Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 6

Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 6
Oleh Sutardi MS Dihardjo:

6
BERGURU KEPADA KYAI SIDIK PANINGAL


Pangeran Lindu Aji bersama para pengawalnya sampai di depan regol sebuah padepokan. Seorang cantrik menyambutnya.
“Mari, Kisanak, silakan masuk! Kyai sudah menunggu dari tadi,” sapa cantrik itu mempersilakan. Pangeran Lindu Aji bersama para pengawalnya berpandang-pandangan. Mereka tak habis mengerti, kenapa Kyai pemilik padepokan ini sudah tahu kedatangannya sebelumnya? Mungkinkah gadis itu yang memberitahukannya? Ataukah benar-benar Kyai itu seorang yang waskita, tahu hal-hal yang akan terjadi?
Rombongan Pangeran Lindu Aji memasuki halaman padepokan. Ia menebarkan pandangan ke sekeliling. Pekarangan yang luas dipagari tembok berkeliling. Di dalamnya ada halaman yang luas, agaknya tempat para cantrik berlatih ilmu kanuragan. Di depannya, terlihat rumah utama yang besar dengan pendopo berbentuk joglo di depannya. Di samping rumah utama, sebelah kanan terlihat ada rumah  berkamar-kamar, mungkin asrama para cantrik. Sedangkan di sebelah kiri, terlihat kebun sayur dan buah-buahan yang rindang. Terasa sejuk dan nyaman. Melihat pagar yang mengelilinginya, agaknya di belakang rumah utama masih ada lagi beberapa bangunan.
“Mari, silakan duduk Kisanak!” sambut seorang tua yang rambutnya sudah putih beruban, tetapi wajahnya memancarkan sinar kewibawaan yang kuat. Meskipun sudah tua, sudah jauh melampaui paruh baya, tetapi badannya yang kekar masih terlihat kuat. Orang tua itu, yang agaknya adalah Kyai pemilik padepokan ini, duduk di selembar tikar pandan yang cukup lebar di pendopo padepokan.
“Terima kasih, Kyai,” balas para pengawal, yang segera diikuti Pangeran Lindu Aji. Mereka segera duduk dengan sikap penuh hormat di depan Kyai. Salah seorang cantrik mengeluarkan minuman air teh hangat dan beberapa potong ubi rebus yang masih mengepulkan asap.
“Silakan diminum tehnya Kisanak! Dan mohon dicicipi juga ubi rebusnya. Saya yakin Kisanak-Kisanak tentu lelah, haus dan sedikit lapar setelah menempuh perjalanan jauh yang melelahkan. Minuman dan makanan ala kadarnya ini saya harap dapat sedikit menghilangkan rasa lapar dan haus yang Kisanak rasakan. Dan mohon maaf kalau tempat dan hidangan yang kami sajikan kurang memuaskan Kisanak sekalian,” kata Kyai pemilik padepokan merendah.
“Jangan merendah, Kyai. Kami rasa ini semua sudah lebih baik dari pada apa yang kami peroleh di hutan atau di padang rumput,” kata Ki Waru.
“Kalau boleh kami tahu, siapa dan dari mana Kisanak-Kisanak yang terhormat ini? Apakah gerangan yang  Kisanak cari hingga harus bersusah-susah menjelajahi hutan  dan padang-padang rumput, kalau boleh saya tahu pula?” tanya Kyai yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu setelah tamu-tamunya menikmati hidangan yang disajikannya.
“Apakah kami perlu menjawab pertanyaan Kyai? Bukankah Kyai orang yang waskita? Orang yang dikaruniai kemampuan untuk melihat segala sesuatu yang sudah terjadi dan yang akan terjadi?” tanya Ki Dadap dalam sikap hormat.
“Saya bukan seorang dewa, Kisanak. Saya hanya orang biasa. Lagipula seandainya saya memang orang yang waskita, yang tahu sadurunge winarah, saya tidak boleh mendahului Yang Maha Kuasa. Jadi saya mohon, Kisanak mengatakan saja, jangan berteka-teki,” pinta Kyai.
