Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 7

Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 7
Oleh Sutardi MS Dihardjo:


7
MEMBUNUH BANTENG MENGAMUK


Menyimpan rahasia itu sangat berat. Badan Dewi Pratiwi sampai meriang panas dingin. Mau menceritakan kepada orang lain, termasuk kepada Bapa Kyai Sidik Paningal tidak berani. Takut ancaman Pangeran Lindu Aji.  Sehari saja menyimpan rahasia, kepalanya seperti mau pecah. Tubuhnya lemas. Dewi Pratiwi tidak mau keluar kamar. Ia berbaring di kamarnya. Berselimut rapat. Bahkan kepalanya ditutup dengan bantal guling berlapis-lapis untuk bersembunyi dari bayangan tanduk Pangeran Lindu Aji yang jelas tercetak dalam ingatannya. Malam hari lampu dimatikan. Tetapi tetap saja bayangan dua tanduk yang menyembul di atas dua telinga Pangeran Lindu Aji, yang satu jengkal panjangnya, tak pernah bisa hilang dari ingatannya. Bayangan itu begitu jelas dan nyata, ingin dikabarkan kepada semua orang yang bisa ditemui. Tanda Tanya yang selama ini menjadi teka-teki dirinya, bahkan mungkin juga menjadi teka-teki semua orang di padepokan, terjawab sudah bagi dirinya. Yaitu rasa ingin tahu, kenapa Pangeran Lindu Aji tak pernah lepas memakai ikat kepala? Dan kenapa Pangeran Lindu Aji tidak pernah mau mandi slulup atau berenang bersama di sendang? Kenapa Pangeran Lindu Aji yang terampil dalam berbagai cabang olah raga itu selalu menghindar kalau diajak mengikuti lomba berenang? Padahal berenang adalah suatu ketrampilan yang harus dikuasai setiap kesatria. Ternyata Pangeran Lindu Aji menyimpan rahasia besar di kepalanya, yang ditutup rapat-rapat di balik ikat kepalanya. Mungkin Pangeran Lindu Aji takut ikat kepalanya akan lepas kalau dipakai slulup atau berenang di sendang.
Pagi hari. Dewi Pratiwi mengacak-acak rambutnya untuk menghilangkan cekot-cekot pusing kepalanya. Semalam ia tidak bisa tidur. Ingin rasanya ia berteriak mengeluarkan semua beban yang memberati kepalanya. Ingin rasanya ia mengatakan kepada orang yang bisa dipercaya menyimpan rahasia, tentang sebuah rahasia yang tidak pernah diketahui orang lain, kecuali dirinya sendiri. Bukan rasa bangga karena telah mengetahui rahasia besar Pangeran Lindu Aji calon penguasa kerajaan Arga Pura, kalau ia nanti mengatakan kepada orang lain, tetapi keinginan berbagi memikul beban berat yang terpaksa membebani kepalanya, setelah tidak dengan sengaja mengetahui rahasia yang menggelitik tetapi mengandung ancaman taruhannya nyawa.
Dewi Pratiwi keluar kamar. Jalannya sempoyongan. Pikirannya kosong, kecuali satu hal, rahasia Pangeran Lindu Aji yang mengeram semalam di kepalanya saat ini sudah tak kuat lagi disimpannya. Pagi hari ini juga harus sudah dimuntahkan dari mulutnya. Tetapi kepada siapa? Rasanya tak mungkin ada orang yang kuat menampung dan menyimpan rahasia itu kecuali Bapa Kyai Sidik Paningal. Kyai yang jiwanya sudah mengendap, yang mempunyai hati ati segara sing momot amot. Tentu kuat menampung dan mengendapkan rahasia ini untuk dirinya sendiri. Tetapi di mana Bapa Kyai? Samar-samar Dewi Pratiwi mendengar Bapa Kyai Sidik Paningal sedang memberi wejangan di ruang tengah rumah utama. Kalau tidak salah dengar, yang diberi wejangan adalah Pangeran Lindu Aji. Bagaimana ini? Padahal ia merasa benar-benar sudah tidak kuat lagi menyimpan beban ini!
