Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 5

Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 5
Oleh Sutardi MS Dihardjo:


5
MENCARI BANTENG MENGAMUK


Pangeran Lindu Aji beserta dua orang pengawalnya,  Ki Dadap dan Ki Waru, berjalan menyusuri jalan-jalan kota dan pedesaan untuk mencari banteng yang sedang mengamuk membuat kerusakan. Mereka hanya berjalan kaki saja, karena petunjuk yang diterima Prabu Reksa Buwana dan permaisurinya memerintahkan, sebagai pangruwate kutuk yang diderita Pangeran Lindu Aji, dalam mencari banteng yang sedang mengamuk mereka harus berjalan selangkah demi selangkah sambil tapa brata, memberi pertolongan kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Mereka dilarang untuk naik kendaraan, baik kereta maupun kuda. Mereka harus dekat dengan rakyat maupun alam.
Kadang-kadang mereka berhenti, untuk istirahat dan menunaikan sholat lima waktu di masjid atau surau, apabila tiba waktunya. Sambil berjamaah bersama masyarakat sekitar mereka mencari tahu kabar yang mereka cari. Apabila perut mereka terasa lapar, mereka singgah di kedai-kedai yang mereka temui di pinggir jalan. Selain untuk makan, mengisi perut yang sedang lapar dan membasahi tenggorokan yang terasa kering, mereka juga menggunakannya untuk menjaring berita, barangkali ada diceritakan kabar mengamuknya banteng di suatu tempat. Tetapi sudah banyak kedai yang mereka singgahi tak satu pun yang mengabarkan berita itu.
“Sejak Gusti Prabu melarang pertandingan adu hewan bertanduk, termasuk adu banteng, kebanyakan rakyat tidak lagi memelihara banteng sebagai hewan peliharaan. Kami lebih suka memelihara hewan jinak seperti kambing, sapi, kerbau, atau kuda. Selain bisa dimanfaatkan untuk membantu kita dalam bekerja, atau untuk diambil hasilnya, pemeliharaannya pun lebih mudah. Tidak seperti banteng yang cenderung lebih liar. Sekarang ini banteng-banteng lebih banyak hidup liar di hutan-hutan atau di padang-padang rumput bebas. Kalau toh masih ada yang memeliharanya, paling-paling cuma para pembesar, untuk dijadikan kelangenan,” kata pemilik kedai memberi penjelasan kepada Pangeran Lindu Aji.
“Selama saya berdagang keliling, saya belum pernah mendengar ada banteng mengamuk sehingga membuat kerusakan di mana-mana. Di kota dan di desa keadaannya aman-aman saja. Tapi entahlah kalau di padang rumput pinggir  hutan atau bahkan di tengah hutan sana, saya tidak tahu,”  kata salah seorang pedagang keliling yang sedang sama-sama makan di kedai pinggir jalan. Meskipun tidak menemukan banteng mengamuk yang sedang mereka cari, tetapi Pangeran Lindu Aji cukup senang berbincang-bincang dengan pemilik kedai dan para pembelinya. Terutama berbincang dengan pedagang keliling, Pangeran Lindu Aji merasa mendapat banyak pelajaran berharga mengenai kehidupan rakyat Arga Pura dari pedagang yang banyak menjelajah kota-kota dan desa-desa itu. Cerita pedagang keliling itu melengkapi hasil pengamatan yang telah ia lakukan selama dalam perjalanan ini. Atau justru menjadi penjelasan dari peristiwa atau keadaan yang ia lihat dalam perjalanan, yang semula belum diketahui maksudnya.
  Setelah merasa tidak mungkin menemukan banteng mengamuk di perkotaan dan di pedesaan, Pangeran Lindu Aji mengajak pengawalnya mencari di padang rumput di pinggir hutan. Namun karena hari sudah senja, Pangeran Lindu Aji mengajak para pengawalnya untuk mencari penginapan. Mereka akan istirahat dulu di penginapan malam itu, untuk mengumpulkan tenaga baru, karena besok mereka akan menjelajah padang-padang rumput dan hutan yang medannya lebih berat.
Pagi harinya, setelah cukup istirahat, sarapan di kedai, dan membawa bekal makan secukupnya, mereka melanjutkan perjalanan menuju padang rumput yang ditunjukkan pedagang keliling di kedai kemarin. Di padang rumput yang banyak ditumbuhi rumput-rumput segar ini mereka menemukan sekawanan banteng sedang merumput. Badan mereka besar-besar dan gemuk-gemuk. Mengikut di belakang induknya, anak-anak banteng yang masih kecil. Ada pula anak banteng yang sedang asyik menyusu kepada induknya. Mungkin ia merasa haus di tengah terik matahari.
Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru duduk-duduk berteduh di bawah pohon mahoni yang tumbuh di padang rumput itu. Mereka menanti lama kawanan banteng yang sedang merumput. Ia berharap di antara banteng-banteng itu ada yang bertarung karena memperebutkan makanan atau memperebutkan banteng betina. Pangeran Lindu Aji berharap, dalam pertarungan itu nanti ada banteng yang terluka lalu kesetanan dan mengamuk sejadi-jadinya, membunuh banteng musuhnya dan membuat kerusakan di mana-mana. Hingga ia pantas dibunuh sebagai jalan pangruwate kutukan yang disandangnya. Tapi ternyata sampai pegal-pegal mereka menunggu, tetap tak ada banteng yang bertarung dan jadi gila. Bahkan ketika matahari sudah mulai tegak di atas kepala, banteng-banteng itu bersama-sama berjalan menuju sungai untuk minum, melepaskan haus dan dahaga. Mereka tetap dalam keadaan rukun dalam kebersamaan.
Di sungai yang jernih airnya, banteng-banteng itu turun bersama-sama untuk minum dan membasahi tubuhnya yang kepanasan. Mereka tidak tahu kalau di seberang sungai itu ada seekor buaya yang sedang menunggu mangsa. Begitu banteng-banteng itu turun untuk minum dan membasahi tubuhnya, buaya itu bergerak pelan-pelan mendekati. Ada salah satu banteng yang mengetahui bahaya yang datang mengancam, maka ia segera meloncat menghindar untuk kemudian segera naik ke darat. Banteng-banteng yang terdesak oleh loncatan banteng ini jadi tahu apa yang terjadi. Secara reflek mereka berdesak-desakan bergerak mencari selamat. Mereka meloncat saling mendahului naik ke darat. Tetapi malang, salah satu anak banteng kena disambar buaya kakinya. Terlihat induknya kebingungan. Akan melawan buaya itu, melepaskan anaknya, ia tidak berani. Kalau tidak ditolong, kasihan anaknya dimakan buaya. Akhirnya ia hanya berjalan hilir mudik di sekitar tepian sungai. Hampir gila ia mencari cara untuk melepaskan anaknya dari mulut buaya.
Menyaksikan hal itu, Pangeran Lindu Aji melihat peluang akan jadi gilanya si induk banteng. Kalau ia biarkan saja mungkin banteng itu akan marah, lalu mengamuk karena kehilangan anaknya. Dan itu akan mengakhiri petualangannya selama ini, karena ia akan segera mendapatkan tumbal pangruwate kutuk yang disandangnya.  Tetapi demi melihat anak banteng yang meraung-raung ketakutan dan kesakitan, serta melihat induk banteng yang kebingungan, Pangeran Lindu Aji tidak tega mengambil keuntungan dari tragedi yang berlangsung di depan matanya. Ia segera memasang anak panah dan busurnya. Dengan cepat dipanahnya mulut buaya yang sedang menangkap kaki anak banteng itu. Tidak dikenakan telak, hanya disrempetkan moncongnya untuk menyakiti. Merasa sakit kena anak panah di moncongnya, biarpun hanya diserempetkan saja, dengan serta merta buaya mengerang kesakitan sambil mengangakan mulutnya. Maka anak banteng itupun segera terlepas dari mulut buaya, lalu melompat ke pinggir sungai yang lalu disambut induknya. Buaya yang kesakitan segera menyelam, berenang ke tengah sungai.
Pangeran Lindu Aji lega dapat membantu anak banteng lepas dari bahaya.
“Kenapa Pangeran Lindu Aji memanah buaya itu? Seharusnya Pangeran membiarkan anak banteng itu dimakan buaya. Kita lihat tadi itu induk banteng sudah hamper gila melihat anaknya dimakan buaya. Ia stress kebingungan akan membantu melepaskan anaknya tidak berani. Sayang sekali,” kata Ki Waru menyatakan penyesalannya atas tidakan yang telah diambil Pangeran Lindu Aji.
“Aku tidak tega, Paman, mendengar jerit kesaktan dan ketakutan binatang kecil yang tidak berdaya itu,” bela Pangeran Lindu Aji.
“Tapi ini sudah menjadi kodrat ketetapan Tuhan Penguasa Alam Semesta. Buaya itu makanannya adalah binatang. Salah satunya adalah banteng atau kijang yang sedang minum di sungai. Semuanya sudah diatur Yang Membuat Hidup.”
“Memang benar begitu, Paman. Tetapi aku tidak tega menyaksikan hukum rimba berlangsung di depan mataku, selagi aku dapat membantu yang lemah untuk lepas dari penindasan atau penganiayaan. Biarlah apa yang aku kerjakan menjadi amal kebajikanku terhadap kawanan banteng itu, meskipun hal itu berarti menyakiti buaya, dan hanya menunda jatah makannya.”
“Tetapi ini berarti kita kehilangan peluang kemungkinan induk banteng itu menjadi gila, marah dan mengamuk. Padahal inilah yang kita cari,” kata Ki Dadap.