“Baiklah, Kyai. Kalau kami sembunyikan pun tentu Kyai akan tahu juga. Lebih baik kami katakan terus terang. Kami adalah orang-orang dari Kotaraja Kerajaan Arga Pura. Tuan Muda kami ini adalah Gusti Pangeran Lindu Aji, putera satu-satunya Prabu Reksa Buwana. Sedangkan kami berdua adalah para pengawalnya, prajurit pengawal pribadi keluarga raja. Saya sendiri bernama Ki Dadap, sedangkan teman saya ini bernama Ki Waru. Adapun tujuan kami sampai jauh menjelajahi hutan-hutan dan padang-padang rumput adalah mencari banteng yang sedang mengamuk,” kata Ki Dadap menjelaskan.
“Mohon ampun, Gusti Pangeran Lindu Aji! Hamba tidak tahu kalau saat ini hamba sedang berhadapan dengan Pangeran Lindu Aji junjungan hamba! Orang tua yang tak tahu diri ini memang pantas mendapat hukuman. Mohon maaf, Tuan-tuan yang pantas kami hormati, kalau sambutan kami terhadap Tuan-tuan dianggap kurang sopan dan kurang pantas. Memang hanya seperti ini sajalah yang dapat kami berikan selaku orang desa yang tinggal jauh di udik,” kata Kyai pemilik padepokan lebih merendah.
“Sudahlah, Kyai! Jangan sungkan! Begini saja kami sudah merasa banyak berterima kasih kepada Kyai,” kata Pangeran Lindu Aji.
“Oh iya, tadi Tuan Pengawal ….” kata Kyai.
“Panggil saja namaku Ki Dadap, Kyai! Saya tidak pantas dipanggil tuan oleh Kyai yang sangat kami hormati,” potong Ki Dadap.
“Ya, baiklah. Tadi Ki Dadap mengatakan kalau perjalanan Gusti Pangeran Lindu Aji bersama Ki Dadap dan Ki Waru ini adalah untuk mencari banteng yang sedang mengamuk. Lalu untuk apa Gusti Pangeran Lindu Aji mencari banteng yang sedang mengamuk?” Tanya Kyai.
“Cari banteng yang sedang mengamuk, ya untuk dibunuh,” kata Ki Waru.
“Kenapa jauh-jauh dari Kotaraja hanya untuk membunuh banteng yang sedang mengamuk? Kenapa tidak memerintahkan para perjurit saja untuk membunuhnya, kalau mendengar kabar ada banteng yang sedang mengamuk? Bukankah perjalanan mengembara, menjelajah hutan dan padang rumput untuk mencari banteng yang sedang mengamuk, apalagi kemudian membunuhnya, adalah perbuatan yang sangat berbahaya?” tanya Kyai lebih jauh.
Ki Dadap dan Ki Waru berpandang-pandangan, saling melemparkan jawab pertanyaan yang tak dimengertinya itu. Mereka berdua hanya diperintahkan mengawal, menjaga dan melindungi Pangeran Lindu Aji dalam perjalanannya mencari banteng yang sedang mengamuk. Sedangkan tujuan yang sebenarnya mereka tidak tahu. Sementara itu Pangeran Lindu Aji sendiri juga kebingungan. Akan berkata terus terang, takut melanggar pantangan, membuka rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya. Ia tidak berani membuka aib dirinya, yang juga merupakan aib keluarga dan aib negara. Pangeran Lindu Aji jadi bingung. Lalu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Kyai yang waskita ini? Bukankah meskipun disembunyikan rapat-rapat, orang tua yang waskita ini juga tetap akan tahu? Tapi… bukankah meskipun sudah tahu, seperti katanya sendiri baru saja, Kyai yang rendah hati ini juga tidak ingin mendahului mengatakannya sendiri? Akhirnya Pangeran Lindu Aji memutuskan untuk menempuh jalan dora sembada.
“Saya diperintahkan untuk melakukan tapa brata, Kyai. Membantu yang lemah dan tertindas, dan memberantas atau menyadarkan yang kuat yang menindas. Di antaranya adalah membunuh banteng yang sedang mengamuk, membuat teror dan kerusakan di mana-mana, serta membahayakan keselamatan orang dan sesama. Sebagai bukti saya harus dapat membawa kulit banteng itu untuk dipersembahkan kepada Gusti Ayahanda Raja,” kata Pangeran Lindu Aji dengan suara mantap meyakinkan.
