Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 8

Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 8
Oleh Sutardi MS Dihardjo:

8
KEMBALI KE KOTARAJA


Seperti yang telah direncanakan, ketika kulit banteng sudah selesai dikeringkan hingga siap dijadikan bedug, Pangeran Lindu Aji bersama para pengawalnya siap kembali ke Kotaraja. Pagi-pagi benar mereka bertiga sudah menghadap Kyai Sidik Paningal untuk berpamitan. Kyai Sidik Paningal, Dewi Pratiwi dan para cantrik siap melepasnya di halaman padepokan. Mereka semua tak kuasa mengucapkan kata-kata akhir perpisahan. Semua terhenti di tenggorokan. Menggumpal penuh haru di dalam dada. Sebetulnya Pangeran Lindu Aji ingin menyampaikan kata-kata perpisahan dan mengucapkan janji untuk melamarnya di kemudian hari kepada Dewi Pratiwi, tetapi lidahnya kelu. Kata-kata tak mau keluar. Hanya air mata yang menitik haru, bergulir membasahi pipi. Demikian juga Dewi Pratiwi, ingin rasanya ia menyampaikan harapannya agar suatu saat Pangeran Lindu Aji pujaan hatinya itu kembali lagi ke padepokan untuk melamar dirinya. Tetapi bila diingat siapa dirinya yang hina dina, dan siapa Pangeran Lindu Aji Gusti, kata-kata hanya mengganjal di tenggorokan, tidak mau keluar. Dewi Pratiwi berpikir, “Sekarang di sini di padepokan ini Pangeran Lindu Aji hanya tahu melihat perempuan saya seorang. Wajar kalau Pangeran Lindu Aji yang sedang tumbuh dewasa itu tertarik kepadaku. Tetapi nanti kalau ia sudah kembali ke Kotaraja, bergaul dan melihat gadis-gadis bangsawan yang cantik jelita dan anggun mempesona, tentu ia akan lupa kepadaku.” Berpikir begitu, air matanya pun menitik. Dalam hati ia menyesali, kenapa harus bertemu dengan Pangeran Lindu Aji yang telah mencuri hatinya, kalau pada akhirnya harus berpisah?  Hidup terasa hampa. Hari-hari yang panjang di padepokan akan terasa sepi. Segala benda dan tempat yang menyimpan kenangan kebersamaannya dengan Pangeran Lindu Aji akan terasa sembilu menyayat-nyayat hatinya. Air mata haru, penyesalan dan putus asa, bergulir membasahi pipi.
Setelah bersalaman dengan Kyai, Dewi Pratiwi, dan para cantrik penghuni padepokan, Pangeran Lindu Aji dan kedua pengawalnya melangkah menuju tiga ekor kuda yang sudah disiapkan para cantrik. Perbekalan secukupnya berupa nasi bungkus dengan lauk beberapa potong dendeng daging banteng telah ada di masing-masing punggung kuda. Demikian juga pakaian mereka. Di punggung kuda Pangeran Lindu Aji ditambah bungkusan besar yang ternyata berisi kulit banteng yang sudah dikeringkan. Mereka segera naik ke atas pelana, duduk di atas punggung kuda.
Pangeran Lindu Aji melambaikan tangan tanda selamat tinggal. Demikian juga Ki Dadap dan Ki Waru. Kyai Sidik Paningal, Dewi Pratiwi, dan para cantrik membalas melambaikan tangan tanda selamat jalan. Lalu kuda-kuda mereka segera berjalan meninggalkan padepokan melewati regol. Sesampainya di luar, Dewi Pratiwi yang kemudian juga diikuti para cantrik berlari mengikuti sampai di depan regol padepokan. Tapi kuda-kuda rombongan Pangeran Lindu Aji sudah mulai berlari meskipun masih pelan-pelan. Sesekali penunggangnya menoleh ke belakang melihat ke arah orang-orang yang masih memandangnya. Setelah hilang ditelan pepohonan di kelokan jalan, seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga, Dewi Pratiwi berjalan pelan-pelan melewati halaman. Tak kuat menahan haru perpisahan ia kemudian berlari masuk ke kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal, kenapa tak berani membalas kata-kata cinta Sang Pangeran. Kenapa ia terlalu termakan perasaan rendah diri, sehingga tak berani menyambut uluran cinta Sang Pangeran?  Mengetahui hal itu, Kyai Sidik Paningal yang sebenarnya sudah mengetahui perasaan yang tersimpan di hati puterinya dan di hati Pangeran Lindu Aji mendekati Dewi Pratiwi. Kyai Sidik Paningal berusaha menghibur anak satu-satunya. Ia mengajak agar sama-sama menyerahkan urusan ini kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena takdir, rejeki, perjodohan dan kematian adalah kehendak Tuhan Yang Maha Mengatur. Semoga rencana-Nya yang terbaik bagi puterinya yang akan terjadi. Terbaik menurut kehendak-Nya semoga juga sama dengan terbaik menurut anaknya.