“Tidak apa-apa. Paman! Aku berharap banteng gila dan mengamuk yang akan kita temui nanti adalah banteng yang sudah gila dan mengamuk, tanpa aku melihat prosesnya di depan mataku. Sehingga memang aku tidak kuasa untuk mencegahnya menjadi gila dan mengamuk,” kata Pangeran Lindu Aji menyatakan keikhlasannya peluang untuk membunuh banteng yang sedang mengamuk yang dicari-carinya selama ini hilang di hadapannya. Karena ia tidak rela peluang itu tercipta di atas penderitaan pihak lain yang seharusnya dapat ia tolong.
“Sekarang lebih baik kita mencari di tempat lain. Kita masuk ke hutan. Barangkali di sana akan dapat temukan banteng yang sedang mengamuk, karena gila setelah mengetahui anaknya dimakan harimau tanpa ada kerabatnya yang mau menolongnya,” ajak Pangeran Lindu Aji menyudahi perbedaan pendapat antara dirinya dan para pengawalnya. Ki Dadap dan Ki Waru menahan kekesalannya. Mereka menyadari kedudukannya. Tidak sepantasnya mereka berani menentang Pangeran Lindu Aji junjungannya. Untung Pangeran Lindu Aji orangnya sabar dan sangat membutuhkan bantuannya, sehingga mereka tidak kena marah.
“Maafkan kelancangan kami, yang telah berani bersikap kurang hormat terhadap Gusti Pangeran! Kami tidak akan mengulanginya lagi. Kami akan selalu bersikap hormat dan menurut apa yang menurut Pangeran Lindu Aji baik,” kata Ki Dadap dan ki Waru bersamaan mencoba memperbaiki sikapnya 
“Tidak apa-apa, Paman. Jangan sungkan! Kalau aku salah, kalian wajib mengingatkannya, karena aku ini orang yang kurang berpengalaman. Sedangkan Paman berdua adalah orang-orang yang sudah kenyang makan pahit manisnya garam kehidupan,” kata Pangeran Lindu Aji merendah agar para pengawalnya itu tidak terlalu sungkan, sehingga menjaga jarak terlalu jauh.
***
Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru melanjutkan perjalanan memasuki hutan. Jalanan tanah berkerikil yang membelah hutan belantara mereka lalui dengan hati-hati. Di kanan kiri jalan terlihat pepohonan besar tumbuh dengan bebas. Ada pohon jati, pohon mahoni, pohon trembesi, maupun pohon meranti dan pohon pinus. Semak-semak ilalang pun tumbuh subur di lereng-lereng jurang. Meskipun di tengah hutan, nampaknya jalan yang mereka lalui ini sudah biasa dilalui orang-orang yang terpaksa harus melewati hutan ini. Tetapi kelihatannya memang jarang ada orang yang berani melewati jalan di tengah hutan ini. Hal ini terbukti sudah beberapa jam mereka berjalan, belum ada satu orang pun berkuda atau naik kereta yang berpapasan atau melewatinya.
Semakin masuk ke dalam hutan langkah mereka semakin hati-hati. Suasana gelap karena semakin semakin padatnya pepohonan besar berjajar, sehingga daun-daunnya yang rimbun menutupi tanah jalanan di bawahnya. Angin sore bertiup membawa hawa sejuk mengusap kulit mereka yang berkeringat. Tiba-tiba mereka mendengar dari kejauhan teriakan-teriakan dan suara senjata beradu.
“Berhenti dulu, Paman. Aku seperti mendengar orang-orang berteriak-teriak dan suara senjata beradu,” kata Pangeran Lindu Aji mengajak pengawalnya berhenti.
“Kelihatannya ada yang sedang bertarung, Paman. Mari kita dekati, barangkali ada yang butuh pertolongan kita!” ajak Pangeran Lindu Aji kepada para pengawalnya.
“Baik, Pangeran. Tetapi Pangeran Lindu Aji harus hati-hati berjalan di belakangku. Karena ini sangat berbahaya,” kata Ki Dadap.
“Baiklah Paman, aku ikut di belakangmu.”
Mereka berjalan pelan-pelan dan hati-hati sambil berlindung di antara rimbun pepohonan menuju ke arah suara pertempuran. Beberapa langkah di depan mereka terlihat ada lapangan terbuka yang tidak begitu luas. Rupanya di situlah sumber suara pertempuran itu berasal. Mereka berjalan sembunyi-sembunyi mendekati tempat pertempuran. Setelah dekat, terlihat ada kereta penuh barang dagangan berhenti di pinggir jalan. Seorang laki-laki separo baya berpakaian bagus sedang duduk ketakutan di samping pak kusir yang juga menggigil ketakutan. Di depannya terlihat dua orang pengawal sedang bertempur dengan sekuat tenaga melawan empat orang perampok berwajah kasar. Ada lagi satu orang perampok yang juga berwajah kasar hanya berdiri saja mengawasi pertempuran. Sesekali ia memberi aba-aba anak buahnya untuk menggempur musuhnya, atau ia teriak-teriak untuk menkut-nakuti musuhnya, agar menyerah saja.
