Contoh Cerpen: PENGHUNI JEMBATAN KARANGWUNI

Sebuah Cerpen

PENGHUNI JEMBATAN KARANGWUNI
.Oleh: Sutardi MS Dihardjo

“Untuk pembuatan balon ekspo wilayah Klaten, Bapak dapat mengambil uang mukanya hari ini juga di Kantor Tim Sukses di Semarang. Silakan Bapak menemui bendahara Tim,” kata Ketua Tim Sukses di seberang sana.

“Baik, Pak, saya akan berangkat ke Semarang sekarang juga, agar pembuatan balon ekspo itu dapat segera dimulai,” sahut Wanto lewat HP-nya.

Pada pilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode Tahun 2008 – 2013, Wanto, salah seorang kader partai yang cukup militan, yang bekerja di biro periklanan di kota Solo,  mendapat kepercayaan untuk membuat balon ekspo bergambar pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung partainya, dan ajakan untuk mencoblosnya. Rencananya setiap kabupaten dan kota di Jawa Tengah akan kebagian satu balon yang akan diluncurkan mulai hari pertama masa kampanye.

Setelah sholat dhuhur  Wanto berangkat ke Semarang dengan mengendarai mobil kijang inventaris, ke Kantor Tim Sukses Pemenangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah. Perjalanan Solo – Semarang ditempuh dalam waktu kurang dari empat jam.  Jam empat sore Wanto sudah sampai. Di kantor itu orang-orang sedang sibuk berdiskusi merencanakan strategi yang akan dilakukan dalam kampanye yang akan datang. Jadwal kampanye dan tempat-tempat yang akan digunakan untuk kampanye terbuka sudah disusun. Mereka membicarakan pengerahan massa dan rute yang akan ditempuh dalam arak-arakan kendaraan dalam rangka show of force, memperkenalkan pasangan calonnya, sekaligus unjuk kekuatan untuk menarik perhatian calon pemilih.

”Ada yang dapat saya bantu?” tanya Satgas yang berjaga di depan pintu masuk, menawarkan bantuan kepada Wanto.

”Saya tadi ditelepon untuk menemui bendahara, mengambil uang muka pembuatan balon ekspo yang akan diluncurkan di Klaten. Tolong saya diantar menemui bendahara,” ujar Wanto.

”Kalau akan menemui bendahara, maaf, bendahara sedang tidak ada di tempat. Satu jam yang lalu dia menerima telepon, katanya saudaranya yang sedang opname di Rumah Sakit Dr. Karyadi kritis. Dia diminta segera datang ke rumah sakit. Tanpa meninggalkan pesan apa-apa, hanya mengatakan kalau dirinya harus segera pergi ke Rumah Sakit Dr. Karyadi, bendahara meninggalkan kantor,” kata satgas memberi penjelasan.

Wanto terperangah. Apakah mungkin jauh-jauh ia datang dari Solo, sampai di Semarang tidak membawa hasil? Sial!

”Untuk urusan uang, hanya boleh serah terima dengan bendahara, apalagi tadi tidak ada pesan dari bendahara. Mungkin tadi bendahara panik dikabari saudaranya kritis, sehingga tidak sempat pesan apa-apa. Sebaiknya Bapak ke Rumah Sakit Dr. Karyadi saja, barangkali bendahara dapat memberikan yang Bapak minta,” saran Satgas.

”Ya, sudah, kalau begitu saya akan ke rumah sakit saja,” kata wanto. Tetapi kemudian di jalan menuju rumah sakit,  Wanto berpikir lagi dengan menggunakan perasaannya.

Saat ini bendahara sedang sedih hatinya. Mungkin juga dia sedang bingung karena saudaranya  sedang kritis. Tidak etis rasanya kalau aku harus ke sana minta uang muka. Apalagi  ia sedang dalam keprihatinan menghadapi saudaranya yang kritis. Ya kalau ia bawa uang cukup untuk uang muka, kalau tidak?” kata Wanto dalam hati.