“Apakah Kyai tahu di mana kami dapat menemukan banteng yang sedang mengamuk?” tanya Pangeran Lindu Aji kemudian.
“Tidak, Pangeran Lindu Aji, hamba tidak tahu di mana ada banteng yang sedang mengamuk saat ini. Tadi hamba dengar Pangeran Lindu Aji akan berbuat kebajikan menolong yang lemah yang tertindas, dan memberantas atau menyadarkan yang kuat yang menindas. Suatu perbuatan terpuji tetapi penuh bahaya. Apakah Pangeran Lindu Aji sudah cukup bekal untuk melakukannya? Apakah Pangeran Lindu Aji mempunyai ilmu kanuragan yang mumpuni untuk melakukan hal itu? Dan apakah Pangeran Lindu Aji sudah punya bekal pengetahuan untuk mengetahui liku-liku perbuatan jahat, yang mungkin diselubungi dengan beraneka kepura-puraan? Sehingga mungkin perbuatan jahat itu tidak nampak jahat, tetapi mungkin justru tersembunyi di balik sikap manis dan menyenangkan. Apakah Pangeran Lindu Aji sudah cukup mempunyai pengetahuan tentang kebijaksanaan, yang akan membimbing Pangeran Lindu Aji memilih satu pilihan di anatara dua atau lebih pilihan yang sulit?”
Pangeran Lindu Aji diam saja. Dalam hati mengakui bahwa masih banyak kekurangan pada dirinya. Masih sangat kurang bekal yang dibawanya untuk menjaga dirinya dalam pengembaraannya. Ia jadi ingat perjalanan yang telah dilakukannya. Bagaimana perampok ganas dan kasar telah mengancam jiwa pedagang dan dirinya juga, sementara ia tidak mampu bertarung menghadapi perampok itu. Untung ia mempunyai bekal keahlian memanah. Seandainya jumlah perampok itu jauh lebih banyak, hanya dengan satu keahlian ilmu bela diri semacam itu, apa yang dapat ia kerjakan? Menyadari kekurangan yang ada pada dirinya, dan menyadari di mana kini ia berada, Pangeran Lindu Aji jadi melihat adanya peluang untuk menambah bekal ilmunya.
“Kalau Kyai tidak keberatan, saya ingin belajar berbagai ilmu di padepokan ini. Apakah Kyai sudi menerima saya belajar di sini? Tapi sebelumnya, bolehkah saya tahu siapa nama Gusti Kyai? Dan apa nama padepokan ini?” tanya Pangeran Lindu Aji.
“Kalau memang Pangeran Lindu Aji menghendaki, hamba tidak keberatan mengajarkan ilmu hamba yang tak seberapa. Silakan Pangeran Lindu Aji dan para pengawal menambah bekal ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu lainnya di padepokan ini. Adapun nama padepokan ini adalah Padepokan Sendang Asih. Sedangkan nama hamba adalah Kyai Sidik Paningal.”
Kemudian Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru diterima sebagai siswa di Padepokan Sendang Asih. Mereka mendapat kamar sendiri-sendiri sebagai asrama. Pangeran Lindu Aji, sesuai dengan kedudukannya, menempati kamar yang paling baik dan paling luas. Hari berikutnya mereka sudah mulai belajar bersama para cantrik. Tetapi dasar Pangeran Lindu Aji punya darah keturunan kesatria pilihan, mempunyai daya tangkap yang jauh lebih baik dibanding mereka yang sama-sama belajar. Sehingga dengan cepat meninggalkan kawan-kawannya dalam belajar. Oleh karena itu waktu dan tempat belajar Pangeran Lindu Aji pun dipisah, tidak jadi satu.
***
Tak terasa tiga tahun telah berlalu. Semua ilmu kanuragan yang dimiliki Kyai Sidik Paningal sudah dikuasai Pangeran Lindu Aji.  Bahkan ilmu simpanan Sang Kyai pun sudah diberikan kepada Pangeran Lindu Aji. Ilmu tenaga dalam maupun jurus-jurus pukulan tangan kosong dan jurus menggunakan pedang, keris ataupun tombak, semuanya telah ia kuasai. Tinggal melatih kecepatan gerak, tenaga pukulan, dan ketrampilan memainkan senjata dalam berbagai gaya. Yang semuanya itu akan dapat diperoleh apabila Pangeran Lindu Aji giat berlatih seiring berjalannya waktu. Akan lebih baik lagi apabila sering terasah dalam pertempuran yang sesungguhnya.