“Tidak ada gunanya kamu melawan. Kamu hanya berdua, sedangkan kami berlima. Dan kami sudah biasa mencegat orang yang lewat di hutan ini. Yang melawan tentu kami bunuh. Yang menyerah kami biarkan hidup. Kami biarkan melanjutkan perjalanannya, setelah aku suruh meninggalkan seluruh harta bendanya sebagai pajak di hutan ini. Ayo menyerahlah! Lihatlah dua orang temanmu, kusir dan juraganmu, yang tidak berani berperang. Kalau kelamaan mereka bisa mati kaku karena ketakutan,” teriak kepala perampok dari luar arena. 
“Kami dibayar untuk menjaga keselamatan pedagang dan dagangannya! Sebagai pengawal para pedagang, dicegat perampok, lalu bertempur mati-matian, itu sudah menjadi resiko pekerjaan kami. Jadi tidak usah kalian menakut-nakuti kami!” teriak salah seorang pengawal, yang meskipun agak keteteran bertempur satu lawan dua, tapi semangat tempurnya masih tinggi.
“Hahaha...hahaha… Jangan salah hitung kamu pengawal! Baru lawan anak buahku saja kamu sudah keteteran, apalagi kalau aku sudah turun tangan, tentu kalian akan segera putus lehernya satu persatu tertebas pedangku!” teriak kepala perampok menggertak para pengawal pedagang.
“Mati atau hidup dalam menjalankan tugas pengawalan sudah menjadi permainan hidup kami. Seperti halnya kalian para perampok yang suka bermain hidup mati dengan bertempur melawan para korbanmu. Hanya bedanya, kalian bisa memilih korbanmu. Kalau lebih kuat, kalian menghindar, tidak berani mencegat. Kalau lemah, kalian baru berani keluar petentang-petenteng mencegat. Itulah kelicikan kalian! Beraninya sembunyi-sembunyi, lalu baru berani keluar kalau sudah dapat memastikan diri lebih kuat dan akan menang!,” kata salah seorang pengawal sambil melompat ke samping menghindari  sabetan pedang salah seorang perampok yang mengeroyoknya.
“Setan alas! Kami bukan perampok pengecut seperti katamu! Siapapun dan berapapun orang yang lewat hutan ini pasti kami cegat untuk memungut pajak dari mereka. Hai… Setro, jangan biarkan pengawal itu mengumbar kata-kata, banyak mulut merendahkan kita! Cepat bungkam mulutnya dengan pedangmu! Kalau tidak mampu, mundur sajalah kamu, biar aku sendiri membungkam mulutnya yang pedas itu!” teriak kepala perampok memberi perintah kepada anak buahnya.
Setro, anak buah perampok yang tidak banyak cakap itu tidak ingin kehilangan muka di hadapan pemimpinnya. Ia segera meningkatkan serangannya. Demikian juga para perampok yang lainnya. Sehingga para pengawal yang sedari tadi sebetulnya juga sudah keteter itu semakin terdesak. Kekalahan tinggal menunggu waktu. 
Melihat keadaan pengawal pedagang sudah dalam keadaan kritis, Pangeran Lindu Aji segera memberi perintah kepada Ki Dadap dan Ki Waru, ”Paman berdua, agaknya para pengawal itu sangat membutuhkan pertolongan kita. Jangan sampai terlambat segeralah Bantu mereka! Aku akan sembunyi di sini.”
“Baiklah, Pangeran. Tapi Pangeran Lindu Aji harus sembunyi rapat-rapat! Jangan sampai ketahuan kepala perampok yang masih bebas belum mendapat musuh itu,” pesan Ki dadap.
“Jangan khawatir! Aku dapat menjaga diri.”
Kemudian dari balik gerumbul tanaman yang rimbun, Ki Dadap dan Ki Waru menampakkan diri lalu menghambur keluar untuk membantu pengawal pedagang yang hampir terkalahkan. Para pengawal kerajaan yang sudah terlatih berperang itu dengan pedang di tangan masing-masing, segera mengambil alih dua orang perampok yang tadi mengeroyok pengawal pedagang.
“Kurang ajar! Siapa kalian? Apakah kalian cari mampus? Sudah baik-baik sembunyi, sekarang bahkan menampakkan diri minta dipenggal kepalanya?” teriak salah seorang perampok yang sekarang menjadi lawan Ki Dadap.
“Kami orang yang kebetulan lewat di hutan ini. Tapi kami tidak rela melihat pembantaian di sini. Kalian para perampok tidak tahu malu! Dua orang pengawal mau kalian keroyok berlima,” jawab Ki dadap sambil menangkis sabetan pedang lawannya.