Akhirnya Wanto membelokkan mobilnya menuju ke arah pelabuhan untuk sekedar menghibur diri, membuang sebal dan sial, meredam kekecewaan.

Habis sholat Maghrib dan makan malam di warung, Wanto meluncur pulang ke kantornya. Meskipun sudah berusaha menghibur diri di pelabuhan ternyata perasaannya masih tetap suntuk. Hatinya merasa kesal karena merasa seperti dipermainkan, meskipun ia tahu kalau semuanya itu tidak disengaja. Badannya pun terasa amat letih.

Sampai di kantornya kembali, jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Ia khawatir kalau sampai di rumah sudah terlalu malam. Kasihan istrinya yang terkantuk-kantuk menunggu kedatangannya dengan cemas di depan pintu. Maka Wanto memutuskan untuk langsung pulang, setelah memasukkan mobil ke garasi.

”Maaf, Pak Wanto, tadi ada telepon dari Bu Parji, kalau saat ini Pak Parji sedang kritis di Rumah Sakit Dr. Muwardi. Pak Wanto diminta segera menjenguk ke sana setelah pulang dari Semarang. Katanya sebelum kritis Pak Parji selalu menanyakan Pak Wanto,” lapor salah seorang pegawai yang sedang piket.

Parji adalah teman akrab Wanto. Sebelum jatuh sakit, ke mana-mana Wanto selalu ditemani Parji. Wanto dan Parji selalu tolong menolong dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari di luar kantor. Maka begitu mendengar kalau Parji kritis di rumah sakit, Wanto segera permisi mengendarai motornya  menuju ke tempat teman dekatnya itu dirawat di rumah sakit.

Jarak kantor Wanto dengan Rumah Sakit Dr. Muwardi Solo tidak jauh. Sebentar saja Wanto sudah sampai di ruang ICU. Parji memang sudah lama menderita sakit paru-paru menahun. Sudah sering keluar masuk rumah sakit. Badannya sampai kurus, tinggal tulang berbalut kulit. Saat ini sakit paru-parunya sudah akut.

Wanto tak tega melihat raga Parji. Teman akrab yang sehari-harinya selalu ceria itu kini wajahnya nampak sayu, tubuhnya layu tak berdaya, kurus kering. Tak terdengar suaranya kecuali hanya dengkur kecil. Ketika Wanto memanggil namanya nampaknya ia juga mendengar, terbukti ia sempat membuka matanya sebentar. Tapi kemudian mata yang redup itu terpejam lagi. Namun kemudian dari sudut mata yang terpejam itu perlahan-lahan mengalir air mata. Tidak banyak air mata yang keluar, hanya lelehan sedikit membasahi pipi. Sungguh kasihan, untuk menjawab panggilannya saja teman akrabnya itu tidak mampu.

Wanto lalu berdoa memohonkan kekuatan dan kesembuhan, kalau memang masih dikehendaki sembuh; atau diberikan ampunan dan kemudahan menghadap kepada-Nya, kalau memang hanya sampai di situ garis hidupnya.  Semoga dia diberi khusnul khotimah. Dan keluarga yang ditinggalkannya diberi kekuatan lahir batin, ditunjukkan jalan rejekinya.

Perasaan sedih yang amat mengiris hati terus terbawa dalam perjalanan pulang di atas motor yang melaju menuju Klaten. Pukul sebelas malam Wanto keluar dari parkiran Rumah Sakit Dr. Muwardi. Roda motornya menggelinding menuju rumahnya, seiring dengan menggelindingnya pikirannya yang kalut. Berbagai perasaan haru bagai mengaduk-aduk hatinya, bercampur berkecamuknya pikiran-pikiran yang memberati kepalanya. Sementara itu hujan mulai turun rintik-rintik mengguyur sepanjang jalan, membasahi pakaiannya. Tapi Wanto tidak mempedulikannya. Rintik-rinrik kesedihan dan pikiran yang melayang-layang jauh membayangkan masa depan anak istri Parji, justru lebih deras memperkuyup hati dan pikirannya.

