Contoh Naskah Drama Perjuangan dan Pengorbanan I

Berikut ini adalah contoh naskah drama perjuangan dan pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar bagian I.

Naskah Drama:
PERJUANGAN DAN PENGORBANAN
PAHLAWAN TENTARA PELAJAR

Para pelaku :
Pelajar 1                  : Anak-anak SMU
Pelajar 2                  : Anak-anak SMU
Pelajar 3                  : Anak-anak SMU
Veteran 1                : Veteran pejuang angkatan 45, mantan Tentara Pelajar, kurang lebih usia 85 tahun
Veteran 2                : Veteran pejuang angkatan 45, mantan Tentara Pelajar, kurang lebih usia 85 tahun
Suparno Negro       : Pelajar Sekolah Menengah Tinggi, Komandan TP, badan tinggi, kulit hitam, makanya dipanggil Negro
Mardowo                :  Pelajar sekoah Menengah Tinggi, Anggota TP, ada sedikit belang pada bagian tubuhnya, makanya dipanggil Poleng
Iskandar                  : Pelajar Sekolah Menengah Tinggi, anggota TP, rambut keriting agak gimbal seperti raksasa, makanya dipanggil Buto Bagus
Wibowo                   :  Pelajar SMP, anggota TP, mukanyan banyak bisul
Robert Sufsidi        : Pelajar Sekolah Menengah Tinggi, anggota TP, badannya kuat maka dipanggil Kebo
Ciwik Wiyoso         :  Pelajar Sekolah Menengah Tinggi, anggota TP
Sunardi                   : Pelajar Sekolah Menengah Tinggi, anggota TP, dipanggil Nardi Pece
Kuncoro                  :  Pelajar Sekolah Menengah Tinggi, anggota TP
Supardi                   :  Pelajar Sekolah Menengah Tinggi, anggota TP, dipanggil Dengkek
Sudibyo                   :  Pelajar SPMA, anggota TP, badannya agak pendek dan gendut
Kasiran                   : Pelajar SMP, anggota TP, badannya besar, agak tongos, rambut kaku, bicaranya keras agak kasar seperti raksasa, dipanggil Buto
Sutrisno                   : Pelajar Sekolah Menengah Tinggi, anggota TP, bicaranya ramai seperti burung penthet, dipanggil Penthet
Sri Muslimatun       :  Pelajar Sekolah Menengah Tinggi, anggota TP
Petani                      : Seorang petani warga Dukuh Sraten, sebelah selatan Dukuh Gudang, Desa Sumberejo.
Belanda 1                :  Tentara Belanda
Belanda 2                :  Tentara Belanda

  
BAGIAN KESATU

DI ALOON-ALOON KLATEN. PAGI HARI MENJELANG DILANGSUNGKAN-NYA UPACARA PERINGATAN DETIK-DETIK  PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA.

DI TEPI ALOON-ALOON ( DI BAGIAN DEPAN PANGGUNG) TERLIHAT SE-GEROMBOLAN ANAK-ANAK BERSERAGAM PELAJAR SLTA SEDANG BERDIRI NGOBROL SAM-BIL BERTEDUH DI BAWAH POHON YANG TUMBUH DI TEPI ALOON-ALOON. DI SEBELAHNYA SEGEROMBOLAN ORANG-ORANG TUA BERSERAGAM VETERAN ANGKATAN ’45 JUGA SEDANG BERDIRI NGOBROL SESAMANYA. MESKIPUN TERPISAH TETAPI ANTARA PELAJAR DAN VETERAN ITU BERDIRINYA SALING BERDEKA-TAN SEHINGGA DIMUNGKINKAN UNTUK BERDIALOG DI ANTARA MEREKA.
SEDANGKAN DI LATAR BELAKANG (PANGGUNG BAGIAN BELAKANG) DI TEPI PAGAR MASJID RAYA YANG JUGA DITEDUHI POHON YANG RIN-DANG, SEGEROMBOLAN ORANG BERSERAGAM KORPRI DUDUK-DUDUK SANTAI NGOBROL PULA SESAMANYA.

SEORANG VETERAN MENDEKATI KELOMPOK PELAJAR DAN MENGAJAK MEREKA BERDIALOG.