Mendapat tangkisan Ki Dadap, lawannya terkejut. Tangannya yang menggenggam pedang membabat sekuat tenaga, terasa pedih kesemutan, bagaikan membentur tembok batu raksasa. “Kuarang ajar! Tenaganya kuat juga! Tanganku sampai sakit,” umpatnya dalam hati. Ia menjadi lebih berhati-hati menghadapi lawan barunya. Pertempuran menjadi lebih imbang. Yang mendapat bantuan segera dapat bernafas lega, dan dapat menata kembali perlawanannya lebih baik. Sebentar saja para perampok itu ganti kelihatan terdesak.
Sedangkan kepala perampok, matanya tajam mengawasi arah datangnya bala bantuan. Ia khawatir jangan-jangan masih ada temannya yang datang membantu. Tetapi ia hanya melihat satu orang yang tetap bersembunyi di balik gerumbul itu. Sekilas ia melihat kilatan cahaya yang berasal dari gelang dan kalung yang dikenakan orang yang bersembunyi di balik gerumbul. Dasar perampok! Melihat cahaya besar menyilaukan dari barang berharga milik orang yang bersembunyi itu, timbul nafsunya untuk menguasai.
 “Gelang kalung orang yang bersembunyi itu pasti sangat mahal! Aku harus mendapatkannya,” katanya dalam hati. Ia segera berlari untuk menangkap orang yang bersembunyi itu.
Orang yang bersembunyi di balik gerumbul itu adalah Pangeran Lindu Aji. Menyadari bahwa dirinya belum bisa ilmu kanuragan, maka ia bermaksud terus bersembunyi di situ sampai para perampok itu terusir atau dapat dikalahkan. Dalam hati Pangeran Lindu Aji menyalahkan dirinya yang tidak mau belajar ilmu kanuragan, sehingga tidak dapat membantu orang yang sedang membutuhkan pertolongan dikeroyok perampok. Ia berjanji dalam hati, lain kali akan tekun mempelajari ilmu kanuragan untuk dapat melindungi rakyatnya yang tertidas.
Pangeran Lindu Aji melihat Kepala perampok semakin dekat ke arah persembunyiannya. Bagaimana ini? Pangeran Lindu Aji tidak dapat olah kanuragan, tentu dengan mudahnya akan dapat ditangkap dan dilucuti barang-barang perhiasan yang dikenakannya, atau bahkan mungkin dibunuh oleh kepala perampok itu. Pangeran Lindu Aji jadi bingung dan takut. Tapi harus tetap tenang dan tidak boleh panik. Tiba-tiba ia teringat pada ilmu bela diri satu-satunya yang sudah dipelajari sampai tingkat mahir, yaitu memanah. Tetapi apakah ia akan memanah dadanya atau kepalanya, biar kepala perampok itu mati? Rasa-rasanya ia tidak tega membunuh sesama manusia. Ia bukan perampok! Juga bukan prajurit yang pekerjaannya berperang saling membunuh! Tapi ia seorang pangeran yang lama hidup dalam pingitan. Hanya belajar berbagai ilmu pengetahuan, tapi bukan ilmu kanuragan. Ia tak pernah belajar yang berhubungan dengan kekerasan, apalagi sampai menghilangkan nyawa seseorang. Bagaimana ini? Pangeran Lindu Aji jadi bertambah bingung. Sementara kepala perampok yang sangat bernafsu untuk mendapatkan barang berharga yang dikenakan Pangeran Lindu Aji, semakin dekat. Akhirnya dengan tangan gemetar Pangeran Lindu Aji dalam persembunyiannya memasang panah pada tali busurnya. Ia segera menarik tali busur itu dan melepaskannya ke arah kepala perampok. Tapi sengaja tidak ia arahkan ke bagian yang mematikan, tapi ia arahkan ke bagian yang dapat menghentikan langkah kepala perampok itu. Dari balik gerumbul yang tidak kelihatan, anak panah melesat cepat mengarah ke paha kepala perampok.
“Aduuuuhhh…! Kurang ajar! Siapa ini memanah pahaku?” teriak kepala perampok mengaduh kesakitan. Tubuhnya roboh bergulingan di tanah. Tangannya memegangi pahanya yang tertembus anak panah. Darah mengucur deras dari lukanya.
“Tolong….! Hentikan pertempuran! Toooollloooong…..! Aduh….. sakit sekali! Toolooong…!  Selamatkan aku, bawa aku ke persembunyian kita! Setro! Bencok! Sentul! Bandol! Bawa aku pergi dari sini, cepat…… sebelum darahku terlalu banyak keluar!” perintah kepala perampok kepada anak buahnya sambil mengaduh kesakitan.
Yang dipanggil segera melepaskan lawan-lawannya, lalu berlari mendekati pemimpinnya. Mereka menggotongnya beramai-ramai berlari melewati gerumbul masuk ke tengah hutan yang lebat.
Pangearn Lindu Aji keluar dari gerumbul menuju ke kereta pedagang. Para pengawal, baik pengawal pedagang maupun pengawal Pangeran Lindu Aji melepaskan lawannya. Tidak mengejarnya. Mereka kemudian juga mendekati pedagang yang ada dalam kereta yang penuh barang dagangan berharga itu.