Besok ada tes seleksi perekrutan tenaga security di Pemda dan perusda-perusda di Klaten. Dirinya harus mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi tersebut. Kalau dipikir-pikir mungkin lebih baik kalau dirinya diterima sebagai tenaga security di Pemda atau di salah satu perusda di Klaten. Sudah jelas tiap bulan menerima gaji, dan yang penting jarak tempat kerja dengan rumahnya tidak jauh. Kerjanya cuma jaga kantor yang relatif aman. Tak harus bolak-balik Klaten – Solo, sehingga memperkecil resiko di jalan. Tetapi sebagai tenaga kontrak gajinya kecil. Kalau ada kenaikan paling cuma menyesuaikan dengan UMR. Dan kariernya mentok. Selamanya ia hanya akan menjadi security terus. Tidak akan bisa meningkat. Sebagai tenaga kontrak dirinya tidak akan seperti pegawai negeri biasa yang setiap dua tahun naik gajinya. Bahkan setiap tahun bisa naik, tergantung pidato presiden. Padahal anak-anaknya yang sekarang masih kecil-kecil itu tentu nantinya juga akan bertambah besar dan semakin banyak kebutuhan hidupnya, terutama biaya sekolahnya.

Lain halnya kalau dirinya tetap bekerja di Solo. Sebagai manajer personalia  Biro Periklanan, selain gaji ia dapat mendapat berbagai bonus kalau usahanya berhasil. Dan kariernya pun bisa naik sesuai dengan prestasi kerjanya. Tapi kalau setiap hari harus melajo Klaten – Solo, kalau pas ada kegiatan yang mengharuskan pulang tengah malam begini, rasanya badannya sangat lelah. Mana hujan lagi. Belum lagi pikiran terasa jenuh karena pekerjaan menumpuk, dan beberapa di antaranya tidak membuahkan hasil yang memuaskan.

Kejengkelan Wanto membuncah lagi ketika ingat kegagalan tugasnya ke Semarang siang tadi. Rejeki yang sudah tampak akan teraih di tangan, tak disangka-sangka ternyata meleset. Ini tadi bahkan uang yang sudah ada di tangan terpaksa ia berikan kepada istri temannya, sebagai tanda ikut prihatin atas sakit akut yang diderta teman dekatnya itu. Ia membayangkan, bagaimana seandainya bukan temannya yang mendapat musibah itu, tetapi drinya sendiri, betapa sedih hati istrinya menanggung beban seberat itu. Kasihan Parji teman dekatnya itu. Kalau melihat kondisi kesehatannya, nampaknya umurnya tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Lalu bagaimana dengan istri dan anak-anaknya? Bagaimana mereka akan membiayai hidupnya? Sebagai pegawai swasta, Parji tidak meninggalkan uang pensiun untuk membiayai kebutuhan hidup anak dan istrinya. Padahal ia tahu, istri Parji itu tidak bekerja apa-apa. Kalau ia cukup kreatif ia dapat buka loundry dan berjualan kelontong kecil-kecilan dari uang pesangon. Tapi kalau uang pesangon itu pun sebagian sudah tersedot untuk membiayai berobat di rumah sakit, lalu apakah masih ada yang tersisa untuk modal usaha? Ya, mungkin seperti perempuan-perempuan lain yang ditinggal mati suaminya tanpa uang pensiun, istri Parji itu akan terpaksa bekerja serabutan sebagai tukang cuci, atau pembantu rumah tangga.

Hati Wanto amat gundah dan sedih. Pikirannya melayang-layang membayangkan jalan hidup yang akan ditempuh istri dan anak-anak Parji yang masih kecil-kecil. Badannya pun terasa amat letih. Melewati depan asrama tentara Kopasus Kandang Menjangan, tahu-tahu Wanto merasakan sepeda motor yang tadinya dapat melaju kencang tiba-tiba seperti mengangkat beban yang amat berat. Tak dapat berlari.