***
Perjalanan kembali ke Kotaraja mula-mula berjalan lancar. Meskipun semula Pangeran Lindu Aji merasa berat meninggalkan padepokan, langkahnya mandeg tumoleh, tetapi setelah memasuki padang terbuka, dan Ki Dadap dan Ki Waru mendahului berpacu berkejar-kejaran, akhirnya Pangeran Lindu Aji pun ikut berpacu mengejarnya. Pacuan kuda ini memang cara Ki Dadap dan Ki Waru untuk menghibur Pangeran Lindu Aji, agar mantap melangkah ke depan melupakan Padepokan Sendang Asih. Setelah dirasa Pangeran Lindu Aji sudah dapat melupakan padepokan, apalagi perjalanan kini sudah memasuki hutan belantara, mereka mengurangi kecepatan lari kudanya.
Ketika matahari tepat di tengah-tengah, panas matahari begitu menyengat, mereka berhenti beristirahat di bawah pohon yang rindang di pinggir jalan. Kuda-kudanya dibiarkan merumput di pinggir jalan. Mereka sengaja berhenti di pinggir jalan yang di dekatnya ada  anak sungai yang mengalir jernih. Sehingga kuda-kudanya dapat minum sepuasnya di sungai itu. Para penunggangnya pun dapat membasuh muka di sungai itu, sekedar menyegarkan badan, setelah dibakar panas terik matahari di sepanjang jalan.
Sambil menunggu kudanya istirahat dan makan rumput, mereka pun berteduh sambil makan bekal yang dibawanya. Tak lupa ia menambah bekal minum dari air yang mengalir jernih itu.
Setelah dirasa cukup beristirahat, dan matahari pun sudah mulai condong ke barat, mereka kembali memacu kudanya menuju Kotaraja.
Derap tapal kuda yang bergantian memecah kesunyian hutan agaknya telah menarik perhatian segerombolan perampok. Mereka bersembunyi di balik rumpun pepohonan yang lebat. Begitu rombongan Pangeran Lindu Aji sudah dekat, para perampok itu pun berloncatan keluar dari persembunyiannya. Mereka menghentikan lari kuda dengan tiba-tiba. Untung Pangeran Lindu Aji dan para pengawalnya melarikan kudanya pelan-pelan. Sehingga meskipun kudanya terkejut lalu sedikit njumbul, tidak sampai membuat penunggangnya terlempar jatuh.
Para perampok itu berkacak pinggang sambil mengacungkan senjata masing-masing. Wajah mereka yang sangar ditumbuhi kumis dan jenggot panjang yang tak terurus. Mungkin sengaja dibiarkan tumbuh liar agar lebih menakuti para korbannya. Demikian pula rambutnya yang gimbal berwarna merah bau apak dan baju warna gelap yang dikenakannya, semuanya menambah seram para korban yang melihatnya. Apalagi kalau melihat senjata yang tergenggam di tangannya, pedang dengan ukuran besar dan panjang, berkilat-kilat memantulkan sinar matahari.
Tetapi yang ada di hadapan mereka adalah Pangeran Lindu Aji dan para pengawalnya yang sudah selesai berguru di Padepokan Sendang Asih. Kalau orang lain melihat itu semua mungkin sudah takut terkencing-kencing. Apalagi jumlah mereka ada kira-kira sepuluh orang. Yang kesemuanya berwajah sangar dengan dandanan yang menyeramkan.   Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru  duduk di atas pelana kudanya dengan tenang. Tak ada rasa gentar sedikitpun. Mereka sudah siap menghadapi segala bahaya dan rintangan. Melihat empat orang yang ada di depan mereka, Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru, teringat peristiwa tiga tahun yang lalu. Orang-orang itulah yang dulu telah mencegat pedagang dan para pengawalnya. Mereka juga jadi ingat hutan ini. Tidak salah lagi, hutan ini adalah tempat mereka berkelahi dengan kawanan perampok. Ya mereka ingat, saat itu mereka  membantu pengawal pedagang yang dikeroyok perampok. Setelah mendapat bantuan mereka, akhirnya mereka berhasil mengusir kawanan perampok yang mencegat pedagang itu. Ternyata perampok-perampok itu belum jera.
“Apa maumu menghentikan perjalanan kami?” Tanya Ki Dadap.