“Sudah. Sekarang sudah aman, juragan! Ini semua berkat pertolongan tuan-tuan ini. Terima kasih Tuan-tuan!” kata pengawal pedagang yang tertua.
“Ya, terima kasih Tuan-tuan!  Kalau Tuan-tuan tidak segera datang membantu, dan Tuan muda ini tidak segera memanah kepala perampok itu, barang dagangan saya ini akan habis mereka rampok! Atau bisa jadi kami semua akan mati mereka bunuh! Terima kasih Tuan-tuan telah sudi menyambung nyawa kami,” kata pedagang yang dipanggil juragan oleh para pengawal.
“Jangan berlebih-lebihan. Kami hanya kebetulan saja lewat hutan ini, dan dikirim oleh Yang Maha Agung untuk membantu kalian,” kata Ki Dadap. “Sekarang sudah sore. Sebentar lagi hari gelap. Sebaiknya jangan kalian lanjutkan perjalanan memasuki hutan di malam hari. Kita berkemah bersama-sama saja di sini. Besok pagi kita bisa melanjutkan perjalanan kembali,” lanjut Ki Dadap.
“Terima kasih atas saran Tuan. Kami pikir juga begitu. Sangat berbahaya perjalanan melewati hutan di malam hari. Apalagi kami hanya membawa dua orang pengawal. Sedangkan perampok di hutan ini kami tidak tahu berapa banyaknya,” kata juragan.
Mereka lalu saling memperkenalkan diri. Tetapi tentu saja Pangeran Lindu Aji yang sedang menyamar, tidak mengatakan nama dan asal-usulnya yang sebenarnya. Kemudian mereka mendirikan tenda di dekat kereta.
“Kami tidak dapat memberikan apa-apa kepada Tuan-tuan sekalian. Yang dapat kami berikan hanya ini,” kata juragan sambil menyajikan berbagai makanan untuk santap malam mereka bersama. Dengan lahap Ki dadap dan Ki Waru serta Pangeran Lindu Aji yang memperkenalkan diri dengan nama Aji saja, menyantap hidangan yang tersedia. Kemudian mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal dan pengalaman sebelum tiba saatnya untuk tidur. Ketika sudah tiba waktunya tidur, bergantian para pengawal tidur dan berjaga. Mereka membuat api unggun untuk menghangatkan diri dan mengusir binatang buas. Pada kesempatan berjaga bersama, Ki Waru sempat menanyakan kepada pengawal pedagang tentang adanya banteng yang sedang mengamuk.
“Selama kami berkeliling mengawal pedagang akhir-akhir ini, kami tidak melihat atau mendengar adanya banteng yang sedang mengamuk membuat kerusakan. Kelihatannya semua banteng yang kami temui di hutan atau di padang-padang rumput rukun-rukun dan baik-baik saja. Entahlah kalau ada yang sengaja memasukkan tanah ke telinga banteng itu, seperti yang pernah saya dengar dalam dongeng,” kata pengawal pedagang.
“Wah kalau itu, pasti Tuan Muda saya tidak mau. Tuan Muda saya sangat halus perasaannya. Tuan Muda mencari banteng mengamuk untuk dibunuh dalam rangka tapa brata untuk membuat jasa. Jadi yang dicari bukanlah banteng mengamuk karena gila dibuat sendiri dengan sengaja. Kami membunuhnya karena ia membuat kerusakan dan membahayakan keselamatan orang atau sesama. Tapi kalau mengamuknya sengaja kita sendiri yang membuat, berarti kita sudah mencelakai binatang yang tak berdosa itu. Jadi Tuan Muda pasti tidak mau membuat banteng jadi gila dan mengamuk untuk dibunuh.”  
“Kalau begitu, mohon maaf, saya tidak dapat membantu,” kata pengawal pedagang kecewa.
“Tidak apa-apa. Ini berarti petualangan kami masih panjang.”
***

PAGI HARINYA mereka membongkar tenda. Setelah sarapan pagi, mereka melanjutkan perjalanan masing-masing. Pedagang dan pengawalnya melalui jalur jalan yang biasa dilalui orang, sedangkan Pangeran Lindu Aji bersama pengawalnya menempuh jalan kecil yang justru semakin masuk ke tengah hutan yang lebat. Mereka berpendapat,  di tengah hutan yang lebat nanti akan dapat ditemui kawanan banteng yang satu diantaranya sedang mengamuk.
“Sebaiknya kita berjalan menyusuri sungai, Pangeran. Alasannya, seperti yang sudah kita saksikan bersama, tengah hari ketika panas terik, banteng-banteng itu tentu akan kehausan dan kepanasan. Mereka tentu akan berbondong-bondong mencari sungai untuk minum dan mendinginkan tubuhnya biar segar kembali. Kemudian kalau ada salah satu yang dimakan buaya seperti yang sudah kita saksikan, kemungkinan induknya akan menjadi setres, gila, dan mengamuk. Nah itulah saatnya kita akan membunuh banteng yang mengamuk itu,” usul Ki Dadap.
