya berakhir seperti itu! Sekali lagi Ridwan sangat... sangat ingin lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Tapi bagaimana kalau gendruwo-gendruwo liar itu mengejarnya, lalu berhasil menangkapnya. Karena dirinya tak mungkin dapat lari cepat melewati tepi sungai yang sempit, licin dan berbatu-batu. Sedangkan para gendruwo itu dengan mudahnya terbang lalu menghadang langkahnya di depan. Akhirnya Ridwan memilih tetap bertahan di tempat sambil memperbesar nyali menambah keberanian. Untung gendruwo yang merupakan orang tua para gendruwo itu segera mencegah dan menengahi.

“Stop! Stop! Stop! Hentikan ulah kalian yang liar itu! Kita di sini tidak hendak memakan penjual sate. Tetapi kita di sini akan membeli sate gagak. Kalian jangan liar tak terkendali begitu! Ayo sekarang yangtertib. Satu persatu tanpa berebut menerima sate yang sudah matang, membayar, dan kemudian memakan sate yang sudah matang itu dengan nikmat iris demi iris, sunduk demi sunduk. Jangan coba-coba akan memakan penjualnya!” teriak gendruwo tua menenangkan keluarganya.

Karena takut pada orang tuanya yang mempunyai wibawa yang besar, para gendruwo itu pun patuh. Mereka sekarang menunggu giliran memperoleh bagiannya dengan sabar. Sehingga Ridwan dapat menyelesakan membakar sate dengan sedikit tenang, meskipun tetap merasa agak gugup.karena tahu kesabaran para gendruwo yang belum mendapat giliran itu adalah kesabaran yang terpaksa.  Tapi akhirnya selesai juga. Ridwan sudah membakar semua sate gagak dan sarennya sampai tuntas. Dan semuanya sudah disajikan dan dimakan dengan lahap oleh para gendruwo yang antri di belakangnya. Saku celana Ridwan yang dalam, kanan kiri sudah penuh dengan uang  hasil penjualan sate gagak malam itu.

“Wah habis, ya, satemu? Padahal aku masih kurang. Bagaimana kalau sekarang dagingmu saja yang disate, telingamu ini tentu empuk kemripik dan lezat. Aku berani membayar berapa yang kamu minta,” kata gendruwo yang sudah sejak tadi menginginkan telinga Ridwan sambil menjilati telinga yang terasa semakin mekar dan menebal itu. Gigi-gigi dan taring yang kadang menyentuh bagian dalam telinga terasa geli campur ngeri.

“Wah ya jangan begitu! Kalau kelakuan kalian seperti ini, besok saya tidak akan berjualan ke sini lagi, lo!” Ridwan memberanikan diri menolak permintaan para gendruwo yang sudah mulai liar lagi.

“Ya sudah, kalau begitu malam ini cukup sekian saja dulu. Besok berjualan ke sini lagi, ya?”  akhirnya gendruwo tua yang  menengahi.

“Iya, Kek. Sekarang ijinkan saya kembali pulang. Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Malu kalau sampai saya kesiangan di sini. Besok malam saja saya carikan burung gagak yang lebih banyak, agar kalian semua puas.”

“Ya sudah sekarang pulanglah! Kami semua juga akan kembali ke tempat tinggalku di atas pohon preh. Mumpung belum kedahuluan azan Subuh.” 

Gendruwo-gendruwo itu lalu berloncatan terbang kembali ke atas pohon preh. 

Ridwan segera membenahi segala perlengkapannya. Setelah selesai ia pun segera pulang meninggalkan tempat mengerikan tetapi juga menguntungkan itu. Di kedua saku celananya sudah penuh dengan uang yang melebihi jumlah uang yang diperoleh seandainya ia nembus lotre beberapa angka. Yang jelas jumlah uang itu cukup untuk memulai hidup baru sebagai seorang pedagang beneran, yang bukan sekedar pedagang sate gagak dengan pembeli para gendruwo yang kadang tingkah lakunya liar tak terkendali. Rabaan-rabaan tangan gendruwo, sentuhan-sentuhan bulu-bulu tangan gendruwo yang kasar di tengkuknya dan jilatan-jilatan lidah gendruwo yang disertai hawa napasnya yang hangat di tengkuk dan telinganya masih terasa ngeri dirasakannya dalam hati. Juga teriakan-teriakan liar yang menakutkan para gendruwo itu ketika berebut, masih terngiang di telinganya. 

Semuanya itu membuat Ridwan kapok, tidak akan mengulanginya lagi, meskipun imbalannya satu malam saja cukup untuk membeli sepeda motor baru. *** 


NB: 
  • Cerita ini dalam versi bahasa Jawa telah dimuat di Majalah Panjebar Semangat Surabaya No. 21 * 26 Mei 2012.
  • Dalam versi bahasa Indonesia cerita ini bersama 14 cerita misteri lainnya telah diterbitkan menjadi Buku Kumpulan Cerita Misteri dengan judul “KAMIGILAN Angkernya Kedung Blangah” terbitan MEDIAKITA Jakarta  tahun 2013.

                                                          
Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Foto Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri) - Exnim
Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri)

Related posts:

1 Responses for "Cerpen Misteri 'Sate Gagak'"

  1. saya udah coba ritual ini NYATA bukan krn duitnya tpi krn ingin membuktikan saja .. dijamin anda kencing di celana apalagi yg sok jago dijamin tuh kuburan yg udh pda di keramik ente tabrak ini saya buktikan di komplek pemakaman di daerah (garut jawa barat)

    ReplyDelete