“Aku minta kalian semua meninggalkan semua harta yang kalian bawa,” kata kepala perampok.
“Kalian lihat sendiri, kami tidak membawa harta apa-apa,” jawab Ki Waru.
“Bukan kamu! Tapi anak muda itu,” katanya sambil menunjuk Pangeran Lindu Aji,”Ia membawa gelang dan kalung yang bagus. Aku kira benda-benda itu cukup berharga untuk diserahkan kepada kami sebagai pembayar pajak telah lewat di hutan ini.”
“Bukan itu saja, Ki Lurah. Kuda-kuda mereka juga bagus. Itu juga boleh diberikan kepada kita sebagai pembayar pajak,” kata salah seorang perampok.
“Benar, Ki Lurah. Aku juga mau kuda itu.”
“Kalian dengar sendiri, anak buahku juga menghendaki kuda-kuda kalian untuk membayar pajak jalan kepada kami,” kata kepala perampok yang dipanggil Ki Lurah kepada Pangeran Lindu Aji dan pengawalnya.
“Sebentar Ki Lurah, sepertinya dua orang inilah yang dulu telah bertempur melawan kita, ketika kita sedang mencegat pedagang di hutan ini, tiga tahun yang lalu,” kata salah seorang perampok yang dulu dipanggil Setro.
“Ya, benar Ki Lurah aku jadi ingat sekarang,” kata Bencok, Sentul, dan Bandol bersamaan.
“Lalu apakah pemuda yang selalu membawa panah itu yang dulu telah memanah pahaku, sehingga kita terpaksa berlari melepaskan mangsa kita? Oh ya aku ingat! Waktu itu aku kurang waspada karena terlalu tertarik untuk menguasai gelang kalung bocah itu. Kalau begitu aku tidak hanya menginginkan harta benda mereka, tetapi aku juga menginginkan nyawa mereka, sebagai balasan bocah itu telah menyakiti aku, dan orang-orang itu telah melepaskan mangsa kita. Ayo, tunggu apalagi, keroyok mereka nanti keburu ada orang-orang lewat membantunya!” perintah Ki Lurah kepada anak buahnya. Ia sendiri, saking dendamnya kepada Pangeran Lindu Aji yang telah menyakitinya, ikut mengeroyok Pangeran Lindu aji.
Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap, dan Ki Waru segera berpencar. Mereka mencari medan tempur sendiri-sendiri. Kali ini para pengawal sudah tidak mengkhawatirkan keselamatan Sang Pangeran. Mereka sudah yakin pada kemampuan Pangeran Lindu Aji untuk melindungi dirinya sendiri. Bahkan meskipun pengeroyoknya lebih banyak dan satu di antaranya adalah kepala perampok yang dipanggil Ki Lurah. Pertempuran yang tidak imbang dalam jumlah pun segera terjadi. Pangeran Lindu Aji meloncat dan melenting ke sana ke mari menghindari sabetan pedang para perampok. Tidak terlalu sulit bagi Pangeran Lindu Aji untuk membunuh para pengeroyoknya, tetapi ia tidak ingin membunuh. Kalau dapat ia hanya ingin melumpuhkannya saja, untuk kemudian disadarkan agar kembali ke jalan yang benar. Demikian juga Ki Dadap dan Ki Waru yang sudah mendapat didikan Kyai Sidik Paningal, mereka juga sebetulnya tidak terlalu sulit untuk membunuh para pengeroyoknya karena ilmunya kini sudah jauh meningkat dari pada tiga tahun yang lalu. Tetapi mereka pun kini sudah mendapat ajaran welas asih dari Kyai. Maka mereka pun menginginkan dapat mengalahkan musuh-musuhnya tanpa membunuh untuk kemudian disadarkan kembali ke jalan yang benar. Tetapi ternyata mengalahkan musuh bersenjata dalam jumlah yang lebih banyak, tanpa harus membunuh lebih sulit dari pada mengalahkan dengan membunuh tanpa menahan diri. Apalagi musuhnya bertempur secara kasar, menggunakan segala cara, termasuk mengumpat-ngumpat dan meludahi musuh. Hampir saja Ki Dadap dan Ki Waru tidak dapat mengendalikan diri untuk menikamkan pedangnya ke dada musuh yang telah meludahi dirinya.