“Tetapi untuk menyusuri tepian sungai itu tidak mudah. Jalannya terjal dan banyak pepohonan yang rapat. Serta sangat berbahaya, karena ada kemungkinan bertemu dengan buaya atau ular yang belum tentu  kita ketahui persembunyiannya. Oleh karena itu saya tidak setuju usul Ki Dadap! Saya mengusulkan, berjalan menerobos hutan lebat, berharap akan sampai ke padang rumput yang di sana ada kawanan banteng sedang merumput. Lalu satu di antaranya ada yang mati diterkam harimau. Sehingga induknya menjadi setres, gila dan mengamuk karena kehilangan anaknya, dan tidak dapat melindunginya,” usul Ki Waru.
“Baiklah kalau begitu, aku setuju usul Paman Waru. Tetapi kita berjalan dekat sungai, ya harus pasang mata dan telinga, barangkali di sana ada banteng yang gila dan mengamuk karena kehilangan salah satu anggota keluarganya dimakan ular atau buaya,” kata Pangeran Lindu Aji menengahi.
  Mereka lalu berjalan menyusuri jalan di tengah hutan. Dan akhirnya mereka memang juga menemukan kawanan banteng yang sedang merumput di padang rumput yang luas. Tapi setelah ditunggu-tunggu sampai tengah hari dan panas terik, ternyata tak ada banteng yang sedang mengamuk. Mereka justru asyik makan rumput dengan lahapnya. Setelah kenyang makan rumput, mereka berbondong-bondong minum di sungai yang ada di dekat padang rumput itu. Di sana pun mereka tidak bertemu dengan buaya yang sedang menunggu mangsa. Setelah selesai minum, banteng-banteng itu mencari tempat yang agak lindung untuk beristirahat, mendekam sambil memamah biak. Hidup mereka kelihatan tenang, tentram, dan damai.
Justru Pangeran Lindu Aji bersama pengawalnya kini yang merasa kepanasan dan kehausan. Bekal minumnya sudah habis karena selama dalam perjalanan dan kemudian menunggu berlama-lama di padang rumput itu, mereka merasa kepanasan dan kehausan. Sehingga untuk menghilangkan dahaga, mereka habiskan bekal minumnya. 
“Paman Dadap dan Paman Waru, aku sangat haus sekali! Mari kita mencari sendang untuk minum, membasuh muka, dan mengisi bekal minum kita,” ajak Pangeran Lindu Aji.
“Di sana saja, Pangeran, di sungai tempat banteng-banteng tadi minum,” usul Ki Waru.
“Jangan di sana! Kotor! Tadi kan baru saja digunakan banteng-banteng itu untuk minum, berkubang, dan mungkin juga buang kotoran dan kencing. Hiii… jijik!” Ki Dadap menolak.
“Lha terus kemana, Paman, kalau ke sungai tidak boleh?” tanya Pangeran Lindu Aji bingung.
 “Di sana saja, Pangeran!” kata Ki  Dadap sambil tangannya menunjuk arah gerumbul pepohonan besar agak jauh di seberang padang rumput. “Biasanya kalau di atasnya ada gerumbulan pohon besar seperti itu, di bawahnya sering ada mata airnya. Tentu airnya lebih jernih, segar dan menyehatkan. Tidak seperti sungai yang membawa bermacam-macam kotoran.”
“Kalau begitu mari kita segera ke sana!” ajak Pangeran Lindu Aji. Mereka bertiga segera berjalan menuju ke arah yang ditunjukkan Ki Dadap. Benar juga, ternyata di bawah pohon beringin yang besar, yang juga ditumbuhi bermacam-macam pohon yang besar seperti pohon trembesi dan pohon randu alas, ada sebuah sendang yang jernih airnya. Mata airnya cukup besar sehingga sendang itu mengalirkan airnya yang jernih ke sungai di bawahnya. Pangeran Lindu Aji ingin segera turun ke sendang untuk minum dan membasuh mukanya yang kering kepanasan. Tapi tiba-tiba…
“Seeettt…” Ki Dadap memberi isyarat supaya berhenti sambil menarik lengan Pangeran Lindu Aji. Ki Waru pun berhenti. Mereka mendengar sesuatu yang merdu dari dalam sendang di bawah sana.
“Apa itu, Paman?” Tanya Pangeran Lindu Aji yang baru sekali itu mendengar suara aneh seperti itu.