VETERAN
(kepada anak-anak pelajar) Anak-anakku, kalau nanti protokol sudah mengumumkan upacara akan segera dimulai, kita diminta segera berbaris, segeralah membentuk barisan. Contohlah kami para veteran. Meskipun sudah tua, kami selalu siap berdiri tegak, berdi-siplin, mengikuti upacara dengan khidmat.

PELAJAR 1
Panas, Pak. Nanti saja kalau semuanya sudah siap dan upacara benar-benar akan dimulai, kita juga akan segera bersiap membentuk barisan.

VETERAN 1
Jangan begitu! Sebagai generasi muda, calon pemimpin-pemimpin bangsa, kalian jangan hanya suka mengikut. Apalagi mengikuti yang salah. Kalian harus berani dan mau jadi pelopor yang baik dan benar. Seperti kami dulu.

PELAJAR 2
Tapi itu, Pak. Lihatlah nanti, bapak-bapak dan ibu-ibu KORPRI itu! Mereka biasanya sudah berkali-kali diumumkan untuk bersiap, masih juga duduk-duduk santai di pinggir jalan, di tepi pagar masjid. Kalau kemudian mereka maju ke tepi lapangan, mereka pun masih memilih berdiri di pinggir, cari tempat yang teduh.

VETERAN 1
Jangan ditiru mereka yang malas! Carilah contoh yang lebih baik. Kalian lihat bapak-bapak tentara dan polisi itu, mereka lebih berdisiplin. Mereka segera membentuk barisan setelah mendapat aba-aba dari protokol. Itulah yang wajib kalian contoh. Jangan cari contoh yang tidak benar. Kalian para pelajar sedang dilatih untuk berpikir. Belajar menilai, memilah dan memilih. Pilihlah contoh yang baik menurut kalian.

PELAJAR 2
Sebetulnya aneh bapak-ibu KORPRI itu. Mereka itu sudah mendapat pekerjaan, setiap bulan mendapat gaji, sebagai buah dari kemerdekaan negara kita. Tetapi untuk mempe-ringati hari Proklamasi kemerdekaan saja kelihatannya enggan. Mereka datang ke sini, kelihatannya hanya karena diperintah dan diabsen dari kantornya.

VETERAN 2
Sebetulnya tidak semua begitu. Masih ada lebih banyak bapak – ibu KORPRI yang sadar dan lalu berdisiplin, mengikuti upacara dengan khidmat dan penuh kesadaran. Tetapi sayangnya banyak juga yang tidak sadar. Mereka hanya mengikuti upacara karena perintah. Jadinya ya kelihatan ogah-ogahan. Padahal mereka itu sudah banyak mendapat fasilitas dari negara.

PELAJAR 3
Benar, Pak. Kalau dihitung-hitung, mereka itu ikut upacara sudah dihitung bekerja. Artinya mereka itu ikut upacara sudah dibayar. Mendapat uang. Sedangkan kami, ikut upacara tidak dibayar. Bahkan kami harus meninggalkan pelajaran. Padahal setiap bulan kami harus bayar SPP.

PELAJAR 1
Iya benar, kami diperintah ikut upacara, dapatnya hanya nilai. Itu kami lakukan dengan disiplin penuh tanggung jawab. Sedangkan mereka? Mereka diperintah ikut upacara mendapat uang gaji, tapi dilakukan dengan terpaksa.

PELAJAR 2
Bahkan aku lihat, ada yang setelah absen mereka lalu pergi entah kemana. Padahal aku melihat, mereka itu setelah absen menerima uang saku dari kantornya.

PELAJAR 3
Aku juga melihat, mereka yang ikut upacara, setelah upacara mereka bersama-sama diajak ke warung makan untuk makan bersama dengan uang kantor.

VETERAN 1
Itulah yang memprihatinkan! Mereka ikut upacara karena takut pada perintah atasan. Lantas mendapat biaya dari kantor. Tetapi ternyata di sini, mereka hanya duduk bermalas-malasan. Baru masuk ke lapangan setelah petugas mendatangi dan mengajak mereka masuk lapangan. Itu pun mereka hanya berdiri di pinggir lapangan yang teduh, sehingga membentuk barisan yang panjang. Baru setelah barisan itu dipotong oleh petugas, mereka masuk ke bagian yang panas di depan.

PELAJAR 1
Masalahnya, upacara peringatan Detik-detik Proklamasi  dilaksanakan pukul sepuluh siang hari. Saat itu matahari sudah tinggi. Jadi ya sudah panas, Pak. Yang tidak terbiasa berpanas-panas bisa pingsan.