Pada suatu kesempatan Pangeran Lindu aji secara berantai berhasil memukul jatuh pedang-pedang pengeroyoknya. Dan pada detik berikutnya ia pun sudah dapat menotok pengeroyoknya satu persatu, sehingga mereka seperti lumpuh tidak dapat bergerak. Para perampok yang tertotok itu menjerit kaget ketika merasa anggota tubuhnya tidak dapat digerakkan. Mendengar jeritan itu, dan kemudian melihat kawan-kawannya dapat dilumpuhkan dengan mudah oleh lawannya yang masih muda, para perampok yang mengeroyok Ki Dadap dan Ki Waru terbengong-bengong. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kidadap dan Ki Waru. Mereka segera bergerak cepat menotok satu per satu lawan-lawannya. Jadilah para perampok itu semuanya diam mematung tak dapat bergerak. Seluruh sendi-sendinya kaku dan terasa sakit.
“Ampun, Tuan-tuan! Kami mohon ampun. Jangan bunuh kami! Kami sudah tobat. Tolonglah kami! Lepaskan totokan kami! Kami menyerah, menurut apa kehendak Tuan-tuan. Tapi lepaskan totokan kami,” pinta para perampok itu bersama-sama.
“Kalau memang kalian sudah menyerah, akan aku lepaskan totokan kalian. Tetapi dengan satu syarat, kalian harus kembali ke kehidupan yang normal. Kalian harus kembali hidup di tengah-tengah masyarakat lumrah. Kalian tidak boleh lagi melakukan malima: main, mendem, madat, madon, dan maling atau mencuri dan merampok. Kalian harus belajar agama, beribadah, berbuat kebajikan dan mematuhi larangan-larangan agama. Setidaknya kalian harus hidup bermasyarakat secara wajar,” kata Pangeran Lindu Aji.
“Kami bersedia Tuan. Tetapi di mana kami dapat belajar agama dan kebajikan?” tanya yang dipanggil Ki Lurah.
Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru kemudian melepaskan totokannya satu per satu. Para bekas perampok yang sudah menyatakan tobat itu menggerak-gerakkan anggota tubuhnya yang sudah terbebas dari totokan. Mereka ngapurancang, mencoba bersikap hormat kepada Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru.
“Aku beri tahu alamat untuk kalian belajar ilmu agama dan ilmu kebajikan, bahkan juga ilmu kanuragan kalau kalian sungguh-sungguh bersedia. Tetapi tempatnya jauh dari sini. Melewati hutan-hutan dan padang-padang rumput yang luas. Apakah kalian bersedia?”
“Bersedia Tuan. Kami memang ingin bisa hidup wajar seperti orang-orang lain,” jawab mereka serentak.
“Tetapi kalian harus janji, nanti kalau kalian telah meningkat ilmu kanuragannya, tidak boleh untuk merampok kembali. Tetapi justru untuk melindungi yang lemah dari penindasan yang kuat. Kalau perlu kalian dapat melamar mejadi pengawal padukuhan atau prajurit di pemerintahan. Bersediakah kalian berjanji?”
“Kami berjanji, Tuan,” kata bekas para perampok itu serentak.
“Sekarang berjalanlah kalian menyusuri jalan ini. Carilah Padepokan Sendang Asih yang dipimpin Kyai Sidik Paningal. Kalau sudah ketemu mintalah menjadi siswanya. Katakan kalau yang menunjukkan padepokan itu adalah Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru. Tentu kalian akan diterima dengan senang hati,” kata Pangeran Lindu Aji.
Mendengar kata Pangeran Lindu Aji para bekas perampok itu pun terkejut lalu menjatuhkan diri di tanah.
“Ampun, Gusti Pangeran Lindu Aji! Kami tidak tahu kalau kami berhadapan dengan seorang pangeran Gusti. Ampun beribu ampun, kami jangan dihukum, telah berani mencegat perjalanan Gusti Pangeran Lindu Aji. Kami betul-betul tidak tahu. Kami punya keluarga yang masih membutuhkan kami. Kami minta hidup, jangan dihukum!” pinta para bekas perampok bersama-sama ketakutan.
“Sudah, berdirilah! Aku tidak akan menghukum kalian apabila kalian sudah benar-benar bertobat. Sekarang berjalanlah sesuai jalan yang telah aku tunjukkan. Bergurulah kepada Kyai Sidik Paningal! Aku dan teman-temanku pun akan segera melanjutkan perjalanan kembali ke Kotaraja. Dan ingat, kalau aku masih mendengar kalian merampok lagi, aku akan mengirim para prajurit untuk menghukum kalian!”
Para bekas perampok itu segera menghaturkan sembah penghormatan kepada Pangeran Lindu Aji dan pengawalnya. Lalu mereka bersama-sama berjalan menuju Padepokan Sendang Asih sesuai petunjuk Pangeran Lindu Aji. Pangeran Lindu Aji dan para pengawalnya pun segera melanjutkan perjalanan.