Ada apa ini? Sepeda motorku kok tidak dapat berlari. Padahal tidak ada tanda-tanda akan mogok. Hanya bebannya terasa amat berat. Bunyinya mengerang-erang, ” batin  Wanto.

Ada apa lagi ini? Sadel motorku seperti tak muat. Ada yang mendesak-desak sampai aku hampir tak kebagian tempat. Sepertinya ada yang ikut mbonceng di belakang. Tidak hanya satu. Sepertinya orang dewasa lebih dari satu,” pikir Wanto. 

Angin malam yang kemudian bertiup bersama rintik hujan yang semakin deras, mengibas-ibaskan helai-helai rambut perempuan yang seperti mengusap-usap wajah Wanto. Bau harum semerbak menusuk hidungnya. Bulu kuduk Wanto meremang. Pori-pori kulitnya seperti bertambah lebar, tubuhnya menebal. Merinding sekujur tubuh! Ingin tahu, ia menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Tapi ia benar-benar merasakan bahwa ada dua makhluk tinggi besar, perempuan, membonceng di sadelnya. Jalanan memang gelap, selain hujan, lampu-lampu di sepanjang jalan memang hanya menyala remang-remang. Anehnya, mungkin karena memang sudah menjelang tengah malam dan cuaca tidak nyaman untuk bepergian, kendaraan lain pun sepertinya sudah amat jarang lewat. Hanya satu dua yang berpapasan atau mendahuluinya. Dan ketika ada kendaraan lain lewat menyorotkan lampunya, ia menoleh ke belakang. Juga tak terlihat ada yang membonceng di belakangnya. Padahal ia merasakan cengkeraman tangan yang kuat di pundaknya. Sayang tangannya harus kuat-kuat memegangi setang, karena membawa beban yang amat berat. Ia tidak berani menggunakan satu tangannya untuk meraba ke belakang. Wanto mengeluh. Badannya yang sudah lelah seharian berkendara Klaten – Solo, lalu ke Semarang, kembali lagi ke Solo, ke rumah sakit, dan sekarang pulang ke Klaten, seperti tak kuat melanjutkan perjalanan dengan diboncengi muatan yang amat berat.

Wanto menghentikan motornya di pinggir jalan. Ia ingin istirahat sebentar melepaskan lelah dan rasa kantuk yang sudah amat mengganggu. Setelah dirasa cukup beristirahat Wanto tancap gas lagi. Tapi seperti tadi juga, kali ini pun  motornya terasa berat melaju. Mesin motornya pun terasa cepat panas. Akibatnya ia harus sering beristirahat untuk melepaskan lelah dan kantuk yang sering menyerangnya. Selama dalam perjalanan pulang ini sampai lima kali Wanto harus istirahat. Karena merasakan kantuk yang begitu hebat, ditambah badan yang amat letih dan pegal-pegal, hampir saja Wanto akan tidur di masjid SPBU yang ada di pinggir jalan. Tapi mengingat pakaiannya sudah basah kuyup, dan memikirkan betapa cemasnya istrinya menunggu di rumah, ia urungkan niatnya untuk tidur di masjid SPBU. 

Wanto kembali melajukan motornya. Wanto tahu kalau sebetulnya dirinya sedang diganggu makhluk halus yang membonceng di motornya, tapi dasar Wanto orang pemberani, ia tidak merasa takut. Maklum ia sudah terbiasa melajo Klaten – Solo. Dan tak jarang pulang sampai larut malam. Hanya saja dua makhluk halus yang ada diboncengannya itu sungguh mengganggu perjalanannya. Tangannya sampai amat lelah memegangi setang. Lebih-lebih kalau kendaraan harus membelok, berat sekali rasanya.  Lebih-lebih lagi, meskipun kendaraan tidak dapat melaju cepat, ia harus memutar gasnya kencang-kencang agar kendaraan dapat melaju agak cepat. Kalau gas dikendorkan, laju kendaraan akan amat pelan seperti siput. Dan besok pagi dirinya baru akan sampai di rumah. 