Dewi Pratiwi ingat pada banteng kelangenannya. Banteng yang diberi nama Handoko Murti itu sering ia jadikan tempat mengadu selain kepada Bapa Kyai, kalau ia menemukan masalah. Ia selalu curhat kepada banteng yang gagah perkasa dan selalu bersih itu, meskipun banteng itu tidak pernah dapat memberi solusi. Tetapi setidak-tidaknya setelah curhat kepada banteng kesayangannya itu hatinya menjadi lega.  Lalu pikirannya terbuka, sehingga kemudian ia dapat menemukan solusinya sendiri.
Dewi Pratiwi melangkah ke belakang rumah. Menuju ke kandang banteng. Di sana ia temukan banteng gemuk itu sedang makan rumput dengan lahapnya. Dewi Pratiwi mendekat lalu mengusap-esap kepala banteng yang sudah jinak itu. Tanduk yang panjang dan runcing dielusnya dengan sayang. Lalu dipegangnya telinga banteng Handoko Murti. Badan Dewi Pratiwi menunduk, lalu ia mulai membuka mulutnya. Membisikkan pelan-pelan rahasia yang sudah sehari semalam membungkam mulutnya.
“Aku beritahu ya, Banteng kesayanganku Handoko Murti. Ini suatu rahasia yang tidak boleh aku katakan kepada orang lain. Tetapi mestinya tidak mengapa aku katakan kepadamu. Bukankah kamu tidak mungkin mengatakan kepada siapapun lewat mulutmu? Kalau toh kamu katakan mestinya yang tahu hanya sesama banteng, bukan manusia yang berbeda bahasanya. Meski aku tahu, kamu tentu paham bahasaku. Tolonglah bantengku yang perkasa, aku tidak naik ke punggungmu untuk membebanimu dengan tubuhku. Tetapi aku ingin kamu ikut memikul beban yang tak kuat aku pikul sendiri. Suatu rahasia yang sudah tak kuat aku simpan sendiri.”
Dewi Pratiwi berhenti sejenak untuk menata kata-kata rahasia yang akan keluar dari mulutnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari-cari di setiap celah kandang, mendengarkan kemerisik daun terinjak barangkali ada yang mencuri dengar di belakang atau di samping kandang. Setelah yakin situasi aman, tidak ada orang lain yang mungkin mendengarnya, Dewi Pratiwi berbisik pelan melanjutkan,”Ketahuilah Handoko Murti, ternyata Pangeran Lindu Aji itu bertanduk seperti kamu. Di kepalanya, ada dua tanduk sejengkal panjangnya tumbuh di atas kedua telinganya.”
Lega rasanya hati Dewi Pratiwi. Rahasia yang mengeram di kepalanya sehari semalam telah ia lahirkan. Beban berat yang menindihnya selama ini telah ia lepaskan. Rasanya sekarang hatinya sudah menjadi lapang, ringan, lepas bebas. Badannya sudah tidak panas dingin lagi.
Tapi lihatlah, apa reaksi banteng yang sebelumnya sudah jinak itu! Aneh! Setelah mendengar bisikan tuannya kelihatannya banteng itu juga tidak kuat menyimpan rahasia. Matanya jadi merah dan liar. Kepalanya mendongak ke atas sambil mendengus-dengus kesetanan. Kakinya menggaruk-garuk tanah, lalu meloncat menerjang kayu palang kandang. Untung Dewi Pratiwi sigap menghindar, jadi tidak tertabrak banteng yang tiba-tiba mengamuk itu. Banteng Handoko Murti menjadi liar, berlari keluar kandang. Di kebun ia berlari berputar-putar tanpa tujuan merusak kebun, taman dan pohon buah-buahan. Badannya yang besar dan gemuk itu menerjang apa saja yang dilaluinya seperti tidak merasakan sakit. Yang kena terjang pasti tumbang berantakan. Tanduknya yang kuat dan runcing menanduk apa saja yang ada di hadapannya. Banteng itu berlari ke dapur menanduk dinding dapur yang terbuat dari anyaman bambu hingga roboh berantakan. Para cantrik yang sedang bekerja di dapur ketakutan, lari berhamburan.