Mengenai ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu kemasyarakatan, ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, ilmu kebijaksanaan, maupun ilmu agama, sebetulnya semua itu telah ia pelajari di perpustakaan negara. Cuma di sini, Pangeran Lindu Aji mendapat petunjuk-petunjuk berharga melalui berbagai contoh dan kasus yang diajarkan Kyai. Sehingga ilmu-ilmu itu semakin lengkap, mengendap dan matang dalam diri Pangeran Lindu Aji.
***
Seiring dengan kemajuan yang diperoleh Pangeran Lindu Aji dalam belajar ilmu kanuragan dan berbagai ilmu pengetahuan di Padepokan Sendang Asih, pergaulan Pangeran Lindu Aji dengan para cantrik dan puteri Kyai Sidik Paningal pun semakin akrab. Puteri Kyai yang ternyata bernama Dewi Pratiwi, yang dahulu bersikap malu-malu ketika bertemu di sendang sehabis mandi, kini tidak malu lagi untuk bercakap-cakap berdua saja dengan Pangeran Lindu Aji di taman atau di kebun di samping rumah utama. Mereka berdua sering bercanda ria sambil mempercakapkan berbagai hal  ketika sedang bekerja memetik sayur-sayuran atau menyiangi rumput di kebun.
Pada suatu hari, setelah mereka berdua selesai memetik sayur untuk makan siang  hari itu, Pangeran Lindu Aji dan Dewi Pratiwi duduk berdua di bawah pohon jambu yang tumbuh di kebun. Pangeran Lindu Aji yang sudah lama memendam rasa cinta kepada Dewi Pratiwi, sudah berencana ingin menyatakan cintanya pagi hari ini. Ia sudah berencana, sebelum menyelesaikan seluruh pelajarannya di padepokan ini, sebelum ia harus pergi melanjutkan pengembaraannya mencari banteng yang sedang mengamuk, ia harus sudah terlebih dahulu melahirkan rasa cintanya kepada puteri Kyai yang menjadi idaman hatinya itu.  Semalam kata-kata manis memikat sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, ditata kata per kata, kalimat per kalimat, agar mengesan di hati Dewi Pratiwi. Kata-kata yang bukan lagi sendau-gurau atau canda-ria, tetapi kata-kata serius yang tulus keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Kata-kata yang penuh janji dan pengharapan, serta mempunyai tujuan mulia. Yaitu keinginan untuk membentuk rumah tangga yang bahagia, saling mencintai, menyayangi, menghargai, dan menghormati.
Tapi ternyata kata-kata yang sudah tersusun rapi, tinggal mengeluarkan satu persatu, di hadapan Dewi Pratiwi, wanita anggun yang memancarkan pesona tak terkira ini jadi berantakan tak terkatakan. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ketika keduanya berkata-kata ringan dalam sendau-gurau, di mana kata-kata mengalir lancar tiada beban, kini ketika kata-kata itu penuh dengan muatan perasaan dan harapan, semuanya jadi macet. Sehingga Pangeran Lindu Aji hanya terdiam beberapa lama, tersandra oleh perasaannya sendiri.
“Ada apa, Pangeran? Kenapa Pangeran Lindu Aji menghentikan langkahku, dan hanya mengajakku berdiam diri di bawah pohon jambu ini?” Tanya Dewi Pratiwi memecah keheningan.
Pangeran Lindu Aji tergeragap, terbangun dari lamunannya sendiri. Bingung mencari untaian kata-kata yang terserak yang tak diketahui di mana tempat persembunyiannya. Setelah berdiam sejenak akhirnya ia menemukan beberapa butir yang masih tersisa.
“Dinda Dewi Pratiwi, sudah lama kita berkenalan, dan sudah lama pula kita bergaul akrab. Kita sudah tahu kepribadian, sifat dan watak masing-masing. Meskipun kita mungkin masih menyembunyikan sesuatu dalam diri kita yang sifatnya pribadi dan rahasia….” Kata-kata Pangeran Lindu Aji tiba-tiba terhenti ketika ia ingat pada tanduk di kepalanya.