VETERAN 1
Panas menunggu saat upacara ini belum seberapa, dibanding panas menunggu konvoi Belanda di jaman perang dulu, anakku. Kalau saat ini kita berpanas-panas di sini, yang ditunggu hanya Inspektur Upacara untuk memimpin upacara dengan penuh khidmat, tanpa ancaman  atau sesuatu yang dapat membahayakan diri kita. Tapi kalau dulu, di jaman perang, para pejuang berpanas-panas menunggu datangnya konvoi musuh, atau menunggu terlenanya musuh di tengah malam hari yang dingin, ditemani gigitan nyamuk. Lalu, setelah yang ditunggu datang, bukan upacara khidmat dan aman seperti sekarang ini, tetapi adalah perang! Pertempuran yang mungkin akan membuat kita cacat seumur hidup, terkena pecahan granat, terkena peluru di salah satu bagian anggota badan kita, atau bahkan kehilangan nyawa tertembus peluru!

PELAJAR 2
Benar juga kata Bapak. Saat ini negara kita aman. Kita berpanas-panas hanya menunggu saat dilaksanakannya upacara yang tidak membahayakan jiwa kita. Kita dapat melaksa-nakannya dengan santai sambil ngobrol, tanpa rasa cemas akan mendapat celaka diserbu musuh. Tapi dulu, para pahlawan kita berpanas-panas atau berdingin-dingin, menunggu dengan hati-hati penuh disiplin, karena yang ditunggu adalah musuh bersenjata yang bisa tiba-tiba muncul dari arah tak terduga, lalu menembakkan senjatanya. 

VETERAN 1
Iya benar, kita sekarang menunggu. Yang ditunggu kapan datangnya, sudah jelas jamnya. Setelah yang ditunggu datang, kita hanya disuruh mengikuti upacara, kepanasan paling hanya kurang lebih setengah jam. Tak sampai satu jam. Dalam upacara kita hanya berdiri mendengarkan pidato, doa, dan genderang korsik (korp musik pengiring upacara) Tapi dulu, para pahlawan menunggu musuh datang. Kapan datangnya, belum tentu sesuai yang diperkirakan. Lalu ketika musuh datang, terjadi tembak-menembak yang bisa membuat cacat badan, bisa juga cacat mental atau kehilangan nyawa. Yang terdengar adalah letusan senjata, desingan peluru, teriakan aba-aba menyerang, jerit kesakitan dan erangan orang yang akan meregang nyawa. Lalu berapa lama pertempuran itu berlangsung? Belum tentu satu jam atau dua jam selesai, bisa berjam-jam, dari pagi sampai hampir Maghrib, seperti yang terjadi di sekitar Dukuh Gudang Desa Sumberejo, yang menewaskan salah satu teman kami yang bernama Sunardi, yang gugur sebagai Pahlawan Tentara Pelajar pertama kali di Klaten.

PELAJAR 3
Rumah saya di perumahan sebelah barat Dukuh Gudang. Di sana ada jalan bernama Jalan Kopral Sunardi. Barangkali nama jalan itu sebagai penghargaan kepada pahlawan Tentara Pelajar Sunardi tersebut, Pak. Tapi saya sebagai penduduk di situ belum tahu ceritanya, maklum kami orang pendatang. Apakah Bapak dapat menceritakan kisah heroik yang dialami pahlawan Tentara Pelajar Sunardi? 

VETERAN 1
 Tentu! Sunardi adalah kawan kami, sama-sama berjuang sebagai Tentara Pelajar Sie: 132 BAT 100. Jumlah kami seluruhnya ada 80 orang. Yang gugur dalam pertempuran ada tiga orang. Yaitu Sunardi, Sudibyo, dan Gatut Surajim.
(Diam beberapa saat)

Kalau kalian mau, nanti setelah upacara ini, kita duduk-duduk di bawah pohon itu. Aku akan bercerita tentang perjuangan dan pengorbanan para pahlawan Tentara Pelajar, yang berjuang pada usia kira-kira seusia kalian saat ini, sekitar 16 – 18 tahun.  Aku tidak akan menceritakan semuanya, nanti terlalu panjang. Aku pilihkan saja cerita, ketika kami, Tentara Pelajar, terpaksa harus melaksanakan politik bumi hangus. Suatu pengorbanan harta benda, tenaga, dan waktu.