Kegaduhan di belakang rumah menarik perhatian Kyai Sidik Paningal yang sedang memberi wejangan kepada Pangeran Lindu Aji. Saat itu Sang Kyai sedang memberi nasihat agar Pangeran Lindu Aji tabah menghadapi segala cobaan dan rintangan. Pangeran Lindu Aji agar selalu dapat melihat setiap persoalan dengan hati yang jernih. Jangan mudah mengambil keputusan, sebelum ditimbang-timbang dengan matang, untung ruginya, manfaat dan mudaratnya. Juga Pangeran Lindu Aji harus mempunyai pegangan, selalu bersandar kepada pertolongan, perlindungan, dan kehendak Tuhan Penguasa Alam Smesta. Sehingga ia akan dapat selalu bangkit dari keterpurukan atau goncangan yang melemahkan jiwanya.
Tiba-tiba Dewi Pratiwi datang menghadap Kyai Sidik Paningal.
“Tolong, Bapa! Banteng Handoko Murti tiba-tiba mengamuk membuat kerusakan di mana-mana. Kandangnya sudah dijebolkannya, kebun buah dan sayuran, serta taman bunga sudah diacak-acak rusak semua, sekarang sedang merobohkan dapur padepokan. Hingga para cantrik berlari-lari ketakutan. Kalau dibiarkan saja mungkin sebentar lagi akan masuk ke rumah utama , atau asrama para siswa, atau pendopo padepokan untuk menghancurkannya. Tolong Bapa, jinakkan banteng kesayangan kita!” lapor Dewi Pratiwi minta pertolongan Kyai Sidik Paningal.
“Pangeran Lindu Aji, apa yang Pangeran Lindu Aji cari selama ini ternyata tidak usah jauh-jauh dicari sudah datang sendiri,” kata Sang Kyai penuh wibawa dalam nada yang tenang. Tidak terlihat kegugupan sedikitpun, meskipun puterinya tadi melaporkan peristiwa yang membahayakan keselamatan sesama ini seperti orang yang lari tergesa-gesa karena diburu hantu yang siap menerkam dari belakang.
“Apa maksud Kyai?” tanya Pangeran Lindu Aji tidak mengerti.
“Bukankah jauh-jauh dari istana di Kotaraja, Pangeran Lindu Aji menjelajahi hutan dan padang-padang rumput, sampai ke padepokan ini Pangeran Lindu Aji mencari banteng yang sedang mengamuk untuk dibunuh?”
“Iya, Bapa. Tetapi banteng Handoko Murti adalah banteng kelangenan Kyai Sidik Paningal dan Dinda Dewi Pratiwi. Apakah saya akan tega membunuh banteng kesayangan Bapa dan Dinda Dewi itu?”
“Pangeran Lindu Aji harus belajar menentukan pilhan di anatara beberapa pilihan yang sulit. Kesampingkan urusan pribadi, dahulukan kepentingan umum. Banteng itu memang kelangenanku dan anakku, tetapi saat ini ia membahayakan keselamatan penghuni padepokan ini, dan mungkin kalau ia dapat lari keluar padepokan ia juga akan membahayakan keselamatan orang-orang yang bertemu dengannya. Bahkan bukan hanya keselamatan orang saja yang bisa mendapat bahaya, tetapi juga hewan-hewan lain, tumbuh-tumbuhan dan dirinya sendiri. Bayangkan kalau banteng yang kesetanan itu berlari tanpa perhitungan, lalu tahu-tahu ada jurang di depannya, ia akan terjungkal di jurang itu. Ia akan mati tanpa memberi manfaat kepada orang-orang yang telah memeliharanya.”
“Kalau begitu, saya mohon ijin Bapa Kyai! Saya akan membunuh banteng yang sudah mengamuk membuat kerusakan di padepokan ini,” pinta Pangeran Lindu Aji setelah tahu apa yang dikehendaki Kyai Sidik Paningal.
“Itu yang  Bapa kehendaki. Sekarang Bapa ijinkan. Gunakan panah pemberian Gusti Prabu!”
Kyai Sidik Paningal, Dewi Pratiwi, Ki Dadap dan Ki Waru mengantarkan Pangeran Lindu Aji ke belakang rumah utama. Banteng Handoko Murti sedang menanduki tiang-tiang dapur yang sudah roboh itu. Terlihat dari kejauhan kepala banteng mengeluarkan darah, mengucur deras dari luka-lukanya. Kaki-kakinya pun juga berdarah kena paku menginjak-injak dinding yang roboh.