”Jujur saja, sebenarnya sudah sejak pandangan pertama, ketika aku melihat Dinda pulang dari mandi dan mencuci pakaian di Sendang Asih, hatiku sangat tertarik kepada Dinda. Penampilan Dinda yang anggun mempesona, meskipun hanya dibalut kain pinjung sederhana, justru memikat hatiku. Keaslian yang memancarkan sinar kecantikan tanpa polesan bedak, gincu, celak maupun pemerah bibir, tapi justru dihiasi butiran-butiran air bekas mandi yang bergulir menetes dari rambut dan tubuh Dinda yang masih basah, telah menuntunku ke padepokan ini,” lanjut Pangeran Lindu Aji.
“Setelah lama bergaul di padepokan ini, ternyata perasaan itu tidak luntur menyaksikan keseharianmu yang penuh kesederhanaan. Tapi diam-diam justru berkembang memenuhi hatiku. Menjadi bunga angan dalam sendiri lebih-lebih ketika menjelang tidur. Bahkan dalam tidur pun hasratku untuk bersanding denganmu pun terus menghiasi mimpiku.”
Dewi Pratiwi hanya diam membeku. Jari jemarinya mempermainkan ujung baju kebayanya. Ia tidak berani berkomentar menyela. Ini bukan saatnya bercanda. Perasaan senang bercampur malu dan takut bergalau di hatinya.
“Kalau memang Dinda belum mempunyai tunangan, yang mungkin belum aku ketahui, perkenankanlah saat ini aku menyatakan cintaku padamu. Maukah Dinda hidup bersama denganku sebagai suami istri? Kalau Tuhan menghendaki, kelak aku menjadi raja dan Dinda menjadi permaisurinya. Sepulang dari pengembaraanku menunaikan tugas yang dibebankan Rama Prabu kepadaku, aku akan melamarmu di hadapan Kyai Sidik Paningal,” kata Pangeran Lindu Aji mantap.
Sekali lagi Dewi Pratiwi masih diam membeku. Meskipun ia merasa saat-saat seperti ini pasti akan datang, menilik sikap Pangeran Lindu Aji terhadap dirinya selama ini, tak urung ia jadi canggung dan bingung juga. Ada sesuatu yang memberati dirinya. Ia menyadari dirinya hanyalah seorang puteri pemilik padepokan kecil di lereng gunung. Orang tuanya pun tinggal bapa saja, ibunya sudah lama tiada, sejak dirinya masih kecil. Sehari-hari dirinya jauh dari kehidupan perkotaan yang penuh aturan tata karma dan suba sita. Bagaimana ia akan hidup di lingkungan istana, berada di antara raja, permaisuri dan para pembesar? Ia akan merasa asing dan canggung. Bagaimana ia akan menyesuaikan dengan lingkungan seperti itu? Rasanya lebih senang ia, seandainya Pangeran Lindu Aji yang ia kagumi itu benar melamarnya, tetapi tetap tinggal di padepokan, menjadi penerus padepokan apabila Kyai Sidik Paningal sudah surut nanti. Ia akan merasa lebih berbahagia hidup bersama kekasihnya di lingkungan padepokan yang sudah diakrabinya.
Sikap diam Dewi Pratiwi menimbulkan penafsiran bermacam-macam dalam pikiran Pangeran Lindu Aji. Mungkinkah Dewi Pratiwi secara diam-diam sudah ditunangkan dengan pemuda lain putera pimpinan padepokan saudara seperguruan Kyai Sidik Paningal? Mungkin Kyai Sidik Paningal tidak mau mengatakannya karena takut mengganggu semangat belajar Pangeran Lindu Aji. Hubungan Dewi Pratiwi dengan dirinya yang semakin dekat mungkin diharapkan Kyai Sidik Paningal menjadi spirit belajar dirinya di padepokan itu. “Betulkah demikian? Kalau memang demikian, berarti harapanku selama ini adalah harapan kosong. Seperti fatamorgana, yang kelihatan ada, tetapi setelah didekati ternyata tidak ada apa-apa,” kata Pangeran Lindu Aji dalam hati.