PARA PELAJAR
 (serempak) Mau, Pak!

VETERAN 1
Bayangkan, salah satu yang harus kami bumi hanguskan adalah gedung sekolah tempat kami setiap hari belajar menuntut ilmu, juga bermain dan bersenda-gurau dengan teman-teman kami. Satu lagi, yang terakhir harus kami bakar, adalah markas kami, Markas Tentara Pelajar Klaten. Bayangkan, betapa sedihnya hati kami, markas yang setiap hari kami jadikan tempat berkumpul mengatur strategi, taktik serta konsolidasi sebelum dan sesudah melakukan tugas sebagai Tentara Pelajar, malam itu terpaksa kami bakar dengan tangan kami sendiri.
(Diam beberapa saat)

VETERAN 1
Cerita mengenai kepahlawanan Tentara Pelajar Sunardi, meskipun saya juga tahu, biar teman kami yang menceritakan. Kami berbagi tugas dalam pewarisan nilai-nilai ’45 ini, agar kalian yang mendengarkan tidak bosan.
(Kepada temannya sesama Veteran) Bukankah begitu, Bung?

VETERAN 2
Baiklah, karena anak-anak ingin tahu, dan ini memang perlu anak-anak dan generasi penerus lainnya ketahui. Aku akan menceritakan kisah pertempuran di sekitar Dukuh Gudang Desa Sumberejo yang menewaskan kawan kami Sunardi, gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa yang pertama kali dari barisan Tentara Pelajar. Kalian bisa bayangkan, setiap hari kami berkumpul, makan-minum bersama seadanya, berjuang dan bersenda-gurau, bahkan tidur satu tikar dan satu bantal, tiba-tiba kami menemukan ia telah gugur dengan bekas luka tembak di beberapa tempat, serta sayatan bayonet di sekujur tubuhnya. Kami semua sampai menangis menitikkan air mata. Sedih melihat mayatnya yang menjadi korban kekejaman penjajah yang sangat kejam tak berperikemanusiaan. Kisah kepahlawanan yang heroik namun memilukan ini cukup panjang.
(Diam beberapa saat)
Apakah kalian mau bersabar, berteduh di bawah pohon itu nanti setelah selesai upacara, untuk mendengarkan ceritanya?

PARA PELAJAR
 (serempak) Mau, Pak!

PELAJAR 1
Dengan senang hati kami akan mendengarkan cerita Bapak selaku saksi hidup jaman perjuangan revolusi kemerdekaan. (Kepada kawan-kawannya) Benar begitu, kawan-kawan?

PARA PELAJAR
(serempak) Benar! Kami akan menyimak cerita Bapak-bapak veteran pejuang baik-baik.

VETERAN 2
Baiklah, nanti akan aku ceritakan. Tapi sabar dulu. Kelihatannya waktu upacara sudah hampir tiba. Upacara akan segera dimulai. Marilah kita bersiap-siap mengikuti upacara.

PARA PELAJAR
(serempak) Baik, Pak.

KEMUDIAN TERDENGAR PROTOKOL MENGUMUMKAN BAHWA UPACARA AKAN SEGERA DIMULAI. PARA PESERTA UPACARA AGAR SEGERA MEMASUKI TEMPAT UPACARA DAN MENYIAPKAN PASUKAN MASING-MASING.

SALAH SEORANG VETERAN MEMBELAKANGI PENONTON, MENYIAPKAN PASUKAN KELOMPOK VETERAN. SALAH SEORANG PELAJAR  JUGA MEM-BELAKANGI PENONTON MENYIAPKAN PASUKAN. PARA VETERAN MENGI-KUTI PERSIAPAN UPACARA DENGAN PENUH DISIPLIN.
SEMENTARA ITU DI BELAKANG, SEBAGIAN KELOMPOK KORPRI ADA YANG TERUS MAJU DI SAMPING PARA VETERAN, MEMBENTUK BARISAN. TETAPI MASIH ADA BANYAK ANGGOTA KORPRI LAIN YANG TETAP DUDUK-DUDUK DI TEMPATNYA BERTEDUH.

LAYAR TURUN. LAMPU PADAM.


                                                                 (Bersambung ke Bagian II……….)

Related posts:

No response yet for "Contoh Naskah Drama Perjuangan dan Pengorbanan I"

Post a Comment