***
Tiba di gerbang istana, prajurit penjaga gerbang yang melihatnya segera mengenali siapa yang datang. Dengan tergopoh-gopoh prajurit itu menyambut kedatangan Pangeran Lindu Aji dan para pengawalnya. Kemudian para prajurit lain yang ada di dekat pintu gerbang itu pun datang mendekat. Mereka segera memberikan sembah penghormatan. Memandang kepada tubuh Pangeran Lindu Aji, hati mereka merasa kagum akan perkembangannya. Kalau dahulu mereka melihat tubuh Pangeran Lindu Aji itu berkulit kuning, tinggi semampai, kini mereka melihat tubuh Pangeran Lindu Aji telah menjadi agak kehitam-hitaman akibat terbakar terik matahari. Dan badannya tidak lagi kelihatan ringkih, tetapi kelihatan tegap, berotot dan penuh rasa percaya diri. Mereka sungguh merasa kagum dan bangga kepada junjungannya ini.
“Mari Gusti Pangeran Lindu Aji, kami hantarkan menghadap Gusti Prabu Reksa Buwana,” kata beberapa prajurit yang ada di depan regol setelah memberi hormat.
Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru, setelah membalas hormat, dikawal beberapa prajurit berjalan menuju istana raja. Salah seorang prajurit yang diminta segera berlari mendahului untuk mengabarkan kedatangan Pangeran Lindu Aji dan dua orang pengawalnya kepada Gusti Prabu Reksa Buwana. Setelah mendapat kabar, Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri Dewi Widiyaningrum bergegas menyambutnya di Balairung istana. Para sentono dalem dan pembesar kerajaan yang mendengar kedatangan Pangeran Lindu Aji junjungannya juga segera datang menyambutnya di balairung istana. Secara spontan hari ini seperti terjadi pisowanan di istana.
“Bagaimana kabarmu, puteraku Pangeran Lindu Aji?” tanya Prabu Reksa Buwana setelah Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru, duduk menghadap menghaturkan sembah penghormatan di balairung istana.
“Baik, Ayahanda Prabu. Mendapat berkah dan restu Ayahanda Prabu, perjalanan kami selamat tak kurang suatu apa. Hamba berharap keadaan Ayahanda Prabu dan Ibunda Permaisuri demikian juga, selalu sehat dan sejahtera,” jawab Pangeran Lindu Aji.
“Kemana saja Ananda telah mengembara selama ini? Dan apakah Ananda telah berhasil menunaikan tugas yang Ayahanda perintahkan kepadamu?”
“Berkah pangestu Ayahanda, hamba telah berhasil menunaikan tugas yang Ayahanda perintahkan,” kata Pangeran Lindu Aji yang kemudian diteruskan menceritakan serba singkat perjalanannya mengembara mencari banteng yang sedang mengamuk. Tetapi tentu saja, mengenai hubungannya dengan Dewi Pratiwi, dan peristiwa terbukanya rahasianya di hadapan gadis yang dikasihinya itu, tidak akan dibeberkannya di hadapan orang-orang selain keluarganya, yang ikut mendengarkan ceritanya. Rahasia ini tetap menjadi rahasia keluarga.   
Setelah mendengarkan cerita Pngeran Lindu Aji, dengan alasan Pangeran Lindu Aji masih lelah, perlu istirahat, para hadirin diminta membubarkan diri kembali ke tempat kerja masing-masing. Mereka pun membubarkan diri dengan membawa kesan puas dan kagum pada kemajuan luar biasa yang dicapai Pangeran Lindu Aji yang dahulu amat pemalu dan kurang percaya diri.
Malam harinya Prabu Reksa Buwana bersama Permaisuri mendatangi bangsal kasatrian tempat tinggal Pangeran Lindu Aji. Setelah puas menumpahkan rasa rindu kepada putera satu-satunya itu, dengan hati-hati Raja Arga Pura itu bertanya kepada puteranya, “Anakku, Ananda tadi mengatakan kalau sudah berhasil membunuh banteng yang sedang mengamuk. Dan anehnya banteng itu justru ditemukan di Padepokan Sendang Asih tempat Ananda menuntut ilmu. Sebetulnya itu bagaimana ceritanya? Karena kesan yang Ayahanda tangkap, ada bagian yang Ananda sembunyikan dalam cerita itu?”