“Atau mungkinkah wajahku ini kurang tampan? Aku kurang gagah? Apakah mungkin ada pemuda lain yang lebih gagah dan tampan yang telah memikat hatinya? Atau mungkinkah dia telah tahu kalau aku ini bertanduk?” Tiba-tiba penyakit Pangeran Lindu Aji yang telah lama dilupakan selama ia berguru di Padepokan Sendang Asih, kambuh lagi. Rasa minder, rendah diri karena menyandang kutukan tumbuh dua tanduk di kepalanya, kembali mencekam dirinya! Tiba-tiba rasa gatal yang amat sangat, bersamaan dengan menggeliat-geliatnya tanduk di kepalanya, sangat menyiksa dirinya. Pangeran Lindu Aji tidak tahan lagi. Ia berteriak-teriak mengaduh kesakitan, memegangi kepalanya sambil berlari masuk ke kamarnya. Di kamarnya ia melepas ikat kepalanya, lalu menggaruki kepalanya sambil menangis berteriak-teriak  kesakitan. Ternyata tanduknya yang sudah lama tidak tumbuh kini tumbuh memanjang dengan cepat.
Di luar, Dewi Pratiwi terbengong-bengong tak mengerti. Apa sesungguhnya yang terjadi pada Pangeran Lindu Aji? Ia merasa tidak mengapa-mengapa. Ia juga tidak melihat apa-apa yang mungkin menyebabkan Pangeran Lindu Aji kesakitan. Tetapi kenapa Pangeran Lindu Aji yang gagah itu  tiba-tiba berteriak-teriak menangis kesakitan, seolah-olah ada sesuatu yang terjadi? Dewi Pratiwi jadi khawatir. Ia berlari mengikuti masuk ke kamar Pangeran Lindu Aji. Begitu masuk, Dewi Pratiwi terkejut melihat dua tanduk sejengkal panjangnya di kepala Pangeran Lindu Aji yang dikaguminya.  Hampir saja ia menjerit melihat hal itu. Tetapi ketika mulutnya baru saja akan terbuka, tiba-tiba Pangeran Lindu Aji meloncat membungkam mulutnya. Pangeran Lindu Aji menyadari kalau rahasianya sekarang sudah diketahui orang lain. Aneh, rasa gatal di kepalanya tiba-tiba lenyap. Ketika tangannya meraba kepala, ia jadi kecewa, ternyata tanduknya masih utuh bahkan menjadi sejengkal panjangnya.
“Adinda, aku berpesan jangan sampai rahasia ini diceritakan kepada orang lain. Kalau sampai ada orang lain yang kamu beri tahu, kamu akan dihukum mati, karena mencemarkan nama Pangeran Lindu Aji dan kerajaan,” kata Pangeran Lindu Aji. Dewi Pratiwi hanya mengangguk, tak bisa berkata-kata.
Rasa kecewa dan rendah diri menjajah hati Pangeran Lindu Aji. Ia tak ingin bertemu dengan orang lain. Dalam perasaannya semua orang menertawakan dan mengejek dirinya. Orang-orang itu sekan-akan meneriaki dirinya sebagai Pangeran bertanduk. Ia benci kepada semua orang. Ia ingin mengusir Dewi Pratiwi, orang pertama yang telah mengetahui rahasia yang sudah bertahun-tahun disimpannya rapat-rapat.
“Dinda Dewi, keluarlah! Aku tidak ingin ditemani! Pergi dari kamarku! Aku ingin sendiri!” Pangeran Lindu Aji mengusir.
“Maafkan hamba, Pangeran Lindu Aji. Hamba tidak tahu….”
“Sudah sana pergi! Jangan diteruskan kata-katamu!” potong Pangeran Lindu Aji yang segera menutup pintu setelah Dewi Pratiwi keluar. Pangeran Lindu Aji segera menjatuhkan diri di tempat tidurnya sambil menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala kesedihannya. Ia menyesali diri. Menyesali nasibnya, yang tanpa maunya menyandang kutukan akibat perbuatan orang tuanya. 
***
NB: Novel ini belum pernah diterbitkan. Penulis mencari penerbit yang bersedia menerbitkannya sebagai buku. Terima kasih.

                                           Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 6"

Post a Comment