Dalam keadaan gas diputar dalam posisi kencang, dan mata agak mengantuk, sesampai di jembatan Karangwuni, Wanto merasakan beban berat yang ada di boncengannya tiba-tiba meloncat turun.  Akibatnya sepeda motor yang dikendarainya seperti terlempar ke depan. Wanto tak dapat menguasai kemudi. Motor terbanting ke kiri menabrak tugu di pinggir jalan. Wanto jatuh, kecelakaan tunggal. Pandangan matanya menjadi semakin gelap. Lalu tak sadarkan diri.

Ketika siuman, tersadar dari pingsannya, Wanto merasakan kakinya amat sakit dan pedih. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Kaki kiri tak dapat diangkat. Tulang kering kaki kirinya patah. Kepalanya pun terasa amat pusing dan pikirannya tidak jalan. Ia merasa sekaratul maut akan menjemputnya. Lalu-lintas sepi. Tak ada orang datang untuk menolongnya. Wanto merasa penglihatannya gelap. Lalu ia pun pingsan lagi.

Ketika siuman lagi, ternyata Wanto sudah berada di Rumah Sakit Islam Klaten. Ia dirawat di RSI dan menjalani operasi pemasangan pen untuk menyambungkan tulangnya yang patah. Saudara-saudara dan teman-temanya bergantian datang menjenguk. Seorang teman yang tahu akan masalah kebatinan dan dunianya makhluk halus memberi tahu kepada Wanto.

”Nak Wanto, kalau saya lihat dengan mata batin saya, sebetulnya Nak Wanto kemarin itu diboncengi dua makhluk halus perempuan yang berbadan besar. Tempat tinggal mereka di jembatan Karangwuni. Waktu itu mereka sedang begadang sampai di Kartosura depan Asrama tentara Kandang Menjangan, dan akan pulang.. Kebetulan Nak Wanto lewat satu arah dengan mereka. Jadilah mereka mbonceng ikut Nak Wanto. Makanya benar kalau Nak Wanto mengatakan amat berat sekali mengendarai motornya. Sampai di rumahnya di jembatan Karangwuni, tanpa memberi tahu mereka langsung loncat turun, sehingga Nak Wanto kehilangan keseimbangan, dan jatuh menabrak tugu sehabis jembatan. Untung Nak Wanto tidak jatuh ke sungai bawah jembatan.” Orang itu berhenti sejenak. “Memang sesungguhnyalah saya melihat dengan mata batin saya, jembatan itu dihuni 9 makhluk halus. Yang 5 jahat, suka usil dan suka menggangu, bahkan juga mencelakakan orang. Sedangkan yang 4 tidak jahat. Makanya sering terjadi kecelakaan di sana. Makanya kalau akan melewati jembatan itu sebaiknya kita memberi salam atau membunyikan klakson,” lanjut teman Wanto.

Meskipun Wanto merasa  akan kehilangan pekerjaannya, karena sakit yang dideritanya tentu akan memakan waktu berbulan-bulan untuk menyembuhkannya, dan itu tentu tidak akan ditolerir oleh perusahaannya yang swasta, tapi Wanto tetap bersyukur karena masih diberi umur panjang. Rejeki Gusti Allah yang mengatur. Tidak perlu khawatir. ***

NB: Cerita ini masuk 20 besar Lomba Yuk Nulis Bareng yang diadakan Penerbit mediakita Jakarta. Ke 20 cerita misteri hasil lomba tersebut telah diterbitkan menjadi Buku dengan judul Mightnight Stories 3 awal tahun 2014.

                                                         Penulis: Sutardi MS Dihardjo

Related posts:

No response yet for "Contoh Cerpen: PENGHUNI JEMBATAN KARANGWUNI"

Post a Comment