“Benar Ayahanda Prabu, Ananda memang sengaja menyembunyikan sebagian cerita pada bagian itu. Karena di situ ada bagian yang Ayahanda amanatkan untuk dirahasiakan, tidak boleh dibeberkan di depan orang lain selain Ayahanda Prabu dan Ibunda Permaisuri. Rahasia itu hanya kita bertiga yang boleh tahu. Sedangkan di balairung tadi ada banyak orang, sentono, punggawa dan para prajurit yang menyaksikan.  Cerita yang sebenarnya seperti ini, Ayahanda Prabu,” kemudian Pangeran Lindu Aji menceritakan kejadian yang sesungguhnya, mulai dari ketertarikannya kepada puteri Kyai Sidik Paningal yang bernama Dewi Pratiwi. Lalu keinginannya untuk menyatakan cintanya, tetapi tidak terjawab. Keburu timbulnya penyakit lama, rasa rendah diri yang kemudian diikuti rasa gatal-gatal bersamaan dengan menggeliat-geliatnya tanduk di kepalanya. Lalu terbukanya rahasianya di hadapan gadis yang disayanginya itu, ketika ia berlari ke kamarnya, membuka ikat kepala dan menggaruki kepalanya yang terasa gatal tak tertahankan. Pangeran Lindu Aji juga menceritakan bagaimana ia membungkam mulut Dewi Pratiwi sambil mengancam untuk tetap merahasiakan apa yang sudah dilihatnya, tidak boleh diceritakan kepada orang siapapun dia. Termasuk kepada Kyai Sidik Paningal. Kemudian Pangeran Lindu Aji menceritakan, pada hari berikutnya ketika dirinya sedang menerima wejangan Kyai Sidik Paningal, tiba-tiba mendengar banteng kelangenan Kyai Sidik Paningal mengamuk membuat kerusakan di lingkungan padepokan. Lalu ia diminta Kyai Sidik Paningal untuk membunuh banteng itu dengan memanah tepat di tengah-tengah keningnya.
Prabu Reksa Buwana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya,”Jadi selain kita, gadis padepokan itu juga sudah tahu rahasia Ananda?”
“Benar, Ayahanda Prabu. Tetapi Ananda sudah pesan wanti-wanti disertai ancaman untuk selalu merahasiakan apa yang pernah diketahuinya,” kata Pangeran Lindu Aji.
“Jadi kalau rahasia Pangeran Lindu Aji ini sampai tersebar ke mana-mana, berarti gadis itu yang telah menyebar-luaskannya,” kata Prabu Reksa Buwana.
“Tapi Ayahanda ingin tahu, Ananda. Apakah dengan telah terbunuhnya banteng yang sedang mengamuk di tangan Ananda, tanduk di kepala Ananda sekarang sudah hilang?” tanya Prabu Reksa Buwana kemudian penuh rasa ingin tahu.
“Ananda tidak tahu, Ayahanda Prabu. Karena Ananda takut melihatnya. Ananda takut kecewa dan putus asa setelah mengetahui bahwa tanduk itu masih ada di kepala Ananda. Tapi yang jelas, dengan terbukanya rahasia Ananda di hadapan Dewi Pratiwi, rasa gatal-gatal di kepala Ananda sudah tidak ada. Menggeliat-geliatnya tanduk Ananda pun sudah tidak terasa lagi. Bahkan setelah Ananda menerima wejangan-wejangan Kyai Sidik Paningal yang seolah telah dapat membaca isi hati Ananda, serta seolah sudah tahu apa yang terjadi pada diri Ananda, dan kemudian Ananda berhasil membunuh banteng yang sedang mengamuk di padepokan, rasa rendah diri di hati Ananda pun hilang. Berganti rasa percaya diri pada diri Ananda.”
“Kalau begitu Ayahanda ingin tahu. Ananda tidak keberatan bukan, kalau Ayahanda membuka ikat kepala Ananda untuk melihat apa yang terjadi?”
“Silakan, Ayahanda. Tetapi Ayahanda harus ikhlas menerima apa yang terjadi. Apapun hasilnya, Ananda sudah berusaha. Dan kita harus ikhlas legowo menerima takdir ketetapan Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Pangeran Lindu Aji seperti menasihati kepada Gusti Prabu dan dirinya sendiri.