“Lihat, Pangeran! Banteng itu tersiksa. Lekas lepaskan anak panahmu tepat mengenai kepalanya, agar tidak lebih lama lagi menanggung siksaan. Jangan dikenakan tubuhnya! Agar lekas mati tanpa merasakan sakit terlalu lama, kenakan tepat di kepalanya!” perintah Kyai Sidik Paningal.
Pangeran Lindu Aji memasang anak panah pada busurnya. Ketika ia mengangkat busur dan menarik talinya tepat mengarah ke kepala, tiba-tiba banteng yang sudah gila itu melihatnya. Dengan serta merta banteng itu berlari kencang menuju Pangeran Lindu Aji, akan menerjang dan menanduknya. Hampir saja banteng itu mencapai Pangeran Lindu Aji. Tetapi dalam jarak lima depa, anak panah Pangeran Lindu Aji melesat menancap tepat diantara dua kening banteng kesayangan Kyai Sidik Paningal dan Dewi Pratiwi. Banteng yang perkasa itu seketika roboh. Mati di depan Sang Pangeran. Dewi Pratiwi menjerit. Ia menangis sedih. Kasihan pada binatang yang sudah terasa sebagai kawan sehati, tempat curahan perasaannya.
“Sudahlah, anakku. Tak usah kamu terlalu bersedih. Ini memang sudah nasib banteng kelangenan kita. Ia telah mati dengan mulia karena telah menjadi sarana terpenuhinya tugas Pangeran Lindu Aji. Kita tidak sengaja membuatnya gila. Ia gila sendiri dan kemudian membuat kerusakan di mana-mana. Dan ini adalah sarana yang dicari Pangeran Lindu Aji dalam pengembaraannya. Kebetulan Pangeran Lindu Aji pun sudah buntas ing kawruh. Sudah tuntas berguru kepadaku. Semua ilmu yang aku punyai sudah aku berikan tanpa ada sedikitpun yang aku sembunyikan,” kata Kyai menghibur hati puterinya.
“Pangeran Lindu Aji, sebaiknya banteng ini kita sembelih. Dagingnya kita gunakan untuk pesta kataman. Tanda selesainya Pangeran Lindu Aji berguru di padepokan ini. Kita undang penduduk di sekitar padepokan ini, bersama-sama kita kenduri dengan lauk utama gulai daging banteng yang gemuk ini. Sedangkan kulitnya, setelah dijemur kering para cantrik, akan hamba hadiahkan kepada Pangeran Lindu Aji untuk dipersembahkan kepada Gusti Prabu sebagai bukti kalau Pangeran Lindu Aji sudah menunaikan tugas yang diembannya.”
“Tapi, Kyai, apakah ini berarti saya harus segera meninggalkan padepokan ini?” tanya Pangeran Lindu Aji.
“Pangeran Lindu Aji, tempatmu yang sebenarnya tidak di sini. Ilmu yang yang Pangeran Lindu Aji peroleh di sini akan lebih bermanfaat kalau diamalkan di luar padepokan ini. Di sini hanya tempat persinggahan bagi Pangeran Lindu Aji untuk menimba ilmu. Sedang pengamalannya adalah di masyarakat bebrayan agung. Karena Pangeran Lindu Aji adalah seorang putera raja, calon pengganti raja Negara Arga Pura, maka tempat yang terbaik bagi Pangeran Lindu Aji adalah di keraton, bukan di padepokan yang jauh dari masyarakat bebrayan agung. Lagipula Pangeran Lindu Aji sudah selesai berguru kepada hamba. Sudah tidak ada ilmu yang dapat hamba berikan kepada Pangeran Lindu Aji. Tidak ada gunanya Pangeran Lindu Aji tinggal berlama-lama lagi di padepokan ini.”
“Tapi Bapa….” Pangeran Lindu Aji ragu-ragu akan mengatakannya di hadapan Kyai Sidik Paningal. Ia memandang ke wajah Dewi Pratiwi yang tertuduk malu. Dewi Pratiwi masih berdiri mematung di tempatnya. Kakinya uthak-uthik menggambar sesuatu di tanah. Tetapi tidak jelas apa yang digambar.