“Itu adalah suara orang sedang mandi ciblon. Itu suara kecipak kecipuk kecipak keciblung tangan menepuk-nepuk air lalu meninjukan kepalan tangan ke dalam air. Agaknya sedang ada orang mandi di sendang. Tidak baik kalau kita terus turun ke sendang. Ya kalau yang mandi itu seorang laki-laki, tidak apa-apa. Tetapi kalau seorang perempuan? Bisa berabe! Bisa-bisa kita dianggap orang yang tidak sopan, tidak tahu aturan! Lebih baik kita tunggu di balik gerumbul sini saja,” kata Ki Dadap pelan-pelan setengah berbisik. Pangeran Lindu Aji menurut. Ki Waru yang berusaha mencuri lihat dari balik gerumbul ditarik dan dimarahi oleh Ki Dadap, “Jangan memberi contoh yang tidak baik kepada Gusti Pangeran! Ayo sama-sama kita tunggu di sana!” Terpaksa Ki Waru mengikuti Ki Dadap dan Pangeran Lindu Aji yang berjalan menuju di bawah pohon di pinggir jalan untuk menunggu sambil berteduh.
Setelah puas bermain-main, suara orang mandi sambil ciblon itupun berhenti. Tak berapa lama kemudian, muncul seorang gadis yang hanya mengenakan kain pinjung tanpa baju. Tangannya mengindit bakul penuh berisi cucian pakaian. Rambut, kepala dan tubuhnya basah bekas mandi. Demikian pula wajahnya yang memancarkan sinar kecantikan, basah meneteskan air berkilau-kilauan tertimpa sinar matahari, menambah kecantikannya. Tahu ada orang-orang yang memperhatikannya di pinggir jalan, ia merasa malu. Gadis itu berjalan menundukkan kepala, lalu bergegas ingin cepat-cepat menghilang dari pandangan orang-orang yang tak dikenalnya itu.
Pangeran Lindu Aji yang menyaksikan gadis habis mandi berkain pinjung, untuk pertama kalinya, jadi terpesona. Apalagi gadis itu memang amat cantik. Kulitnya kuning, hidungnya mancung, bibirnya mungil, pipi dan dagunya nampak indah serasi. Matanya, biarpun tadi selalu menunduk, tetapi sempat sekilas memandang, kelihatannya indah cemerlang. Lalu susunya yang montok, dan pinggulnya yang sintal, serasi benar dengan potongan tubuhnya yang tinggi semampai. Ingin rasanya ia mencegat untuk mengajak berkenalan. Tapi ketika kakinya sudah mulai melangkah, tiba-tiba tangannya dipegang Ki Dadap.
“Jangan, Pangeran! Tidak baik kita mencegat gadis di jalanan. Nanti kita dikira orang yang tak tahu sopan santun,” cegah Ki Dadap.
“Aku hanya ingin berkenalan, Paman. Aku tidak akan berbuat macam-macam.”
“Benar, Pangeran. Tetapi kita lihat gadis itu. Ia berpakaian tidak layaknya bertemu dengan seorang laki-laki di jalanan. Ia merasa malu. Kasihan. Lebih baik kita ikuti saja dari kejauhan. Kalau kita sudah tahu rumahnya, kalau Pangeran Lindu Aji betul-betul ingin kenalan, nanti kita datangi rumahnya baik-baik. Sekalian kita berkenalan dengan orang tuanya,” nasihat Ki Dadap.
“Iya, Pangeran. Lebih baik mari kita ikuti dari jarak jauh. Setelah tahu rumahnya, kita kembali lagi ke sendang ini untuk membasuh muka dan mencuci tangan kaki kita. Lihatlah, tubuh kita kotor penuh debu! Kalau perlu kita mandi sekalian di sendang ini. Biar segar tubuh kita. Agar tidak malu bertemu dengan gadis cantik,” kata Ki Waru menambahkan.
Pangeran Lindu Aji melihat tangan dan kakinya yang kotor berdebu. Ia juga memandang ke wajah-wajah para pengawalnya yang nampak kusam dan kotor. Pangeran Lindu Aji bercermin pada muka para pengawalnya, terasa penat di sekujur tubuhnya. 
“Baiklah, Paman. Sekarang aku minta Paman Dadap dan Paman Waru saja yang membuntuti gadis itu. Sementara aku akan turun ke sendang untuk mandi terlebih dahulu. Biar segar tubuhku. Lalu setelah Paman berdua tahu rumah gadis itu, segera saja Paman menyusul aku ke sendang untuk mandi. Setelah itu kita bersama-sama ke rumah gadis cantik itu untuk bertemu.”
“Setuju! Itu lebih baik, Pangeran,” kata Ki Dadap.
“Nanti dulu! Tapi kenapa tidak Ki Dadap saja yang membuntuti? Sedangkan aku, lebih baik aku menemani Pangeran Lindu Aji ciblon di sendang,” usul Ki Waru.
“Tidak, Paman! Kalian berdua yang membuntuti gadis itu. Aku akan mandi sendiri!” kata Pangeran Lindu Aji agak keras.
“Ya sudah kalau begitu aku menurut saja,” Ki Waru akhirnya menyerah.

***
NB: Novel ini belum pernah diterbitkan. Penulis mencari penerbit yang bersedia menerbitkannya sebagai buku. Terima kasih.

                                           Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 5"

Post a Comment