Prabu Reksa Buwana melangkah mendekati Pangeran Lindu Aji. Hatinya berdebar-debar penuh harap. Ada rasa takut menyelinap dalam hatinya, takut jangan-jangan ia kecewa mendapati tanduk itu masih ada di kepala puteranya. Tangannya gemetar ketika ia mulai membuka selingkar demi selingkar ikat kepala yang menyelubungi kepala Pangeran Lindu Aji yang telah bersusah payah mengembara mencari tumbal pangruwate kutukan yang disandang akibat perbuatannya itu. Matanya tertancap di kepala dengan penuh harap. Demikian pula istrinya, Permaisuri Dewi Widiyaningrum, matanya tak lepas dari pandangan membukanya kain ikat kepala yang membuka selingkar demi selingkar. Rasa ingin tahu bercampur rasa takut menghadapi kenyataan kalau-kalau tanduk itu masih bertengger di kepala puteranya, bergalau dalam hatinya. Rasanya ia ingin ikat kepala itu tetap menutup rapat di kepala puteranya, dari pada nanti ia melihat tanduk itu masih ada di sana. Tetapi rasa ingin tahu, anaknya sudah terbebas dari kutukan akibat perbuatannya, juga sama kuatnya dengan rasa takut itu. Akhirnya ia hanya bisa pasrah menerima apapun yang terjadi. Yang akan terjadi, terjadilah! Semua Tuhan Yang Maha Kuasa jugalah yang mengatur.
Lingkaran terakhir ikat kepala yang menyelubungi Pangeran Lindu Aji terlepas. Kepala itu terbuka. Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri Dewi Widiyaningrum terpana. Tanduk itu masih ada. Justru dua-duanya sekarang sudah menjadi panjang, masing-masing sejengkal panjangnya. Rasa kecewa mendapati kenyataan pahit ini tak bisa mereka sembunyikan.
“Apa artinya ini? Kenapa dahulu Tuhan Yang Maha Gaib memberi petunjuk gaib kepadaku lewat mimpi? Bahkan istriku pun bermimpi yang sama? Tapi kenapa setelah petunjuk dalam mimpi itu dilaksanakan, kenyataannya hanya seperti ini? Tiga tahun lebih lamanya anakku terlunta-lunta mengembara menjelajahi hutan-hutan dan padang rumput yang tak pernah dilaluinya. Bahkan bertempur dengan para perampok yang ganas dan binatang buas, tetapi kutukan itu bahkan seperti meledekku, bertengger di kepala anakku,  bahkan bertambah panjang. Apakah petunjuk itu bukan dari Tuhan Yang Maha Mengetahui? Apakah petunjuk itu petunjuk palsu yang datang dari setan alas yang ingin mencelakai anakku? Dan ingin meledek menghinaku?” Prabu Reksa Buwana menyesali apa yang telah terjadi. Tak henti-henti ia meragukan belas kasih Sang Maha Pemurah.
“Sudahlah, Kanjeng Rama, Ayahanda Prabu Reksa Buwana yang bijaksana. Tadi Ananda sudah meminta, kita harus ikhlas dan legowo menerima kenyataan yang kita dapati.  Tidak baik kita meragukan sifat welas asih Gusti Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Buktinya dengan menuruti petunjuk itu, sekarang Ananda telah memperoleh berbagai ilmu yang sangat berguna bagi masa depan Ananda. Dan yang tak kalah pentingnya, rasa mider dan rendah diri yang dulu selalu mengurung diri Ananda, sekarang sudah hilang berganti rasa percaya diri dan berani melihat ke depan, menjalani hidup ini. Oh ya, Ananda ingat, masih ada satu hal pesan Kyai Sidik Paningal yang belum Ananda katakan kepada Ayahanda Prabu.”
“Katakan Ananda, pesan penting Kyai Sidik Paningal apa yang belum Ananda katakan! Barangkali itu kunci pangruwate kutukan yang Ananda terima,” kata Prabu Reksa Buwana tak sabar. Secercah sinar pengharapan tiba-tiba timbul di hatinya.
Pangeran Lindu Aji tidak segera menjawab pertanyaan Prabu Reksa Buwana. Ia mencoba mengumpulkan ingatan untuk dapat mengatakan pesan yang sudah diterimanya dari Kyai Sidik Paningal. Ia berusaha jangan sampai ada pesan yang tercecer, lupa untuk dikatakan.
“Ketika Ananda berkeinginan tetap tinggal di padepokan karena Ananda sudah merasa nyaman tinggal di padepokan karena selalu dekat dengan  puteri Kyai Sidik Paningal yang Ananda cintai, maka Kyai mengatakan demikian: ‘Tapi ketahuilah, Pangeran Lindu Aji, sebetulnya tugas Pangeran Lindu Aji berkenaan dengan tugas membunuh banteng yang sedang mengamuk saat ini belum selesai. Masih ada satu tugas berkenaan hal tersebut yang harus Pangeran Lindu Aji kerjakan setelah sampai di keraton nanti’.” Pangeran Lindu Aji diam sebentar untuk melihat kesan yang terpancar dari wajah Ayahanda dan Ibundanya. Sekilas dilihatnya Ayahanda Prabu Reksa Buwana dan Ibunda Permaisuri Dewi Widiyaningrum mendengarkan dengan penuh perhatian, seolah tidak sabar ingin mengetahui pesan selengkapnya dari Kyai Sidik Paningal yang waskita.