“Terus terang, Bapa Kyai, sebetulnya saya merasa nyaman dan tentram di sini. Apalagi di sini ada Dinda Dewi Pratiwi, hati saya merasa senang di sini. Terus terang, Bapa Kyai, sebetulnya saya mencintai Dinda Dewi Pratiwi. Saya ingin menjadikannya sebagai istri saya. Saya ingin hidup berumah tangga dengan Dinda Dewi Pratiwi. Apakah Bapa tidak mengijinkan saya menikahi Dinda Dewi Pratiwi?”
“Bapa tidak melarang Pangeran Lindu Aji mencintai dan menikahi puteriku Dewi Pratiwi. Tetapi Pangeran Lindu Aji tidak boleh terus tinggal di sini. Apakah Pangeran Lindu Aji tidak kasihan kepada ayahanda dan ibunda Pangeran Lindu Aji yang sekarang sangat merindukan Pangeran Lindu Aji yang sudah bertahun-tahun  Pangeran tinggalkan? Apakah Pangeran Lindu Aji tidak kasihan kepada rakyat Negara Arga Pura yang sudah lama ditinggalkan calon pengganti rajanya?”
Pangeran Lindu Aji menundukkan kepala. Kembali ia dihadapkan pada dua pilihan antara kepentingan pribadi dan kepentingan negara atau kepentingan umum yang lebih luas. Ia bingung! Panggilan negara dan keluarga mempunyai tarikan yang kuat. Ia ingat bagaimana dulu ayah bundanya semedot seperti tidak tega mengantar dirinya meninggalkan keraton, dengan pandangannya yang penuh iba  meneteskan air mata perpisahan. Tapi kalau ia pulang ke keraton, bagaimana dengan Dewi Pratiwi, sedangkan kata cintanya pun belum terbalas. Ia pun belum tahu Dewi Pratiwi akan menerima cintanya atau akan menolaknya setelah tahu ada dua tanduk panjang di kepalanya.
“Bapa tahu perasaan, Pangeran Lindu Aji. Tapi ketahuilah, Pangeran, sebetulnya tugas Pangeran Lindu Aji berkenaan dengan tugas membunuh banteng yang sedang mengamuk saat ini belum selesai. Masih ada satu tugas berkenaan hal tersebut yang harus Pangeran Lindu Aji kerjakan setelah sampai di keraton nanti.”
“Apa itu, Bapa Kyai?”
“Pangeran Lindu Aji harus minta kepada Gusti Prabu agar dibuatkan bedug dengan bahan kulit banteng yang telah Pangeran bunuh ini. Karena bedug itu mempunyai dua sisi, padahal diharapkan bedug yang akan dibuat nanti adalah bedug yang teramat besar agar dapat terdengar sampai jauh, maka Pangeran mintalah jodoh kulit banteng Handoko Murti ini kepada Gusti Gusti Parbu. Bapa kira Gusti Gusti Prabu masih menyimpan kulit banteng kelangenan Gusti Prabu yang mati dalam festival adu banteng beberapa tahun yang lalu. Kemudian setelah jadi, harus Pangeran Lindu Aji sendiri yang memukul bedug itu untuk pertama kali sebagai percobaan. Bedug itu nantinya harus diletakkan di serambi masjid untuk memanggil orang-orang melaksanakan kewajiban sholat lima waktu. Kalau hal ini belum dilakukan tidak ada artinya Pangeran Lindu Aji jauh-jauh sampai kemari berhasil membunuh banteng yang sedang mengamuk.” 
Pangeran Lindu Aji akhirnya menyadari akan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai putera satu-satunya Prabu Reksa Buwana. Ia harus segera mengemasi barang-barangnya untuk segera berangkat pulang ke Kotaraja. Demikian pula dua orang pengawalnya, Ki Dadap dan Ki Waru. Berbeda dengan Pangeran Lindu Aji yang merasa bersedih meninggalkan padepokan karena harus berpisah dengan Dewi Pratiwi yang telah memikat hatinya, Ki Dadap dan Ki Waru justru merasa senang akan segera kembali ke Kotaraja. Karena ini berarti mereka akan segera dapat berkumpul dengan keluarganya kembali. Dan karena telah berhasil menunaikan tugas mengawal Sang Pangeran, tentu hadiah dari Gusti Prabu telah menanti bagi mereka dan keluarganya.
Sementara para cantrik menyembelih dan memasak daging banteng, Pangeran Lindu Aji dan para pengawalnya berkemas-kemas. Tidak banyak yang mereka kemasi. Memang selama tinggal di padepokan ini tidak banyak pakaian baru mereka buat. Kebanyakan pakaian yang mereka pakai adalah pakaian lama yang dibawa dari Kotaraja. Mereka memang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan sederhana di Padepokan Sendang Asih.
Kenduri kataman dan perpisahan Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap, dan Ki Waru dengan para penghuni Padepokan Sendang Asih serta masyarakat di sekitar pondok berlangsung dengan penuh khidmad dan haru. Setelah hidangan gulai daging banteng dimakan bersama, kini tibalah acara perpisahan. Kyai Sidik Paningal memberikan nasihat sebagai kata-kata perpisahan kepada Pangeran Lindu Aji murid kesayangannya, “Pangeran Lindu Aji dan Ki Dadap serta Ki Waru, sudah beberapa tahun kita hidup bersama di padepokan ini. Tentu banyak kesan dan kenangan tercetak dalam ingatan kalian bertiga tentang padepokan ini dan orang-orangnya. Bapa harap lupakan saja segala kesan dan kenangan yang tidak baik tentang padepokan ini. Tapi ingat dan kenanglah selalu hal-hal yang baik yang ada di padepokan ini. Pelajaran-pelajaran dan nasihat-nasihat yang baik yang diperoleh di padepokan ini semoga dapat kalian amalkan untuk berbuat kebajikan kepada sesama dalam pergaulan masyarakat di bebrayan agung. Bapa berharap semoga dengan bekal yang diperoleh di padepokan ini, yang nanti juga akan diperkaya dengan bekal-bekal baru yang mungkin ditemui di sepanjang perjalanan hidup kalian bertiga,  kalian dapat mencapai cita-cita kalian. Semoga kelak kalau sudah memerintah sebagai raja di Kerajaan Arga Pura, Pangeran Lindu Aji dapat memerintah dengan adil dan bijaksana, serta dapat membawa rakyat Arga Pura hidup sejahtera, tenang dan damai.” Kyai Sidik Paningal berhenti sejenak. Kini pandangannya khusus diarahkan kepada Pangeran Lindu Aji.
“Khusus untuk Pangeran Lindu Aji, hamba berpesan. Apapun yang menimpa diri Pangeran Lindu Aji, hendaknya Pangeran Lindu Aji dapat menerima keadaan dengan legawa. Jangan pernah menyesali diri. Anggap saja semua itu sebagai tapa brata untuk menebus dosa yang telah diperbuat. Semua ada karmanya. Kalau kita mau mawas diri, semua yang menimpa kita, kemungkinan adalah akibat dari perbuatan kita atau leluhur kita pada masa lalu. Kalau tidak, mungkin itu adalah laku prihatin yang harus kita jalani untuk kebahagiaan kita di kemudian hari. Katakanlah itu ujian untuk mencapai derajad yang lebih tinggi. Sebagai calon raja, mungkin juga itu untuk kejayaan negara di waktu yang akan datang. Kalau kita jeli meneliti, semua ada hikmahnya.”
“Terima kasih, Bapa. Nasihat Bapa Kyai Sidik Paningal akan selalu saya ingat di sepanjang hidup saya, menjadi jimat sebagai pegangan hidup saya,” kata Pangeran Lindu Aji setelah dinanti beberapa lama Kyai Sidik Paningal tidak menambahkan nasihatnya lagi. Ki Dadap dan Ki Waru pun segera ikut-ikutan mengucapkan kata-kata yang sama.
***
NB: Novel ini belum pernah diterbitkan. Penulis mencari penerbit yang bersedia menerbitkannya sebagai buku. Terima kasih.

                                           Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 7"

Post a Comment