Setelah diam beberapa saat Pangeran Lindu Aji pun melanjutkan, “Kyai Sidik Paningal kemudian berpesan: ‘Pangeran Lindu Aji harus minta kepada Gusti Prabu agar dibuatkan bedug raksasa dengan bahan kulit banteng yang telah Pangeran Lindu Aji bunuh ini. Karena bedug itu mempunyai dua sisi, padahal diharapkan bedug yang akan dibuat nanti adalah bedug yang teramat besar agar dapat terdengar sampai jauh, maka Pangeran Lindu Aji mintalah jodoh kulit banteng Handoko Murti ini kepada Gusti Gusti Parbu. Bapa kira Gusti Gusti Prabu masih menyimpan kulit banteng kelangenan Gusti Prabu yang mati dalam festival adu banteng beberapa tahun yang lalu. Kemudian setelah jadi, harus Pangeran Lindu Aji sendiri yang memukul bedug itu untuk pertama kali sebagai percobaan. Bedug itu nantinya harus diletakkan di serambi Masjid Agung untuk memanggil orang-orang melaksanakan kewajiban sholat lima waktu. Kalau hal ini belum dilakukan, tidak ada artinya Pangeran Lindu Aji jauh-jauh sampai ke mari berhasil membunuh banteng yang sedang mengamuk’ Begitulah Ayahanda Prabu pesan dari Bapa Kyai Sidik Paningal.” 
Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri Dewi Widiyaningrum terkejut dan kagum akan kewaskitaan Kyai Sidik Paningal yang mengetahui bahwa dirinya masih menyimpan kulit banteng Jaya Handoko yang mati dalam festival adu banteng ketika permaisuri sedang nyidam saat hamil Pangeran Lindu Aji. Namun kemudian mereka menjadi lega. Ternyata pelaksanaan dari petunjuk gaib yang mereka peroleh dari mimpi itu belum selesai. Masih ada kelanjutannya. Secercah harapan menyala lagi. Mereka berdua percaya akan kewaskitaan Kyai Sidik Paningal yang selalu nyepi dan bertapa di tempat terpencil itu. Kyai yang tidak pernah berbuat dosa itu tentu titis penglihatan-gaibnya dan  tepat kata-katanya. Apa yang diucapkan tentu berdasarkan ilmunya yang menjangkau jauh ke depan, melampaui ruang dan waktu, dapat diharapkan benar-benar akan terjadi.
“Kalau begitu, besok akan Ayahanda ambil kulit banteng Jaya Handoko di gedung pusaka. Kemudian akan Ayahanda perintahkan kepada abdi dalem pembuat gamelan kendang dan bedug untuk membuatkan bedug besar dengan bahan dari kedua kulit banteng tersebut. Sekarang meskipun belum menjadi kenyataan, kita bisa nyicil ayem. Marilah kita coba istirahat, tidur sejenak. Mari Dinda Permaisuri kita kembali ke istana kita! Selamat tidur, Pangeran Lindu Aji!”
“Selamat tidur, Ayahanda, Ibunda!,” balas Pangeran Lindu Aji sambil memberikan sembah penghormatan.
Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri Dewi Widiyaningrum berjalan pelan-pelan meninggalkan Pangeran Lindu Aji, kembali ke istananya. Pangeran Lindu Aji yang meskipun merasa agak kecewa mengetahui tanduknya masih ada, tetapi seperti ayah bundanya, hatinya pun masih menyimpan harapan. Tapi kalau ingat pesan terakhir Kyai Sidik Paningal agar dirinya dapat menerima keadaan dengan legawa. Tidak boleh menyesali diri. Supaya menganggap semua yang menimpa dirinya sebagai tapa brata untuk menebus dosa yang telah diperbuat keluarganya. Rasa-rasanya pesan yang tidak pernah ia katakan kepada kedua orang tuanya itu seolah-olah adalah isyarat bahwa kutukan itu tidak akan bisa hilang. Tetapi tetap akan melekat selamanya. Namun tidak boleh disesali. Harus diterima dengan ikhlas dan legawa. Bahkan disyukuri karena hal itu merupakan penebus dosa-dosa orang tuanya.
***
NB: Novel ini belum pernah diterbitkan. Penulis mencari penerbit yang bersedia menerbitkannya sebagai buku. Terima kasih.

                                           Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Contoh Novel: Petikan Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk Bagian 8"

Post a Comment